Tuesday, August 24, 2010

Belajar dari 'mereka'

Hola.

Sebelum menulis posting ini, saya (dgn kurang kerjaan) mencoba recheck arti kata naturalist, dan ternyata saya selama ini salah memakainya. Hm. Seharusnya environmentalist. Saya mengklasifikasikan diri saya masuk environmentalist: seseorang yg percaya dan mendukung pentingnya lingkungan hidup ini, including animals, plants, etc.

Saya paling suka kalo ngamati binatang, tumbuhan, en particularly insects. Paling doyan memfoto serangga or taneman2 warna2i (yang saya 'awetkan [baca: foto] dengan macro-mode serampangan), dan kalo dulu pas kecil paling suka bawa serangga ke rumah, dimasukin toples dan dipelihara, dan berakhir dengan itu serangga terlentang-hadap-atas dengan indahnya, membujur kaku, mati. *tet-tet-tet, tet-tet-tet, tet-tet-tet-tet-tot-tet-tot-tet, tot-tot-tot-tet (ini lagu pengantar jenasah yg sering dikumandangkan kalo ada berita lelayu di kampung itu lewat speaker toa super berisik)*

Eniwe, diantara segala macam serangga saya suka kepik (ladybugs - kenapa juga lady? kok tidak dukebug, ato monseiurbug? ternyata diskriminasi gender terjadi diantara perikeseranggaan) dan kunang-kunang. Sampe sekarang masih kagum kalo liat kunang-kunang (dan sedih karena makin jarang bisa lihat, harus mengucilkan diri ke daerah2 yg banyak sawahnya. En fyi, kunang2 ternyata di Jepang (if im not mistaken) dianggep bawa sial, karena itu dianggep roh yg melayang2. So silly. Binatang cantik gitu dianggep roh halus.)

Kejadian tragis dan menyedihkan terjadi waktu kemaren sempet nongkrong sama temen2 di satu kafe kopi remang2 yg deket sawah, dan disitulah saya menemukan makhluk mungil yang kelap2i itu. Tragisnya adalah ketika saya sedang maen kartu, saya ndongak ke atas dan menemukan itu kunang2 kerlip2, dan beberapa detik kemudian tuh kunang2 dilahap dengan sadisnya oleh seekor cicak tidak berperikekunangkunangan. *tet-tet-tet, tet-tet-tet, tet-tet-tet-tet-tot-tet-tot-tet,tot-tot-tot-tet" 'Eh, itu kunang-kunang... (jeda beberapa detik) dan sudah dimakan cicak...' Hmpf.

Bicara tentang kunang-kunang, ternyata makhluk misterius yang bisa berpendar ini hidupnya memang tragis, walo metamorfosisnya butuh waktu setahun sampe dua tahun, dan melewati masa2 jelek fisik itu (emang larva en pupa kunang2 jauh lebih beast daripada adult imago-nya, waktu dia dewasa), eh dia bisa pamer cahaya sebagai serangga dewasa cuman seminggu sampe maksimal rata2 30 hari. Ckckckck.

Saya ikut empati pada makhluk2 mungil yg berumur pendek itu. Padahal kalo diukur dari awal dia jebrol menetas ya lama ya... wkwkwkwk, cuman kesempatan dia bener2 'dewasa' kok cuma pendek, kesempatan dia bebas, dan bisa terbang seenak wudelnya [kunang2 punya wudel?] dan memamerkan talenta bersinarnya cuman maksimal sebulan.

Bayangkan sodara2! Bayangkan! Sekali dia meronta keluar dari masa pupa-nya, dia langsung divonis oleh dokter kunang yg laennya: 'Sodara Kunangkunangis bin Cacingnyala, umur Anda hidup tinggal tiga puluh hari. Silakan tinggalkan wasiat setelah bokong saya menyala.' Dan dunia runtuh, kilat menyala-nyala keras, hujan turun begitu derasnya selama empat puluh hari empat puluh malam menyambut ratapan si kunang2 malang. Dan dia langsung terbang kencang ke Gram*dia, buat beli buku 100-things-to-do-before-I-die.

Eniwe, lepas dari kunang2 malang, saya paling merinding tapi excited kalo liat perjuangan makhluk lainnya: sea turtle, kura2 laut. Tiap sekali mami kura2 itu jebrol betelor bisa sampe 200 biji (lumayan juga ya buat bisnis ternak telor kura), dan tau kan kalo semuanya langsung dipendem di pasir pante. Nah, habis itu netes telor2, perjuangan berat si nak kura2 yg ratusan jumlahnya dimulai.


Berawal dengan menggali keluar dari pasir, berlari sekuat tenaga, tapi tetep wae lambat (lah yo, wong kura2, ne cepet lak yo pengendara-sepeda-motor-ugal-ugalan-semacam-saya-apalagi-kalo-lagi-kepepet-telat-berangkat-kuliah =p). Tapi tidak cuma masalah fisik larinya, belom ditambah terpaan ombak, karena bahaya lain menghadang: predator. Puluhan mafia2 kepiting en Om-Tante Gull, alias burung laut (terjemahan ngaco). Mereka dengan buas menghancurkan cangkang nak kura2 yg masih lembut, melahap isinya dan melampiaskan napsu duniawi mereka yang liar (hasyah). Mereka yg lolos masuk ke laut pun masi kudu menghadang bahaya lain: shark, hiu! Hmmm... Begitulah liarnya dunia satwa, dunia kita (loh?).

Kenapa ya, makhluk2 mungil, sudah kecil, lemah, eh cepet mati...

Saya tadi tiba2 inget lagu 'Burung Pipit yang kecil, dikasihi Tuhan...' Mungkin ini lagu anak2 sekolah minggu yg sudah tidak asing di telinga kita, dan terdengar lucu saat dinyanyikan. Klise juga mungkin. Ah, tahu. Tapi kadang kita masih ragu juga walau kita bisa nyanyi: 'terlebih diriku dikasihi Tuhan....'

Kalo kura2 aja berjuang, berlari dengan kencang, memaksa diri buat bertahan hidup secara intuisi, walo jelas sekali banyak bahaya yang langsung menghadang begitu mereka yang masih imut ini membuka mata, lahir menapakkan keempat kakinya di dunia. Seleksi alam yang liar langsung berjalan. Kita? Apa hidup ini penuh perjuangan? Seharusnya. Ato kita lebih suka males2an, dan tidak mau berjuang buat hidup ini? Ato kita sebaliknya terlalu takut buat menghadapi kesusahan hidup ini, lebih milih untuk hidup 'aman', tinggal dalam status quo kita yg kadang bikin kita kurang berkembang. Ato lebih seneng menghindari tantangan yg ada, yg padahal kalo kita hadapi bakal improve kita. Takut. Gentar. Padahal kita bisa nyanyi 'terlebih diriku dikasihi Tuhan....''

Tidak hanya dikasihi dan dipelihara, kita ini juga spesial. Lebih spesial dari si Kunangkunangis bin Cacingnyala tadi, yang cuman bertahan hidup maksimal 30 hari. Entah kapan kita bisa hidup, 60 tahun, 70 tahun? Ato mungkin 20 tahun, 10 tahun, bahkan ada bayi yang baru beberapa jam ato menit menikmati udara bumi ini langsung meninggal. Hm. Padahal kita ini bisa dan mampu, dan potensi yg tertanam dalam diri kita tidak sangat terbatas seperti si kunang2 malang yg cuma bisa berpendar dan hidupnya pendek. Nah, apa kita juga sudah merasa berharga dicipta seperti kita sekarang (dan lepas dari kemudian kita menjadi sombong, yang jelas2 salah). Inget, kita dengan mudah bisa nyanyi, 'terlebih diriku dikasihi Tuhan....'

Finally, saya paling suka liat kunang2 malang (kok daritadi saya ngejudge mereka malang ya?) kalo lagi kelap-kelip di tengah malem. Entah di sawah, entah di pohon. Pendarnya lucu, remang-remang, dan jadi hiasan kaya lampu pohon natal. Suasananya jadi tranquil, en saya menikmati pendaran lemah karena reaksi zat kimia di dalem tubuh kunang2. Belajar dari kunang2 malang (lagi?) itu juga, selama ini seberapa maksimal hidup kita sudah menyala? Memberi warna dan terang tersendiri bagi yg melihat sinar kita?

Hmmm... Saya belajar dari makhluk2 imut ini.

Saya berharap kunang-kunang terus ada, kaga pernah musnah or punah walo jumlahnya berkurang. Kalo pun punah, tar saya pasang lampu LED di pantatnya kecoa aja deh, lumayan, biar bikin image kecoa sedikit lebih cool en 'bermanfaat' daripada sekedar binatang item kecil, klimis, rakus gara2 suka makan segalanya, en paling susah diuber, lagian kalo udah mati juga bikin semut2 ngrubung bangkainya... kalo terbang2 bikin orang rumah pada heboh ketakutan lari sendiri... grrr... Ato, hmmm. Mending pasang or lampu cabe plus batre aja, biar badan mereka berat, susah lari en kaga mungkin terbang. Dan *plak* mudah sekali menggeplak atau mites mereka.... MHWAHWAHWAHWAHWA *tawa bangga*


GBU.

Monday, July 19, 2010

Before the laptop...

Hi.


Saya sedang duduk, di depan laptop saya. Agak aneh juga situasinya, tapi saya menikmatinya.


Jarang saya online, di depan laptop, tanpa melakukan hal-hal lainnya, hanya merenung, sambil menunggu balasan chatting atau selesainya loading site yg sedang lemot karena kuota internet yg belum terisi. Dan bukan banyak loading tab situs, saya memakai Mozilla Firefox; cuma satu: facebook.


Tapi, sekali lagi, saya menikmatinya.


Seorang melankolis, yang lebih senang merenung.
Dan berpikir. Bagaimana? Apa? Lalu?
Sembari menunggu: bukan pekerjaan yang saya suka.


Kadang menghela napas.
Mencoba berimajinasi.
Bertanya mengapa begini.
Membayangkan seandainya.
Dan mentap satu jendela di layar laptop saya.
Menaikkan harapan.


Saya sedang menikmati ini.


GB

Thursday, July 8, 2010

Daniel Kurniawan is neither Daniel Radcliffe nor Harry Potter! Doh!

[Hi. If you're reading this from my FB-note, please click HERE! Thanks!]

So, whaddup guys?

Beberapa hari lalu adalah hari-hari yang saya nikmati dan sangat refreshing untuk memori saya. Tanya kenapa? Ada pelem2 Harry Potter diputar di tipi nasional! Ya, si penyihir itu. Bukan, bukan yang dahinya lebar kaya wajan penggorengan en matanya dilingkeri arang dapur en hobi pake item-item yg kemaren diprotes massa gara2 katanya ngaco en nipu hasil ramalan World Cupnya. Dan fyi, ketika pelem2 itu diputar, apalagi waktu seri kelima ditayangin di tipi, trending topic di twitter ditempati 'Dolores Umbridge' en 'Luna Lovegood' yang bikin semua orang luar negri jadi bingung kok bisa itu dua topik yang sedang trending.

Kalo sering maen sama saya sejak jaman SMP, pasti tahu bahwa Daniel Kurniawan adalah seorang Harry Potter mania. Yes. Saya adalah maniak serial-nya Potter yg ditulis Nyah Rowling. Hmmm... Sebentar, mungkin bukan maniak sebegitu maniaknya, dan saya kaga' mau dapet konotasi yg jelek dari kata ini. Fans. Mungkin itu kata yang lebih tepat.

Seorang maniak Harry Potter bakal:
  1. bikin tato geledek di dahinya, ato nekat nyetrum dahinya or membakar dahinya biar dapet tanda geledek itu.
  2. tebang pohon dan ukir sendiri wand-nya, entah pohon cabe or pohon semangka... :p Kemudian biar tambah sakti, tambahin ekstrak sisik kuda, rambut buaya, hati semut, or e*k kucing.
  3. latihan rutin Quidditch dengan keras, entah itu jadi bludger yg dengan sembrono pukul2 bola basket or jadi seeker yang cari2 telor walo bukan masa Paskah.
  4. mencoba merapalkan mantra-mantra sakti dengan kelinci percobaan, dan ketika mantra Avada Kedavra tidak berhasil, cara manual dengan mem-potek leher kelinci tampak sangat glorious.
  5. pura-pura pake robe, alias jubah, seragam Hogwarts di sekolahnya padahal cuma jas hujan sekali pake warna item, dan berakhir dengan dirinya dikira tukang becak.
  6. ngabisin berjam-jam berdiri dengan sapu terselip di selangkangan, berharap itu sapu bisa melaju setidaknya sedikit lebih cepat dari siput.
Well, saya tidak se-maniak itu. Saya ngefans dengan saga HP, dan saya punya lengkap ketujuh bukunya, plus tiga buku tambahan lainnya, dan beberapa majalah yang emang khusus untuk edisi HP. Tapi saya kaga pernah mencoba dengan bodohnya menjedot-jedotkan dahi saya yang seluas landasan pacu pesawat ke dinding supaya saya dapet tanda geledek di dahi saya (dan jerawat di dahi saya lebih menyakitkan daripada aksi jedot menjedot dahi ke dinding.) Saya punya dua wand alias pentung sakti punya Harry en Dumbledore, bonus dari majalah. Tapi saya kaga mencoba memasukkan ekstrak bulu hidung kecoa, maupun memaksa tongkat itu menyala kalo saya bilang Lumos waktu lampu mati. Terus, saya pasang beberapa poster HP di kamar tapi najis tralala kalo saya selalu mandang dengan penuh pesona dan seksama saking kagumnya tuh tiap poster tiap malam. Dan akhirnya saya punya celdam gambar mukannya Harry Potter lagi pose nyengir sambil pake pita kupu2 merah di rambut sebelah kiri. No, just kidding.

Jadi seorang fans dari sesuatu or seseorang lainnya itu menyenangkan. Kita bisa merasakan sensasi kagum itu, en yang positif adalah kita jadi semangat karena yang kita fans-i itu. Kita bisa saja terinspirasi; si dia atau sesuatu itu jadi panutan kita. Saya nge-fans. Dan pernah di-fans-i, keren toh, tapi menyakitkan juga. Bayangkan seseorang yg kamu pikir bakal suka denganmu ternyata cuman nge-fans, dan kemudian memutuskan utk tidak melanjutkan hubungan cintanya denganmu, karena itu bukan CINTA! Itu FANS. ADMIRASI sodaranya asmirandah... *phew* Loh jadi curhat colongan. Wkwkwkwk. Kembali ke masalah fans, sekali lagi, di awal saya berstatement: fans, bukan dan beda dengan maniak.

Hmmm... mungkin kalo ngomongin fans, sampe juga kita ke istilah idola. Buat saya hampir mirip sih. Kaya dondong dan duren: sama2 inisialnya D, jadi saya, duren dan dondong pun sama. :p Idola tu yang kita puja-puja, jadi sudah lebih tinggi dari fans. Kalo kita ngefans sekedar seneng, idola itu berarti kita sudah suuuuuueeeeeeneng, en bakal memujanya, ga peduli dia baek or jelek. Nah ini dia masalahnya, karena salah persepsi en kaga tau gimana cara kerja otak en hatinya (saya bilang hati, karena semua berasal dari hati), kadang orang mengidolakan sesuatu, or, tepatnya, seseorang, yg salah. Banyak kan, contohnya? En ini bisa dimanfaatkan buat cari pengikut tuh... dan semua sekte or cult yang sesaat berawal dari keahlian pemimpinnya memposisikan diri sebagai idola :p

Nah, kata idol sendiri memang berasal dari idol yg artinya ilah, sesembahan, allah. Wew. Memang. Mungkin perlu hati-hati juga kalo kemudian kita pake kata Idol, seperti merek tayangan di tipi yang terkenal itu Magelang Idol.... XD Jangan2 memang kemudian pemenang utamanya jadi idol, sesembahan, walopun kaga banyak orang yang bakal sampe ke ekstrim itu, tapi tetep saja ada yang kemudian sangat begitu amat demikian memujanya. Kalo sudah sampe sini, prihatin dah.

Hm. Lepas dari pemakaian kata itu, dan mungkin terlalu naif dan lugu kalo kemudian dengan saklek (baca: kolot dan kaku) melarang pemakaian kata idol ataupun idola (sama kolotnya dengan melarang seseorang hanya memakai kolor ketika nge-MC, dimanakah itu? :p), bagaimana kalo kita mulai lihat siapa, ato apa, yang selama ini kita 'idolakan' atau kita 'fans'-kan. Saya tidak pake kata maniak, karena itu konotasinya negatif. Loh, fans kan dari kata fanatik juga. Hmmm. Iya, tapi ameliorasi berlaku untuk kata ini (buat yg belom tau ameliorasi, itu bukan nama teman saya, coba deh cek dengan guru biologi kamu, pasti dia kaga bisa jawab). Dan pastinya, ketika berbicara tentang Siapa (dan bukan apa) yang kita sembah.

Eniwei, kalo pernah baca notes sohib saya yang ini maupun ini (kamu kudu jadi temen FB-nya dulu baru bisa baca), mungkin bakal bilang, 'Ah, Dankur ikut2an tuh notes.' Kaga. Tidak, kami tidak bacok2an maupun teol2an untuk berlomba menulis ini. Dia bilang, 'Kan pasti isinya beda.' Yes; betul.

Oke deh, after all, saya memang ngefans dengan Daniel Radcliffe, dan dengan rendah hati menyadari bahwa saya mirip dengan bulu keteknya dia. Tapi kesadaran semacam itu muncul kalo kondisi saya sedang koma dan merasa semua orang lain gila sementara cuma saya yang waras.

GBU!

NB: Saya mungkin tetap akan bersikukuh bahwa saya mirip Harry Potter... XD

Thursday, July 1, 2010

Manis, Asem, Asin, dan Rasa apa ini?

[ If you are reading this via FB, please click here. Enjoy the new layout of my blog :) ]

So. Whazzup? Sudah lebih dari sebulan saya tidak ngeblog, dan itu parah. Well, my life? It's so far been messy, busy, happy, lazy, dizzy, and all the -y words... :p Sementara saya merindukan apa yg saya impikan dan sebut sebagai liburan, saya berpura-pura liburan dan dengan tidak bertanggung jawab mengabaikan tugas-tugas saya. My apology.

Ok, cut the crap. Hari ini adalah salah satu contoh busy days for me. Pagi bangun dengan shocked, karena sudah jam 8, padahal janji bangun jam 7. Hmpf. Dari jam 8 lebih sampe jam 12 di skul, lokasi baru sekolah tempat bekerja saya, rapat. Selese langsung alih kerja jadi racer yang ngebut ke Salatiga. Dan so nice berangkat dihantar hujan, pulang disambut hujan. Jam 6.30 langsung melaju ke lokasi sekolah baru, untuk briefing lebih lanjut, setelah mandi di rumah, dan tetap saja hujan selalu kangen dan pengin lengket dengan saya.

Eniwe, yang bikin saya aneh adalah beberapa perasaan yang entah buat orang lain biasa-biasa saja, padahal ini ngefek cukup banyak ke saya. Ke otak, dan hati saya, I mean. Seperti biasa, saya bisa terlalu banyak dan serius berpikir, atau merasa, padahal itu so trivial for others.

Siang tadi saya mengikuti satu setengah kuliah, karena saya ijin pulang awal. Kuliah pertama benar-benar meledakan otak saya. Saya memforsir otak untuk memahami penjelasan dosen maupun diskusi dengan teman-teman. Tidak ada pemahaman. Saya cuman bilang ke rekan, waktu break, "Sumpah, saya merasa goblok banget di kelas tadi. Sekarang saya tahu perasaan murid saya yang waktu saya kasi tes sering ninggalin lembar jawab tes kosong. Tadi saya merasa jadi murid itu." Perasaan saya takut, bingung, bodoh, kecewa. Such a feeling.

Sebelum berangkat briefing, mama cuman tanya, "Dan, mau pergi lagi?" Saya cuman jawab singkat dengan kata Ho'oh dan frasa mau rapat. Mama sedikit mengeluh, "Yah, padahal sudah ta' beliin tahu campur." Saya merasa sedikit kasihan, senang, dan haru. Such a feeling.

Di sela-sela briefing, saya keluar, agak suntuk campur ngantuk campur lapeeer. Jadi saya dengan pede keluar sambil membawa kotak makan berisi gudheg itu. Saya berakhir duduk di serambi, menemani Pak Min, pesuruh tercinta di sekolah, sambil makan dan mengobrol. Dia bercerita tentang kerjaan, tentang sebulan tanpa rokok, tentang liburan kemarin di Pati, tentang pantai di Pati, tentang peyek jengking (don't ask me what it is). Hati saya bersyukur, haru, sedih, kagum, semangat. Such a feeling.

Selesei briefing, sementara rekan-rekan buru-buru pada pulang, saya melakukan beberapa hal: konfirmasi calon siswa yg dapet beasiswa ke ketua yayasan, rapiin barang-barang saya, beres-beres properti sekolah yang ditinggal di ruang itu, Semuanya berlalu dengan cepat, keburu-buru, dan sendiri kalau tidak akhirnya ditemani satu guru yang belum pulang. Saya cuma bingung, pengin duduk, merenung, atau ngelamun, heran, dan kecewa. Such a feeling.

Setelah sepuluh menit menembus angin malam yang bikin mata saya pedes gara-gara lensa yang sudah tidak bisa diajak kerja sama, saya sampe di rumah. Saya duduk, sambil sekilas nonton Take Celebrity Out yang ga mutu, dan cuma merasakan sesuatu, dan berpikir. Sambil bikin susu, plus ngehabisin bungkusan kecil susu jatah adik yang ga diminum, saya merasa dan berpikir. Sambil cuci muka, gosok gigi, cuci kaki, saya merasa dan berpikir. Dan sekarang, sambil ngetik lagi-lagi saya berpikir, sambil merasa, menyelidiki hati, dan menuangkan ini semua di postingan ini. Baru kali ini saya merasakan perasaan yang terakhir ini. Saya masih tidak tahu, perasaan apa ini sebenarnya. Aneh. Ya, aneh. Pertama kali. Such a feeling.

Perasaan saya hari ini = nano-nano. Manis asem asin. Tapi ada satu perasaan, yang terakhir, yang sampai sekarang masih belum bisa saya rasakan jelas. Indera perasa saya ini, not literally, masih belum bisa mengecap dengan benar. Perlu mengecap lagi. Entah karena saya tidak peka, atau ini rasa yang baru buat saya. Tapi for such a feeling, I really thank my Lord.

Terima kasih sudah membaca update blog ini yang saya sadari sangat absurd.

GBU

Monday, May 17, 2010

30 Random, Trivial Things about Dankuur

Inspired by my ex-superteacher @ UKSW, click here for her FB profile, or here to go to her blog.

Sebenernya beberapa sudah saya tulis, explicitly or implicitly, di dalem blog en tulisan2 saya. Beberapa pastinya temen2 yg deket tau. Yg belom tau? Well, moga2 makin nda bosen en takut deket sama saya... :D

1. Otak en badan saya sering nda sinkron. Paling parah: (a) sampah di tangan kanan, piring di tangan kiri, yg ta buang yg di tangan kiri, en (b) sampo dileletin di tangan, en dipake buat facial... >.<

2. Walau makin tua, saya masih suka berimajinasi. Saya masih sering berharap bahwa saya punya 'Pintu Kemana Saja' atau 'Kotak Andaikan.'

3. Dua hal pelarian saya adalah: tidur sepulas-pulasnya, dan mandi. Ini membantu saya menghilangkan stress.

4. Mimpi saya buat jadi Guru Sains SD en jadi penulis masi tetep ada sampe sekarang.

5. Waktu kecil saya paling parno kecoak; en sy dulu trauma dikunci di kamar mandi rumah emak yg sering bersliweran makhluk dari jaman prasejarah itu. Sekarang? Well, saya dah ga takut, asal tu makhluk ga terbang2.

6. Yg bikin saya takut sekarang, well, teman2 pasti sudah tau: katak en tokek. Oke, no comment please. Sudah terlalu banyak kejadian memalukan dengan dua binatang ini...

7. Dari lima indera yg saya punya, idung saya paling tajem. En saya paling peka nyium ini itu.

8. Saya orang yg pikirannya liar, apalagi kalo lagi down. Saya sering berpikir dan membayangkan kalo saya bunuh diri, pura-pura gila, melarikan diri, dan lainnya. Thanks buat no 2.

9. Saya orang yang realististis (kedengaran bertentangan dengan no. 2) untuk hal setan-persetanan. Saya nda percaya dengan keberadaan Mbak Kunti dan Mas Wewe. Pembicaraan tentang hal semacam ini kedengaran konyol, en saya paling doyan nakut2in temen yg percaya hal ginian.

10. Dulunya saya super penakut. Saya nda bisa tidur malem hari gara-gara nonton film Vampire (di RCTI) di siang bolong. Pernah kejadian malem hari jam 2 saya bangunin semua orang di rumah gara-gara saya denger suara-suara aneh yg ternyata tikus mainan besi tralis jendela. Ini bener-bener perubahan besar sampe ke no. 9.

11. Saya harus melepas kegemaran saya makan hamburger gara-gara saya jadi vegan. Walo sudah tidak nafsu liat daging, saya masih berharap junk food itu dibuat dan dijual versi vegannya.

12. I do hate farewell very much. Nda pernah ngarep en ga pernah mau mbayangin perpisahan, walo itu sama rival saya.

13. Waktu kecil saya ini super pemalu dan minderan. Saya inget saya bahkan nda berani tatap mata lawan bicara saya. Sekarang kalo liat orang seperti itu, saya paling gregetan.

14. Warna kesukaan saya berubah. Dari ungu (thanks saya sudah ga suka warna ini), jadi putih, hitam, hijau, plus sekarang lebih suka warna coklat dan skyblue.

15. Label 'ngirit' sudah nda sepenuhnya saya pake. Label 'pelit' masih bisa ditempel ke saya.

16. Saya sebenernya orang yang sangat berantakan. Try visiting my bedroom. Tapi kalo sudah niat rapi, saya rapi banget.

17. Saya seorang procrastinator, alias suka nunda pekerjaan. Makanya kalo ada pekerjaan saya selalu tanya, ‘Kapan deadline-nya?’

18. Dalam beberapa hal saya ini perfeksionis, tapi no. 16 bikin saya nda 100% perfeksionis. Thanks, God.

19. Kalo saya lagi duduk, en ga ada kerjaan, saya nda ngelamun, tapi mikir.

20. Saya paling suka tidur siang. Saya sempet tidur 6 jam di siang hari... XD

21. Saya paling bodo kalo disuruh milih, termasuk milih belanjaan en milih kado. Skill saya untuk hal ini parah.

22. Akhir-akhir ini saya menyadari bahwa saya jadi orang yg sangat moody, dan sedang perang lawan pembawaan ini.

23. Selama ini, saya pernah menang lima kompetisi: lomba mewarna TK (majalah), lomba melukis SD (lokal), lomba nyanyi SMP (tanding sama anak SD), try out UN SMP (lokal) en lomba menulis SMA (provinsi).

24. Walo keliatan kaku en alim, saya paling doyan ngisengin en ngejailin temen.

25. Saya suka ngobrol sama diri saya sendiri, apalagi kalo lagi naek motor sendirian. Oke, saya tidak gila. Itu cara saya buat latihan berbicara en introspeksi diri.

26. Otak saya paling parah kalo disuruh ngehapal or inget2 sesuatu, apalagi yg nda menarik buat saya. Kejadian paling parah adalah kemaren Sabtu, saya sampe lima kali tanya tanggal berapa, en temen di sebelah saya sampe jengkel.

27. Kalo ditawarin beasiswa cuma2 buat kuliah lagi, saya bakal tertarik buat milih: Biologi, Psikologi (or Konseling), atau Linguistik... :D

28. Sekarang ini saya lagi doyan buat ngonsep en nulis naskah drama or cerita, tapi kesulitan buat menuliskan.

29. Dengerin beberapa lagu mellow yg inspirasional bisa bikin saya nangis. Saya sering nangis sendiri di dalem bis.

30. Sebenernya saya orang yg tertutup, tapi Facebook, en internet, mulai bikin saya agak extrovert.


Well, masih banyak sih, tapi nulis 30 saja udah susah minta ampun, takut ntar mbosenin mbaca cuman Dankuur wae. Lah yo emang tentang Dankuur kok ya? Hehehe.

Eniwe, saya berharap lima, sepuluh, or seperempat abad lagi, tulisan ini masi ada, en saya bisa compare myself at that time then.... :D

Start writing yours, pals!

GBU!

Visit my blog, yah!

Wednesday, April 28, 2010

Dan's Family Traits

Loha.

First of all, sebelum berangkat kuliah (sekarang saya lagi menikmati presentasi TAS BK; saya multitasking, jadi bisa mendengar sambil jemari ini menari di atas tuts keyboard), saya menikmati sekitar 10 menit berdiri di depan temuan teknologi paling berpengaruh sepanjang masa: CERMIN. Selama waktu itu saya menemukan lebih banyak uban *phew* dan ingat ikrar saya dulu: 'Kalo uban memang sudah masanya keluar, biarlah saya besok highlight ini rambut dengan putih saja, biar rambut hitam yang lain tidak iri menjadi putih.'

Oke, kalo pernah baca posting yang ini, pastinya tau kalo hari Minggu adalah (harusnya jadi) hari kesayangan keluarga. Dan yg saya paling suka adalah kesunyian di Minggu siang kalo saya lagi terkapar dengan indah di kamar papa, en Nico di kasurnya, Papa di sofa dalem depan TV, en mama membujur di sofa luar. Hm. Benar-benar keluarga yg kompak. Ini turunan ato tularan ya?

Saya pernah mikir saya ini beneran anak papa-mama saya or ga ya? Karena beberapa sifat kok diluar yang seharusnya diturunkan dari mereka. Ato karena ada mutasi gen yg bikin saya jadi 'aneh' dengan beberapa sifat di luar sifat ortu saya ya? Jangan2 dulu saya ditinggal sama Superman gara2 dia terlalu sibuk memberantas kejahatan, jadi takut saya ga keurus lalu ditinggal di luar rumah saya. Hmmm... Bisa jadi.

Hm. Kalo yg kenal papa saya, pasti bakal komen, 'Dan, Papamu "gaul", ya?' or 'Papamu lucu ya,' ato lagi, 'Papamu ramah ya.' Satu rekan saya pernah bilang, yg bikin saya mikir kemudian, 'Kamu kok beda sama papamu ya, dia bisa lucu konyol begitu, kok kamu kaku.' Itu sekitar tiga-empat tahun lalu. Sekarang? Masih sih.

Waktu dulu saya pertama pake kacamata, jaman2 SMP, banyak yang kemudian bilang, 'Wah, Daniel sekarang mirip sama Papa. Pake kacamata.' Cuma mirip gara2 kacamata, padahal saya ini lebih mirip mama saya. Pernah shock waktu buka2 foto lama, loh kok saya ada disana, en ternyata itu adalah mama saya. Dan sekarang, kalo liat adik saya, bakal makin keliatan si Nico mirip papa waktu jaman masi bujang en kurus dulu. Lucu liat foto papa waktu masi kerja di jakarta. Hihihi.

Eniwe, lepas dari masalah fisik, saya ini mirip mama-papa saya or campuran keduanya. Sifat keras saya dituruni dari papa. Sifat rajin saya, puji Tuhan, dapet dari kombinasi keduanya: papa itu telaten en bertanggung jawab, mama itu niat (kalo malesnya lagi ga kumat). Masalah ngeyel (plus pemberontak) saya di dapet dari mama, tapi dikasi sifat sabar mendengar dari papa; kombinasi yang keren. Smart-nya saya, ehem, nular dari papa; ngakak waktu liat rapor mama waktu kecil, peace, Ma. Hehehe.

Nah yang kadang bikin bingung adalah faktor-faktor berikut ini: artistik en musikal (papa-mama ga ada bakat sama sekali, en saya sudah wanti-wanti dengan keras papa dilarang nyanyi kalo lagi tugas di belakang mimbar majelis; sementara mama cuma hobby humming). Gila belajar en maniak buku: dari mana ya? Saya cuma liat papa-mama suka ngisi TTS, tapi ga sering baca. NARSIS, nah ini yg parah, karena papa-mama sama2 pemalu. Hmmm...

Nah. Melihat analisa saya, saya jadi bingung untuk bagian2 terakhir itu. Jangan2 hipotesa bahwa saya anak Superman, ataupun Suparman emang benar. Ato emang ada mutasi pewarisan sifat? Ato karena pengaruh pergaulan dan lingkungan sekitar saya? Saya rasa alasan terakhir lebih masuk akal dan bisa diterima.

Eniwe, bicara tentang pewarisan sifat dari orang tua ke anak, memang ini sangat menarik, dan melebihi masalah pewarisan genetis warna mata lalat buah. Ini pun seharusnya berlaku untuk kita yang sudah Lahir Baru, en jadi bagian dari Keluarga yang baru. Kita punya Bapa dengan Karakter-Nya yang pastinya diwariskan juga ke anak-anak-Nya. Tapi selama ini kalo memang bener2 kita ini anak-Nya, kenapa kita tidak menunjukkan sifat-sifat itu ya? Apakah gara2 kita lupa siapa Bapa kita, ato gara2 alasan saya punya sifat yang berbeda tadi: lingkungan, tempat tinggal temporary sekarang ini, ataukah jangan-jangan ini kita pura-pura (atau malahan bukan) anak Bapa?

Walo saya bukan ato belom jadi seorang ayah/bapak (dan ngarep untuk jadi bapak yg bisa gendong anak bayinya), tapi saya tau bahwa maunya orang tua (yg bener dan yg 'waras') cuma satu dan nda neko2: bawa nama baik keluarga. Selama ini kan selalu kalo ada kasus jelek dari seorang anak, pasti langsung muncul komentar, 'Oh, si X to? Anaknya si Anu ta?' Saya terus pengin menekankan hal ini dalam hidup: bawa nama baik keluarga (baca: orang tua). Kayaknya ini juga berlaku buat nama Bapa deh. Kita ini kan anak-anak-Nya? So, apa orang lain juga kenal siapa Bapa kita? Ini PR (benar-benar pekerjaan 'rumah' kalo kita tinggal di 'rumah' kita sementara ini) buat saya juga.

GB

PS: Sebenarnya ini topik sudah lama saya pengin tulis, en saya inget gara2 liat note di HP saya, topik2 yg belom terwujud dan tertulis, dan hari ini sebenernya saya pengin nulis topik yg laen yg masi hot buat saya. Tapi entah kenapa jadi blur ide-nya.... Hmpf.

Friday, April 23, 2010

Dan revisits Juliet's question

What's in a name? That which we call a rose,
By any other name would smell as sweet
;
--Juliet, Romeo and Juliet, Scene II


Itu di atas adalah quote dari Neng Juleha, eh Juliet buat Romeo. Apa artinya sebuah nama? Seberapa penting sih, en mungkin juga ga banyak dipermasalahin. Ngapain juga kudu mikir nama, at least sebelum saya punya anak en mau ikut-ikutan tren westernisasi nama plus lomba panjang-panjangan nama biar anak saya besok kerepotan kalo disuruh ngurus ijasah.

Nama lengkap saya adalah Daniel Kurniawan; kalau mau lebih keren, tambahin deh Michael di depannya, tapi ini bukan sekedar ornamen nama biar sound cool (padahal yo tetep wae ga' cool). Saya bersyukur punya nama Daniel, walo dibilang pasaran. Sudah dari kecil saya mencari tau arti nama itu, dan menemukan makna 'Tuhan adalah hakimku.' Wow! Kurniawan? Penuh karunia dong. Bagaimana dengan nama baptis saya: Michael? 'Serupa dengan Allah' Wow! Tapi nama Michael sempet diprotes sama mama gara2 repeating rhyme: michaEL daniEL. Saya cuma sepakat (baca: maksa) sama adik biar nama baptisnya nama archangel, en alhasil nama baptis adik saya Raphael, instead of Gabriel. Nama belakang saya Kurniawan itu bukan nama keluarga, tapi kemudian dipaksain jadi nama belakang setelah adik saya lahir dengan embel2 nama itu, en saya masi inget waktu itu saya ngeyel nolak nama 'Lukas' buat adik saya gara-gara telinga saya soak en menangkap nama keren itu jadi 'Lunas'. Akhirnya adik saya berakhir dengan nama Nico, padahal kalo pake Lukas juga keren, en mungkin sekarang sudah terkenal dengan panggilan Luluk atau Kulkas atau Kaka.

Eniwe, pertanyaan Juliet di atas pernah saya bahas di paper CCU waktu kuliah, en topik saya buat thesis dulu juga terjemahan nama Donald Duck. Saya seneng banget kalo disuruh analisa nama. Menarik dan banyak yang dipelajari. Menggali etimologi sebuah nama, atau kata, itu menarik buat saya.

Banyak orang Indonesia kasih nama ke anak sesuai dengan keadaan waktu dia dilahirkan: Gerhana, Suprihatin, Anugrah. Beberapa nama lain memiliki harapan dalam nama itu. Hartawan, biar dapet banyak harta. Setiawati, biar terus setia. Guntur, biar bisa mengguncang dunia. Cantika, biar anaknya cantik. Paiman, biar ahli bikin kue pai. Biar bau kaya bunga dikasi nama Rosman. Karena ngefans dikasi nama Suparman. Oke kidding.

Di bahasa Inggris nama bisa berarti banyak. Yang jelas di belakang ada nama keluarga, yang maknanya juga beragam, entah itu pekerjaan (Smith, Cook, Carpenter), nama daerah (Washington, London), karakteristik (Brown, Whitehead, Long), dan tempat-tempat dimana mereka lahir (Wood, Hill, Cliff). Nama depan John, James, Jack, Joseph, Michael (doh!), Daniel (doh!) katanya paling populer (baca: pasaran) di sono.

Budaya China lebih kaya lagi dengan urusan nama (dan sadly, my soft copy of the paper has gone with the wind... T_T). Ada yang menunjukkan karakter, ada yang menceritakan asal-usul kelahiran, ada yang menunjukkan takhta, ada yang kasi tau pekerjaan juga, dll. Malahan ada yang sengaja diberi nama jelek supaya Raja Neraka tidak nyulik itu anak.

Ada orang (baca: artis) ganti nama biar jadi keren en lebih populer. Siapa kenal si gadis desa sebelum berubah jadi Inul Daratista? Ato siapa yang kenal Dorce Gamalama sebelum dia pake nama itu (ini mah karena kasus khusus juga)? Bagaimana dengan Mulan Jameela?

Beberapa orang sedih kalo ingat namanya. Bagi mereka nama pemberian orang tua yang harusnya disyukuri dianggep ndeso, kampungan, atau doesn't sound cool. Ingat, lagi-lagi ini karena pengaruh westernisasi nama itu. Kenapa saya dikasi nama Painem, Paijo, Kartini, Budi, Suratman, Wagiyo, Timbul, Tukul, Iyem bukannya Jetro, Caroline, Rose, Miracle, Joy, ataupun yang lebih keren sedikit lainnya?

Ada nama yang bisa bikin orang keder kalo denger. Tentu saja nama pimpinan yang sudah langsung dapet makna dan efek tersembunyi tadi: takut, segan, respect, dll. Atau sebaliknya, gara-gara orang lain dengan nama sama bikin ulah jelek, or kedapetan psikopat, or kena kasus kriminal, orang penyandang nama itu jadi risih dengan namanya. Nama Suharto masih dikeramatkan, en banyak Bapak Suharto juga kena akibatnya. Sumanto si Kanibal itu bikin abang-abang dengan nama Sumanto jadi malu.

Sementara ada yang suka dengan namanya or ada yang benci dengan namanya sampe kudu ngganti (kasus ini ga berlaku buat papa saya yang ganti nama dari Didik jadi Iwan), beberapa kelompok orang yang lain masi bingung dengan arti namanya. Beberapa nama keliatannya nda punya makna, contohnya (tanpa maksud menghina apapun) Veni, Adi, Ani, Nina, Lia, Lina, dll...

Eniwe, apakah ada Nama yang bisa bikin kita tentrem kalo dengar Nama itu? Apakah ada Nama yang bisa meyakinkan kita bahwa ada Seseorang yang selalu menemani kita? Apakah ada Nama yang bisa bikin segala kuasa dan power tunduk dan mengalahkan segala nama presiden sekalipun? Apakah ada Nama yang bikin kita tenang karena kita bisa memastikan hidup kita dijaga dan di'aman'kan? Adakah Nama yang bisa kita panggil ketika kita ingin berkeluh kesah, mengaduh, bercerita, sharing, tertawa, bercanda, meluapkan segala perasaan dan emosi kita?

Ada.

GB

Sunday, April 18, 2010

Dan, Mockery, and Swear Words

[This is my first time posting blog in my FB note first, and then copying-and-pasting it here... Hmm... Why?]

Hai.

Dulu saya pernah mikir, seperti kebanyakan orang mikir, kenapa acara EMPAT MATA yg dibawain Mas Tukul bisa laris. Banyak alesan, entah itu tim kreatif, entah itu topik, entah itu bintang tamu, tapi yg jelas, salah satu alesan, en yg saya setuju adalah konsep 'buka-bukaan' en 'clemongan' yg ada di talkshow itu. Tukul dengan pasrahnya nerimo dihina, diejek, dll. Jadi yg dieksploit adalah yg jelek2 dari si host, kemudian itu jadi salah satu nilai jualnya.

Pernah saya ngobrolin itu dengan temen, en membahas bagaimana bisa dengan santai dan malah sudah biasa kemudian si penonton, rekan, malahan tukul sendiri menikmati timpal2an saling hina en, hm, melecehkan. Pernah sih ada kotbah yg bilang kenapa justru malah itu yg jadi nilai jual, bukannya kita ini dicipta spesial, bukan malah kemudian mengorek en saling menghina kelemahan orang laen. Dan sedikit banyak saya setuju dengan pertanyaan ini.

Akhir-akhir ini saya merasa sedikit risih dengan 'kebiasaan' yg terjadi di komunitas terdekat saya yg saya bener2 sayangi, gereja. Entah kenapa mulai banyak en beredar ejekan atau umpatan yang intinya pake kata-kata yang buat saya agak melecehkan buat kelompok laen, atau yg memang merendahkan orang laen. Memang bukan kata kasar dan preman seperti binatang kaki empat atau kaki banyak lainnya, tapi ini lebih ke keadaan tubuh, dan dua yang paling tren dan dianggep keren di komunitas ini adalah: ca*ca* dan cu*l.

Sempet juga kemaren bener2 risih waktu kemudian lagi kita ngobrol temen2 mulai pake kata2 macam itu, saling ejek kebodohan en kedodolan satu sama laen; dan berakhir dengan saya menyingkir aja, karena telinga ini agak terganggu. Bukannya saya sok suci atau gimana, saya sendiri introspeksi, jangan2 saya selama ini juga sering pake kata2 macem itu. Saya sih, kalo yg deket dengan saya pasti tau, kalo sering pake kata 'dodol' (dodol agak enak dimaem en saya suka makanan ini, pembelaan :P), atau yg lebih kasar memang, saya akui, sering ngucapin go*bl*k. Tapi untuk yg kedua pun saya agak milih2 orang, kalo belom kenal baek ga bakal berani ngomong gitu, apalagi sama murid, bisa kasar minta ampun. Dan saya sadar ini sudah jadi 'penyakit', kadang kalo sudah ngomong go*bl*k tadi, en saya sadar, saya cuman bisa diem.

Saya ga tahu en ga mau nuduh sapa yang mulai, nda penting. Yang jelas kalo memang kita menyadari orang laen itu juga sama2 ciptaan Tuhan yg nyatanya dikasi something yg spesial, kenapa kita justru kudu malah bangga dengan saling mengejek en menghina pake perkataan macam itu. Apalagi kalo kemudian memang ada orang2 di sekitar kita yg ternyata beneran cacat, maaf, entah itu fisik maupun mental, gimana kalo sampe mereka malah tersinggung dan nyata2 nda terberkati dengan ucapan macam itu, walo jelas nda mungkin kita sengaja ngomong dengan maksud yg sama.

Ini jadi perenungan en pemikiran yg cukup dalem buat saya, seperti biasa sebagai seorang analis yang melankolis en perfeksionis yg selalu sibuk dengan pemikirannya sendiri (oke, nda begitu nyambung). Jangan2 saya selama ini juga sudah sedikit banyak ngajarin yg jelek. Jangan2 saya juga ikut2an dengan bangga pake ejekan macam itu. Ato jangan2 hal2 semacam ini juga karena yg yunior nyonto yg senior (en yg saya maksud dengan yunior en senior bukan masalah keahlian tapi lebih ke umur). Jangan2 memang ini sudah kebiasaan yang diterima sebagian member di komunitas ini, dan saya termasuk outlier yang dianggep malah aneh, dan terlalu serius juga mbahas en mempermasalahkan hal semacam ini. Jangan2 kita sudah terlalu biasa dan nda menganggap ini hal yang tidak baek; sesuatu yg fine-fine aja (but at least sudah ada seorang teman saya merasakan hal yang sama bahwa ini nda beres en nda bener).

Eniwei, nambahin seperti judul post ini, saya juga cuman mau ngingetin buat temen2 yg sudah latah pake kata 'Ya, Tuhan,' or 'Ya, Yesusku,' kalo ngumpat, or kalo kaget, gampangnya. Kasian banget nama Tuhan disebut2 buat hal-hal semacem itu. Nama itu jauh lebih berharga en layak buat dikasi en jadi alamat untuk hal-hal positif yang lebih mulia. Saya sendiri juga menyadari sering pake kata 'Ya oloh,' dan tanpa maksud menjelekkan kelompok mana pun, saya menyadari saya sudah latah dengan kata itu... :( Paling2 juga kalo ga pake frasa itu, saya pake 'What the...' (beneran kosong, tanpa tambahan apa2, entah F-word ataupun H*ll) yg diucapin kalo saya lagi kaget, kagum, or bingung...

Yah, saya sadar memang saya orang yang terlalu serius, dan mungkin juga ini sebener'e nda terlalu penting buat dibahas. Tapi saya rindu kalo memang ada orang laen, or orang baru, di luar komunitas ini mereka bisa denger yg lebih baek, bukannya malah menilai, 'Oh, gini to anak-anak GKI Pajajaran jaman sekarang tu ne ngomong....' Jangan sampe, lah. Entah saya ini sedang menegur atau gimana, saya cuma inget sms tadi siang yang bilang kalo kita peduli juga kudu menegur kalo orang yg kita kasihi salah. Saya juga perlu ditegur, dan saya bakal seneng menerima teguran itu kalo memang saya salah.

GBU guys.

[as always, comments, inputs, and critiques are welcomed]

Tuesday, April 6, 2010

Dan's best friend's thought: Up-and-Down

When I am down and oh, my soul so weary...
You raise me up so I can stand on mountain.
So, this is another quick post, before I continue working on my unfinished paper.

Saya mengingat perkataan sahabat saya, entah kapan, berbulan-bulan yang lalu waktu saya masi bisa menikmati masa-masa bebas saya setiap malem. Dia ngomong, kira-kira begini...
"(Dan)Kur, ne kamu pas down, aku pas up. Ne aku pas up, kamu pas down. Hehe, lucu ya..."
Oke, jangan mikir macem2. Up-Down disitu adalah mood kami. Persis di lagu 'You Raise Me Up'.

Entah kenapa, kata2 itu terus teringat, or kadang teringat lagi, apalagi kalo memang pas down, en teringat juga pas lagi seneng. How much have I shared my joy, embracing and encouraging others, apalagi kalo mereka lagi down? Dan sebaliknya, walo ga ngarep, how far have I told my best friends honestly when I'm down...?

Perkataan simpel itu sebenarnya memang jadi hal yg begitu mendalam saya pikirkan, dan seperti yang biasanya hal-hal kecil bisa jadi perkara yg sangat besar buat otak saya... Such a serious person like me. Bukannya itu tujuan hidup kita; after all, we don't live alone. We live so that we can help each other.

Kadang masi sadar, bahwa sebagai sahabat masi belom berani untuk berkata jujur, or belom bisa memberikan waktu banyak, or belom mau mendengarkan dengan seksama (sementara di dalem pikiran saya, judgement dan prejudice ambil peran dan berkeliaran). Tapi saya bersyukur kalo saya ditempatkan di antara banyak teman, or sahabat, yang boleh saya mengerti dan mengerti saya.

Kalo ada alasan penting lain kenapa saya bersyukur menjadi diri saya, ya, karena saya punya sahabat-sahabat itu. Yang baik Up maupun Down, saya pengin bisa menghabiskan waktu bersama mereka, kalo saja tugas-tugas ini tidak terlalu banyak menyita waktu saya.... Hahahaha.

GB!

Saturday, April 3, 2010

Dan witnesses the awesome creation

Halo. As usual, FB user, please click here.

This is just a quick post, mencoba mengubah kebiasaan menulis panjang dengan postingan pendek tapi lebih sering aja. Kenapa? Karena otak ini selalu berisi banyak hal, dan saya rasa mubazir kalo tidak di-share-kan dengan teman-teman. Sapa tau saya bisa meracuni pikiran Anda... :D

Eniwe, saya akhir2 ini semakin menikmati perjalanan commuting saya, bolak-balik salatiga-magelang, apalagi kalo naek motor, lewat kopeng. Plus kalo nda ujan :D or ujan siang hari, boleh lah, asal jangan pas malem, hehehe. Tapi malem juga keren kok, btw.

Saya selalu takjub dengan yg namanya Nature. Alam. Semesta. Mungkin cuma bagian kecil alam yg saya liat. Jajaran gunung, hutan hijau, biru langit, kadang semburat kuning di sore hari. Dan itu cuman di kompleks besar Magelang-Kopeng-Salatiga. Mungkin saya bakal lebih takjub en nda berhenti melongo kalo saya pergi ke New Zealand, or ke Fuji @ Japan, or Ayer Rocks @ Aussie, Niagara @ USetc. Tapi saya bersyukur dengan hal-hal semacam itu saya bisa makin meyakini bahwa ada Pribadi yang Mencipta. Ada Someone behind all those things, or behind the life itself.

Jujur, sudah tiga bulanan hidup rohani saya ampang. Nda ada yg 'ngisi' sama sekali. Saya memulai hari dengan doa. Tapi saya kosong sama sekali buat SaTe. Tapi dua hal, yg saya syukuri, tetap mengingatkan bahwa Dia memelihara hidup saya: Nature dan Musik. Saya masih merinding, dan selalu spontan berkata 'Puji Tuhan' (setelah saya takjub en nyeletuk.. 'What the...') Buat yg kedua, honestly saya selalu merinding en, ehm, agak basah ini mata setiap kali saya denger lagu 'When I Survey the Wondrous Cross'.

Tiap orang punya pengalaman sendiri2 buat ngerasain en ngeyakini bahwa ada si Dia. Ada yg bisa menyaksikan kehadirannya lewat kegiatan sehari2, kaya Brother Lawrence. Ada yg lewat pengalaman spektakuler en bombastis baru percaya. Ada yg dibantu musik. Ada yg memang menghayati hidup spiritual. Ada yg dikuatkan dengan kesaksian orang lain. Ada yg menyaksikan kebesarannya lewat alam, and that's me.

Saya tahu, bahwa saya salah en kudu 'balik'; dan saya sendiri masih merindukan saat saya ngobrol pribadi dengan Dia (baca: SaTe) walo saya sering, atau selalu juga, continuously speak and wonder what would He do, if I were Him, terutama di perjalanan dan di balik kaca jendela bis yang suram itu.

GB

Friday, March 19, 2010

Daniel belajar Ber-Toleransi

[Kalo Anda buka dari FB, apalagi kalo lagi buka pake kompie, please dengan sangat, klik disini untuk masuk ke blog saya...]

Aloha!

Saya mulai menikmati kembali journey saya sebagai seorang commuter Magelang-Salatiga, apalagi dengan adanya hape+headset yg membuat saya menikmati masa2 ngelamun sambil humming di dalem bis, di balik lapisan kaca jendela itu yg kemudian bikin saya pura-pura ga denger genjrengan fales dari para pengamen bis... :) Kadang, kalo pulang agak sore (ngebisnya cuman dua kali seminggu, PP, Rabu-Kamis, normalnya pulang jm 8 or 9 sampe magelang), resikonya kudu olah raga: berdiri satu jam dari Bawen ke Salatiga...

Perjalanan commuting ini selalu saja menyenangkan dan 'berwarna-warni' or istilah kerennya: kolorpul.... Berwarna-warni karena: saya bikin populasi dalam bis itu belang, putih sendiri, kemudian warna-warni bau yang semerbak mewangi bak bidadari dari langit tinggi turun ke bumi belum mandi tujuh puluh satu hari... Bayangin: pulang jm7 malem, di dalem bis desak2an dengan puluhan orang yg nasibnya sama: belom mandi dari terakhir mandi pagi, dua kali makan, plus makan snack yg nda jelas. Kadang barang bawaan para penumpang (seperti karung besar, ayam yang berkotek ga jelas, atau kadang potongan mayat :D ) yg ga jelas makin menghias kebinekaan aroma dalem bis. Mantap. (Nikmat, kan, apalagi kalo Anda lagi makan sambil baca blog ini...). Itulah sebabnya saya selalu sedia Fish****n, permen yg bikin plong, en at least aromanya muter2 di mulut en tenggorokan... :P

Muka saya kadang diamati dan jadi objek penelitian singkat di dalem bis. Pria kulit putih cerah, muka ga jelas, pake headset, dengan backpack melembung agak besar yg bikin dirinya kaya kura-kura kebakar matahari. Beberapa kernet bis sudah mulai hapal wajah saya. Terakhir kemaren saya disapa, 'Eh, mas, ayo, kok pulang gasik.' Padahal saya sendiri lupa ini bis yang mana. Kadang saya bersyukur en seneng ketemu beberapa penumpang yang dengan ramahnya menyapa saya dan mengajak ngobrol, walo sekedar, 'Mau kemana, Mas?' Yang parah kalo udah ketemu pengamen. Waduh. Saya heran kok sekarang pengamen mayoritas suka nodong ya, apalagi yg di daerah ambarawa-bawen. 'Om, minta duitnya....' OM DARI HONGKONG!

Eniwe, kemaren rabu saya pulang awal, thanks to Pak Bambang yg ternyata Kamis juga meliburkan kelasnya lagi (padahal saya suka dengan kuliah Teknologi Pembelajaran-nya) dan akhirnya saya kudu pulang jm5 dari salatiga. Seperti yg sudah saya prediksi, jam segitu adalah jam pulang karyawan pabrik, so nasib saya berakhir dengan berdiri dengan pose yang tidak pantas di pandang di bagian depan bis tepat di belakang kaca depan, desak-desakkan dengan beberapa penumpang laen.

Nah, coba bayangkan. Tangan kiri pegang pole, tiang besi, di deket pintu depan bis, tangan kanan memegang erat plang besi yang melintang horisontal di depan kaca. Karena saya lagi bawa laptop, so saya menolak waktu pak Kernet nawarin mindah backpack saya ke depan, dashboard. Backpack saya taruh di depan dada saya, karena kalo ditaruh di belakang tar bisa bikin kepala penumpang di belakang saya penyok kehilangan hidung. Nah ini jadi masalah. Saya sadar kalo penumpang di belakang saya agak risih saya kasi pantat, tapi kenyataannya sudah tidak ada lagi space buat saya gerak en pindah.

Sementara itu, orang di depan saya ga mau ngalah buat agak maju sedikit, padahal saya sudah nda bisa mundur. Dia mendesak mundur, en bersandar dengan enaknya di tiang besi sebelah kiri saya. Pernah sekali, dia bersin dengan keras, en tangannya megang plang besi di depan, kontan saya langsung jijik, dan saya ga sadar kalo saya menyuarakan, 'Iiiih....' pelan sambil memindahkan tangan saya dari plang itu. Kontan dia langsung balik kepala, en saya pura2 bloon ga ngeliat dia.

Waktu beberapa orang di lorong bis itu sudah mulai turun, dengan perjuangan hebat saya harus maju mundur sedikit, menyesuakan posisi berdiri dan kaki yang makin susah menginjak lantai bis, dan kadang diinjak-injak penumpang yg mau turun, saya dipaksa mundur. Anehnya, saya tidak dikasi tempat buat lewat, jalan mundur. Orang di belakang saya, seorang ibu yang mukanya ga begitu jelas, dan saya malah meragukan apakah dia ini manusia or ngga, tidak bergeming sedikit pun ketika orang-orang lewat. Saya waktu mau lewat ternyata ga dikasi celah, so saya agak kesusahan buat ngangkat backpack, en ga jadi deh mundur. Di tambah lagi seorang ibu dengan ukuran plus memalangkan kakinya yang saya lihat ga begitu jelas jelas pahanya lebih gedhe dari pipa pralon talang air di belakang rumah. Dan posisi kaki itu sukses menolak kehadiran saya.

Hal ini belom lagi ditambah dengan penumpang yang suka ngerokok dengan serampangan dan bergaya sok hebat dan cool dengan menyemburkan asap bedebah-nya... Haduh, yang ini saya nda tanggung-tanggung buat sengaja pura-pura batuk. Beberapa sadar, banyak yg tetep dengan bodoh mengurangi life-span-nya.... :P

Saya selalu berpikir ketika agak jengkel kenapa mereka nda mau ngalah. Kenapa mereka nda mikirin orang lain. Kenapa mereka cuman pengin enak sendiri. Mungkin mereka kesal, tapi saya juga lagi capek. Kita sama-sama capek, jadi kenapa tidak saling memahami dan mengerti? Kadang ketika berpikir gitu, selalu sisi Dankur yang lain bilang, 'Jangan-jangan dirimu yang tidak mencoba memahami mereka? Jangan-jangan memang kamu yang pengin enaknya doang?' Kadang yang namanya toleransi terus dilupakan, apalagi ketika sudah mulai memikirkan enaknya diri sendiri. Saya nda peduli dengan dia, itu urusan dia, itu masalahnya dia. Saya juga punya masalah sendiri, jadi urus saja masalahmu sendiri. Makan tu penderitaanmu.

Menjadi seorang guru pun, saya ditantang untuk bertoleransi. Akhir-akhir ini, saya diajak berpikir ketika saya marah dengan tidak bertanggung jawab gara-gara kebawa emosi, walau frekuensi dan intensi marah saya sudah berbeda. Saya ingin menegakkan disiplin, tapi kadang mungkin saya jadi lupa membuka pikiran saya lebih luas. Jangan-jangan memang murid ini ga bawa pe-er karena kemaren dia terlalu sibuk mengurusi pemakaman anjingnya. Jangan-jangan dia terlambat karena memang tadi pagi dia bantu ngurusin adiknya sementara ibunya terbaring sakit di kamar reyotnya. Jangan-jangan dia hari ini ga' pake seragam karena seragam lamanya sudah sesak dan dia belum bisa beli yang baru sementara membayar uang ujian saya harus hutang sana-sini. Jangan-jangan...

Tapi saya juga harus adil dan cerdik. Toleransi, dan kalo saya linient, bukan berarti kemudian orang lain bisa seenaknya sendiri dan memanfaatkan 'kelemahlembutan' dan 'simpati' saya itu. Bukan berarti orang lain juga seenaknya sendiri menuntut perhatian dan perlakuan dari kita atas nama toleransi yang ngawur. Toleransi akarnya pada penghargaan dan perhatian. Menghargai bagaimana orang lain melihat, merasa, berpikir. Kita perlu mengerti dan menggali lebih dalam lebih dulu apa, mengapa dan bagaimana mereka bisa sedemikian itu. Ada batasnya juga ketika keadilan dan kepatuhan hukum kemudian tidak mengijinkan toleransi ataupun permisi semacamnya.

Hm. Saya selalu belajar banyak dan mendapat banyak dari pengalaman melaju saya. Empat jam dalam dua hari setiap minggunya saya lewatkan dengan duduk tidak nyaman di bangku yang kadang sudah jebol dan busanya menongol sana-sini dengan tidak layaknya. Saya memandang keluar menembus kaca jendela bis yang buram dengan debu yang jarang sekali dibersihkan kecuali diguyur hujan. Saya merenung, saya mendengar, saya mengamati, dan saya melihat. Itu juga kalau saya tidak terlelap dengan tidak sopannya karena kadang mulut eksotis saya terbuka sambil kepala terkulai ke belakang ditelan rasa capek. [^_^]

Aloha!
GB

Sunday, March 14, 2010

Dan's Sorrowful Tragedy

[Buat para pembaca dari FB, apalagi kalo baca di PC, please click here ke blog saya...]

Hai.

Do I love Monday? Well. It depends.

Anyway, Minggu kemaren ini adalah hari terkonyol dan hari paling menyedihkan di sepanjang sejarah kehidupan saya selama ini (setelah hari jatuhnya mama+adik ke selokan, hari hilangnya HP, dan dua hari lainnya dimana saya menolak keputusan dan tawaran yang luar biasa menggiurkan).

So, kronologis singkatnya: saya beli modem im2 di hari Rabu - modem sering error gara2 Generic Host Win32 - saya pengin instal ulang XP - saya dibujuk2i pindah se7en - saya nda mudheng instal se7en - eventually, ada kebodohan super sehingga data saya yang sangat mulia berharga dan tidak tertandingi (oke, lebay. I admit it) hilang karena format drive yang tidak jelas.

Jadi saya waktu rencana mau mempartisi drive C dan D, yg isinya sistem en program, karena C-nya terlalu sedikit untuk Windows Se7en. En, ga tau kenapa karena saya ingat bener saya itu cuma format en delete C and D. Kok waktu ganti CD XP (karena se7en-nya waktu itu error gara2 drive D udah ke delete en mau dipartisi ulang ga mau), tiba-tiba udah hilang itu drive yang laennya.

Amblas deh 20GB hasil download-an saya yg isinya teaching resources. Semua buku2, pdf, gambar, dll hasil kerja keras nyomot sana-sini (tanpa digunakan untuk keperluan komersil) hilang. Semua koleksi desain en contoh grafis lenyap. Semua dokumen kerja en portofolio juga hilang, including dokumen administrasi ngajar, notula rapat gereja en sekolah, semua materi hasil karya saya buat ngajar, semua tulisan-tulisan saya, en semua hasil kerja desain saya juga lenyap... Ada beberapa yg in fact masih 50% kudu segera diselesaiin.

Siang itu, seperti biasa kalo saya lagi stress, agak down. Nda tau kenapa biasane nangis tapi kemaren cuma bisa diem. Ada waktu kira-kira 30 menit diriku cuman duduk, di depan laptop yg mati. Nda mikir apa-apa. Bingung. Itu jam setengah 11, jam11 saya kudu ke gereja. Dan saya lagi error.

Thanks to Mr. Willi, yg dengan usul GetBack bisa retrieve beberapa file, dan anehnya kok file My Document sama sekali tidak terdeteksi. Yg bisa diselametin malah yg master software... Sekarang, diriku masih menyesali begitu banyaknya dokumen yg ilang. Waktu tadi malem diriku sms sohibku nun jauh disana, en I know she could understand my feeling, karena yg saya tonjolin itu ilangnya plus-minus 20GB teaching materials hasil donlod. Buat saya itu yg paling berharga... Well, thanks ya, pal for your sympathy.

Sekarang saya agak bingung juga. Saya sudah susun rencana besar untuk memulai petualangan baru dengan my laptop, berburu di belantara Internet yang begitu maha luas dan selalu menyesatkan. Saya sudah menyiapkan persenjataan buat berburu file donlod-an. Yang jelas akan ada banyak yg perlu saya donlod, dan nda tau makan waktu berapa lama...

Eniwe, kalo saya terus meratapi yg kemaren2, saya nda bakal maju, cuman sedih aja. Saya nda bisa kemudian kerja, en saya jadi BUDAK TEKNOLOGI. No! Saya masih bisa kerja dengan yang lainnya. Saya kemaren juga waktu tau ada latian jm11, saya sempet mikir, 'Ah, batalin aja. Sini lagi sedih en bingung. Mereka juga pasti tau.' Tapi saya sadar itu bakal jadi hal yang soooo selfish. Saya sorenya kudu ikut latian fragmen, en saya menyadari bahwa saya belom selesein itu naskah fragmen. Saya bisa saya jadi males en egois en nda bertanggung jawab en pake2 alesan ini itu, termasuk alesan tragedi laptop ini, buat ngesampingin tugas saya... Hm. Saya milih tidak seperti itu, meskipun pada akhirnya saya juga belom 100% nyelesein naskah.

Meratapi masa lalu bukan hal yang baik. Ketika masa lalu terus menerus nyeret kita en jadi trauma or masa kelam yg meneror masa sekarang en masa depan, itu bahaya. Banyak orang yg terlalu paranoid karena pengalaman pahit masa lalunya. Saya punya trauma di masa lalu, dan sampe sekarang kadang kalo inget juga bikin males en takut. Tapi saya tidak diperbudak oleh masa lalu saya. Banyak orang yang mencoba mengubur dalam-dalam masa lalu, tapi saya bilang itu bukan solusi yang bener. Ada yg kemudian bilang bahwa kalo inget masa lalu, berarti tidak mensyukuri yang sekarang, karena mereka hidup dengan 'kejayaan masa lalu.' Hm. Ada benar, ada salahnya. Masa sekarang yang jelas harus disyukuri dan diperjuangkan. Masa depan direncanakan, sebagai manusia kita boleh dong berencana en punya cita-cita. Walo nantinya Tuhan juga yang netapin, tapi kenapa kita ga boleh berjuang untuk itu? Kalau ada yang salah mengartikan dengan mensyukuri hari ini kemudian hari depan tidak untuk dipandang, saya bilang itu agak naif.

Eniwe, saya bersyukur malem kemaren bisa bercanda tawa waktu latian fragmen, thanks pals. Bener-bener menghibur. Bener-bener bikin saya lupa dengan kesedihan en kesetresan saya seharian. :) Saya bersyukur punya temen-temen yang hebat: hebat talentanya dan hebat nularin sukacitanya.

GBU guys!

Wednesday, February 24, 2010

Daniel ngajar Sains?

[Hai. Fesbuk-ers... mari, klik disini ajah... :)]

So, ada dua kejadian lucu beberapa minggu akhir ini, share dulu mumpung belum lupa:
  1. Beberapa hari lalu, di rumah sempet heboh gara2 kasus hilangnya stock CD a.k.a segitiga pengaman a.k.a c***t, ga nanggung juga ilangnya setengah lebih persediaan dalem lemari. Sontak saya langsung panik. Mo pake punya papa takut ntar saya selalu put my hands on my hip alias metenteng dengan tidak gagahnya gara2 kedodoran CD papa. Mo pake punya adik, tar saya tebar senyum simpul tak beraturan gara2 tersiksa dengan CD ukuran M yang mencekat. Nah, akhirnya bingung. Setengah hari sudah kalut bingung sore mau pake CD siapa, ga lucu juga kan kalo pake CD punya mama, wedew... [stop, jangan bayangin tubuh seksi saya lebih jauh lagi] .... [SAYA BILANG STOP!] Ehem. So. Saya masih panik juga. Sebagai seorang guru (sekaligus translator yang kadang nyambi desainer en part time petugas bersih2 kampung) yang bernaluri detektif, dibantu oleh mama saya yang urun ide, mencoba berspekulasi en mulai curigation... Dugaan semula adalah ada maling profesional khusus pengutil celana dalam berlubang. Tapi bingung juga kok yang diambil cuma punya saya. Padahal punya tetangga juga sering berkibar menghias indahnya biru langit. Dugaan selanjutnya adalah tikus jail yang kurang kerjaan en agak kelainan yang akhirnya menggondol dengan kuatnya stok CD saya.

    Sehari setelah jadi detektif (ga usah tanya saya pake CD siapa malemnya), ternyata saya dapet wahyu untuk ngoprek2 kamar. En menemukan sesuatu yg dudul en konyol. Tumpukan CD saya ada di kursi lipat (kursi kuliah) di deket lemari. So ternyata mama saya yg hobi ngomel melihat lemari saya yang amburadul ternyata beberapa hari sebelumnya memberesi tu lemari. En waktu memberesi, dia numpuk CD saya sementara di luar, en ditaruh di kursi lipet itu. Nah saya, plus adik saya, yang kreatif, selama ini memanfaatkan kursi lipat itu untuk tempat menumpuk baju-jaket-sweater yg mau dipake lagi, plus tambahan tumpukan buku en komik yg seabrek kere. Waktu lapor ke mama, kita sama2 ngekek. Mama sendiri juga heran kok bisa raib dengan tidak lapor2, karena saya paling hobi nuntut beliin CD en stock CD saya yang paling banyak dirumah. Hikmahnya: saya harus nambah stock CD kalo2 hilang lagi saya bisa pake CD baru. Wkwkwkwk.

  2. Tadi waktu mau ke perpus, thanks to Pak Bambang yg lagi2 kosong kuliahnya, saya jalan bareng temen kuliah saya. Nah si dia ngajak diskusi tugas presentasinya (yg saya sendiri ga mudheng sebenernya), en tiba2 waktu kita di lift, masuk deh satu dosen yg asing buat saya. Temen saya langsung bilang, 'Nah mumpung ada Pak Tri...' En si pak dosen ini langsung diajak ngobrol, diskusi panjang lebar, sampe2 kita harus berhenti di depan gedung buat nerusin kuliah informal pak dosen. Akhirnya kita pisah. Waktu saya tanya itu si dosen siapa, temen saya cuma jawab dengan simpel dan lugunya, 'Aku yo ra ngerti.' Ya oloh...

    Belum berakhir. Waktu kita naek tangga perpus, en sampe di pintu gedhe perpus, saya sempet sekilas membaca tulisan instruksi di pintu kaca itu PUSH. Nah, mungkin karena temen saya juga lagi ga konsen karena kita juga lagi diskusi (katanya saya mirip sama kontestan salah satu acara lomba di tipi, yg disebut 'Skinny' wedew...), temen saya dengan semangat en antusias membuka pintu perpus itu. Dia TARIK, bukan DORONG. Mungkin push dengan pull emang cuma beda dua huruf saja. Nda begitu banyak. Nda seperti Daniel en Orlando yg emang beda 180 derajat. Dia baru nyadar setelah baca tu instruksi yg saya tunjuk. En saya entah kenapa juga spontan pengin ngakak sambil tereak, 'PUSH!' waktu tu pintu dibuka en tereakan saya yg emang tidak manusiawi membuat penduduk lobi perpus langsung balik badan en melihat sumber keributan itu. Kita berdua cuma ngekek.
Eniwe. Kembali ke laptop. Entah kenapa kok saya memikirkan lagi salah satu cita-cita saya jaman saya kecil (sampe SMA juga sih sebener'e). Cita-cita itu nda jauh beda en menyimpang dari pekerjaan sekarang saya sebagai seorang guru. Kalo saya sekarang ngajar Bahasa Inggris, yang makin bikin saya jatuh cinta pada profesi saya, saya sebenernya juga pengin ngajar Sains, especially BIOLOGY (not Physics or Chemistry, never! no way!). Saya dari dulu selalu terpukau dengan binatang2. Suka ne liat buku2 tentang eksperimen, nature, animals, sains... En saya rasa saya bisa develop much kalo saya ngajar Sains.

Meski sekarang saya ngajar Inggris, tapi teks bacaan yg saya jumpai banyak banget yg hubungannya dengan nature, en saya ngiler setiap kali saya baca teks itu. Saya bisa aja ngajar about animals pake LCD, pake flashcards, bikin AVA yg menarik, tapi tar jadi bias en menyimpang. Bukannya ngajar inggris saya malah ngajar sains. Jadi saya cuma bisa diem en merenung memikirkan mimpi masa kecil saya yang nda tercapai.

Saya sebenernya memasukkan Biologi jadi salah satu mata pelajaran favorit saya di SMP en SMA, walo dulu waktu SMA ujian nasional Biologi saya cuma dapet enem. La ya gimana lagi, saya paling males menghapal, en saya tidak diajari bagaimana understanding instead of merely memorizing... Waktu inget pelajaran sains (dulu IPA) di SD pun saya sedih. Jaman saya bener2 jaman membosankan. Anak-anak dijejali ratusan materi. Nama, teori, konsep yang kudu dihapalin, bukannya dimengerti. So conventional. Old fashioned. Saya sering baca artikel di internet, en gabung forum teaching sana sini, apalagi kalo tentang elementary teachers. Waduh. Saya tambah ngiler liat gimana mereka teach children and let their children express and show their understanding. Gimana anak2 dikasi kesempatan untuk bereksperimen en mengamati langsung. Anak2 juga dikasi tugas untuk 'presentasi' sederhana apa yang mereka tahu, sekali lagi bukan sekedar menghapal dan tahu... Haduh.

Saya masih berharap besar buat bisa sekolah lagi, belajar lagi tentang SAINS. No problem kalo saya dapetnya Sains PGSD, elementary Science study gitu. Or S2 lagi ambil elementary teaching, tapi duit dari mana. Wkwkwkwkw. Semoga ada sponsor yang baca tulisan saya ini, en tergerak hatinya tanpa saya harus berlutut, merengek, dan membanjiri ujung celana panjangnya dengan tangis buaya saya, yg kemudian kasih saya scholarship untuk studi semacam itu.... Wkwkwkwkw.

OK. Thanks sudah membaca posting absurd saya yang satu ini. Ide untuk posting terus mengalir, tapi waktu berlomba dengan kesibukan saya, dan saya terjepit ditengah kemalasan dan kerajinan saya.

GB.

Wednesday, February 3, 2010

Daniel dan kebiasaannya

[FB User, please, I beg, click here...]

Manusia terbiasa untuk membangun dan menikmati sebuah kebiasaan. Quote siapakah itu? Itu quote saya. Well, yes, saya ngarang sendiri. :p

Betewe, saya menikmati waktu luang di kelas ICT, sementara teman2 yg laen sedang belajar membuat email dan blog... :)

So, sudah kurang lebih tiga bulan saya memakai softlens saya yang berwarna biru ini, dan mulai terbiasa, walopun kadang juga masih sering jadi capek. Dulu pertama kali pake softlens, mata bakal pegel en protes pengin melepaskan diri kalo sudah mulai sore-malem. Sekarang sampe jam 9 kadang masih ga pegel, tapi sudah pedes, hehe. Dulu pertama kali pake softlens juga kadang masi awkward buat pasang-copot ni softlens, tapi sekarang kalo sudah mo nyopot malah keliatannya si softlens ga mau lepas dari mata ini. Saya masih belom terbiasa aja kalo lagi kuliah di ruang AC, mata langsung sering kering, pedes, en pengin dikucek.

Kebiasaan laen adalah minum susu di malem hari sebelum bobok. Sudah hampir sebulan, en akhir-akhir ini malah agak terganggu ini kebiasaan gara-gara saya kecapekan. Dulunya minum susu di pagi hari, tapi karena mengingat kesibukan pagi (yg notabene gara-gara saya selalu bangun terlambat dan kesiangan, hehehe). Kata orang minum susu di malem hari bikin badan melar. No problem. Saya malah pengin badan saya tambah ndut (btw, sudah turun jadi 49 kg lagi :( )

Saya nda tahun berapa lama waktu yang saya butuhkan buat bikin kebiasaan nyimpen wrappings, or bungkusan, entah permen, or plastik, or kertas, or tissue ke dalem saku or tas kalo saya tidak berhasil menemukan tong sampah di sekitar saya. Dan kadang mama yang sering ngomel kalo lagi seterika celana tiba-tiba ada yg menonjol dan itu adalah bekas tissue or bekas plastik... :) Saya pikir saya bisa mengurangi jumlah sampah yang bertebaran di jalan dengan kebiasaan kecil saya yang mungkin dianggep konyol ini.

Kira-kira bulan desember akhir, satu kebiasaan yang saya anggep sangat baik dan membangun sudah tidak demikian ketat-nya saya lakukan: Saat Teduh malem (a.k.a Devotional Time, a.k.a Quiet Time). Saya masih menyimpan buku jurnal SaTe saya, tebel, ijo, batik. Tapi sudah jarang saya tulis. Saya terlalu capek (alasan klasik dan klise). Saya agak kangen juga minggu-minggu ini, apalagi ketika saya mulai menikmati kembali rutinitas saya. Kadang saya kangen curhat dengan Tuhan. Kadang saya kangen dengan saat-saat diam, waktu saya mikir dalem doa saya, maupun ketika saya mencoba menuliskan apa yang saya pelajari malem itu, hari itu.

Mungkin kebiasaan saya di atas kedengaran baek. Memang. They are good habits. Bagaimana dengan yang jelek? Wooo... jangan tanya, bung, banyak, maksudnya saya memang punya beberapa kebiasaan jelek... Pulang ke rumah sandal dan sepatu seenaknya bertebaran, en berakhir dengan mama yang sering marah2. Buku-buku kalo abis baca, apalagi kalo saya sudah terkapar, juga bakal langsung berserakan disana-sini. Saya sering lupa matiin lampu, padahal ironinya saya ini pendukung energy-saving project... :)

Memang kebiasaan jelek itu susah dihilangkan, sama halnya dengan susahnya membangun kebiasaan baik. Aneh kan? Kebiasaan baek mudah sekali untuk dihancurkan, diganti dengan yang jelek. Kebiasaan jelek susah sekali untuk dikembangkan en dibiasakan... Bagaimana seandainya kalau kita sudah terbiasa dengan dosa? Waduh.

Ada orang yang bahkan berbuat dosa saja sudah jadi kebiasaan. Tidak merasa berdosa. Saya tidak mau munafik. Dan kadang saya cuek. Meski kadang ada yang berbisik pelan, mencoba membuat saya merasa tidak tenang untuk berbuat dosa, tapi akhirnya saya juga kerap jatuh dalam dosa. Tapi saya tetap tidak mau mengatakan bahwa saya membiasakan diri untuk berdosa; saya berjuang melawan dosa, sama seperti rekan-rekan lainnya.

Kadang heran. Kadang habis akal. Ada orang yang dengan santainya melakukan, or karena sudah terbiasa, hal yang jelek, yang merugikan, yang membunuh orang lain. Entah apa yang mereka pikirkan ketika mereka memang sudah menikmati hal itu. Atau mungkin tidak ada perasaan nikmat itu, tapi orang itu melakukannya dengan tidak berpikir, yang artinya memang sudah jadi kebiasaan. Bahkan ketika ditanya kenapa bisa melakukan hal itu, si pelaku sendiri juga kebingungan... Hmmm...

Kata temen saya kebiasaan bisa dibangun dalam 30 hari. Bener ato salah, kenapa tidak dicoba?

GB

Monday, January 11, 2010

Dan misses the real Sunday afternoon...

[FB user, please, please, please, I beg... click HERE!!!!! :) ]

[Disela-sela kesibukan en segala tuntutan, curi kesempatan buat istirahat en ngepost... :) ]


Sunday Afternoon


Daniel suka Sunday afternoon,
the real one...

Sunday afternoon,
setelah segala hal yang membuat penat
dan segala pekerjaan yang bejibun,
dan yang terasa berat...

Sunday afternoon,
harusnya kosong,
memang sudah diplan bolong,
tanpa kerjaan tentunya, dong.

Sunday afternoon,
saya selalu yang memulai,
lemas terkulai,
tidur dengan malas dan lunglai.

Sunday afternoon,
adik saya ikut tertular
setelah bermain game yang kasar
akhirnya menyusul terkapar.

Sunday afternoon,
papa pun ikutan nimbrung
tidur daripada bingung
menghadapi kerjaan setumpuk gunung.

Sunday afternoon,
terakhir mama yang berbaring
dengan santai, gerah, tanpa guling
di sofa depan dia tertidur sering...

Sunday afternoon,
tanpa gangguan seharusnya,
selalu saya tunggu setiap minggunya,
tidur tenang, tentram, tanpa pikiran semuanya...



Kesimpulannya:
Sunday afternoon jadi masa malas-malasan keluarga saya... :)

Thursday, January 7, 2010

Dan's Story: Angels without wings

[For FB user please click here, please, please, please...]
[Cerita ini salah satu cerpen saia yang ditulis sebenernya buat naskah soliDEO bulan September 2009. Tapi karena satu dan lain hal jadi batal diterbitkan... Enjoy it, n plis feel free to leave your comments.]



ANGELS WITHOUT WINGS

Abe

Oke. Siang ini cukup dingin. Dan aku menunggu teman-temanku disini, di depan kantin sekolah. Dan aku agak capek. Dan Victor sedang membeli pop juice. Dan Roni, masih Roni masih belum nampak. Dan aku cukup kesal dengan Roni.

Kemarin dia tidak datang pertemuan KTB. Alasannya simple: dia pergi main dengan teman-temannya yang lain. Dan aku sempat melihat dia merokok di satu warteg waktu aku pulang dari gereja. Yah, memang agak susah, dan aku sudah lama bersabar. Waktu ku-SMS pun balesannya cuma: He4… Sudah beberapa kali dia makin malas, dan dia (yang aku takutkan) makin tertarik untuk kembali ke kehidupan tidak jelasnya yang lama.

Itu dia. Roni, berjalan tersenyum padaku. Aku mencoba memasang senyum juga, tapi susah. Tapi okelah, kupaksa mulut ini tersenyum. Oke, biar aku interogasi dia. ‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ dia memulai menyapa.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ Aku bisa melihat Roni kaget, dan senyumnya melemah.

‘Eits…’ Roni mengacungkan jarinya ke atas, di depan wajahku, seolah menyuruhku diam. ‘Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Dia tersenyum lagi, meringis lebar. Ada yang mengalir deras di dalam diriku, ke kepalaku, dan semakin memanas.

‘Hei, itu Victor!’ Roni mengalihkan pandangan ke samping. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku tidak tahu apa yang membuat tanganku secara refleks mengepal, kemudian melayangkan tinju itu ke muka Roni. Dan aku tidak peduli ketika Roni mengaduh keras. Aku tidak peduli ketika dia terjungkal, jatuh terduduk. Aku tidak peduli ketika Victor berlari kaget melihat kejadian itu. Dan aku tidak peduli beberapa anak yang terkaget. Aku tidak peduli dengan ketidakpedulianku. Dan aku berjalan, masih dengan kepala panas.

Roni
Hari ini kami—aku, Abe, dan Victor—mau pergi bareng ke distro baju, buat pesen kostum klub basket kami. Mereka pastinya sudah menunggu di depan kantin. ‘Hei! Sampai ketemu nanti malam. Di warteg Ndeso Gubug itu lagi, kan? Oke, man?!’ aku berteriak pada teman-temanku, dan melambai, sambil berlari kecil meninggalkan mereka yang masih di depan kelas.

Itu dia, Abe berdiri disana. Tapi mana Victor? Kami mau naik mobil Victor. Yah, semoga kostum itu cepat jadi. Sudah lama kami merencanakan ini. Dan desain buatan Abe keren. Aku tersenyum pada Abe. Dia melihatku dan membalas senyum yang aneh.

‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ aku bertanya. Tapi Abe bukan memberi jawaban yang semestinya. Dia malah memasang tampang galak itu. Dan mulai memberondong aku dengan ucapannya.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ aku kaget. Dan mulai bingung. Tidak bisakah Abe santai sedikit. Lagipula bukan urusannya kalo aku ngerokok dan kumpul bareng-bareng temen band lamaku. Oke. Mari cairkan suasana ini. Aku mengacungkan jariku, mencoba menyuruhnya diam, stop, dan mendengarkan aku.

‘Eits… Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Aku tersenyum, dan menoleh, mencoba mengalihkan pandanganku. Itu dia Victor. ‘Hei, itu Victor!’ aku berkata. Dia membawa satu cup pop juice di tangannya. Semoga dia membelikanku satu. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku kembali berbalik pada Abe, mencoba bertanya, tapi tiba-tiba saja, semua terasa sakit, hidungku panas. ‘Ouch! Aduh!’ Aku terjengkang ke belakang, duduk di lantai. Mencoba memandang ke depan, pada Abe yang sudah berjalan cepat pergi, sambil mengusap-usap hidungku. Tidak ada darah. Tapi sakit sekali. Kulihat Victor berlari, dan mendekat, membantuku berdiri.

‘Apa yang terjadi? Kenapa Abe?’ dia bertanya padaku kebingungan. Tapi aku juga sama bingungnya.

Victor

Tiga pop juice. ‘Trims, mbak.’ Kataku pada mbak penjaga kantin. Aku, Abe, dan Roni siang ini mau pergi ke distro tempat kami akan memesan baju basket untuk klub basket gereja. Aku berjalan pelan, sambil menyeruput juice apokat yang kupesan. Itu mereka, Abe dan Roni di depan sana. Rupanya Roni sudah datang. Kulihat Roni berbicara pada Abe, dia menoleh ke aku. Aku tersenyum. Mengangkat dua cup yang aku pesan untuk mereka. Hei. Kenapa itu?

Aku melihat jelas Abe yang memukul Roni, tampaknya cukup serius, dan keras. Ouch. Sepertinya sakit. Oh. Roni terjatuh. Aku harus menolongnya. Aku berlari cepat. Kenapa Abe? Tidak biasanya dia bisa memukul orang seperti itu. Apalagi Roni. Mereka kan sahabat dekat.

‘Apa yang terjadi?’ Aku bertanya, sambil mencoba membantu Roni berdiri sementara dia mengusap-usap hidungnya yang memerah. ‘Kenapa Abe?’ Aku kebingungan.

Roni

Well. Rencana batal. Victor mengantarkanku pulang. Aku masih bingung kenapa Abe memukulku. Memang apa salahku? Aku mencoba memikirkannya. Apa gara-gara aku sudah lama tidak datang kelompok KTB. Tapi apa sebegitu pentingnya sampai dia marah begitu? Aku duduk terdiam, di samping Victor yang menyetir mobilnya.

Ringtone sms HP-ku berbunyi. Aku membukanya. Dari Abe rupanya. Menyebalkan.
Ron. Sori. Ga maksud ky gt. Ok. Sori y. Hidungmu gpp?
Menyebalkan. Aku cuma bisa membalas pendek: ‘Y, gpp’. ‘Dari Abe. Minta maaf.’ Aku memberi tahu Victor walau dia tidak bertanya.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ dia bertanya. Aku menghela napas sebentar. Mengusap pelan hidungku yang walau sudah tidak sesakit tadi tapi masih nyeri.

‘Dia tadi…’ aku mulai menceritakan kejadiannya.


Victor

‘Dari Abe. Minta maaf.’ Itu yang diucapkan Roni tiba-tiba ketika HP-nya berbunyi. Aku mengantar Roni pulang. Tidak jadi pergi ke distro. Mending biar dia istirahat dulu. Aku masih shock juga tadi Abe bisa memukul si Roni. Jarang-jarang.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ aku bertanya, mencoba cari tahu alasannya.

‘Dia tadi bertanya padaku,’ jelas Roni yang mengusap hidungnya, ‘kenapa kemarin aku tidak datang KTB, dan kenapa aku malah kumpul dengan teman-teman bandku. Mungkin dia marah karena itu.’

‘Ah, ga mungkin cuman karena itu.’ Aku mencoba membela Abe. Aku juga tahu seperti apa itu Abe.

‘Well, kenapa ya?’ Kulihat Roni mencoba berpikir. ‘Tadi aku coba menjawab, supaya dia tidak terus-terusan menyalahkanku. Aku menyuruhnya supaya tidak marah padaku. Biar Tuhan saja yang marah. Dan dia tiba-tiba memukul hidungku ini.’

‘Oh,’ kataku dengan paham. Aku mengangguk dan tersenyum. ‘Bodoh. Kamu yang bodoh.’ Kulihat Roni kaget dan bingung. ‘Seharusnya itu kamu jangan pernah ngomong itu. Kamu sahabat dekatnya Abe, kan? Apa Abe belum pernah cerita? Oh, kamu tidak datang waktu KTB, waktu dia share cerita itu.’

‘Cerita apa?’ Roni bertanya makin bingung. Aku menjelaskannya, mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dulu disharingkan Abe.

Roni

Oh. Jadi begitu. Abe memberi tahu cerita panjang itu. Aku tahu kenapa dia jadi marah, yang tidak biasa buat orang semacam Abe, dan kenapa dia menonjokku.

Abe dulu berteman dengan Johan, di kelas satu SMA, sebelum dia berteman denganku. Johan tidak jauh beda denganku, atau malah lebih parah. Lebih nakal. Lebih badung. Suka ngebut-ngebutan. Dari SMP memang sudah dicap anak nakal dan terkenal diantara guru. Kok mau ya, Abe berteman dengan Johan. Aku berpikir. Eh, kok mau juga ya, Abe berteman denganku?

Sampai akhirnya suatu hari Abe juga agak jengkel ketika Johan agak ‘nyeleneh’ lagi. Dan Johan mengucapkan kata-kata itu juga. “Biar Tuhan yang marah, jangan kamu yang marah. Kamu nda’ boleh marah.” Tapi Abe tidak memukulnya. Curang (pikirku dengan iri). Dan Johan masih sama, tidak berubah kelakuannya, malas ke gereja, malas persekutuan, walau Abe tidak pernah berhenti mengingatkannya dan mengajaknya.

Dua hari setelah kejadian itu. Johan kecelakaan motor. Akibat kebut-kebutan di jalan. Abe shock dan merasa bersalah. Dia merasa belum bisa membawa Johan pada Tuhan. Itu jadi satu trauma yang besar, satu klimaks tragedi di masa lalu Abe. Aku cuma bisa termenung setelah Victor menceritakan kisah ini.

“Kamu harusnya bersyukur punya sahabat Abe. He cares for you. Jesus too.” pesan Victor ketika aku turun dari mobilnya. Aku terus mengingat pesan ini. Sepanjang sore. Sepertinya memang aku pantas mendapat pukulan itu. Sudah jam delapan malam. Dan tidak biasanya aku bisa hanya tiduran di dalam kamar, memikirkan sesuatu. Aku mengambil HP-ku. Sebaiknya aku ‘menyapa’ Abe. Dan aku mulai mengetik pesan di HP-ku, sambil bersyukur punya sahabat seperti Abe.

Abe

Aku habis latihan paduan suara di gereja. Tapi lagu yang harusnya ceria dan menghibur itu tidak bisa mengusir pikiran yang dari tadi siang memenuhi kepalaku. Sepertinya aku salah sudah memukul Roni. Aku harusnya bisa lebih bersabar dan bijaksana.

“Mau pulang sekarang, kak?” Yoga datang padaku. Aku harus mengantarnya pulang ke panti. Sudah jam delapan malam; aku melihat jam tanganku.

“Oke. Ayo.” Aku berjalan turun ke basement, motorku diparkir disana. Yoga berjalan.

“Kok sepertinya dari tadi Kak Abe bingung? Ada masalah?” Yoga bertanya padaku. Aku memandangnya, dan hanya tersenyum, mencoba mencari alasan. Tapi tiba-tiba HP-ku berbunyi; ada SMS. Aku membukanya, sementara Yoga masih menunggu jawabanku. Dari Roni. Aku membaca pelan dalam kepalaku. Cermat, dan aku mulai tersenyum.
Kita harus mengakui bahwa malaikat itu
memang benar ada, nyata.
Tapi ketika mereka tidak bersayap,
kita menyebut mereka SAHABAT.
Thanks, buddy.

PS:Thanks buat tonjokkan tadi. He4… :)
Aku menutup SMS itu. Tersenyum senang, bersyukur.

“Memang ada masalah, tadi,” aku menjawab Yoga, yang sepertinya sudah menyerah menunggu jawabanku. Tapi dia kemudian tertarik mendengar jawabanku lagi. “Tapi sekarang sudah selesai.” Aku tersenyum pada Yoga, sambil menyerahkan helmnya. “Oke, sekarang kita beli martabak manis dulu, oleh-oleh buat anak panti. Setuju?”

“Beneran, kak?” tanya Yoga senang. Hatiku juga sedang senang, jadi kenapa tidak membagi keceriaan ini buat yang lainnya? “Siap, bos… ayo kita beli martabak datang bulan.”

“Martabak Terang Bulan, kali,” Kataku pada Yoga.

Wednesday, January 6, 2010

Dan's writing a 'drama script'... :)

[For FB user, please click here...]

Happy X'mas and Happy New Year to you!

So, kemaren Desember (yang melelahkan, no comment, no protest, pls) sudah berlalu, en tahun baru langsung disambut Camp Guru (Camp deh, bukan Retreat seperti nama yg diberikan) langsung ada dalam jadwal saya. Dari retret tiga hari dua malam itu, ada banyak hal, en entah kenapa malah memberikan saya ide untuk menulis post ini... Enjoy it!


Teachers' Camp: Teachers Unleashed...

Disclaimer: Tulisan ini hanya untuk guyon, kalo ada yang sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi, ya emang begitulah yang terjadi... Kalo ada yang tersinggung mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi tulisan ini sudah melewati proses editting dan sensor yang telah melenyapkan segala bagian yang a-nonoh dan tidak pantas dikonsumsi oleh batita maupun sepuh di atas 80 tahun. Thanks.

SETTING:
Kaliurang, Wisma Kana, wisma yang cukup besar, dua tingkat, dan sekitarnya. Udara sejuk, kadang berawan mendung dan gerimis mengundang. Aula Wisma persegi panjang. Kamar peserta di Wisma, kecil, empat-kali-tiga (?) yang dipaksa diisi dobel bed (yang sebenernya satu bed itu diturunin dari spring bed yg laen, sehingga spring bed yg asli jadi atos) dan saking memaksanya pintu ga bisa dibuka selebar-lebarnya karena nabrak kasur.

KARAKTER:
1. Daniel (DK), cowok 24 tahun, paling muda dalem camp yang in fact bikin shock banyak orang karena ber-mutu (ber-muka tua), pendiem dan lebih banyak waktu sendirian buat ngupil tidur...


ACT 1, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, plus selasar depan kamar lantai 2. Pagi menjelang siang setelah perjalanan, dan unpacking barang-barang bawaan.

DK: (Agak ngantuk. Sudah ganti celana pendek. Memutuskan untuk turun ke aula, en ngecek keadaan Wisma Kana. Buka pintu kamar, dan sontak menangkap en membau sesuatu yang menyengat yang bikin dirinya males keluar kamar...)

Para Pak Guru: (Duduk dengan santai, mengobrol di selasar kamar. Ketawa. Ngobrol. NGEROKOK dengan santainya. Asap rokok jadi penghias pemandangan selasar.)

DK: (Tahan napas dengan tersiksa, berjalan menerobos asap, en berpikir bahwa inilah kesuksesan para GURU memberikan sesuatu yang layak di GUgu dan di tiRU dari mereka.)


ACT 2, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, habis mandi pagi.

DK: (Habis mandir, bersihin en rapiin kasur deket pintu.)

Pak Guru: Oi, selamat pagi... (dengan santainya berjalan mantap dari luar, menerobos masuk lewat [baca: menginjak-injak] kasur yang tadinya sudah rapi en bersih, ke kasurnya yang lebih tinggi, dan dengan indahnya meninggalkan cap kakinya yang masih basah dengan beberapa ornamen pasir.)

DK: (Melongo heran)


ACT 2, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Para peserta sedang Outbound mengelilingi kawasan di sekitar Wisma Kana. Kelompok Dankuur en Kelompok Hebat sedang bersantai-santai menunggu giliran di satu pos.

Bu Guru 1: Eh, ada uler. Ada uler. (Menunjuk ke bawah.)

Bu Guru 2: Ow, lempar ke Pak Guru itu. Yang ijo bajunya. Dia takut.

DK: (Senyum licik mau iseng. Pura-pura ngambil ulet pake tongkat, en ngelempar.) Ini ya, pak? Awas pak, uler! (Pak Guru berbaju ijo lari menjauh padahal posisi dirinya sendiri juga udah jauh dari kelompok saking merindingnya denger kata uler.

Pak Guru Laennya: Opo to? Oh, ming uler koyo ngene. (Menunduk, ambil uler pake tangan langsung.)

Guru-guru termasuk DK: (Lari ngacir liat si bapak ambil uler pake jari tangannya dan sekarang ketawa nakut-nakutin semuanya.)


ACT 2, SCENE 3
SEETING: Sore hari, Kamar 11.

DK: (Mau mandi, sudah siap dengan segala senjata perang untuk mandi. Melangkah masuk dengan mantapnya ke kamar mandi, dan sesaat terinfeksi HIV [Hasrat Ingin Vivis]. Membuka tutup toilet duduk, dan shock ada beberapa benda a-nonoh yang melayang dengan indahnya disana. Buru-buru pengin keluar en muntah...)


ACT 2, SCENE 4
SETTING: Siang hari, waktu session, peserta mengisi aula yang agak sempit en panas.

DK: (Mendengar Pak RC dengan seksama, en sesaat perhatian teralih ke satu guru yang duduk di depannya, en tiba-tiba berdiri en berjalan keluar. Tidak begitu acuh selanjutnya. Perhatian tertuju lagi ke guru yang tadi keluar sekarang masuk dengan sesuatu di tangannya. Mencoba kembali mendengarkan Pak RC.)

Bu Guru: (KREEEK... Membuka sesuatu, bungkusan.)

DK: (Mengamati guru yang sekarang sedang membuka bungkusan, yang ternyata bungkusan berlabel ceriping)

Bu Guru: (Melihat DK yang sekarang sedang mengamatinya. Tersenyum.) Mau? Biar nda ngantuk.

DK: (Geleng plus senyum. Berpikir bahwa boleh bawa sangu, en sesaat berpikir boleh mencoba sangu pop-mie dalem Sessi).


ACT 2, SCENE 5

SETTING: Aula, another session, guru-guru sudah mulai exhausted.

Pak RC: (Menyampaikan materi dengan semangat, dan seperti biasa bersenjatakan senyum en gurauan plus segala banyolan yang bisa bikin peserta ngguyu.) ... itu karena saya sadar siapa saya di depan Yesus ... (Terus nyampein materi. Mbanyol.) ... ya itu rahasia saya dengan Yesus...

Bu-Guru-yang-duduk-sebelah-DK: (Ngomong setengah bisik dengan kenceng ke DK.) Gayamu. Memang'e pernah ketemu Yesus po?

DK: (Shocked. Diem. Tampang luar senyum, tapi dalem otak ketawa ngakak dan sekaligus di waktu yang sama mikir keras banget...)


ACT 2, SCENE 6

SETTING: Malem hari, waktu Dedication Service.

DK: (Mengamati keadaan sekitar. Lampu temaram bikin mata DK tidak bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba kaget denger sesuatu yang unik.)

Seorang Bapak Tua yang Karena Kedudukannya Sepatutnya Dihormati dan Dihargai: (Dengan volume yang tidak begitu keras.) NGGROOOOOOKKKK...

DK: (Mengamati dengan keras, melihat si Bapak kepalanya terkulai ke belakang, kemudian tangannya bergerak-gerak kecil, mulutnya sesekali mbuka tutup kaya ikan mas koki. Berpikir bahwa Dedication Service juga efektif untuk waktu istirahat.)


ACT 2, SCENE 7
SETTING: Malem hari, habis Dedication Service.

Para Peserta: (Masih haru. Beberapa dengan mata basah karena air mata. Beberapa peserta kembali ke tempat duduk dari posisi duduk di lantainya.)

MC: Yah, bapak ibu, ada hari ini ada yang spesial untuk seorang rekan kita...

DK: (Sudah bisa menangkap apa yang akan terjadi, dan heran dengan yang terjadi 10-15 menit selanjutnya ketika semua haru biru en temaram suasana emosional en sentimentil dedication service itu berubah 180 derajat menjadi sorak-sorak dan guyonan karena perayaan ulang tahun seorang rekan guru. Berpikir dalam hati: Oh, begini toh habis Dedication Service... Hm... Beda budaya kali, ya...?)


ACT 3, SCENE 1
SETTING: Sessi di pagi hari. Para peserta dapet tugas untuk sharing personal Action Plan.

DK: (Barusan keluar ambil obat suplemen di kamar, balek lagi ke Aula. Ketemu Pak RC di depan pintu aula.)

Pak RC: Ayo, Dankuur! Kamu Bisa!

DK: (Senyum agak cengok.) Bisa apanya, Pak?

Pak RC: Ah, kamu itu potensial sekali tapi baru 30% potensi yang kamu kembangin.

DK: (Tambah cengok dan menyadari dengan sangat bahwa perkataan Pak RC bakal menghantui pikirannya bahkan sampe setelah camp sudah selesai.)


ACT 3, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Kebaktian Penutup.

Pak Eka: Jadi Bapak dan Ibu. Mahkota yang sudah Anda susun dari kertas lipat jadi lambang seperti mahkota yang dipercayakan untuk kita. Ada yang bilang ini seperti mahkota duri. Ada harga yang harus dibayar. Ini mahkota yang mengingatkan kita akan mahkota yang akan kita terima nanti kalau kita setia dengan panggilan tugas pelayanan kita. Dan untuk itu kita akan memakainya bersama setelah rekan-rekan perwakilan akan dipakaikan mahkotanya.

DK: (Merasa bahwa ada yang ga enak di dalem hati.)

Pak Eka: Dan sebagai perwakilan, kami undang dua guru masing-masing dari Magelang maupun Klaten. Yang paling tua dan yang paling muda.

DK: (Perasaan ga enaknya nyata. Celingak-celinguk sambil tetap diam.)

Pak Eka: Dari Magelang?

Pak Guru SMP: Tertua Bu Giarti, dan termuda ini, Pak Kris.

Pak Guru SMA: Bukan, Pak Dankuur.

Pak Guru SMP: Pak Kris tahun berapa?

Pak Kris: Delapan Empat.

Bu Guru SMA: Pak Dankuur delapan lima.

Pak Eka: Ya, Bu Giarti dan Pak Dankuur silakan maju.

DK: (Maju dengan senyum garing, menyadari banyak guru Klaten yang pastinya kaget dan meragukan mana yang termuda dan mana yang tertua dan mungkin terbalik.)


ACT 3, SCENE 3
SETTING: Siang hari. Habis kebaktian penutup. Aula sontak jadi sentimentil en emosional. Para guru saling jabat, peluk, dan menangis, apalagi lintas: Magelang-Klaten.

DK: (Jadi pengamat yang baik setelah memberi banyak salam, terutama ke guru-guru dari Klaten. Sekarang berpikir bahwa Dedication Service kalah jauh sentimentil dan emosional-nya daripada Farewell ini. Sementara banyak guru cewek yang masih sesenggukan nangis sambil peluk rekan-rekannya.)


ACT 3, SCENE 4

SETTING: (Di depan kamar lantai 1, para guru menikmati makan duren sambil menunggu waktu pulang ke Magelang.)

DK: Enyak-enyak-enyak (Sambil menikmati duren.)

Pak Guru Berkumis: (Habis menikmati satu buah, dan masih membawa satu bagian kulit durian di tangannya dengan dua buah lain di dalam cekungan kulit itu, berdiri dekat dengan tempat sampah. Dengan santainya membuang jauh biji durian ke tanah.)

DK: Pak, ini sampah! Pie to malah dibuang sembarangan ke sana!

Pak Guru Berkumis: (Tampang sok cengok.) Oh! Sapa, ya, yang buang sampah sembarangan? Hayo sapa?

DK: (Senyum sinis. Berpikir heran dan menemukan satu lagi alasan mengapa guru layak diguGU dan ditiRU.)