Thursday, January 7, 2010

Dan's Story: Angels without wings

[For FB user please click here, please, please, please...]
[Cerita ini salah satu cerpen saia yang ditulis sebenernya buat naskah soliDEO bulan September 2009. Tapi karena satu dan lain hal jadi batal diterbitkan... Enjoy it, n plis feel free to leave your comments.]



ANGELS WITHOUT WINGS

Abe

Oke. Siang ini cukup dingin. Dan aku menunggu teman-temanku disini, di depan kantin sekolah. Dan aku agak capek. Dan Victor sedang membeli pop juice. Dan Roni, masih Roni masih belum nampak. Dan aku cukup kesal dengan Roni.

Kemarin dia tidak datang pertemuan KTB. Alasannya simple: dia pergi main dengan teman-temannya yang lain. Dan aku sempat melihat dia merokok di satu warteg waktu aku pulang dari gereja. Yah, memang agak susah, dan aku sudah lama bersabar. Waktu ku-SMS pun balesannya cuma: He4… Sudah beberapa kali dia makin malas, dan dia (yang aku takutkan) makin tertarik untuk kembali ke kehidupan tidak jelasnya yang lama.

Itu dia. Roni, berjalan tersenyum padaku. Aku mencoba memasang senyum juga, tapi susah. Tapi okelah, kupaksa mulut ini tersenyum. Oke, biar aku interogasi dia. ‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ dia memulai menyapa.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ Aku bisa melihat Roni kaget, dan senyumnya melemah.

‘Eits…’ Roni mengacungkan jarinya ke atas, di depan wajahku, seolah menyuruhku diam. ‘Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Dia tersenyum lagi, meringis lebar. Ada yang mengalir deras di dalam diriku, ke kepalaku, dan semakin memanas.

‘Hei, itu Victor!’ Roni mengalihkan pandangan ke samping. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku tidak tahu apa yang membuat tanganku secara refleks mengepal, kemudian melayangkan tinju itu ke muka Roni. Dan aku tidak peduli ketika Roni mengaduh keras. Aku tidak peduli ketika dia terjungkal, jatuh terduduk. Aku tidak peduli ketika Victor berlari kaget melihat kejadian itu. Dan aku tidak peduli beberapa anak yang terkaget. Aku tidak peduli dengan ketidakpedulianku. Dan aku berjalan, masih dengan kepala panas.

Roni
Hari ini kami—aku, Abe, dan Victor—mau pergi bareng ke distro baju, buat pesen kostum klub basket kami. Mereka pastinya sudah menunggu di depan kantin. ‘Hei! Sampai ketemu nanti malam. Di warteg Ndeso Gubug itu lagi, kan? Oke, man?!’ aku berteriak pada teman-temanku, dan melambai, sambil berlari kecil meninggalkan mereka yang masih di depan kelas.

Itu dia, Abe berdiri disana. Tapi mana Victor? Kami mau naik mobil Victor. Yah, semoga kostum itu cepat jadi. Sudah lama kami merencanakan ini. Dan desain buatan Abe keren. Aku tersenyum pada Abe. Dia melihatku dan membalas senyum yang aneh.

‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ aku bertanya. Tapi Abe bukan memberi jawaban yang semestinya. Dia malah memasang tampang galak itu. Dan mulai memberondong aku dengan ucapannya.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ aku kaget. Dan mulai bingung. Tidak bisakah Abe santai sedikit. Lagipula bukan urusannya kalo aku ngerokok dan kumpul bareng-bareng temen band lamaku. Oke. Mari cairkan suasana ini. Aku mengacungkan jariku, mencoba menyuruhnya diam, stop, dan mendengarkan aku.

‘Eits… Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Aku tersenyum, dan menoleh, mencoba mengalihkan pandanganku. Itu dia Victor. ‘Hei, itu Victor!’ aku berkata. Dia membawa satu cup pop juice di tangannya. Semoga dia membelikanku satu. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku kembali berbalik pada Abe, mencoba bertanya, tapi tiba-tiba saja, semua terasa sakit, hidungku panas. ‘Ouch! Aduh!’ Aku terjengkang ke belakang, duduk di lantai. Mencoba memandang ke depan, pada Abe yang sudah berjalan cepat pergi, sambil mengusap-usap hidungku. Tidak ada darah. Tapi sakit sekali. Kulihat Victor berlari, dan mendekat, membantuku berdiri.

‘Apa yang terjadi? Kenapa Abe?’ dia bertanya padaku kebingungan. Tapi aku juga sama bingungnya.

Victor

Tiga pop juice. ‘Trims, mbak.’ Kataku pada mbak penjaga kantin. Aku, Abe, dan Roni siang ini mau pergi ke distro tempat kami akan memesan baju basket untuk klub basket gereja. Aku berjalan pelan, sambil menyeruput juice apokat yang kupesan. Itu mereka, Abe dan Roni di depan sana. Rupanya Roni sudah datang. Kulihat Roni berbicara pada Abe, dia menoleh ke aku. Aku tersenyum. Mengangkat dua cup yang aku pesan untuk mereka. Hei. Kenapa itu?

Aku melihat jelas Abe yang memukul Roni, tampaknya cukup serius, dan keras. Ouch. Sepertinya sakit. Oh. Roni terjatuh. Aku harus menolongnya. Aku berlari cepat. Kenapa Abe? Tidak biasanya dia bisa memukul orang seperti itu. Apalagi Roni. Mereka kan sahabat dekat.

‘Apa yang terjadi?’ Aku bertanya, sambil mencoba membantu Roni berdiri sementara dia mengusap-usap hidungnya yang memerah. ‘Kenapa Abe?’ Aku kebingungan.

Roni

Well. Rencana batal. Victor mengantarkanku pulang. Aku masih bingung kenapa Abe memukulku. Memang apa salahku? Aku mencoba memikirkannya. Apa gara-gara aku sudah lama tidak datang kelompok KTB. Tapi apa sebegitu pentingnya sampai dia marah begitu? Aku duduk terdiam, di samping Victor yang menyetir mobilnya.

Ringtone sms HP-ku berbunyi. Aku membukanya. Dari Abe rupanya. Menyebalkan.
Ron. Sori. Ga maksud ky gt. Ok. Sori y. Hidungmu gpp?
Menyebalkan. Aku cuma bisa membalas pendek: ‘Y, gpp’. ‘Dari Abe. Minta maaf.’ Aku memberi tahu Victor walau dia tidak bertanya.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ dia bertanya. Aku menghela napas sebentar. Mengusap pelan hidungku yang walau sudah tidak sesakit tadi tapi masih nyeri.

‘Dia tadi…’ aku mulai menceritakan kejadiannya.


Victor

‘Dari Abe. Minta maaf.’ Itu yang diucapkan Roni tiba-tiba ketika HP-nya berbunyi. Aku mengantar Roni pulang. Tidak jadi pergi ke distro. Mending biar dia istirahat dulu. Aku masih shock juga tadi Abe bisa memukul si Roni. Jarang-jarang.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ aku bertanya, mencoba cari tahu alasannya.

‘Dia tadi bertanya padaku,’ jelas Roni yang mengusap hidungnya, ‘kenapa kemarin aku tidak datang KTB, dan kenapa aku malah kumpul dengan teman-teman bandku. Mungkin dia marah karena itu.’

‘Ah, ga mungkin cuman karena itu.’ Aku mencoba membela Abe. Aku juga tahu seperti apa itu Abe.

‘Well, kenapa ya?’ Kulihat Roni mencoba berpikir. ‘Tadi aku coba menjawab, supaya dia tidak terus-terusan menyalahkanku. Aku menyuruhnya supaya tidak marah padaku. Biar Tuhan saja yang marah. Dan dia tiba-tiba memukul hidungku ini.’

‘Oh,’ kataku dengan paham. Aku mengangguk dan tersenyum. ‘Bodoh. Kamu yang bodoh.’ Kulihat Roni kaget dan bingung. ‘Seharusnya itu kamu jangan pernah ngomong itu. Kamu sahabat dekatnya Abe, kan? Apa Abe belum pernah cerita? Oh, kamu tidak datang waktu KTB, waktu dia share cerita itu.’

‘Cerita apa?’ Roni bertanya makin bingung. Aku menjelaskannya, mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dulu disharingkan Abe.

Roni

Oh. Jadi begitu. Abe memberi tahu cerita panjang itu. Aku tahu kenapa dia jadi marah, yang tidak biasa buat orang semacam Abe, dan kenapa dia menonjokku.

Abe dulu berteman dengan Johan, di kelas satu SMA, sebelum dia berteman denganku. Johan tidak jauh beda denganku, atau malah lebih parah. Lebih nakal. Lebih badung. Suka ngebut-ngebutan. Dari SMP memang sudah dicap anak nakal dan terkenal diantara guru. Kok mau ya, Abe berteman dengan Johan. Aku berpikir. Eh, kok mau juga ya, Abe berteman denganku?

Sampai akhirnya suatu hari Abe juga agak jengkel ketika Johan agak ‘nyeleneh’ lagi. Dan Johan mengucapkan kata-kata itu juga. “Biar Tuhan yang marah, jangan kamu yang marah. Kamu nda’ boleh marah.” Tapi Abe tidak memukulnya. Curang (pikirku dengan iri). Dan Johan masih sama, tidak berubah kelakuannya, malas ke gereja, malas persekutuan, walau Abe tidak pernah berhenti mengingatkannya dan mengajaknya.

Dua hari setelah kejadian itu. Johan kecelakaan motor. Akibat kebut-kebutan di jalan. Abe shock dan merasa bersalah. Dia merasa belum bisa membawa Johan pada Tuhan. Itu jadi satu trauma yang besar, satu klimaks tragedi di masa lalu Abe. Aku cuma bisa termenung setelah Victor menceritakan kisah ini.

“Kamu harusnya bersyukur punya sahabat Abe. He cares for you. Jesus too.” pesan Victor ketika aku turun dari mobilnya. Aku terus mengingat pesan ini. Sepanjang sore. Sepertinya memang aku pantas mendapat pukulan itu. Sudah jam delapan malam. Dan tidak biasanya aku bisa hanya tiduran di dalam kamar, memikirkan sesuatu. Aku mengambil HP-ku. Sebaiknya aku ‘menyapa’ Abe. Dan aku mulai mengetik pesan di HP-ku, sambil bersyukur punya sahabat seperti Abe.

Abe

Aku habis latihan paduan suara di gereja. Tapi lagu yang harusnya ceria dan menghibur itu tidak bisa mengusir pikiran yang dari tadi siang memenuhi kepalaku. Sepertinya aku salah sudah memukul Roni. Aku harusnya bisa lebih bersabar dan bijaksana.

“Mau pulang sekarang, kak?” Yoga datang padaku. Aku harus mengantarnya pulang ke panti. Sudah jam delapan malam; aku melihat jam tanganku.

“Oke. Ayo.” Aku berjalan turun ke basement, motorku diparkir disana. Yoga berjalan.

“Kok sepertinya dari tadi Kak Abe bingung? Ada masalah?” Yoga bertanya padaku. Aku memandangnya, dan hanya tersenyum, mencoba mencari alasan. Tapi tiba-tiba HP-ku berbunyi; ada SMS. Aku membukanya, sementara Yoga masih menunggu jawabanku. Dari Roni. Aku membaca pelan dalam kepalaku. Cermat, dan aku mulai tersenyum.
Kita harus mengakui bahwa malaikat itu
memang benar ada, nyata.
Tapi ketika mereka tidak bersayap,
kita menyebut mereka SAHABAT.
Thanks, buddy.

PS:Thanks buat tonjokkan tadi. He4… :)
Aku menutup SMS itu. Tersenyum senang, bersyukur.

“Memang ada masalah, tadi,” aku menjawab Yoga, yang sepertinya sudah menyerah menunggu jawabanku. Tapi dia kemudian tertarik mendengar jawabanku lagi. “Tapi sekarang sudah selesai.” Aku tersenyum pada Yoga, sambil menyerahkan helmnya. “Oke, sekarang kita beli martabak manis dulu, oleh-oleh buat anak panti. Setuju?”

“Beneran, kak?” tanya Yoga senang. Hatiku juga sedang senang, jadi kenapa tidak membagi keceriaan ini buat yang lainnya? “Siap, bos… ayo kita beli martabak datang bulan.”

“Martabak Terang Bulan, kali,” Kataku pada Yoga.

2 comments:

blogE jocepa said...

so sweet.. :D

dah, buat aja buku cerita abe n viktor.. ntar aku first buyer de... :D

Daniel Kurniawan said...

He. Ge dibaca sekarang ke. Padahal kayane dirimu ta tag di notes FB yg kena link ini ta... Hohoho...

Thanks Na. Diamini we suatu hari nanti bakal terbit... Hehehe...

(Aku yo wis kepikiran kok. :p)