Thursday, July 7, 2011

#urnotalone

Ugly Asian

Self-unforgiving

Fake

#urnotalone


Hai!

Sudah lama saya tidak mencoba menuliskan ide yang berputar-putar di kepala saya dalam bentuk notes, walau ide itu masih terus berputar, dan akhirnya sekarang saya duduk di satu spot yang nyaman, samping jendela perpustakaan universitas, sambil menunggu jatah mengajar sore di Salatiga ini.

So, kalau teman-teman mengamati update status pendek saya selama tiga hari berturut-turut, dari tanggal 26-28 Juni 2011 kemarin (biasanya malem hari), saya nulis kata-kata dalam Bahasa Inggris yang geje, vague, dan selalu diakhiri dengan hash-tag #urnotalone. Ya, saya sadar bahwa hash-tag (or lambang #) seharusnya muncul di twitter, dan emang sebenernya saya juga update tripel status itu di twitter saya (follow me kalo masih belum, @dankuur).

Jadi apa artinya semua update status itu?

Mungkin, dan pastinya, banyak, atau semua, pada bingung, kalau temen-temen tidak tahu apa itu #urnotalone. Sebagai seorang fans cukup-berat serial tipi Glee, saya sedikit mengikuti update proyek baru mereka: The Glee Project, ajang bakat buat mencari pemenang yang akan jadi karakter tambahan di Season 3 serialnya. Dan salah satu tugas di kontes itu adalah bikin video clip. #urnotalone jadi salah satu kampanye mereka, lewat video klip lagu Mad World (check di youtube, aselinya dinyanyiin Tears for Fears), dimana mereka nyanyi dengan tiap orang bawa papan yang sebenarnya buat iklan pizza tapi malah ditulisin kata atau frasa yang nunjukin karakter/kepribadian/hal yang selama ini jadi self-insecurity, atau ketidaknyamanan atau ketidakpedean, mereka. Dan FYI, fans Glee Project yang ikutan update post #urnotalone juga lumayan banyak, coba search hash-tag itu di twitter. Saya salah satunya. Bukan sekedar ikut-ikutan fans yang lain, tapi memang selama ini saya bergumul dengan tiga hal yang bikin saya terus merasa insecure--tidak pede dan tidak nyaman dengan diri saya.

Pastinya, semua orang juga, bahkan yang paling pede pun, kalau mereka tidak bisa mengungkapkannya, pasti bergumul dengan bagian dari diri mereka yang bikin mereka merasa insecure (tolong koreksi saya, kalau memang ini generalisasi yang salah). Entah itu karena physical defects ('cacat' atau 'kelemahan' fisik) atau ada personality atau traits (kepribadian atau sifat) yang dianggap merugikan atau tidak bisa diterima, dan terus membuat mereka, kita, tidak merasa sepenuhnya menjadi diri kita.

Thanks to people yang secara sadar maupun nda sadar sering bikin joke kecil-kecilan, maupun besar-besaran, dan sering main-mainin karakter maupun 'kekurangan' kita untuk guyonan. Saya sendiri ada kalanya benar-benar bisa tertawa dan mencoba (dengan cukup keras, honestly) untuk bisa menikmati dan 'bangga' dengan kekurangan saya. Oke lah, kalau memang itu teman-teman dekat saya (ini yg selama ini jadi prinsip saya) yang 'ngejek', saya masih bisa menikmati guyonan mereka. Entah itu green goblin, jerawat, kepala besar, kerempeng, gigi kelinci, dan lainnya yang kadang lewat dan saya lupakan. Tapi, eh tapi, tidak jarang ketika teringat lagi (lah, aneh to, lupa kok diingat lagi) bisa bikir saya merenung. Ttidak jarang juga, sambil merenung di malem hari, saya ngayal dan berharap bahwa ada fairy godmother yang bakal datang mengayunkan magic wand berujung bintangnya, mengubah saya sedikit lebih charming, atau setidaknya dia jatuhin sekarung berlian buat saya operasi plastik. Oh, dan btw, curhat saya ini tidak berarti saya sedang mengemis siapa pun untuk kemudian super hati-hati atau jaga-jaga or jadi so serious kalo ngomong dan guyon dengan saya, apalagi teman-teman dekat saya.

But, self insecurity bukan sekedar masalah physical look--penampilan fisik. Masih ada beberapa, atau banyak hal lain yang bisa bikin saya, kita merasa tidak nyaman. Masa lalu. Pengalaman. Karakter. Kepribadian. Kebiasaan. Status. Latar belakang. Pendidikan. Pekerjaan. Orientasi. Hobi. Penilaian orang. Stereotip. Dan semua yang intinya tidak membuat kita pede dan nyaman menjadi diri kita. Masalahnya tidak semua orang bisa menyadari hal ini, yang entah sadar atau tidak mempengaruhi bagaimana kita menilai diri dan akibatnya juga mempengaruhi bagaimana kita bersosialisasi, dan terlebih menilai dan berkomentar tentang orang lain.

OK, pastinya, dan saya yakini, saya bukan sebuah cacat atau kecelakaan dalam proses penciptaan yang dilakukan Tuhan (lepas dari banyolan sodara-sodara tua yang sering godain saya waktu kecil dengan bilang saya ini dilahirin di toilet, or waktu mama saya boker sekalian saya meluncur keluar). Amin. Dan sejauh keyakinan saya berbicara dan mengamini, saya bisa berkata bahwa saya spesial dan unik di mata Tuhan. Bahkan kalau memang ada doppelganger saya di dunia ini, entah dia seorang gelandangan atau malah milyader di satu tempat lain, pastinya tidak identik dengan saya. Doppelganger itu kembaran, yang katanya identik, ada satu entah dimana, dan kalo ketemu bisa bikin kita mati seketika. Tapi, dan tapi lagi, kita hidup di dunia yang seringnya orang-orang yang kita jumpai setiap hari tidak bisa dengan jernih memandang seperti Tuhan memandang. Beberapa orang jadi super minder, sementara yang lain jadi over pede (atau yang sekarang disamarkan dengan istilah narsis), yang sejauh pengamatan dan dugaan saya, mereka jadi seperti itu (entah keminderan or kepedean or kenarsisan) untuk menutupi self-insecurity mereka.

Penerimaan diri.

Buat saya itu kuncinya. Saya merenung, dari dulu ataupun sampe titik saya update status #urnotalone itu (beneran deh, hobi saya merenung, parah), apa yang selama ini memang jadi hal-hal yang bikin saya feel insecure a.k.a not confident. Saya mencoba mengerucutkan, dan akhirnya memfilter tiga hal utama yang saya anggap ketidakpedean saya. Menyadari dan menerima 'kelemahan' itu rasanya jadi salah satu langkah awal buat kita bisa mengutuhkan pribadi kita. Mungkin ada bagian yang nantinya bisa dirubah, tapi banyak bagian lain yang, sayangnya, tidak bisa dirubah. Tapi itulah kita. Dan itu yang membuat kita unik. Sejauh kita menerimanya, dan tidak lagi menjadikannya sesuatu yang memaksa kita untuk terus tidak menerima diri kita sepenuhnya, atau lebih parahnya protes pada Pencipta kita (atau dengan lugu marah dan menyalahkan orang tua kita yang melahirkan dan membentuk kita selama ini).

#urnotalone. Kamu tidak sendirian. Banyak teman. Mereka juga berjuang, sama seperti saya, dan kamu. Entah untuk hal-hal yang sama, atau yang berbeda. Menerima diri, dan mencoba memandang hal-hal yang menjadi self-insecurity kita dengan lebih 'bijak dan dewasa'. Membiarkan hal yang nampak seperti lubang di tengah donat hidup saya menjadikan saya sepenuhnya dan sejatinya adalah donat yang berlubang yang tidak 'dilecehkan' karena saya berlubang, both literally and figuratively. LOL.

Kedengaran too utopian kah? Terlalu idealis dan mulukkah? Biarlah kalau memang demikian, setidaknya for me, saya masih menikmati pikiran utopia saya. :D

GBU!


PS: This was actually posted on my Facebook note. Visit my account, and add me if you don't mind :)

Tuesday, August 24, 2010

Belajar dari 'mereka'

Hola.

Sebelum menulis posting ini, saya (dgn kurang kerjaan) mencoba recheck arti kata naturalist, dan ternyata saya selama ini salah memakainya. Hm. Seharusnya environmentalist. Saya mengklasifikasikan diri saya masuk environmentalist: seseorang yg percaya dan mendukung pentingnya lingkungan hidup ini, including animals, plants, etc.

Saya paling suka kalo ngamati binatang, tumbuhan, en particularly insects. Paling doyan memfoto serangga or taneman2 warna2i (yang saya 'awetkan [baca: foto] dengan macro-mode serampangan), dan kalo dulu pas kecil paling suka bawa serangga ke rumah, dimasukin toples dan dipelihara, dan berakhir dengan itu serangga terlentang-hadap-atas dengan indahnya, membujur kaku, mati. *tet-tet-tet, tet-tet-tet, tet-tet-tet-tet-tot-tet-tot-tet, tot-tot-tot-tet (ini lagu pengantar jenasah yg sering dikumandangkan kalo ada berita lelayu di kampung itu lewat speaker toa super berisik)*

Eniwe, diantara segala macam serangga saya suka kepik (ladybugs - kenapa juga lady? kok tidak dukebug, ato monseiurbug? ternyata diskriminasi gender terjadi diantara perikeseranggaan) dan kunang-kunang. Sampe sekarang masih kagum kalo liat kunang-kunang (dan sedih karena makin jarang bisa lihat, harus mengucilkan diri ke daerah2 yg banyak sawahnya. En fyi, kunang2 ternyata di Jepang (if im not mistaken) dianggep bawa sial, karena itu dianggep roh yg melayang2. So silly. Binatang cantik gitu dianggep roh halus.)

Kejadian tragis dan menyedihkan terjadi waktu kemaren sempet nongkrong sama temen2 di satu kafe kopi remang2 yg deket sawah, dan disitulah saya menemukan makhluk mungil yang kelap2i itu. Tragisnya adalah ketika saya sedang maen kartu, saya ndongak ke atas dan menemukan itu kunang2 kerlip2, dan beberapa detik kemudian tuh kunang2 dilahap dengan sadisnya oleh seekor cicak tidak berperikekunangkunangan. *tet-tet-tet, tet-tet-tet, tet-tet-tet-tet-tot-tet-tot-tet,tot-tot-tot-tet" 'Eh, itu kunang-kunang... (jeda beberapa detik) dan sudah dimakan cicak...' Hmpf.

Bicara tentang kunang-kunang, ternyata makhluk misterius yang bisa berpendar ini hidupnya memang tragis, walo metamorfosisnya butuh waktu setahun sampe dua tahun, dan melewati masa2 jelek fisik itu (emang larva en pupa kunang2 jauh lebih beast daripada adult imago-nya, waktu dia dewasa), eh dia bisa pamer cahaya sebagai serangga dewasa cuman seminggu sampe maksimal rata2 30 hari. Ckckckck.

Saya ikut empati pada makhluk2 mungil yg berumur pendek itu. Padahal kalo diukur dari awal dia jebrol menetas ya lama ya... wkwkwkwk, cuman kesempatan dia bener2 'dewasa' kok cuma pendek, kesempatan dia bebas, dan bisa terbang seenak wudelnya [kunang2 punya wudel?] dan memamerkan talenta bersinarnya cuman maksimal sebulan.

Bayangkan sodara2! Bayangkan! Sekali dia meronta keluar dari masa pupa-nya, dia langsung divonis oleh dokter kunang yg laennya: 'Sodara Kunangkunangis bin Cacingnyala, umur Anda hidup tinggal tiga puluh hari. Silakan tinggalkan wasiat setelah bokong saya menyala.' Dan dunia runtuh, kilat menyala-nyala keras, hujan turun begitu derasnya selama empat puluh hari empat puluh malam menyambut ratapan si kunang2 malang. Dan dia langsung terbang kencang ke Gram*dia, buat beli buku 100-things-to-do-before-I-die.

Eniwe, lepas dari kunang2 malang, saya paling merinding tapi excited kalo liat perjuangan makhluk lainnya: sea turtle, kura2 laut. Tiap sekali mami kura2 itu jebrol betelor bisa sampe 200 biji (lumayan juga ya buat bisnis ternak telor kura), dan tau kan kalo semuanya langsung dipendem di pasir pante. Nah, habis itu netes telor2, perjuangan berat si nak kura2 yg ratusan jumlahnya dimulai.


Berawal dengan menggali keluar dari pasir, berlari sekuat tenaga, tapi tetep wae lambat (lah yo, wong kura2, ne cepet lak yo pengendara-sepeda-motor-ugal-ugalan-semacam-saya-apalagi-kalo-lagi-kepepet-telat-berangkat-kuliah =p). Tapi tidak cuma masalah fisik larinya, belom ditambah terpaan ombak, karena bahaya lain menghadang: predator. Puluhan mafia2 kepiting en Om-Tante Gull, alias burung laut (terjemahan ngaco). Mereka dengan buas menghancurkan cangkang nak kura2 yg masih lembut, melahap isinya dan melampiaskan napsu duniawi mereka yang liar (hasyah). Mereka yg lolos masuk ke laut pun masi kudu menghadang bahaya lain: shark, hiu! Hmmm... Begitulah liarnya dunia satwa, dunia kita (loh?).

Kenapa ya, makhluk2 mungil, sudah kecil, lemah, eh cepet mati...

Saya tadi tiba2 inget lagu 'Burung Pipit yang kecil, dikasihi Tuhan...' Mungkin ini lagu anak2 sekolah minggu yg sudah tidak asing di telinga kita, dan terdengar lucu saat dinyanyikan. Klise juga mungkin. Ah, tahu. Tapi kadang kita masih ragu juga walau kita bisa nyanyi: 'terlebih diriku dikasihi Tuhan....'

Kalo kura2 aja berjuang, berlari dengan kencang, memaksa diri buat bertahan hidup secara intuisi, walo jelas sekali banyak bahaya yang langsung menghadang begitu mereka yang masih imut ini membuka mata, lahir menapakkan keempat kakinya di dunia. Seleksi alam yang liar langsung berjalan. Kita? Apa hidup ini penuh perjuangan? Seharusnya. Ato kita lebih suka males2an, dan tidak mau berjuang buat hidup ini? Ato kita sebaliknya terlalu takut buat menghadapi kesusahan hidup ini, lebih milih untuk hidup 'aman', tinggal dalam status quo kita yg kadang bikin kita kurang berkembang. Ato lebih seneng menghindari tantangan yg ada, yg padahal kalo kita hadapi bakal improve kita. Takut. Gentar. Padahal kita bisa nyanyi 'terlebih diriku dikasihi Tuhan....''

Tidak hanya dikasihi dan dipelihara, kita ini juga spesial. Lebih spesial dari si Kunangkunangis bin Cacingnyala tadi, yang cuman bertahan hidup maksimal 30 hari. Entah kapan kita bisa hidup, 60 tahun, 70 tahun? Ato mungkin 20 tahun, 10 tahun, bahkan ada bayi yang baru beberapa jam ato menit menikmati udara bumi ini langsung meninggal. Hm. Padahal kita ini bisa dan mampu, dan potensi yg tertanam dalam diri kita tidak sangat terbatas seperti si kunang2 malang yg cuma bisa berpendar dan hidupnya pendek. Nah, apa kita juga sudah merasa berharga dicipta seperti kita sekarang (dan lepas dari kemudian kita menjadi sombong, yang jelas2 salah). Inget, kita dengan mudah bisa nyanyi, 'terlebih diriku dikasihi Tuhan....'

Finally, saya paling suka liat kunang2 malang (kok daritadi saya ngejudge mereka malang ya?) kalo lagi kelap-kelip di tengah malem. Entah di sawah, entah di pohon. Pendarnya lucu, remang-remang, dan jadi hiasan kaya lampu pohon natal. Suasananya jadi tranquil, en saya menikmati pendaran lemah karena reaksi zat kimia di dalem tubuh kunang2. Belajar dari kunang2 malang (lagi?) itu juga, selama ini seberapa maksimal hidup kita sudah menyala? Memberi warna dan terang tersendiri bagi yg melihat sinar kita?

Hmmm... Saya belajar dari makhluk2 imut ini.

Saya berharap kunang-kunang terus ada, kaga pernah musnah or punah walo jumlahnya berkurang. Kalo pun punah, tar saya pasang lampu LED di pantatnya kecoa aja deh, lumayan, biar bikin image kecoa sedikit lebih cool en 'bermanfaat' daripada sekedar binatang item kecil, klimis, rakus gara2 suka makan segalanya, en paling susah diuber, lagian kalo udah mati juga bikin semut2 ngrubung bangkainya... kalo terbang2 bikin orang rumah pada heboh ketakutan lari sendiri... grrr... Ato, hmmm. Mending pasang or lampu cabe plus batre aja, biar badan mereka berat, susah lari en kaga mungkin terbang. Dan *plak* mudah sekali menggeplak atau mites mereka.... MHWAHWAHWAHWAHWA *tawa bangga*


GBU.

Monday, July 19, 2010

Before the laptop...

Hi.


Saya sedang duduk, di depan laptop saya. Agak aneh juga situasinya, tapi saya menikmatinya.


Jarang saya online, di depan laptop, tanpa melakukan hal-hal lainnya, hanya merenung, sambil menunggu balasan chatting atau selesainya loading site yg sedang lemot karena kuota internet yg belum terisi. Dan bukan banyak loading tab situs, saya memakai Mozilla Firefox; cuma satu: facebook.


Tapi, sekali lagi, saya menikmatinya.


Seorang melankolis, yang lebih senang merenung.
Dan berpikir. Bagaimana? Apa? Lalu?
Sembari menunggu: bukan pekerjaan yang saya suka.


Kadang menghela napas.
Mencoba berimajinasi.
Bertanya mengapa begini.
Membayangkan seandainya.
Dan mentap satu jendela di layar laptop saya.
Menaikkan harapan.


Saya sedang menikmati ini.


GB

Thursday, July 8, 2010

Daniel Kurniawan is neither Daniel Radcliffe nor Harry Potter! Doh!

[Hi. If you're reading this from my FB-note, please click HERE! Thanks!]

So, whaddup guys?

Beberapa hari lalu adalah hari-hari yang saya nikmati dan sangat refreshing untuk memori saya. Tanya kenapa? Ada pelem2 Harry Potter diputar di tipi nasional! Ya, si penyihir itu. Bukan, bukan yang dahinya lebar kaya wajan penggorengan en matanya dilingkeri arang dapur en hobi pake item-item yg kemaren diprotes massa gara2 katanya ngaco en nipu hasil ramalan World Cupnya. Dan fyi, ketika pelem2 itu diputar, apalagi waktu seri kelima ditayangin di tipi, trending topic di twitter ditempati 'Dolores Umbridge' en 'Luna Lovegood' yang bikin semua orang luar negri jadi bingung kok bisa itu dua topik yang sedang trending.

Kalo sering maen sama saya sejak jaman SMP, pasti tahu bahwa Daniel Kurniawan adalah seorang Harry Potter mania. Yes. Saya adalah maniak serial-nya Potter yg ditulis Nyah Rowling. Hmmm... Sebentar, mungkin bukan maniak sebegitu maniaknya, dan saya kaga' mau dapet konotasi yg jelek dari kata ini. Fans. Mungkin itu kata yang lebih tepat.

Seorang maniak Harry Potter bakal:
  1. bikin tato geledek di dahinya, ato nekat nyetrum dahinya or membakar dahinya biar dapet tanda geledek itu.
  2. tebang pohon dan ukir sendiri wand-nya, entah pohon cabe or pohon semangka... :p Kemudian biar tambah sakti, tambahin ekstrak sisik kuda, rambut buaya, hati semut, or e*k kucing.
  3. latihan rutin Quidditch dengan keras, entah itu jadi bludger yg dengan sembrono pukul2 bola basket or jadi seeker yang cari2 telor walo bukan masa Paskah.
  4. mencoba merapalkan mantra-mantra sakti dengan kelinci percobaan, dan ketika mantra Avada Kedavra tidak berhasil, cara manual dengan mem-potek leher kelinci tampak sangat glorious.
  5. pura-pura pake robe, alias jubah, seragam Hogwarts di sekolahnya padahal cuma jas hujan sekali pake warna item, dan berakhir dengan dirinya dikira tukang becak.
  6. ngabisin berjam-jam berdiri dengan sapu terselip di selangkangan, berharap itu sapu bisa melaju setidaknya sedikit lebih cepat dari siput.
Well, saya tidak se-maniak itu. Saya ngefans dengan saga HP, dan saya punya lengkap ketujuh bukunya, plus tiga buku tambahan lainnya, dan beberapa majalah yang emang khusus untuk edisi HP. Tapi saya kaga pernah mencoba dengan bodohnya menjedot-jedotkan dahi saya yang seluas landasan pacu pesawat ke dinding supaya saya dapet tanda geledek di dahi saya (dan jerawat di dahi saya lebih menyakitkan daripada aksi jedot menjedot dahi ke dinding.) Saya punya dua wand alias pentung sakti punya Harry en Dumbledore, bonus dari majalah. Tapi saya kaga mencoba memasukkan ekstrak bulu hidung kecoa, maupun memaksa tongkat itu menyala kalo saya bilang Lumos waktu lampu mati. Terus, saya pasang beberapa poster HP di kamar tapi najis tralala kalo saya selalu mandang dengan penuh pesona dan seksama saking kagumnya tuh tiap poster tiap malam. Dan akhirnya saya punya celdam gambar mukannya Harry Potter lagi pose nyengir sambil pake pita kupu2 merah di rambut sebelah kiri. No, just kidding.

Jadi seorang fans dari sesuatu or seseorang lainnya itu menyenangkan. Kita bisa merasakan sensasi kagum itu, en yang positif adalah kita jadi semangat karena yang kita fans-i itu. Kita bisa saja terinspirasi; si dia atau sesuatu itu jadi panutan kita. Saya nge-fans. Dan pernah di-fans-i, keren toh, tapi menyakitkan juga. Bayangkan seseorang yg kamu pikir bakal suka denganmu ternyata cuman nge-fans, dan kemudian memutuskan utk tidak melanjutkan hubungan cintanya denganmu, karena itu bukan CINTA! Itu FANS. ADMIRASI sodaranya asmirandah... *phew* Loh jadi curhat colongan. Wkwkwkwk. Kembali ke masalah fans, sekali lagi, di awal saya berstatement: fans, bukan dan beda dengan maniak.

Hmmm... mungkin kalo ngomongin fans, sampe juga kita ke istilah idola. Buat saya hampir mirip sih. Kaya dondong dan duren: sama2 inisialnya D, jadi saya, duren dan dondong pun sama. :p Idola tu yang kita puja-puja, jadi sudah lebih tinggi dari fans. Kalo kita ngefans sekedar seneng, idola itu berarti kita sudah suuuuuueeeeeeneng, en bakal memujanya, ga peduli dia baek or jelek. Nah ini dia masalahnya, karena salah persepsi en kaga tau gimana cara kerja otak en hatinya (saya bilang hati, karena semua berasal dari hati), kadang orang mengidolakan sesuatu, or, tepatnya, seseorang, yg salah. Banyak kan, contohnya? En ini bisa dimanfaatkan buat cari pengikut tuh... dan semua sekte or cult yang sesaat berawal dari keahlian pemimpinnya memposisikan diri sebagai idola :p

Nah, kata idol sendiri memang berasal dari idol yg artinya ilah, sesembahan, allah. Wew. Memang. Mungkin perlu hati-hati juga kalo kemudian kita pake kata Idol, seperti merek tayangan di tipi yang terkenal itu Magelang Idol.... XD Jangan2 memang kemudian pemenang utamanya jadi idol, sesembahan, walopun kaga banyak orang yang bakal sampe ke ekstrim itu, tapi tetep saja ada yang kemudian sangat begitu amat demikian memujanya. Kalo sudah sampe sini, prihatin dah.

Hm. Lepas dari pemakaian kata itu, dan mungkin terlalu naif dan lugu kalo kemudian dengan saklek (baca: kolot dan kaku) melarang pemakaian kata idol ataupun idola (sama kolotnya dengan melarang seseorang hanya memakai kolor ketika nge-MC, dimanakah itu? :p), bagaimana kalo kita mulai lihat siapa, ato apa, yang selama ini kita 'idolakan' atau kita 'fans'-kan. Saya tidak pake kata maniak, karena itu konotasinya negatif. Loh, fans kan dari kata fanatik juga. Hmmm. Iya, tapi ameliorasi berlaku untuk kata ini (buat yg belom tau ameliorasi, itu bukan nama teman saya, coba deh cek dengan guru biologi kamu, pasti dia kaga bisa jawab). Dan pastinya, ketika berbicara tentang Siapa (dan bukan apa) yang kita sembah.

Eniwei, kalo pernah baca notes sohib saya yang ini maupun ini (kamu kudu jadi temen FB-nya dulu baru bisa baca), mungkin bakal bilang, 'Ah, Dankur ikut2an tuh notes.' Kaga. Tidak, kami tidak bacok2an maupun teol2an untuk berlomba menulis ini. Dia bilang, 'Kan pasti isinya beda.' Yes; betul.

Oke deh, after all, saya memang ngefans dengan Daniel Radcliffe, dan dengan rendah hati menyadari bahwa saya mirip dengan bulu keteknya dia. Tapi kesadaran semacam itu muncul kalo kondisi saya sedang koma dan merasa semua orang lain gila sementara cuma saya yang waras.

GBU!

NB: Saya mungkin tetap akan bersikukuh bahwa saya mirip Harry Potter... XD

Thursday, July 1, 2010

Manis, Asem, Asin, dan Rasa apa ini?

[ If you are reading this via FB, please click here. Enjoy the new layout of my blog :) ]

So. Whazzup? Sudah lebih dari sebulan saya tidak ngeblog, dan itu parah. Well, my life? It's so far been messy, busy, happy, lazy, dizzy, and all the -y words... :p Sementara saya merindukan apa yg saya impikan dan sebut sebagai liburan, saya berpura-pura liburan dan dengan tidak bertanggung jawab mengabaikan tugas-tugas saya. My apology.

Ok, cut the crap. Hari ini adalah salah satu contoh busy days for me. Pagi bangun dengan shocked, karena sudah jam 8, padahal janji bangun jam 7. Hmpf. Dari jam 8 lebih sampe jam 12 di skul, lokasi baru sekolah tempat bekerja saya, rapat. Selese langsung alih kerja jadi racer yang ngebut ke Salatiga. Dan so nice berangkat dihantar hujan, pulang disambut hujan. Jam 6.30 langsung melaju ke lokasi sekolah baru, untuk briefing lebih lanjut, setelah mandi di rumah, dan tetap saja hujan selalu kangen dan pengin lengket dengan saya.

Eniwe, yang bikin saya aneh adalah beberapa perasaan yang entah buat orang lain biasa-biasa saja, padahal ini ngefek cukup banyak ke saya. Ke otak, dan hati saya, I mean. Seperti biasa, saya bisa terlalu banyak dan serius berpikir, atau merasa, padahal itu so trivial for others.

Siang tadi saya mengikuti satu setengah kuliah, karena saya ijin pulang awal. Kuliah pertama benar-benar meledakan otak saya. Saya memforsir otak untuk memahami penjelasan dosen maupun diskusi dengan teman-teman. Tidak ada pemahaman. Saya cuman bilang ke rekan, waktu break, "Sumpah, saya merasa goblok banget di kelas tadi. Sekarang saya tahu perasaan murid saya yang waktu saya kasi tes sering ninggalin lembar jawab tes kosong. Tadi saya merasa jadi murid itu." Perasaan saya takut, bingung, bodoh, kecewa. Such a feeling.

Sebelum berangkat briefing, mama cuman tanya, "Dan, mau pergi lagi?" Saya cuman jawab singkat dengan kata Ho'oh dan frasa mau rapat. Mama sedikit mengeluh, "Yah, padahal sudah ta' beliin tahu campur." Saya merasa sedikit kasihan, senang, dan haru. Such a feeling.

Di sela-sela briefing, saya keluar, agak suntuk campur ngantuk campur lapeeer. Jadi saya dengan pede keluar sambil membawa kotak makan berisi gudheg itu. Saya berakhir duduk di serambi, menemani Pak Min, pesuruh tercinta di sekolah, sambil makan dan mengobrol. Dia bercerita tentang kerjaan, tentang sebulan tanpa rokok, tentang liburan kemarin di Pati, tentang pantai di Pati, tentang peyek jengking (don't ask me what it is). Hati saya bersyukur, haru, sedih, kagum, semangat. Such a feeling.

Selesei briefing, sementara rekan-rekan buru-buru pada pulang, saya melakukan beberapa hal: konfirmasi calon siswa yg dapet beasiswa ke ketua yayasan, rapiin barang-barang saya, beres-beres properti sekolah yang ditinggal di ruang itu, Semuanya berlalu dengan cepat, keburu-buru, dan sendiri kalau tidak akhirnya ditemani satu guru yang belum pulang. Saya cuma bingung, pengin duduk, merenung, atau ngelamun, heran, dan kecewa. Such a feeling.

Setelah sepuluh menit menembus angin malam yang bikin mata saya pedes gara-gara lensa yang sudah tidak bisa diajak kerja sama, saya sampe di rumah. Saya duduk, sambil sekilas nonton Take Celebrity Out yang ga mutu, dan cuma merasakan sesuatu, dan berpikir. Sambil bikin susu, plus ngehabisin bungkusan kecil susu jatah adik yang ga diminum, saya merasa dan berpikir. Sambil cuci muka, gosok gigi, cuci kaki, saya merasa dan berpikir. Dan sekarang, sambil ngetik lagi-lagi saya berpikir, sambil merasa, menyelidiki hati, dan menuangkan ini semua di postingan ini. Baru kali ini saya merasakan perasaan yang terakhir ini. Saya masih tidak tahu, perasaan apa ini sebenarnya. Aneh. Ya, aneh. Pertama kali. Such a feeling.

Perasaan saya hari ini = nano-nano. Manis asem asin. Tapi ada satu perasaan, yang terakhir, yang sampai sekarang masih belum bisa saya rasakan jelas. Indera perasa saya ini, not literally, masih belum bisa mengecap dengan benar. Perlu mengecap lagi. Entah karena saya tidak peka, atau ini rasa yang baru buat saya. Tapi for such a feeling, I really thank my Lord.

Terima kasih sudah membaca update blog ini yang saya sadari sangat absurd.

GBU

Monday, May 17, 2010

30 Random, Trivial Things about Dankuur

Inspired by my ex-superteacher @ UKSW, click here for her FB profile, or here to go to her blog.

Sebenernya beberapa sudah saya tulis, explicitly or implicitly, di dalem blog en tulisan2 saya. Beberapa pastinya temen2 yg deket tau. Yg belom tau? Well, moga2 makin nda bosen en takut deket sama saya... :D

1. Otak en badan saya sering nda sinkron. Paling parah: (a) sampah di tangan kanan, piring di tangan kiri, yg ta buang yg di tangan kiri, en (b) sampo dileletin di tangan, en dipake buat facial... >.<

2. Walau makin tua, saya masih suka berimajinasi. Saya masih sering berharap bahwa saya punya 'Pintu Kemana Saja' atau 'Kotak Andaikan.'

3. Dua hal pelarian saya adalah: tidur sepulas-pulasnya, dan mandi. Ini membantu saya menghilangkan stress.

4. Mimpi saya buat jadi Guru Sains SD en jadi penulis masi tetep ada sampe sekarang.

5. Waktu kecil saya paling parno kecoak; en sy dulu trauma dikunci di kamar mandi rumah emak yg sering bersliweran makhluk dari jaman prasejarah itu. Sekarang? Well, saya dah ga takut, asal tu makhluk ga terbang2.

6. Yg bikin saya takut sekarang, well, teman2 pasti sudah tau: katak en tokek. Oke, no comment please. Sudah terlalu banyak kejadian memalukan dengan dua binatang ini...

7. Dari lima indera yg saya punya, idung saya paling tajem. En saya paling peka nyium ini itu.

8. Saya orang yg pikirannya liar, apalagi kalo lagi down. Saya sering berpikir dan membayangkan kalo saya bunuh diri, pura-pura gila, melarikan diri, dan lainnya. Thanks buat no 2.

9. Saya orang yang realististis (kedengaran bertentangan dengan no. 2) untuk hal setan-persetanan. Saya nda percaya dengan keberadaan Mbak Kunti dan Mas Wewe. Pembicaraan tentang hal semacam ini kedengaran konyol, en saya paling doyan nakut2in temen yg percaya hal ginian.

10. Dulunya saya super penakut. Saya nda bisa tidur malem hari gara-gara nonton film Vampire (di RCTI) di siang bolong. Pernah kejadian malem hari jam 2 saya bangunin semua orang di rumah gara-gara saya denger suara-suara aneh yg ternyata tikus mainan besi tralis jendela. Ini bener-bener perubahan besar sampe ke no. 9.

11. Saya harus melepas kegemaran saya makan hamburger gara-gara saya jadi vegan. Walo sudah tidak nafsu liat daging, saya masih berharap junk food itu dibuat dan dijual versi vegannya.

12. I do hate farewell very much. Nda pernah ngarep en ga pernah mau mbayangin perpisahan, walo itu sama rival saya.

13. Waktu kecil saya ini super pemalu dan minderan. Saya inget saya bahkan nda berani tatap mata lawan bicara saya. Sekarang kalo liat orang seperti itu, saya paling gregetan.

14. Warna kesukaan saya berubah. Dari ungu (thanks saya sudah ga suka warna ini), jadi putih, hitam, hijau, plus sekarang lebih suka warna coklat dan skyblue.

15. Label 'ngirit' sudah nda sepenuhnya saya pake. Label 'pelit' masih bisa ditempel ke saya.

16. Saya sebenernya orang yang sangat berantakan. Try visiting my bedroom. Tapi kalo sudah niat rapi, saya rapi banget.

17. Saya seorang procrastinator, alias suka nunda pekerjaan. Makanya kalo ada pekerjaan saya selalu tanya, ‘Kapan deadline-nya?’

18. Dalam beberapa hal saya ini perfeksionis, tapi no. 16 bikin saya nda 100% perfeksionis. Thanks, God.

19. Kalo saya lagi duduk, en ga ada kerjaan, saya nda ngelamun, tapi mikir.

20. Saya paling suka tidur siang. Saya sempet tidur 6 jam di siang hari... XD

21. Saya paling bodo kalo disuruh milih, termasuk milih belanjaan en milih kado. Skill saya untuk hal ini parah.

22. Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa saya jadi orang yg sangat moody, dan sedang perang lawan pembawaan ini.

23. Selama ini, saya pernah menang lima kompetisi: lomba mewarna TK (majalah), lomba melukis SD (lokal), lomba nyanyi SMP (tanding sama anak SD), try out UN SMP (lokal) en lomba menulis SMA (provinsi).

24. Walo keliatan kaku en alim, saya paling doyan ngisengin en ngejailin temen.

25. Saya suka ngobrol sama diri saya sendiri, apalagi kalo lagi naek motor sendirian. Oke, saya tidak gila. Itu cara saya buat latihan berbicara en introspeksi diri.

26. Otak saya paling parah kalo disuruh ngehapal or inget2 sesuatu, apalagi yg nda menarik buat saya. Kejadian paling parah adalah kemaren Sabtu, saya sampe lima kali tanya tanggal berapa, en temen di sebelah saya sampe jengkel.

27. Kalo ditawarin beasiswa cuma2 buat kuliah lagi, saya bakal tertarik buat milih: Biologi, Psikologi (or Konseling), atau Linguistik... :D

28. Sekarang ini saya lagi doyan buat ngonsep en nulis naskah drama or cerita, tapi kesulitan buat menuliskan.

29. Dengerin beberapa lagu mellow yg inspirasional bisa bikin saya nangis. Saya sering nangis sendiri di dalem bis.

30. Sebenernya saya orang yg tertutup, tapi Facebook, en internet, mulai bikin saya agak extrovert.


Well, masih banyak sih, tapi nulis 30 saja udah susah minta ampun, takut ntar mbosenin mbaca cuman Dankuur wae. Lah yo emang tentang Dankuur kok ya? Hehehe.

Eniwe, saya berharap lima, sepuluh, or seperempat abad lagi, tulisan ini masi ada, en saya bisa compare myself at that time then.... :D

Start writing yours, pals!

GBU!

Visit my blog, yah!

Wednesday, April 28, 2010

Dan's Family Traits

Loha.

First of all, sebelum berangkat kuliah (sekarang saya lagi menikmati presentasi TAS BK; saya multitasking, jadi bisa mendengar sambil jemari ini menari di atas tuts keyboard), saya menikmati sekitar 10 menit berdiri di depan temuan teknologi paling berpengaruh sepanjang masa: CERMIN. Selama waktu itu saya menemukan lebih banyak uban *phew* dan ingat ikrar saya dulu: 'Kalo uban memang sudah masanya keluar, biarlah saya besok highlight ini rambut dengan putih saja, biar rambut hitam yang lain tidak iri menjadi putih.'

Oke, kalo pernah baca posting yang ini, pastinya tau kalo hari Minggu adalah (harusnya jadi) hari kesayangan keluarga. Dan yg saya paling suka adalah kesunyian di Minggu siang kalo saya lagi terkapar dengan indah di kamar papa, en Nico di kasurnya, Papa di sofa dalem depan TV, en mama membujur di sofa luar. Hm. Benar-benar keluarga yg kompak. Ini turunan ato tularan ya?

Saya pernah mikir saya ini beneran anak papa-mama saya or ga ya? Karena beberapa sifat kok diluar yang seharusnya diturunkan dari mereka. Ato karena ada mutasi gen yg bikin saya jadi 'aneh' dengan beberapa sifat di luar sifat ortu saya ya? Jangan2 dulu saya ditinggal sama Superman gara2 dia terlalu sibuk memberantas kejahatan, jadi takut saya ga keurus lalu ditinggal di luar rumah saya. Hmmm... Bisa jadi.

Hm. Kalo yg kenal papa saya, pasti bakal komen, 'Dan, Papamu "gaul", ya?' or 'Papamu lucu ya,' ato lagi, 'Papamu ramah ya.' Satu rekan saya pernah bilang, yg bikin saya mikir kemudian, 'Kamu kok beda sama papamu ya, dia bisa lucu konyol begitu, kok kamu kaku.' Itu sekitar tiga-empat tahun lalu. Sekarang? Masih sih.

Waktu dulu saya pertama pake kacamata, jaman2 SMP, banyak yang kemudian bilang, 'Wah, Daniel sekarang mirip sama Papa. Pake kacamata.' Cuma mirip gara2 kacamata, padahal saya ini lebih mirip mama saya. Pernah shock waktu buka2 foto lama, loh kok saya ada disana, en ternyata itu adalah mama saya. Dan sekarang, kalo liat adik saya, bakal makin keliatan si Nico mirip papa waktu jaman masi bujang en kurus dulu. Lucu liat foto papa waktu masi kerja di jakarta. Hihihi.

Eniwe, lepas dari masalah fisik, saya ini mirip mama-papa saya or campuran keduanya. Sifat keras saya dituruni dari papa. Sifat rajin saya, puji Tuhan, dapet dari kombinasi keduanya: papa itu telaten en bertanggung jawab, mama itu niat (kalo malesnya lagi ga kumat). Masalah ngeyel (plus pemberontak) saya di dapet dari mama, tapi dikasi sifat sabar mendengar dari papa; kombinasi yang keren. Smart-nya saya, ehem, nular dari papa; ngakak waktu liat rapor mama waktu kecil, peace, Ma. Hehehe.

Nah yang kadang bikin bingung adalah faktor-faktor berikut ini: artistik en musikal (papa-mama ga ada bakat sama sekali, en saya sudah wanti-wanti dengan keras papa dilarang nyanyi kalo lagi tugas di belakang mimbar majelis; sementara mama cuma hobby humming). Gila belajar en maniak buku: dari mana ya? Saya cuma liat papa-mama suka ngisi TTS, tapi ga sering baca. NARSIS, nah ini yg parah, karena papa-mama sama2 pemalu. Hmmm...

Nah. Melihat analisa saya, saya jadi bingung untuk bagian2 terakhir itu. Jangan2 hipotesa bahwa saya anak Superman, ataupun Suparman emang benar. Ato emang ada mutasi pewarisan sifat? Ato karena pengaruh pergaulan dan lingkungan sekitar saya? Saya rasa alasan terakhir lebih masuk akal dan bisa diterima.

Eniwe, bicara tentang pewarisan sifat dari orang tua ke anak, memang ini sangat menarik, dan melebihi masalah pewarisan genetis warna mata lalat buah. Ini pun seharusnya berlaku untuk kita yang sudah Lahir Baru, en jadi bagian dari Keluarga yang baru. Kita punya Bapa dengan Karakter-Nya yang pastinya diwariskan juga ke anak-anak-Nya. Tapi selama ini kalo memang bener2 kita ini anak-Nya, kenapa kita tidak menunjukkan sifat-sifat itu ya? Apakah gara2 kita lupa siapa Bapa kita, ato gara2 alasan saya punya sifat yang berbeda tadi: lingkungan, tempat tinggal temporary sekarang ini, ataukah jangan-jangan ini kita pura-pura (atau malahan bukan) anak Bapa?

Walo saya bukan ato belom jadi seorang ayah/bapak (dan ngarep untuk jadi bapak yg bisa gendong anak bayinya), tapi saya tau bahwa maunya orang tua (yg bener dan yg 'waras') cuma satu dan nda neko2: bawa nama baik keluarga. Selama ini kan selalu kalo ada kasus jelek dari seorang anak, pasti langsung muncul komentar, 'Oh, si X to? Anaknya si Anu ta?' Saya terus pengin menekankan hal ini dalam hidup: bawa nama baik keluarga (baca: orang tua). Kayaknya ini juga berlaku buat nama Bapa deh. Kita ini kan anak-anak-Nya? So, apa orang lain juga kenal siapa Bapa kita? Ini PR (benar-benar pekerjaan 'rumah' kalo kita tinggal di 'rumah' kita sementara ini) buat saya juga.

GB

PS: Sebenarnya ini topik sudah lama saya pengin tulis, en saya inget gara2 liat note di HP saya, topik2 yg belom terwujud dan tertulis, dan hari ini sebenernya saya pengin nulis topik yg laen yg masi hot buat saya. Tapi entah kenapa jadi blur ide-nya.... Hmpf.