Showing posts with label Kerja. Show all posts
Showing posts with label Kerja. Show all posts

Wednesday, January 6, 2010

Dan's writing a 'drama script'... :)

[For FB user, please click here...]

Happy X'mas and Happy New Year to you!

So, kemaren Desember (yang melelahkan, no comment, no protest, pls) sudah berlalu, en tahun baru langsung disambut Camp Guru (Camp deh, bukan Retreat seperti nama yg diberikan) langsung ada dalam jadwal saya. Dari retret tiga hari dua malam itu, ada banyak hal, en entah kenapa malah memberikan saya ide untuk menulis post ini... Enjoy it!


Teachers' Camp: Teachers Unleashed...

Disclaimer: Tulisan ini hanya untuk guyon, kalo ada yang sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi, ya emang begitulah yang terjadi... Kalo ada yang tersinggung mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi tulisan ini sudah melewati proses editting dan sensor yang telah melenyapkan segala bagian yang a-nonoh dan tidak pantas dikonsumsi oleh batita maupun sepuh di atas 80 tahun. Thanks.

SETTING:
Kaliurang, Wisma Kana, wisma yang cukup besar, dua tingkat, dan sekitarnya. Udara sejuk, kadang berawan mendung dan gerimis mengundang. Aula Wisma persegi panjang. Kamar peserta di Wisma, kecil, empat-kali-tiga (?) yang dipaksa diisi dobel bed (yang sebenernya satu bed itu diturunin dari spring bed yg laen, sehingga spring bed yg asli jadi atos) dan saking memaksanya pintu ga bisa dibuka selebar-lebarnya karena nabrak kasur.

KARAKTER:
1. Daniel (DK), cowok 24 tahun, paling muda dalem camp yang in fact bikin shock banyak orang karena ber-mutu (ber-muka tua), pendiem dan lebih banyak waktu sendirian buat ngupil tidur...


ACT 1, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, plus selasar depan kamar lantai 2. Pagi menjelang siang setelah perjalanan, dan unpacking barang-barang bawaan.

DK: (Agak ngantuk. Sudah ganti celana pendek. Memutuskan untuk turun ke aula, en ngecek keadaan Wisma Kana. Buka pintu kamar, dan sontak menangkap en membau sesuatu yang menyengat yang bikin dirinya males keluar kamar...)

Para Pak Guru: (Duduk dengan santai, mengobrol di selasar kamar. Ketawa. Ngobrol. NGEROKOK dengan santainya. Asap rokok jadi penghias pemandangan selasar.)

DK: (Tahan napas dengan tersiksa, berjalan menerobos asap, en berpikir bahwa inilah kesuksesan para GURU memberikan sesuatu yang layak di GUgu dan di tiRU dari mereka.)


ACT 2, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, habis mandi pagi.

DK: (Habis mandir, bersihin en rapiin kasur deket pintu.)

Pak Guru: Oi, selamat pagi... (dengan santainya berjalan mantap dari luar, menerobos masuk lewat [baca: menginjak-injak] kasur yang tadinya sudah rapi en bersih, ke kasurnya yang lebih tinggi, dan dengan indahnya meninggalkan cap kakinya yang masih basah dengan beberapa ornamen pasir.)

DK: (Melongo heran)


ACT 2, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Para peserta sedang Outbound mengelilingi kawasan di sekitar Wisma Kana. Kelompok Dankuur en Kelompok Hebat sedang bersantai-santai menunggu giliran di satu pos.

Bu Guru 1: Eh, ada uler. Ada uler. (Menunjuk ke bawah.)

Bu Guru 2: Ow, lempar ke Pak Guru itu. Yang ijo bajunya. Dia takut.

DK: (Senyum licik mau iseng. Pura-pura ngambil ulet pake tongkat, en ngelempar.) Ini ya, pak? Awas pak, uler! (Pak Guru berbaju ijo lari menjauh padahal posisi dirinya sendiri juga udah jauh dari kelompok saking merindingnya denger kata uler.

Pak Guru Laennya: Opo to? Oh, ming uler koyo ngene. (Menunduk, ambil uler pake tangan langsung.)

Guru-guru termasuk DK: (Lari ngacir liat si bapak ambil uler pake jari tangannya dan sekarang ketawa nakut-nakutin semuanya.)


ACT 2, SCENE 3
SEETING: Sore hari, Kamar 11.

DK: (Mau mandi, sudah siap dengan segala senjata perang untuk mandi. Melangkah masuk dengan mantapnya ke kamar mandi, dan sesaat terinfeksi HIV [Hasrat Ingin Vivis]. Membuka tutup toilet duduk, dan shock ada beberapa benda a-nonoh yang melayang dengan indahnya disana. Buru-buru pengin keluar en muntah...)


ACT 2, SCENE 4
SETTING: Siang hari, waktu session, peserta mengisi aula yang agak sempit en panas.

DK: (Mendengar Pak RC dengan seksama, en sesaat perhatian teralih ke satu guru yang duduk di depannya, en tiba-tiba berdiri en berjalan keluar. Tidak begitu acuh selanjutnya. Perhatian tertuju lagi ke guru yang tadi keluar sekarang masuk dengan sesuatu di tangannya. Mencoba kembali mendengarkan Pak RC.)

Bu Guru: (KREEEK... Membuka sesuatu, bungkusan.)

DK: (Mengamati guru yang sekarang sedang membuka bungkusan, yang ternyata bungkusan berlabel ceriping)

Bu Guru: (Melihat DK yang sekarang sedang mengamatinya. Tersenyum.) Mau? Biar nda ngantuk.

DK: (Geleng plus senyum. Berpikir bahwa boleh bawa sangu, en sesaat berpikir boleh mencoba sangu pop-mie dalem Sessi).


ACT 2, SCENE 5

SETTING: Aula, another session, guru-guru sudah mulai exhausted.

Pak RC: (Menyampaikan materi dengan semangat, dan seperti biasa bersenjatakan senyum en gurauan plus segala banyolan yang bisa bikin peserta ngguyu.) ... itu karena saya sadar siapa saya di depan Yesus ... (Terus nyampein materi. Mbanyol.) ... ya itu rahasia saya dengan Yesus...

Bu-Guru-yang-duduk-sebelah-DK: (Ngomong setengah bisik dengan kenceng ke DK.) Gayamu. Memang'e pernah ketemu Yesus po?

DK: (Shocked. Diem. Tampang luar senyum, tapi dalem otak ketawa ngakak dan sekaligus di waktu yang sama mikir keras banget...)


ACT 2, SCENE 6

SETTING: Malem hari, waktu Dedication Service.

DK: (Mengamati keadaan sekitar. Lampu temaram bikin mata DK tidak bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba kaget denger sesuatu yang unik.)

Seorang Bapak Tua yang Karena Kedudukannya Sepatutnya Dihormati dan Dihargai: (Dengan volume yang tidak begitu keras.) NGGROOOOOOKKKK...

DK: (Mengamati dengan keras, melihat si Bapak kepalanya terkulai ke belakang, kemudian tangannya bergerak-gerak kecil, mulutnya sesekali mbuka tutup kaya ikan mas koki. Berpikir bahwa Dedication Service juga efektif untuk waktu istirahat.)


ACT 2, SCENE 7
SETTING: Malem hari, habis Dedication Service.

Para Peserta: (Masih haru. Beberapa dengan mata basah karena air mata. Beberapa peserta kembali ke tempat duduk dari posisi duduk di lantainya.)

MC: Yah, bapak ibu, ada hari ini ada yang spesial untuk seorang rekan kita...

DK: (Sudah bisa menangkap apa yang akan terjadi, dan heran dengan yang terjadi 10-15 menit selanjutnya ketika semua haru biru en temaram suasana emosional en sentimentil dedication service itu berubah 180 derajat menjadi sorak-sorak dan guyonan karena perayaan ulang tahun seorang rekan guru. Berpikir dalam hati: Oh, begini toh habis Dedication Service... Hm... Beda budaya kali, ya...?)


ACT 3, SCENE 1
SETTING: Sessi di pagi hari. Para peserta dapet tugas untuk sharing personal Action Plan.

DK: (Barusan keluar ambil obat suplemen di kamar, balek lagi ke Aula. Ketemu Pak RC di depan pintu aula.)

Pak RC: Ayo, Dankuur! Kamu Bisa!

DK: (Senyum agak cengok.) Bisa apanya, Pak?

Pak RC: Ah, kamu itu potensial sekali tapi baru 30% potensi yang kamu kembangin.

DK: (Tambah cengok dan menyadari dengan sangat bahwa perkataan Pak RC bakal menghantui pikirannya bahkan sampe setelah camp sudah selesai.)


ACT 3, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Kebaktian Penutup.

Pak Eka: Jadi Bapak dan Ibu. Mahkota yang sudah Anda susun dari kertas lipat jadi lambang seperti mahkota yang dipercayakan untuk kita. Ada yang bilang ini seperti mahkota duri. Ada harga yang harus dibayar. Ini mahkota yang mengingatkan kita akan mahkota yang akan kita terima nanti kalau kita setia dengan panggilan tugas pelayanan kita. Dan untuk itu kita akan memakainya bersama setelah rekan-rekan perwakilan akan dipakaikan mahkotanya.

DK: (Merasa bahwa ada yang ga enak di dalem hati.)

Pak Eka: Dan sebagai perwakilan, kami undang dua guru masing-masing dari Magelang maupun Klaten. Yang paling tua dan yang paling muda.

DK: (Perasaan ga enaknya nyata. Celingak-celinguk sambil tetap diam.)

Pak Eka: Dari Magelang?

Pak Guru SMP: Tertua Bu Giarti, dan termuda ini, Pak Kris.

Pak Guru SMA: Bukan, Pak Dankuur.

Pak Guru SMP: Pak Kris tahun berapa?

Pak Kris: Delapan Empat.

Bu Guru SMA: Pak Dankuur delapan lima.

Pak Eka: Ya, Bu Giarti dan Pak Dankuur silakan maju.

DK: (Maju dengan senyum garing, menyadari banyak guru Klaten yang pastinya kaget dan meragukan mana yang termuda dan mana yang tertua dan mungkin terbalik.)


ACT 3, SCENE 3
SETTING: Siang hari. Habis kebaktian penutup. Aula sontak jadi sentimentil en emosional. Para guru saling jabat, peluk, dan menangis, apalagi lintas: Magelang-Klaten.

DK: (Jadi pengamat yang baik setelah memberi banyak salam, terutama ke guru-guru dari Klaten. Sekarang berpikir bahwa Dedication Service kalah jauh sentimentil dan emosional-nya daripada Farewell ini. Sementara banyak guru cewek yang masih sesenggukan nangis sambil peluk rekan-rekannya.)


ACT 3, SCENE 4

SETTING: (Di depan kamar lantai 1, para guru menikmati makan duren sambil menunggu waktu pulang ke Magelang.)

DK: Enyak-enyak-enyak (Sambil menikmati duren.)

Pak Guru Berkumis: (Habis menikmati satu buah, dan masih membawa satu bagian kulit durian di tangannya dengan dua buah lain di dalam cekungan kulit itu, berdiri dekat dengan tempat sampah. Dengan santainya membuang jauh biji durian ke tanah.)

DK: Pak, ini sampah! Pie to malah dibuang sembarangan ke sana!

Pak Guru Berkumis: (Tampang sok cengok.) Oh! Sapa, ya, yang buang sampah sembarangan? Hayo sapa?

DK: (Senyum sinis. Berpikir heran dan menemukan satu lagi alasan mengapa guru layak diguGU dan ditiRU.)

Monday, September 14, 2009

Daniel berkaca dari orang lain

Halo.

Ngaca jadi salah satu hobi saya, entah sekedar buat menikmati indahnya diri saya (iya, silakan mutah), or praktek berpose en senyum (latihan dulu), plus ngoreksi apa yg masih perlu dirapiin en dibersihin dari si 'saya' yang terjebak di dalam dunia kaca (kaya Alice aja). Eniwei, pokok'e dari berkaca, kita bisa melihat seperti apa diri kita, walo kata temen saya, berkaca tu bukan sebener'e kita, considering that our left becomes their right... :)

Btw, beberapa hari lalu diriku seperti biasa memulai hari2 kerja (baca: mengajar) di SMP dengan briefing pagi, yg diawali dg renungan plus sharing trus briefing. Kadang ada sharing yg menarik. Kadang ada yg menggugah minat. Kadang klise. Tapi diriku mencoba terus menyimak dengan baek, en memahami kenapa mereka berbicara seperti itu. Pernah sekali diriku agak shock en annoyed dengerin satu rekan yg nge-share pandangan dia dengan ST banget (Sok Tahu). View-nya dia salah. Ngawur. Diriku juga paling ga sreg kalo dengerin orang sok tahu.

Waktu bisa nge-judge kaya gitu, pagi itu, diriku langsung kaya ada yg nampar. 'Bukannya selama ini dirimu ya ST, ta, Dan?' one side of my brain whispered. Well, yes. Ternyata diriku nyadar gara2 kejadian pagi itu. Diriku ga suka liat or denger orang ST, tp kenyataan diriku masih sering ST. Kenapa ga diem aja kalo memang ga tahu. Kenapa ga denger aja kalo mm pendapat kita juga sama aja. Berkaca. Diriku diem, en belajar.

Diriku kadang sering bothered, terganggu liat rekan kerja yg males2an. Jatahnya bikin, en nyelesaiin kerjaan, tau kalo ada banyak pekerjaan numpuk, eh malah ngobrol2. Ini yg sering bikin jengkel. Tapi kadang melihat mereka bermalas2an kaya gitu, diriku jadi berefleksi. Kadang diriku juga suka menunda, en walo beres di akhir detik2 deadline, tapi kadang juga masih 'males'2an versinya saya: ngeNet, baca-baca hal yg nda berhubungan, nyantai2... Oke, pekerjaan emang selalu selesai, tapi menumpuk. Yg terakhir paling nda penak. Berkaca. Diriku merenung, en belajar.

Sering kali diriku melihat anak2 or bahkan orang dewasa yg merasa minder. Ga pede-an (en ini bukan berarti lawan katanya narsis). Mereka ngomong ga berani lihat lawan bicara. Ga berani pandang lawan bicara, nunduk. Ngomong sama si A, tapi bahasa tubuhnya keliatan banget nda nyaman en ga pengin ngomong sama si A, takut en anxious. Waduh. Diriku juga sering nemuin kalo lagi ada yg ngomong, tapi ga dilihat, saya agak males ngobrol jadinya. Loh, kayanya ini diriku yg dulu, or kadang masih yg sekarang. Walo saya sudah belajar banyak untuk tidak usah malu en grogi, tapi apa saya sudah 'memperhatikan' lawan bicara saya, ya? Berkaca. Diriku belajar dari mereka.

Talk behind someone's back. Nggrundeli orang. Ngomongin orang. Paling males kalo diajak begituan; paling menghindari. Kadang kalo ada rekan kerja yg barusan ada masalah, terus beraninya bisik2 cerita ke orang laen diriku agak males juga. Kemaren ada kasus yg cukup besar, en ada satu rekan yg cuma bisa ngomong sana-ngomong sini, begini dan begitu, tapi ga berani konfront langsung. Memang keliatannya dia coba cari solusi, or malah coba cari dukungan. Hm. Diriku menghindar, or kalo diajak ngomong ya cuman dengerin, simpen dulu, dan tanggepi dengan, 'Oh...', 'Iya?', or 'Hmm... Gimana ya?'. Tapi saya terdiam. Kadang walo sudah sering mencoba menghindar gosip, or grundelan, diriku juga satu, dua, tiga, dan sekian kali mencoba cari celah bocor buat nggosip. Duh! Berkaca. Diriku ga mau seperti mereka. Saya belajar.

Satu hal yg paling bikin diriku, plus adekku, ga begitu nge-respect Papa kami (tolong jgn disalahartikan) adalah kebiasan smoking-nya dia yg buruk. It doesn't mean that I hate smokers. No. Saya menghormati smokers yg mencoba cari smoking-area, ga ganggu yg laen yg non-smokers. Tapi papa saya ngeyel. Meski kami sudah 'mengucilkan' dia, so kalo dia ngerokok ga boleh deket2 en biasanya di ruang tamu, tapi akhir2 ini baunya makin strong en nyebar kesana-sini. Kebiasaan yg dianggep memuaskan dirinya, bikin orang laen jengkel. Ini ga baek. Tapi, bukannya saya kadang begitu juga? Hm. Saya masih juga ada kebiasan buruk yg mungkin bikin orang laen jengkel. Ego saya sendiri. Repot dirasain orang laen. Hm. Berkaca. Diriku mikir dan belajar.

Berkaca dari orang laen bukan cuma melihat dari yg jelek2 so kita nda mau ngikutin mereka. Melihat juga yg baek2 yg kemudian kita bisa tiru. Melihat apa yg bisa dipelajari dan dicontoh dari model yg mereka pantulkan. Hm. Ini yg menantang. Juga memandang Sosok yg selalu kasih model, plus inspirasi, yg nda pernah habis en selalu layak buat ditiru. Sebagai guru pun diriku sering mencoba melihat, apa saya sudah jadi kaca yg mantulin karakter2 yg pantas dilihat, or hal2 yg layak dipandang sama anak2, or rekan2 yg laen ya? Apa saya sudah jadi teladan yg baek ya? Hm. Belajar.

Woke, tenkyu sudah membaca sejauh ini. Semoga kita bisa belajar bersama dan terus berkaca dalam hidup ini. Diriku mau ngaca dulu. Hehe.

GBU!

NB: (1) Diriku lagi pengin banget ngikutin komik Naruto, tapi ga sebegitu ketagihannya, (2) Ada yg bisa ngajarin maen2 bikin 3D? en (3) I am fed up with downloading so many documents and files from the Net, but why I can't stop hunting for any downloadable materials? Duh!

Wednesday, August 19, 2009

Daniel berpikir bahwa dirinya lagi kejepit...

Halo.

Saya terjepit. Bukan diantara teman2 yg gembrot. Bukan diantara reruntuhan bangunan. Bukan juga diantara dua kasur di rumah (meski dulu hobi saya juga menjepitkan diri diantara dua kasur, dan ga jelas tujuannya apa tapi enak aja ada di dalem sana...).

Saya terjepit di dua situasi. Antara memilih untuk membela atau memasang tembok tanpa-kompromi. Antara percaya atau anggap-saja-sebagai-angin-lalu. Antara kepedulian atau cuek sama sekali tidak acuh. Antara idealis dengan praktis. Diriku tetep pegang kata hati, en bekerja sesuai aturan, walo ga berarti untuk tidak peduli dan menjadi kaku. Diriku bingung. Sementara di dalem hati masih perlu dikorek dan dibersihkan lebih dalam lagi (dan diisi lebih penuh lagi), di luar tantangan dan tuntutan semakin banyak. Kadang kepala ini seperti ricuh, ribut, dan rame ada perang: ada beberapa sisi dari Daniel yang bertarung. Sejauh ini, satu yang menang (walo selalu berdarah-darah sampe lelah) adalah: kerendahan hati. Selalu satu makhluk ini berteriak, 'DIAM! DENGAR! DAN JANGAN JADI SI SOK TAHU!'

Eniwei, diriku barusan membaca dua paragraph pembuka tadi (plus satu kata menyapa), dan merinding sendiri en heran, kenapa en apa yang sebener'nya sudah terjadi. Mungkin temen2 juga pada heran, ini sebener'nya si Dankuur lagi kumat ayan, kumat gila, or kumat sok-filosofis-nya... Well, diriku sengaja tidak menghapus dua paragraf di atas, biar jadi bukti satu tulisan yg keluar dari otak yg mungkin kelewat besar ini.

Oke, so, diriku sudah lama tidak nge-post, dan menyadari makin males; kenapa? Banyak gawean (yg menumpuk, tapi belom sampe deadline kok, bahkan beberapa tanpa deadline, nikmatnya...). Dan ditengah semua gawean itu, diriku selalu menyempatkan diri buat dolan bareng temen2, dan hobi kami akhir2 ini adalah Angkringan a.k.a Kucingan. Iya, kami nyewa pussy cat... GA! Kami sering nongkrong malem2 menikmati wedang teh jahe or susu jahe, sambil menikmati dinginnya udara magelang di alun2 kota. So stylish en keren banget (mutahlah, dan heranlah... yg masih belom jelas angkringan itu apa, bayangkan satu kafe yang keren en diisi banyak artis, mhwahwahwahwa).

Eniwei selanjutnya, diriku kemaren barusan digitally edit satu foto narsisku. Gila, en bayangin (lucu plus narsis banget kenyataan ini). Pagi hari minggu, diriku berangkat ke gereja, buat menjalankan tugas jaga perpus shift pagi, so tidak ada kerjaan karena jemaat juga masih pada ibadah, en karena diriku ada inspirasi (baca: contekan ide) dari foto orang laen, so, diriku dengan narsisnya memotret pake kamera hape di dalem perpus gereja, en straight away ngedit tu foto, alhasil jadilah satu foto ini di jam 10 siang. Langsung deh, diriku upload tuh foto jadi propil poto di pesbuk. Wakakakaka. Bangga banget, walo menyadari ternyata dah lama ga ngedit foto efeknya gedhe juga, en tetep ae kudhu banyak belajar lagi. Thanks buat yg sudah kasih compliment, hehehe...

Oke, diriku pengin bersyukur buat beberapa (or banyak hal yg sudah terjadi selama ini), Tuhan, tolong denger, ya...
  • Buat anak2 SMAKI yg seperti biasa selalu buat sensasi di awal tahun ajaran baru, en tahun ini diriku dapet satu anak yg jadi korban 'Ihiiii, dicari Pak Dankuur,' berinisial C. Hahaha. Bangga.
  • Buat anak2 KTB yg malah jadi pemacu kerajinan kam-bing-mu yang satu ini. Sudah tiga minggu bolong, en kalo ketemu mereka sering ditanya, 'Ayo, Koh, KTB lagi... Kapan mulai?' Semangat KTB IMMANUEL!
  • Buat kerajinan bikin en revisi materi tahun lalu, plus kerajinan untuk mendisiplinkan kerohanian saya.
  • Buat keluarga yg makin lucu (en aneh) plus terbuka en ramah en akrab... Walo kadang papa masih sering marah, nico masih sering mutungan, dan mama masih sering bawel.
  • Buat SMAKI sendiri yang masih jadi wadah pembentukan karakter dan pemerkaya pengalaman.
  • Buat kesehatan. Gila yang satu ini saya sendiri juga heran. Di tengah batuk, pilek, dan flu yg menyerang kebanyakan temen, sampe sekarang, Praise the Lord, saya baik2 saja en ga kena apa2, cuman kemaren pusying gara2 digebyur (baca: dikerjain) anak2 waktu lomba di skul... Padahal sudah jadi rahasia umum kalo Dankur itu lemah fisik en ga pernah olah raga... Hahahaha...
  • Yang penting, buat sahabat-sahabat yg mengerti en mendukung dalam setiap keadaan. Meski kadang diriku sendiri masih belom bisa cerita semuanya, en menyadari belom bisa kasih banyak buat sahabat, tapi seneng kalo inget mereka, inget ada teman untuk berjuang bersama di dunia ini...
  • And above all, buat Tuhan yg makin membentuk dan terus menyertai saya...
Lagi2, diriku sudah bisa menebak pertanyaan Anda sekalian, 'Sebener'e ini dankur lagi ngomongin apa to.' Inilah resiko orang yg punya otak besar, en males buat brainstorming dulu, terus outlining ideas, organizing, proof-reading, en editing his writing (padahal notabene diriku adalah ex-asdos writing yang sudah ngublek-uthek masalah seperti ini both in Writing 1 and Writing 2)... Wakakakakakak...

GBU all, guys!

PS: Tambah satu diriku kejepit: antara sadar dengan ngayal dan ngaco. Hahahahaha...

Monday, June 15, 2009

Daniel berefleksi tentang dirinya sebagai guru...

[As usual, FB-users, please, please, click here...]

Hai.

Hari2 ini makin kerasa bahwa diriku makin boros, en tidak ada penambahan income yg signifikan buat menunjang hobi yg mulia: nongkrong en makan2 or minum2 bareng temen (baca: ngopi, nyoklat) sambil menghilangkan kepenatan hidup. Dalem dompet ada ratusan ribu en lima-puluhan ribu, tapi itu uang punya perpus gereja en uang laennya. Dompet tetep tebel karena nota2, bukannya uang. Keliatannya diriku harus mengontrol diri dengan mengurangi dolan2 yang memboroskan, dan kadang tidak menyehatkan (kemaren jumat sempet mengeluarkan zat ekskresi yg tidak semestinya secair itu gara2 minum jahe-susu malem2 sambil duduk di bumi yg adem en udara sekitar adem, meski juga itu dibayarin... huhuhu...).

Oke, so the end of the days (halah) is getting nearer and nearer... Huhuhu. Anehnya waktu kemaren menyebut2 tentang guru2 yg mau cao dari tempat kerja sekarang, diriku tidak disebut, cuman dua guru yg laen, padahal diriku udah lapor sama pak kepsek. Sudah hampir setahun lebih, en diriku merasakan ada banyak perubahan, entah yg baek entah yg buruk...

Inget waktu dulu pertama masuk, idealisnya tinggi banget: kalo ada murid yg ga ngumpulin tugas ontime, diriku langsung ngamuk, marah2. Masih inget jelas gimana dulu waktu hari kedua masuk kelas XI IPS, diriku langsung curiga ama anak yg ga ngumpulin padahal butuh nyalin tugasnya itu. Beberapa kali juga jadi so fiery, en bentak2 anak di dalem kelas, karena entah mereka rame waktu diriku berbicara or bagaimana... Huhuhu. Those dark times.

Bicara tentang idealis, diriku juga masih inget banget bagaimana rancangan pembelajaran di awal tahun dulu. Masih dibakar api semangat critical pedagogy-nya Mr. Josh, diriku mencoba menganalisa kebutuhan en minat anak... Kan katanya kalo emang yg disampekan itu sesuai dg minat anak, itu bakal memotivasi mereka lebih lagi. But, kenyataannya beda, karena tidak semua anak juga peduli dengan model macem itu. Satu-dua anak pilih mode 'passive' di kelas. Mbahas tentang animal ga mudheng, dikasi topik politik jadi muntah darah, diskusi teknologi kuper, sharing tentang budaya juga ga tertarik, mbahas tentang sex malah jadi patung hidup. Dikasi film tidur, listening to song juga tidur, suruh nulis essay tidur, diskusi kelompok tidur, eh, test malah mbolos... Tobat, nak...

Seiring waktu berjalan, diriku banyak berubah. Kalo dulu masih nuntut anak2 pada pinter, intelligent en brilliant, sekarang liat anak sudah kerja keras, ngumpulin essay juga sudah bersyukur banget. Seneng liat beberapa anak, yg sepertinya diriku honor en respect them so much, yg emang mau kerja keras, en berusaha memperbaiki hidup mereka. Ada beberapa yg bikin sedih juga sih, honestly, karena tidak menunjukkan perubahan. Yah, diriku selalu berusaha memotivasi, menghilangkan jurus 'sengak' en 'sadis' plus 'sarkasme', tapi coba membujuk mereka untuk berubah rajin. But, it didn't always work like that. Beberapa emang melihat bahwa kerajinan itu tidak penting. Ya sudah, let me lift them up to God.

Dengan merebaknya fesbuk mulai semester kedua, kayanya rutinitas kerja di sma ini agak berubah. Meski pernah kecanduan puoooool, sekarang sudah berhasil mengontrol, walo kadang kalo ada hari kosong yg emang ga ngajar tetep aja memanfaatkannya dengan ngeNet seharian, instead of preparing for the next day's lesson...

Akhir2 ini (or sebener'e dari dulu), diriku melihat anak2 yg kadang ga bisa terima dengan kelakuan guru yg semena-mena, dan dirasa kurang bertanggung jawab. Kadang diriku juga iri, ketika melihat ada guru yg 'tidak bertanggung jawab'. Ketika diriku mencoba mendisiplinkan diri, dan being a dilligent teacher, eh, melihat kenyataan ada satu-dua guru yang malah tetep males2an, diriku juga agak kendor en 'iri'... Kadang ga adil: dibayar sama, tapi kerjanya diriku 'lebih' keras 'sedikit'. Ketika diriku, en beberapa guru yg laen, emang mencoba 'mencerdaskan kehidupan bangsa [yg berusaha dibangun sendiri oleh para guru]', eh ada guru yg sekenanya ngajar, en menyampaikan apa yg nda relevan, or apa yg nda penting, or malah tidak menyampaikan apa-apa.

Ketika diriku hari ini nge-shout-out di fesbuk: jadi guru supaya keliatan pinter, or mau membuat murid mudheng, diriku juga mencoba merefleksi diri sendiri. Mana yg lebih membanggakan en menyenangkan: dibilang 'Wah Pak Dankuur hebat!' or 'Thanks pak, saya sudah jelas dengan penjelasannya bapak tadi...' I prefer the second. Ketika liat anak2 mudheng, en bisa lompat dari level-nya yg sebelumnya, diriku bisa senyum, en ngasih nilai plus.

Diriku pernah jadi murid, dan sering mengamati dengan baik bagaimana guru yg baik itu ngajar, bagaimana guru yg nda baek itu 'cuma ngajar'. Beberapa guru jadi rekan kerja sekarang, en kadang diriku jadi 'tidak sehormat' dulu, karena sekarang sudah jadi co-worker (beberapa temen bilang, 'Dankuur ga sopan, masa sama eks-guru berani nyuruh2... Hohoho). Selama proses tiga tahun di SMP, diriku cuman bisa mempertahankan kerajinan en kemandirian. Tiga tahun proses di SMA, aku berjuang cari jati diri, en mengasah lagi kekritisan. Tiga setengah tahun di Universitas, diriku bener2 bersyukur, karena bisa share ilmu dgn yang laen... Inti pendidikan sih sebenarnya bukan pada output nilai yg kita dapet nantinya (meski ada kebanggaan tersendiri ketika diriku nilai matematik lebih tinggi daripada temen2 yg skul di negri, or diriku yg dapet IP segitu...), tapi lebih pada gimana kita bisa menemukan 'enjoyment en fun' during the whole process of learning. Bagaimana diriku bisa begitu bangga en bahagianya ketika bisa bilang... 'Ooohhh... ternyata gini toh maksudnya; aku mudheng sekarang...'. Enjoyment en fun ini yg sebenernya pengin ta' share-kan ke anak2...

Oh, ya, diriku pengin nyebarin lembar evaluasi buat anak2, tapi kok belom kesampean. Moga2 entah besok, or lusa, bisa diriku siapin... Kalo ada murid yg mbaca, evaluasi di notes ini ajah.

Well, till then, GB, en met berjuang buat anak2ku...

Friday, May 29, 2009

Sembilan poin di weekend ini...

Hai.

Aku bingung mau nulis apa, tapi kok rasane pengin nulis sesuatu ya. Oh! Got it!

Pertama, my wrist masih sakit, gara2 minggu kemaren maen bom2 car di salatiga, tabrakan (sama dua temen dari depan, jadi triple crash), en ini tangan langsung ketekuk... huhuhu. Padahal minggu senen cuman sakit dikit, eh sekarang jadi linu lagi. Semalem udah dipijet dikit sama papa.

Kedua, hari ini diriku bakal pergi ke temanggung, ngehadiri pernikahan temenku, Dan BS, yg surprisingly en suddenly dateng kemaren sabtu, kemudian ngomando diriku jadi koordinator buat ngumpulin anak2 dateng ke nikahannya dia yg notabene di temanggung, sementara kita di magelang. But, berhasil akhirnya saya mengumpulkan tujuh orang buat pergi tar sore.

Ketiga, beberapa jam lalu, diriku di-sms temen angkatan kampus: ada yg meninggal lagi, Devi. Kecelakaan. Well, semoga keluarganya dikasih kekuatan sama Tuhan. Diriku langsung mem-forward ke temen2 'kelompok'-ku, en seperti yg sudah saya harapkan, mereka kompak bales dengan pertanyaan yg mirip2: 'Devi yg mana.' Oke, dengan sabar diriku menjelaskan: tomboy, black, short-hair, thin... (setelah diriku sendiri mendapatkan sms balesan dari pertanyaan yang sama yg ta tanyain ke temen yg sms aku sebelumnya, hahaha.) Well, waktu inget Devi yg mana, kita cuman kerja kelompok bareng sekali, di kelas prose... Duh, jadi inget kelas prose taught by Victor. Miss that class so much...

Keempat, fenomena FB makin menggila en parah. Message FB dimanfaatin buat chatting, en satu thread inbox sudah mencapai 180, mungkin sekarang sudah tambah lagi... Hahaha. Belom lagi satu photoku yg malah komentarnya dibuat chatting... Haia! Tanggung jawab koh Tanto, mentang2 dirimu memakai BB!!! (Jadi pengin beli BB [Bedak Badan] Haha.)

Kelima, diriku sudah menyelesaikan sekian tugas yg makin dikejar deadline... Haha. Procrastinator sejati. Tapi yg penting beres, en ga bikin orang laen susah (kecuali mungkin satu si Roy dudut... :p Ampun Roy). Soal UUK Mandarin (aku jadi pengetik, en pengedit, soal'e program'e sing tau aku tok... Huhuhu...) sudah beres. Soal Inggris masih kurang. Beberapa gawean desain udah ta selesain. Yg masih: desain logo en desain poster.... Yah, sayang voluntarily.

Keenam, kemaren diriku ngeLesi terakhir (yg sah), so minggu2 ke depan bakal jadi minggu2 sengsara, menyedihkan, melarat, dan memprihatinkan. No more additional income. Kantong menipis sementara hasrat ngopi-en-hang-out tetep kudhu tersalurkan. But, praise God. Kemaren malem tiba2 ditawarin buat ngajar TOEFL anak yg mw masuk UGM. Moga2 jadi... Hooray! Plus, Evan-ndut, si anak SD yg nakal itu (peace Van...) tetep masih pengin di-les-in. Persiapan buat SMP. Bagus2 Evan. Salut. Sebagai hadiahnya, let me post your picture here... Hahaha. Peace Van!
Ketujuh, kemaren lagi, diriku menemukan seseorang yg dengan tidak sopan memasang fotoku (yg imut, cakep, manis, dan menggoda wanita-serta-pria-plus-anjing-tetangga) setelah dia crop dari aselinya. Kemudian dikomentari dengan tidak senonoh oleh dia. Woi! Sadar!!! Bayar tuh royalti buat aku! Nda sopan banget masang dengan semena-mena. Betewe, diriku baru nyadar kalo Evan pastinya bakal memprotes tindakanku pasang fotonya dia dengan tidak minta ijin... Haha Van, mesti dirimu bahagia melihat photo ini disini... Hahaha.

Kedelapan, diriku heran kenapa diriku pake ordinal number buat ngurutin poin2, en sekarang sudah sampe kedelapan... Haha. Kenapa ya? Writing style-ku ya?

Kesembilan, semalem ada lagi yg ngomong bahwa diriku en adekku look so kompak. What? Kok bisa? Beda gini kok. Kokohnya cakep, adeknya, well... lebih kurang cakep. Kokoh'e pinter, adekke malah bisa masuk tim olympiade matematik. Ya oloh. Kokoh'e narsis, adek'e puol narsis'e. Kokoh'e kreatip, adek'e, well, kreatip sekarep'e dewe... Kok bisa ya? Emang kompak toh kita? Padahal ne dirumah kita saling tendang, saling diam, tapi ne malam tiba, intim'e minta ampyun, tidur sekamar (ya iya lah, wong satu kamar tok...)... dan saling... ummm... (hiiiihhh... no!).

Kesembilan, idenya habis, so let me stop here... Diriku masih menunggu hari liburan, biar bisa maen ke jogja (baca: hunting buku buat perpustakaan plus nonton plus hang-out [dimana????]).

GB

Tuesday, May 26, 2009

Ga Ada Noda Ga Belajar

[Fesbuk user, please clik HERE!]

Hi.

Akhir2 ini diriku mencoba mengikuti satu dunia yg dari dulu diriku dudul banget (plus sengaja tutup telinga): politik. Pengin rasane setidaknya ngerti juga pie toh capres-cawapres berbicara, en sebener'e sudah dari kemaren2 waktu kampanye caleg sih, tapi ga sebegitunya ngebet ngikutin tiap hari. But at least, sekarang kalo diajak ngobrol ttg capres-cawapres, diriku agak nyantol. Belajar dr kesalahan diriku dalem pemilu lima taun lalu. Hehehe.

Btw, diriku makin mendekati bulan2 neraka, karena sebulan lagi bakal jadi the Dark Month for me. Bulan2 dimana murid2 pada libur, yg berarti les2an libur, yg berarti tambahan penghasilan ga ada, yg berarti ga bisa hang-out sering2... Huhuhu. Diriku emang sudah menyiapkan tabungan, tapi tetep ae kudu ada bbrp pengeluaran rutin yg kudu dibayar, plus beberapa acara 'dolan2 besar' yg mau nda mau kudhu ikut... Weleh.

Well, eniwei, diriku makin mendekat dg bulan2 gelap itu, makin mendekat jg dengan akhir diriku mengajar di tempat sekarang. Betewe, kalo beberapa hari lalu pada ngikutin status di FB-ku, mesti pada merhatiin bahwa diriku rajin update shoutout ttg kejadian konyol di dalem kelas, selagi aku ngajar. Kenapa?

Beberapa liat, en ada yg komen jelek (Hayo! Ngaku!) en ngejudge bhw murid2e mungkin yg agak 'low' (eufemisme dari dudul, goblok, and those harsh words). Ga! No way! Murid2ku spesial!!! Ini hanya buat lucu2an aja, en itung2 refreshing dalem kelas. Banyak kejadian lucu, yg pengin juga ta sebarin ke orang laen, en biar mereka juga inget masa2 indah di bangku sekolah... (weisss). En ini bukan nunjukin bahwa mereka itu ga bisa or ga mampu or ada di level yg rendah. NO!

Ada yg bilang bahwa belajar itu dari kesalahan, and I 100% agree with that. Moreover, diriku sebagai seorang melankolik yg perfeksionis, paling ga bisa ngelupain kesalahan diri sendiri which I often see it as a very humiliating thing. I learn from it. Aku belajar buat memperbaiki diriku. Plus lagi, ada yg bilang bahwa kejadian2 memorable, yg cuma satu-dua-detik tp bisa membekas di hati kita, itu yg bakal kita inget. Entah itu sedih, aneh, memalukan, mengecewakan, apalagi kalo bisa kita buat lucu. Nah, itu yg selama ini pengin selalu aku share ke anak2ku. Coba deh liat:
  1. Si E (kaya'nya ini bakal diketahui banyak anak di XI IPA) yg dengan medhoknya pronunce 'nevertheless' sebagai never-teles (basah, Javanese), en langsung bikin sekelas ketawa ngakak, sampe sekarang masih inget bahwa nevertheless shows contrast.
  2. Terus si X yg emang kaga' tahu ttg full stop, waktu itu I dictated some sentences, en it came when I say 'full stop' and he wrote the words! Sekarang jadi tahu apa itu full stop (walo kadang baca ini juga mikir ulang, itu anak dulu sekolah dimana...).
  3. Diriku sendiri, yg emang sekarang bisa pake frasa 'freak out' setelah emang bener2 freaked out gara2 ngajar seseorang di kursusan dulu yg luar biasa freaked me out and ended with me yelling at the teachers' longue, 'She freaked me out!' :) (guys from XI IPA, I've told you this story, right?).
Kayanya masih banyak, tapi diriku lupa deh... Nah, ini malah jadi kepikiran buat blog baru yg isinya hal2 lucu, tapi kita bisa belajar en saling menghibur... Loh? Ah, buat ah... Hahaha. Moga2 tidak tertelantarkan.

Jadi, belajar tu memang kadang butuh noda. Tapi jangan sampe kebanyakan noda, terus ga bisa ilang. Kalo noda-nya dari kue tart sih gpp, bisa dijilatin... Hehehe. Kalo noda telor, amit2. Mutah.

Betewe, bicara tentang fesbuk lagi, tampaknya beberapa orang mulai ati2 kalo ngomen di wallku, tentang aku, or tentang notes-ku. Wakaka. Gara2 notes terakhir tentang fesbuk-geek. Weleh. Padahal diriku juga biasa2 ajah, en sekarang sudah menggila lagi. Tapi kayane ini cuman bertahan selama beberapa hari deh, or emang ada beberapa yg tetep ae tidak membaca yo? Haha.

OK, diriku mo bikin soal tes, karena minggu depan dah mulai tes akhir. En, ini soal tes masih 30% jadi, huhuhu... Gara2 ini dan itu. Payah.

GB

NB: Buat yg mo nge-haramin FB, jujur aja bilang kalo emang belom bisa pake FB, sini ta' ajarin, gratis wes...

Monday, March 16, 2009

Why, God? Why?

Halo.

Hari-hariku tambah was-was, dan wus-wus. Meski stress, but first of all jerawat ga begitu meradang dibandingin waktu dulu stress... (Kaya gini ga meradang? Lah yang meradang njuk kaya apa?) Hehehe. Ga penting.

Well, betewe, diriku kemaren minggu mungkin dibilang hari paling sok sibuk. Pagi bangun jm 5.15, langsung mandi en berangkat ke gereja. Kita (baca: PS Gloria) mo berangkat ke GKJ Secang buat ngisi nyanyi disana. Ga ada yg spesial selaen lagu terakhir yg sukses aku berantakin gara2 beda cara nyanyiin sama jemaat... (dan sampe sekarang, diriku masih sering bersenandung tuh lagu: 'Sampai bertemu, bertemuuuuuuuu....'). Pulang langsung di drop di Wisma Sejahtera buat ngikutin seminar bareng guru2 yg laen. Well. Ini dia yg spesial.

Kira2 7 jam (dari jm10 - jm5) diriku en temen2 di'cekok'in materi yg super-duper inspiring and mind-provoking tenan sama Pdr. dr. Robby Chandra. Jadi ceritanya kemaren si pak Robby itu dateng buat menceramahi guru2 tentang visi-en-misi en segala sesuatu ttg jadi guru, plus memperbaiki sistem kerja di YPKI yg selama ini baru 50% well-done. Weleh. Sessi pertama sih kami semua tertegun dengan begitu terpesona-nya (pie toh maksud'e). Pak Robby sukses ngobrak-abrik pikiranku selama ini. Tapi di satu sisi otakku, Danny's Ego masih terus mbisikin, 'Ah, dia kan motivator, ya jelas dirimu bakal terbakar hari ini, but tunggu aja seminggu lagi bakal balik seperti biasa.' Selama ceramah itu, diriku cuman bisa mikir-mikir-renungin-mikir-mikir-en-setengah-tidur. Sessi dua emang agak ngantuk karena panas (listrik dari PLN mati, so AC mati semua).

Diriku terus bertanya, 'Why, God? Why?' Di dalem otak ini terus teriak2 kaya orang gila. Kaya orang yang belom makan setengah tahun, sudah jadi setengah mayit en tereak2: 'Turunin harga BBM!' (emang ga' nyambung). Pertanyaannya: kenapa diriku dikasih otak yg begitu hebatnya buat mikir en merenung keras, sementara aku yakin yg laen pasti juga ga sebegitunya memeras otaknya buat ngikutin tuh ceramah.

Sambil mendengar, en sambil ngutak-atik laptop, diriku terus merefleksikan diri. Kenapa Tuhan kasih sifat kaya gini (I'm not ready to tell you what characteristic of mine bothers me so much, but I promise later when the time has come, I'll tell you all... I just need time to think, to ponder, and to sleep-after-bathing. The last is indeed the best way to wash away your worry.) Eniwei, diriku terus aja bertanya-en-bertanya. En satu protes yg sama tetep keluar: Anda semua bisa bahagia karena tidak ada tuntutan yg sama seperti yg saya rasakan. Justru tekanan ketika aku decide something bukan dari something itu sendiri tapi dari orang2 luar yg lebih banyak protes and play god. Mereka berani mastiin bahwa ini-or-itu ga baek. Mereka bisa yakin kalo ini-dan-itu bisa bikin masa depan diriku lebih baek. Diriku cuman bisa ngucap 'ya' or 'ok' supaya mereka diem en berhenti cuap2.

Kadang diriku masih memikirkan motivasi awalku buat bekerja en buat hidup. Diriku tetap yakin en bersyukur punya keluarga yg bisa terima diriku apa adanya en ga nuntut banyak. Kenapa justru orang laen yg nuntut banyak. Because they sometimes believe that I can. Yet, they are not me! And I am the one who knows myself better, or at least knows more about myself. I am the one who will experience everything that they say would be fine and ok. I am the one who would struggle to face the reality and keep trying to be thankful to the thing that they once said that it was bad and not ok. I am who I am! Why, God, why?

Diriku pulang dengan ketidakpuasan dari seminar itu, selain ditambah ketidakpuasan lainnya karena diriku belom sempet nyampein satu hal ke Pak Robby tentang keadaan gereja en YPKI yg dari dulu aku protes. Well, tapi eniwei, malem itu diriku relieved: aku latihan vocal group; at least this was fun.

Betewe, let's go flashback. Sabtu malem: aku makan bareng temen, meski sebener'e ga makan, tapi cuman nemenin makan. En malem itu, diriku cuman mengingat dua orang temen (memang yg satu belom berani aku bilang sahabat or temen deket, tapi aku bersyukur akhir2 ini sering nemenin aku dolan en jadi penghilang stress dengan cara yang tidak-tidak... wooooo.... becanda). Yang satu, malem itu, meski agak keliatan ga serius, manggil en ngeluh,

Si-Anu: 'Dankuur.... (pake gaya manja en melet2in lidah) Meong...' Loh? Ga. Becanda. '
Si-Anu: 'Dankuur.... aku pengin curhat.'
Diriku: (stupidly and spontaneously) 'Ah. Gombal. Aneh2 wae.'

Malem itu diriku pulang sambil mikir (lagi-lagi mikir... Oh, otak, berhentilah berpikir). Diriku sudah menutup diri. Padahal diriku bersyukur ternyata dia sudah mulai percaya. Mau curhat. Tapi kenapa? Kenapa malah aku tolak? Stupid.

Betewe, temenku yg satunya lagi kemarennya sms. Awalnya memang nanyain masalah gereja, tapi diakhiri dengan 'Btw, ge apa?' Sudah jarang ada orang yg nanya kaya gini ke aku. Langka banget. My friendship-radar automatically works. Mesti nih anak pengin curhat. En diriku langsung bilang, 'Mesti ada masalah toh? Kenapa?' Dia bilang diriku ge-er, en mastiin kalo ga ada masalah. Tapi, ternyata hari minggu malem itu waktu kita makan rame2 dia ngaku kalo memang radarku bener. (Ini bener ga ya pendengaranku, jangan2 diriku emang yg salah. Kalo dirimu merasa membaca, sms ya... Hehehe.) Diriku nggonduk.

Well. At least, aku bersyukur minggu malem itu, punya dua temen yg mau percaya en bisa saling ngehibur kalo kita sama2 susah. Thank, guys.

Yah, demikianlah sekelumit pendek kisah panjang (Edan toh, bahasane. Mencerminkan orang yg nulis. Inilah yg namanya idiosincratic language. Panganan opo kuwi?). Btw, lastly, diriku masih punya waktu dua minggu untuk kasih jawaban final ke SDH Cikarang. En posisi saat ini 60% untuk nerima. Please pray for me.

GB.


NB: Hari ini aku en guru2 berhasil dengan efektif menggunakan NetSupport, program buat ngontrol network di lab komputer. En, diriku berhasil membuka kebenaran. Dulu diriku difitnah buka situs porno dari kantor guru waktu masih kerja di SMPKI sama seseorang. Nah, diriku waktu itu malah mbalik mergokin dia nyimpen komik2 porno di foldernya. Hari ini, kami menyaksikan dengan jelas bagaimana dia melakukan semuanya itu dari komputer di ruang guru, sementara dia membuka hal-hal-yang-tidak-tidak dari lab komputer dengan santainya. Mhwahwahwahwahwahwa (tawa superpuas). Kasian deh lo...

Wednesday, March 4, 2009

Interview di TN: Robot, Ponari, Telanjang Massal, 7-jam interview

Halo.

Diriku kembali pada rutinitas mengajar (dan nge-Net) di SMAKI sekarang, setelah kemaren capek 3 hari di TN. 3 hari setiap pagi berangkat jam 6.30, pulang hampir jam 4 sore. En 3 hari juga dipenuhi rasa nda' enak. Entah kenapa. Dulunya mimpi ngajar di TN. Tapi setelah tahu seluk beluknya ternyata ga jadi begitu pengin banget.

Yang jelas, kesan pertama liat anak2 TN, dari dulu sampe sekarang adalah satu kata: Robot. Mereka kaya udah diprogram buat kasih hormat kalo ketemu 'atasan' ato orang asing yg dianggap 'atasan'. Meski kita yg waktu itu nggerombol ga ngeliatin mereka, anak2 kasih hormat tapi TANPA melihat diri kami. Lah, terus apa itu beneran hormat? Duh. Kaya sudah ada sensor tuh di atas kepala. Jadi kalo ada sinyal guru or tamu mendekat, langsung program hormat dijalankan.

Well, hari pertama kita seharusnya tes akademik en tes Mental Ideologi. Jadi tes MI tuh buat liat seberapa besar kita tahu soal Indonesia dan pengabdian kita. Well, lah Pancasila en Kewarganegaraanku aja di kuliah dapet jelek (en tuh yang ngurangin IP-ku, huhuhu), gimana bisa mengerjakan tuh soal yg kudu menjelaskan bagaimana kita cinta tanah air (kalo cuman cium tanah diriku bisa). Malah ada satu soal yg tanya kapan pemilu diadakan, diriku bingung, en karena wangsit dari mbah-mbah yg mbaurekso disana, diriku sukses mengisi tanggal 9 april 2009. Jeng-jeng! The rest of the MI test: teknik klasik: Ngarang Indah.

Eniwei, diriku bisa curi2 hotspot di hari pertama di perpus, tadinya lagi nunggu tes akademik. Tes akademik pun karena ada kesalahan akhirnya di batalin (weleh... TN juga masih bisa salah toh?). Terus dari makan siang, diriku bersama 6 orang kandidat guru laen dikumpulin di ruang wakasek kurikulum buat bikin lesson plan. Well. Ternyata karena pada bukan latar belakang guru, jadi pada bingung waktu tanya KD en SK tuh apaan. Diriku juga cuman melongo bingung en cengengesan, karena diriku sendiri juga ga bisa njelasin. Payah.

Hari kedua, rencana en jadwal menyebutkan kalo ada tes kesehatan en tes mikro teaching. So kita digiring ke RST, en menjalani serangkaian tes: tes tensi, tes darah, tes jantung, rontgen, tes THT, tes mata, en eng-ing-eng, tes kelamin. En, yang paling heboh adalah... jeng-jeng-jeng: Tes Kesehatan Genitalia! Kita disuruh telanjang massal! bayangkan tujuh orang pria dalam satu ruang sempit, plus si dokter tua. Weleh. Pertama kalinya itu. Dan sangat memalukan. Diriku langsung berpikir yg tidak2: jangan2 nanti diriku diapa2in en direkam, terus dipublikasikan, en hasilnya diriku berhasil mengalahkan Dewi Persik... Kita disuruh pake CD ajah, terus disuruh mbuka satu2, diliat2in 'barang'-nya kita, en disuruh nungging (sementara si dokter mencoba mengamati lubang di pantat)... Weleh. Unforgettable. Sebegitunya kah?

Habis tes kesehatan yg notabene butuh waktu dari jam 7 - 2, kita dikirim balek buat micro teaching. Diriku en dua ca-gur bahasa inggris ngajar di lab bahasa. Aku mutusin ngajar news item, en topiknya adalah: Ponari. Phenomenal kan? So, diriku berharap bisa menarik. And it was! Sebagian besar guru yg nonton en berpura2 jadi murid (ada yg diem, ada yg cerewet, ada yg sok pinter) mau jawab pertanyaan diriku, padahal rekan yg sebelumnya ngajar katanya dikerjain sama 'murid2' nakal itu. Yg bikin bothered diriku adalah pertanyaan satu guru cowok di akhir micro teach itu, 'Sorry, Sir. But, what do you actually want to teach us?' Weleh. Kenapa dari tadi juga ga' denger? Or, jangan2 dia berperan jadi murid autis? Or, memang dia terbelakang? Hohoho...

Hari kedua diriku pulang dengan berbasah2 ria, masih kudu lembur bikin soal untuk remidi yang kutinggalkan di SMAKI. Adem. En setengah panas ni badan.

Next, tes psi yg membosankan: tes skolastik, IQ, EPPS, en tes nggambar. Ada lagi satu tes yg suruh njumlah angka sebegitu banyaknya. Diriku ampe jereng ni mata. Jerawat langsung tambah banyak. En tangan jadi kaku karena balapan sama temen di sebelah. Duh! Nah, yg paling parah adalah sehabis kita pulang dari tes psi (dari Akmil balek ke TN, tes psi-nya di Akmil). Dari jam 2 sampe jam 8 kita ditahan di wisma tamu. Menunggu giliran. Diriku masuk jam 2, tapi baru selese jam setengah 5. Gara2 ada yg salah urutan. Diriku waktu diwawancara pun banyak nangis dalem ati, karena diriku memaksa mulut berkata padahal ngga' mau mengatakannya seperti, 'Pak Daniel siap untuk 24 jam siaga mengasuh anak, meski misalnya ada anak yg ketuk pintu rumah bapak jam 11 malem?' Diriku dengan pasrah, sambil merem melek bilang, 'SIAP!' Duh! Eniwe, kita jadi makin akrab, banyak waktu buat share en ngobrol. (En disela2 waktu itu diriku sempat protes ke Koord. Personalianya, tentang apa? Biasa, tentang sistem kerja yg msh disembunyikan.) Diriku pulang dengan pasrah; jam delapan malem sampe rumah.

Betewe, diriku lima hari berarti (dari hari Sabtu) makan ayam goreng terus. Moga2 ga' kena flu burung.

Terus kalo ditanya sekarang optimis or ga, diriku ga bisa jawab. Dulu impian sejak SMA buat ngajar di TN. Sekarang setelah tahu lebih banyak, diriku agak geser mundur ke belakang. Diriku juga bingung gimana mau doa, minta apa sama Tuhan. Moga2 dikasih yg terbaik . . . Karena apa pun putusannya nanti, yg jelas SMA KI tetep kena imbas terbesar-nya . . . En diriku ga mau dengan tidak bertanggung jawab meninggalkan SMA KI.

GB

Sunday, February 8, 2009

Dari Mejik sampe Farewell

Halo!

Diriku semakin dag-dig-dug. Apalagi nunggu telpon selanjutnya dari Cikarang. Katanya sih mau ditelpun lagi buat konfirm kepastian kelas en materi buat Micro Teaching. Hopefully it won't be on the last minutes.... Hi....

Betewe, diriku semakin yakin bahwa living in a dorm matters much for theology students. Keliatan banget mana yg lulusan SAAT Malang, mana yg dari F.Theol Univ. Kristen laennya (in this case: UKDW and UKSW). Weleh, pengalaman kemaren minggu membuat semua pemuda (en jemaat umum) berpikir ulang. Buat yg pengin tahu lebih lanjut, silahkan email saya, akan saya ceritakan, karena nda' etis ngomongin disini... :)

Betewe, diriku kemaren Jum'at, bersama dengan adek and papa-mama menghabiskan waktu malam bersama di depan tipi mpe midnight. Ngapain? Nonton The Master. Kueeeereeen.... Kayaknya emang bener keluargaku suka hal2 yang berbau mejik2, meski versinya en preference-nya beda2. Tapi bukan berarti kami ini praktisi mejik or pesulap or yg begitu terobsesinya dengan hal semacam itu. Aku en adekku paling suka maen game or baca komik yg berbau mejik. So cool kalo ada character yg bisa cast magic, or kalo ada yg kudu work hard to improve his level and gain new spells... wohooo.... Kalo mamaku masih meng-afdol-kan kepercayaan macam itu, tapi bukan berarti dia sering ikut2an. Kalo kita lagi liat misalnya tentang orang yg percaya perdukunan or shio or zodiac, adekku en aku langsung nolak keras, tapi mama mesti bilang kalo kaya gitu ya terserah orangnya mau percaya or ga... begitu. Kalo papaku: dulu percaya, tapi sejak jadi Kristen sudah tobat en meninggalkan tetek bengek macem gitu... Puji Tuhan.

Oh, ya, diriku selain menunggu minggu depan, juga menunggu tgl 5 Maret: Premiere KAMBING JANTAN the MOVIE! Aku sudah lihat trailer-nya di blog-nya si Radith. Eh, tapi kok ga keliatan sebegitu lucu-nya ya, dibanding novel aselinya. Cuman berharap banyak semoga si sutradara, plus Edric bisa give something more and plus for this movie. En jangan sampe ngerasain kecewa waktu nonton Harry Potter sagas dll (but not Lord of the Rings, kueren!).

Eniwe, diriku mo berterima kasih sangat buat temen2 yg selama ini sudah support en ternyata care (woloh, ini kaya mo pisahan ajah). So begini maksudnya. Motivasi (topik yg dibahas waktu kemaren Persekutuan Doa) sebener'nya bisa dateng darimana aja: orang, benda, tempat, hewan... En diriku akhir2 ini ternyata dapet motivasi dari orang2 laen. Misal, si FeFe en NatNat yg gara2 kubebani dengan membaca emel yg panjang ternyata pernah bilang, "Dankuur ternyata care pemuda, en betewe, your English keren!" Weleh... Tersanjung en kepala hampir meledak ni... Terus waktu kemaren share bahwa tgl 15 mo ke Cikarang, eh beberapa juga bilang ga mau kalo aku pergi. Tapi yg satu ini entah karena emang ga mau jauh dariku (hohoho... narsis'e pol), or karena pengin memanfaatkan en mem-pekerja-rodhi-kan diriku lagi... (hehehe...). Yet, at least, diriku merasa bahwa there is something with my existence. I give something for others. There will be something missin when I'm not there anymore. *Phew*

Diriku ga bisa ngebayangin gimana jauh dari temen. Indeed: I hate farewell... Diriku juga ga cuman mikirin keluarga en sohib akrab en deket. Tapi juga anak2 KTB-ku yg akhir2 ini entah kenapa diriku makin terbeban en care sama mereka. Juga murid2ku yg sekarang (some, honestly, not all)... Well... will gonna miss u all if it really happens that i have to go, wandering somewhere i don't know... Halah!

OK, daripada ngayal yg tidak2 mending let me stop here, and continue downloading some mp3s... Hehehe....

GBU All!