Tuesday, December 23, 2014

Natal Siapa?

Tuhan, kan, katanya,
Kok di kandang lahirnya?
Coba persalinan di istana,
bakal lebih banyak pesta pora,
kami rogoh lebih banyak dana
sekedar buat hura-hura
atau gampangnya,
biar dinilai ikut ajaran agama.

Dibilang Dia Raja,
tapi yang datang para gembala,
bukan dari golongan kaya.
Tersisih, dipandang siapa?
Kenapa mereka yang pertama,
rumornya, dengar dari bala surga;
terima kabar, sebarkan cerita.
Emang yang lain bakal percaya?

Jadi Pemimpin nantinya,
eh, malah lari dari raja,
karena Herodes kena paranoia
nyawa ditebas 'tuk amankan tahta.
Ahli Bintang bikin perkara
berikan hadiah bukan untuk dia,
tapi sembahkan yang mulia
malah buat Anak yang belia.

Kurang kerjaan apa, ya?
Katanya datang dari Surga,
ke dunia kok mau-maunya.
Dan sekarang mana?
Bayi sering lenyap dari mata.
Kado bertumpuk, pohon bercahaya.
Lebih terkenal mana:
Sang Putra, atau Si Santa?

Wednesday, December 10, 2014

Manusia atau Singa?

Meski kita berlaku adil,
belum tentu dunia ini
otomatis memperlakukan kita dengan keadilan.

Karena kita setuju dengan satu hal,
juga bukan berarti kita bisa memaksa orang lain
untuk ikut pemikiran kita.

Kamu tidak mengganggu orang lain.
Bisa saja mereka tetap ingin
mengganggu hidupmu.

Ketulusan mungkin jadi modal awalmu
tapi balasan yang didapatkan
entah kecurangan, entah penipuan, siapa tahu?

Kamu tidak pernah menjelekan orang lain,
tapi itu tidak menjamin
dia tidak akan menjelekanmu.

Untuk orang lain kamu melakukan kebaikan,
belum tentu mereka akan membalas
dengan kebaikan.

Itu seperti berharap singa
tidak memakanmu,
karena kamu tidak mengganggu singa itu.

Tapi setidaknya kita tahu,
atau mampu memilih,
siapa singa, siapa manusia itu.

Kita juga punya kesempatan, tidak jarang,
untuk meminta bantuan dari sesama manusia
ketika singa hendak menyerang.

Dan bahkan perlu sekali,
kalau terpaksa, kita perlu pertolongan
membunuh singa itu.

Pertanyaannya kemudian,
kita ini sebenarnya
manusia atau singa?



Monday, December 8, 2014

25 Desember, Sesat?

Dia (anak remaja): Kalau yang gak tertulis di Alkitab itu sesat. *dengan mantap*
Me: Oh, ya?
Dia: Iya. Sesat. Nda bener.
Me: Oh, gitu ya... *nyantai aja* kalau Natal, ada di Alkitab?
Dia: Ada dong, peristiwa Natal-nya.
Temennya: Iya, Koh. Cerita kelahiran itu.
Me: Ditulis lahir tanggal 25 Desember juga, ya?
Dia: . . .
Me: Jadi (ngerayain) Natal (di tanggal 25) sesat dong!
Dia: . . .

Sorry, kiddo, saya tidak rela kamu tumbuh jadi remaja yang punya fanatisme sempit, terus membabi buta menjelekan pandangan lain. I know we surely have different views from other religions or beliefs, but I won't let you develop that kind of narrow-minded, blind faith.

Tuesday, November 25, 2014

#HariGuru: Guru itu (Juga) Menginspirasi

Salah satu alasan kenapa saya jadi guru adalah karena saya terinspirasi guru-guru saya.

Inspirasi itu artinya ilham, seperti yang tertulis dalam KBBI. Sementara ilham sendiri bisa diartikan 'sesuatu yg menggerakkan hati untuk mencipta.' Kamus Merriam-Webster mencatat bahwa to inspire berarti 'to make (someone) want to do something' atau 'to give (someone) an idea about what to do or create.'

Kemarin hari guru, tapi tidak hanya di hari guru saja, saya mencoba memutar memori tentang guru-guru saya dari TK sampai kuliah yang sering memberikan inspirasi kepada saya. Saya sering teringat nama-nama guru yang pernah mengajar saya di kelas, baik yang keren maupun yang membosankan. Memang yang paling gampang diingat itu kejadian yang entah bikin sangat bangga atau sebaliknya kelewat jengkel, seperti ketika di SD saya dilempar penghapus karet atau rambut di dekat telinga saya ditarik (Bahasa Jawa, dijenggit) guru olah raga waktu itu.


Di TK, saya ingat seorang guru perempuan yang mendampingi saya ketika saya disiapkan untuk ikut lomba menggambar (dan mewarnai). Saya berlatih menggambar beberapa orang-versi-batang-korek-api-berperut-gembul sedang terjun payung, dan beliau memuji gambar itu. Saya ditemani beliau ketika hari perlombaan. Saya tidak menang gara-gara gambar bertema makan bersama saya tidak bagus, selain pewarnaannya tidak rapi, Bu Guru berkata dengan jujur bahwa gambar saya yang sebelumnya memang lebih baik. Terakhir saya bertemu dengan beliau, nama saya sudah tidak ada dalam ingatan saya; resiko seorang guru dengan banyak anak murid (atau sebaliknya resiko seorang murid yang tidak terlalu terkenal).

Saya pertama melihat sosok guru pria ketika saya duduk di bangku SD, yang berarti saya juga nantinya boleh bermimpi untuk jadi guru (mengingat di TK hanya ada guru wanita). Mereka sayangnya tidak banyak memberi saya inspirasi atau kenangan, selain satu wali kelas muda berkumis eksotis yang memberi teladan bagaimana menulis rapi. Saya ingat seorang guru wanita senior yang mengajar Bahasa Indonesia dan memaksa kami untuk benar-benar berpikir, mengeluarkan semua ide ketika ia meminta kami menulis essay sederhana tentang transportasi. Seorang guru wanita lainnya yang jadi wali kelas saya di kelas enam pernah memuji saya secara tidak langsung ketika saya membawa contoh dedaunan waktu mendapat tugas bercerita di depan kelas.


Kemudian ketika saya mulai memakai celana biru pendek, saya punya seorang guru matematika senior. Meskipun beliau mengajar dengan cara konvensional tapi kesabaran dan ketelatenannya dalam menjelaskan jadi sangat berkesan buat saya. Guru Bahasa Inggris SMP juga memberikan contoh mula-mula yang saya pahami sebagai creative teaching. Serta bagaimana menerjemahkan konsep yang susah menjadi sederhana, seperti menjelaskan beda to be dan do-does-did sebagai auxiliary verbs.

Seorang guru di SMA menolong saya bernalar dan menemukan sendiri rumus-rumus matematika ketika saya kesulitan (atau malas) menghapalnya. Itu strategi yang kemudian saya pakai ketika ujian: tidak menghapal seluruh rumus, cukup yang dasar (tapi entah kenapa saya tidak pernah sukses dalam pelajaran Fisika). In fact, saya menikmati setiap aha-momen ketika saya sukses membuktikan jawaban dengan rumus saya sendiri. Guru Bahasa Inggris saya juga lagi-lagi memberikan contoh creative teaching. Guru ini bernyanyi, menggunakan proyektor, menggunakan games, dan lainnya. Dan beliau membuka kesempatan buat anak-anak yang dirasa lebih cepat dalam belajar dengan memberikan latihan tambahan, tanpa saya merasa terbeban.


Ketika kuliah? Inspirasi itu tumpah ruah. Banyak dosen yang mengajak kami untuk terus berpikir kreatif. Meski tidak sedikit yang menggunakan metode ceramah yang konvensional, para dosen bikin mahasiswa mereka betah dan menikmati kuliah yang diikuti. Seorang almarhum dosen pernah berpesan supaya kami tidak malu memakai aksen Inggris kami sendiri, selama itu masih bisa dipahami, dan tidak perlu sok berbicara British English. Dosen yang lain menyampaikan di kelas, 'there's nothing wrong with your accent, Dan,' sementara saya merasa ragu karena sering mendapat komentar tentang aksen Javanese-English saya. Saya tidak bakal lupa ketika seorang dosen wanita senior menuliskan 'I really appreciate your hard work' di lembar jawab tes waktu itu, padahal nilai saya hanya 60-an yang katanya tertinggi kedua (atau ketiga) dari dua kelas paralel. Seorang dosen gaul terus mengingatkan bahwa guru tidak boleh ketinggalan jaman dan tinggal di dunia yang berbeda dari murid-muridnya. Banyak dosen lain membuktikan bahwa membangun relasi yang akrab dengan mahasiswa itu penting dalam menolong mahasiswa berjuang buat menikmati kuliah.

Jadi, inspirasi apa yang saya dapatkan dari mereka? Banyak! Kepedulian, ketelatenan, kesabaran, apresiasi terhadap siswa, meneladankan kreatifitas, mengajar dengan kreatif, tidak boleh ketinggalan jaman, dan terlebih, menginspirasi siswa. Mereka sukses untuk terus mendorong saya buat ikut memeriahkan dunia pendidikan di Indonesia, meski saya sekarang secara resmi tidak lagi punya jam mengajar di kelas.

Inspirasi apa yang kamu dapat dari guru-guru kamu? :)


Friday, November 21, 2014

(Sunday School Journal) Solomon's Wisdom

Selain (dulunya) mengajar di sekolah, saya juga menikmati mengajar di hari Minggu, a.k.a ngajar sekolah minggu.  Jadi, saya pengin sharing juga cerita dan pengalaman mengajar saya, itung-itung sebagai jurnal refleksi saya di kelas sekolah minggu.

By the way, saya tahun ini mengajar di Kelas 1, sesuatu yang baru karena notabene saya biasa ada di kelas besar, either pra-remaja atau kelas 4, tapi tahun ini saya memberanikan diri buat terjun di dunia anak-anak yang imut-imut, beberapa unyu-unyu, dan sisanya liar bin memprihatinkan (let me talk about what I mean with 'memprihatinkan' later, ya). Jadi, karena hal ini, sharing mengajar sekolah minggu selanjutnya lebih berhubungan dengan aktivitas untuk anak kelas kecil, meski tidak menutup kemungkinan saya membagikan ide untuk kelas besar.

Kemarin Minggu, kami membahas cerita tentang Raja Salomo, bagaimana dia lebih memilih hikmat daripada kekayaan, umur panjang maupun kekuasaan atau ketenaran. Lalu saya menyampaikan salah satu kisah yang terkenal dari Salomo: perebutan bayi.

Tadinya saya pengen pakai toga wisuda saya, plus bikin mahkota, supaya saya tampak seperti raja, tapi karena beberapa alasan, saya batal melaksanakan rencana ini. Alat bantu yang saya siapkan hanya gambar bayi, dan beberapa gambar hal-hal yang bisa saja dipilih Salomo, tapi tidak dia ambil, seperti gambar mahkota untuk lambang kekuasaan, roti ulang tahun sebagai lambang umur panjang, dan uang mewakili harta dan kekayaan.

Kami mulai dengan nyanyian dulu seperti biasa, kemudian persembahan, dan baru masuk ke dalam cerita. Well, saya mengatur meja memanjang ke belakang, seperti meja rapat, alih-alih satu arah ke depan seperti penataan konvensional di sekolah. Saya pengin anak-anak lebih nyaman berhadap-hadapan (dan nantinya mewarnai gambar) dan fokus pada saya lebih mudah.

Ketika mulai bercerita, saya mengawali dengan mereview cerita di beberapa pertemuan sebelumnya. Kami sudah membahas Yusuf, yang terkenal dengan mimpinya, dan ada Daud, Saul dan Yonathan. Hari ini, saya memancing keingintahuan anak-anak dengan bertanya kira-kira siapa raja baru yang merupakan anak Daud dan menggantikan ayahnya itu. No one answered correctly, but that's fine. Yang saya suka, banyak anak masih saja ingat kisah Yusuf dan Daud.

Kemudian saya menceritakan bagaimana dua ibu berebut bayi, dan bagaimana Salomo akhirnya memutuskan siapa ibu yang sesungguhnya. Ketika diusulkan bayi dipotong, anak-anak pun juga menyeletuk, 'Kasihan, nanti mati.'

Saya melanjutkan dengan menanyakan kenapa Salomo bisa hebat seperti itu. Memilih dengan benar. Dan masuklah saya ke cerita bagaimana Allah menawarkan mau mengabulkan permintaan Salomo. Saya meminta anak-anak untuk menutup mata, karena saat itu pun Tuhan menampakan diri lewat mimpi kepada Salomo. Sambil saya menunjukan satu persatu gambar tadi, anak-anak saya minta untuk mengintip. Tapi namanya anak-anak, dan karena mereka penasaran, ngintipnya cuma berhasil sekali, sisanya mereka melotot pengin tahu.


Dan akhirnya, untuk memberi tahu apa yang dipilih Salomo, saya membuka selembar kertas panjang yang saya tulisi kata HIKMAT. Satu anak berhasil menjawab dengan malu, 'Hikmat itu kebijaksanaan,' meski saya juga tahu mereka belum paham konsep hikmat maupun kebijaksanaan. Jadi saya memberikan contoh bagaimana jadi anak pintar saja tidak cukup, tapi perlu tahu mana yang baik dan mana yang jelek. Jadi nilainya bagus-bagus di sekolah, tapi kalau suka berkelahi atau suka merusak tanaman, itu tidak berhikmat.

Aktivitas minggu kemarin adalah memilih dan mewarnai gambar perbuatan yang baik untuk dilakukan. Seperti biasa saya ikutan mewarnai, supaya anak-anak semangat dan merasa bahwa ini pekerjaan bersama, dimana gurunya juga ikut mewarna.

Ketika mewarna, satu anak berkata, "Pak Guru, kata Bu Guru di sekolah, kalau mewarna itu satu arah. Kalau dari atas-ke bawah, ya terus begitu."


Kalau pengin mendownload aktivitas untuk anak kecil (TK - Kelas 3), bisa klik disini, sementara link ini untuk aktivitas kelas besar (Kelas 4 - 1 SMP). Bentuk file dokumen, dan jenis font bisa disesuaikan.

Next week, we're gonna talk about the story of how King Solomon built the Temple, but I won't be delivering the story.


Friday, October 31, 2014

Siklus Hidup

Kapan masuk sekolah?
Kapan kuliah?
Kapan lulus?
Kapan mulai kerja?
Kapan tunangan?
Kapan nikah?
Kapan punya momongan?
Kapan kasih adik buat dedeknya?
Kapan mantu?

Kapan...

Karena untuk beberapa
itu basa-basi,
itu sindiran,
itu tuntutan,
itu lelucon,
itu pilihan,
itu teror,
itu doa.

Thursday, October 30, 2014

Ketika Papa Belajar Pakai Smartphone

Kemarin, saya sedang menikmati makan malam saya ketika Papa pulang dari kerjanya, kemudian tiba-tiba bercerita, "Di Tribun, lagi rame pada bahas kabinet baru, ya. Tadi ada tentang Susi yang...."

Saya diam sejenak, antara kaget dan kagum, bukan karena diskusi Kabinet Kerja yang baru dilantik, ataupun tentang menteri selengean yang bertato dan merokok. Saya kaget karena papa sudah menikmati browsing berita dengan gadget barunya.

Awalnya Papa sempat ragu dan malas, plus saya sendiri juga ragu ketika menawari smartphone baru untuk Papa saya. Dulu saya mengajak Papa belajar menggunakan komputer, karena dia bendahara gereja yang kudu—dan emang rajin—bikin laporan keuangan, dan ternyata Papa tidak begitu antusiasnya. Sakitnya tuh disini *nunjuk kepala*. Tapi untuk kasus smartphone ini, ternyata ada bedanya, meskipun saya tahu sebenarnya ada perasaan enggan dan malas yang dialami seorang imigran di dunia digital untuk belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru.


Papa memang menunjukan semangat belajar, dan saya juga ikutan antusias untuk mengajar. Well, ya, di hari-hari pertama memang saya lumayan kehilangan kesabaran gegara melihat cara Papa menge-poke layar sentuh, alih-alih touch and swipe layar dengan lembut. Tapi saya melewati periode kekurangsabaran itu dan semacam membiarkan Papa saya bereksperimen dan berpengalaman dengan gadget barunya.

Otak saya juga secara otomatis memikirkan 'kurikulum dan silabus' kursus-singkat-pemakaian-smartphone-untuk-generasi-senior-yang-awam-teknologi-canggih-itu. Materinya? Well, seperti ini:

  • pengenalan tampilan dan bagaimana touch dan swipe layar, berakhir dengan aksi poking, dan in fact, untuk kualitas kekasaran permukaan jari papa, lapisan pelindung layar itu sekarang sudah cukup kusam di beberapa spot 
  • bagaimana mengaktifkan mode getar dan silent, buat siap-siap kalau Papa sedang rapat atau tidak mau berisik
  • menerima dan melakukan panggilan telepon, dengan sekali kasus kebingungan bagaimana cara mematikan panggilan padahal salah kontak orang; ini bikin geregetan juga
  • menerima dan mengirim SMS, so far tidak ada kendala
  • BBM, yang ternyata tidak sebegitu antusiasnya, malahan Papa bingung kalau melihat teman-teman BBM-er rajin update foto dan personal message
  • Whatsapp, ini yang bikin Papa cukup tertarik, penasaran bagaimana mengirim dan menyimpan gambar kiriman teman, dan beberapa kali meneruskan gambar humor ke saya juga 
  • memanfaatkan aplikasi Alkitab, yang tidak begitu sering digunakan Papa saya, bahkan di gereja,
  • Browsing via Chrome, cukup untuk searching informasi dan membaca berita, dan sekarang memang rajin update berita, mostly tentang politik dan olah raga 
  • nonton Youtube, yang berakhir dengan kami sama-sama cukup kecewa karena slogan 'I hate slow' dari Semarpret sukses mem-PHP-kan kami
Sekarang, Papa sering bangun pagi, langsung ngechek smartphone-nya. Sembari menunggu giliran mandi, kadang-kadang *uhuk* ngerokok pagi sambil baca berita. Pulang kerja, gak jarang sharing kendala pemakaian smartphone-nya maupun apa yang ditemukan di Internet.  

Respon Mama? Cuek-cuek saja. Memang awalnya saya ngiming-imingi Papa maupun Mama, tapi ketika Mama lihat bagaimana papa sering bingung, sepertinya dia jadi enggan untuk ikut menggunakan smartphone. Komentar terakhir mama pun, "Udah, cariin HP yang biasa (bukan touch screen). Yang penting ada kameranya. Itu sama punya kamu aja (nunjuk blackberry saya)."

Adik saya? Begitu dapat undangan berteman BBM dari Papa, spontan update status seperti ini,


Yang jelas saya ikut semangat ketika Papa saya semangat belajar dan bisa merasakan manfaat dari smartphone barunya. 

Ada yang kelewatan di kurikulum saya? Facebook? Ummm, sepertinya tidak perlu mengajarkan yang satu ini dulu ya. *grinning*

Ada pengalaman unik ngajarin ortu atau sesepuh lainnya belajar pakai smartphone dan sejenisnya? :)

Tuesday, October 14, 2014

Bagi-Bagi Durian

Durian itu nikmat.  Tapi buat yang doyan, tidak pantang dan dilarang makan.  Saya salah satunya.

Jadi kalau sudah ada durian yang baunya menyebar ke seluruh rumah (PS. Indra penciuman saya cukup kuat, terbukti dengan hidung yang ukurannya lumayan gedhe, entah memang nyambung atau tidak), saya bakal langsung liar mencari-cari dimana letak buah berduri itu.



Sayangnya tidak semua orang suka buah yang asalnya dari Asia Tenggara ini.  Jadi meski saya bisa begitu menikmati makan duren, sampe jilat-jilat jari, orang lain mungkin responnya biasa saja. Atau malah mereka jijik dan tereak-tereak kalau mencium bau duren, dan sebelum akhirnya mereka mual dan pengin mutah. (Ada yang sudah jijik lihat gambar durian di atas?  Saya sengaja kalau begitu.)  Apalagi kalau dikasi ke penderita hipertensi, kita malah bisa dianggap sedang minta warisan dari mereka.

Terus kalau pengin berbagi buah durian (anggap kalau orangnya suka durian), gak mungkin, kan, ngasih durian dengan cara dilempar, lengkap dengan kulitnya?  Yang ada ini ngasih kesempatan buat di-opname or langsung dikirim ke kuburan.

Bisa juga waktu buat ngasih buahnya gak tepat.  Katanya, katanya loh (padahal ternyata mitos), pas hamil, wanita tidak boleh makan durian.  Kalau pria sih ga masalah, ya? *siap-siap dilempar durian* Sukur-sukur kalau duriannya disimpan, atau dioper ke orang lain.  Kalau dibuang, kan mubazir.  Bisa juga, duriannya dikasi abis minum bir, bisa tambah toying itu.


Berbagi niat baik itu mungkin juga sama seperti berbagi buah durian.

Niatnya memang baik.  Entah itu yang universally baik, atau menurut kita baik, karena kita pernah ngincipin (baca: mengalami) hal yang serupa.  Tapi, ya, bisa saja niat baik itu jadi masalah buat orang lain.

Entah karena target orangnya salah.  Atau karena cara menyampaikan atau memberikan niat baik itu kurang tepat.  Atau mungkin karena bukan/belum momennya yang pas buat menyampaikan niat baik itu.

Ya, yang paling menyebalkan, kalau memang semuanya sudah pas, eh, ternyata orang yang mau jadi target niat baik ini notabene sudah benci tingkat setan ke kita.  Dengan atau tanpa alasan yang masuk akal manusia.  Niat baik level dewa manapun dan sesuci apapun bisa dianggap tokai kucing.

Jadi, saya belajar kalau good will itu tidak sesimpel itu.  Tapi, bersyukur kalau kita bisa memikirkan dan ingin punya niat baik buat orang lain, di tengah trend pola hidup yang makin individualis dan apatis.

Pak Kent Keith mengingatkan, meski dunianya bobrok, kita kudu tetap berusaha mengasihi, tetap melakukan yang baik, tetap menolong, dan tetap memberi yang terbaik.  Tinggal menambahkan strategi yang tepat buat melakukan semua itu.

Ciao.



PS.
Habis makan durian, kalau cuci tangan katanya disuruh merem matanya, biar baunya ilang.
Saya pernah coba. Dan tidak ngefek. -_-

PS lagi.
Tulisan ini, awalnya diposting sebagai note di FB saya, 23 Januari 2014. 

Friday, October 10, 2014

Kok, Bertengkar dengan Kakak-Adik (dan Papa-Mama)?

You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them. ~ Desmond Tutu

"Karena sering dijahilin sama Kokoh"
"Kalau pulang sore karena ngerjain tugas (sekolah) terus dimarahin."

Itu beberapa alasan yang dituliskan teman-teman remaja ketika saya memimpin sesi diskusi dan sharing Sabtu lalu di Persekutuan Remaja, GKI Pajajaran Magelang. Tema yang diberikan ke saya, 'Sayang adik-kakak,' dan awalnya langsung bikin saya bingung. Saya punya satu adik, dan bukannya saya tidak sayang adik saya, tapi mungkin teman-teman dekat saya tahu kalau saya tidak sering menunjukan keakraban adik-kakak sebagaimana yang ditunjukan siblings yang lainnya.


Saya memperluas sedikit tema itu, dan menambahkan topik 'sayang orang tua' ke dalam diskusi kami (yang ternyata sudah dibahas minggu sebelumnya). Saya jadi tergelitik ketika membaca sms yang menyebutkan tujuan dari diskusi tema ini: supaya kakak adik tidak terus-terusan bertengkar, dan tidak melawan mama-papa. Kenyataannya, tidak jarang saya sering diskusi dan bahkan mengkritisi (kalau mau dibaca: melawan) pendapat orang tua saya.

Dari beberapa referensi yang saya baca, kita bertengkar—beda pendapat, salah paham, berselisih ide—dengan orang tua maupun saudara karena beberapa hal. Well, saya memulai diskusi malam itu dengan meminta mereka menuliskan contoh alasan-alasan sehari-hari yang sering memicu pertengkaran di rumah.

Menarik ketika membaca pengalaman yang dituliskan teman-teman: rebutan channel televisi, ortu yang galak, sok tahu, kakak yang sok berkuasa, ngotot-ngototan, bahkan sampai faktor kegantengan sang kakak yang di bawah standar harapan sang adik.


Saya minta mereka menempelkan post-it tulisan mereka dalam dua kategori: orang tua dan saudara, membahasnya secara singkat, kemudian menanyakan beda secara umum alasan dari kedua kategori itu. Seorang remaja langsung menjawab, 'Kalau dengan kakak-adik, bisa dua-duanya sama-sama salah. Tapi kalau dengan orang tua, biasanya orang tua benar, kita yang salah.' I would agree with that.

Kita dan ortu atau saudara bisa saja bertengkar karena kita punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan dan menerima kasih, atau cinta. Alasan pertama perselisihan dalam keluarga adalah perbedaan bahasa kasih. Saya meminjam istilah bahasa kasih yang diperkenalkan Gary Chapman, dan dalam bukunya, yang notabene sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dia menyebutkan ada lima jenis bahasa kasih: kata-kata penguatan (words of affirmation), pelayanan (acts of service), sentuhan fisik (physical touch), pemberian hadiah (gifts), dan waktu bersama (quality time). Betewe, kita bisa cari tahu jenis bahasa kasih kita disini. Bahasa kasih saya? Saya rasa sudah ada perubahan: antara sentuhan fisik, kata-kata penguatan, dan hadiah.

Keluarga jadi tempat pertama kita menerima, menyatakan, dan melatih mengekspresikan sayang kita, dan memakai ide Chapman, kita punya bahasa yang berbeda untuk melakukan itu. Seorang ibu mungkin ingin melayani anak, 'memanjakan' mereka, tapi sayangnya si anak merasa risih. Budi memikirkan dan menyiapkan hadiah khusus untuk papanya, yang malahan tidak kelihatan begitu semangat menganggap hadiah spesial itu. Atau, Nora pengin menghabiskan waktu lebih dengan adiknya, kemudian 'caper' dengan iseng dan jahil, tapi adiknya menganggap itu kenakalan yang mengganggu. Well, at least, that what I did to my younger brother. Beda bahasa kasih ini juga nampak ketika mendengar jawaban dari seorang teman, "Mama pengin jemput saya, tapi saya tidak pengin merepotkan. Nah, kami kemudian bisa bertengkar, deh."


Alasan kedua adalah karena tiap anggota keluarga pada dasarnya ingin merasakan atau memiliki kebebasan dan privasi. Sang anak ingin bebas bepergian, entah untuk menyelesaikan tugas belajar ataupun untuk tujuan bermain, tapi ortu di sisi lain khawatir. Orang tua juga sering menetapkan aturan, yang dianggap mengekang dan membuat anak gerah. Belum lagi aturan tidak resmi dari kakak untuk adik, seperti ketika saya melarang adik saya buat rebahan di ranjang seenaknya ketika ia pulang dan masih berpakaian kotor dengan debu atau keringat dari luar rumah.

Kita sering merasa tidak nyaman dengan aturan yang dibuat dalam keluarga, atau beberapa menyebutnya 'kontrak keluarga'. Tapi kenyataannya, aturan itu, ketika dibuat dengan dasar dan tujuan yang baik, tidak pernah dimaksudkan untuk mengurangi kebebasan kita. Disiplin yang ingin diterapkan bertujuan meningkatkan kualitas pribadi kita. Menaati orang tua bukan berarti melenyapkan atau membatasi kebebasan, justru malah kita sedang menyiapkan diri untuk nantinya terbiasa hidup disiplin dengan sendirinya. Akan tiba masanya ketika anak berpisah (rumah) dengan orang tua, dan dianggap ada kebebasan lebih. Tapi sampai saat itu tiba, biar kita menikmati hidup dengan aturan yang ada.


Dan terakhir, kita sama-sama punya kepentingan, pandangan, dan prioritas yang berbeda. Belajar bisa saja dianggap tugas nomor satu oleh orang tua, atau untuk orang tua yang lain, membantu ortu juga tidak kalah pentingnya. Sementara anak bisa saja melihat bahwa mereka butuh hiburan, perlu menyalurkan bakat, dan ingin menghabiskan waktu bersama teman. Ortu dan anak bisa saja ribut besar gegara pemilihan jurusan kuliah, karena ortu lebih memikirkan apa yang dianggap menghasilkan banyak uang, sementara anak pengin mengembangkan bakat mereka. Atau ketika saya dan ortu rebutan channel televisi, karena beda melihat apa yang dianggap hiburan.

Jadi bagaimana supaya tidak bertengkar? Ya, for me, kembali melihat tiga alasan itu; apakah memang ada perbedaan dalam memandang dan memahami bahasa kasih, kebebasan dan privasi, serta kepentingan dan prioritas hidup. Next, kita perlu memikirkan bagaimana berkomunikasi supaya perbedaan itu bisa sama-sama dipahami dan diterima. Dan belajar berkomunikasi itu hal yang lain lagi. Tapi at least kita sudah mencoba lebih peka melihat hal-hal yang bisa memicu perselisihan dalam keluarga itu. Dan ketika semuanya didasarkan dan dimulai dengan kasih atau cinta, saya rasa kita bisa lebih menghindari atau mengurangi pertengkaran di rumah. Atau menganggap perselisihan itu bukan hal yang destruktif.



Monday, September 29, 2014

Gathering Akbar 2014 Bukan Indonesian Idol

Sabtu terakhir di ujung September 2014 ini, saya ke Tangerang, datang ke acara Gathering Akbar Komunitas Facebook Bukan Indonesian Idol (BII), yang isinya orang-orang yang hobi menyanyi dan ngerekam cover or original songs.


Beberapa teman di luar BII yang tahu rencana saya ikut gathering ini selalu bertanya, 'Ngapain sih (dibela-belain) ke Jakarta (padahal bukan urusan kerjaan)?' Dan saya lanjut dengan menjelaskan singkat apa itu BII dan isinya. Ini kali pertama saya ikut acara komunitas yang bermula dari pertemuan online. Gak sekali kemudian dilanjutkan pertanyaan, 'Emang kamu bisa nyanyi?' *nyesek* Well, kenyataannya, mungkin, saya satu-satunya (admin dan member) yang gak pernah upload suara saya.

'Trus gathering-nya ngapain?' Ya, namanya group penyanyi, kami menikmati beberapa teman-teman BII lainnya perform, selain kami menyantap makan malam dan diselingi games. Saya sendiri, sebagai admin pasif (yes, saya nyadar diri) terhibur, menikmati, dan terpukau ketika para performer manggung, sembari saya melaksanakan tugas saya membantu publikasi acara itu.


Buat saya, yang gak kalah keren dari setiap performer yang membuktikan talenta mereka, sebenernya adalah pertemuannya itu sendiri. So far, gak sedikit dari kami yang ketemu-kemudian-kenalan-dan-jadi-teman di dunia maya, sambil hobi mendengarkan rekaman suara mereka yang diupload di souncloud. Beberapa malah jadi cukup dekat. Tapi di gathering ini, akhirnya kami bertemu muka-dengan-muka dengan lebih banyak member, meski beberapa mungkin sudah pernah ketemuan entah lewat kopi darat maupun mini-gathering.

Gak sedikit member yang ngebelain datang dari tempat asal mereka yang notabene jauh dari Tangerang, dan banyak yang kemudian menunjukan muka bingung-campur-menebak-nebak-dan-kegirangan ketika akhirnya bisa lihat wujud aslinya (atau mungkin saya yang paling demen menebak-nebak ini-itu siapa). Dan kegiatan selfie ataupun groupfie bertebaran dari awal sampai akhir acara buat mengawetkan momen kebersamaan yang langka ini. Well, yes, tidak sedikit yang merasa kalau mereka puas bisa hadir gathering ini karena kekeluargaan mereka dan perkenalan mereka bisa makin dipererat. And that's what makes this event awesome.


'Jadi, acara tadi sukses?' tanya Ko Fandy, salah satu dari admin senior BII, kepada saya selesai acara, sembari menunggu anak-anak beneran bubar karena durasi hampir lima jam masih dirasa kurang. Saya lupa respon pasti saya waktu itu, cuman pertanyaan ini beberapa kali kepikir terus sampai kembali teringat tadi selama perjalanan pulang saya dalam Bus Damri Jogja-Magelang.

Buat saya, gathering-nya sukses, lepas dari beberapa 'but' dan catatan yang memang kudu diperhatikan kalau pengin mengadakan acara sejenis di lain waktu, supaya makin baik en makin baik. Dilihat dari pesertanya, dibandingkan dengan total 2.000 sekian member, memang prosentase yang datang tidak ada 5%-nya, tapi niat dan excitement-nya buat menunggu, hadir, dan ikut meramaikan acara itu yang bikin saya takjub.


Minggu siang sebelum saya terbang balik ke Jogja, seorang teman penasaran dan bertanya apa saja kegiatan BII  sebagai sebuah komunitas online. Saya mendadak bingung, karena selain posting karya rekaman para member, jarang ada kegiatan lain, selain kopdar ataupun gathering. But, saya pengin mengamini bahwa setelah gathering ini, member-member terus dan makin tambah aktif en produktif (Amen!), terus makin berkembang kegiatan dan ide-ide kreatif yang lain (Amen!), dan sesama member makin kenal plus ekrab (Amen!).



Akhirnya, saya salut kepada beberapa orang-orang hebat yang terlibat dalam event ini. Ko Fandy, senior admin dan co-founder BII yang super kreatif (makanya saya tanya ke istrinya, 'Itu suami dikasih makan apa?') dan sukses jadi kapten tim yang memotori gathering ini. Ko Wiyanto, founder BII, sudah niat bela-belain dateng dari pulau seberang, meninggalkan kesibukan kerjanya. Also, Mami Nita yang bener-bener jadi maminya BII, dan sudah bela-belain dateng meskipun sedang sakit (get well really soon, Mam!). Saya kudu minta maaf ke Kevin yang jadi korban kekerasan dalam gathering (baca: kepala kejatuhan palang layar proyektor). Senang bisa bertemu teman-teman sekitar Magelang: Kanya, Ecky, dan Ibnu. Dan akhirnya saya ketemu 'adek' saya--Ria--yang heboh orangnya dan ajib suaranya, Dejul yang logatnya bikin kepincut telinga ini, en Pak Guru Enos! Dan orang-orang di depan maupun belakang panggung lainnya, yang meski bukan panitia aktif, tapi mau rame-rame bantuin en bertugas: Rudi, Etep, Livia, Shafiq, en MC yang super kocak en sukses abis mengguncang acara gathering ini, Willi! Dan pastinya semua performer yang benar-benar kelihatan buktinya kalau mereka berbakat, bahkan mereka juga rela bayar padahal mereka ngisi acara (alih-alih dibayar!).


Saya tidak dapat mandat untuk mewakili para admin, tapi saya rasa mereka juga bakal sepaham kalau panitia merasa berterima kasih buat semua teman-teman yang sudah terlibat dari awal sampai akhir event ini, baik yang datang, tampil, dan yang mendukung di balik panggung. Even though I don't know them personally, still, they rawk, and the party--our party--was killer!

Viva BII!



PS:
If you are interested in listening to some songs of BII-United, kindly check their official soundcloud account. Also, BII-United are selling their new album consisting of 17 original songs written and sung by several BII members for only IDR 35,000. For more information, please leave your comment or post in the group.

Tuesday, September 23, 2014

6 x 4 dan 4 x 6

Jadi, sepertinya berita tentang soal PR matematika anak SD sedang ribut dibicarakan (silakan check berita ini, ini, atau yang ini), dan tidak sedikit yang ikutan berkomentar maupun membahasnya. Saya yang notabene seorang pendidik pun pengin berkomentar. :P

Baru awal bulan September ini saya membahas konsep perkalian dengan anak les saya yang duduk di kelas 7 SMP (well, yes, saya juga ngajar les matematika buat anak SMP). Di buku paket yang disusun pemerintah (untuk Kurikulum 2013) jelas ditulis konsep dan contoh dari operasi perkalian itu.

Tapi ketika kemudian membandingkan dengan artikel dari internet dan buku pegangan siswa dari luar, ternyata konsepnya bisa saja berbeda-beda. Jadi mana yang benar? Saya tidak akan membahasnya disini, karena memang bukan ahli, tapi karena berangkat dari buku paket yang semula saya baca, saya setuju dengan konsep itu. Memang ketika membaca 4 x 6, kita akan mengucapkan empat kali enam, jadi ada enam sebanyak empat kali.





Lepas dari benar dan salah (lah wong beda profesor saja juga beda pendapat, kok) kasus ini tetap menarik untuk dikomentari. Hihihi.

Para komentator berdebat dan mostly berbicara membandingkan antara mana yang lebih penting: konsep (dan proses) atau hasil. Banyak yang berpendapat bahwa hasil itu yang lebih utama, dan tidak perlu dibikin repot yang penting akhir dan hasilnya sama. Siswa boleh diajarkan cara yang paling efisien dan mudah dipahami. Well, ya, memang benar. Tapi tidak sedikit juga yang berpegang pada pendapat mereka bahwa konsep juga penting. Tidak salah juga ketika dibilang konsep dan proses menemukan hasil itu perlu diajarkan, supaya siswa tahu bagaimana proses berpikir dan menemukan hasil itu.

Selama ini, ketika mengajar di kelas ataupun ngelesin, saya lebih mengingatkan murid-murid saya untuk memikirkan tujuan belajar dan konteks belajar itu sendiri. Kalau mengenal dan memahami konsep atau proses itu sedang jadi tujuan belajar, ya, perlu dong mereka tahu hal itu. Kalau bicara tentang penerapan dan hasil sehingga tidak perlu terlalu dalam membingungkan masalah konsep dan teori, ya, ajarkan hal itu di kelas. Dan saya juga tidak pernah lupa bertanya dan mengingatkan murid les saya bagaimana gurunya di kelas mengenalkan konsep ataupun mekanisme dan cara lain yang sering dipakai atau diajarkan guru di kelas, karena buat saya memahami dan menyesuaikan dengan pola atau cara guru juga penting.

Saya tidak kemudian mengajarkan anak-anak untuk jadi conformist, atau punya mental asal bapak/ibu senang. Tapi kenyataannya banyak guru yang cukup kolot, dan memaksa siswa hanya mengikuti cara dan pemahaman yang dipakainya, padahal ada cara dan pemahaman lain yang sebenarnya tidak salah untuk digunakan. Dan saya juga tidak sedang meminta siswa semata-mata tunduk dan tidak punya hak bicara. 'Kalau sempat, coba tanyakan baik-baik apa boleh dengan cara begini atau dibuat seperti ini,' usul saya. 

Sedih memang ketika guru sendiri yang malah membatasi pemikiran kritis dan kreatif siswa, lepas dari tujuan belajar yang saya sebutkan di atas. Para guru tidak mau tahu dan mendengar, dan lebih ngotot dengan cara (kuno) mereka. Misal cara menulis yang harus sampai detail dan lengkap titik-koma, atau bahkan sampai hal mendasar seperti angka delapan itu ditulis dari atas, tengah, atau bawah. Hayo, kalian nulis angka delapan bagaimana? (Saya sih dari atas).

Saya tidak tahu persis, apakah memang konsep jadi penekanan sang guru yang memberi nilai 20 untuk PR si siswa. Tapi kalau pun itu tentang konsep, sang guru perlu (atau mungkin sudah) mengecheck apakah memang konsep itu tertanam dengan baik. Dan apakah memang porsi pemahaman konsep itu besar dan mempengaruhi komposisi nilai akhir dibandingkan dengan nilai kompetensi/materi lainnya yang diajarkan.

Bicara hasil dari perkalian, memang hasilnya sama. 4 x 6 = 6 x 4 = 24 (bukan enam belas seperti yang katanya salah ditulis oleh Pak Tiffie); ini sifat komutatif perkalian. Tetapi sekali lagi, apakah memang fokus pembelajaran sedang pada konsep dan proses memahami perkalian itu sendiri, ataukah sekedar pada hasil. Kalau semua pembelajaran kemudian hanya dimaknai hasilnya saja, buat saya pendidikan itu sendiri gagal, karena saya meyakini belajar itu sebuah proses. Kalau cuma hasil dan produk (juga nilai tes) yang jadi tujuan belajar, ya, kita sedang menyuburkan banyak bimbel (atau perlu dikoreksi namanya menjadi bimtes [bimbingan tes] atau bimuji [bimbingan ujian]).

Kesempatan dimana para siswa bisa tersenyum dan mendapatkan momen 'aha' mereka, ketika mereka sendiri paham dan mengerti mengapa mereka bisa mendapatkan atau menghasilkan sesuatu, itu yang penting buat saya dalam belajar. Itu yang juga bisa mendorong mereka, kita, untuk lebih banyak belajar dan menggali. Mereka sendiri yang kemudian akan menggemari kegiatan belajar dan menemukan.

Sisi lain yang saya amati adalah cara memberi dan mengkomunikasikan koreksi ataupun feedback dari sang guru kepada siswa, dan juga orang tua (atau dalam kasus ini sang kakak [so sweet banget kakaknya peduli dengan adiknya]). Mungking sang guru lelah, dan berbekal senjata ampuhnya (baca: bolpoin merah), dia mantap memberikan coretan-coretan merah itu, dan angka 20 besar. Tanpa ada komentar apa-apa, tanpa ada masukan yang setidaknya menenangkan atau menghibur, dan lain sebagainya. Buat saya ini cukup mematikan semangat siswa, sih. 

Misal sang guru, atau si kakak, kemudian membangun komunikasi yang baik, mungkin kasusnya tidak akan seramai ini. Dan ternyata memang mereka berkomunikasi dan si kakak sudah minta maaf. Wow. Tapi dunia medsos sudah keburu heboh, dan ramai, dan kita--saya--ikut-ikutan komen. Entah itu komen yang membangun, komen yang mengutuk dan membodoh-bodohkan pihak mana pun, atau komen yang malah memancing keingintahuan untuk belajar perkalian lebih lagi. 

Again, ini bukan kasus pertama, setelah kasus Mbak Florence dan nota makan seafoodketika hal yang dianggap simpel diunggah ke medsos kemudian menjadi ramai, berkembang dan menyebar dengan cepat. Media surat kabar pun membahas dan menayangkan kasus ini. Kita diingatkan betapa kuat pengaruh dan peran medsos untuk menyebarkan informasi. Jadi, belajar lebih bijak, bukan sembrono, menggunakan medsos perlu diajarkan juga. Atau malah mungkin ada yang tertarik untuk jadi terkenal secara sensasional melalui medsos? 

Anyway, sekian pembahasan Pak Guru tentang 4 x 6. Kalau tidak ada pertanyaan, minggu depan kita ulangan.  

Ciao.


Wednesday, August 13, 2014

Happy birthday, Sabian!

Salah satu teman dekat saya itu Sabian.  Dan berteman--bersahabat--dengan Sabian itu menyenangkan, meski sesekali juga bikin geregetan.


Sabian itu pribadi yang kritis, dan dia tahu kapan untuk berucap dan bertindak. Dia cerdas, dan yang bikin kami banyak nyambung adalah karena dia pemikirannya sistematis. Kecuali ketika kami bercanda, Sabian menyampaikan ide dengan tertata saat kami serius berdiskusi. Dia sering membantu saya mengurai ide dan masalah yang saya share-kan. Sabian senang membaca dan belajar. *tos pantat sesama kutu buku*

Well, ya, Sabian suka bercanda, dan sering kelihatan kekanak-kanakan. Tapi buat saya, itu jadi modal yang bikin dia populer dan bisa membaur diantara para remaja. Dia orangnya ceria, dan rame. Dan dia juga orang yang rajin menjamah, eh, ramah. Ada keceriaan dan optimisme, dan itu yang dia tularkan ke orang disekitarnya. Tapi kembali, Sabian tahu kapan, dimana, dan bagaimana dia harus bertindak dan memposisikan diri ketika dia ada di situasi yang berbeda.


Awalnya saya risih ketika Sabian sering bercanda tentang saya. Gampang banget dia nyeletuk, making fun of me, dan ketawa (dan kadang meledak ketawanya), baik itu di kelompok kecil, atau di depan umum, seperti ketika dia menyampaikan materi! Dulunya saya pikir itu kurang ajar. Tapi saya kemudian mencoba melihat bahwa Sabian nyaman untuk melakukan hal itu, karena mungkin dia yakin bahwa saya tidak bakal tersinggung. Karena kami dekat, dan kami saling kenal, (cukup) banyak (semoga saya tidak ke-GR-an).

Sabian enak diajak curhat. Entah saya yang bercerita, atau dia yang menyampaikan curhatnya, saya menikmati setiap kesempatan bisa saling bertukar-dan-mendengarkan pengalaman dan pergumulan kami. Dan tidak tanggung-tanggung kami saling membuka diri dan percaya. Sabian tahu sisi gelap dan bobroknya saya, tapi tidak kemudian dia menjauhi atau membenci saya. Saya bersyukur karena Sabian orang yang terbuka, tetap mengasihi saya, dan mau jadi teman dekat saya. Tidak berhenti disitu, dia juga selalu mendukung saya untuk mau memperbaiki diri.


Banyak orang yang mencoba diam dan menerima kalau sahabatnya berbeda pendapat, tapi satu hal yang membuat saya salut dengan Sabian itu karena dia orang yang jujur dan terbuka. Tidak jarang dia menegur saya, jika saya salah, dan sebaliknya dia juga mau ditegur. Dalam beberapa hal, kami berbeda pendapat, dan tidak sejalan. Tidak sekali dua kali saja kami beradu argumen dan berakhir dengan keputusan yang berbeda. Tapi itu bukan alasan untuk kami tidak saling mendukung.


Lepas dari persahabatan kami, Sabian punya hati untuk pelayanan misi; dia memikirkan mereka yang masih belum kenal Tuhan. Pemikirannya dan ide-idenya banyak yang kemudian terarah ke hal ini. Kerasa banget bahwa dia punya komitmen di bidang ini, dan memang dia suka menularkan passion-nya ke orang-orang lain. Dia suka mengajak kami berdoa untuk para misionaris ataupun menceritakan cerita perjuangan mereka.

Hari ini Sabian merayakan ultahnya. Today is his big day. Happy birthday, Buddy! Tetap bertumbuh dan mengembangkan diri, plus semakin rendah hati untuk dipakai meninggikan nama Tuhan. Amen.



I remember once he thanked me for being there, knowing and listening to his up-and-down stories, and giving him support. I should have thanked him earlier for being one of my great friends. He indeed has the qualities of a true friend, and I thank God every time I remember him.

And by the way, Sabian sedang mempergumulkan satu keputusan untuk hari depannya: sekolah lanjut. Well, let's lift him up in our prayers. ;)

Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kohbro Sabian!

Friday, August 8, 2014

Nostalgia bersama Doraemon

Masa kecil saya dibanjiri buku bacaan, entah majalah, tabloid, atau komik. Saya doyan membaca. Banget. Dan salah satu favorit saya itu Doraemon.

Saya tidak ingat seri berapa komik Doraemon yang pertama saya beli, antara seri satu atau tiga. Tapi sejak saat itu saya doyan baca cerita pertemanan antara robot kucing biru itu dengan Nobita cs.

Koleksi saya tidak lengkap untuk komik regulernya, tapi saya punya komik Doraemon seri petualangan, beberapa edisi pengetahuan, dan seri informasi alat-alat ajaibnya. Ada banyak yang secara fisik sudah rusak: sampul asli hilang, halaman lepas-lepas, kertas menguning, dan beberapa komik malah hilang! Bukannya tidak sayang dengan koleksi saya, saya (dan adik saya) sering membacanya, dan saya teledor, suka taruh sana-sini buku-buku saya.

Yes, cerita keseharian Nobita dan Doraemon ini cukup banyak mempengaruhi masa kecil dan pemikiran saya, bahkan sampai saat ini. Saya masih sering ngayal bahwa ada Pintu-Kemana-Saja yang bisa dengan sekejap memindah saya ke rumah teman saya yang ada di luar kota. Atau, terbang dengan Baling-Baling Bambu juga kedengaran menyenangkan. Plus Kain/ Selimut Waktu bakal bikin saya lebih nyaman karena saya bisa mengembalikan barang-barang yang sudah rusak.

Doraemon's Time Machine, Bamboo Copter, Time Cloth, and Anywhere-Door

Yang paling berbahaya, dan sering bikin pikiran saya kelewat berimajinasi--atau merenung--adalah Mesin Waktu. Seorang melankolis seperti saya ini ngarep bisa kembali dan memperbaiki kesalahan yang sudah saya bikin di masa lalu. Atau, kalau bisa ngintip ke masa depan, sisi perfeksionis saya bakal gembira karena saya bisa lebih prepare dan mengatur ini-itu. Tapi, alat canggih itu masih sebatas ada dalam literatur fiksi. Ngeri juga kalau butterfly effect beneran terjadi gegara kita mengubah sebagian kecil kejadian di masa lalu. Dan otak kita sering berharap jadi tuhan atas hidup kita sendiri dengan mengatur, memperbaiki, dan mengetahui apa yang bakal terjadi nantinya.

Salut dan applause saya untuk tim Fujiko Fujio yang berhasil menciptakan kisah yang tidak saja menghibur tapi juga memotivasi dan mengedukasi. Imajinasi yang dikisahkan dalam cerita Doraemon, saya pikir, bukan semata-mata khayalan untuk memukau dan bikin ketawa anak-anak. Jelas bahwa mimpi terhadap inovasi dan pengembangan tekhnologi sukses dipromosikan Pak Fujio dalam komik-komiknya. Juga pesan universal seperti kepedulian terhadap alam, persahabatan, toleransi, kecintaan terhadap budaya, dan kedamaian dunia juga banyak diulas. Ada nilai-nilai dan semangat yang ingin disampaikan dalam ceritanya. Mereka yang sadar bakal ikut merenung ketika mendapat pesan-pesan dari komik ini.

Tiap kali Nobita merengek minta bantuan, Doraemon bakal kasi gadget yang harapannya membantu Nobi, entah karena kemalasannya sendiri atau jadi korban bullying teman-temannya. Nobita ingin hidupnya sedikit lebih gampang dan enak, tapi ending-nya tetap saja ada masalah; Nobita tetep kudu berjuang sendiri. Nobita tetap harus belajar, dan sebenarnya terbukti kalau dia rajin, dia bisa.

Doraemon always tries to support Nobita.

Banyak chapter di komik yang menunjukan kecengengan Nobita, tapi tidak sedikit juga bagian dimana Nobita menunjukkan sisi pemberaninya, terutama di seri petualangan. Dan sebenarnya dia juga cowok yang bertanggung jawab. Dia punya tekad, dan mau berjuang untuk mewujudkan mimpinya: entah menikah dengan Sizuka, berani fight back ketika jadi korban bullying Giant atau Suneo, atau belajar rajin supaya dapat nilai bagus. Hal-hal itu yang ingin dipesankan komik Doraemon, selain inspirasi persahabatan Doraemon-Nobita, kepada para pembacanya.

Those who love Doraemon would agree that their favorite scene is Doraemon's farewell, yang sukses bikin saya, honestly, berkaca-kaca. Yang mengikuti komiknya pasti tahu adegan mengharukan dimana Doraemon harus balik ke masa depan, dan Nobita pengin membuktikan bahwa dia bisa berjuang dan survive sendiri, bahkan mengalahkan Giant. And he did it. Ada satu panel komik itu, dimana dua sahabat itu melewatkan malam bersama; Doraemon menunggu sampai Nobita bisa beristirahat. Di pagi harinya, Nobita sudah tidak lagi bisa menyapa Doraemon, atau menangis minta dia mengeluarkan alat ajaibnya.


8 Agustus tahun ini jadi momen yang paling ditunggu penggemar Doraemon: film Doraemon terbaru, Stand by Me. Entah seperti apa jalan ceritanya, yang jelas, trailer yang sudah muncul menayangkan beberapa scene yang terkenal dari cerita di komiknya, termasuk perjuangan Nobita dan Sizuka di masa depan dan perpisahan Doraemon-Nobita (yang lagi-lagi cukup bikin haru). Akankah film ini masuk Indonesia? Well, saya sih berharap saya (puas) nangis harunya nanti di bioskop, bukan (terpaksa) nonton bajakannya. *crossing fingers*


Dan saya menulis posting ini dalam rangka menyambut film itu, sambil bernostalgia dengan cerita si robot kucing biru. :)





Sunday, August 3, 2014

Eulogi untuk Emak

DK: "Besok ultah (Nico--adik saya), Emak mau bikinin apa?"
Emak: "Es sarang burung."
DK: "Haee? Dari apa?"
Emak: "Dari sarang burung, toh. Ayo temeni Emak cari sarangnya sekarang."

Dan kami pergi keluar, (pura-pura) cari sarang burung, sambil saya excited buat cari sarang beneran dan terus penasaran bagaimana cara mengolahnya jadi es.

Memori masa kecil ini yang paling saya ingat dari emak/nenek saya, selain ingatan saya dimana Emak ngajarin saya cari undur-undur, main kelereng, nerbangin layang-layang, dan lainnya. She never failed to ignite my curiosity.

Emak Song (saya dari dulu manggil beliau dengan nama ini, alih-alih Emak Swan, dan tidak tahu darimana saya dapat nama itu) dulu sering pergi main, vacation, ke Jogja. Biasanya Emak bakal siapin bekal masakan dari rumah, nanti di tengah main-main di Jogja, kalu kami kelaparan, bakal berhenti cari tempat teduh, terus kami makan di dalam mobil.

As I grew up, saya ingat sering main ke rumahnya Emak yang notabene tidak jauh dari rumah ortu saya. Saya suka ngabisin waktu, sambil 'mengemis' makanan disana kalau lauk di rumah habis, sampai Emak hapal hobi saya main ke rumahnya kalau tidak tidur siang ya numpang makan. Kadang juga kalau disana tidak ada makanan, dulu ketika Emak masih sehat, beliau rela masakin saya mi instan atau telur goreng. Jadi rumah Emak itu semacam rumah kedua.

'DK, kamu dekat sama Emak kamu?' itu yang ditanyakan beberapa teman ketika bertemu di rumah duka kemarin.

Well, beliau satu-satunya orang tua dari papa mama saya yang bisa saya kenal dan punya memori bersama. Suami Emak sudah lama meninggal. Sementara ortu dari papa saya juga sudah meninggal ketika saya masih bayi. Kata orang nenek-kakek itu sayang (banget) sama cucu-cucunya. Dan itu benar untuk Emak. Saya tidak bisa banyak cerita hal-hal pribadi saya ke beliau, meski di beberapa kesempatan saya juga bertukar cerita dan pikiran dengan Emak.

Satu yang saya ingat Emak sering katakan, 'Nda usah neko-neko, toh, Dan,' ketika saya minta atau berulah yang macam-macam. She lived with simplicity. Saya pernah mencuri dengar ketika Emak bercerita tentang kerabat yang sedang ada masalah dengan dirinya, beliau coba untuk tetap tenang, tidak terprovokasi, dan tidak mendendam. Dan yang jelas dia itu tidak suka pamer atau pun cari perhatian.

Emak itu disayang anak dan cucu-cucunya, dan dia juga sebaliknya sayang kami. Dan saya yakin emak sudah bisa senyum dan sehat lagi di Sana. A piece of our heart now lives in Heaven.

You'll be greatly missed, Grandma.





Wednesday, July 30, 2014

20 Things from Pajajaran's X-Factor 2014

Bukan. X-Factor yang ini bukan kontes menyanyi atau kpntes bakat seperti di TV, meski memang kami ada menyanyi dan unjuk bakat juga. Ini (Bible) Camp yang diadakan Komisi Remaja-Pemuda GKI Pajajaran Magelang.
Pola di GKI Pajajaran itu dua tahun sekali diadakan camp komisi, bergantian dengan camp jemaat. Here are 20 things I did, got, or learnt, or noticed in/from this bible camp.

1. Camp gabungan yang terakhir saya ikuti ada di tahun 2010, jadi ini semacam nostalgia dengan suasana gabungan remaja-pemuda seperti itu.

2. Buku acaranya ngambil tradisi lama terutama bagian schedule acara yang memakai gambar-gambar macam storyline. Good job, my bro!


3. Nama kelompok mengusung nama power dari superheroes X-Men, yang cukup menarik buat seorang superhero-geek seperti saya. :P

4. Saya dapet kelompok Optic Blast, yang dimiliki Cyclops, member X-Men yang dari dulu saya gak tertarik. #sigh


5. Talent show! Been a while since I last had it! Meski awalnya malas, tapi menikmati bakat-bakat yang ditampilkan. Haha.

6. Dan yel-yel kelompoknya itu bikin ketawa-ketiwi.

7. Saya sadar saya cukup baik menyusun konsep tapi bukan seorang pemimpin yang cukup sabar dan tahu bagaimana melibatkan semua untuk ikut bekerja.

8. Dan saya tidak bisa duduk tenang ketika melihat jadwal terganggu. Meski saya tetap memaksa diri untuk tidak ikut campur tangan dalam panitia.

9. 150 ribu, while for many would still be expensive, sebenernya sudah termasuk murah untuk standar camp 3D2N, dengan semua akomodasi, konsumsi, dan materi yang diterima.

10. Sementara kelompok remaja belajar tentang menggali dan memaksimalkan potensi diri, kelompok usia pemuda belajar membangun relasi yang baik. Yes, kami dipisah sesuai usia kami di dua sesi utama.


11. Walking-prayer is indeed a new, interesting idea. Thanks to Sabian. Despite my intolerance to the tardiness.

12. Tujuan baik tapi kalau kemasannya kurang menarik atau kurang pas juga bisa jadi tidak efektif tersampaikan dan diberikan.

13. Dan perbedaan faktor usia itu juga perlu, perlu diperhatikan dengan sangat. Baik itu untuk peserta ataupun audiens, dan panitia penyelenggara. Meski yang kedua jaraknya tidak terlalu jauh.

14. Setelah Salib Putih, mungkin Wisma Bukit Soka menawarkan pemandangan (Salatiga) yang indah. Yes, view nya dari tempat ini cukup bagus, tapi hal-hal lain dari wisma ini perlu diperbaiki.

15. Keywords untuk membangun relasi yang baik? Empathy, active-listening, dan kerelaan hati.

16. Peraturan HP 'disita' selama acara lumayan membantu digital-detox. Dan salut krn para peserta, at least kelompok saya, bisa disiplin, bahkan mengingatkan saya untuk itu. Mungkin bisa dicoba ketika mulai ibadah di gereja ya. :P

17. Hari kedua pagi: saya (yang notabene mentor kelompok) TELAT BANGUN! =.=

18. Saya (seperti pengamatan dan komentar temen-temen kamar) mandi paling lama. Uhuy!

19. Saya sekarang ini tidak bisa banyak terbawa suasana refleksi/haru ketika malam komitmen/ KKR. Justru saya bisa lebih merenung, berefleksi, terharu, entah sampai menangis atau tidak, dalam nyanyian/ibadah biasa.

20. Dan pelajaran terakhir yang saya dapat: jangan mengeluh dengan orang yang (kelihatan maupun tidak kelihatan) capek. Nah loh!

Satu lagi ya,

21. Did I enjoy the camp? YES.

Tuesday, June 17, 2014

Bukan Kebetulan

Saya itu kurang setuju dengan yang biasa disebut kebetulan. Entah itu untuk kejadian yang dirasa baik maupun buruk, saya melihatnya bukan sebuah kebetulan atau kejadian acak.  

Tapi wajar lah kalau kebetulan itu dipahami sebagai kejadian acak, apalagi kalau dirasa terjadi di luar rencana atau kendali kita. Dan entah juga apakah kita memakai istilah 'kebetulan' itu karena latah, salah kaprah, atau memang kebetulan yang acak itu tadi. Tapi saya yakin, ada momen ketika nantinya kita bisa tahu maksud di balik semuanya yang sudah terjadi.  


Bukan kebetulan juga ketika saya bertemu dengan orang-orang dalam hidup saya. Beberapa adalah orang-orang yang hebat, beberapa yang lain jadi teman yang dekat, dan beberapa simply punya bagian tersendiri dalam mewarnai hidup saya. 

Di luar rencana saya, saya bertemu dengan orang-orang yang pasti awalnya tidak saya kenal, di situasi dan momen yang tidak terjadwal. Saya mengakui kalau feeling saya tidak bekerja dengan baik, tapi entah kenapa untuk masalah mengenal orang, saya berani meyakinkan diri bahwa orang-orang baru tertentu yang saya temui itu berbeda. Otak saya berani memastikan bahwa mereka bisa jadi rekan yang baik, dan dekat, dan it will work well. Dan keyakinan saya sering benar untuk hal ini. Saya bertemu dengan beberapa teman dekat dalam peristiwa-peristiwa di luar rencana saya, danyesit worked well. Saya--kami--nyambung. Saya betah berbagi kisah hidup dengan mereka, sembari mengharapkan bahwa saya mendapatkan hal yang sama dari mereka.

Bukan kebetulan kalau sekarang saya punya inner circle saya. Saya tidak pernah menyangka kalau mereka dulunya terpisah-pisah, maksudnya saya kenal sendiri-sendiri. Eh, tapi, sekarang malah bisa ngumpul jadi satu. Kami sering makan dan ngobrol bareng, entah untuk topik casual maupun yang serius. Dan kami makin terbuka satu sama lain, sambil membangun klik itu.

Bukan kebetulan juga ketika saya mengenal satu sahabat yang dulunya malah rival. Masih saya ingat bagaimana dulu kami saingan, dan sempat atau bahkan sering kami bertentangan ide dan tidak saling respek. Eh, tapi, sekarang ini kami saling berbagi kisah ketika bertemu (di dunia nyata maupun maya). Dan itu rasanya melegakan.

Bukan kebetulah juga ketika orang yang tadinya saya bela, sampai saya berupaya mempengaruhi orang lain supaya percaya bahwa dia orang baik dan bisa dipercaya, malah berbalik menusuk saya dari belakang. Ouch. Cukup jelas untuk inti cerita yang satu ini.

Well, yes, orang-orang tersebut kasih saya satu dari antara dua hal ini: berkat atau pelajaran.  Toh pelajaran pun juga berkat buat hidup saya. 


Hobi saya merenung. Bukan hobi yang baik kalau over dosis. Tapi ketika merenung melihat proses hidup saya sampai saat ini, saya mendapatkan banyak momen dimana saya diingatkan untuk bersyukur, dan bersyukur lagi. Saya bersyukur setiap kali saya sadar, dan semacam melongo kagum ketika akhirnya saya paham maksud di balik semua kejadian yang saya alami, termasuk ketika saya bisa ketemu orang-orang hebat di sekeliling saya, ketika saya makin mengenal mereka, dan terutama ketika saya bisa jadi dekat dengan mereka (baca: diijinkan untuk berbagi hidup). 

Bukan kebetulan kalau mereka dan saya kenal, jadi dekat, dan mendukung satu sama lain.  

Dan saya bersyukur untuk itu. ;)



PS: This writing was originally posted on my DK's facebook note.