Tuesday, November 3, 2009

Daniel meneropong sampe melirik ke belakang

[For FB user, please, please, please click here...]

50 hari. Selang yang cukup lama buat seorang blogger hibernasi. Yang saya lakukan macam2: mulai dari menghabiskan waktu untuk fesbuk yg tidak begitu penting dan sekarang sudah jadi part of my chores, sampe dengan mengejar deadline laporan bacaan untuk kuliah. Ya, saya sudah mulai kuliah sekarang.

Kegiatan kuliah dan ini itu segalanya membuat saya sibuk kepalang, jangan lupa tambahkan segala kegiatan pelayanan di gereja yg sebenarnya menyingkirkan hal-hal yg kurang penting untuk aktivitas yg lebih membangun (I wish I could really understand this statement). Saya makin disisakan sedikit waktu untuk bermain dengan teman, dan melakukan hobi saya yg laen, termasuk tidur yg makin parah sekarang ini.

Disela2 kesibukan saya, selalu ada waktu, or kesempatan yg saya curi, atau meresap begitu saja ke dalam pikiran, dan sepersekian menit, atau bahkan detik, menutup pikiran saya dari keadaan di sekitar... Memori yg sudah lalu, yg belum saya kubur atau masukkan lemari penyimpanan paling dalam di otak saya, yg memang saya pajang di galeri pikiran saya, muncul dan teringat lagi.

Saya teringat kira-kira sembilan belas tahun yg lalu, ketika saya pertama kali masuk TK. Saya teringat memori saya lari-lari mencoba melarikan diri dari kejaran mama karena berontak tidak mau masuk sekolah. Saya teringat beberapa hari kemudian saya yang mengejar mama yg mencoba mengancam dan melarikan diri karena sudah tidak kuat memaksa saya sekolah... Saya teringat masa-masa itu, bagaimana saya mencoba menolak dididik dan sekarang menyadari bagaimana didikan (formal maupun informal) begitu menyenangkannya dan mengisi hidup saya.

Saya teringat masa-masa saya SMP yg sebenarnya lucu dan aneh. Cinta monyet dan lain sebagainya. Perselisihan dan permusuhan. Klik-klik yang terbentuk dan saling berkompetisi dan bahkan menentang satu sama lain. Permintaan aneh dan sensasi konyol ketika 'geng' saya keliatan paling keren. Mutung-mutungan dan mood-moodan... Saya teringat waktu-waktu ketika memang pengakuan terus jadi kebutuhan yang terbesar.

Saya teringat kembali kejadian saya jatuh dari motor waktu saya pertama kuliah. Bagaimana saya membohongi orang tua saya, berdalih bahwa teman yang akan menaiki motor itu, dan berakhir dengan saya terseret motor yang miring dan jatuh. Parahnya sepupu saya juga saya ajak jadi korban. Sampe sekarang kejadian ini terus terngiang, meski saya sudah memecahkan trauma itu dengan bolak-balik PP Salatiga-Magelang yg mulai jadi rutinitas baru. Saya belajar untuk, alih-alih berbohong pada orang tua saya, lebih terbuka dan jujur, karena ternyata itu yang membuat keluarga makin erat.

Saya teringat beberapa waktu ini, ketika saya sedang sibuk-sibuknya dan sedemikian banyak tugas serta aktivitas mencoba menumbangkan saya. Saya bisa bertahan, namun yang jadi korban ketidaksemangatan saya adalah teman-teman saya. Saya masih mengingat, dengan jelas apa yg saya sebut kelemahan saya, perkataan, 'Dankuur kok mukanya lusuh...' atau 'Dankuur mukanya kucel banget...' Sebenarnya saya bisa dengan cuek dan pasang tampang badak mengatakan, 'Memang bawaan orok.' Tapi saya masih mengingat dan bersyukur untuk teman-teman yg sudah kasi saya input. Bahwa ini muka capek juga ngefek bikin orang capek.

Saya teringat satu kejadian kecil ketika saya akan pulang dari kuliah beberapa tahun lalu. Saya sedang menunggu bis, dan bertemu seseorang yg mengaku kehilangan dompet. Tampangnya kasihan dan capek. Tapi saya sendiri bingung bagaimana saya harus menolong. Uang di dompet juga cuma cukup untuk saya pulang sendiri. Dan kejadian ini, seperti yang saya ingat, berakhir dengan saya minta maaf dan meninggalkannya masuk bis yang sudah mencoba melaju meninggalkan saya... Saya menyesal saat itu tidak bisa membantu. Bagaimana nasib orang itu saya juga tidak tahu. Saya mengingat kejadian yang membekas itu, dan sekarang jadi pelajaran untuk melakukan kebaikan dengan spontan dan rahasia...

Saya teringat beberapa hari lalu yg sudah saya lewatkan dengan sia-sia. Banyak tugas menumpuk, tapi saya terlalu bodoh untuk menghabiskan waktu menatap layar fesbuk di laptop saya. Mendownload seabrek banyak dokumen tapi belum bisa 100% memanfaatkan semua resource yang sudah saya unduh itu. Saya kadang menyesal, dan mengaku di malam hari, belum sepenuhnya bijak mengelola waktu... Saya mengingat waktu-waktu itu, dan mencoba belajar untuk lebih maksimal lagi, mengalahkan deadline supaya tidak berakhir dengan diteror deadline.

Saya teringat bahwa diri saya ini adalah seorang pelupa yg sudah bergabung dalam Akademi Pikun, dan sebenarnya mencoba men-drop-out-kan diri, tapi sedemikian susahnya keluar dari Akademi ini. Tapi saya sendiri kadang heran bagaimana semua memori ini bisa muncul dengan sendirinya, dan menjadi ide untuk menulis, tapi kalau boleh jujur, ide awal post ini pun tidak seperti ini, karena lagi-lagi Pikun 101 sudah mendasar di dalam otak saya...

Akhirnya, saya teringat permintaan dan pertanyaan beberapa teman-teman yang selalu mendorong saya untuk kembali menulis, 'Dankuur mana notes-nya...' atau 'Dankuur sudah sebulan nda nulis notes, loh...' Saya berterima kasih buat teman-teman yg sudah berkomentar demikian.

GBU guys...

5 hari lagi...



NB: The days are hot. Fisik di luar panas, di tambah hati di dalam yang tidak berhenti 'dipanas-panas'i. Saya mencoba untuk tidak mengungkapkan masalah-masalah dan keluhan saya lewat fesbuk maupun notes, kenapa? Saya percaya status yang positif jauh lebih membangun dan ngefek baek. Do (read: SAY) something beautiful. Dan saya terus menyiram 'emosi' yang mencoba meledak, meskipun beberapa sukses mengalir keluar dan beberapa kali menambah imej saya yang keras dan galak... :D

No comments: