Thursday, June 29, 2017

#ChallengeAccepted: Mendaki Gunung Sindoro

Saya menyadari kalau saya ini terlalu asik jadi anak rumahan, yang kelewat introvert dengan hobi ngadem di ranjang (meski juga sudah pacaran [dan sebenernya tetep hobi dolan, sih]). Beberapa teman dekat tahu ini, dan mereka menantang saya untuk 'keluar'.

Jadi, ketika ada satu sohib nawarin untuk ikut muncak untuk mengisi liburan, saya menerima undangan itu dengan polos. Saya meng-oke-kan ajakan untuk naik Gunung Sindoro.

Hari pendakian mulai mendekat, dan detail hal untuk disiapkan bertambah. Cicik pacar dan sohib-sohib yang tahu saya bakal spent my holidays hiking sudah getting worried plus teasing horornya kemping di gunung. Dan saya telat sadar bahwa saya akan menginap semalam. Di gunung.

Seminggu sebelum berangkat, saya stres. Why?

(1) Saya paling males ikut kemping, bahkan dari jaman SD. (2) Saya sadar saya ndak bakal bisa mandi. And, yes, you know, I've got a mild OCD. (3) Saya rutin boker setiap pagi, kadang ditambah sore juga. Ngebayangin kudu boker di gunung bikin saya kelewat cemas.

Poin ketiga yang paling menghantui saya, sampai saya kudu googling tips boker saat mendaki gunung.

Dua hari sebelum saya naik, saya siap-siap dan belanja beberapa bekal: Listerine, tissue basah (anti bakteri maupun yang biasa), HansaplastAqua (3 botol besar), roti tawar (dua bungkus), Energen, obat-obatan (termasuk salonpas, tolak angin, counterpain, dan Antimo, jaga-jaga kalau saya butuh obat tidur).

Daftar kebutuhan yang perlu disiapkan sudah diinfokan via group WA. Ketika saya cek ulang, sepertinya sudah lengkap. Fokus saya ada di baju dan perlengkapan yang kudu dibawa untuk antisipasi udara dingin (cuy, 2100+ mdpl!) dan makanan. Disarankan peserta bawa Indomie minim tiga bungkus, tapi saya pilih roti tawar. Takut mules karena micin bakmi instan. Teman saya yang tidak tahan dingin sudah wanti-wanti dengan baju yang perlu dibawa. Ransel backpack saya berat karena tiga botol air minum dan penuh pakaian plus sleeping bag.

Peta buta di base camp.
Kami janjian bertemu di meeting point rumah teman jam enam pagi, kemudian melaju menuju base camp di Kledung. Udara di base camp sudah lumayan dingin. Sekitar jam delapan lebih, kami bersebelas mulai mendaki. Kami naik ojek ke pos satu setengah untuk menyingkat waktu. And that was a sensational twenty-five-thousand-rupiah ojek ride! Jalan berbatu-batu dan menanjak diterjang dengan gagah-perkasa-kecepatan-penuh oleh pak ojeknya. Alhasil, saya dan teman-teman kagum-campur-ketakutan-kalau-kalau-terpental.

Siap mendaki!
Pos Dua
Kami melanjutkan berjalan, dan total lebih dari empat jam kami berjalan, sambil beberapa kali berhenti kelelahan, minum, makan, pipis. Pertanyaan standar yang sering saya lontarkan: masih berapa jauh sampai ke pos selanjutnya. Makin ke atas udara makin dingin, saya tetap tidak memakai jaket, karena badan cukup keringatan. Perjalanan ini mengingatkan dengan petualangan yang bikin saya gosong dan lemas ketika saya ikut pergi trip ke Tamong, Kalimantan Barat lima tahun silam. Pendakian Gunung Sumbing lebih terjal daripada rute ke Tamong, tapi tetap sama-sama melelahkan. Herannya: kaki saya tidak pegal, sementara pundak yang kesakitan dan napas tetap ngos-ngosan.


Ranselnya hamil, kata temen.

Titi. Me. And Yosu.
Kami tiba hampir pukul satu siang. Segera kami mulai mendirikan tenda. Tenda saya hanya diisi dua orang, sementara yang lain tiga. Teman setenda saya sudah wanti-wanti supaya saya siap dengar konser ngorok dia di malam hari. Ada beberapa rombongan lain yang juga bermalam di sana, tapi tidak banyak.

Dua tenda di bawah.

Dua tenda di atas. Tenda saya yang kanan.

Mencoba bikin api unggun.
Tidak banyak yang saya lakukan dari siang sampai malam: tidur ayam, jalan sedikit ke atas, balik tenda, ngemil roti tawar, baca PDFs di tab, nonton unduhan klip youtube di HP. Tidak banyak foto-foto saya ambil. Teman-teman di tenda lain ngobrol, cekikikan, main kartu, dan masak. Betewe, sinyal HP koit. Dua hari di gunung itu semacam detoks koneksi internet.

Yosua main kartu.
Hal lain yang bikin saya khawatir: hujan. Sore hari sempat gerimis, tapi cuaca masih aman. Ketika malam tiba, sekitar pukul delapan, saya memutuskan minum Antimo supaya cepat ngantuk. Dan sial: Antimonya tidak bekerja. Saya memaksa memejamkan mata. Celana training panjang saya kelupaan dibawa, jadi saya pakai jeans yang saya bawa. Tiga lapis kaus di badan plus sarung tangan tracking plus syal cukup efektif bikin hangat tubuh saya di dalam sleeping bag.

Sial buat saya yang badannya cukup tinggi (baca: panjang). Teman setenda konser dengan sukses, sementara saya merem melek sepanjang malam, dengan kaki tidak bisa diluruskan. Saya gonta-ganti posisi. Tidur telentang bikin tulang ekor sakit, sementara nyamping bikin tulang pinggul cenut-cenut.

Akhirnya hujan turun cukup deras, dan bikin saya sempat terbangun. Ramalan cuaca cocok untuk malam itu, dan sepertinya memang Tuhan lagi nguji saya: kenyamanan saya digoncang. Tenda saya basah dindingnya, rembes, tapi tidak sampai kemasukan air. Sedikit was-was jadinya saya. Teman tenda lain melapor mau pindah karena tenda mereka kebanjiran, meski akhirnya tidak jadi pindah dan hujan mereda. Ketika terbangun lagi, saya kira sudah jam empat pagi, waktu berburu sunrise, tapi ternyata masih jam satu subuh. Dang.

Jam empat subuh tiba, dan kami sedikit berjalan naik untuk berburu sunrise. Langit masih gelap dan udara super dingin untuk saya sampai ujung jari-jari tangan saya cenut-cenut. Sunrise yang ditunggu akhirnya tiba, dan kami asik berburu foto. (Reminder buat warganet semuanya: jangan lupa menikmati alam, alih-alih sibuk cari pose foto terbaik).


Sunrise hunters

My bro



Tiga jam berlalu, kami memutuskan untuk naik ke puncak, menuju pos empat. Jalur pendakian makin terjal. Saya makin ngos-ngosan sambil terus berpikir bagaimana nanti turunnya melihat jalur yang cukup curam. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti, sementara lima teman lain lanjut ke atas, menuju puncak. Saya turun, bertemu sisa rombongan yang masih asik berfoto dengan pemandangan yang memang memanjakan mata. Puncak gunung berjajar di samping Gunung Sumbing yang megah di seberang mata. Awan membentuk lautan. Cuaca dan langit di atas pun masih cerah.

Mereka yang sampai di puncak.

Dan kami yang turun duluan.




Kami memutuskan untuk berjalan kembali ke tenda. Sudah lebih dari jam sebelah belas siang, dan kelompok pendaki di puncak belum turun. Kami menunggu sampai jam dua belas, sambil saya beberes barang bawaan. Hujan turun, makin menderas. Tenda saya sudah duluan dibereskan, jadi saya pindah ke tenda lain. Sekali lagi Tuhan menguji dengan menggoncang kenyamanan saya--kami.

Akhirnya rombongan dari puncak turun sekitar jam satu, basah-basahan menerjang hujan. Kasihan juga lihat mereka yang ternyata diterjang badai di puncak. Kami memutuskan untuk turun duluan ke base camp, menembus hujan dengan jas hujan. Jalan turun kami seharusnya bisa lebih cepat kalau tidak berhati-hati dengan jalur yang licin karena air hujan.

Kali ini kaki saya mulai pegal, dan tidak ada hal lain yang berputar di otak saya selain pos ojek untuk turun ke base camp, dan ranjang di rumah. Padahal awalnya kami sudah berpikir untuk tidak naik ojek, mengingat pengalaman ojek rasa jet coaster ketika berangkat ditambah hujan yang turun. Setelah meyakinkan pak ojek untuk tidak ngebut, kami pun pasrah untuk naik ojek.

Saya pulang duluan, menembus hari yang mulai malam, memboncengkan adik saya di sepeda motor. Satu dua kali nyasar mengikuti jalur Google Maps yang berbeda dengan jalur arus balik kemarin.

Sempat satu teman bertanya, "Koh Dankur kapok 'gak (naik gunung)?" Jujur, saya menikmati hiking meskipun melelahkan, karena pengalaman dan pemandangannya selalu memuaskan. Tapi saya kapok berkemah. Kemah bukan untuk saya, dan mandi ketika sampai di rumah jadi hal yang paling saya tunggu-tunggu.





Bagaimana dengan boker? Aman. Sampai di rumah pun ternyata juga tidak bisa buang air sebesar-besarnya. Sampai saya selesai menulis ini, saya masih harus berjalan dengan pelan karena kelewat pegal.

Ini pengalaman pertama saya mendaki gunung dan berkemah (sambil berharap ada gunung lain yang bisa didaki, meski tidak sampai puncak, dan berharap tidak harus berkemah). Tantangan sudah diterima dan dilaksanakan. Dan saya boleh berbangga diri, sambil ngedit foto-foto hasil jepretan saya dari HP maupun kamera teman. Kalau tertarik muncak, jangan tanya saya; saya rekomendasikan teman saya yang memang hobi menaklukan gunung.



.

Visit my IG or FB for more photos.

Thursday, January 26, 2017

Buku Pertama 2017: Talk Like Ted [Ulasan Buku]

Salah satu resolusi 2017 saya adalah komitmen beli-dan-baca-sampai-tuntas buku baru. Dan buku yang sebenarnya tidak baru-baru amat, karena sudah beli dari akhir tahun 2016, dan sudah tuntas saya baca adalah Talk Like TED. Hore!

Bukunya sendiri saya beli dari Book Depository. Pengalaman pertama beli buku impor, dan free shipping, cuy! Semacam dag-dig-dug menunggu sampai akhirnya buku ini hadir juga sekitar tiga minggu dari tanggal laporan buku itu sudah dikirim dari UK. Belinya pas diskon dong, ya. ūüėÄ Dan, iya, bukunya full dalam Bahasa Inggris.

Sudah lama saya kenal TED dan segitu banyaknya presentasi-presentasi yang inspiratif. Dan saya suka belajar baik konten yang dipresentasikan maupun gaya presentasi para nara sumber itu sendiri. Jadi, buku ini semacam kitab yang membocorkan rahasia di balik presentasi menarik TED.

Image result for Talk like TED

Carmine Gallo—seorang speaker, penulis, dan pembawa berita—mengupas sembilan kunci penting dari presentasi yang sukses di balik setiap nara sumber TED. Setelah membongkar rahasia presentasi Steve Jobs di buku sebelumnya, Gallo membahas kasus dan contoh yang diambil dari pengalaman presentasi para presenter TED maupun non-presenter TED dalam buku ini. Gallo ciamik menghubungkan contoh kasus dengan poin yang sedang dia tekankan. Dan variasi contoh presentasi TED yang diberikan pun cukup beragam tapi tidak membosankan untuk dibaca (mengingat saya makin kesini bukan penikmat narasi).

Semua diawali dengan satu pernyataan Gallo, "Ideas are the currency of the twenty-first century." Kita semua bertukar ide di jaman ini, dan itu sebabnya penting meng-upgrade diri supaya kita tahu bagaimana kita menyajikan ide kita sehingga orang lain entah percaya atau mengikut apa yang kita katakan,

Image result for Talk like TED

Kebayang pastinya ketika kita bisa mengikuti dengan atusias sambil mengangguk-angguk setuju, sesekali tertawa kecil karena materi yang disampaikan dibumbui humor. Dan pasti juga jelas terbayang pengalaman Anda ketika terduduk bosan, sesekali menguap, karena entah materi yang disampaikan tidak menarik atau gaya pembicara yang emang layak ditinggal pergi.

Buku ini cocok kalau Anda sedang belajar bagaimana presentasi dengan menarik tapi tetap bermakna. Semua dimulai dengan pentingnya berbagi passion. Menularkan passion itu sesuatu yang menyenangkan dan menggairahkan. Tapi itu juga harus dilengkapi dengan keterampilan bercerita, storytelling. Itu kunci kedua. Selain bercerita, Gallo mengingatkan pentingnya juga melibatkan emosi pendengar dalam kita presentasi secara lebih komunikatif layaknya kita sedang bercakap-cakap secara pribadi.

Tiga kunci selanjutnya berhubungan dengan orisinalitas dan kesegaran materi dan style pembawaan presenter. Bahkan untuk materi yang sama, perlu ada kesegaran dan hal baru yang disampaikan kepada audience. Gallo menekankan bahwa otak kita menggemari novelty, sesuatu yang baru, yang melegakan rasa ingin tahu kita. Selanjutnya, contoh-contoh bagaimana membuat pendengar merasa wow juga diulas. Jaw-dropping moments, istilah yang dipakai Gallo, momen yang bikin Anda melongo. Hal-hal menarik itu yang bakal teringat dan mengajak audiens tidak hanya berhenti sampai mendengar tapi juga bertindak. Tidak lupa unsur humor juga menjadi kunci penting. Siapa sih yang tidak suka tertawa dan terhibur?

Bagian terakhir tulisan Gallo dimulai dengan dia mengingatkan pembaca untuk berpegang pada aturan 18-menit. Saya langsung teringat bagaimana pantat saya yang gelisah ketika kombinasi materi-membosankan, gaya-bicara-kaku, dan periode-yang-lama melanda saya yang duduk sebagai penonton alih-alih pendengar seminar yang baik. Mostly juga saya alami mendengarkan kotbah gereja. Uhuk. Mengajak para pendengar untuk menggunakan indera yang beragam juga menjadi faktor penting yang menyukseskan presentasi kita. Dan bab terakhir kembali menyambung ke bab pembuka, passion yang datang dari hati. Ketika presenter berbicara sesuatu yang tidak tulus keluar dari hati, kita bisa merasakan garingnya, kan?

Image result for Talk like TED

Saya terbiasa membaca awal dan akhir sebuah paragraf saja, dan ini bakal bikin saya terseok-seok ketika membaca narasi atau kasus. Tapi Gallo sukses membuat saya menyimak hampir semua contoh presentasi yang dia tuliskan di buku ini. Dan sembilan rahasia presentasi yang sukses, layaknya para presenter TED yang menginspirasi dan bermakna, pasti bakal saya aplikasikan dalam presentasi saya selanjutnya.

Buku ini wajib Anda baca, kalau Anda ini pemimpin, influencer, guru, dosen, marketting dan staf promosi yang doyan presentasi, bahkan para pemimpin agama yang doyan ceramah rohani di depan para jemaatnya. Bahkan saya juga mendorong teman-teman saya yang masih duduk di bangku sekolah atau kuliah, mengingat jaman sekarang makin banyak tugas presentasi, kan? Supaya gurunya dinilai sukses mengadakan pembelajaran yang aktif? Eh.

Wednesday, November 23, 2016

Fantastic Beasts and Where to Find Them: Review dan Ini-Itu Lainnya.

[SPOILER ALERT]

2016 pastinya jadi tahun yang paling diantisipasi kaum Potterheads, atau sejujurnya para penyihir--termasuk saya--yang selama ini sukses menyembunyikan identitas rahasia mereka dari para Muggle. *uhuk* Harry Potter geeks sudah tidak sabar menunggu film terbaru dari dunia sihirnya Tante Rowling: Fantastic Beasts and Where to Find Them.


Yang menarik, dibanding delapan film pendahulunya, film ini bukan adaptasi penuh dari buku yang ada. Meski memakai judul yang sama dengan satu buku karangan JKR, tapi isinya banyak berbeda dari apa yang tertulis di buku. Potterheads sudah lama penasaran bagaimana buku tipis itu bakal jadi film sepanjang dua jam.

Ketika dulu saya, dan potterheads lainnya, kecebur di dunia sihirnya JKR, kami mungkin masih anak-anak atau remaja, dengan segala fantasi dan imajinasi saat itu, baik waktu baca buku maupun nonton adaptasi filmnya. Sekarang, ketika penggemar sudah tumbuh makin dewasa *ceileeee*, filmnya pun ikutan bernuansa lebih dewasa, tanpa menutup kemungkinan bahwa banyak potterhead baru juga muncul dari golongan anak-anak.

Alih-alih jadi film dokumenter fiksi tentang hewan-hewan sihir dari potterverse, FBAWTFT memuaskan excitement-nya Potterheads dengan kisah baru tentang si penulis buku, Newt Scamander, yang bertualang ke Amrik! Spin-off saga Harry Potter ini dikisahkan terjadi di tahun 1926, jadi jangan tanya kenapa si bocah berkaca mata dengan bekas luka di dahi itu tidak nongol! Dan ingat, film ini kanon dari bukunya: nyambung dengan universe dari saga Harry Potter (bandingkan dengan 8 film HarPot, itu adaptasi dari novel, jadi banyak elemen berubah atau dipersingkat, sementara yang ini beneran fresh dan nambahin elemen semesta sihirnya JKR).

Dan saya, sebagai salah satu potterheads juga ikutan jingkrak-jingkrak kegirangan ketika akhirnyaaa film ini nongol. Pre-release film ini, saya dengan setia mengikuti semua kisah pendukung yang ditulis JKR di Pottermore: background kisah sihir di Amrik (yang sempet bikin agak ribut), sampai sejarah berdirinya Ilvermorny, that american wizarding school! Akhirnya, film Ini jadi satu kado ulang tahun tersendiri buat saya. #eh Nostalgia abis, lah, ini film dengan potterverse.

Kembali tentang filmnya sendiri, saya menikmati plot cerita yang mengisahkan petualangan Newt di NY. Jadi kali ini, tidak ada ekspektasi maupun bayangan seperti apa plot dari petualangan Newt, karena tidak kisah dari novel yang diadaptasi (ingat, bukunya lebih seperti buku teks bacaan sekolah si Harry). Ekspektasi tentang beberapa jenis dan deskripsi makhluk yang sudah disebutkan di bukunya memang ada, selain karena sudah juga nonton trailer-nya. Tapi, we have no clue about who would appear in the story and what would happen then.


‘Puasa’ saya dengan potterverse cukup dipuaskan dengan film ini. Beberapa elemen sihir baru dikenalkan, dan mata cukup dimanjakan dengan visualisasi makhluk-makhluk sihir itu. Well, Niffler and Bowtruckle jadi favorit, lah, selain si Demiguise yang nongol belakangan. Yes, I—we, potterheads—want more creatures! Sembari nonton pun, sembari dengan seksama (sambil bertarung dengan mata yang micing-micing, gegara minus mata nambah) mengamati kali-kali ada easter eggs yang ngingetin dengan buku/ film pendahulunya.

Humornya segar. Film ini buat saya sukses mengenalkan dan menjelaskan karakter Hufflepuff lewat tokoh Newt, introduksi yang baik dari Tante Ro untuk satu asrama Hogwarts yang paling kurang banyak dieksplor ini. Tapiii, rasanya kok duet kocak no-maj/ muggle, Jacob, dan Queenie yang jadi love interest-nya malah yang kerasa lebih menarik perhatian saya. Newt jadi berasa kurang nendang, kurang wow (still, I love Redmayne’s act).

Another thing, pengenalan dan visualisasi Obscurus, entitas sihir baru di film ini, bikin saya agak mikir. Cukup lebay menurut saya, dan jadi berasa nonton film superhero, alih-alih film tentang sihir. Sekilas kepikir bahwa endingnya itu MACUSA officials’ Reparo + Newt’s amnesiac potion = Dr. Strange’s spell with that Eye of Agamoto. Forgive me. Efek abis nonton Stephen Strange. *minta digampar*

Saya suka FBAWTFT, tapi buat saya ini bukan film terbaik dari JKR maupun Yates. Salah saya: ekspektasi cukup tinggi. I wish the story were richer; the magical elements are rich tho. Mungkin perlu ada yang nampar saya, supaya saya sadar bahwa dua jam rentang waktu film ini tidak bisa dibandingkan dengan halaman-halaman novel yang bisa membebaskan batasan waktu, bahkan untuk buku tipis aselinya yang tidak sepenuhnya diadaptasi. I know I was wrong to compare Harry Potter and FBAWTFT. I know.

Salut saya selalu untuk JKR yang sukses menyebar clues sekaligus bikin potterheads gregetan-bin-penasaran karena banyak pertanyaan muncul di kepala. Tapi, seperti yang diingatkan JKR, masih banyak hal untuk dieksplor, mengingat ending installment ini bakal bersetting sembilan tahun sejak kasus Newt di NY ini. Yes, 1945. Oh, ya, saya kelupaan menyebutkan kalau bakal ada LIMA film dari franchise ini, ya? Yes, LIMA. *jingkrak-jingkrak lagi*

Jadi sekarang, saya bakal menunggu dengan sabar empat film selanjutnya yang bakal mengeksplorasi potterverse lebih luaaaas lagi. It’s gonna be in Paris next! Woohoo. JKR bakal ngenalin elemen-elemen baru, mungkin sekolah-sekolah sihir lainnya juga.

As for the creatures, I hope to see Lethifold, Quintaped, or Ramora in the next film!



Nox!

Tuesday, August 16, 2016

Catatan Perjalanan Anak Udik di Singapura (2)

Day #2 part 2

12/ Selesai ngabisin semangat dan tenaga di USS, kunjungan kami selanjutnya adalah China Town! When sipits met other sipits! Hahaha. Isi tenaga dulu, dengan isi perut. Sayangnya saya sudah duluan isi perut dengan makan sandwich Subway. Jadi di Maxwell Food Court, saya lebih milih menikmati buah segar (gaya bangeeet ke negri orang makan buwah!), jus manga-pisang, dan nyobain es serut durian dan kacang merah. Saus duriannya top. Lanjutlah perjalanan kami ke China Town Complex, di mana banyak tempat makan, plus toko-toko jualan oleh-oleh. Sesuai saran teman saya, makin masuk ke dalam, makin rame dan murah. Intinya kudu rajin compare harga toko yang beda. Buat pribadi, saya beli kalung dengan bandul yang diukir (kurang kerjaan). Toko yang jual oleh-oleh bahan babi sudah tutup (buka pun saya gak minat beli, haha). Di ujung jalan, kata temen, ada toko jualan sex toys, cuman iseng nonton etalasenya. Gak berani masuk, ntar takut kalau saya langsung keluar tanduknya. Sebenernya ada banyak tempat bagus lain di China Town, sayang kami sudah terlalu larut datang ke sana. Next time, lah.

China Town

13/ Hari sudah malam. Kaki sudah minta dipijit. Sayang saya ndak berani coba massage di China Town. Pulang lah kami naik bus, bukan MRT. Pengalaman pertama naik bus di Singapore. Nyaman, dan thank God, kami dapat tempat duduk. Mandi. Wi-Fi-an. Dan tidak bisa tidur sampai jam satuan, karena kaki terlalu pegal. Dang.


Day #3

14/ Rencana hari ini: Li'l India, Bugis, Merlion, dan Gardens by the Bay. Sarapan pagi saya? Lagi-lagi roti Subway yang sudah beli duluan, awalnya beliin buat diicip para cewek, tapi mereka sudah kenyang malam sebelumnya.

Little India, and Arab Street

15/ Kami bertolak ke Little India. Kampungnya para orang India di Singapura. Katanya tidak sebersih area lain, tapi tetep terhitung bersih, lah. Sepanjang jalan, banyak yang jual perhiasan. Mampir satu toko oleh-oleh, yang jual malah orang China. Lol. Saya suka arsitekturnya yang unik. Warnanya cerah-cerah. Tujuan di Little India: pusat oleh-oleh (lagi-lagi), Mustafa Centre, yang sudah di-suggest beberapa pendahulu juga. Saya eneg dengan browsing oleh-oleh. So, saya memutuskan untuk berkeliaran keluar. Misah dari rombongan.

16/ Dengan polosnya, saya memberanikan diri jalan (cukup jauh), ke Arab Street, yang di-suggest peta wisata sebagai point of interest terdekat. Kelihatan di peta sih, jarak antara Mustafa Centre ke Arab St. deket. Padahaaal, jauuuh. Kampr*t. Tapi, saya menikmati pemandangan dan arsitektur bangunan di sana (maksain diri lihat sisi positifnya). Nemu Gereja Our Lady of Lourdes (unik, karena budaya Katholik dan India bertemu), Sultan Mosque, dan Malay Heritage Centre. Cuman bisa ambil foto saja disana. Janjian balik di Mustafa Centre, jam 12.30, dan saya molor sepuluh menit (dibelain lari-lari karena salah perkiraan waktu plus nyasar, cuy!). Saya sudah ditungguin, dicari-cari, plus sedikit diomelin. LOL. Semacam bloon kenapa dari awal ga ke utara Li'l India aja, ada City Square Mall, daripada jauh-jauh ke Arab St. Tapi worth visiting lah, untuk cuci mata.

Sultan Mosque, and Bras Basah

17.1/ Rombongan memutuskan untuk pergi ke Bugis, katanya pusat oleh-oleh yang lain. Saya minta ijin pisah dari rombongan, selera saya beda: cari buku bekas. Target saya ke Bras Basah. So, berangkat lah saya naik MRT sendiri (pura-pura) sebagai solo traveller. Nyasar? Iya. Ternyata gak segampang itu baca peta (or, sayanya yang emang parah navigasinya). Kecapean kakinya. Duduk sejenak, baru nyadar saya duduk di depan gereja, pas bubaran ibadah juga. Ada tante-tante muda yang lagi dorong emak-emak di kursi roda ikutan duduk di samping saya. Di tengah kelelahan, saya nanya ke dia arah ke Bras Basah Complex, dan jawabannya yang simpel en sederhana tapi attentive banget (mikirin jalan pintas terdekat setelah ngusulin jalan utama yang cukup ribet), bikin hati mak nyes. I thanked her.

17.2/ Saya meluncur ke BB Complex. Nemu lah Evernew Book Store. Surganya buku (bekas)! D*mn. Banyak pilihan. Cukup lama juga milih-milih bukunya. Nemu banyak judul bagus. Disana pengunjungnya kelihatan para kutu buku. LOL. I could have bought more books. Saya sadar diri budget dan bagasi terbatas. Saya juga baru kalau ada pilihan kios buku lain, setelah mau jalan balik. Ngelirik jam, masih ada sisa waktu sebelum janjian ketemu di penginepan dengan temen-temen, so saya duduk-duduk istirahat di luar National Library. Ndak masuk. Berasa agak kuat, saya lanjut balek naik MRT ke Novena. Pertama kalinya kartu EZ Link saya ditolak. Kena limit. Kudu top-up lagi, tapi saya milih beli single ticket dari Bras Basah ke Novena. Di tengah jalan, SMS masuk, ngabarin kalau rombongan lain lagi mau naik MRT, which means bakal telat balek, sejaman lagi. *tepok jidat* Nasib saya berakhir dengan duduk di depan pintu kamar penginepan, tanpa kunci masuk, mana pemilik penginepan di kontak juga lagi gak di rumah. Tapi saya terhibur wifi-an sambil telepon sohib yang di Aussie.

18/ Kami istirahat sebentar, sembari saya yang sudah berkeringat mandi dulu. Lanjut lah kami setelah itu ke Merlion. Belom afdol kalau belom foto sama patung singa itu. Seperti gambar ekspektasi-realita tujuan wisata lainnya, bejubel wisatawan. Ambil foto disana kudu pintar-pintar cari dan curi spot, sambil jaga etika gantian foto di spot yang bagus. Sekali juga diminta tolong njepretin foto turis lain. Puas foto-foto dengan patung singa, kami lanjut jalan sepanjang Jubilee Bridge, sambil menahan rasa cape, menuju The Esplanade untuk cari MRT Station-nya. Turun di stasiun Bayfront, dan lanjut lah kami ke Gardens by the Bay!

Merlion

Gardens by the Bay

19/ Gak bisa banyak foto-foto di GBTB, selain karena sudah mulai gelap, juga kami kecapean jalan. Saya dan cicik pacar, jalan-jalan ke area utara, cuman bisa lewat Cloud Forest dan Flower Dome, tanpa berani masuk, mengingat waktu dan budget terbatas. Balik ke tempat awal, ngumpul dengan yang lain. Passs banget ketika kami memutuskan mau keluar area GBTB (karena perut udah laper), ehhh, light-show-nya dimulai. Semua pengunjung langsung semangat dan rebahan di tanah begitu announcement di loudspeaker terdengar! Mulai lah kami menikmati pertunjukan lampu keren di malam itu. Jangan iri, ya!


A video posted by Daniel Kurniawan (@dankuur) on

20/ Kami cari makan malam. Bajet uang saku saya sudah terbatas. Sebenernya masih ada sisa, tapi gak mau abisin semuanya. Kalau bisa diirit, why not. Cari makan malam pun, kami bela-belain ke Orchard, masuk ke Mall Nge Ann City. Makan lah kami di food village di dalem mall itu. Lihat dompet masih ada dua lembaran $10 yang memang gak mau dipakai, plus beberapa lembaran $2, dan beberapa koin. Kepake tiga lembar buat beli makan, pork. Abis makan, muter, lihat ada bakpao jumbo harga $4, tapi nahan diri biar bisa ngirit. Di kios lain, ngiler lihat es serut buah. Akhirnya gak tahan, beli es serut mangga! Terus keinget, daripada repot, sekalian beli bakpao buat breakfast besok paginya. Meluncur ke kios bakpao, ehhh, kiosnya sudah tutup! LOL. Hahaha.

21/ Kami lanjut jalan pulang, naik bus. Pisah dengan teman yang sudah jadi guide kami selama tiga hari itu. Thank you, Yoel! Kami bertujuh berakhir dengan menghabiskan malam di satu kamar (dua malam sebelumnya kami pisah kamar), karena malam itu kami ngungsi, sementara kamar yang semula saya pakai sudah ganti dipakai tamu lain (kami dulunya telat bayar DP penginepan, jadi malam terakhir sudah keburu diambil orang). Packing-packing juga. Saya tetap berakhir dengan satu tas backpack, sementara temen-temen lain sudah penuh kopor dan tas tambahannya.

Day #4

22/ Tidak ada tujuan lain selain ke bandara. Sarapan, lagi-lagi, saya milih (lagi-lagi) makan roti Subway di airport. Hahaha. Ngabisin lembaran $2 dan beberapa koin. Abis sarapan, kami mutar-mutar area di terminal itu. Changi Airport itu keren! *ndeso* Beberapa teman beli wine dan minuman lain, saya cuman menemani saja. Pesawat kami delay 30 menit, jadi lumayan buat merilekskan kaki. Tidak banyak yang kami lakukan, selain main Social Tree (bisa buat main game rame-rame yang lumayan seru, dengan foto wajah kita nampang di screen gedhenya). Kami meluncur ke gate pesawat kami (lagi-lagi habis temen-temen mampir ke toko permen, untuk beli oleh-oleh). Pesawat terbang kembali ke Jogja. Liburan berakhir disana.



Total biaya liburan saya di Singapore? Bisa dilirik disini. Itu pengeluaran belum termasuk tiket pesawat dan oleh-oleh, yah! Sebenernya kalau mau irit, bisa berkurang $40 dolar untuk pengeluaran pribadi, macam beli kalung, magnet, dan buku bekas (*menghela napas*). Kalaupun next time datang kesini, gak ngunjungi USS pun, bisa ngirit $60 lagi! Sooo, budget ngiriiit, sebenernya bisa cuma $150-an untuk wisata di Singapore dengan cari spot-spot yang gratis. LOL

Well, saya bakal sedikit susah move-on dengan liburan ini. I know. Dan saya mengaggumi Kota Singa ini dalam cukup banyak hal. I'm gonna write about it later.

I'm gonna miss Singapore. Planning to come back? FOR SURE.
Masih banyak area gratis yang laik kunjung dan foto-foto di Kota Singa ini!

Thank you, Singapore!

Catatan Perjalanan Anak Udik di Singapura (1)

Tiga malam di Singapura sangat memuaskan untuk liburan saya tahun ini. Pertama kalinya saya bisa pakai frasa TGIF alias 'Thank God It's Friday', secara saya kerja enam hari seminggu.

So, berikut catatan perjalanan saya, anak udik (like what my friend called us) dari Magelang yang baru pertama kali ke luar negri, ke Singapura; saya sajikan catatan perhari, dan dalam bentuk penomoran. Siapa tahu bisa jadi ide buat pelancong lain. (Ini dengan pemikiran dan perencanaan budget seorang backpack; I guess it could have been cheaper.)


A photo posted by Daniel Kurniawan (@dankuur) on

Day #1

1/ Bandara Changi menyambut dengan hujan sesaat; spontan agak khawatir kalau rusak planningnya. Dan kami nyasar terminal bandara, cari-cari cek imigrasi yang bener. Not a big problem. Kami balik ke terminal asal, ke imigrasi, dan lanjut ke luar bandara. Oh, ya, tap water di bandara beneran bikin seger badan en hati yang capek. Eaaa. Makan siang di bandara dapet Chicken with Lemon Sauce, $6.5 sudah termasuk minum, lumayan lah ya. Btw, tentang tiket, kami sudah pesan setahun lalu. LOL.

2/ Untuk transportasi di Singapura, kami pakai EZ Link Card. Antrian pembelian Tourist Pass dan EZ Link berbeda, dan ini kali kedua kami salah alamat (setelah nyasar imigrasi terminal tadi). Kami mau beli EZ Link, tapi antri di Tourist Pass. Dan di akhir perjalanan, di hitung-hitung, mendingan pakai Tourist Pass. Duh. Kemana-mana, turun dari MRT/ Bus, ya jalan. Bener-bener latihan kaki.

3/ Sistem MRT dengan tapping kartu bikin mudah segalanya. Not a new thing juga sebenarnya, karena Jakarta juga sudah mulai begitu, kan. Jalan dari penginepan ke stasiun MRT terdekat lumayan bikin olah raga. Setiap rute terpampang jelas, baik di map maupun di papan informasi. No eating and drinking in MRT. Yes! Bersih dan nyaman lah (apalagi kalau dapat tempat duduk, instead of standing, haha)


4/ Kami dapat penginapan yang nyaman, bersih, dan murah. Untuk standar backpacker, di daerah Novena, persis depan bus station-nya. Mandi bisa air panas, kamar AC, ada dapur dan laundry, plus boleh pakai microwave untuk angetin sarapan. Free-Wifi, for sure! Uhuy. Oh, ya, teman-teman pada beli kartu telepon, saya 'ndak. Beneran menikmati detox sepanjang tiga setengah hari itu, tanpa banyak gangguan telepon, sms, atau chat masuk.

5/ Jam enam di Singapura masih terang benderang = jam lima di Jawa. Selisih satu jam lebih cepat. Jadi semacam susah, otak ini menyesuaikan diri, meski jam tangan sudah diubah.

6/ Karena masih awam dengan peta dan area Singapura, jadilah kami semacam nyasar sana-sini di sore-malam pertama. Tujuan awal setelah unpacking luggage di penginapan adalah Clark Quay, aslinya narget sampai ke Marina Bay. Nekat lah kami jalan, which was sooo tiring. Dan GPS HP-nya selalu gak well di area sini!

7/ Di tengah kelelahan dan kelaparan (sudah pk. 08.00), kami menghibur diri dengan foto-foto pemandangan sepanjang sungai di CQ, berharap dapat tempat makan murah, tapi cuma bisa ngiler lihat sepanjang jalan ada restoran (mahal-mahal). Kami nyasar ke hawker's food centre yang notabene udah gak operasional lagi. (Google) Map-nya belum update mungkin. Dan alhamdulilah, nemulah kami Chinese Food Court di ujung jalan! Murah-murah disono. Chicken Thai Style seharga $4,5 dan Ice Millo $2 bikin perut kenyang dan wajah sumringah.


8/ Kami masih lanjut ke The Float dan Helix Bridge. Menikmati pemandangan disana, sambil foto-foto dengan cahaya minim. Hiks. Saya terus self-reminding supaya gak keasikan foto-foto terus malah lupa menikmati momen dan pemandangan yang ada.

9/ Pulang ke penginapan, kaki sudah letooooy. Mampir Seven Eleven yang puji Tuhan buka 24 jam dekat dengan penginapan (setelah mendapati SevEl di MRT Station Novena sudah tutup). Sebotol A*ua ukuran gedhe disini $3, mahal kaaan? Ngapain juga beli A*ua disini!


Day #2

10/ Siap-siap ke USS. Kami bertujuh, bawa dua tas ransel saja. Tidak perlu bawa banyak amunisi, seperti saran beberapa pendahulu kami. Sarapan saya di Burger King di Novena. Sebenernya bisa beli roti lebih murah di Breadtalk atau SevEl terdekat sih. Sigh.


11/ USS! Rameeee pengunjung (ya, iya, lah, apalagi kami datang hari Sabtu!). (Btw, tiket lebih murah beli online lewat Klook). Setelah foto-foto di depan globe berputar yang mainstream jadi spot foto itu, masuklah kami. Dan langsung excited. Saya jadi anak-anak lagi! Teman kami (orang Indonesia yang kerja di Singapura) suggested lebih baik langsung ambil jalur ke kiri (mostly, pengunjung langsung belok kanan).

11.1/ Ride pertama kami di USS adalah Madagascar Boat Ride. Yah, lumayan menghibur. Antrian masih belum panjang. Begitu kami keluar, antrian sudah mengulaaaar. Nothing much we did there, lanjut lah kami ke area lain.


11.2/ Saya langsung usul, 'Kita ke The Lost World dulu!', yang notabene buka jam 11. Sambil nunggu lima belas menitan, kami foto-foto gate Jurassic Park yang terkenal dan ada patung T-Rex plus Spinosaurus. Begitu masuk, saya jadi makin sangat excited. I'm a biiig fan of Jurassic Park and dinosaurs. Dan theme song-nya dimainin di area itu sepanjang waktu. Jadi hati saya berdebar-debar tiap detik (lebay). Ride pertama kami, langsung ke JP Rapids Adventure. Beneran saya super excited menyusuri aliran sungainya, sambil menikmati efek yang ada. Basah? Iya, tapi gak parah banget. Lagian cepet kering karena naik Canopy Flyer yang seru (meski cuma satu-dua menit naiknya, hiks)! Saya sempetin beli hiasan magnet Jurassic World, for $8.


A photo posted by Daniel Kurniawan (@dankuur) on



11.3/ Ancient Egypt jadi tujuan selanjutnya. Dan, Revenge of the Mummy is a must! Beneran seru. Kudu dicoba, lah. Saya jejeritan sepanjang ride. Haha. Ndak banyak yang dilakukan disini. Foto-foto, iya. Treasure Hunters jeep ride-nya lagi ditutup karena maintenance. Kami balik ke Food Court area Jurassic Park buat makan siang. Selesai makan, sambil tunggu giliran teman-teman lain makan (antrinya panjaaaang, jadi better jangan kesini pas peak hour makan siang), menikmati pemandangan danau Lake Hollywood. Bisa foto-foto, sambil menikmati jejeritan roller coaster di seberang.

11.4/ Kami balik rute ke Far-Far Away. Area-nya Shrek, dkk. Kemudian memutuskan untuk berpisah, grup cowok dan cewek, karena grup cewek mau antri Puss in Boots' Ride. Sambil nungguin mereka antri dan naik atraksi, saya nonton live show-and-dance Puss in Boots and Kitty Softpaws. Menghibur. Kemudian nonton stand up comedy-nya Donkey (not really a live Donkey, tho; it's on big screen, but still entertaining). Cuman keluar di jam-jam tertentu dua show itu.

11.5/ Dari Far Far Away, lanjut ke Sci-Fi Centre, ngelewatin roller coaster Accelerator yang fenomenal itu. Gak jadi nyobain itu merah-biru roller coaster; lah, gimana lagi, antri 120 menit! Transformers Ride 3D Battle jadi tujuan utama di area Sci-Fi. Antre 60 menit! Doh! Dan menguuulaaarrrr parah. Tapi worth it. Satu temen tumbang, keluar dari emergency exit. Padahal tinggal sedikit panjang antrinya. Beberapa pengunjung lain juga gerah, dan anxious. Ride-nya? Super keren. Berasa banget mau dibanting jatuh dari gedung tingkat tingi.


11.6/ Kami sudah sangat capek. Kaki sudah letoy lagi. Jadi memutuskan lewat begitu saja area New York. Nonton sebentar live dance.  Keluar area USS, teman-teman lain beli coklat (Hersey, yang banyak pilihan flavors-nya, tapi lebih murah di Toko Mustafa, Li'l India) dan masuk ke Candilicious. Saya? Duduk saja, menunggu dan meredakan lelah, di taman depan. Our day at USS ended. Antri lagi, 30 menitan buat naik MRT balek ke seberang.

... to be continued.

Monday, July 25, 2016

Dokter Gigi Saya Panuan!

Saya mengunjungi dokter gigi langganan saya pagi itu, satu-satunya waktu saya bisa janjian dengan si dokter. Keluhan umum, gigi lubang, dan linu. Minta dibersihin dan ditutup saja. Dokter gigi saya adalah teman saya, dan kami sering sharing cerita. Alhasil pagi itu jadi sesi pemeriksaan sekaligus berbagi curhat seperti biasanya.

Dia menasihati saya cara untuk merawat gigi saya. Dia kasih wejangan supaya badan saya lebih utuh sehatnya, salah satunya dengan menjaga kebersihan mulut dan gigi.

Beberapa chit-chat dan curhat lain berlalu, sampai pada giliran dia curhat bahwa sudah lama dia menderita penyakit itu: panu. Saya shocked. Saya tidak terima. Saya protes ke dia. Bagaimana mungkin seorang dokter, meski dia spesialis gigi, tapi tidak merawat diri. Kotor. Tidak sehat.

Intinya saya tidak terima dan menganggap dia gagal sebagai seorang dokter karena ternyata dia sendiri tidak utuh menjaga kesehatan tubuhnya. Kemudian saya seketika itu juga pergi meninggalkan si dokter gigi, yang melongo karena saya ngeloyor pergi tanpa bayar.


Oke, terkesan lebay. Dan memang itu hanya fiksi. Tapi, pesan yang ingin saya sampaikan bukan khayal semata. #oposeh

Dasarnya, kami berdua sama-sama sakit. Tidak sehat. Butuh disembuhkan, meski jenis penyakit yang mengganggu keutuhan sehatnya badan kami berbeda. Tapi, kembali lagi, kami sakit.

Dan teman saya yang dokter punya niat yang baik. Menasihati saya, dengan menunjukkan atau mengidentifikasi sakit saya serta memberikan saran supaya saya bisa lebih menjaga kesehatan diri saya. Tapi saya? Entah terlalu naif (1) menganggap bahwa dokter terlalu sempurna untuk tidak diijinkan sakit atau harus 100% protektif terhadap dirinya sendiri, atau (2) ngeyel bahwa hanya orang yang sempurna well-being-nya yang boleh memberikan nasihat untuk hidup sehat bagi orang lain.

:) 

Terkadang niat baik kita untuk mengidentifikasi dan menunjukkan apa yang salah buat rekan kita dianggap sebagai niat judging yang menyakitkan hati. Abaikan cara penyampaian, dan mari menganggap bahwa kita sudah menyampaikannya dengan pendekatan yang tepat dan sopan.

Menyadari bahwa kita ini sama-sama manusia, yang memiliki ketidaksempurnaan masing-masing dan level kebobrokan sendiri-sendiri, tidak berarti kita kemudian tidak punya hak untuk memberikan komentar, masukan, dan nasihat untuk orang lain.

Memang terkadang mereka terlalu sotoy untuk menasihati, sehingga bisa saja terkesan judging, karena alih-alih mencoba ‘mendiagnosa’ dengan lengkap dan mendengar cerita dari diri kita, mereka terlanjur asik dengan segala pandangan mereka.

Mau jenis sakit dan penyebab sakitnya apa pun, naturnya sama. Tidak ada yang sempurna sehatnya. Bobrok sebagian, atau malah sudah parah bobroknya. Rusak. Tidak pernah 100% baik. Berdosa. Dan merindukan kesehatan. Kesembuhan. 

Harus 100% baik baru boleh menasihati? Harus sinless dan perfect baru boleh saling mengingatkan dan saling ‘menegur’ bahwa pola hidup kita ini sedang mengarahkan kita untuk makin sakit? Atau malah, menutup mata, menganggap bahwa semuanya baik-baik saja, dan tidak perlu saling mengingatkan bahwa kita sakit (dan bisa jadi makin parah sakitnya), kemudian hanya mencoba fokus pada hal-hal yang positif lainnya?

Hanya karena dokter gigi saya sakit (panuan), bukan berarti dia tidak boleh memberikan masukkan kepada saya tentang bagaimana berupaya lebih menjaga kesehatan (area mulut dan gigi) saya.

Saya berterima kasih untuk semua sahabat dan rekan yang sudah membantu saya melihat bagian mana dari diri saya yang sedang tidak sehat, dan terlebih berani menyampaikan dengan terang-terangan bahwa saya sakit.

Maaf kalau saya pernah membuat siapa pun di sekitar saya merasa tidak nyaman bahkan sakit hati karena saya terlalu terang-terangan menyampaikan hasil diagnosa saya, salah sasaran memberikan nasihat atau tidak mulus pendekatannya untuk mengingatkan bahwa teman saya punya penyakit yang harus dibereskan.

Saya hanya ingin kita semua berjuang, tidak menyerah melawan penyakit kita. Jadi, terima kasih juga untuk semua sahabat yang mau berjuang bersama, untuk makin sehat wal 'afiat.

Semua orang sudah berdosa dan jauh dari Allah yang hendak menyelamatkan mereka. ~ Roma 3:23

~

Tulisan ini didedikasikan untuk seorang dokter gigi, sahabat dalam Kristus yang tangguh. Yang tidak pernah kelewatan kesempatan untuk mengingatkan saya kebutuhan saya untuk terus rajin check-up dengan Dokter yang Agung itu.

Friday, July 15, 2016

Pokémon-Go Astray?

Game Pokémon-Go, dan pembahasannya, makin trending.


Saya sebagai seorang Pokémon-lover pun sudah jauh-jauh menunggu dan mengantisipasi permainan ini. Sampai Hari-H gim ini launching, saya kecewa karena gawai saya saat itu belum kompatibel untuk bermain (meski di Indonesia, aplikasinya sendiri juga belum resmi diluncurkan, dan kreatifnya orang Indonesia, termasuk saya, adalah cari aplikasi non-resminya). Kemudian angin segar datang, ketika akhirnya ada berita bahwa gim ini bisa diinstal di OS Intel. Voila. Saya langsung menciptakan karakter gim saya.

Saya semacam nostalgia masa kecil saya (ciyeee, yang udah gedhe). Sambil bermain, saya mengingat nama-nama Pok√©mon, ‘jurus-jurus’ serangannya, dan lainnya. Saya kembali ke masa-masa SMA dan kuliah. Tidak bermodal game-boy, tapi main emulator di komputer. Mulai dari Pok√©mon versi Red/Green, sampai yang versi yang mana saya lupa, kemudian saya sudah tidak mengikuti perkembangannya lagi. Tidak hanya bermain gimnya, saya cukup maniak mengikuti serial TV dan mengumpulkan beberapa gambar dan data-data Pok√©mon. Even, saya ciptain Pok√©mon versi saya sendiri.

Teringat juga, waktu awal-awal SMP, ada satu teman yang sengaja dan rela memfotokopikan sebendel artikel dari satu edisi majalah Kristen yang pas membahas Pokémon. Isinya: Pokémon adalah game dan tayangan berbahaya, dan seterusnya. Melawan ajaran Kristen. Sarat kesesatan. Padahal waktu itu saya, yang notabene suka berkreasi, ada di salah satu kepanitiaan gereja, dan sukses membuat undangan acara dengan gambar Pikachu! LOL!

Dan, kemarin pun sambil mengantisipasi launching resmi gim ini, sembari juga menduga dan mengantisipasi kegirangan dan kepopuleran aplikasinya, saya dengan yakin menunggu semua berita dan ‘pesan-pesan’ untuk berhati-hati, bahkan yang sampai melarang. Dan, benar, akhirnya ada broadcast-message-nya juga! Penantian saya juga terbukti ketika ada message tambahan lain yang merujuk kasus epilepsi yang dialami penonton serial Pok√©mon tahun 1997 (yang juga dibahas di majalah yang teman saya copy-kan).

Di pesan pertama yang saya terima, ada beberapa hal yang ‘diingatkan’ supaya orang tua makin berhati-hati kalau-kalau anaknya terlalu asik dengan permainan Pok√©mon-Go ini. Share privasi dan lokasi, boros kuota, boros baterai, bikin rawan kecelakaan, anak makin kecanduan gawai, dan ortu makin susah mengontrol anaknya adalah beberapa faktor yang disorot.

Saya pun kemudian tertarik menuliskan pendapat balasan saya. Bukan sebagai seorang Pokémon-lover, tapi supaya opini dan sudut pandangnya lebih seimbang.

Share lokasi, kemudian share privasi? Bukannya kita juga sering share lokasi ketika kita (terutama *uhuk* para imigran digital) tidak sadar atau salah mengaktifkan GPS di HP kita, yang kemudian melakukan tracking lokasi sambil jalan. Atau tanpa sadar share lokasi saat browsing dengan google-based search engine. Termasuk geo-tagging foto kita alias membubuhi lokasi di foto yang kita ambil. Juga, jangan lupa untuk kita-kita yang eksis posting status atau foto dengan mencantumkan check-in kita. Kalau mau ada yang jahat, bisa aja dilacak disana.

Boros kuota? Kemarin saya lacak penggunaan kuota data saya (karena saya termasuk pemakai yang ekonomis, supaya tidak jadi fakir Wi-Fi), pemakaian FB dan IG saya lebih boros daripada aplikasi Pokémon-Go. LOL. Bagaimana dengan kita yang hobi share video/klip di Whatsapp? Atau hobi buka youtube, tanpa sadar bahwa paket yang dipake adalah kuota. Boros batre? Fitur GPS yang aktif ditambah koneksi data itu normal sekali kalau baterai cepat habis. Baterai HP tambah boros ketika koneksi sinyal dan data labil.

Bikin rawan kecelakaan karena menatap layar gadget terus? Well, yes, cukup banyak pemakai sembrono yang seperti itu, sampai-sampai bikin kecelakaan. Tapi siapa hayo, yang juga doyan nyupir atau motoran sambil sms-an atau telepon? Ada anak-anak sampai lari-lari ke tengah jalan buat nangkap Pokémon? Mereka yang sembrono memang melakukannya. Tapi, kemarin main gim ini, meski ada di pinggir jalan pun, saya sudah masuk di radius area yang terdeteksi Pokemon-nya, tidak perlu saya berdiri di tengah jalan menunggu Pikachu nongol. Jalan sambil mandang HP mulu? Sama zombie-ish-nya dengan pejalan kaki yang asyik texting-an. Padahal kalau mau diakalin, tinggal nyalain suara notifikasi Pokémon Go-nya, dan pakai earphones. Bunyi notif bisa terdengar disana, lalu kita tinggal menepi (kalau memang niat), dan buka HP.

Hidup jadi makin tidak fokus? Bikin anak makin kecanduan gawai? Tidak perlu sebut-sebut Pokémon-Go pun kalau memang sudah kecanduan, ya, kecanduan. Silakan kerja sama dengan sekolah atau gereja (atau lembaga rohani lainnya) adakan kamp rehabilitasi. Puasa atau detoks gadget. Jangan lupa, berapa banyak kita yang sengaja memberikan gadget daripada anak kita rewel? Atau mungkin kita tidak kecanduan gadget, tapi kita mencandu media, televisi, dan lainnya.

*

Selalu tergelitik, ketika broadcast dan artikel lain semacam ini menyebar, baik Pokémon-Go, maupun topik dan produk lain. Kemudian kita gempar dan Orang Jawa bilangnya, gedandapan plus gelagepan. Tidak siap, dan rawan terbujuk info simpang siur, plus malas untuk cross-check kebenarannya. Kadang nadanya pun lebay, dan sok rohani (tidak jarang juga dikotbahkan di mimbar-mimbar agama!). Bahkan sampai latah ikut nyebarin konsiprasi! Mirip hebohnya dengan ketakutan ketika jaman-jaman komputer mulai personal dan banyak menyebar, karena ada simbol 666. Atau artikel semacam yang tahun lalu bikin ribut tentang konspirasi di balik film Minion.

Saya mendukung sepenuhnya game ini? Tidak juga. Pokémon-Go maupun gim dan media lain punya potensi memberi dampak buruk kalau filter dari diri kita sendiri tidak kuat. Dampak baiknya pun tetap ada. Bukan berarti saya juga sedang mencoba membela gim terbaru ini.

Ketika kita terlalu takut dengan hal-hal baru dan perubahan yang ada, apa kita bisa dan bijak dengan membendung 'kemajuan' gim dan teknologi? Apa semua perubahan dan hal-hal baru juga mau ditanggapi dengan fobia dan kecemasan lebih dahulu? Apa mau mengisolasi hidup kita dari perubahan dan perkembangan yang ada?

Semuanya kembali kepada diri dan tekad kita. Mau main, tapi bisa kontrol diri dan waktu, that's good. Mau tidak main supaya bisa fokus hal-hal yang lain, ya, monggo. Yuk, belajar lebih rajin dikit cari informasi di jaman gugling serba mudah ini, dan tidak buru-buru latah cemas.

*

Btw, nostalgia ke jaman masih main Pokémon, beberapa Pokémon favorit saya itu Dewgong, Pidgey, Mantine, Sandslash, Goldeen, dan Oddish.

Kemajuan game Pokemon-Go saya?

Well, sudah ada beberapa Pokémon yang saya tangkap, ketika kemudian saya kemudian memutuskan untuk menghapus game ini dari gawai saya. Saya mau mengurangi distraksi untuk pikiran dan hidup saya.

.

PS.
I'm not a techie guy. Kalau ada hal-hal teknis seputar IT dan operasinya yang saya salah tuliskan, please kindly tell me. Akan saya koreksi tulisan ini.