Showing posts with label keluarga. Show all posts
Showing posts with label keluarga. Show all posts

Friday, October 10, 2014

Kok, Bertengkar dengan Kakak-Adik (dan Papa-Mama)?

You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them. ~ Desmond Tutu

"Karena sering dijahilin sama Kokoh"
"Kalau pulang sore karena ngerjain tugas (sekolah) terus dimarahin."

Itu beberapa alasan yang dituliskan teman-teman remaja ketika saya memimpin sesi diskusi dan sharing Sabtu lalu di Persekutuan Remaja, GKI Pajajaran Magelang. Tema yang diberikan ke saya, 'Sayang adik-kakak,' dan awalnya langsung bikin saya bingung. Saya punya satu adik, dan bukannya saya tidak sayang adik saya, tapi mungkin teman-teman dekat saya tahu kalau saya tidak sering menunjukan keakraban adik-kakak sebagaimana yang ditunjukan siblings yang lainnya.


Saya memperluas sedikit tema itu, dan menambahkan topik 'sayang orang tua' ke dalam diskusi kami (yang ternyata sudah dibahas minggu sebelumnya). Saya jadi tergelitik ketika membaca sms yang menyebutkan tujuan dari diskusi tema ini: supaya kakak adik tidak terus-terusan bertengkar, dan tidak melawan mama-papa. Kenyataannya, tidak jarang saya sering diskusi dan bahkan mengkritisi (kalau mau dibaca: melawan) pendapat orang tua saya.

Dari beberapa referensi yang saya baca, kita bertengkar—beda pendapat, salah paham, berselisih ide—dengan orang tua maupun saudara karena beberapa hal. Well, saya memulai diskusi malam itu dengan meminta mereka menuliskan contoh alasan-alasan sehari-hari yang sering memicu pertengkaran di rumah.

Menarik ketika membaca pengalaman yang dituliskan teman-teman: rebutan channel televisi, ortu yang galak, sok tahu, kakak yang sok berkuasa, ngotot-ngototan, bahkan sampai faktor kegantengan sang kakak yang di bawah standar harapan sang adik.


Saya minta mereka menempelkan post-it tulisan mereka dalam dua kategori: orang tua dan saudara, membahasnya secara singkat, kemudian menanyakan beda secara umum alasan dari kedua kategori itu. Seorang remaja langsung menjawab, 'Kalau dengan kakak-adik, bisa dua-duanya sama-sama salah. Tapi kalau dengan orang tua, biasanya orang tua benar, kita yang salah.' I would agree with that.

Kita dan ortu atau saudara bisa saja bertengkar karena kita punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan dan menerima kasih, atau cinta. Alasan pertama perselisihan dalam keluarga adalah perbedaan bahasa kasih. Saya meminjam istilah bahasa kasih yang diperkenalkan Gary Chapman, dan dalam bukunya, yang notabene sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dia menyebutkan ada lima jenis bahasa kasih: kata-kata penguatan (words of affirmation), pelayanan (acts of service), sentuhan fisik (physical touch), pemberian hadiah (gifts), dan waktu bersama (quality time). Betewe, kita bisa cari tahu jenis bahasa kasih kita disini. Bahasa kasih saya? Saya rasa sudah ada perubahan: antara sentuhan fisik, kata-kata penguatan, dan hadiah.

Keluarga jadi tempat pertama kita menerima, menyatakan, dan melatih mengekspresikan sayang kita, dan memakai ide Chapman, kita punya bahasa yang berbeda untuk melakukan itu. Seorang ibu mungkin ingin melayani anak, 'memanjakan' mereka, tapi sayangnya si anak merasa risih. Budi memikirkan dan menyiapkan hadiah khusus untuk papanya, yang malahan tidak kelihatan begitu semangat menganggap hadiah spesial itu. Atau, Nora pengin menghabiskan waktu lebih dengan adiknya, kemudian 'caper' dengan iseng dan jahil, tapi adiknya menganggap itu kenakalan yang mengganggu. Well, at least, that what I did to my younger brother. Beda bahasa kasih ini juga nampak ketika mendengar jawaban dari seorang teman, "Mama pengin jemput saya, tapi saya tidak pengin merepotkan. Nah, kami kemudian bisa bertengkar, deh."


Alasan kedua adalah karena tiap anggota keluarga pada dasarnya ingin merasakan atau memiliki kebebasan dan privasi. Sang anak ingin bebas bepergian, entah untuk menyelesaikan tugas belajar ataupun untuk tujuan bermain, tapi ortu di sisi lain khawatir. Orang tua juga sering menetapkan aturan, yang dianggap mengekang dan membuat anak gerah. Belum lagi aturan tidak resmi dari kakak untuk adik, seperti ketika saya melarang adik saya buat rebahan di ranjang seenaknya ketika ia pulang dan masih berpakaian kotor dengan debu atau keringat dari luar rumah.

Kita sering merasa tidak nyaman dengan aturan yang dibuat dalam keluarga, atau beberapa menyebutnya 'kontrak keluarga'. Tapi kenyataannya, aturan itu, ketika dibuat dengan dasar dan tujuan yang baik, tidak pernah dimaksudkan untuk mengurangi kebebasan kita. Disiplin yang ingin diterapkan bertujuan meningkatkan kualitas pribadi kita. Menaati orang tua bukan berarti melenyapkan atau membatasi kebebasan, justru malah kita sedang menyiapkan diri untuk nantinya terbiasa hidup disiplin dengan sendirinya. Akan tiba masanya ketika anak berpisah (rumah) dengan orang tua, dan dianggap ada kebebasan lebih. Tapi sampai saat itu tiba, biar kita menikmati hidup dengan aturan yang ada.


Dan terakhir, kita sama-sama punya kepentingan, pandangan, dan prioritas yang berbeda. Belajar bisa saja dianggap tugas nomor satu oleh orang tua, atau untuk orang tua yang lain, membantu ortu juga tidak kalah pentingnya. Sementara anak bisa saja melihat bahwa mereka butuh hiburan, perlu menyalurkan bakat, dan ingin menghabiskan waktu bersama teman. Ortu dan anak bisa saja ribut besar gegara pemilihan jurusan kuliah, karena ortu lebih memikirkan apa yang dianggap menghasilkan banyak uang, sementara anak pengin mengembangkan bakat mereka. Atau ketika saya dan ortu rebutan channel televisi, karena beda melihat apa yang dianggap hiburan.

Jadi bagaimana supaya tidak bertengkar? Ya, for me, kembali melihat tiga alasan itu; apakah memang ada perbedaan dalam memandang dan memahami bahasa kasih, kebebasan dan privasi, serta kepentingan dan prioritas hidup. Next, kita perlu memikirkan bagaimana berkomunikasi supaya perbedaan itu bisa sama-sama dipahami dan diterima. Dan belajar berkomunikasi itu hal yang lain lagi. Tapi at least kita sudah mencoba lebih peka melihat hal-hal yang bisa memicu perselisihan dalam keluarga itu. Dan ketika semuanya didasarkan dan dimulai dengan kasih atau cinta, saya rasa kita bisa lebih menghindari atau mengurangi pertengkaran di rumah. Atau menganggap perselisihan itu bukan hal yang destruktif.



Wednesday, April 28, 2010

Dan's Family Traits

Loha.

First of all, sebelum berangkat kuliah (sekarang saya lagi menikmati presentasi TAS BK; saya multitasking, jadi bisa mendengar sambil jemari ini menari di atas tuts keyboard), saya menikmati sekitar 10 menit berdiri di depan temuan teknologi paling berpengaruh sepanjang masa: CERMIN. Selama waktu itu saya menemukan lebih banyak uban *phew* dan ingat ikrar saya dulu: 'Kalo uban memang sudah masanya keluar, biarlah saya besok highlight ini rambut dengan putih saja, biar rambut hitam yang lain tidak iri menjadi putih.'

Oke, kalo pernah baca posting yang ini, pastinya tau kalo hari Minggu adalah (harusnya jadi) hari kesayangan keluarga. Dan yg saya paling suka adalah kesunyian di Minggu siang kalo saya lagi terkapar dengan indah di kamar papa, en Nico di kasurnya, Papa di sofa dalem depan TV, en mama membujur di sofa luar. Hm. Benar-benar keluarga yg kompak. Ini turunan ato tularan ya?

Saya pernah mikir saya ini beneran anak papa-mama saya or ga ya? Karena beberapa sifat kok diluar yang seharusnya diturunkan dari mereka. Ato karena ada mutasi gen yg bikin saya jadi 'aneh' dengan beberapa sifat di luar sifat ortu saya ya? Jangan2 dulu saya ditinggal sama Superman gara2 dia terlalu sibuk memberantas kejahatan, jadi takut saya ga keurus lalu ditinggal di luar rumah saya. Hmmm... Bisa jadi.

Hm. Kalo yg kenal papa saya, pasti bakal komen, 'Dan, Papamu "gaul", ya?' or 'Papamu lucu ya,' ato lagi, 'Papamu ramah ya.' Satu rekan saya pernah bilang, yg bikin saya mikir kemudian, 'Kamu kok beda sama papamu ya, dia bisa lucu konyol begitu, kok kamu kaku.' Itu sekitar tiga-empat tahun lalu. Sekarang? Masih sih.

Waktu dulu saya pertama pake kacamata, jaman2 SMP, banyak yang kemudian bilang, 'Wah, Daniel sekarang mirip sama Papa. Pake kacamata.' Cuma mirip gara2 kacamata, padahal saya ini lebih mirip mama saya. Pernah shock waktu buka2 foto lama, loh kok saya ada disana, en ternyata itu adalah mama saya. Dan sekarang, kalo liat adik saya, bakal makin keliatan si Nico mirip papa waktu jaman masi bujang en kurus dulu. Lucu liat foto papa waktu masi kerja di jakarta. Hihihi.

Eniwe, lepas dari masalah fisik, saya ini mirip mama-papa saya or campuran keduanya. Sifat keras saya dituruni dari papa. Sifat rajin saya, puji Tuhan, dapet dari kombinasi keduanya: papa itu telaten en bertanggung jawab, mama itu niat (kalo malesnya lagi ga kumat). Masalah ngeyel (plus pemberontak) saya di dapet dari mama, tapi dikasi sifat sabar mendengar dari papa; kombinasi yang keren. Smart-nya saya, ehem, nular dari papa; ngakak waktu liat rapor mama waktu kecil, peace, Ma. Hehehe.

Nah yang kadang bikin bingung adalah faktor-faktor berikut ini: artistik en musikal (papa-mama ga ada bakat sama sekali, en saya sudah wanti-wanti dengan keras papa dilarang nyanyi kalo lagi tugas di belakang mimbar majelis; sementara mama cuma hobby humming). Gila belajar en maniak buku: dari mana ya? Saya cuma liat papa-mama suka ngisi TTS, tapi ga sering baca. NARSIS, nah ini yg parah, karena papa-mama sama2 pemalu. Hmmm...

Nah. Melihat analisa saya, saya jadi bingung untuk bagian2 terakhir itu. Jangan2 hipotesa bahwa saya anak Superman, ataupun Suparman emang benar. Ato emang ada mutasi pewarisan sifat? Ato karena pengaruh pergaulan dan lingkungan sekitar saya? Saya rasa alasan terakhir lebih masuk akal dan bisa diterima.

Eniwe, bicara tentang pewarisan sifat dari orang tua ke anak, memang ini sangat menarik, dan melebihi masalah pewarisan genetis warna mata lalat buah. Ini pun seharusnya berlaku untuk kita yang sudah Lahir Baru, en jadi bagian dari Keluarga yang baru. Kita punya Bapa dengan Karakter-Nya yang pastinya diwariskan juga ke anak-anak-Nya. Tapi selama ini kalo memang bener2 kita ini anak-Nya, kenapa kita tidak menunjukkan sifat-sifat itu ya? Apakah gara2 kita lupa siapa Bapa kita, ato gara2 alasan saya punya sifat yang berbeda tadi: lingkungan, tempat tinggal temporary sekarang ini, ataukah jangan-jangan ini kita pura-pura (atau malahan bukan) anak Bapa?

Walo saya bukan ato belom jadi seorang ayah/bapak (dan ngarep untuk jadi bapak yg bisa gendong anak bayinya), tapi saya tau bahwa maunya orang tua (yg bener dan yg 'waras') cuma satu dan nda neko2: bawa nama baik keluarga. Selama ini kan selalu kalo ada kasus jelek dari seorang anak, pasti langsung muncul komentar, 'Oh, si X to? Anaknya si Anu ta?' Saya terus pengin menekankan hal ini dalam hidup: bawa nama baik keluarga (baca: orang tua). Kayaknya ini juga berlaku buat nama Bapa deh. Kita ini kan anak-anak-Nya? So, apa orang lain juga kenal siapa Bapa kita? Ini PR (benar-benar pekerjaan 'rumah' kalo kita tinggal di 'rumah' kita sementara ini) buat saya juga.

GB

PS: Sebenarnya ini topik sudah lama saya pengin tulis, en saya inget gara2 liat note di HP saya, topik2 yg belom terwujud dan tertulis, dan hari ini sebenernya saya pengin nulis topik yg laen yg masi hot buat saya. Tapi entah kenapa jadi blur ide-nya.... Hmpf.

Monday, September 14, 2009

Daniel berkaca dari orang lain

Halo.

Ngaca jadi salah satu hobi saya, entah sekedar buat menikmati indahnya diri saya (iya, silakan mutah), or praktek berpose en senyum (latihan dulu), plus ngoreksi apa yg masih perlu dirapiin en dibersihin dari si 'saya' yang terjebak di dalam dunia kaca (kaya Alice aja). Eniwei, pokok'e dari berkaca, kita bisa melihat seperti apa diri kita, walo kata temen saya, berkaca tu bukan sebener'e kita, considering that our left becomes their right... :)

Btw, beberapa hari lalu diriku seperti biasa memulai hari2 kerja (baca: mengajar) di SMP dengan briefing pagi, yg diawali dg renungan plus sharing trus briefing. Kadang ada sharing yg menarik. Kadang ada yg menggugah minat. Kadang klise. Tapi diriku mencoba terus menyimak dengan baek, en memahami kenapa mereka berbicara seperti itu. Pernah sekali diriku agak shock en annoyed dengerin satu rekan yg nge-share pandangan dia dengan ST banget (Sok Tahu). View-nya dia salah. Ngawur. Diriku juga paling ga sreg kalo dengerin orang sok tahu.

Waktu bisa nge-judge kaya gitu, pagi itu, diriku langsung kaya ada yg nampar. 'Bukannya selama ini dirimu ya ST, ta, Dan?' one side of my brain whispered. Well, yes. Ternyata diriku nyadar gara2 kejadian pagi itu. Diriku ga suka liat or denger orang ST, tp kenyataan diriku masih sering ST. Kenapa ga diem aja kalo memang ga tahu. Kenapa ga denger aja kalo mm pendapat kita juga sama aja. Berkaca. Diriku diem, en belajar.

Diriku kadang sering bothered, terganggu liat rekan kerja yg males2an. Jatahnya bikin, en nyelesaiin kerjaan, tau kalo ada banyak pekerjaan numpuk, eh malah ngobrol2. Ini yg sering bikin jengkel. Tapi kadang melihat mereka bermalas2an kaya gitu, diriku jadi berefleksi. Kadang diriku juga suka menunda, en walo beres di akhir detik2 deadline, tapi kadang juga masih 'males'2an versinya saya: ngeNet, baca-baca hal yg nda berhubungan, nyantai2... Oke, pekerjaan emang selalu selesai, tapi menumpuk. Yg terakhir paling nda penak. Berkaca. Diriku merenung, en belajar.

Sering kali diriku melihat anak2 or bahkan orang dewasa yg merasa minder. Ga pede-an (en ini bukan berarti lawan katanya narsis). Mereka ngomong ga berani lihat lawan bicara. Ga berani pandang lawan bicara, nunduk. Ngomong sama si A, tapi bahasa tubuhnya keliatan banget nda nyaman en ga pengin ngomong sama si A, takut en anxious. Waduh. Diriku juga sering nemuin kalo lagi ada yg ngomong, tapi ga dilihat, saya agak males ngobrol jadinya. Loh, kayanya ini diriku yg dulu, or kadang masih yg sekarang. Walo saya sudah belajar banyak untuk tidak usah malu en grogi, tapi apa saya sudah 'memperhatikan' lawan bicara saya, ya? Berkaca. Diriku belajar dari mereka.

Talk behind someone's back. Nggrundeli orang. Ngomongin orang. Paling males kalo diajak begituan; paling menghindari. Kadang kalo ada rekan kerja yg barusan ada masalah, terus beraninya bisik2 cerita ke orang laen diriku agak males juga. Kemaren ada kasus yg cukup besar, en ada satu rekan yg cuma bisa ngomong sana-ngomong sini, begini dan begitu, tapi ga berani konfront langsung. Memang keliatannya dia coba cari solusi, or malah coba cari dukungan. Hm. Diriku menghindar, or kalo diajak ngomong ya cuman dengerin, simpen dulu, dan tanggepi dengan, 'Oh...', 'Iya?', or 'Hmm... Gimana ya?'. Tapi saya terdiam. Kadang walo sudah sering mencoba menghindar gosip, or grundelan, diriku juga satu, dua, tiga, dan sekian kali mencoba cari celah bocor buat nggosip. Duh! Berkaca. Diriku ga mau seperti mereka. Saya belajar.

Satu hal yg paling bikin diriku, plus adekku, ga begitu nge-respect Papa kami (tolong jgn disalahartikan) adalah kebiasan smoking-nya dia yg buruk. It doesn't mean that I hate smokers. No. Saya menghormati smokers yg mencoba cari smoking-area, ga ganggu yg laen yg non-smokers. Tapi papa saya ngeyel. Meski kami sudah 'mengucilkan' dia, so kalo dia ngerokok ga boleh deket2 en biasanya di ruang tamu, tapi akhir2 ini baunya makin strong en nyebar kesana-sini. Kebiasaan yg dianggep memuaskan dirinya, bikin orang laen jengkel. Ini ga baek. Tapi, bukannya saya kadang begitu juga? Hm. Saya masih juga ada kebiasan buruk yg mungkin bikin orang laen jengkel. Ego saya sendiri. Repot dirasain orang laen. Hm. Berkaca. Diriku mikir dan belajar.

Berkaca dari orang laen bukan cuma melihat dari yg jelek2 so kita nda mau ngikutin mereka. Melihat juga yg baek2 yg kemudian kita bisa tiru. Melihat apa yg bisa dipelajari dan dicontoh dari model yg mereka pantulkan. Hm. Ini yg menantang. Juga memandang Sosok yg selalu kasih model, plus inspirasi, yg nda pernah habis en selalu layak buat ditiru. Sebagai guru pun diriku sering mencoba melihat, apa saya sudah jadi kaca yg mantulin karakter2 yg pantas dilihat, or hal2 yg layak dipandang sama anak2, or rekan2 yg laen ya? Apa saya sudah jadi teladan yg baek ya? Hm. Belajar.

Woke, tenkyu sudah membaca sejauh ini. Semoga kita bisa belajar bersama dan terus berkaca dalam hidup ini. Diriku mau ngaca dulu. Hehe.

GBU!

NB: (1) Diriku lagi pengin banget ngikutin komik Naruto, tapi ga sebegitu ketagihannya, (2) Ada yg bisa ngajarin maen2 bikin 3D? en (3) I am fed up with downloading so many documents and files from the Net, but why I can't stop hunting for any downloadable materials? Duh!

Wednesday, August 19, 2009

Daniel berpikir bahwa dirinya lagi kejepit...

Halo.

Saya terjepit. Bukan diantara teman2 yg gembrot. Bukan diantara reruntuhan bangunan. Bukan juga diantara dua kasur di rumah (meski dulu hobi saya juga menjepitkan diri diantara dua kasur, dan ga jelas tujuannya apa tapi enak aja ada di dalem sana...).

Saya terjepit di dua situasi. Antara memilih untuk membela atau memasang tembok tanpa-kompromi. Antara percaya atau anggap-saja-sebagai-angin-lalu. Antara kepedulian atau cuek sama sekali tidak acuh. Antara idealis dengan praktis. Diriku tetep pegang kata hati, en bekerja sesuai aturan, walo ga berarti untuk tidak peduli dan menjadi kaku. Diriku bingung. Sementara di dalem hati masih perlu dikorek dan dibersihkan lebih dalam lagi (dan diisi lebih penuh lagi), di luar tantangan dan tuntutan semakin banyak. Kadang kepala ini seperti ricuh, ribut, dan rame ada perang: ada beberapa sisi dari Daniel yang bertarung. Sejauh ini, satu yang menang (walo selalu berdarah-darah sampe lelah) adalah: kerendahan hati. Selalu satu makhluk ini berteriak, 'DIAM! DENGAR! DAN JANGAN JADI SI SOK TAHU!'

Eniwei, diriku barusan membaca dua paragraph pembuka tadi (plus satu kata menyapa), dan merinding sendiri en heran, kenapa en apa yang sebener'nya sudah terjadi. Mungkin temen2 juga pada heran, ini sebener'nya si Dankuur lagi kumat ayan, kumat gila, or kumat sok-filosofis-nya... Well, diriku sengaja tidak menghapus dua paragraf di atas, biar jadi bukti satu tulisan yg keluar dari otak yg mungkin kelewat besar ini.

Oke, so, diriku sudah lama tidak nge-post, dan menyadari makin males; kenapa? Banyak gawean (yg menumpuk, tapi belom sampe deadline kok, bahkan beberapa tanpa deadline, nikmatnya...). Dan ditengah semua gawean itu, diriku selalu menyempatkan diri buat dolan bareng temen2, dan hobi kami akhir2 ini adalah Angkringan a.k.a Kucingan. Iya, kami nyewa pussy cat... GA! Kami sering nongkrong malem2 menikmati wedang teh jahe or susu jahe, sambil menikmati dinginnya udara magelang di alun2 kota. So stylish en keren banget (mutahlah, dan heranlah... yg masih belom jelas angkringan itu apa, bayangkan satu kafe yang keren en diisi banyak artis, mhwahwahwahwa).

Eniwei selanjutnya, diriku kemaren barusan digitally edit satu foto narsisku. Gila, en bayangin (lucu plus narsis banget kenyataan ini). Pagi hari minggu, diriku berangkat ke gereja, buat menjalankan tugas jaga perpus shift pagi, so tidak ada kerjaan karena jemaat juga masih pada ibadah, en karena diriku ada inspirasi (baca: contekan ide) dari foto orang laen, so, diriku dengan narsisnya memotret pake kamera hape di dalem perpus gereja, en straight away ngedit tu foto, alhasil jadilah satu foto ini di jam 10 siang. Langsung deh, diriku upload tuh foto jadi propil poto di pesbuk. Wakakakaka. Bangga banget, walo menyadari ternyata dah lama ga ngedit foto efeknya gedhe juga, en tetep ae kudhu banyak belajar lagi. Thanks buat yg sudah kasih compliment, hehehe...

Oke, diriku pengin bersyukur buat beberapa (or banyak hal yg sudah terjadi selama ini), Tuhan, tolong denger, ya...
  • Buat anak2 SMAKI yg seperti biasa selalu buat sensasi di awal tahun ajaran baru, en tahun ini diriku dapet satu anak yg jadi korban 'Ihiiii, dicari Pak Dankuur,' berinisial C. Hahaha. Bangga.
  • Buat anak2 KTB yg malah jadi pemacu kerajinan kam-bing-mu yang satu ini. Sudah tiga minggu bolong, en kalo ketemu mereka sering ditanya, 'Ayo, Koh, KTB lagi... Kapan mulai?' Semangat KTB IMMANUEL!
  • Buat kerajinan bikin en revisi materi tahun lalu, plus kerajinan untuk mendisiplinkan kerohanian saya.
  • Buat keluarga yg makin lucu (en aneh) plus terbuka en ramah en akrab... Walo kadang papa masih sering marah, nico masih sering mutungan, dan mama masih sering bawel.
  • Buat SMAKI sendiri yang masih jadi wadah pembentukan karakter dan pemerkaya pengalaman.
  • Buat kesehatan. Gila yang satu ini saya sendiri juga heran. Di tengah batuk, pilek, dan flu yg menyerang kebanyakan temen, sampe sekarang, Praise the Lord, saya baik2 saja en ga kena apa2, cuman kemaren pusying gara2 digebyur (baca: dikerjain) anak2 waktu lomba di skul... Padahal sudah jadi rahasia umum kalo Dankur itu lemah fisik en ga pernah olah raga... Hahahaha...
  • Yang penting, buat sahabat-sahabat yg mengerti en mendukung dalam setiap keadaan. Meski kadang diriku sendiri masih belom bisa cerita semuanya, en menyadari belom bisa kasih banyak buat sahabat, tapi seneng kalo inget mereka, inget ada teman untuk berjuang bersama di dunia ini...
  • And above all, buat Tuhan yg makin membentuk dan terus menyertai saya...
Lagi2, diriku sudah bisa menebak pertanyaan Anda sekalian, 'Sebener'e ini dankur lagi ngomongin apa to.' Inilah resiko orang yg punya otak besar, en males buat brainstorming dulu, terus outlining ideas, organizing, proof-reading, en editing his writing (padahal notabene diriku adalah ex-asdos writing yang sudah ngublek-uthek masalah seperti ini both in Writing 1 and Writing 2)... Wakakakakakak...

GBU all, guys!

PS: Tambah satu diriku kejepit: antara sadar dengan ngayal dan ngaco. Hahahahaha...

Tuesday, April 21, 2009

Cherio my past...

Memories are like stones, time and distance erode them like acid.
~ Ugo Betti, Goat Island

Hi.

Diriku bakal menikmati seminggu ini (minus sabtu), dan bakal miss such a week. Sementara pressure jd sekretaris UN sekolah sudah lewat, diriku cuman melewatkan hari2 dg Project Agung: donlod pelem sebanyak2nya!!! Wooo...

Well, btw, td malem diriku nyempetin ngajak ngopi Titi dkk. Setengah sembilan kurang kita berangkat; aku dari rumah ke gereja, langsung ke KK Bruns. Waktu belom masuk, masih markirin motor, I saw many people inside. Mungkin lagi rame, en kita takut ga dapet tempat duduk. To my surprise, diriku ketemu temen2 lama dr SD yg lagi kumpul bareng.

Aku masuk, en nyapa mereka, masih kaget. Sambil basa-basi 'Loh pada libur toh?' Yg bikin tambah kaget: no response but plain smile (n some even just turn round). Diriku bingung, mo gabung mereka or mo gabung anak2 gereja, but I chose the later. Gimana mo gabung sm mereka kalo mereka seemed not to invite me to be in their group. Tiga puluh menit di KK jd penuh pemikiran, en diriku cuman bisa nyembunyiin semua itu sambil nikmatin maen Othelo versus Dimas (I won!!!! Mhwahwahwa...). Sampe mereka akhirnya pulang juga cuman satu orang yg say good-bye (thanks!).

Habis mereka keluar, mulai deh anak2 tanya2...

Andre: 'Ga kenal satu pun dari mereka toh?'
Aku: 'Kenal. Satu sekolah. Satu SD.'
Andre: 'Lah kok nda nyapa, dll?'
Aku: 'Sudah disapa mereka malah ga nge-respon.'
Andre: 'Beda level ya?'

Diriku masih mikir dg yg dimaksud level oleh Andre. Apa level narsis, or level nerd, or level apa...

Aku: (ke Titi) 'Bedanya SD T sama SDKI ya kaya gitu. Sampe kowe tua, ketemu temen dari SDKI tetep kenal en akrab.'
Andre: 'Memang kaya gitu. La ya apalagi karena beda level to?'
Aku: (baru mudheng, nyengir miris) 'Hehe...'

Ternyata beda level tu beda level ekonomi en status... It's like I'm a proletar, and they'r like the aristocrats. Diriku masih ga bisa lepas dari mikirin masalah ini (n that's why I just wanna write about it). Diriku jd inget jaman2 SD, banyak banget kenangan waktu kita maen bareng2.

Aku inget dulu diriku menang juara dua lomba nyanyi Natalan SD (duet sama mba' Endah, she's a Moeslim, but singing Angels We've Heard on High!), or terkenang masa2 kerja kelompok yg malah lebih sering dolan2 ajah (bandingin dg anak2 skrg yg kerja kelompok bareng guru les-nya), or maen hide-and-seek bareng Gunawan di Toko Sri-Ratu (dia anaknya yg punya) en diriku sembunyi di bawah rok2 yg didisplay, or waktu diriku ngerasa malu karena aku jalan rame2 bareng temen2ku yang pada keras2 nyanyiin Neg'ri di Awan, or diriku yg iri gara2 ditendang keluar dari kelompok paduan suara yg mo maju buat lomba Dendang Kencana.

Diriku juga inget masa2 nakalnya dulu: maen di selokan belakang sekolah waktu istirahat en berakhir dijewer sama guru, or pura2 lari-lari-dengan-heboh-di-dalem-kelas yg akhirnya nendang penggaris kayu sampe patah (en diriku begitu takutnya lapor ke suster), or waktu diriku dg sok bijaksana negur temen yg rame tp malah ditegur guru karena diriku dikira rame, or waktu diriku jalan bareng temen2 pulang dari sekolah lewat jembatan aer di sebelah sekolah, or waktu diriku hampir berantem sama satu temen (tapi dibelain mayoritas temen yg laen) en katanya ditunggu sepulang sekolah tapi ternyata malah dianya sudah pulang...

Balik lagi ke this present time, diriku ga tahu lagi kenapa sekarang sudah terasa jauh dari mereka. Cuman beberapa yg keliatan masih friendly en 'mau bersahabat lagi'. Nda tahu juga apa yg bikin kaya gini. Kemaren cuma mikir, kalo considering 'level' yg dimaksud Andre. They see who (or what) you are, not what you do. It's more on being, not doing. And I totally hate that.

But, sampe disini diriku nulis, ngapain juga ya mikirin kaya gini. Ngapain juga mikirin tentang mereka while they care nothing for me. Ato jgn2 diriku yg alienate myself.

Btw, talking bout being-vs-doing, diriku jd inget dgn kejadian kemaren senin malem di rumah, ketika kita sekeluarga bahas ttg aku en adikku yg both join the comitte for Camp Jemaat besok Juli. Kenapa bisa dua2nya masuk. Kenapa adekku, bukan remaja yg laen. Papaku sampe tanya, kok bukan anak yg laen.

Aku: 'Karena cuman Nico yg nda pernah les.'
Papa: (bingung)
Nico: 'Iyo. Karena yg laen udah pada sibuk sekarep'e sendiri.'

Well. Kalo diriku liat GKI Pajajaran Magelang, diriku merasa it's my only comfort zone. It's the place where I'm admitted. Most of them know me, and whether they fully see or respect me, I struggle hard to be admitted. Memang salah sih katanya kalo penghargaan (en pengakuan) jd something that drives ur life (said Rick Warren), tp kenyataannya itu kebutuhan manusia yg pertama (lihat deh catetan Sosiologi SMA).

Aku dihargai di gereja bukan karena siapa aku or siapa adikku or siapa papaku, tp because of what I have done (and will do). Mungkin terkesan sombong en egois, tp diriku emang sudah do much for the church, and I will do much more... This is what I like. In fact, Jesus don't see who you are. Just as I am... (waduh, jadi nyanyi, en merenung...). Ooops, tp DIA jg ga liat apa yg kita lakukan ding nanti kalo sudah di sorga...

Well. Diriku nyadar sudah terlalu panjang, en banyak yg diomongin. Bingung jg kenapa bisa sampe sebegini panjang. Diriku inget satu lagi yg disampein Frances, dosen en eks-boss-ku, waktu di kelas CCU (dia jg dapet dari mantan dosennya), 'Let yourself be noticed'. Caranya? Up to you.. I have my own way.

OK. Diriku sudah menggali dalam2 liang buat ngubur my past, tp cuman utk sebagian ajah. Cherio my past...

GB

Friday, April 3, 2009

[Bingung mau dikasih judul apa]

Halo.

Keliatannya diriku mulai kena sindrom-males-update-blog lagi.  Tapi sebener'e bingung, karena terlalu banyak to share.  

Pertama, diriku makin benci yg namanya kampanye.  Bising.  Kotor.  Buang-buang uang.  Ga ada artinya selaen dapet 25rb buat ganti beli bensin, tapi malah nombok akhir2nya.  Kemaren ajah moso waktu jam2 belajar sekolah ada juga yg sengaja rame2 maenin tuh horn en beeper motor keras2.  Alhasil, kita ga bisa ngajar (baca: nerangin materi).  Moso kita disuruh saingan ama suara2 bising.  Sori ajah, kita pita suara cocoknya buat nyanyi di opera house (jadi soundefek orang ngeden).

Lagian orang Indonesia kalo kampanye juga ga jelas.  Cuman buat ngenalin nama partai, en njelasin seberapa parah-nya mereka, en sepotensial apakah mereka bikin ribut en ricuh.  Namanya kampanye itu kudu jelasin mengapa-kenapa-dan-siapa-sebenarnya-mereka.  Eh, tapi in fact, bukannya jelasin visi-misi yg jelas, mereka malah cuman ikut2an ajah.  Kalo sampe ada anak2 yg jatahnya skul, tapi sampe bolos, padahal mereka juga ga tahu apa-apa, tuh berarti parahnya sistem demokrasi Indonesia.  Yah, kalo kampanye itu jadi parade yg apik en keren, rame juga gapapa.  Tapi yg ada malah jadi kotor en berantakan.  Buang-buang bensin!

Eniwei, diriku tetep pengin menjadi warga negara yang baek.  Meski termasuk di kelompok minoritas, tapi diriku mo' pake suaraku dengan sebaek2nya.  Aku cinta tanah air! (tapi ga mau cium tanah :p).  Kemaren ajah sebenernya aku diajak pergi tanggal 9 April besok, dolan ke jogja, langsung protes,

Aku: 'Emang kita ga nyoblos tanggal 9?'
Temenku: 'Ga. Ga nyoblos.'
Aku: 'Bukan warga negara yg baek. Ckckckck... Kapan Indonesia berkembang.'
Temenku: 'Eits. Emang kita ga' nyoblos. Tapi nyontreng!'

Diriku malu, en panas...  Well.  Pemilu yg lalu bener2 malu2in karena salah nyoblos.  Yang lebih bodo, kenapa juga tuh kertas suara waktu dulu engga' malah aku angusin.  Ckckck.  Karena masih kagum dengan ketololan diriku yang salah nyoblos. 

Oke. Betewe, ke topik lain.  Aku bahagia, bangga, en bersyukur karena keluargaku.  Kami ini keluarga yang meski ga kompak tapi paling penak kalo lagi ngobrol bersama...  Wkkkkkkk... *bangga banget*  Tadi malem kita bahas satu masalah yg ada di gereja.  Papaku Majelis Jemaat, en diriku juga tahu banyak seluk beluk di gereja, en adekku juga cukup aktif (cuman mamaku yg kadang nyeleneh, en berkomentar ga nyambung, en berakhir dengan aku en Nico ngekek keras).  Kita bahas ini-dan-itu, papa langsung pasang mode bijaksana.  Mama langsung komentar secara natural.  Nico memperkeruh suasana.  Diriku njelasin apa yg aku maksud.  En langsung deh tuh rumah jadi rame diskusiin masalah itu.  Tapi enak banget kalo lagi ngobrol.  Kadang2 diriku ampe marah2 ama papa, or ngotot sama mama, or nyuruh Nico diem (kalo dia enggak mau diriku pasang lakban di mulutnya...).  Well, thanks God.

Ga banyak keluarga yang bisa terbuka macam itu, en ga banyak yg sering ngabisin waktu buat ngobrol.  Aku punya temen yg keluarganya so akrab en deket.  Mereka bisa curhat kaya temen sendiri sama papa or mama.  Mungkin aku en nico bukan tipe seperti itu.  Ada keluarga yg bahkan ga pernah ngobrol sama sekali.  Well, kami tidak separah itu.  Kita emang ga pernah secara personal saling curhat, tapi yg jelas kalo lagi ada masalah, or lagi ada yg sakit, kita care for each other (meski kadang dismbut marah2 en komentar ga motivating seperti, 'Makanya laen kali kalo makan jangan telat.'  or 'Suruh sapa tidur malem2 terus, dolan sepanjang hari.'  *phew*

Oh.  Kalo gitu, biarkanlah kami berkampanye...  Partai Keluarga Kurniawan Sejahtera.  PKKS.  Contreng nomor 100!!!  Visi: Keluarga yang menjadi contoh dan teladan sebagai keluarga yg bahagia sejahtera, narsis dan ceria demi kemajuan bangsa dan negara.  Misi: (1) Mempromosikan kenarsisan nasional, (2) Mengajarkan memasak yang sehat dan enak bagi para ibu, (3) Membudayakan gandrung belajar en membaca bagi para pelajar en pemuda, (4) Menidakbudayakan (bahasa apa iki?) kebiasaan merokok (denger nih, Pa!), (5) Melatih kenarsisan para pemuda en remaja Indonesia. 

Merdeka!

GBU All!

PS: (1) Ternyata menyuarakan kebenaran itu ada enak dan ada enggak-nya.  Tapi diriku menikmatinya.  (2) Mungkin banyak yg seneng, tapi banyak juga yg bingung en kecewa: diriku ga jadi ke Cikarang.  So, diriku nyiapin diri buat job-hunting lagi... :p

Thursday, March 12, 2009

Otak mau meledak . . .

Halo.

Sudah delapan hari berlalu sejak posting terakhir. Diriku menyadari kalo akhir2 ini mulai kena sindrom males posting. Padahal walo ga posting di blog sendiri tapi diriku malah bikin blog buat GKI Pajajaran, en nge-update blog-nya SMAKINDO. Weleh.

OK. So, kalo ada yg baca status di FB-ku, diriku menulis, 'Daniel has made a big influential decision, ensuring himself that he has made a correct one.' (Kalo ga salah, aku sendiri juga lupa). Ada yg tanya keputusan apa itu. Let me tell you. Jadi kemaren jumat, seminggu yang lalu, diriku sudah ditelpon dari SMA TN, masih ada hubungannya dengan wawancara di TN, en pagi itu diriku diminta supaya malemnya nemuin satu dokter (yg notabene diriku kenal karena anggota GKI Pajajaran). Aku juga ga begitu tahu kenapa diminta buat tes kesehatan lanjut; moreover yg diminta tes lanjut cuma diriku seorang. Tapi setelah berpikir keras-namun-singkat semaleman, diriku memutuskan (dengan hembusan napas yg panjang dan berat) untuk mengundurkan diri. YES. Mengundurkan diri dari proses interview di TN. Entah gimana keputusan en proses selanjutnya. Diriku sudah ga mau dibebani dengan pikiran macam itu. Alesan mengundurkan diri: aku ga kuat fisiknya, en ga begitu siap untuk dikekang disana. Oke, diriku sudah siap dengan segala protes dari Anda sekalian.

Eniwei, tadi pagi, diriku dapet dua sms dari temen2 seperjuangan yg ikut wawancara di TN. Thomas en Christian sudah sms diriku: mereka cuman tanya apa diriku diterima or ga, en ngasih tahu kalo satu temen yg laen ditolak. Diriku cuman mbales, 'Oh. Aku belom ditelepon. Hari ini penentuannya ya?' Hehehe. Bohong. Padahal diriku sudah mengundurkan diri. Guys, kalo kalian baca ini, moga2 ngga kaget en berencana buat nimpuk sandal ke aku.

Betewe, sudah tiga hari diriku mencoba lari dari rutinitas en menjauhi kebosanan disamping bersembunyi dari ketakutan en tekanan hidup (halah! Lebay banget, padahal usia baru umur 23 tapi sudah kaya engkong2 umur 60 yg mau mati en ninggal banyak utang). Belom kelar masalah anak2 di sekolah yg keliatannya tambah mbandel en ga nyadar2 juga, diriku juga ditambah beban pikiran di gereja. Weleh. Plus, jangan lupa rencana buat memberi jawaban buat pekerjaan di Cikarang, or plan B, C, and D buat cari kerja laen. En di tiga hari ini diriku keluar malem terus buat makan or sekedar nongkrong. Di kepala ini banyak pikiran, jadi aku butuh refreshing. Not so Daniel, secara diriku sebener'e pelit en ga suka dolan2 malem2. Kan diriku anak yg rajin, yg terus belajar di malem hari, en meditasi di dalem kamar sambil hinggap di dinding, menjulurkan lidah menunggu lalat datang. Well. Setidaknya tiga hari (dua hari di 'kafe' en sehari di warteg sate) bisa mengusir sedikit kepenatan. Walo malah ditambah stress karena denger ketawa ngakak temen (baca: TiTi). Hehehe. Ga loh ti. Peace. I love you, Ti!

Sebagai seorang Daniel yg seorang melancholic-analyst, diriku selalu mikir en dipenuhi banyak pikiran. Bagaimana kalo begini en bagaimana kalo begitu. Jangan dibaca sebagai: khawatir. NO! Diriku ga khawatir tapi selalu pengin siap, en never wanna take the wrong step. Well, btw, diriku dididik di keluarga yg berprinsip: 'Jangan pernah menyesali keputusanmu!' (thank to my dad, mom, and li'l bro'). So kita sekeluarga ga bakal pernah khawatir or menyesal kalo sudah ambil satu keputusan. Misal: kita ga bakal nangis kalo sengaja mbakar rumah. Or, diriku bakal fine2 ajah kalo tipi di rumah rusak gara2 digebrak2 karena ga bisa nayangin channel luar negri (padahal pake antena lama), blahblahblah. Jadi banyak banget pikiran yg kudu selalu siap siaga waktu ditanya or diminta keputusan kita. Tapi begitu banyaknya pikiran juga kadang bikin otak ini overload. Ya, iya lah. Duh!

Diriku masih tenggelam di lautan idealisku. Ide2 en pemikiran baru, yg menurut diriku baek en revolutionary, terus muncul. Kadang diriku siap buat share those things to others that I believe, or that I think I need need to tell. But it is only 70%. Kadang diriku mundur lagi, kalo liat kenyataan bahwa those ideas is far from the reality. Diriku selalu pengin melihat perubahan. Diriku pengin begini, tapi diriku tidak siap untuk begitu. Why do I always have to meet the consequence? (*The other side of me has just said, 'Well, you have to! Duh!')

Ok. Stop the heavy talks. Info yg ringan adalah: diriku, en adekku, lagi tergila2 dengan America's Next Top Model. We love Renee!!!!! SO MUCH! Keren banget!!! Dua hari lalu diriku ngajak si Nico nonton bareng, en dia suka. Keren ya kalo mereka pas foto. Eh, btw kita nonton Cycle 8. Tiap kali kita liat si Dianne sok cool en protes, well kita ngakak terus ikut2an ngucapin dengan aksennya dia. 'We did?' 'That's cool, that's cool!' etc etc. Kaya'nya pembelajaran dengan ANTM ini bakal menambah kepribadian narsis kami. Wkkk.

So, world, prepare for the next level of Narcissistic Kurniawan Brothers! Beware! Beware!

GBU!

Friday, February 27, 2009

Do.Re.Mi.Fa.Sol

Halo.

Diriku kemaren malem ikut Pesparawi (Pesta Paduan Suara Gerejawi) GKI Klasis Magelang yg diadain di Parakan. Dua belas GKI (including some BaJem) ikut serta berpesta. Well... OK juga. Kata si Pak Yulius mah banyak kemajuan en ada yg memberi warna baru. Ada GKI Wonosobo Bajem Winongsari dkk yg dari desa2 yg notabene maen karawitan en nyinden en nyanyi lagu jawa. Meski kita semua ga mudheng mereka nyanyi apa tp menghibur banget. Lah gimana ga bikin ngakak sepanjang nonton mereka wong ada satu yg sengaja 'nyeleneh' gerakannya, malah ketawa-ketiwi sendiri... Weleh....

Well... Meski ga disebut siapa juara pertama kedua dst, kita semua sudah tahu dengan sadar en admit secara general bahwa GKI JenSud yg paling apik. Yah gimana lagi mereka memang sudah kaliber nasional (or mungkin bahkan internasional). Paling attractive en 'sangar'. Sangar kenapa? Karena mereka yg cewek berani pake tuh kostup top-tank, eh tank-top.... Wkkk... Maksudnya yg model tali2nan gitu deh (dua tali langsung ke rok... Hehehe... peace. Bercanda). Kita waktu pulang di mobil cuman bisa ngekek2 ndiri kalo ngebayangin PS Gloria yg cewek2 pada pake baju kaya gitu. Weleh. Pada muntah semua jemaatnya, en penyanyi pria pada semaput, pingsan waktu yg cewek2 pada angkat tangan.... Mhwahwahwahwa....

Betewe, diriku entah kenapa memang 'terbeban' (baca: niat en minat) banget buat terus terjun di PS Gloria. Jangan tanya kalo besok diriku melancong ke luar Magelang trus gimana.... *hiks, cannot imagine that* Diriku cuman punya satu mimpi: Gloria berani ambil stream lagu yg 'menantang' (misal lagu Goyang Dombret... eh, maksud'e lagu2 yg kontemporer en aransemennya agak High Level gitu) en berani goyang gergaji en pake koreograpi. Dari dulu awal pertama Gloria brojol lahir pelayanan mpe sekarang diriku aktip (meski beberapa bulan diriku hiatus waktu awal2 kuliah di Salatiga, en akhirnya bisa gabung lagi setelah mutusin untuk nge-Laju [yg salah satu alesannya emang supaya aku bisa terus Gloria *ck-ck-ck*]).

Diriku inget waktu awal2 diriku dipercaya untuk menghancurkan setiap aransemen dengan iringan asal jadi versi keyboard tunggal Pak Dankuur... Wakakaka... Kalo liat2 jaman dulu lagu2nya en iringannya diriku cuman bisa berdecak keras . . . CKCKCKCKCKCK . . .

Well, entah kenapa diriku kalo bicara musik secara keseluruhan pun selalu tertarik dengan berbagai jenisnya. Dari bayi jebrot diriku langsung nangis. Wasn't it a music? A song? :p Kemudian SD pun diriku dipercaya untuk maenin kentongan di grup ensembel. Wkkk. Kalo mbayangin saat itu diriku disuruh mukul2 tuh kentongan dengan biadab. Irama 3/4 jadi 10/12. Wkkk... Waktu SD diriku sudah peka terhadap teori musik (inget: teori-nya), tapi prakteknya diriku masih amburadul. Tapi diriku termasuk satu diantara puluhan anak yg sukses meniup seruling dengan indahnya, alhasil ni bibir jontor sekarang.

Waktu SMP-SMA, diriku mulai belajar maen keyboard, yg dulu paling suka eksplor intro-ending di orgen gereja. Bahkan diriku pernah maenin lagu mellow pake irama tango! Dahsyat! Diriku juga masih inget kalo dulu waktu SMP paling ga tahan liat piano di gereja kebuka, en maenin asal2an tuh piano (dulu kan ga sembarang orang boleh maen, en selalu dikunci, sekarang mah tuh piano sudah diperkosa sedemikian banyak orang). Diriku masih sering ketawa ndiri kalo inget2 jaman2 dulu yg maen begitu monoton en aneh, padahal sekarang juga tambah parah... Wkkk...

Well. Nda tahu kenapa bakat musik ini ada di dalem diriku en adekku. Kalo adekku memang suka nyanyi, en pernah minta diajarin maen keyboard, namun diriku menolak, en males. Wkkk. Tapi kalo liat papa-mama-ku, aku en adekku selalu heran. Kenapa? Karena mereka berdua ga pernah bakat musik. Aku juga keras2 menentang papaku nyanyi pake Mic kalo dia bertugas di mimbar sebagai Majelis. Bisa2 empat pilar gedhe super kuat di gereja langsung lebur kalo denger suara nyanyian papaku yg nyaingin suara bor listrik yg sekarang lagi dipake buat mbangun ruang kelas baru di samping kantor guru... Weleh... So, diriku en adekku dapet bakat en minat musik darimana? Apakah kami ini bukan anak orang tua kami? (Suara orang gila yg seenaknya menyimpulkan bahwa musik tuh bawaan genetis).

Well. Moto dunia bilang: musik menyatukan kita. Tapi kok di gereja malah ribut ndiri ya? Yang satu minta KJ harus begini dan begitu, sementara yg laen nolak mentah2 en langsung panas dalem, diare en demam berdarah kalo nyanyi lagu KJ... Weleh... Kenapa, oh, kenapa?

GBU.

Tuesday, February 24, 2009

Narcissitic Nico, en some thoughts bout my family

Halo.

Betewe pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima: diriku dapet panggilan interview kerja lainnya; ternyata diet golongan darahku (A) menganjurkan diriku minum kopi sebanyak-banyaknya dan pantang makan mangga (hiks...); diriku lagi (semakin) memikirkan dan membingungkan diri dengan plan hidup ke depan; aku menyadari kalo beberapa anak (ga' semua juga) didikku ternyata care 'en really enjoy my teaching (and do hope that I stay here next year); adekku nico masuk final kompetisi story-telling di satya wacana (yg diadakan oleh ED [viva ED!]) en notabene tuh skrip story yg dia pake adalah skrip drama yg dulu berhasil bikin penonton di kelas drama-ku ketawa ngakak sampe berbusa gara2 melihat diriku jadi makhluk imbisil berkulit ijo: buto ijo.

Well, heran juga buat poin terakhir. Jadi aku tau kalo adekku bakal ikut tuh lomba, en dia emang udah maksa, merengek sampe berguling2 en ngancem bakal bunuh diri setelah membakar semua harta bendaku (lebay banget...) kalo aku ga bantuin dia bikin skrip buat story-telling. Nah, diriku cuman ngasih skrip drama lamaku. Sampe H-1 pun kaya' nya dia blom siap. En baru (seperti biasa) merepotkan seluruh penghuni rumah dengan cari2 properti buat perform dia: blangkon, gigi palsu, syal, dll. Aku juga tau bahwa dia bakal disuruh nyiapin lagu OST buat di paraphrase and tell jadi story. En, ternyata di malem hari sebelom berangkat pun dia belom nge-print.... dueng!

Tapi hari-H aku heran karena dia lolos sampe final. Katanya dia lucu, en berhasil menghibur (ini karena dia-nya or karena skrip drama yg emang idenya brilian ya? Hohohoho...). Tapi yg bikin diriku lebih heran adalah: kenarsisan en keberaniannya.

Kalo aku liat keluargaku: aku, nico, mama, papa, en beberapa kecoa di atas atap, kayanya emang secara genetis saling menurunkan sifat (ya iya- lah!). Aku en nico sedikit banyak suka hobi yang sama: ngibul, nyiksa, en menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin... halah... ga... Kita ternyata common interest-nya sama: game yg fantasi, komik en bacaan yg scientific en fantasi juga, en banyak filem or laennya yg sejalan. Bahkan pelajaran pun kita sama2 suka sains, matematik, en English. Well, tapi yg bikin beda adalah faktor: confidence.

Meski aku mengakui bahwa Dankuur itu mengidap narsis lepel 5, tapi tidak senarsis en se-pede adekku kalo disandingin en disuruh perform di depan orang banyak. Kalo diriku bakal shake my legs, en malah jadi dansa tap, tapi kalo nico bakal langsung menggila en ngonyol... Aku setipe dengan mamaku (yg pemalu, susah ngomong, en lebih banyak diem [ah, masa?]), sementara Nico diturunin papa yg lebih open en fun. Muka pun kaya'nya emang diriku dapet muka mama, en niko dapet muka papa, yg in fact banyak orang ngira diriku nurunin papa gara2 cuman kacamata-nya doang...

Well, emang banyak yg lebih muji nico, apalagi kalo bicara tentang tampang... *banting kursi, banting meja, pukul dinding, lempar laptop... oops, ga jadi yg terakhir* Tentang ke-PeDe-an pun diriku mengaku kalah. Kalo masalah inteligensia: aku kalah setelah Nico menembus olimpiade matematik kemaren. Tapi diriku enjoy kalo lagi share tentang soal2 matematik or yg laen. Weleh... Kakak-Adek yg nerd... Hohoho... Kalo masalah kreatipitas tetep diriku yg lebih canggih, apalagi kalo sudah disuruh lomba desain. Yg ada cuman diriku ketawa sadis kalo liat hasil karyanya... Hehehe...

Betewe, diriku paling jengkel kalo liat en investigasi kamera-ku. Jijik banget liat foto2 narsisnya dia di rumah. Puluhan foto diem2 dia ambil kalo lagi sendirian, or bahkan lagi ada mama, dia tetep narisi, entah pake jumper, pake topi, bawa bunga... najong! Liat aja FS-nya dia yg super narsis, apalagi komentar dirinya sendiri, ngga' banget.

Well, eniwe, diriku bersyukur punya adek yg kaya gitu. En diriku jg bersyukur tiap malem bisa gangguin, nggelitikin, nendang, mbanting Nico yg lagi tidur... Hohoho... Memang kadang kita juga sering musuhan, mutungan, diem2an mpe berhari2 betahun2 en berabad2 (emang fosil?). Tapi kayanya kita sama2 saling care en respect each other. Diriku masih inget waktu dia nulis siapa yg dia kagumi en jadi inspirasi: guru-guruku en my brother... *sob*

GBU

Tuesday, February 10, 2009

Ternyata diriku ngefek...

Halo.

Masih empat hari menuju hari minggu, when I will go to Cikarang. Yang buat diriku tambah was2 adalah: belom ada panggilan lanjut tentang rincian micro teaching dari Dian Harapan. Padahal njanjiin awal minggu ini at least.... Duh... jangan2 diriku dicancel untuk interview, or jangan2 Dian Harapan sedang kebanjiran, or jangan2 mereka tahu kalo diriku sebenarnya spesies silang manusia-kaktus-sapi...

Betewe, diriku sudah mencoba merahasiakan kepergian temporer ini buat wawancara, tapi ga berhasil. Banyak yg sudah tahu. Reaksi mereka: duh, bingung mo doa gimana ini...

Tuh jawaban yg paling lazim en paporit diantara temen2 gereja. Ada yg malah langsung bilang: 'Ta' doain biar ga ketrima, soal'e we need you in Magelang, really need you!' Weleh...

Kemaren malem pun, waktu rapat PS Gloria (yg notabene seperti biasa penuh makanan lezat dan memuaskan perut [malah perutku terlalu full]), diriku juga bingung sendiri waktu ditunjuk jadi panitia kecil untuk persekutuan-refreshing-pelayanan Gloria di Solo-Tawangmangu. Kalo diriku jawab 'ngga' pasti ditanya2. Cuman Koh Kris yg nanya pelan, 'Masih di Magelang nda?' Diriku juga nda bisa jawab pasti tuh pertanyaan macam itu. Emang diriku sudah pasti pindah Cikarang?

Waktu makan malam (wenak tenan...), diriku cuman bisa bisik2 di belakang sama Koh Halim (yg jadi koordinator, en langsung nemuin aku, en minta supaya aku ngonsep acara refreshing-nya). Aku akhirnya menceritakan itu, dan dia langsung jawab: 'Duh, Dan, jangan pergi.' Waktu Koh Halim (yang parahnya) menceritakan ke Kak Larry (yg sudah tahu sebelumnya), dia juga bilang, 'KaPe (baca: Komisi Pemuda) bakal bener2 kehilangan Dankuur... Gereja juga.'

Di satu sisi, diriku sedih, di sisi lain diriku seperti biasa narsis... :p hohoho... Tapi emang diriku jadi bergumul lagi. Aku egois nda' ya kalo gini. Biasanya kalo ada yg pindah ya nda seheboh ini deh. Yg dulu2 juga ga kelihatan heboh. Tapi kok Dankuur, kenapa jawaban en respon-nya gitu ya? Padahal diriku juga ga' nganggep diri ini begitu spesialnya (baca: istimewa) di gereja, di komisi pemuda, di mana pun. Diriku cuman orang biasa, pemuda biasa, yang suka maen laptop sambil baca sambil makan, yang suka males2an, yang suka nunda pekerjaan, yang suka marah-marah, yang suka curhat...

Habis makan, Tante YangYang, yang juga ternyata sudah denger en tahu kalo diriku mo nyoba ngelamar di Cikarang juga nyempetin tanya (sambil ngalihin pembicaraan tentang toko tempat jual hem yg murah), 'Dankuur mau ngelamar dimana toh?' Waktu denger jawabannya Cikarang, spontan jawabannya, 'Waduh. Jauh banget. Wah, eman ni Dankuur pergi...'

Well... Diriku malem itu pulang sambil merenung sambil bawa motor di tengah sunyi en gelapnya malam. Ini dulu sudah pernah terjadi waktu aku mau keluar dari SMPKI, tapi cuman dua guru yang nyeselin kepergianku... Sekarang banyak yang 'sedih'. Diriku 30% narsis, tapi juga bergumul banyak 70%-nya (which is 35% thinking about whether I would survive in the adaptation and 35% thinking about whether I am egoistic or not to leave Pajajaran).

Eniwei, diriku tar malem mo hunting baju hem buat interview, sekalian nambah koleksi di lemari... Oh, ya, aku juga udah dapet travel bag koper pinjaman. At least, ga usah beli dulu... Tapi tar ne ketrima juga pasti bakal beli... Dari dulu emang pengin beli travel bag... 300rb... huhuhu...

Sunday, February 8, 2009

Dari Mejik sampe Farewell

Halo!

Diriku semakin dag-dig-dug. Apalagi nunggu telpon selanjutnya dari Cikarang. Katanya sih mau ditelpun lagi buat konfirm kepastian kelas en materi buat Micro Teaching. Hopefully it won't be on the last minutes.... Hi....

Betewe, diriku semakin yakin bahwa living in a dorm matters much for theology students. Keliatan banget mana yg lulusan SAAT Malang, mana yg dari F.Theol Univ. Kristen laennya (in this case: UKDW and UKSW). Weleh, pengalaman kemaren minggu membuat semua pemuda (en jemaat umum) berpikir ulang. Buat yg pengin tahu lebih lanjut, silahkan email saya, akan saya ceritakan, karena nda' etis ngomongin disini... :)

Betewe, diriku kemaren Jum'at, bersama dengan adek and papa-mama menghabiskan waktu malam bersama di depan tipi mpe midnight. Ngapain? Nonton The Master. Kueeeereeen.... Kayaknya emang bener keluargaku suka hal2 yang berbau mejik2, meski versinya en preference-nya beda2. Tapi bukan berarti kami ini praktisi mejik or pesulap or yg begitu terobsesinya dengan hal semacam itu. Aku en adekku paling suka maen game or baca komik yg berbau mejik. So cool kalo ada character yg bisa cast magic, or kalo ada yg kudu work hard to improve his level and gain new spells... wohooo.... Kalo mamaku masih meng-afdol-kan kepercayaan macam itu, tapi bukan berarti dia sering ikut2an. Kalo kita lagi liat misalnya tentang orang yg percaya perdukunan or shio or zodiac, adekku en aku langsung nolak keras, tapi mama mesti bilang kalo kaya gitu ya terserah orangnya mau percaya or ga... begitu. Kalo papaku: dulu percaya, tapi sejak jadi Kristen sudah tobat en meninggalkan tetek bengek macem gitu... Puji Tuhan.

Oh, ya, diriku selain menunggu minggu depan, juga menunggu tgl 5 Maret: Premiere KAMBING JANTAN the MOVIE! Aku sudah lihat trailer-nya di blog-nya si Radith. Eh, tapi kok ga keliatan sebegitu lucu-nya ya, dibanding novel aselinya. Cuman berharap banyak semoga si sutradara, plus Edric bisa give something more and plus for this movie. En jangan sampe ngerasain kecewa waktu nonton Harry Potter sagas dll (but not Lord of the Rings, kueren!).

Eniwe, diriku mo berterima kasih sangat buat temen2 yg selama ini sudah support en ternyata care (woloh, ini kaya mo pisahan ajah). So begini maksudnya. Motivasi (topik yg dibahas waktu kemaren Persekutuan Doa) sebener'nya bisa dateng darimana aja: orang, benda, tempat, hewan... En diriku akhir2 ini ternyata dapet motivasi dari orang2 laen. Misal, si FeFe en NatNat yg gara2 kubebani dengan membaca emel yg panjang ternyata pernah bilang, "Dankuur ternyata care pemuda, en betewe, your English keren!" Weleh... Tersanjung en kepala hampir meledak ni... Terus waktu kemaren share bahwa tgl 15 mo ke Cikarang, eh beberapa juga bilang ga mau kalo aku pergi. Tapi yg satu ini entah karena emang ga mau jauh dariku (hohoho... narsis'e pol), or karena pengin memanfaatkan en mem-pekerja-rodhi-kan diriku lagi... (hehehe...). Yet, at least, diriku merasa bahwa there is something with my existence. I give something for others. There will be something missin when I'm not there anymore. *Phew*

Diriku ga bisa ngebayangin gimana jauh dari temen. Indeed: I hate farewell... Diriku juga ga cuman mikirin keluarga en sohib akrab en deket. Tapi juga anak2 KTB-ku yg akhir2 ini entah kenapa diriku makin terbeban en care sama mereka. Juga murid2ku yg sekarang (some, honestly, not all)... Well... will gonna miss u all if it really happens that i have to go, wandering somewhere i don't know... Halah!

OK, daripada ngayal yg tidak2 mending let me stop here, and continue downloading some mp3s... Hehehe....

GBU All!

Tuesday, January 27, 2009

On Chinese New Year

First, Gong Xi Fat Choi. 

Aku juga ga' tahu tuh terjemahannya apa, tapi artinya secara kasar 'Minta Angpau, dong.'

So, kemaren Senen, diriku, yg notabene masih a Chinese-descendant dan punya darah keturunan (seperti yg ditanyain sama petugas pembuat rekomendasi SKCK dari Polsek) dan punya kulit cerah seputih mayat, bersama keluarga muter2 ke sanak sodara terdekat. Sudah ga' serame dulu sih, tapi masih ada ritual nunjukkin kepalan tangan itu nantangin berkelahi.

Tapi tahun ini, diriku makin benci yg namanya imlek-kan. Kenapa? Karena posisi diriku sebagai penerima Angpau makin terancam. Dianggep sudah jadi penghasil uang (karena terima gaji pekerjaan), aku makin sedikit menerima amplop merah itu. *sigh* Mending ga' usah acung-kepal sekalian (wooo… motivasi yg salah, becanda pemirsa sekalian…). Yah, kalo orang2 kaya sih, tiap tahun tetep juga bagi2 angpao, ga kenal siapa yg sudah or belom kerja. Tapi, karena keadaan keluarga (besar) yg memang ga' ada yg ditakdirin jadi pengusaha, or pejabat, or koruptor, yah alhasil nerimo… sak ikhlasipun bapak, ibu…

Betewe, kami (aku en sodara2 sepaha) sempet ngumpul di satu rumah sodara yg sudah jadi senior gara2 disitu ada satu2nya emak yg survive, sementara yg laen sudah punah. Yg sempet jadi artis sehari adalah adekku. Kenapa? Karena dia sedang sakit, ga' tahu sakit apa-an, yg jelas kulitnya penuh bercak2 merah… Mungkin sudah saatnya dia ngaku kalo dia alien dari Pluto.

Semua orang pada nanyain, "Loh, Nico, katanya kemaren sakit, ga dateng kumpul2 keluarga tadi malem, ya?", or yg laen nanya, "Sakit apa toh? Apa alergi? Kemaren makan apa?" Langsung pada jawab sendiri2 sementara adekku cuman dikasih kesempatan buat meringis2 bingung. "Alergi udang? Ato telor? Ato apa? Diinget2, kemaren makan apa sebelom sakit…" Aku cuman bisa ikut2an njawab, "Makan tikus, kecoa, bangkai cicak, bekas plastik…"

Yang laen pada ngusulin, "Ayo, diminumi aer kelapa muda," padahal ada yg bilang, "Jus jambu muda ajah… Biar racunnya keluar dulu, manjur loh!" Aku bilang, "Udah, minum detergen campur minyak jelantah… lebih ga' pait daripada minum Baygon."

Masih di tempat yg sama, kita ngobrolin si emak senior yg sekarang sudah sukses jadi pikun total (bahkan sama si anak-nya pun ga' kenal). Bukannya 'sopan', malah sodara2 (ponakkannya si emak) pada ngerjain. "Ini istrinya yah?" tanya si emak, waktu satu ponakannya dateng bawa anak ceweknya, dan si ponakan cuman jawab iya-iya sambil cengengesan. Lucu juga waktu diceritain kalo si emak bisa makan habis semua jatah makanan yg tersedia. Wah, keren dong, kapan2 aku coba kasih bolu sampah ah…

Tapi disela2 pada ngerjain, sodara2 ku ada yg bilang, "Ih, kalo tua kita kaya gitu yah… Pikun… Keriput…" Aku ikutan mikir. Kalo keriput mah, sekarang juga udah muncul. Kalo pikun. Lupa ingatan. Aku paling fobia. Aku ga' bisa bayangin kalo besok aku tua, terus ga inget apa2 or siapa2. Ga inget jati diriku sendiri juga. Aku bakal lupa ingatan kalo dulunya aku adalah seorang kapiten dari anak pelaut. Aku bakal ga pernah inget kalo Harry Potter dikarang JK Ro, or kalo Paulo Freire tuh nulis buku Deschooling Society, or kalo Vanessa Carlton tuh yang nyanyi A Thousand Miles, bukannya When You Believe. Or… or… or… TIDAAAK!!!!!

Well, eniwe, diriku pulang dari tempat sodara senior itu dengan satu kebanggaan karena sudah bisa menaklukkan ego en kesombongan diri; tadinya aku ga' mau dateng kesitu karena kasus lama yg bikin diriku menjauhi satu sodara yg ada disitu, en juga aku sudah lama ga' pernah ikut kumpulan keluarga karena takut luka lama itu nyeri lagi tiap liat orang itu. Aku juga selama ini kalo ketemu di gereja pura2 ga liat orang itu. Menjauh, menghindar. Lah enak sekali dia katanya sudah lupa, ga inget, or malah ga ngerasa pernah menyakiti, padahal diriku ini sudah dipermalukan en disakiti di depan orang banyak. Weleh… Yah, enak sekali dirinya berkata lupa, sementara luka di hatiku terlalu dalam…. 

OK, enough for today. Sekali lagi Gong Xi Fat Choi (you r blessed kalo dapet angpao banyak, jangan lupa perpuluhan buat Tuhan dari angpao…. wkkk…).


PS: Angpao-ku sudah habis buat bayar utang... :p Wkkk...

Saturday, October 4, 2008

Keluarga yang Aneh

Well, bulan ini dua anggota keluargaku kompakan ultah, meski ga bareng. Siapakah mereka? Eng, ing, eng… jeng-jeng-jeng: kecoa di atas atap en kalajengking di bawah kasurku… Ga’ lah: Papa, Mamaku. Mama ultah awal September, sementara Papa akhir September. Tanggal pastinya? Bentar, aku lupa. Harus lihat di reminder HP dulu… :P Emang parah. Ga pernah hapal tanggal ultah anggota keluarga sendiri, but my brother’s.

So, baru dua tahun ini aku lebih perhatian ke Pa+Ma. Tahun lalu, aku beliin martabak manis en roti bakar bandung, yang notabene emang lebih makanan kesukaan aku en adikku… hahaha… dan ternyata mama selalu bisa menebak kelicikan aku. So, habislah kedua kue manis-en-lezat itu di tangan Dankuur dan Adiknya yang gila (baca: rakus) makan…

Tahun ini, plan awalku simpel: dinner bareng keluarga yang sudah lama aku mimpikan. Tapi, sayangnya tidak semudah itu. Ini minggu yang sibuk buat keluarga: aku harus nyiapin banyak hal buat camp, kerjaan, en nge-MC kebaktian besok minggu; papa mungkin bakal sibuk dengan kerjaan di toko kerjanya, lebaran getoh; mama setia nyante di rumah menikmati indahnya kotak-ajaib (baca: TV) sambil setia menonton sinetron busuk-dan-menjijikkan-dan-membosankan; dan Nico (adekku) ga jelas rimbanya setiap malem terbang melayang dan tertelan gelapnya malam, melolong di atas atap rumah…

Oke, so, kemaren ide mendadak tiba2 muncul: malem harus makan bersama, di SS, tempat maka-ayam-goreng-plus-sambal-pedas paporitku, jam 8. Kenapa jam 8? Karena aku ada latihan di STT Wesleyan buat hari sabtu besok. So, satu2nya jam yang bisa adalah jam 8. Jam 4 aku pergi ke gereja, langsung sms papa…

Aku: nanti malem jm8 makan brg di ss bs pa ga? (SS tu nama resto’ sambal di magelang)
Papa: makan brg dlm rgka apa? sopo wae yg makan?
Aku: ya ultah’e pa+ma. skluarga lah.

Papa meng-iyakan, masalahnya adalah: motor cuma punya satu, sementara jumlah orang di dalem keluarga ada empat. Kan ga’ lucu juga kalo ada empat orang satu motor, ntar dikira kita lagi kampanye bulan kawin kucing… So, papa usul pinjam motor orang laen, dasar papa… Tapi aku karena baek hati dian pemalu dan tidak narsis akhirnya tidak berani berkata dan meminjam.

Jam 7 (waktu masih latihan di STT Wesleyan) ada sms dari papa: mama sdh mkn, jd ga ikut. kita bertiga sj. There’s a lump in my throat and a knot in my stomach (artinya: nggonduk). Payah banget sih, kok kaya gitu. Aku sudah niat2 buat ngajak makan, eh, malah mama ga ikut. Kan bisa aja tetep berangkat bareng, dia ga’ makan tapi sekedar minum juga ok. Naturnya Mama: orang rumahan yang ga suka pergi or dolan.

Aku nda’ bales. Selese latihan jam 8 pas, langsung ke gereja. Karena lagi2 rikuh, mau pinjem motor siapapun akhirnya nda jadi. So, aku balek aja jalan kaki. Waktu di tengah jalan, papa telpon. Sambil agak marah, karena ternyata papa sudah ada di gereja sama adekku nungguin. Jadi ternyata aku pulang, papa ke gereja. Masa mau boncengan bertiga? Dah ga kuwat tuh motor lawas diperkosa oleh kami bertiga. Aku diminta tunggu di tengah jalan, karena papa mau jemput.

Beberapa menit papa en adekku emang dating, terus akhirnya kami jadi memperkosa motor kami bertiga. Tapi eh, kok ga melaju ke SS tapi balek ke rumah? Sampe di depan gang rumah papa turun, en ngasi motor ke aku.

Papa: Sudah kamu berdua aja makannya.
Aku: Nda mau! Mending pulang!

Aku turun en jalan ke rumah. Sampe rumah pun masih rame. Aku disalahin gara2 nda mau pinjem motor. Adekku bela2in aku. Mama pun dengan tidak berdosa-nya bertanya2 kenapa ga jadi pergi. Heh? Tambah jengkel en aku langsung lompat ke kasur empuk mamaku sambil baca komik. Ndiemin keluarga yang aneh.