Showing posts with label Gereja. Show all posts
Showing posts with label Gereja. Show all posts

Monday, December 8, 2014

25 Desember, Sesat?

Dia (anak remaja): Kalau yang gak tertulis di Alkitab itu sesat. *dengan mantap*
Me: Oh, ya?
Dia: Iya. Sesat. Nda bener.
Me: Oh, gitu ya... *nyantai aja* kalau Natal, ada di Alkitab?
Dia: Ada dong, peristiwa Natal-nya.
Temennya: Iya, Koh. Cerita kelahiran itu.
Me: Ditulis lahir tanggal 25 Desember juga, ya?
Dia: . . .
Me: Jadi (ngerayain) Natal (di tanggal 25) sesat dong!
Dia: . . .

Sorry, kiddo, saya tidak rela kamu tumbuh jadi remaja yang punya fanatisme sempit, terus membabi buta menjelekan pandangan lain. I know we surely have different views from other religions or beliefs, but I won't let you develop that kind of narrow-minded, blind faith.

Friday, November 21, 2014

(Sunday School Journal) Solomon's Wisdom

Selain (dulunya) mengajar di sekolah, saya juga menikmati mengajar di hari Minggu, a.k.a ngajar sekolah minggu.  Jadi, saya pengin sharing juga cerita dan pengalaman mengajar saya, itung-itung sebagai jurnal refleksi saya di kelas sekolah minggu.

By the way, saya tahun ini mengajar di Kelas 1, sesuatu yang baru karena notabene saya biasa ada di kelas besar, either pra-remaja atau kelas 4, tapi tahun ini saya memberanikan diri buat terjun di dunia anak-anak yang imut-imut, beberapa unyu-unyu, dan sisanya liar bin memprihatinkan (let me talk about what I mean with 'memprihatinkan' later, ya). Jadi, karena hal ini, sharing mengajar sekolah minggu selanjutnya lebih berhubungan dengan aktivitas untuk anak kelas kecil, meski tidak menutup kemungkinan saya membagikan ide untuk kelas besar.

Kemarin Minggu, kami membahas cerita tentang Raja Salomo, bagaimana dia lebih memilih hikmat daripada kekayaan, umur panjang maupun kekuasaan atau ketenaran. Lalu saya menyampaikan salah satu kisah yang terkenal dari Salomo: perebutan bayi.

Tadinya saya pengen pakai toga wisuda saya, plus bikin mahkota, supaya saya tampak seperti raja, tapi karena beberapa alasan, saya batal melaksanakan rencana ini. Alat bantu yang saya siapkan hanya gambar bayi, dan beberapa gambar hal-hal yang bisa saja dipilih Salomo, tapi tidak dia ambil, seperti gambar mahkota untuk lambang kekuasaan, roti ulang tahun sebagai lambang umur panjang, dan uang mewakili harta dan kekayaan.

Kami mulai dengan nyanyian dulu seperti biasa, kemudian persembahan, dan baru masuk ke dalam cerita. Well, saya mengatur meja memanjang ke belakang, seperti meja rapat, alih-alih satu arah ke depan seperti penataan konvensional di sekolah. Saya pengin anak-anak lebih nyaman berhadap-hadapan (dan nantinya mewarnai gambar) dan fokus pada saya lebih mudah.

Ketika mulai bercerita, saya mengawali dengan mereview cerita di beberapa pertemuan sebelumnya. Kami sudah membahas Yusuf, yang terkenal dengan mimpinya, dan ada Daud, Saul dan Yonathan. Hari ini, saya memancing keingintahuan anak-anak dengan bertanya kira-kira siapa raja baru yang merupakan anak Daud dan menggantikan ayahnya itu. No one answered correctly, but that's fine. Yang saya suka, banyak anak masih saja ingat kisah Yusuf dan Daud.

Kemudian saya menceritakan bagaimana dua ibu berebut bayi, dan bagaimana Salomo akhirnya memutuskan siapa ibu yang sesungguhnya. Ketika diusulkan bayi dipotong, anak-anak pun juga menyeletuk, 'Kasihan, nanti mati.'

Saya melanjutkan dengan menanyakan kenapa Salomo bisa hebat seperti itu. Memilih dengan benar. Dan masuklah saya ke cerita bagaimana Allah menawarkan mau mengabulkan permintaan Salomo. Saya meminta anak-anak untuk menutup mata, karena saat itu pun Tuhan menampakan diri lewat mimpi kepada Salomo. Sambil saya menunjukan satu persatu gambar tadi, anak-anak saya minta untuk mengintip. Tapi namanya anak-anak, dan karena mereka penasaran, ngintipnya cuma berhasil sekali, sisanya mereka melotot pengin tahu.


Dan akhirnya, untuk memberi tahu apa yang dipilih Salomo, saya membuka selembar kertas panjang yang saya tulisi kata HIKMAT. Satu anak berhasil menjawab dengan malu, 'Hikmat itu kebijaksanaan,' meski saya juga tahu mereka belum paham konsep hikmat maupun kebijaksanaan. Jadi saya memberikan contoh bagaimana jadi anak pintar saja tidak cukup, tapi perlu tahu mana yang baik dan mana yang jelek. Jadi nilainya bagus-bagus di sekolah, tapi kalau suka berkelahi atau suka merusak tanaman, itu tidak berhikmat.

Aktivitas minggu kemarin adalah memilih dan mewarnai gambar perbuatan yang baik untuk dilakukan. Seperti biasa saya ikutan mewarnai, supaya anak-anak semangat dan merasa bahwa ini pekerjaan bersama, dimana gurunya juga ikut mewarna.

Ketika mewarna, satu anak berkata, "Pak Guru, kata Bu Guru di sekolah, kalau mewarna itu satu arah. Kalau dari atas-ke bawah, ya terus begitu."


Kalau pengin mendownload aktivitas untuk anak kecil (TK - Kelas 3), bisa klik disini, sementara link ini untuk aktivitas kelas besar (Kelas 4 - 1 SMP). Bentuk file dokumen, dan jenis font bisa disesuaikan.

Next week, we're gonna talk about the story of how King Solomon built the Temple, but I won't be delivering the story.


Friday, October 10, 2014

Kok, Bertengkar dengan Kakak-Adik (dan Papa-Mama)?

You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them. ~ Desmond Tutu

"Karena sering dijahilin sama Kokoh"
"Kalau pulang sore karena ngerjain tugas (sekolah) terus dimarahin."

Itu beberapa alasan yang dituliskan teman-teman remaja ketika saya memimpin sesi diskusi dan sharing Sabtu lalu di Persekutuan Remaja, GKI Pajajaran Magelang. Tema yang diberikan ke saya, 'Sayang adik-kakak,' dan awalnya langsung bikin saya bingung. Saya punya satu adik, dan bukannya saya tidak sayang adik saya, tapi mungkin teman-teman dekat saya tahu kalau saya tidak sering menunjukan keakraban adik-kakak sebagaimana yang ditunjukan siblings yang lainnya.


Saya memperluas sedikit tema itu, dan menambahkan topik 'sayang orang tua' ke dalam diskusi kami (yang ternyata sudah dibahas minggu sebelumnya). Saya jadi tergelitik ketika membaca sms yang menyebutkan tujuan dari diskusi tema ini: supaya kakak adik tidak terus-terusan bertengkar, dan tidak melawan mama-papa. Kenyataannya, tidak jarang saya sering diskusi dan bahkan mengkritisi (kalau mau dibaca: melawan) pendapat orang tua saya.

Dari beberapa referensi yang saya baca, kita bertengkar—beda pendapat, salah paham, berselisih ide—dengan orang tua maupun saudara karena beberapa hal. Well, saya memulai diskusi malam itu dengan meminta mereka menuliskan contoh alasan-alasan sehari-hari yang sering memicu pertengkaran di rumah.

Menarik ketika membaca pengalaman yang dituliskan teman-teman: rebutan channel televisi, ortu yang galak, sok tahu, kakak yang sok berkuasa, ngotot-ngototan, bahkan sampai faktor kegantengan sang kakak yang di bawah standar harapan sang adik.


Saya minta mereka menempelkan post-it tulisan mereka dalam dua kategori: orang tua dan saudara, membahasnya secara singkat, kemudian menanyakan beda secara umum alasan dari kedua kategori itu. Seorang remaja langsung menjawab, 'Kalau dengan kakak-adik, bisa dua-duanya sama-sama salah. Tapi kalau dengan orang tua, biasanya orang tua benar, kita yang salah.' I would agree with that.

Kita dan ortu atau saudara bisa saja bertengkar karena kita punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan dan menerima kasih, atau cinta. Alasan pertama perselisihan dalam keluarga adalah perbedaan bahasa kasih. Saya meminjam istilah bahasa kasih yang diperkenalkan Gary Chapman, dan dalam bukunya, yang notabene sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dia menyebutkan ada lima jenis bahasa kasih: kata-kata penguatan (words of affirmation), pelayanan (acts of service), sentuhan fisik (physical touch), pemberian hadiah (gifts), dan waktu bersama (quality time). Betewe, kita bisa cari tahu jenis bahasa kasih kita disini. Bahasa kasih saya? Saya rasa sudah ada perubahan: antara sentuhan fisik, kata-kata penguatan, dan hadiah.

Keluarga jadi tempat pertama kita menerima, menyatakan, dan melatih mengekspresikan sayang kita, dan memakai ide Chapman, kita punya bahasa yang berbeda untuk melakukan itu. Seorang ibu mungkin ingin melayani anak, 'memanjakan' mereka, tapi sayangnya si anak merasa risih. Budi memikirkan dan menyiapkan hadiah khusus untuk papanya, yang malahan tidak kelihatan begitu semangat menganggap hadiah spesial itu. Atau, Nora pengin menghabiskan waktu lebih dengan adiknya, kemudian 'caper' dengan iseng dan jahil, tapi adiknya menganggap itu kenakalan yang mengganggu. Well, at least, that what I did to my younger brother. Beda bahasa kasih ini juga nampak ketika mendengar jawaban dari seorang teman, "Mama pengin jemput saya, tapi saya tidak pengin merepotkan. Nah, kami kemudian bisa bertengkar, deh."


Alasan kedua adalah karena tiap anggota keluarga pada dasarnya ingin merasakan atau memiliki kebebasan dan privasi. Sang anak ingin bebas bepergian, entah untuk menyelesaikan tugas belajar ataupun untuk tujuan bermain, tapi ortu di sisi lain khawatir. Orang tua juga sering menetapkan aturan, yang dianggap mengekang dan membuat anak gerah. Belum lagi aturan tidak resmi dari kakak untuk adik, seperti ketika saya melarang adik saya buat rebahan di ranjang seenaknya ketika ia pulang dan masih berpakaian kotor dengan debu atau keringat dari luar rumah.

Kita sering merasa tidak nyaman dengan aturan yang dibuat dalam keluarga, atau beberapa menyebutnya 'kontrak keluarga'. Tapi kenyataannya, aturan itu, ketika dibuat dengan dasar dan tujuan yang baik, tidak pernah dimaksudkan untuk mengurangi kebebasan kita. Disiplin yang ingin diterapkan bertujuan meningkatkan kualitas pribadi kita. Menaati orang tua bukan berarti melenyapkan atau membatasi kebebasan, justru malah kita sedang menyiapkan diri untuk nantinya terbiasa hidup disiplin dengan sendirinya. Akan tiba masanya ketika anak berpisah (rumah) dengan orang tua, dan dianggap ada kebebasan lebih. Tapi sampai saat itu tiba, biar kita menikmati hidup dengan aturan yang ada.


Dan terakhir, kita sama-sama punya kepentingan, pandangan, dan prioritas yang berbeda. Belajar bisa saja dianggap tugas nomor satu oleh orang tua, atau untuk orang tua yang lain, membantu ortu juga tidak kalah pentingnya. Sementara anak bisa saja melihat bahwa mereka butuh hiburan, perlu menyalurkan bakat, dan ingin menghabiskan waktu bersama teman. Ortu dan anak bisa saja ribut besar gegara pemilihan jurusan kuliah, karena ortu lebih memikirkan apa yang dianggap menghasilkan banyak uang, sementara anak pengin mengembangkan bakat mereka. Atau ketika saya dan ortu rebutan channel televisi, karena beda melihat apa yang dianggap hiburan.

Jadi bagaimana supaya tidak bertengkar? Ya, for me, kembali melihat tiga alasan itu; apakah memang ada perbedaan dalam memandang dan memahami bahasa kasih, kebebasan dan privasi, serta kepentingan dan prioritas hidup. Next, kita perlu memikirkan bagaimana berkomunikasi supaya perbedaan itu bisa sama-sama dipahami dan diterima. Dan belajar berkomunikasi itu hal yang lain lagi. Tapi at least kita sudah mencoba lebih peka melihat hal-hal yang bisa memicu perselisihan dalam keluarga itu. Dan ketika semuanya didasarkan dan dimulai dengan kasih atau cinta, saya rasa kita bisa lebih menghindari atau mengurangi pertengkaran di rumah. Atau menganggap perselisihan itu bukan hal yang destruktif.



Wednesday, July 30, 2014

20 Things from Pajajaran's X-Factor 2014

Bukan. X-Factor yang ini bukan kontes menyanyi atau kpntes bakat seperti di TV, meski memang kami ada menyanyi dan unjuk bakat juga. Ini (Bible) Camp yang diadakan Komisi Remaja-Pemuda GKI Pajajaran Magelang.
Pola di GKI Pajajaran itu dua tahun sekali diadakan camp komisi, bergantian dengan camp jemaat. Here are 20 things I did, got, or learnt, or noticed in/from this bible camp.

1. Camp gabungan yang terakhir saya ikuti ada di tahun 2010, jadi ini semacam nostalgia dengan suasana gabungan remaja-pemuda seperti itu.

2. Buku acaranya ngambil tradisi lama terutama bagian schedule acara yang memakai gambar-gambar macam storyline. Good job, my bro!


3. Nama kelompok mengusung nama power dari superheroes X-Men, yang cukup menarik buat seorang superhero-geek seperti saya. :P

4. Saya dapet kelompok Optic Blast, yang dimiliki Cyclops, member X-Men yang dari dulu saya gak tertarik. #sigh


5. Talent show! Been a while since I last had it! Meski awalnya malas, tapi menikmati bakat-bakat yang ditampilkan. Haha.

6. Dan yel-yel kelompoknya itu bikin ketawa-ketiwi.

7. Saya sadar saya cukup baik menyusun konsep tapi bukan seorang pemimpin yang cukup sabar dan tahu bagaimana melibatkan semua untuk ikut bekerja.

8. Dan saya tidak bisa duduk tenang ketika melihat jadwal terganggu. Meski saya tetap memaksa diri untuk tidak ikut campur tangan dalam panitia.

9. 150 ribu, while for many would still be expensive, sebenernya sudah termasuk murah untuk standar camp 3D2N, dengan semua akomodasi, konsumsi, dan materi yang diterima.

10. Sementara kelompok remaja belajar tentang menggali dan memaksimalkan potensi diri, kelompok usia pemuda belajar membangun relasi yang baik. Yes, kami dipisah sesuai usia kami di dua sesi utama.


11. Walking-prayer is indeed a new, interesting idea. Thanks to Sabian. Despite my intolerance to the tardiness.

12. Tujuan baik tapi kalau kemasannya kurang menarik atau kurang pas juga bisa jadi tidak efektif tersampaikan dan diberikan.

13. Dan perbedaan faktor usia itu juga perlu, perlu diperhatikan dengan sangat. Baik itu untuk peserta ataupun audiens, dan panitia penyelenggara. Meski yang kedua jaraknya tidak terlalu jauh.

14. Setelah Salib Putih, mungkin Wisma Bukit Soka menawarkan pemandangan (Salatiga) yang indah. Yes, view nya dari tempat ini cukup bagus, tapi hal-hal lain dari wisma ini perlu diperbaiki.

15. Keywords untuk membangun relasi yang baik? Empathy, active-listening, dan kerelaan hati.

16. Peraturan HP 'disita' selama acara lumayan membantu digital-detox. Dan salut krn para peserta, at least kelompok saya, bisa disiplin, bahkan mengingatkan saya untuk itu. Mungkin bisa dicoba ketika mulai ibadah di gereja ya. :P

17. Hari kedua pagi: saya (yang notabene mentor kelompok) TELAT BANGUN! =.=

18. Saya (seperti pengamatan dan komentar temen-temen kamar) mandi paling lama. Uhuy!

19. Saya sekarang ini tidak bisa banyak terbawa suasana refleksi/haru ketika malam komitmen/ KKR. Justru saya bisa lebih merenung, berefleksi, terharu, entah sampai menangis atau tidak, dalam nyanyian/ibadah biasa.

20. Dan pelajaran terakhir yang saya dapat: jangan mengeluh dengan orang yang (kelihatan maupun tidak kelihatan) capek. Nah loh!

Satu lagi ya,

21. Did I enjoy the camp? YES.

Tuesday, September 1, 2009

Daniel found several inspirations... (dan ga mau kaya Marshanda)

Hi!

Diriku kasian juga liat Marshanda. Sudah sempet donlod dua tube dari youtube tentang si Cha2 yg nyanyi sambil nangis. Frowning. Aneh. Ngopo kuwi, nda mudheng. Sudah lama juga nda nyimak inpotainment... :p Tapi kalo ada orang yg bisa sampe sebegitu unwell-nya (kalo dia ga mau dikatakan mad), berarti something wrong within, plus many pressuring wrongs from outside... :)

Eniwei, ada tiga hal (or bidang) yg kalo sudah bermasalah, juga bisa bikin diriku down, depresi, en ujung2nya males ngapa2in (baca: lemes, lesu, nda bersemangat). Dan mereka adalah: hubungan dengan Tuhan, temen (or more often close friends), en gereja. Yang terakhir, sudah beberapa hari bikin down en males. Semalem pun rasane loyo banget buat dateng ke gereja (walo awalnya ga loyo buat kumpul bareng anak2 KTB, yg seneng ngaco... :p). Stres.

Tapi, praise the Lord, kalo diriku tetep kuat (which is for me a big change in my life, bandingin dengan jaman dulu yg full mutungan en males2an kalo udah ada masalah...). Diriku ga kepengin kaya Marshanda, yg kalo udah down, terus blow up... Meledak. Rekam youtube, sebarin, en 'cari sensasi' (or lebih tepatnya hunting pity from others... sory). Jangan bayangin juga diriku terus rekam video narsis, sambil nangis bombay, telenji dada, terus nyanyi2 Lupa-Lupa-Ingat sambil meratapi kesedihan dan kedudulan hidupku plus mengacak2 rambutku yg tadi barusan dibilang ga terawat oleh anak2ku... Mutah, silakan mutah...

Diriku bisa bertahan selaen karena yakin sama Tuhan, juga karena banyak hal stupositip lainnya yang bisa saya lihat, en instead of stupidly sitting and thinking of my problems without doing nothing, kenapa juga ga mencoba me'metani' yang baek2 en keep on running on my track, masih banyak yg bisa dilakukan... Dan masih banyak yang bisa dilihat. Masih banyak yang terus memberi inspirasi dan membuat saya salut. Masih banyak yang memberkati dan menguatkan...


Saya salut dengan satu sahabat yang sudah berubah. Dulu pernah melewati masa-masa gelap yg emang sudah down-se-down-downnya yang keliatannya sudah nda ada harapan; saya kagum dengan perjuangan en pemikiran dewasanya. Sekarang lebih mau terjun en peduli en mau kembangin diri lebih lagi... Salut buat kasih en kepedulian yang sudah ditunjukkin juga...

Saya salut dengan sepasang kekasih yg both are willing to (and perhaps called) to teach... Mereka yg sudah berdedikasi buat mengajar, en melayani. Salut buat kepedulian dan kerinduan mereka. Salut buat perjuangan mereka melewati masalah bersama... Salut buat pemikiran 'matang' mereka (yg walo sering kita beda pendapat).

Saya salut dengan sahabat saya yang nun jauh disana, about 550 km apart. Saya melihat perubahan, ada kedewasaan dan kepercayaan serta keterbukaan. Saya masih ingat sifat dia yg nyebelin, tetapi sekarang sudah mau peduli en berkorban. Cuman gara2 ada Drum Band di kampus, dulu dia mo batalin kerja kelompok. Tapi sekarang sudah jauh berbeda, en berpikir dewasa. Saya bersyukur mengenal dia. Lagi2 juga salut buat dedikasi dia di dunia pendidikan.

Saya salut dengan beberapa mantan mahasiswa praktek yang pernah singgah en meninggalkan bekas di GKI Pajajaran (entah bekas yg baek or buruk :p Entah meracuni or justru malah diracuni). Mereka yang sudah mengamati dengan baek. Mereka yg diakhir2 masa pelayanan, sempet mendengar sharing saya. Mereka yang sudah kasi konsultasi gratis. Mereka yg sudah bikin pelayanan lebih semangat. Mereka yg sampe sekarang masih keep in touch and pray for each other...

Saya salut dengan mantan guru saya. Meski bagaimana dulu saya memandang beliau, sudah berbeda setelah sekarang saya jadi kolega dia. Saya salut dengan nilai2 dan pemikiran filosofis yg diajarkannya (yg ternyata dia juga dipengaruhi oleh dosennya), dan sekarang saya juga jadi suka men-sharingkan nilai2 itu juga di kelas... Saya salut untuk pengabdian en kerja kerasnya, meski sekarang her hair turns grey...

Saya salut buat beberapa seniors di gereja, yang beda dari seniors laen yg, sorry, uncaring and ignorant (or do not want to struggle that hard). Tapi salut buat mereka yg sudah tetep peduli en berkarya. Yang walo pemikirannya ditentang banyak orang, dan dibilang terlalu idealis, tapi tetep melayani dengan hati. Mereka yang tetep bertahan, dan tidak mundur, bukan karena hanya kasihan en terpaksa, tapi karena keteguhan hati en kepercayaan mereka yg bener. Mereka yg sudah punya sense of belonging...

And finally, saya salut buat satu murid saya, yang setiap kali melihat dia, seperti melihat potret saya di masa lalu. Satu kerja keras, en pioneer untuk sekolah. Saya ingat bagaimana saya menantang dia, "Kalo sudah siap, ntar bantu saya di sekolah ini. Almamatermu." "OK, saya juga kepikiran begitu, kok, Koh..." I long, long time ago, once said such statement, for myself (sayangnya ga ada yg pernah personally chat with me). Entah itu masih pemikiran terlalu dini, atau apa, tapi saya punya pe-er untuk memupuknya.


Saya bukan Marshanda. Saya juga nda mau jadi seperti dia. Saya bersyukur masih bisa salut, mendapat inspirasi, dan sebagainya. Saya menulis juga bukan pengin di-pity-in oleh mereka. Saya menulis mau berterima kasih untuk tetap menginspirasi saya, dan semoga orang laen.

Ada yg bilang, en saya would 100% agree, kalo jaman sekarang, people, especially the youth, are lack of inspiration, not motivation. Motivasi banyak en mudah ditumbuhkan, tapi inspirasi sedikit, or jarang, dan makin langka. Motivasi bisa meleret. Inspirasi bakal terus dikenang en nda terlupakan kalo memang real ones... :)

So, keep inspiring people, guys!!!

GB.



NB: Mungkin saya sudah keracunan kopi...

Wednesday, August 19, 2009

Daniel berpikir bahwa dirinya lagi kejepit...

Halo.

Saya terjepit. Bukan diantara teman2 yg gembrot. Bukan diantara reruntuhan bangunan. Bukan juga diantara dua kasur di rumah (meski dulu hobi saya juga menjepitkan diri diantara dua kasur, dan ga jelas tujuannya apa tapi enak aja ada di dalem sana...).

Saya terjepit di dua situasi. Antara memilih untuk membela atau memasang tembok tanpa-kompromi. Antara percaya atau anggap-saja-sebagai-angin-lalu. Antara kepedulian atau cuek sama sekali tidak acuh. Antara idealis dengan praktis. Diriku tetep pegang kata hati, en bekerja sesuai aturan, walo ga berarti untuk tidak peduli dan menjadi kaku. Diriku bingung. Sementara di dalem hati masih perlu dikorek dan dibersihkan lebih dalam lagi (dan diisi lebih penuh lagi), di luar tantangan dan tuntutan semakin banyak. Kadang kepala ini seperti ricuh, ribut, dan rame ada perang: ada beberapa sisi dari Daniel yang bertarung. Sejauh ini, satu yang menang (walo selalu berdarah-darah sampe lelah) adalah: kerendahan hati. Selalu satu makhluk ini berteriak, 'DIAM! DENGAR! DAN JANGAN JADI SI SOK TAHU!'

Eniwei, diriku barusan membaca dua paragraph pembuka tadi (plus satu kata menyapa), dan merinding sendiri en heran, kenapa en apa yang sebener'nya sudah terjadi. Mungkin temen2 juga pada heran, ini sebener'nya si Dankuur lagi kumat ayan, kumat gila, or kumat sok-filosofis-nya... Well, diriku sengaja tidak menghapus dua paragraf di atas, biar jadi bukti satu tulisan yg keluar dari otak yg mungkin kelewat besar ini.

Oke, so, diriku sudah lama tidak nge-post, dan menyadari makin males; kenapa? Banyak gawean (yg menumpuk, tapi belom sampe deadline kok, bahkan beberapa tanpa deadline, nikmatnya...). Dan ditengah semua gawean itu, diriku selalu menyempatkan diri buat dolan bareng temen2, dan hobi kami akhir2 ini adalah Angkringan a.k.a Kucingan. Iya, kami nyewa pussy cat... GA! Kami sering nongkrong malem2 menikmati wedang teh jahe or susu jahe, sambil menikmati dinginnya udara magelang di alun2 kota. So stylish en keren banget (mutahlah, dan heranlah... yg masih belom jelas angkringan itu apa, bayangkan satu kafe yang keren en diisi banyak artis, mhwahwahwahwa).

Eniwei selanjutnya, diriku kemaren barusan digitally edit satu foto narsisku. Gila, en bayangin (lucu plus narsis banget kenyataan ini). Pagi hari minggu, diriku berangkat ke gereja, buat menjalankan tugas jaga perpus shift pagi, so tidak ada kerjaan karena jemaat juga masih pada ibadah, en karena diriku ada inspirasi (baca: contekan ide) dari foto orang laen, so, diriku dengan narsisnya memotret pake kamera hape di dalem perpus gereja, en straight away ngedit tu foto, alhasil jadilah satu foto ini di jam 10 siang. Langsung deh, diriku upload tuh foto jadi propil poto di pesbuk. Wakakakaka. Bangga banget, walo menyadari ternyata dah lama ga ngedit foto efeknya gedhe juga, en tetep ae kudhu banyak belajar lagi. Thanks buat yg sudah kasih compliment, hehehe...

Oke, diriku pengin bersyukur buat beberapa (or banyak hal yg sudah terjadi selama ini), Tuhan, tolong denger, ya...
  • Buat anak2 SMAKI yg seperti biasa selalu buat sensasi di awal tahun ajaran baru, en tahun ini diriku dapet satu anak yg jadi korban 'Ihiiii, dicari Pak Dankuur,' berinisial C. Hahaha. Bangga.
  • Buat anak2 KTB yg malah jadi pemacu kerajinan kam-bing-mu yang satu ini. Sudah tiga minggu bolong, en kalo ketemu mereka sering ditanya, 'Ayo, Koh, KTB lagi... Kapan mulai?' Semangat KTB IMMANUEL!
  • Buat kerajinan bikin en revisi materi tahun lalu, plus kerajinan untuk mendisiplinkan kerohanian saya.
  • Buat keluarga yg makin lucu (en aneh) plus terbuka en ramah en akrab... Walo kadang papa masih sering marah, nico masih sering mutungan, dan mama masih sering bawel.
  • Buat SMAKI sendiri yang masih jadi wadah pembentukan karakter dan pemerkaya pengalaman.
  • Buat kesehatan. Gila yang satu ini saya sendiri juga heran. Di tengah batuk, pilek, dan flu yg menyerang kebanyakan temen, sampe sekarang, Praise the Lord, saya baik2 saja en ga kena apa2, cuman kemaren pusying gara2 digebyur (baca: dikerjain) anak2 waktu lomba di skul... Padahal sudah jadi rahasia umum kalo Dankur itu lemah fisik en ga pernah olah raga... Hahahaha...
  • Yang penting, buat sahabat-sahabat yg mengerti en mendukung dalam setiap keadaan. Meski kadang diriku sendiri masih belom bisa cerita semuanya, en menyadari belom bisa kasih banyak buat sahabat, tapi seneng kalo inget mereka, inget ada teman untuk berjuang bersama di dunia ini...
  • And above all, buat Tuhan yg makin membentuk dan terus menyertai saya...
Lagi2, diriku sudah bisa menebak pertanyaan Anda sekalian, 'Sebener'e ini dankur lagi ngomongin apa to.' Inilah resiko orang yg punya otak besar, en males buat brainstorming dulu, terus outlining ideas, organizing, proof-reading, en editing his writing (padahal notabene diriku adalah ex-asdos writing yang sudah ngublek-uthek masalah seperti ini both in Writing 1 and Writing 2)... Wakakakakakak...

GBU all, guys!

PS: Tambah satu diriku kejepit: antara sadar dengan ngayal dan ngaco. Hahahahaha...

Wednesday, July 29, 2009

Daniel (kembali) merenung, (en mungkin ngelantur...)

Halo!

Dankuur akhir2 ini bisa dibilang berkepribadian ganda. Eits!!! Jangan mikir yg nda2 dulu: Kalo pagi jadi Pak Dankur (guru yg cool en baek hati [mutah ya?], en kalo malem akika jadi Daniela yang belenggang molek dan asoy. AMIT2! Ga! Maksudnya ada dua sisi yg terus berperang di dalem ati ini.

Satu Dankuur pengin rajin kerja, rajin belajar, dan mendisiplinkan diri. Satu Dankuur yg laen mencoba menggeret Dankuur ke kemalesan yg lama. Yang menang, so far kerajinan masih bertahan. Satu Dankuur pengin terus mbisiki gosip, en ngajak nggosip yg ga membangun tapi malah men-smack-down orang. Satu Dankuur bilang apa untungnya nggosip? Yg menang: Dankuur yg ga suka nggosip sudah bisa menaklukan si Dankuur seneng gosip. Satu Dankuur pengin mengasihi keluarga-nya lebih lagi, en nunjukin itu semua ke keluarganya. Satu Dankuur yg laen mencoba menutupi semuanya itu. Yang menang: seri. Satu Dankuur pengin cuek, ga mau peduli, en pasang headset tebel2 buat nutup telinga tentang masalah gereja. Satu Dankuur tetep membakar api peduli. Yang menang: yang terakhir apinya makin gedhe.

Eniwei. Sudah sekian lama, diriku menyadari tidak nge-blog. Agak aras2en (baca: lazily abandonding reluctant) buat update blog. Mengingat juga bahwa ada twitter (yg sekarang juga sudah daku neglect-kan) dan ada plurk (yang lagi gencar, en diriku mengakui kecanduan, tapi wajar [???]). Dan plurk berhasil menaklukan kerajinanku sedikit banyak (Baca: rajin nge-plurk).

Eniwei (lagi), sebulan ini ada dua farewell, which I do HATE so much. Entah dari dulu diriku paling benci farewell party. Rasan'e emoh banget buat pisah sama seseorang. Kemaren (dulu) ama Maria. Sekarang ama Sabian. Oh, God. Rasane berat banget buat 'kehilangan' temen2 yg bisa diajak share bareng. Bisa kasih masukan. Bisa diajak konseling. Bisa diajak seneng2 bareng, en susah2 bareng. Bisa 'mudheng' 'hal-hal macam itu'. Bisa dihina en dikerjain (peace, Sab, Mar!) Arrrgh....

Diriku mencoba buat terbiasa berpisah, karena percaya besok bakal ketemu lagi (di Sorga sana, Amien). Karena percaya bahwa God has a greater plan. Karena percaya dimanapun mereka semua juga tetep bisa berkarya en melayani. Karena percaya masih ada keluarga yang jadi temen. Karena percaya masih ada sahabat2 di Magelang yg juga bisa dipercaya en diajak bekerja keras bersama. Karena percaya masih ada kasih yang sejati itu...

Untuk yg terakhir barusan, semalem ngobrol bareng Sabian (thanks Sab buat malem terakhir, wokokoko... Kapan ya malem pertama kita?). Ga banyak orang yg tahu keadaan seseorang. Ga banyak orang yg emang pernah kuceritain kenapa begini-kenapa begitu. Ga bisa juga kemudian asal cerita, kaya artis aja yg pengin cari sensasi, tar dikira orang gila. At least semalem mencoba mencari tau en menggali lebih dalem, kenapa. En sampe pada jawaban ultimate itu.

Oke, mencoba ganti topik: kerjaan (baca: ngajar). Beberapa masih tanya: Dankuur, jadi ke Jakarta? Kapan berangkat? Yang di Jogja gimana? Diriku cengok. Bingung. Heh. The fact: Saya stay di Magelang, sodara2. Ga jadi kemana2. Tetep bertahan di tempat kerja sekarang. Masih mengajar SMAKI, plus SMPKI. Kelas XI dan Kelas VII (variasi yg aneh...).

Diriku masih terus rajin, mengamati, dan mencoba tetep bekerja keras, melakukan apa yg kubisa. Belom bisa drastis juga berubah dan mengubah. Tahu bahwa ada proses, tapi tidak sebegitu lambatnya kami berubah, dan tidak bisa sebegitu cepatnya dirubah. Tapi kami mau berubah. Diriku lagi belajar mendoakan, bahkan sampe tengsin, malu, en jaim banget doa buat 'musuh' (baca: mereka yg nda sepaham) (gile bener..., dulu mikir, ngapain ndoain mereka... sekarang lagi bener2 dibanting2 ni sama Tuhan). Sudah agak lama diriku mendisiplinkan rohani juga, belajar SaTe lebih intensif, denger apa maunya Tuhan (en pagi ini ada yg bilang bahwa kehendak Tuhan tu ga bakal bisa kita ketahui... mmm... I won't fully agree to that...). Mungkin bener apa kata Pak Andreas kemaren: mengembangkan kepekaan.

2 minggu sudah lewat sedari hari2 awal mengajar. Diriku merasakan banyak perubahan kecil namun ngefek besar: ga sering marah2 di keras (walo si Deddy + Nana kemaren shock denger power/volume suara ngajarku menurut mereka 'menyentak2', padahal anak2 sudah terbiasa), en lebih banyak ketawa, becanda (tapi tetep bisa ada porsi serius). Ada satu anak yg tadinya cuek en males banget, sekarang sudah bisa saya 'siasati' en dia jadi penyemangat juga ngajar di kelas XI. Di SMP, diriku mencoba 'merendahkan diri' dateng ke anak2 yg 'bermasalah' belajarnya, tanya, kok nda mudheng kenapa, sampe mereka juga heran, 'Ini Bapak jangan2 pengin pedekate sama saia, idieh, ganjen, genit...' (padahal dua cowok). Wokokoko. Diriku lebih banyak beri motivasi en masukan, en sudah ga sebegitu kolotnya mengajar en mengharap perfeksi... Thanks God.

OK, diriku menyadari sejauh mana sudah ngelantur, karena emang hobi. Banyak yg sudah disampein, en sebagai mantan Eks AsDos Writing, diriku juga kalo suruh baca ulang bakal tereak2 ndiri karena organization teks ini kaco balo, ga tahu juntrungan mo kemana. So, moga2 kasih berkat buat semuanya...

GBU, guys (and thanks for reading)


NB: PeEr diriku tetep banyak: desain profile YPKI, bikin laporan, bikin program tahunan ngajar, nyiapin administrasi laen, dll... tapi tetep wae, sebagai procrastinator sejati, diriku masih ga bisa sepenuhnya nyelesein mereka. Tapi bakal beres kok, at least di menit2 terakhir... Hahaha!

Monday, July 6, 2009

Daniel pulang dari Camp, terus maen game (or maen game terus?)

Halo!

It's been quite a long time since I last blogged. Liburan tinggal seminggu, en masih aja ada 'Pe-eR'. Banyak yg tanya Dankuur mau kemana tahun ini (baca tahun ajaran baru ini). Let me make it clear: stay in Magelang. Ada satu rencana besar, yg sampe sekarang emang belom 100% jadi, so, I couldn't tell more for sure saat ini. But, please pray for me, semoga semuanya lancar di bulan Agustus nanti.

Ok, so last week, sudah lewat Camp Jemaat: 3 hari yang dingin di Bandungan, Green Valley (what a picturesque place! Patut dicoba nginep disana! Pelayanan'e juga mantap!). En, I learnt many things. Banyak yg terjadi waktu Camp. Yg awalnya agak pesimis karena peserta yg dikit, eh, ternyata Tuhan percayakan 90 peserta yg luar biasa rame! Nge-game bener2 nunjukin sifat2 asli tiap orang. Kita yg pemuda2 yg udah biasa outbound, (en perhaps because our minds have been a bit transformed) or nge-game, ga begitu se-kompetitif-nya dengan yg 'tua2'. Kita maen dengan semangat emang, en rame, coba aja kalo si Titi direkam waktu tereak2 'nyebrang sungai'. Tapi yg bikin heran, en sempet kita diskusi'in, adalah semangat 'kompetisi'-nya kaum dewasa en tua, yg ternyata menghalalkan segala cara buat menang (padahal ya ga ada hadiahnya!). Ada yg sampe ga mau ngalah!

Eniwei, ada kejadian dalem camp jemaat sempet bikin 'jengkel' juga. Lah, gimana ngga' jengkel, sementara kita (baca: kaum muda) mencoba mengejawantahkan (haiyah!) tema yg diangkat (baca: Bangga menjadi Keluarga Allah), yg notabene bertujuan menyatukan Keluarga Allah (baca: Gereja), eh, tetep aja masih nyalah-menyalahkan TANPA TAHU APA YG TERJADI. Sedih. Ternyata sudah gitu, tetep aja ada yg nyengak dengan seenaknya. Diriku cuman bisa menghela napas sambil ngelempar roti bakar balek ke tempatnya (yang tadinya pengin aku makan, tapi ga jadi) (oh, ya kenapa ga lempar roti bakar ke orang yg nyengak ya? Wakakak...).

Ok, masih tentang Camp, kayanya ini bakal jadi yg terakhir yg meninggalkan kenanganku bersama sweater ijo lumut yg kucinta. Sudah hampir setaun lebih deh sejak kubeli tuh sweater dari 69 jogja (nda bener?). Masih inget saat2 pertama nemuin tuh sweater disana, dengan tulisan diskon 50%, en langsung ta samber gara2 warna ijo-nya... Cocok! Lah, sekarang udah ilang. Huhuhu... Good bye my sweater! Gonna miss u so much. En sekarang berarti: SAATNYA SHOPPING CARI SWEATER BARU (padahal dirumah masih ada beberapa sweater en long-sleeve semacam itu... Hehehe. Tapi tetep aja ga ada yg bisa gantiin tuh sweater kaporit, eh paporit).

Oh, ya, diriku ada dua kesibukan baru (menambah segala hal 'yg membuat diriku nampak sok sibuk'): ngupil en boker... ga. Just Kiddin'! Yg bener: latihan dotA en nyelesein Pokemon Platinum. Wakakaka. Bener. Diriku lagi belajar maen dotA. Ternyata enak juga. Tapi tidak disarankan buat semua pembaca untuk mencoba dotA, apalagi murid2ku. Ya, kalo murid2 pada bisa ngontrol sih gapapa. Kalo ga bisa, parah! Mending ga usah maen! Diriku cuman maen bentar. Ga tiap hari juga. Kalo yg bareng2 juga ga rutin. Cuman ngusir kebosanan en kejenuhan. Kalo lagi latian di rumah (maen bareng nico, meski ga di LAN karen Nico pake PC aku pake Laptop) diriku merasa inferior, karena Nico jauh lebih canggih daripada aku!!!! Asem!!!! Kudhu belajar banyak sama Guru Nico, en Kakek Guru Benny... Wakakakakakak.

Nah, kalo yg kedua (baca: Pokemon Platinum), ini yg lebih addicting. Entah kenapa, masih aja suka maen Pokemon. Nostalgia jaman SMP-SMA. Dulu dari yg Pokemon Green, terus Crystal, Diamond, sekarang Platinum. Buat yg ini, diriku milih Piplup. Pengin-nya tetep Piplup, ga di-level-up, tapi tar defense-nya parah... Wakakakak. Banyak pokemon baru yg diriku ga kenal. En males juga nangkep2. So far, udah sampe Gym ke-2. Diriku udah nangkep Starly en Luxio juga (gantinya Pikachu, bosen!). Lagi cari yg fire, grass, en ice... Huhuhu. Belom juga dapet yg cocok.

Well, ganti topik, ah! Kemaren diriku ikut seminar RenStra (Rencana Strategis), yg diadain BPPK GKI SinWil JaTeng. Seneng juga, en ternyata bener2 nyadarin kalo diriku masih 'kosong'. Banyak hal baru yg aku dapet, en bikin semangat juga (seperti biasa, termotivasi, ga tau sampe kapan ini motivasi bakal membara). Tapi rasane seneng denger seminar yg notabene dibawain oleh sumber yg ga begitu 'tua', terus so idealistic, tapi tetep membumi. Konteks emang beda yg dialami di tempatku en di tempat tuh narasumber, but at least, ini bisa jadi contoh, en menyemangati diriku untuk 'membawa perubahan'.

Betewe, recently, saya belajar (duh, mulai serius, siap2 buat mutah en mimisan) satu hal: trust in the Lord with all my heart, and put all my hope in Him (kok kaya lagu ya? Hehehe...). Lah gimana lagi. Kalo orang laen bilang, diriku bodoh karena ini itu. Tapi diriku bilang, en orang yg laen juga bilang: percaya sama Tuhan, kalo hidup bakal dipelihara ama Tuhan. Percaya He walks with me... Percaya he ll never leave me... Percaya he ll provide all I need... Percaya he has a great, beautiful plan for my future... Percaya, percaya, percaya... En diriku menikmati-nya. Bukannya sok rohani or apa. Tapi kenyataan emang begitu. Ah, sudahlah, susah juga kalo nda ngerasain sendiri...

Ok, hari ini rencana mau pimpin KTB (kita mo nonton film Fireproof) en tar malem mo latian buat jatah nge-MC besok Sabtu. Semoga lancar. Tar malem, moga2 jadi ngopi... Hahaha. But, btw, kenapa akhir2 ini ngopi nda sebegitu enjoy ya... Tanya kenapa? Kenapa tanya?

GBU!

Tuesday, April 21, 2009

Cherio my past...

Memories are like stones, time and distance erode them like acid.
~ Ugo Betti, Goat Island

Hi.

Diriku bakal menikmati seminggu ini (minus sabtu), dan bakal miss such a week. Sementara pressure jd sekretaris UN sekolah sudah lewat, diriku cuman melewatkan hari2 dg Project Agung: donlod pelem sebanyak2nya!!! Wooo...

Well, btw, td malem diriku nyempetin ngajak ngopi Titi dkk. Setengah sembilan kurang kita berangkat; aku dari rumah ke gereja, langsung ke KK Bruns. Waktu belom masuk, masih markirin motor, I saw many people inside. Mungkin lagi rame, en kita takut ga dapet tempat duduk. To my surprise, diriku ketemu temen2 lama dr SD yg lagi kumpul bareng.

Aku masuk, en nyapa mereka, masih kaget. Sambil basa-basi 'Loh pada libur toh?' Yg bikin tambah kaget: no response but plain smile (n some even just turn round). Diriku bingung, mo gabung mereka or mo gabung anak2 gereja, but I chose the later. Gimana mo gabung sm mereka kalo mereka seemed not to invite me to be in their group. Tiga puluh menit di KK jd penuh pemikiran, en diriku cuman bisa nyembunyiin semua itu sambil nikmatin maen Othelo versus Dimas (I won!!!! Mhwahwahwa...). Sampe mereka akhirnya pulang juga cuman satu orang yg say good-bye (thanks!).

Habis mereka keluar, mulai deh anak2 tanya2...

Andre: 'Ga kenal satu pun dari mereka toh?'
Aku: 'Kenal. Satu sekolah. Satu SD.'
Andre: 'Lah kok nda nyapa, dll?'
Aku: 'Sudah disapa mereka malah ga nge-respon.'
Andre: 'Beda level ya?'

Diriku masih mikir dg yg dimaksud level oleh Andre. Apa level narsis, or level nerd, or level apa...

Aku: (ke Titi) 'Bedanya SD T sama SDKI ya kaya gitu. Sampe kowe tua, ketemu temen dari SDKI tetep kenal en akrab.'
Andre: 'Memang kaya gitu. La ya apalagi karena beda level to?'
Aku: (baru mudheng, nyengir miris) 'Hehe...'

Ternyata beda level tu beda level ekonomi en status... It's like I'm a proletar, and they'r like the aristocrats. Diriku masih ga bisa lepas dari mikirin masalah ini (n that's why I just wanna write about it). Diriku jd inget jaman2 SD, banyak banget kenangan waktu kita maen bareng2.

Aku inget dulu diriku menang juara dua lomba nyanyi Natalan SD (duet sama mba' Endah, she's a Moeslim, but singing Angels We've Heard on High!), or terkenang masa2 kerja kelompok yg malah lebih sering dolan2 ajah (bandingin dg anak2 skrg yg kerja kelompok bareng guru les-nya), or maen hide-and-seek bareng Gunawan di Toko Sri-Ratu (dia anaknya yg punya) en diriku sembunyi di bawah rok2 yg didisplay, or waktu diriku ngerasa malu karena aku jalan rame2 bareng temen2ku yang pada keras2 nyanyiin Neg'ri di Awan, or diriku yg iri gara2 ditendang keluar dari kelompok paduan suara yg mo maju buat lomba Dendang Kencana.

Diriku juga inget masa2 nakalnya dulu: maen di selokan belakang sekolah waktu istirahat en berakhir dijewer sama guru, or pura2 lari-lari-dengan-heboh-di-dalem-kelas yg akhirnya nendang penggaris kayu sampe patah (en diriku begitu takutnya lapor ke suster), or waktu diriku dg sok bijaksana negur temen yg rame tp malah ditegur guru karena diriku dikira rame, or waktu diriku jalan bareng temen2 pulang dari sekolah lewat jembatan aer di sebelah sekolah, or waktu diriku hampir berantem sama satu temen (tapi dibelain mayoritas temen yg laen) en katanya ditunggu sepulang sekolah tapi ternyata malah dianya sudah pulang...

Balik lagi ke this present time, diriku ga tahu lagi kenapa sekarang sudah terasa jauh dari mereka. Cuman beberapa yg keliatan masih friendly en 'mau bersahabat lagi'. Nda tahu juga apa yg bikin kaya gini. Kemaren cuma mikir, kalo considering 'level' yg dimaksud Andre. They see who (or what) you are, not what you do. It's more on being, not doing. And I totally hate that.

But, sampe disini diriku nulis, ngapain juga ya mikirin kaya gini. Ngapain juga mikirin tentang mereka while they care nothing for me. Ato jgn2 diriku yg alienate myself.

Btw, talking bout being-vs-doing, diriku jd inget dgn kejadian kemaren senin malem di rumah, ketika kita sekeluarga bahas ttg aku en adikku yg both join the comitte for Camp Jemaat besok Juli. Kenapa bisa dua2nya masuk. Kenapa adekku, bukan remaja yg laen. Papaku sampe tanya, kok bukan anak yg laen.

Aku: 'Karena cuman Nico yg nda pernah les.'
Papa: (bingung)
Nico: 'Iyo. Karena yg laen udah pada sibuk sekarep'e sendiri.'

Well. Kalo diriku liat GKI Pajajaran Magelang, diriku merasa it's my only comfort zone. It's the place where I'm admitted. Most of them know me, and whether they fully see or respect me, I struggle hard to be admitted. Memang salah sih katanya kalo penghargaan (en pengakuan) jd something that drives ur life (said Rick Warren), tp kenyataannya itu kebutuhan manusia yg pertama (lihat deh catetan Sosiologi SMA).

Aku dihargai di gereja bukan karena siapa aku or siapa adikku or siapa papaku, tp because of what I have done (and will do). Mungkin terkesan sombong en egois, tp diriku emang sudah do much for the church, and I will do much more... This is what I like. In fact, Jesus don't see who you are. Just as I am... (waduh, jadi nyanyi, en merenung...). Ooops, tp DIA jg ga liat apa yg kita lakukan ding nanti kalo sudah di sorga...

Well. Diriku nyadar sudah terlalu panjang, en banyak yg diomongin. Bingung jg kenapa bisa sampe sebegini panjang. Diriku inget satu lagi yg disampein Frances, dosen en eks-boss-ku, waktu di kelas CCU (dia jg dapet dari mantan dosennya), 'Let yourself be noticed'. Caranya? Up to you.. I have my own way.

OK. Diriku sudah menggali dalam2 liang buat ngubur my past, tp cuman utk sebagian ajah. Cherio my past...

GB

Monday, April 13, 2009

4 Ps: Pemilu, Paskah, Plan, Perspective

Halo.

Oke, diriku ngepost sementara anak2ku lagi nonton Amazing Race 1, woops... tunggu. I'm not such an irresponsible teacher. Well. It's a part of the learning. I'll ask them to make a persuassive letter later after they finish watching it. It's for Hortatory exposition. Their task is to convince the readers that they deserve to be the next candidate.

Okeh. Betewe, sudah hampir seminggu berlalu sejak terakhir diriku nge-post en akhirnya menikmati long weekend minggu lalu yang isinya: nonton Quarantine bareng2 (keren! plus jijay!), dolan-en-maem-maem, tidur, en nyontreng.

Nyontreng ini yg pertama, dulu nyoblos :p Tapi ini jadi nyontreng, en pemilu pertama buat adekku. Abis nyontreng, dia bingung dengan apa yg sudah dicontrengnya... Wkk.

(Abis nyontreng bertiga: aku, nico, en mamaku)
Aku: Nyontreng opo kowe?
Nico: H*****
Aku: Heh? Kok bisa?
Nico: Lah, mboh. Ga tahu.
Mama: Ga nyontreng ibu guru kita tercinta di gereja toh.
Aku-en-Nico: Idih!
Nico: Nyontreng opo, koh?
Aku: Selalu: Moncong putih!
Nico: Yang poto2 nyontreng yang mana?
Aku: Ga tahu. Nomer satu. Yang item ga ada potonya.
Nico: Aku nyontreng yg keliatan muda... cakep...
Aku: *dalem ati* Ya oloh, nak, tobat...

Yah, betewe, yg jelas minggu kemaren kita ngerayain Paskah, dua kali: Anak en Umum. Remaja-Pemuda jatahnya besok Sabtu (pray for us!). Paskah Anak seperti biasa berjalan not-well-prepared. Bahkan sampe si MC nyanyi en ngajak macem2 anak2 yg dateng, masih ada juga yg set sound dll. *Phew* Terus Paskah Umum, diriku seperti biasa selalu mencoba force myself to listen well. Tapi, instead of dengerin suara pendeta, yg notabene diriku ga begitu mudheng, diriku dengar suara bayi2 yg usil en ga mau diem... *Phew*

Yg heboh adalah Paskah KPI kemaren sore. Kita mengguncang gereja! Beneran! Dengan suara sound system yg penuh ngiiing-nguuung-ngiiik-grusak-gresek-ogrek-ogrek... PATHETIC!!! Jadi selama lebih dari empat minggu latihan, berakhir dengan duet: piano en drum... Diriku berusaha sekuat tenaga memijit tuh tuts-item-putih. Cape...

Diriku ga puas, en masih pengin mengulang tuh Perayaan. Wish I had a time machine! Seperti biasa ada juga yg bicara di belakang, a.k.a ng'glendengi-plus-ngedumel. Diriku mencoba menjadi pria sejati (emang selama ini belom pria kok... khukhukhu... Ihik-ihik...). Apa yg emang kudhu disampekan ya disampekan. Why not? En why malah bicara dibelakang?

Betewe, diriku minggu ini bakal disibukkan dengan kerjaan untuk Panitia UN SMAKI. Diriku sekertaris-yang-ditindas-dan-dihina... Kasihanilah daku. (Semoga Bu Nia en Bu Nikken baca ini, en mereka pasti akan tambah menghinaku... Wakakaka). Diriku melakukan semua tugas berat itu: ngeNet, chatting, buka fesbuk, download video, cari mp3, en ngetik buat administrasi UN. Mhwahwahwa... Moga2 tangan ini ga kaku lagi gara2 kebanyakan maen laptop.

Oke. So, diriku kemaren sudah berbohong dengan dua teman yg pulang balek dari perantauan mereka (baca: Jakarta). Waktu ditanya gimana keputusanku, I said I haven't made one. Padahal beberapa yg di Mgl sdh tahu kalo diriku bakal stay in my lovely hometown. There're many reasons. God knows them well. :p

A friend said that I should be well prepared and take time soon to re-plan my near future. Ya iya lah. Juni akhir aku sudah cabut dari SMAKI. En diriku kudhu segera cari kerjaan laen. Aku ga mau jadi seorang pengacara (pengagguran ga ada acara). Well... Diriku bingung sendiri.

Well. Buat penutup, diriku belajar en semakin diyakinkan bahwa orang yg beda liat sesuatu dg cara yg berbeda. Misal waktu liat gajah, diriku biasa ajah. Aku juga punya gajah kecilku... wooo.... Buat orang lain mungkin beda lagi. Buat Deddy, mungkin gajah disayang banget, kaya sodara ndiri. Titi langsung berliur en horny liat gajah. Yg laen bakal tereak2 ketakutan liat gajah. Buat Nico, adekku, gajah dipuja-en-dipuji en disembah2... Well. Sebagai seorang analytical melancholist diriku coba memahami why en how they see it. Diriku belajar buat tidak blame or judge something ketika mereka view differently from mine.

GBU!

Tuesday, February 10, 2009

Ternyata diriku ngefek...

Halo.

Masih empat hari menuju hari minggu, when I will go to Cikarang. Yang buat diriku tambah was2 adalah: belom ada panggilan lanjut tentang rincian micro teaching dari Dian Harapan. Padahal njanjiin awal minggu ini at least.... Duh... jangan2 diriku dicancel untuk interview, or jangan2 Dian Harapan sedang kebanjiran, or jangan2 mereka tahu kalo diriku sebenarnya spesies silang manusia-kaktus-sapi...

Betewe, diriku sudah mencoba merahasiakan kepergian temporer ini buat wawancara, tapi ga berhasil. Banyak yg sudah tahu. Reaksi mereka: duh, bingung mo doa gimana ini...

Tuh jawaban yg paling lazim en paporit diantara temen2 gereja. Ada yg malah langsung bilang: 'Ta' doain biar ga ketrima, soal'e we need you in Magelang, really need you!' Weleh...

Kemaren malem pun, waktu rapat PS Gloria (yg notabene seperti biasa penuh makanan lezat dan memuaskan perut [malah perutku terlalu full]), diriku juga bingung sendiri waktu ditunjuk jadi panitia kecil untuk persekutuan-refreshing-pelayanan Gloria di Solo-Tawangmangu. Kalo diriku jawab 'ngga' pasti ditanya2. Cuman Koh Kris yg nanya pelan, 'Masih di Magelang nda?' Diriku juga nda bisa jawab pasti tuh pertanyaan macam itu. Emang diriku sudah pasti pindah Cikarang?

Waktu makan malam (wenak tenan...), diriku cuman bisa bisik2 di belakang sama Koh Halim (yg jadi koordinator, en langsung nemuin aku, en minta supaya aku ngonsep acara refreshing-nya). Aku akhirnya menceritakan itu, dan dia langsung jawab: 'Duh, Dan, jangan pergi.' Waktu Koh Halim (yang parahnya) menceritakan ke Kak Larry (yg sudah tahu sebelumnya), dia juga bilang, 'KaPe (baca: Komisi Pemuda) bakal bener2 kehilangan Dankuur... Gereja juga.'

Di satu sisi, diriku sedih, di sisi lain diriku seperti biasa narsis... :p hohoho... Tapi emang diriku jadi bergumul lagi. Aku egois nda' ya kalo gini. Biasanya kalo ada yg pindah ya nda seheboh ini deh. Yg dulu2 juga ga kelihatan heboh. Tapi kok Dankuur, kenapa jawaban en respon-nya gitu ya? Padahal diriku juga ga' nganggep diri ini begitu spesialnya (baca: istimewa) di gereja, di komisi pemuda, di mana pun. Diriku cuman orang biasa, pemuda biasa, yang suka maen laptop sambil baca sambil makan, yang suka males2an, yang suka nunda pekerjaan, yang suka marah-marah, yang suka curhat...

Habis makan, Tante YangYang, yang juga ternyata sudah denger en tahu kalo diriku mo nyoba ngelamar di Cikarang juga nyempetin tanya (sambil ngalihin pembicaraan tentang toko tempat jual hem yg murah), 'Dankuur mau ngelamar dimana toh?' Waktu denger jawabannya Cikarang, spontan jawabannya, 'Waduh. Jauh banget. Wah, eman ni Dankuur pergi...'

Well... Diriku malem itu pulang sambil merenung sambil bawa motor di tengah sunyi en gelapnya malam. Ini dulu sudah pernah terjadi waktu aku mau keluar dari SMPKI, tapi cuman dua guru yang nyeselin kepergianku... Sekarang banyak yang 'sedih'. Diriku 30% narsis, tapi juga bergumul banyak 70%-nya (which is 35% thinking about whether I would survive in the adaptation and 35% thinking about whether I am egoistic or not to leave Pajajaran).

Eniwei, diriku tar malem mo hunting baju hem buat interview, sekalian nambah koleksi di lemari... Oh, ya, aku juga udah dapet travel bag koper pinjaman. At least, ga usah beli dulu... Tapi tar ne ketrima juga pasti bakal beli... Dari dulu emang pengin beli travel bag... 300rb... huhuhu...

Sunday, October 5, 2008

Forgiving myself...

Forgiving others is hard; forgiving yourself is harder.

Sebagai seorang perfeksionis, aku memerintahkan diriku untuk tidak boleh melakukan kesalahan. Kadang sukar sekali melupakan sebuah kesalahan kecil yang kelihatan sepele bagi orang lain, namun sangat memalukan buat aku.

Hari minggu kemaren sehabis mengajar di skul minggu, dua rapat menghadang. Rapat pertama untuk persekutuan, dan dari lima orang yang harusnya dateng, waktu itu cuma dua orang: aku dan ReRe. NaNa yang harusnya bisa malah pergi makan duluan. Hati langsung panas. Well, padahal di camp pemuda sudah ambil komitmen untuk jaga temperamen en emosi. Tapi langsung diuji.

Nana nge-sms: kur, aku ta prgi mkn dl.
Aku bales sms: yo wis lah nda jd rapat ae.

Well aku sadar kalo aku jengkel. ReRe dateng. Daripada mutung mending dijalanin dengan apa yang ada. NaNa waktu dateng nyusul pun sudah ngerasa kalo aku marah. Pembelaanku: lah sudah tahu mau rapat malah pergi makan, aku juga laper tapi ta’ tahan kok.

Alhasil sekian puluh menit rapat itu hatiku nda’ enak, en’ ngerasa bersalah karena sudah marah2, ditambah lagi NaNa yang pasang tampang cemberut-gimana-gitu-sambil-diem-aja. Tapi puji Tuhan karena aku ini orang yang baek en peka situasi (hehehehe) akhirnya suasana bisa juga dicairkan. So the rest of the meeting went better.

Habis rapat, masih ada satu rapat lagi sampe jam satu. Jam empat aku harus ke gereja lagi untuk ibadah ‘en dapet tugas ngiringi. Btw, ngiringi yang ini juga agak kewalahan. Lah, WL-nya (Worship Leader, Pemimpin Ibadah) Deddy sebener’e bukan WL sesungguhnya di jadwal tapi nggantiin WL laen yang tiba2 dengan alesan-yang-bisa-kita-bantah minta digantiin. *sigh* Padahal seminggu disibukkan dengan camp.

So, latihan baru sempet sabtu siang en sabtu malem. Dan ternyata di sabtu malem itu, entah apa yang terjadi pada diriku yang suka mengkhayal en ngelamun, aku ga’ konek dengan situasi here-and-now waktu itu. Ini masalah besar!

Eniwei, minggu siang abis rapat aku pulang, lelah, tapi masih ada chore lain menunggu: cuci baju! *sigh* Ditemani rasa kantuk yang besar, aku cuci bajuku yang notabene sudah menggunung gara-gara camp pemuda. Habis cuci baju, aku masih bisa nyante, sambil lirik2 jam dinding. Masih jam setengah tiga. Sejam lagi sebelom berangkat ke gereja. Aku pun masih bisa diem2an ngelamun di rumah.

Aku yang salah, tapi biarkan aku menyalahkan HP-ku (natur manusia saling menyalahkan he4…), karena si HP diem aja, ya iya lah, karena aku silent (udah biasa di-silent ‘en lupa ngehidupin ringtone lagi… ini jadi masalah besar! Karena Deddy, yang WL ternyata SMS ‘en sudah menunggu di gereja, BERSAMA dengan lima singer laen yang MENUNGGU diriku latihan. Tapi aku masih nyante, dengan tidak berdosa baca komik. Ga denger hape bergetar di dalem kamar.

Aku mandi jam setengah empat, setelah adekku mandi. Papa ngasi kabar kalo Deddy telpon en ngabarin kalo aku ditunggu di gereja. Well, aku langsung panik, en karena aku smart, langsung ku simpulkan: I must have missed something. Dan bener. Ternyata masalah besar di sabtu malam adalah: Aku tidak mendengar kalo mereka janjian latihan jam 3 gara2 ada singer yang masih butuh latihan.

Buru2 aku tancap gas ke gereja. Aku langsung ngerasa bersalah, apalagi beberapa hari sebelumnya aku jg nelat setengah jam (yang ini kesalahan diriku sendiri yang bangun kesiangan). Waktu ketemu Deddy, untuk beberapa detik aku ngotot2an sama Deddy. Pembelaanku: aku nda’ tahu kalo ada latihan jam3. Dan ngotot2an itu ditutup dengan aku bilang sambil jengkel, ‘ya maap…’

Ibadah satu setengah jam terasa begitu lama en ga ada sukacita padahal itu juga Perjamuan Kudus. Parah. Aku cuma merenun, cemberut, di balik box keyboard. Ga’ bisa nikmatin ‘en ngikutin ibadah itu. Sampe satu temenku pun bilang kok aku ga senyum sama sekali waktu dia nyalamin aku. Aku ngerasa bersalah banget. Deddy pun ga bicara apa2 waktu itu, mungkin karena juga sudah konsen full buat WL.

Inilah susahnya mengampuni diri sendiri. Sebenarnya sering banget. Waktu dulu Camp Remaja, aku down banget waktu liat anak2 remaja yang maen game terluka, cukup parah. Itu konsep game ideku. Berarti kalo sampe ada ‘korban’, salahku juga.

Sampe sekarang kalo ada yang nyinggung ‘game berdarah’ aku langsung down. Sementara beberapa rekan malah sering ngulang2 en nyalah2in, meski bercanda, tapi secara diriku super-sensitive, malah bikin down lagi. Nda ada penghapus yang bisa bersihin mistake itu dari memoriku. I wish I had one.

Eniwei, habis ibadah Deddy nyalamin aku, said thanks ‘en asked apology for being too emotional, kelepas emosi sebelum ibadah tadi. Well, aku cuma bisa senyum lemah. Well, if only he had said that earlier. Pelayananku should have been more joyful ‘en aku ga terbeban sebegitu beratnya memikirkan kesalahanku. Aku nda menyalahkan Deddy sama sekali, justru aku marah banget dengan diriku sendiri. This is what I mean as my being perfectionist.

Saturday, October 4, 2008

Liburan yang ga' libur

Happy Ramadhan! (buat yang pada ngerayain)

Meski ga’ ngerayain lebaran, tapi aku kena dampak positipnya: libur kerja sembilan hari! (kalau mau lihat enaknya jadi orang Kristen di negara yang pluralitas agamanya gedhe). HORE! Tapi beneran hore? Ga’ ternyata. Karena ada Camp Pemuda 2008 di Kopeng Kurios (buka blog-nya pemuda buat info lebih lanjut).

Dua hari libur pertama pun (plus banyak hari sebelumnya yang consumed bwt persiapan camp) jadi melelahkan. Dua hari tinggal di gereja, plus dua malem lembur (iya, karena kesalahan diriku sendiri) buat garap slide, persiapan naskah fragmen, garap ini itu, en nge-GAME! (stress sudah sekian lama tidak nge-game, nostalgia Heroes IV [aku Archmage yang hebat! Mhwahwahwa!]).
Setelah itu tanggal 1 – 3 aku en 48 orang pemuda-pemudi laennya (kalo ga salah) melancong ke Kopeng yang lumayan (baca: so pasti) adem en bikin badan ngantuk, laper, en rindu panggilan alam senantiasa (baca: boker). So ngapain aja di Kopeng?

Well, bercinta. Ya ga lah! Lagian bercinta sama sapa? Sama rumput yang cuma bisa bergoyang? Or patung gajah yang berdiri diam membisu seribu bahasa?

Camp itu isinya ya yang lebih berbobot: makan, tidur, maen, makan, tidur, maen. Hehehe… ga… Kita total ada lima session (presented by Pak Nindyo en Pak William yang oke punya). Dua sessi game pun jadi tambahan hiburan en refreshing di dalemnya. Tempatnya emang romantis, ada cottage honeymoon-nya yang dipake dua pembicara itu, hayo… Pak Nindyo en Pak Will malah honeymoon ya… hehehe… (ampun pak).

Btw, eniwe, buswe, ke hawe ga pake ce-wei… Di camp banyak kelucuan, keanehan, kenarsisan, kegilaan, dan kemenjijikkan dari peserta2nya. Emang dasar pemuda GKI Pajajaran. Kalo ga memenuhi kelima norma itu bukan pemuda Pajajaran deh. Well, pikun ternyata juga jadi masalah buat aku: pisau cukur en’ foam cuci muka lupa dibawa. So, rasanya tidak nikmat tanpa kedua hal itu. Ah… merana.

Ke-narsis-an Dankuur ternyata tidak bisa disalurkan. Keanehan Dankuur yang terus muncul. Kameraku dipakai buat kebutuhan panitia. So ga’ bisa seenak sendirinya jeprat-jepret. Tapi ternyata masih bisa curi-curi kesempatan di hari terakhir. (Ntar ta’ posting segera fotonya).

Seperti biasa kalo camp pasti ga bisa tidur nyenyak. Malem pertama begitu menggoda (husy…). Ga bisa tidur pulas. Bangun tiap sepuluh menit or berapa ga tahu. Padahal jam enam harus saat teduh kelompok… Alhasil mata berdaya lima watt di hari kedua. Malem hari kedua yang lebih lumayan pulas. Capek banget sih.

Waktu mau pulang ternyata tetep feel missing something muncul. Ga enak banget ternyata berpisah… (namanya juga Dankuur!). Dan dengan menghela napas keras-en-kuat, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Selamat datang kehidupan!’ Kesibukan lain sudah antre di depan, minta tanda-tanganku.

Hari ini, Sabtu, mustinya bisa nyante, weekend gitu. Tapi, resiko jadi guru: dapet jatah PIKET LIBURAN! Arrrggghhhh! Besok pun sepertinya tidak bisa bersante2 ria karena ada tugas di gereja. *SIGH* Senen? Selasa? Masih bakal sibuk karena dikasih deadline draft modul proyek buat cetakan sama temenku… hiks…

OK, mari belajar bersyukur sepanjang waktu…

GBU!

PS: Banyak berkat dari Camp Pemuda. Enak juga kerja bareng beberapa rekan yang nambah akrab. Glad to work with you guys!