Friday, August 8, 2014

Nostalgia bersama Doraemon

Masa kecil saya dibanjiri buku bacaan, entah majalah, tabloid, atau komik. Saya doyan membaca. Banget. Dan salah satu favorit saya itu Doraemon.

Saya tidak ingat seri berapa komik Doraemon yang pertama saya beli, antara seri satu atau tiga. Tapi sejak saat itu saya doyan baca cerita pertemanan antara robot kucing biru itu dengan Nobita cs.

Koleksi saya tidak lengkap untuk komik regulernya, tapi saya punya komik Doraemon seri petualangan, beberapa edisi pengetahuan, dan seri informasi alat-alat ajaibnya. Ada banyak yang secara fisik sudah rusak: sampul asli hilang, halaman lepas-lepas, kertas menguning, dan beberapa komik malah hilang! Bukannya tidak sayang dengan koleksi saya, saya (dan adik saya) sering membacanya, dan saya teledor, suka taruh sana-sini buku-buku saya.

Yes, cerita keseharian Nobita dan Doraemon ini cukup banyak mempengaruhi masa kecil dan pemikiran saya, bahkan sampai saat ini. Saya masih sering ngayal bahwa ada Pintu-Kemana-Saja yang bisa dengan sekejap memindah saya ke rumah teman saya yang ada di luar kota. Atau, terbang dengan Baling-Baling Bambu juga kedengaran menyenangkan. Plus Kain/ Selimut Waktu bakal bikin saya lebih nyaman karena saya bisa mengembalikan barang-barang yang sudah rusak.

Doraemon's Time Machine, Bamboo Copter, Time Cloth, and Anywhere-Door

Yang paling berbahaya, dan sering bikin pikiran saya kelewat berimajinasi--atau merenung--adalah Mesin Waktu. Seorang melankolis seperti saya ini ngarep bisa kembali dan memperbaiki kesalahan yang sudah saya bikin di masa lalu. Atau, kalau bisa ngintip ke masa depan, sisi perfeksionis saya bakal gembira karena saya bisa lebih prepare dan mengatur ini-itu. Tapi, alat canggih itu masih sebatas ada dalam literatur fiksi. Ngeri juga kalau butterfly effect beneran terjadi gegara kita mengubah sebagian kecil kejadian di masa lalu. Dan otak kita sering berharap jadi tuhan atas hidup kita sendiri dengan mengatur, memperbaiki, dan mengetahui apa yang bakal terjadi nantinya.

Salut dan applause saya untuk tim Fujiko Fujio yang berhasil menciptakan kisah yang tidak saja menghibur tapi juga memotivasi dan mengedukasi. Imajinasi yang dikisahkan dalam cerita Doraemon, saya pikir, bukan semata-mata khayalan untuk memukau dan bikin ketawa anak-anak. Jelas bahwa mimpi terhadap inovasi dan pengembangan tekhnologi sukses dipromosikan Pak Fujio dalam komik-komiknya. Juga pesan universal seperti kepedulian terhadap alam, persahabatan, toleransi, kecintaan terhadap budaya, dan kedamaian dunia juga banyak diulas. Ada nilai-nilai dan semangat yang ingin disampaikan dalam ceritanya. Mereka yang sadar bakal ikut merenung ketika mendapat pesan-pesan dari komik ini.

Tiap kali Nobita merengek minta bantuan, Doraemon bakal kasi gadget yang harapannya membantu Nobi, entah karena kemalasannya sendiri atau jadi korban bullying teman-temannya. Nobita ingin hidupnya sedikit lebih gampang dan enak, tapi ending-nya tetap saja ada masalah; Nobita tetep kudu berjuang sendiri. Nobita tetap harus belajar, dan sebenarnya terbukti kalau dia rajin, dia bisa.

Doraemon always tries to support Nobita.

Banyak chapter di komik yang menunjukan kecengengan Nobita, tapi tidak sedikit juga bagian dimana Nobita menunjukkan sisi pemberaninya, terutama di seri petualangan. Dan sebenarnya dia juga cowok yang bertanggung jawab. Dia punya tekad, dan mau berjuang untuk mewujudkan mimpinya: entah menikah dengan Sizuka, berani fight back ketika jadi korban bullying Giant atau Suneo, atau belajar rajin supaya dapat nilai bagus. Hal-hal itu yang ingin dipesankan komik Doraemon, selain inspirasi persahabatan Doraemon-Nobita, kepada para pembacanya.

Those who love Doraemon would agree that their favorite scene is Doraemon's farewell, yang sukses bikin saya, honestly, berkaca-kaca. Yang mengikuti komiknya pasti tahu adegan mengharukan dimana Doraemon harus balik ke masa depan, dan Nobita pengin membuktikan bahwa dia bisa berjuang dan survive sendiri, bahkan mengalahkan Giant. And he did it. Ada satu panel komik itu, dimana dua sahabat itu melewatkan malam bersama; Doraemon menunggu sampai Nobita bisa beristirahat. Di pagi harinya, Nobita sudah tidak lagi bisa menyapa Doraemon, atau menangis minta dia mengeluarkan alat ajaibnya.


8 Agustus tahun ini jadi momen yang paling ditunggu penggemar Doraemon: film Doraemon terbaru, Stand by Me. Entah seperti apa jalan ceritanya, yang jelas, trailer yang sudah muncul menayangkan beberapa scene yang terkenal dari cerita di komiknya, termasuk perjuangan Nobita dan Sizuka di masa depan dan perpisahan Doraemon-Nobita (yang lagi-lagi cukup bikin haru). Akankah film ini masuk Indonesia? Well, saya sih berharap saya (puas) nangis harunya nanti di bioskop, bukan (terpaksa) nonton bajakannya. *crossing fingers*


Dan saya menulis posting ini dalam rangka menyambut film itu, sambil bernostalgia dengan cerita si robot kucing biru. :)





No comments: