Showing posts with label liburan. Show all posts
Showing posts with label liburan. Show all posts

Thursday, June 29, 2017

#ChallengeAccepted: Mendaki Gunung Sindoro

Saya menyadari kalau saya ini terlalu asik jadi anak rumahan, yang kelewat introvert dengan hobi ngadem di ranjang (meski juga sudah pacaran [dan sebenernya tetep hobi dolan, sih]). Beberapa teman dekat tahu ini, dan mereka menantang saya untuk 'keluar'.

Jadi, ketika ada satu sohib nawarin untuk ikut muncak untuk mengisi liburan, saya menerima undangan itu dengan polos. Saya meng-oke-kan ajakan untuk naik Gunung Sindoro.

Hari pendakian mulai mendekat, dan detail hal untuk disiapkan bertambah. Cicik pacar dan sohib-sohib yang tahu saya bakal spent my holidays hiking sudah getting worried plus teasing horornya kemping di gunung. Dan saya telat sadar bahwa saya akan menginap semalam. Di gunung.

Seminggu sebelum berangkat, saya stres. Why?

(1) Saya paling males ikut kemping, bahkan dari jaman SD. (2) Saya sadar saya ndak bakal bisa mandi. And, yes, you know, I've got a mild OCD. (3) Saya rutin boker setiap pagi, kadang ditambah sore juga. Ngebayangin kudu boker di gunung bikin saya kelewat cemas.

Poin ketiga yang paling menghantui saya, sampai saya kudu googling tips boker saat mendaki gunung.

Dua hari sebelum saya naik, saya siap-siap dan belanja beberapa bekal: Listerine, tissue basah (anti bakteri maupun yang biasa), HansaplastAqua (3 botol besar), roti tawar (dua bungkus), Energen, obat-obatan (termasuk salonpas, tolak angin, counterpain, dan Antimo, jaga-jaga kalau saya butuh obat tidur).

Daftar kebutuhan yang perlu disiapkan sudah diinfokan via group WA. Ketika saya cek ulang, sepertinya sudah lengkap. Fokus saya ada di baju dan perlengkapan yang kudu dibawa untuk antisipasi udara dingin (cuy, 2100+ mdpl!) dan makanan. Disarankan peserta bawa Indomie minim tiga bungkus, tapi saya pilih roti tawar. Takut mules karena micin bakmi instan. Teman saya yang tidak tahan dingin sudah wanti-wanti dengan baju yang perlu dibawa. Ransel backpack saya berat karena tiga botol air minum dan penuh pakaian plus sleeping bag.

Peta buta di base camp.
Kami janjian bertemu di meeting point rumah teman jam enam pagi, kemudian melaju menuju base camp di Kledung. Udara di base camp sudah lumayan dingin. Sekitar jam delapan lebih, kami bersebelas mulai mendaki. Kami naik ojek ke pos satu setengah untuk menyingkat waktu. And that was a sensational twenty-five-thousand-rupiah ojek ride! Jalan berbatu-batu dan menanjak diterjang dengan gagah-perkasa-kecepatan-penuh oleh pak ojeknya. Alhasil, saya dan teman-teman kagum-campur-ketakutan-kalau-kalau-terpental.

Siap mendaki!
Pos Dua
Kami melanjutkan berjalan, dan total lebih dari empat jam kami berjalan, sambil beberapa kali berhenti kelelahan, minum, makan, pipis. Pertanyaan standar yang sering saya lontarkan: masih berapa jauh sampai ke pos selanjutnya. Makin ke atas udara makin dingin, saya tetap tidak memakai jaket, karena badan cukup keringatan. Perjalanan ini mengingatkan dengan petualangan yang bikin saya gosong dan lemas ketika saya ikut pergi trip ke Tamong, Kalimantan Barat lima tahun silam. Pendakian Gunung Sumbing lebih terjal daripada rute ke Tamong, tapi tetap sama-sama melelahkan. Herannya: kaki saya tidak pegal, sementara pundak yang kesakitan dan napas tetap ngos-ngosan.


Ranselnya hamil, kata temen.

Titi. Me. And Yosu.
Kami tiba hampir pukul satu siang. Segera kami mulai mendirikan tenda. Tenda saya hanya diisi dua orang, sementara yang lain tiga. Teman setenda saya sudah wanti-wanti supaya saya siap dengar konser ngorok dia di malam hari. Ada beberapa rombongan lain yang juga bermalam di sana, tapi tidak banyak.

Dua tenda di bawah.

Dua tenda di atas. Tenda saya yang kanan.

Mencoba bikin api unggun.
Tidak banyak yang saya lakukan dari siang sampai malam: tidur ayam, jalan sedikit ke atas, balik tenda, ngemil roti tawar, baca PDFs di tab, nonton unduhan klip youtube di HP. Tidak banyak foto-foto saya ambil. Teman-teman di tenda lain ngobrol, cekikikan, main kartu, dan masak. Betewe, sinyal HP koit. Dua hari di gunung itu semacam detoks koneksi internet.

Yosua main kartu.
Hal lain yang bikin saya khawatir: hujan. Sore hari sempat gerimis, tapi cuaca masih aman. Ketika malam tiba, sekitar pukul delapan, saya memutuskan minum Antimo supaya cepat ngantuk. Dan sial: Antimonya tidak bekerja. Saya memaksa memejamkan mata. Celana training panjang saya kelupaan dibawa, jadi saya pakai jeans yang saya bawa. Tiga lapis kaus di badan plus sarung tangan tracking plus syal cukup efektif bikin hangat tubuh saya di dalam sleeping bag.

Sial buat saya yang badannya cukup tinggi (baca: panjang). Teman setenda konser dengan sukses, sementara saya merem melek sepanjang malam, dengan kaki tidak bisa diluruskan. Saya gonta-ganti posisi. Tidur telentang bikin tulang ekor sakit, sementara nyamping bikin tulang pinggul cenut-cenut.

Akhirnya hujan turun cukup deras, dan bikin saya sempat terbangun. Ramalan cuaca cocok untuk malam itu, dan sepertinya memang Tuhan lagi nguji saya: kenyamanan saya digoncang. Tenda saya basah dindingnya, rembes, tapi tidak sampai kemasukan air. Sedikit was-was jadinya saya. Teman tenda lain melapor mau pindah karena tenda mereka kebanjiran, meski akhirnya tidak jadi pindah dan hujan mereda. Ketika terbangun lagi, saya kira sudah jam empat pagi, waktu berburu sunrise, tapi ternyata masih jam satu subuh. Dang.

Jam empat subuh tiba, dan kami sedikit berjalan naik untuk berburu sunrise. Langit masih gelap dan udara super dingin untuk saya sampai ujung jari-jari tangan saya cenut-cenut. Sunrise yang ditunggu akhirnya tiba, dan kami asik berburu foto. (Reminder buat warganet semuanya: jangan lupa menikmati alam, alih-alih sibuk cari pose foto terbaik).


Sunrise hunters

My bro



Tiga jam berlalu, kami memutuskan untuk naik ke puncak, menuju pos empat. Jalur pendakian makin terjal. Saya makin ngos-ngosan sambil terus berpikir bagaimana nanti turunnya melihat jalur yang cukup curam. Akhirnya saya memutuskan untuk berhenti, sementara lima teman lain lanjut ke atas, menuju puncak. Saya turun, bertemu sisa rombongan yang masih asik berfoto dengan pemandangan yang memang memanjakan mata. Puncak gunung berjajar di samping Gunung Sumbing yang megah di seberang mata. Awan membentuk lautan. Cuaca dan langit di atas pun masih cerah.

Mereka yang sampai di puncak.

Dan kami yang turun duluan.




Kami memutuskan untuk berjalan kembali ke tenda. Sudah lebih dari jam sebelah belas siang, dan kelompok pendaki di puncak belum turun. Kami menunggu sampai jam dua belas, sambil saya beberes barang bawaan. Hujan turun, makin menderas. Tenda saya sudah duluan dibereskan, jadi saya pindah ke tenda lain. Sekali lagi Tuhan menguji dengan menggoncang kenyamanan saya--kami.

Akhirnya rombongan dari puncak turun sekitar jam satu, basah-basahan menerjang hujan. Kasihan juga lihat mereka yang ternyata diterjang badai di puncak. Kami memutuskan untuk turun duluan ke base camp, menembus hujan dengan jas hujan. Jalan turun kami seharusnya bisa lebih cepat kalau tidak berhati-hati dengan jalur yang licin karena air hujan.

Kali ini kaki saya mulai pegal, dan tidak ada hal lain yang berputar di otak saya selain pos ojek untuk turun ke base camp, dan ranjang di rumah. Padahal awalnya kami sudah berpikir untuk tidak naik ojek, mengingat pengalaman ojek rasa jet coaster ketika berangkat ditambah hujan yang turun. Setelah meyakinkan pak ojek untuk tidak ngebut, kami pun pasrah untuk naik ojek.

Saya pulang duluan, menembus hari yang mulai malam, memboncengkan adik saya di sepeda motor. Satu dua kali nyasar mengikuti jalur Google Maps yang berbeda dengan jalur arus balik kemarin.

Sempat satu teman bertanya, "Koh Dankur kapok 'gak (naik gunung)?" Jujur, saya menikmati hiking meskipun melelahkan, karena pengalaman dan pemandangannya selalu memuaskan. Tapi saya kapok berkemah. Kemah bukan untuk saya, dan mandi ketika sampai di rumah jadi hal yang paling saya tunggu-tunggu.





Bagaimana dengan boker? Aman. Sampai di rumah pun ternyata juga tidak bisa buang air sebesar-besarnya. Sampai saya selesai menulis ini, saya masih harus berjalan dengan pelan karena kelewat pegal.

Ini pengalaman pertama saya mendaki gunung dan berkemah (sambil berharap ada gunung lain yang bisa didaki, meski tidak sampai puncak, dan berharap tidak harus berkemah). Tantangan sudah diterima dan dilaksanakan. Dan saya boleh berbangga diri, sambil ngedit foto-foto hasil jepretan saya dari HP maupun kamera teman. Kalau tertarik muncak, jangan tanya saya; saya rekomendasikan teman saya yang memang hobi menaklukan gunung.



.

Visit my IG or FB for more photos.

Tuesday, August 16, 2016

Catatan Perjalanan Anak Udik di Singapura (2)

Day #2 part 2

12/ Selesai ngabisin semangat dan tenaga di USS, kunjungan kami selanjutnya adalah China Town! When sipits met other sipits! Hahaha. Isi tenaga dulu, dengan isi perut. Sayangnya saya sudah duluan isi perut dengan makan sandwich Subway. Jadi di Maxwell Food Court, saya lebih milih menikmati buah segar (gaya bangeeet ke negri orang makan buwah!), jus manga-pisang, dan nyobain es serut durian dan kacang merah. Saus duriannya top. Lanjutlah perjalanan kami ke China Town Complex, di mana banyak tempat makan, plus toko-toko jualan oleh-oleh. Sesuai saran teman saya, makin masuk ke dalam, makin rame dan murah. Intinya kudu rajin compare harga toko yang beda. Buat pribadi, saya beli kalung dengan bandul yang diukir (kurang kerjaan). Toko yang jual oleh-oleh bahan babi sudah tutup (buka pun saya gak minat beli, haha). Di ujung jalan, kata temen, ada toko jualan sex toys, cuman iseng nonton etalasenya. Gak berani masuk, ntar takut kalau saya langsung keluar tanduknya. Sebenernya ada banyak tempat bagus lain di China Town, sayang kami sudah terlalu larut datang ke sana. Next time, lah.

China Town

13/ Hari sudah malam. Kaki sudah minta dipijit. Sayang saya ndak berani coba massage di China Town. Pulang lah kami naik bus, bukan MRT. Pengalaman pertama naik bus di Singapore. Nyaman, dan thank God, kami dapat tempat duduk. Mandi. Wi-Fi-an. Dan tidak bisa tidur sampai jam satuan, karena kaki terlalu pegal. Dang.


Day #3

14/ Rencana hari ini: Li'l India, Bugis, Merlion, dan Gardens by the Bay. Sarapan pagi saya? Lagi-lagi roti Subway yang sudah beli duluan, awalnya beliin buat diicip para cewek, tapi mereka sudah kenyang malam sebelumnya.

Little India, and Arab Street

15/ Kami bertolak ke Little India. Kampungnya para orang India di Singapura. Katanya tidak sebersih area lain, tapi tetep terhitung bersih, lah. Sepanjang jalan, banyak yang jual perhiasan. Mampir satu toko oleh-oleh, yang jual malah orang China. Lol. Saya suka arsitekturnya yang unik. Warnanya cerah-cerah. Tujuan di Little India: pusat oleh-oleh (lagi-lagi), Mustafa Centre, yang sudah di-suggest beberapa pendahulu juga. Saya eneg dengan browsing oleh-oleh. So, saya memutuskan untuk berkeliaran keluar. Misah dari rombongan.

16/ Dengan polosnya, saya memberanikan diri jalan (cukup jauh), ke Arab Street, yang di-suggest peta wisata sebagai point of interest terdekat. Kelihatan di peta sih, jarak antara Mustafa Centre ke Arab St. deket. Padahaaal, jauuuh. Kampr*t. Tapi, saya menikmati pemandangan dan arsitektur bangunan di sana (maksain diri lihat sisi positifnya). Nemu Gereja Our Lady of Lourdes (unik, karena budaya Katholik dan India bertemu), Sultan Mosque, dan Malay Heritage Centre. Cuman bisa ambil foto saja disana. Janjian balik di Mustafa Centre, jam 12.30, dan saya molor sepuluh menit (dibelain lari-lari karena salah perkiraan waktu plus nyasar, cuy!). Saya sudah ditungguin, dicari-cari, plus sedikit diomelin. LOL. Semacam bloon kenapa dari awal ga ke utara Li'l India aja, ada City Square Mall, daripada jauh-jauh ke Arab St. Tapi worth visiting lah, untuk cuci mata.

Sultan Mosque, and Bras Basah

17.1/ Rombongan memutuskan untuk pergi ke Bugis, katanya pusat oleh-oleh yang lain. Saya minta ijin pisah dari rombongan, selera saya beda: cari buku bekas. Target saya ke Bras Basah. So, berangkat lah saya naik MRT sendiri (pura-pura) sebagai solo traveller. Nyasar? Iya. Ternyata gak segampang itu baca peta (or, sayanya yang emang parah navigasinya). Kecapean kakinya. Duduk sejenak, baru nyadar saya duduk di depan gereja, pas bubaran ibadah juga. Ada tante-tante muda yang lagi dorong emak-emak di kursi roda ikutan duduk di samping saya. Di tengah kelelahan, saya nanya ke dia arah ke Bras Basah Complex, dan jawabannya yang simpel en sederhana tapi attentive banget (mikirin jalan pintas terdekat setelah ngusulin jalan utama yang cukup ribet), bikin hati mak nyes. I thanked her.

17.2/ Saya meluncur ke BB Complex. Nemu lah Evernew Book Store. Surganya buku (bekas)! D*mn. Banyak pilihan. Cukup lama juga milih-milih bukunya. Nemu banyak judul bagus. Disana pengunjungnya kelihatan para kutu buku. LOL. I could have bought more books. Saya sadar diri budget dan bagasi terbatas. Saya juga baru kalau ada pilihan kios buku lain, setelah mau jalan balik. Ngelirik jam, masih ada sisa waktu sebelum janjian ketemu di penginepan dengan temen-temen, so saya duduk-duduk istirahat di luar National Library. Ndak masuk. Berasa agak kuat, saya lanjut balek naik MRT ke Novena. Pertama kalinya kartu EZ Link saya ditolak. Kena limit. Kudu top-up lagi, tapi saya milih beli single ticket dari Bras Basah ke Novena. Di tengah jalan, SMS masuk, ngabarin kalau rombongan lain lagi mau naik MRT, which means bakal telat balek, sejaman lagi. *tepok jidat* Nasib saya berakhir dengan duduk di depan pintu kamar penginepan, tanpa kunci masuk, mana pemilik penginepan di kontak juga lagi gak di rumah. Tapi saya terhibur wifi-an sambil telepon sohib yang di Aussie.

18/ Kami istirahat sebentar, sembari saya yang sudah berkeringat mandi dulu. Lanjut lah kami setelah itu ke Merlion. Belom afdol kalau belom foto sama patung singa itu. Seperti gambar ekspektasi-realita tujuan wisata lainnya, bejubel wisatawan. Ambil foto disana kudu pintar-pintar cari dan curi spot, sambil jaga etika gantian foto di spot yang bagus. Sekali juga diminta tolong njepretin foto turis lain. Puas foto-foto dengan patung singa, kami lanjut jalan sepanjang Jubilee Bridge, sambil menahan rasa cape, menuju The Esplanade untuk cari MRT Station-nya. Turun di stasiun Bayfront, dan lanjut lah kami ke Gardens by the Bay!

Merlion

Gardens by the Bay

19/ Gak bisa banyak foto-foto di GBTB, selain karena sudah mulai gelap, juga kami kecapean jalan. Saya dan cicik pacar, jalan-jalan ke area utara, cuman bisa lewat Cloud Forest dan Flower Dome, tanpa berani masuk, mengingat waktu dan budget terbatas. Balik ke tempat awal, ngumpul dengan yang lain. Passs banget ketika kami memutuskan mau keluar area GBTB (karena perut udah laper), ehhh, light-show-nya dimulai. Semua pengunjung langsung semangat dan rebahan di tanah begitu announcement di loudspeaker terdengar! Mulai lah kami menikmati pertunjukan lampu keren di malam itu. Jangan iri, ya!


A video posted by Daniel Kurniawan (@dankuur) on

20/ Kami cari makan malam. Bajet uang saku saya sudah terbatas. Sebenernya masih ada sisa, tapi gak mau abisin semuanya. Kalau bisa diirit, why not. Cari makan malam pun, kami bela-belain ke Orchard, masuk ke Mall Nge Ann City. Makan lah kami di food village di dalem mall itu. Lihat dompet masih ada dua lembaran $10 yang memang gak mau dipakai, plus beberapa lembaran $2, dan beberapa koin. Kepake tiga lembar buat beli makan, pork. Abis makan, muter, lihat ada bakpao jumbo harga $4, tapi nahan diri biar bisa ngirit. Di kios lain, ngiler lihat es serut buah. Akhirnya gak tahan, beli es serut mangga! Terus keinget, daripada repot, sekalian beli bakpao buat breakfast besok paginya. Meluncur ke kios bakpao, ehhh, kiosnya sudah tutup! LOL. Hahaha.

21/ Kami lanjut jalan pulang, naik bus. Pisah dengan teman yang sudah jadi guide kami selama tiga hari itu. Thank you, Yoel! Kami bertujuh berakhir dengan menghabiskan malam di satu kamar (dua malam sebelumnya kami pisah kamar), karena malam itu kami ngungsi, sementara kamar yang semula saya pakai sudah ganti dipakai tamu lain (kami dulunya telat bayar DP penginepan, jadi malam terakhir sudah keburu diambil orang). Packing-packing juga. Saya tetap berakhir dengan satu tas backpack, sementara temen-temen lain sudah penuh kopor dan tas tambahannya.

Day #4

22/ Tidak ada tujuan lain selain ke bandara. Sarapan, lagi-lagi, saya milih (lagi-lagi) makan roti Subway di airport. Hahaha. Ngabisin lembaran $2 dan beberapa koin. Abis sarapan, kami mutar-mutar area di terminal itu. Changi Airport itu keren! *ndeso* Beberapa teman beli wine dan minuman lain, saya cuman menemani saja. Pesawat kami delay 30 menit, jadi lumayan buat merilekskan kaki. Tidak banyak yang kami lakukan, selain main Social Tree (bisa buat main game rame-rame yang lumayan seru, dengan foto wajah kita nampang di screen gedhenya). Kami meluncur ke gate pesawat kami (lagi-lagi habis temen-temen mampir ke toko permen, untuk beli oleh-oleh). Pesawat terbang kembali ke Jogja. Liburan berakhir disana.



Total biaya liburan saya di Singapore? Bisa dilirik disini. Itu pengeluaran belum termasuk tiket pesawat dan oleh-oleh, yah! Sebenernya kalau mau irit, bisa berkurang $40 dolar untuk pengeluaran pribadi, macam beli kalung, magnet, dan buku bekas (*menghela napas*). Kalaupun next time datang kesini, gak ngunjungi USS pun, bisa ngirit $60 lagi! Sooo, budget ngiriiit, sebenernya bisa cuma $150-an untuk wisata di Singapore dengan cari spot-spot yang gratis. LOL

Well, saya bakal sedikit susah move-on dengan liburan ini. I know. Dan saya mengaggumi Kota Singa ini dalam cukup banyak hal. I'm gonna write about it later.

I'm gonna miss Singapore. Planning to come back? FOR SURE.
Masih banyak area gratis yang laik kunjung dan foto-foto di Kota Singa ini!

Thank you, Singapore!

Catatan Perjalanan Anak Udik di Singapura (1)

Tiga malam di Singapura sangat memuaskan untuk liburan saya tahun ini. Pertama kalinya saya bisa pakai frasa TGIF alias 'Thank God It's Friday', secara saya kerja enam hari seminggu.

So, berikut catatan perjalanan saya, anak udik (like what my friend called us) dari Magelang yang baru pertama kali ke luar negri, ke Singapura; saya sajikan catatan perhari, dan dalam bentuk penomoran. Siapa tahu bisa jadi ide buat pelancong lain. (Ini dengan pemikiran dan perencanaan budget seorang backpack; I guess it could have been cheaper.)


A photo posted by Daniel Kurniawan (@dankuur) on

Day #1

1/ Bandara Changi menyambut dengan hujan sesaat; spontan agak khawatir kalau rusak planningnya. Dan kami nyasar terminal bandara, cari-cari cek imigrasi yang bener. Not a big problem. Kami balik ke terminal asal, ke imigrasi, dan lanjut ke luar bandara. Oh, ya, tap water di bandara beneran bikin seger badan en hati yang capek. Eaaa. Makan siang di bandara dapet Chicken with Lemon Sauce, $6.5 sudah termasuk minum, lumayan lah ya. Btw, tentang tiket, kami sudah pesan setahun lalu. LOL.

2/ Untuk transportasi di Singapura, kami pakai EZ Link Card. Antrian pembelian Tourist Pass dan EZ Link berbeda, dan ini kali kedua kami salah alamat (setelah nyasar imigrasi terminal tadi). Kami mau beli EZ Link, tapi antri di Tourist Pass. Dan di akhir perjalanan, di hitung-hitung, mendingan pakai Tourist Pass. Duh. Kemana-mana, turun dari MRT/ Bus, ya jalan. Bener-bener latihan kaki.

3/ Sistem MRT dengan tapping kartu bikin mudah segalanya. Not a new thing juga sebenarnya, karena Jakarta juga sudah mulai begitu, kan. Jalan dari penginepan ke stasiun MRT terdekat lumayan bikin olah raga. Setiap rute terpampang jelas, baik di map maupun di papan informasi. No eating and drinking in MRT. Yes! Bersih dan nyaman lah (apalagi kalau dapat tempat duduk, instead of standing, haha)


4/ Kami dapat penginapan yang nyaman, bersih, dan murah. Untuk standar backpacker, di daerah Novena, persis depan bus station-nya. Mandi bisa air panas, kamar AC, ada dapur dan laundry, plus boleh pakai microwave untuk angetin sarapan. Free-Wifi, for sure! Uhuy. Oh, ya, teman-teman pada beli kartu telepon, saya 'ndak. Beneran menikmati detox sepanjang tiga setengah hari itu, tanpa banyak gangguan telepon, sms, atau chat masuk.

5/ Jam enam di Singapura masih terang benderang = jam lima di Jawa. Selisih satu jam lebih cepat. Jadi semacam susah, otak ini menyesuaikan diri, meski jam tangan sudah diubah.

6/ Karena masih awam dengan peta dan area Singapura, jadilah kami semacam nyasar sana-sini di sore-malam pertama. Tujuan awal setelah unpacking luggage di penginapan adalah Clark Quay, aslinya narget sampai ke Marina Bay. Nekat lah kami jalan, which was sooo tiring. Dan GPS HP-nya selalu gak well di area sini!

7/ Di tengah kelelahan dan kelaparan (sudah pk. 08.00), kami menghibur diri dengan foto-foto pemandangan sepanjang sungai di CQ, berharap dapat tempat makan murah, tapi cuma bisa ngiler lihat sepanjang jalan ada restoran (mahal-mahal). Kami nyasar ke hawker's food centre yang notabene udah gak operasional lagi. (Google) Map-nya belum update mungkin. Dan alhamdulilah, nemulah kami Chinese Food Court di ujung jalan! Murah-murah disono. Chicken Thai Style seharga $4,5 dan Ice Millo $2 bikin perut kenyang dan wajah sumringah.


8/ Kami masih lanjut ke The Float dan Helix Bridge. Menikmati pemandangan disana, sambil foto-foto dengan cahaya minim. Hiks. Saya terus self-reminding supaya gak keasikan foto-foto terus malah lupa menikmati momen dan pemandangan yang ada.

9/ Pulang ke penginapan, kaki sudah letooooy. Mampir Seven Eleven yang puji Tuhan buka 24 jam dekat dengan penginapan (setelah mendapati SevEl di MRT Station Novena sudah tutup). Sebotol A*ua ukuran gedhe disini $3, mahal kaaan? Ngapain juga beli A*ua disini!


Day #2

10/ Siap-siap ke USS. Kami bertujuh, bawa dua tas ransel saja. Tidak perlu bawa banyak amunisi, seperti saran beberapa pendahulu kami. Sarapan saya di Burger King di Novena. Sebenernya bisa beli roti lebih murah di Breadtalk atau SevEl terdekat sih. Sigh.


11/ USS! Rameeee pengunjung (ya, iya, lah, apalagi kami datang hari Sabtu!). (Btw, tiket lebih murah beli online lewat Klook). Setelah foto-foto di depan globe berputar yang mainstream jadi spot foto itu, masuklah kami. Dan langsung excited. Saya jadi anak-anak lagi! Teman kami (orang Indonesia yang kerja di Singapura) suggested lebih baik langsung ambil jalur ke kiri (mostly, pengunjung langsung belok kanan).

11.1/ Ride pertama kami di USS adalah Madagascar Boat Ride. Yah, lumayan menghibur. Antrian masih belum panjang. Begitu kami keluar, antrian sudah mengulaaaar. Nothing much we did there, lanjut lah kami ke area lain.


11.2/ Saya langsung usul, 'Kita ke The Lost World dulu!', yang notabene buka jam 11. Sambil nunggu lima belas menitan, kami foto-foto gate Jurassic Park yang terkenal dan ada patung T-Rex plus Spinosaurus. Begitu masuk, saya jadi makin sangat excited. I'm a biiig fan of Jurassic Park and dinosaurs. Dan theme song-nya dimainin di area itu sepanjang waktu. Jadi hati saya berdebar-debar tiap detik (lebay). Ride pertama kami, langsung ke JP Rapids Adventure. Beneran saya super excited menyusuri aliran sungainya, sambil menikmati efek yang ada. Basah? Iya, tapi gak parah banget. Lagian cepet kering karena naik Canopy Flyer yang seru (meski cuma satu-dua menit naiknya, hiks)! Saya sempetin beli hiasan magnet Jurassic World, for $8.


A photo posted by Daniel Kurniawan (@dankuur) on



11.3/ Ancient Egypt jadi tujuan selanjutnya. Dan, Revenge of the Mummy is a must! Beneran seru. Kudu dicoba, lah. Saya jejeritan sepanjang ride. Haha. Ndak banyak yang dilakukan disini. Foto-foto, iya. Treasure Hunters jeep ride-nya lagi ditutup karena maintenance. Kami balik ke Food Court area Jurassic Park buat makan siang. Selesai makan, sambil tunggu giliran teman-teman lain makan (antrinya panjaaaang, jadi better jangan kesini pas peak hour makan siang), menikmati pemandangan danau Lake Hollywood. Bisa foto-foto, sambil menikmati jejeritan roller coaster di seberang.

11.4/ Kami balik rute ke Far-Far Away. Area-nya Shrek, dkk. Kemudian memutuskan untuk berpisah, grup cowok dan cewek, karena grup cewek mau antri Puss in Boots' Ride. Sambil nungguin mereka antri dan naik atraksi, saya nonton live show-and-dance Puss in Boots and Kitty Softpaws. Menghibur. Kemudian nonton stand up comedy-nya Donkey (not really a live Donkey, tho; it's on big screen, but still entertaining). Cuman keluar di jam-jam tertentu dua show itu.

11.5/ Dari Far Far Away, lanjut ke Sci-Fi Centre, ngelewatin roller coaster Accelerator yang fenomenal itu. Gak jadi nyobain itu merah-biru roller coaster; lah, gimana lagi, antri 120 menit! Transformers Ride 3D Battle jadi tujuan utama di area Sci-Fi. Antre 60 menit! Doh! Dan menguuulaaarrrr parah. Tapi worth it. Satu temen tumbang, keluar dari emergency exit. Padahal tinggal sedikit panjang antrinya. Beberapa pengunjung lain juga gerah, dan anxious. Ride-nya? Super keren. Berasa banget mau dibanting jatuh dari gedung tingkat tingi.


11.6/ Kami sudah sangat capek. Kaki sudah letoy lagi. Jadi memutuskan lewat begitu saja area New York. Nonton sebentar live dance.  Keluar area USS, teman-teman lain beli coklat (Hersey, yang banyak pilihan flavors-nya, tapi lebih murah di Toko Mustafa, Li'l India) dan masuk ke Candilicious. Saya? Duduk saja, menunggu dan meredakan lelah, di taman depan. Our day at USS ended. Antri lagi, 30 menitan buat naik MRT balek ke seberang.

... to be continued.

Wednesday, January 6, 2010

Dan's writing a 'drama script'... :)

[For FB user, please click here...]

Happy X'mas and Happy New Year to you!

So, kemaren Desember (yang melelahkan, no comment, no protest, pls) sudah berlalu, en tahun baru langsung disambut Camp Guru (Camp deh, bukan Retreat seperti nama yg diberikan) langsung ada dalam jadwal saya. Dari retret tiga hari dua malam itu, ada banyak hal, en entah kenapa malah memberikan saya ide untuk menulis post ini... Enjoy it!


Teachers' Camp: Teachers Unleashed...

Disclaimer: Tulisan ini hanya untuk guyon, kalo ada yang sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi, ya emang begitulah yang terjadi... Kalo ada yang tersinggung mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi tulisan ini sudah melewati proses editting dan sensor yang telah melenyapkan segala bagian yang a-nonoh dan tidak pantas dikonsumsi oleh batita maupun sepuh di atas 80 tahun. Thanks.

SETTING:
Kaliurang, Wisma Kana, wisma yang cukup besar, dua tingkat, dan sekitarnya. Udara sejuk, kadang berawan mendung dan gerimis mengundang. Aula Wisma persegi panjang. Kamar peserta di Wisma, kecil, empat-kali-tiga (?) yang dipaksa diisi dobel bed (yang sebenernya satu bed itu diturunin dari spring bed yg laen, sehingga spring bed yg asli jadi atos) dan saking memaksanya pintu ga bisa dibuka selebar-lebarnya karena nabrak kasur.

KARAKTER:
1. Daniel (DK), cowok 24 tahun, paling muda dalem camp yang in fact bikin shock banyak orang karena ber-mutu (ber-muka tua), pendiem dan lebih banyak waktu sendirian buat ngupil tidur...


ACT 1, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, plus selasar depan kamar lantai 2. Pagi menjelang siang setelah perjalanan, dan unpacking barang-barang bawaan.

DK: (Agak ngantuk. Sudah ganti celana pendek. Memutuskan untuk turun ke aula, en ngecek keadaan Wisma Kana. Buka pintu kamar, dan sontak menangkap en membau sesuatu yang menyengat yang bikin dirinya males keluar kamar...)

Para Pak Guru: (Duduk dengan santai, mengobrol di selasar kamar. Ketawa. Ngobrol. NGEROKOK dengan santainya. Asap rokok jadi penghias pemandangan selasar.)

DK: (Tahan napas dengan tersiksa, berjalan menerobos asap, en berpikir bahwa inilah kesuksesan para GURU memberikan sesuatu yang layak di GUgu dan di tiRU dari mereka.)


ACT 2, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, habis mandi pagi.

DK: (Habis mandir, bersihin en rapiin kasur deket pintu.)

Pak Guru: Oi, selamat pagi... (dengan santainya berjalan mantap dari luar, menerobos masuk lewat [baca: menginjak-injak] kasur yang tadinya sudah rapi en bersih, ke kasurnya yang lebih tinggi, dan dengan indahnya meninggalkan cap kakinya yang masih basah dengan beberapa ornamen pasir.)

DK: (Melongo heran)


ACT 2, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Para peserta sedang Outbound mengelilingi kawasan di sekitar Wisma Kana. Kelompok Dankuur en Kelompok Hebat sedang bersantai-santai menunggu giliran di satu pos.

Bu Guru 1: Eh, ada uler. Ada uler. (Menunjuk ke bawah.)

Bu Guru 2: Ow, lempar ke Pak Guru itu. Yang ijo bajunya. Dia takut.

DK: (Senyum licik mau iseng. Pura-pura ngambil ulet pake tongkat, en ngelempar.) Ini ya, pak? Awas pak, uler! (Pak Guru berbaju ijo lari menjauh padahal posisi dirinya sendiri juga udah jauh dari kelompok saking merindingnya denger kata uler.

Pak Guru Laennya: Opo to? Oh, ming uler koyo ngene. (Menunduk, ambil uler pake tangan langsung.)

Guru-guru termasuk DK: (Lari ngacir liat si bapak ambil uler pake jari tangannya dan sekarang ketawa nakut-nakutin semuanya.)


ACT 2, SCENE 3
SEETING: Sore hari, Kamar 11.

DK: (Mau mandi, sudah siap dengan segala senjata perang untuk mandi. Melangkah masuk dengan mantapnya ke kamar mandi, dan sesaat terinfeksi HIV [Hasrat Ingin Vivis]. Membuka tutup toilet duduk, dan shock ada beberapa benda a-nonoh yang melayang dengan indahnya disana. Buru-buru pengin keluar en muntah...)


ACT 2, SCENE 4
SETTING: Siang hari, waktu session, peserta mengisi aula yang agak sempit en panas.

DK: (Mendengar Pak RC dengan seksama, en sesaat perhatian teralih ke satu guru yang duduk di depannya, en tiba-tiba berdiri en berjalan keluar. Tidak begitu acuh selanjutnya. Perhatian tertuju lagi ke guru yang tadi keluar sekarang masuk dengan sesuatu di tangannya. Mencoba kembali mendengarkan Pak RC.)

Bu Guru: (KREEEK... Membuka sesuatu, bungkusan.)

DK: (Mengamati guru yang sekarang sedang membuka bungkusan, yang ternyata bungkusan berlabel ceriping)

Bu Guru: (Melihat DK yang sekarang sedang mengamatinya. Tersenyum.) Mau? Biar nda ngantuk.

DK: (Geleng plus senyum. Berpikir bahwa boleh bawa sangu, en sesaat berpikir boleh mencoba sangu pop-mie dalem Sessi).


ACT 2, SCENE 5

SETTING: Aula, another session, guru-guru sudah mulai exhausted.

Pak RC: (Menyampaikan materi dengan semangat, dan seperti biasa bersenjatakan senyum en gurauan plus segala banyolan yang bisa bikin peserta ngguyu.) ... itu karena saya sadar siapa saya di depan Yesus ... (Terus nyampein materi. Mbanyol.) ... ya itu rahasia saya dengan Yesus...

Bu-Guru-yang-duduk-sebelah-DK: (Ngomong setengah bisik dengan kenceng ke DK.) Gayamu. Memang'e pernah ketemu Yesus po?

DK: (Shocked. Diem. Tampang luar senyum, tapi dalem otak ketawa ngakak dan sekaligus di waktu yang sama mikir keras banget...)


ACT 2, SCENE 6

SETTING: Malem hari, waktu Dedication Service.

DK: (Mengamati keadaan sekitar. Lampu temaram bikin mata DK tidak bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba kaget denger sesuatu yang unik.)

Seorang Bapak Tua yang Karena Kedudukannya Sepatutnya Dihormati dan Dihargai: (Dengan volume yang tidak begitu keras.) NGGROOOOOOKKKK...

DK: (Mengamati dengan keras, melihat si Bapak kepalanya terkulai ke belakang, kemudian tangannya bergerak-gerak kecil, mulutnya sesekali mbuka tutup kaya ikan mas koki. Berpikir bahwa Dedication Service juga efektif untuk waktu istirahat.)


ACT 2, SCENE 7
SETTING: Malem hari, habis Dedication Service.

Para Peserta: (Masih haru. Beberapa dengan mata basah karena air mata. Beberapa peserta kembali ke tempat duduk dari posisi duduk di lantainya.)

MC: Yah, bapak ibu, ada hari ini ada yang spesial untuk seorang rekan kita...

DK: (Sudah bisa menangkap apa yang akan terjadi, dan heran dengan yang terjadi 10-15 menit selanjutnya ketika semua haru biru en temaram suasana emosional en sentimentil dedication service itu berubah 180 derajat menjadi sorak-sorak dan guyonan karena perayaan ulang tahun seorang rekan guru. Berpikir dalam hati: Oh, begini toh habis Dedication Service... Hm... Beda budaya kali, ya...?)


ACT 3, SCENE 1
SETTING: Sessi di pagi hari. Para peserta dapet tugas untuk sharing personal Action Plan.

DK: (Barusan keluar ambil obat suplemen di kamar, balek lagi ke Aula. Ketemu Pak RC di depan pintu aula.)

Pak RC: Ayo, Dankuur! Kamu Bisa!

DK: (Senyum agak cengok.) Bisa apanya, Pak?

Pak RC: Ah, kamu itu potensial sekali tapi baru 30% potensi yang kamu kembangin.

DK: (Tambah cengok dan menyadari dengan sangat bahwa perkataan Pak RC bakal menghantui pikirannya bahkan sampe setelah camp sudah selesai.)


ACT 3, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Kebaktian Penutup.

Pak Eka: Jadi Bapak dan Ibu. Mahkota yang sudah Anda susun dari kertas lipat jadi lambang seperti mahkota yang dipercayakan untuk kita. Ada yang bilang ini seperti mahkota duri. Ada harga yang harus dibayar. Ini mahkota yang mengingatkan kita akan mahkota yang akan kita terima nanti kalau kita setia dengan panggilan tugas pelayanan kita. Dan untuk itu kita akan memakainya bersama setelah rekan-rekan perwakilan akan dipakaikan mahkotanya.

DK: (Merasa bahwa ada yang ga enak di dalem hati.)

Pak Eka: Dan sebagai perwakilan, kami undang dua guru masing-masing dari Magelang maupun Klaten. Yang paling tua dan yang paling muda.

DK: (Perasaan ga enaknya nyata. Celingak-celinguk sambil tetap diam.)

Pak Eka: Dari Magelang?

Pak Guru SMP: Tertua Bu Giarti, dan termuda ini, Pak Kris.

Pak Guru SMA: Bukan, Pak Dankuur.

Pak Guru SMP: Pak Kris tahun berapa?

Pak Kris: Delapan Empat.

Bu Guru SMA: Pak Dankuur delapan lima.

Pak Eka: Ya, Bu Giarti dan Pak Dankuur silakan maju.

DK: (Maju dengan senyum garing, menyadari banyak guru Klaten yang pastinya kaget dan meragukan mana yang termuda dan mana yang tertua dan mungkin terbalik.)


ACT 3, SCENE 3
SETTING: Siang hari. Habis kebaktian penutup. Aula sontak jadi sentimentil en emosional. Para guru saling jabat, peluk, dan menangis, apalagi lintas: Magelang-Klaten.

DK: (Jadi pengamat yang baik setelah memberi banyak salam, terutama ke guru-guru dari Klaten. Sekarang berpikir bahwa Dedication Service kalah jauh sentimentil dan emosional-nya daripada Farewell ini. Sementara banyak guru cewek yang masih sesenggukan nangis sambil peluk rekan-rekannya.)


ACT 3, SCENE 4

SETTING: (Di depan kamar lantai 1, para guru menikmati makan duren sambil menunggu waktu pulang ke Magelang.)

DK: Enyak-enyak-enyak (Sambil menikmati duren.)

Pak Guru Berkumis: (Habis menikmati satu buah, dan masih membawa satu bagian kulit durian di tangannya dengan dua buah lain di dalam cekungan kulit itu, berdiri dekat dengan tempat sampah. Dengan santainya membuang jauh biji durian ke tanah.)

DK: Pak, ini sampah! Pie to malah dibuang sembarangan ke sana!

Pak Guru Berkumis: (Tampang sok cengok.) Oh! Sapa, ya, yang buang sampah sembarangan? Hayo sapa?

DK: (Senyum sinis. Berpikir heran dan menemukan satu lagi alasan mengapa guru layak diguGU dan ditiRU.)

Thursday, June 11, 2009

Daniel yang Mencoba Mentertibkan Hidupnya lagi...

Hai.

Sudah tiga hari ga buka internet secara 'resmi' (baca: ngublek2 FB, blog, donlod, dll), jadi cuma sempet sekilas buka gmail, en check FB; gara2 tiga hari ini ada banyak kegiatan: pergi ke Jogja, pergi ke Wonosobo, nyelesein administrasi UN en akreditasi skul. *phew*

So, first of all, diriku kemaren rabu ke Jogja. Rencana awal mo nyervis'in nih lappie yg sudah membisu sekian bulan dan minggu plus hunting buku. Diriku mbonceng andre, en kita ga banyak pergi2 selain ke toko aksesoris HaPe, ke toko Merah (toko stationary), ke toko lappie-ku, ke Gramedia pusat. Btw, entah kenapa diriku tidak terbiasa berada di Gramed pusat, karena biasanya pergi ke Gramed Amplaz... En di Gramed pusat kaya orang ilang: bingung nyari buku, sambil jalan muter2 dengan tas laptop tetep dibawa, jaket diiket di pinggang (kaya turis etiopia kesasar) (tas lappie ga diterima di penitipan tas karena ada lappie-nya, en si satpam [seperti yg sudah ta bayangin] langsung nyetop diriku en nanyain tas ituh...).

Yang bikin males adalah perjalanan balek ke Magelang. Bayangin: tas dibelakang berat karena laptop plus beberapa isi tambahan, kanan digantungin helm baru yg dibeli andre, kiri diriku memegang kresek isi 20 buku... Plus dua kali ampir nabrak motor (bukan salah Andre juga sih...). Hasilnya pulang langsung ngglebak di tempat tidur. Tapi diriku puas beli banyak buku (sampe mbak2 kasirnya bingung en ketawa karena notanya ga abis2 waktu di prin), en walo tu buku bukan punyaku semua.

Oh, ya, betewe, adekku kemaren berangkat lagi ke Semarang buat OSN a.k.a Olimpiade of Stupid Nerd a.k.a Olimpiade Orang Aneh yg Bodoh... Wakakaka... Ga! Olimpiade Sains Nasional. Pancen aneh tenan kok. Moso manusia seaneh dia sudah dua tahun ini maju ke Semarang terus... Pulang juga dapet tas lappie baru terus (tapi lappie-nya ga dapet... Wkwkwkwk). Kok bisa yo? Aneh juga. Padahal ga ada bakat turunan dari Pa-Ma-ku. Kok dia bisa sebegitu aneh (baca: jago) Matematik. Waktu pulang pun dia bawa 'oleh-oleh' contoh soal waktu latian olim. En diriku dengan bangga dan narsis berhasil menyelesaikan satu soal geometri-nya... Wakakakakakakakakak! Ternyata aku juga bisa membuktikan kepandaianku di bidang hitung-menghitung...

Eniwei, akhir2 ini makin keliatan kalo diriku lagi stress, pelariannya adalah: ngopi en tidur... Hohoho. Sebener'e stress juga karena konsekuensi bodoh dan menyebalkan: I'm a 75% procrastinator... Opo kuwi? Procrastinator tu penunda2 pekerjaan. The Last Minute Person. (Tapi kalo diriku biasanya the last day person)... Oops en Eits... Diriku tidak menyebut bahwa aku malas, en procrastinator for me bukan berarti pemalas. Kalau dikasi kerjaan, or mengada-ada pekerjaan, diriku selalu tanya 'Deadline-nya kapan...?' Nah, setelah dijawab deadline-nya, diriku langsung set target en jadwal ini-mo-kapan en besok-mo-ngapain. Setelah itu ya udah... tinggalkan tugasnya sampe hari2 terakhir yg mendesak baru dikerjain... Hahaha.

Alhasil ya seperti minggu2 ini: numpuk semua kerjaanya. Belom juga dua desain selese, ni pekerjaan rekap nilai di skul semakin mendekat, en rekap-plus-merapikan admin Ujian juga belom kelar (meski deadline-nya juga belom tiba)... Selalu diriku disela2 kesibukan, cari sekian menit (biasanya sampe sekian jam :p) buat istirahat. En diriku sukses menambah pekerjaan yg ditunda gara2 istirahat kelamaen (baca: tidur)...

Oh, ya, diriku dapet gawean baru: ngelesin TOEFL. Yup! Nostalgia jaman dulu ngajar di LTC, kursusan... Wah, jadi kangen, en inget jaman2 waktu ngajar TOEFL yg emang notabene membosankan karena kudu ngejar materi ajah... Huhuhu. Tapi yg ini ngajar sambil cekikikan, makan, en ngobrol. Kalo biasanya diriku ngelesin maks 2 jam, yg ini kemaren malem aja dari jam setengah enem sampe jam setengah sembilan!!! Isinya: 1.5 jam belajar, 30 mnt tunggu anaknya dateng sambil maen piano di rumah anak itu, 1 jam ngobrol sambil dikasih makan (tadi malem burger en jagung bakar... uwooooooooohhhh!!!! Nikmat!!!!).

Kembali ke laptop. Selain mencoba membenahi sekian banyak pekerjaan yg mulai tertinggal, diriku juga pengin membenahi hobi lama yg terabaikan en semakin pudar: BACA! Sudah lama buaaaaaaaaanget ga mendisiplinkan diri dengan membaca. Apalagi sekarang juga udah ga lengganan Jakarta Post. Waduh, ni otak bisa kinclong ga pernah diasah en dudul, plus rambut jadi rontok karena otak terlalu longgar (emang bener ya...). So, diriku dipinjemin satu buku, dapet satu jurnal (yg udah 50% aku baca), plus mencoba membaca berita dari interNet secara rutin en merajinkan diri untuk membaca sebelum tidur... Semoga ni otak kembali bekerja (ga cuman mikirin FB-FB-en-FB...).

Oke, diriku mo menyelesaikan tugas-tugas yg tertunda... Duh pengin ngopi lagi je... Huhuhu...

GB

NB: Diriku baru nyempetin nonton pelem Kambing Jantan, en bengong, nunggu kapan bisa ketawa, cuman ndapetin scene konyol di menit2 pertama, setelah itu (sedikit ngantuk) mencoba memahami konsep ceritanya yg ternyata agak serius... Kok beda sama komiknya ya?

Tuesday, January 27, 2009

On Chinese New Year

First, Gong Xi Fat Choi. 

Aku juga ga' tahu tuh terjemahannya apa, tapi artinya secara kasar 'Minta Angpau, dong.'

So, kemaren Senen, diriku, yg notabene masih a Chinese-descendant dan punya darah keturunan (seperti yg ditanyain sama petugas pembuat rekomendasi SKCK dari Polsek) dan punya kulit cerah seputih mayat, bersama keluarga muter2 ke sanak sodara terdekat. Sudah ga' serame dulu sih, tapi masih ada ritual nunjukkin kepalan tangan itu nantangin berkelahi.

Tapi tahun ini, diriku makin benci yg namanya imlek-kan. Kenapa? Karena posisi diriku sebagai penerima Angpau makin terancam. Dianggep sudah jadi penghasil uang (karena terima gaji pekerjaan), aku makin sedikit menerima amplop merah itu. *sigh* Mending ga' usah acung-kepal sekalian (wooo… motivasi yg salah, becanda pemirsa sekalian…). Yah, kalo orang2 kaya sih, tiap tahun tetep juga bagi2 angpao, ga kenal siapa yg sudah or belom kerja. Tapi, karena keadaan keluarga (besar) yg memang ga' ada yg ditakdirin jadi pengusaha, or pejabat, or koruptor, yah alhasil nerimo… sak ikhlasipun bapak, ibu…

Betewe, kami (aku en sodara2 sepaha) sempet ngumpul di satu rumah sodara yg sudah jadi senior gara2 disitu ada satu2nya emak yg survive, sementara yg laen sudah punah. Yg sempet jadi artis sehari adalah adekku. Kenapa? Karena dia sedang sakit, ga' tahu sakit apa-an, yg jelas kulitnya penuh bercak2 merah… Mungkin sudah saatnya dia ngaku kalo dia alien dari Pluto.

Semua orang pada nanyain, "Loh, Nico, katanya kemaren sakit, ga dateng kumpul2 keluarga tadi malem, ya?", or yg laen nanya, "Sakit apa toh? Apa alergi? Kemaren makan apa?" Langsung pada jawab sendiri2 sementara adekku cuman dikasih kesempatan buat meringis2 bingung. "Alergi udang? Ato telor? Ato apa? Diinget2, kemaren makan apa sebelom sakit…" Aku cuman bisa ikut2an njawab, "Makan tikus, kecoa, bangkai cicak, bekas plastik…"

Yang laen pada ngusulin, "Ayo, diminumi aer kelapa muda," padahal ada yg bilang, "Jus jambu muda ajah… Biar racunnya keluar dulu, manjur loh!" Aku bilang, "Udah, minum detergen campur minyak jelantah… lebih ga' pait daripada minum Baygon."

Masih di tempat yg sama, kita ngobrolin si emak senior yg sekarang sudah sukses jadi pikun total (bahkan sama si anak-nya pun ga' kenal). Bukannya 'sopan', malah sodara2 (ponakkannya si emak) pada ngerjain. "Ini istrinya yah?" tanya si emak, waktu satu ponakannya dateng bawa anak ceweknya, dan si ponakan cuman jawab iya-iya sambil cengengesan. Lucu juga waktu diceritain kalo si emak bisa makan habis semua jatah makanan yg tersedia. Wah, keren dong, kapan2 aku coba kasih bolu sampah ah…

Tapi disela2 pada ngerjain, sodara2 ku ada yg bilang, "Ih, kalo tua kita kaya gitu yah… Pikun… Keriput…" Aku ikutan mikir. Kalo keriput mah, sekarang juga udah muncul. Kalo pikun. Lupa ingatan. Aku paling fobia. Aku ga' bisa bayangin kalo besok aku tua, terus ga inget apa2 or siapa2. Ga inget jati diriku sendiri juga. Aku bakal lupa ingatan kalo dulunya aku adalah seorang kapiten dari anak pelaut. Aku bakal ga pernah inget kalo Harry Potter dikarang JK Ro, or kalo Paulo Freire tuh nulis buku Deschooling Society, or kalo Vanessa Carlton tuh yang nyanyi A Thousand Miles, bukannya When You Believe. Or… or… or… TIDAAAK!!!!!

Well, eniwe, diriku pulang dari tempat sodara senior itu dengan satu kebanggaan karena sudah bisa menaklukkan ego en kesombongan diri; tadinya aku ga' mau dateng kesitu karena kasus lama yg bikin diriku menjauhi satu sodara yg ada disitu, en juga aku sudah lama ga' pernah ikut kumpulan keluarga karena takut luka lama itu nyeri lagi tiap liat orang itu. Aku juga selama ini kalo ketemu di gereja pura2 ga liat orang itu. Menjauh, menghindar. Lah enak sekali dia katanya sudah lupa, ga inget, or malah ga ngerasa pernah menyakiti, padahal diriku ini sudah dipermalukan en disakiti di depan orang banyak. Weleh… Yah, enak sekali dirinya berkata lupa, sementara luka di hatiku terlalu dalam…. 

OK, enough for today. Sekali lagi Gong Xi Fat Choi (you r blessed kalo dapet angpao banyak, jangan lupa perpuluhan buat Tuhan dari angpao…. wkkk…).


PS: Angpao-ku sudah habis buat bayar utang... :p Wkkk...

Thursday, January 1, 2009

31 Desember in Jogja

31 Desember kemaren seharian diriku dolan ke Jogja, bareng ama temen2 gereja, rame banget, dua mobil. Kita cuman pergi ke tiga spot: Panti Asuhan El-Jireh, Amplaz, Saphire. Of course, kalo sudah ngumpul gitu (apalagi dua mobil), ya pasti full of stupidity, foolishness, laughter, and unimportant silliness (kayanya semuanya synonimous dah!)

Berangkat, yg semula rencana jam8 pagi jadi molor (seperti biasa) jam 10. Aku ikut mobilnya Albert, yg notabene disopir ama Andre. Nothing special di dalem mobil, kecuali suara2 tidak seronok dari anak2 yg sengaja singin' on-air ngganggu Andre nyetir, plus diriku sempet rame-kenceng-otot-en-emosi gara2 satu topik tentang YPKI lagi ama anak2 di dalem situ. Payah... I really hate it, and wish the case never happens or at least I never get involved in it. Apa toh? Sudahlah lupakan...

Titi selalu ngisi kebisuan dengan tawa ngakak yang lebay en ga mutu buat hal2 kecil yg ga jelas juga. Kadang titi juga bisa ngekek sendiri. Kasian juga sih si dimple ini karena paginya dia nekat basket, en bermodal skill kosong yang bikin dia jago maen basket di antara para penguin, dia sukses ngguling en melukai kakinya dengan parah. Pagi waktu kumpul di gereja pun dia sedang menikmati di plaster-perban ama anak2 (yg tadinya dengan bodohnya dia pake selotip transparan... wkkkk).

..mode hiasan kaki tahun 2009 yg lagi happening..

Di panti kita cuman njenguk, sementara DePe yg dulunya menghantui Jogja melepas kangen sama anak2 (cos' dia lumayan aktif en komit disitu dulunya) en sama Kak Agnes (If i'm not mistaken), si pembimbing panti. Yang laen? Ada yg duduk2, ada yg ngobrol2 ma anak2, ada yg foto2 bareng anjing, Cloud (Klot? Klod? Glot? Kolot?).

..Nana sudah berpindah ke lain hati, en langsung horny liat si Cloud..

Kita cuman bentar di Panti, tadinya si DePe ngajak kita lunch disana. Tapi diriku ngebet en sudah napsu pengin makan Ayam Penyet! Go Ayam Penyet! So, next stop: Ayam Penyet belakang Percetakan Andi (Jl. Beo? Diriku paling ga suka ngapalin jalan!)

Dari ayam penyet, kita langsung melancong ke Amplaz, the one and only favorite hangout-walking-walking spot.... (halah!). Di tengah perjalanan, tetep banyak kehebohan yg diciptakan Titi, en aku, en anak2 yg laen. Kadang Titi sok lebay dengan pura2 sakit, en bersuara, "Uh-Oh-Ah!" 'en kita cuma diemin aja, en berakhir dengan dia ketawa ngakak. Waktu kita mo parkir, muter2 di dalem parking area-nya amplaz, si Titi juga bikin heboh dengan suara bising-nya. Kita lagi dengerin lagu From This Moment dari HP-nya dia, en disela2 keributan anak2 yg lagi balapan cari empty parking spot, dia tereak2 nyanyi, apalagi pas bagian akhir reff yg, "From this moment OOOOOOONNNN!!!!" Gila! Sebener'e ada video-nya, kapan2 deh aku upload, males juga nungguin upload video ga' penting...

Titi paling freak kalo liat2 baju di plaza. Dia ga bisa nyetop liur mengalir dari mulutnya, diriku cuman bisa 'ckckckck' tiap kali dia ngajak mampir, masuk ke distro, trus nyoba2 baju di fitting room, en motret dirinya sendiri dengan baju coba-an-nya pake HaPe... halah!

Kita di amplaz mpe jam 4-an, en ada yg heboh waktu itu! GEMPA! Aku lagi ada di Gramed, baca2 komik, trus suddenly it shook. Aku kira ada troley yg lewat, or truck, tapi bodoh juga mikirin truck lewat di lante 2. Waktu goncangan kedua yg tambah banter, diriku spontan mikir kalo itu gempa... hiiiii.... ngeri. Semua pada lari, diriku juga sprint, jalan cepet ke pintu keluar gramed, sambil sukses nguntetin lima komik ke saku celana.... ga... bercanda. Diriku cuman bisa jalan cepet, ga mau lari, karena malu, jaga gengsi, ah masak guru takut sama gempa sih? Dan Gramed langsung jadi heboh selama sekian menit. Aku lihat Nana en Deddy di deket pintu, mereka sante2 ajah... gubrak! 

Masih di amplaz, kita ngabisin banyak waktu di Time Zone, ga' tau kenapa pada suka maen spot-the-difference, tu loh game yg cari perbedaan, yg kita pake pen, kemudian nunjuk mana yg ga sama dari dua gambar. Lama banget kita maen itu, en heboh karena anak2 pada ngumpul di satu mesin, saling bekerja sama, sampe akhirnya kita bisa melewati tiga bos kalo ga salah (MERDEKA!) Paling rame kalo kita bisa nyelesain satu puzle cepet banget, kita langsung, "Wieeee.... Cie.... Keren...!!!" bikin kehebohan. Trus waktu bonus stage yg ngurutin angka pun kita juga rame, en diriku paling cepet suruh nyelesain tuh puzle, ampe titi (lagi2) ngekek nda berhenti. 

Ga puas di Amplaz, kita melaju ke Saphire, tadinya pengin bowling or skating, tapi ga jadi en malah berakhir maen di Amazone (mirip Time Zone di amplaz). Diriku ngabisin empat koin buat nge-dance... Duh, kangen masa2 lama ngedance bareng Erica en Nana. Aku nostalgia ama lagu La Senorita, Butterfly, Bum-Bum-Bum. Yg laen pada maen roulette (yg berakhir keren dengan 699 tiket), en basket. Capek banget abis nge-dance, en kaos basah semua. 

Dari Sapphire kita pergi makan, setelah heboh karena si Jojohn, yg gantiin Andre jd Driver, nyerempetin mobil Albert di parkiran-nya Sapphire. Haha. Kasihan. Padahal tuh mobil barusan di cat ulang. Dinner-nya ga jelas, karena usul Jojohn makan di pemancingan ternyata malah tutup. Titi terus ngeluh kakinya tambah pegel en sakit. Dia sempet diem, terus kepergok diriku ngikik2 sendiri, senyum2 sendiri sambil liat keluar jendela, ga' tahu, katanya sih daripada mikirin sakit mending mikirin yg lucu2. Dari tempat makan yg tutup kita melaju secepet2nya ke Muntilan, cari warteg darurat karena sudah pada lapar. Disana juga cuman dapet nasgor yg memang murah tapi banyak bumbu masaknya, en tenggorokanku jd sakit... 

Sampe rumah jam 10. Diriku langsung mandi en ke gereja, janji mo ngobatin, nggantiin perban si Titi, en diriku sukses bikin dia tereak2 kesakitan, jadi dokter yg galak. Titi bilang, "Dankuur tuh' dokter kok galak kaya' guru..." Ember! Jam 11, abis diriku ngobatin si Titi, aku pergi ke tempat Ci Indri, janjian mo tahun barunan en begadang, eh malah ditinggal tidur ama cewek2 kebo.... Nasib. Dan semalem itu, mpe jam 2, I spent the private, romantic night with my wife: LAPTOP. Ngeditin foto diriku ma titi... Ni jadinya...

Monday, December 29, 2008

After a tiring week...

I wish you a merry Christmas!

Selamat Natal! Semoga bayi Yesus-nya ga' ketimbun segala kesibukan dan gemerlap 'kado' yang kita terima 'en rasakan Natal kali ini...

Woke, so, seminggu yg penuh kesibukan lewatlah sudah, dan Dankuur sekarang sudah bisa take a deep breath... halah... hiperbolis banget, sekarang sudah lega lah pokok'e...

So, seminggu kemaren, sebelum natal tgl 25 en natal pemuda-remaja tgl27 pun diriku kaya ga bisa istirahat, ditambah dengan napsu pribadi pengin ngenet tiap hari, gratis lagi, di skul. So rutinitas tiap hari: bangun pagi dengan tidak seger, langsung mandi, jarang had breakfast, langsung menuju ke SMAKI, ngenet mpe siang, ke gereja latihan, pulang, makan, maen laptop, mandi, berangkat latihan di gereja lagi, pulang, maen laptop, en tidur... Gila. Such boring days for a latop-freak like me... :P haha...

Itu juga belom ketambahan ide gila dua temen yg ngajak diriku gabung di tim AMAZING RACE. Itu loh, diadaptasi dari TV Show Amazing Race, yg juga sudah ada Asia version-nya, kita mo ngadain buat anak pemuda remaja GKI Pajajaran, so jadilah AMAZING RACE PAJAJARAN di hari Senen kemaren. Postingannya sebentar dulu, mending cerita tentang Natal.

Natal kali ini diriku dapet banyak berkat, thanks to God who had sent HIS humble, remarkable servant to preach twice: Bu Rachmiati. Keren. Aku nge-fans sama Bu Ati, 'en I go with her view. Keren BangeT! (Berle' ya?). Diriku ngiringi KKR Christmas Eve, 'en I really enjoyed it, also liked the working team... Bener2 solid 'en well prepared... 25 pagi, masih dapet tugas ngiringi kebaktian umum, padahal sorenya dateng Natal Umum lagi... *Phew* Kalo Natal Umum, diriku ngisi bareng Gloria Choir. Sayang ga' begitu prepared, jadi ya kurang maksimal... Sebener'nya kalo Gloria bisa latihan lebih bener lagi, kita bakal nari hula-hula gaya kudanil ngangkang 'en kejang-kejang sambil nyanyiin lagu Joyful, Joyful... Hahaha... Kiddin' Diriku entah kenapa ga' begitu bisa enjoy waktu pujian-penyembahan-nya, tapi dengerin Bu Ati lagi sudah seneng. 

27 Desember bener2 gereja rocked by Natal Pemuda-Remaja, moga2 cepet diposting sama pak moderator di blog-nya kape. Yah, meski ada pro-kon tetep aja mereka jalan dengan konsep Rockin' Christmas-nya mereka... Salut buat tim musik, en salut buat drama-nya yang kedua, keren banget... sopo to playwright-e? Sopo to sing punya ide... diriku :P Mhwahwahwahwa! Diriku seneng dengan akting jayus gokil anak-anaknya... Oh, ya, aku sudah menunaikan tugasku sebagai kameramen dengan bersahaja dan berwibawa, jeprat-jepret sana-sini. Padahal di tengah2 kudu naek ke atas, ngoperasiin Laptop buat drama, dan diriku sukses jadi DJ-Laptop, karena tangan menyilang bak DJ, yang satu megang mouse laptop, yang satu mainin mixer sound gereja... wakakaka... I couldn't let my friend do it for me (I put no trust for anyone; let me do it for my drama!) ... 

So, setelah a week of Christmas, diriku masih ada satu tugas: AMAZING RACE di hari Senen kemaren. Setelah mempersiapkan bersama dua orang busuk-tapi-penuh-ide-kreatip, plus ribut karena diriku yang baek hati dan peduli ini tidak tega kalo ada rute yang membiarkan anak-anak cewek digoda oleh makhluk biadab macam ulat yang bikin gatal, jadilah acara gila 'en gokil ini. Bener2 rame, total 72 peserta 'en seru. Mulai dari nawar makanan yang aneh2 sampe nyebur kolam renang en potret di atas jembatan air en mencari ibu-ibu pemegang kunci penting yang notabene adalah penjual Kluban... wakakak.... Kita sukses ngerjain anak-anak semua, tapi praise the LORD, ga ada yg went off the plan. Semua lancar 'en entertaining plus refreshing. Komen yang masuk pada praise us. Pengin rasanya meneruskan ke AMAZING RACE PAJAJARAN SEASON 2... Halah!

OKE, hari ini diriku menyempatkan ke skul, demi internet... ga... tapi katanya mo ada inspeksi dari dinas, so kita siap2, tapi ternyata cuma diriku en pak lilik, kepseknya.

Happy Holiday! 

PS: Rencana kita mo' taun barunan tapi ga tahu dimana. Aku pengin dolan ke Jogja, tapi ga punya uang banyak... hiks... bulan liburan, uang pemasukan juga libur... hue....

amazing race pajajaran 2008

Saturday, October 4, 2008

Liburan yang ga' libur

Happy Ramadhan! (buat yang pada ngerayain)

Meski ga’ ngerayain lebaran, tapi aku kena dampak positipnya: libur kerja sembilan hari! (kalau mau lihat enaknya jadi orang Kristen di negara yang pluralitas agamanya gedhe). HORE! Tapi beneran hore? Ga’ ternyata. Karena ada Camp Pemuda 2008 di Kopeng Kurios (buka blog-nya pemuda buat info lebih lanjut).

Dua hari libur pertama pun (plus banyak hari sebelumnya yang consumed bwt persiapan camp) jadi melelahkan. Dua hari tinggal di gereja, plus dua malem lembur (iya, karena kesalahan diriku sendiri) buat garap slide, persiapan naskah fragmen, garap ini itu, en nge-GAME! (stress sudah sekian lama tidak nge-game, nostalgia Heroes IV [aku Archmage yang hebat! Mhwahwahwa!]).
Setelah itu tanggal 1 – 3 aku en 48 orang pemuda-pemudi laennya (kalo ga salah) melancong ke Kopeng yang lumayan (baca: so pasti) adem en bikin badan ngantuk, laper, en rindu panggilan alam senantiasa (baca: boker). So ngapain aja di Kopeng?

Well, bercinta. Ya ga lah! Lagian bercinta sama sapa? Sama rumput yang cuma bisa bergoyang? Or patung gajah yang berdiri diam membisu seribu bahasa?

Camp itu isinya ya yang lebih berbobot: makan, tidur, maen, makan, tidur, maen. Hehehe… ga… Kita total ada lima session (presented by Pak Nindyo en Pak William yang oke punya). Dua sessi game pun jadi tambahan hiburan en refreshing di dalemnya. Tempatnya emang romantis, ada cottage honeymoon-nya yang dipake dua pembicara itu, hayo… Pak Nindyo en Pak Will malah honeymoon ya… hehehe… (ampun pak).

Btw, eniwe, buswe, ke hawe ga pake ce-wei… Di camp banyak kelucuan, keanehan, kenarsisan, kegilaan, dan kemenjijikkan dari peserta2nya. Emang dasar pemuda GKI Pajajaran. Kalo ga memenuhi kelima norma itu bukan pemuda Pajajaran deh. Well, pikun ternyata juga jadi masalah buat aku: pisau cukur en’ foam cuci muka lupa dibawa. So, rasanya tidak nikmat tanpa kedua hal itu. Ah… merana.

Ke-narsis-an Dankuur ternyata tidak bisa disalurkan. Keanehan Dankuur yang terus muncul. Kameraku dipakai buat kebutuhan panitia. So ga’ bisa seenak sendirinya jeprat-jepret. Tapi ternyata masih bisa curi-curi kesempatan di hari terakhir. (Ntar ta’ posting segera fotonya).

Seperti biasa kalo camp pasti ga bisa tidur nyenyak. Malem pertama begitu menggoda (husy…). Ga bisa tidur pulas. Bangun tiap sepuluh menit or berapa ga tahu. Padahal jam enam harus saat teduh kelompok… Alhasil mata berdaya lima watt di hari kedua. Malem hari kedua yang lebih lumayan pulas. Capek banget sih.

Waktu mau pulang ternyata tetep feel missing something muncul. Ga enak banget ternyata berpisah… (namanya juga Dankuur!). Dan dengan menghela napas keras-en-kuat, aku berkata pada diriku sendiri, ‘Selamat datang kehidupan!’ Kesibukan lain sudah antre di depan, minta tanda-tanganku.

Hari ini, Sabtu, mustinya bisa nyante, weekend gitu. Tapi, resiko jadi guru: dapet jatah PIKET LIBURAN! Arrrggghhhh! Besok pun sepertinya tidak bisa bersante2 ria karena ada tugas di gereja. *SIGH* Senen? Selasa? Masih bakal sibuk karena dikasih deadline draft modul proyek buat cetakan sama temenku… hiks…

OK, mari belajar bersyukur sepanjang waktu…

GBU!

PS: Banyak berkat dari Camp Pemuda. Enak juga kerja bareng beberapa rekan yang nambah akrab. Glad to work with you guys!