Showing posts with label Coretan. Show all posts
Showing posts with label Coretan. Show all posts

Monday, July 25, 2016

Dokter Gigi Saya Panuan!

Saya mengunjungi dokter gigi langganan saya pagi itu, satu-satunya waktu saya bisa janjian dengan si dokter. Keluhan umum, gigi lubang, dan linu. Minta dibersihin dan ditutup saja. Dokter gigi saya adalah teman saya, dan kami sering sharing cerita. Alhasil pagi itu jadi sesi pemeriksaan sekaligus berbagi curhat seperti biasanya.

Dia menasihati saya cara untuk merawat gigi saya. Dia kasih wejangan supaya badan saya lebih utuh sehatnya, salah satunya dengan menjaga kebersihan mulut dan gigi.

Beberapa chit-chat dan curhat lain berlalu, sampai pada giliran dia curhat bahwa sudah lama dia menderita penyakit itu: panu. Saya shocked. Saya tidak terima. Saya protes ke dia. Bagaimana mungkin seorang dokter, meski dia spesialis gigi, tapi tidak merawat diri. Kotor. Tidak sehat.

Intinya saya tidak terima dan menganggap dia gagal sebagai seorang dokter karena ternyata dia sendiri tidak utuh menjaga kesehatan tubuhnya. Kemudian saya seketika itu juga pergi meninggalkan si dokter gigi, yang melongo karena saya ngeloyor pergi tanpa bayar.


Oke, terkesan lebay. Dan memang itu hanya fiksi. Tapi, pesan yang ingin saya sampaikan bukan khayal semata. #oposeh

Dasarnya, kami berdua sama-sama sakit. Tidak sehat. Butuh disembuhkan, meski jenis penyakit yang mengganggu keutuhan sehatnya badan kami berbeda. Tapi, kembali lagi, kami sakit.

Dan teman saya yang dokter punya niat yang baik. Menasihati saya, dengan menunjukkan atau mengidentifikasi sakit saya serta memberikan saran supaya saya bisa lebih menjaga kesehatan diri saya. Tapi saya? Entah terlalu naif (1) menganggap bahwa dokter terlalu sempurna untuk tidak diijinkan sakit atau harus 100% protektif terhadap dirinya sendiri, atau (2) ngeyel bahwa hanya orang yang sempurna well-being-nya yang boleh memberikan nasihat untuk hidup sehat bagi orang lain.

:) 

Terkadang niat baik kita untuk mengidentifikasi dan menunjukkan apa yang salah buat rekan kita dianggap sebagai niat judging yang menyakitkan hati. Abaikan cara penyampaian, dan mari menganggap bahwa kita sudah menyampaikannya dengan pendekatan yang tepat dan sopan.

Menyadari bahwa kita ini sama-sama manusia, yang memiliki ketidaksempurnaan masing-masing dan level kebobrokan sendiri-sendiri, tidak berarti kita kemudian tidak punya hak untuk memberikan komentar, masukan, dan nasihat untuk orang lain.

Memang terkadang mereka terlalu sotoy untuk menasihati, sehingga bisa saja terkesan judging, karena alih-alih mencoba ‘mendiagnosa’ dengan lengkap dan mendengar cerita dari diri kita, mereka terlanjur asik dengan segala pandangan mereka.

Mau jenis sakit dan penyebab sakitnya apa pun, naturnya sama. Tidak ada yang sempurna sehatnya. Bobrok sebagian, atau malah sudah parah bobroknya. Rusak. Tidak pernah 100% baik. Berdosa. Dan merindukan kesehatan. Kesembuhan. 

Harus 100% baik baru boleh menasihati? Harus sinless dan perfect baru boleh saling mengingatkan dan saling ‘menegur’ bahwa pola hidup kita ini sedang mengarahkan kita untuk makin sakit? Atau malah, menutup mata, menganggap bahwa semuanya baik-baik saja, dan tidak perlu saling mengingatkan bahwa kita sakit (dan bisa jadi makin parah sakitnya), kemudian hanya mencoba fokus pada hal-hal yang positif lainnya?

Hanya karena dokter gigi saya sakit (panuan), bukan berarti dia tidak boleh memberikan masukkan kepada saya tentang bagaimana berupaya lebih menjaga kesehatan (area mulut dan gigi) saya.

Saya berterima kasih untuk semua sahabat dan rekan yang sudah membantu saya melihat bagian mana dari diri saya yang sedang tidak sehat, dan terlebih berani menyampaikan dengan terang-terangan bahwa saya sakit.

Maaf kalau saya pernah membuat siapa pun di sekitar saya merasa tidak nyaman bahkan sakit hati karena saya terlalu terang-terangan menyampaikan hasil diagnosa saya, salah sasaran memberikan nasihat atau tidak mulus pendekatannya untuk mengingatkan bahwa teman saya punya penyakit yang harus dibereskan.

Saya hanya ingin kita semua berjuang, tidak menyerah melawan penyakit kita. Jadi, terima kasih juga untuk semua sahabat yang mau berjuang bersama, untuk makin sehat wal 'afiat.

Semua orang sudah berdosa dan jauh dari Allah yang hendak menyelamatkan mereka. ~ Roma 3:23

~

Tulisan ini didedikasikan untuk seorang dokter gigi, sahabat dalam Kristus yang tangguh. Yang tidak pernah kelewatan kesempatan untuk mengingatkan saya kebutuhan saya untuk terus rajin check-up dengan Dokter yang Agung itu.

Thursday, January 7, 2010

Dan's Story: Angels without wings

[For FB user please click here, please, please, please...]
[Cerita ini salah satu cerpen saia yang ditulis sebenernya buat naskah soliDEO bulan September 2009. Tapi karena satu dan lain hal jadi batal diterbitkan... Enjoy it, n plis feel free to leave your comments.]



ANGELS WITHOUT WINGS

Abe

Oke. Siang ini cukup dingin. Dan aku menunggu teman-temanku disini, di depan kantin sekolah. Dan aku agak capek. Dan Victor sedang membeli pop juice. Dan Roni, masih Roni masih belum nampak. Dan aku cukup kesal dengan Roni.

Kemarin dia tidak datang pertemuan KTB. Alasannya simple: dia pergi main dengan teman-temannya yang lain. Dan aku sempat melihat dia merokok di satu warteg waktu aku pulang dari gereja. Yah, memang agak susah, dan aku sudah lama bersabar. Waktu ku-SMS pun balesannya cuma: He4… Sudah beberapa kali dia makin malas, dan dia (yang aku takutkan) makin tertarik untuk kembali ke kehidupan tidak jelasnya yang lama.

Itu dia. Roni, berjalan tersenyum padaku. Aku mencoba memasang senyum juga, tapi susah. Tapi okelah, kupaksa mulut ini tersenyum. Oke, biar aku interogasi dia. ‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ dia memulai menyapa.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ Aku bisa melihat Roni kaget, dan senyumnya melemah.

‘Eits…’ Roni mengacungkan jarinya ke atas, di depan wajahku, seolah menyuruhku diam. ‘Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Dia tersenyum lagi, meringis lebar. Ada yang mengalir deras di dalam diriku, ke kepalaku, dan semakin memanas.

‘Hei, itu Victor!’ Roni mengalihkan pandangan ke samping. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku tidak tahu apa yang membuat tanganku secara refleks mengepal, kemudian melayangkan tinju itu ke muka Roni. Dan aku tidak peduli ketika Roni mengaduh keras. Aku tidak peduli ketika dia terjungkal, jatuh terduduk. Aku tidak peduli ketika Victor berlari kaget melihat kejadian itu. Dan aku tidak peduli beberapa anak yang terkaget. Aku tidak peduli dengan ketidakpedulianku. Dan aku berjalan, masih dengan kepala panas.

Roni
Hari ini kami—aku, Abe, dan Victor—mau pergi bareng ke distro baju, buat pesen kostum klub basket kami. Mereka pastinya sudah menunggu di depan kantin. ‘Hei! Sampai ketemu nanti malam. Di warteg Ndeso Gubug itu lagi, kan? Oke, man?!’ aku berteriak pada teman-temanku, dan melambai, sambil berlari kecil meninggalkan mereka yang masih di depan kelas.

Itu dia, Abe berdiri disana. Tapi mana Victor? Kami mau naik mobil Victor. Yah, semoga kostum itu cepat jadi. Sudah lama kami merencanakan ini. Dan desain buatan Abe keren. Aku tersenyum pada Abe. Dia melihatku dan membalas senyum yang aneh.

‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ aku bertanya. Tapi Abe bukan memberi jawaban yang semestinya. Dia malah memasang tampang galak itu. Dan mulai memberondong aku dengan ucapannya.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ aku kaget. Dan mulai bingung. Tidak bisakah Abe santai sedikit. Lagipula bukan urusannya kalo aku ngerokok dan kumpul bareng-bareng temen band lamaku. Oke. Mari cairkan suasana ini. Aku mengacungkan jariku, mencoba menyuruhnya diam, stop, dan mendengarkan aku.

‘Eits… Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Aku tersenyum, dan menoleh, mencoba mengalihkan pandanganku. Itu dia Victor. ‘Hei, itu Victor!’ aku berkata. Dia membawa satu cup pop juice di tangannya. Semoga dia membelikanku satu. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku kembali berbalik pada Abe, mencoba bertanya, tapi tiba-tiba saja, semua terasa sakit, hidungku panas. ‘Ouch! Aduh!’ Aku terjengkang ke belakang, duduk di lantai. Mencoba memandang ke depan, pada Abe yang sudah berjalan cepat pergi, sambil mengusap-usap hidungku. Tidak ada darah. Tapi sakit sekali. Kulihat Victor berlari, dan mendekat, membantuku berdiri.

‘Apa yang terjadi? Kenapa Abe?’ dia bertanya padaku kebingungan. Tapi aku juga sama bingungnya.

Victor

Tiga pop juice. ‘Trims, mbak.’ Kataku pada mbak penjaga kantin. Aku, Abe, dan Roni siang ini mau pergi ke distro tempat kami akan memesan baju basket untuk klub basket gereja. Aku berjalan pelan, sambil menyeruput juice apokat yang kupesan. Itu mereka, Abe dan Roni di depan sana. Rupanya Roni sudah datang. Kulihat Roni berbicara pada Abe, dia menoleh ke aku. Aku tersenyum. Mengangkat dua cup yang aku pesan untuk mereka. Hei. Kenapa itu?

Aku melihat jelas Abe yang memukul Roni, tampaknya cukup serius, dan keras. Ouch. Sepertinya sakit. Oh. Roni terjatuh. Aku harus menolongnya. Aku berlari cepat. Kenapa Abe? Tidak biasanya dia bisa memukul orang seperti itu. Apalagi Roni. Mereka kan sahabat dekat.

‘Apa yang terjadi?’ Aku bertanya, sambil mencoba membantu Roni berdiri sementara dia mengusap-usap hidungnya yang memerah. ‘Kenapa Abe?’ Aku kebingungan.

Roni

Well. Rencana batal. Victor mengantarkanku pulang. Aku masih bingung kenapa Abe memukulku. Memang apa salahku? Aku mencoba memikirkannya. Apa gara-gara aku sudah lama tidak datang kelompok KTB. Tapi apa sebegitu pentingnya sampai dia marah begitu? Aku duduk terdiam, di samping Victor yang menyetir mobilnya.

Ringtone sms HP-ku berbunyi. Aku membukanya. Dari Abe rupanya. Menyebalkan.
Ron. Sori. Ga maksud ky gt. Ok. Sori y. Hidungmu gpp?
Menyebalkan. Aku cuma bisa membalas pendek: ‘Y, gpp’. ‘Dari Abe. Minta maaf.’ Aku memberi tahu Victor walau dia tidak bertanya.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ dia bertanya. Aku menghela napas sebentar. Mengusap pelan hidungku yang walau sudah tidak sesakit tadi tapi masih nyeri.

‘Dia tadi…’ aku mulai menceritakan kejadiannya.


Victor

‘Dari Abe. Minta maaf.’ Itu yang diucapkan Roni tiba-tiba ketika HP-nya berbunyi. Aku mengantar Roni pulang. Tidak jadi pergi ke distro. Mending biar dia istirahat dulu. Aku masih shock juga tadi Abe bisa memukul si Roni. Jarang-jarang.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ aku bertanya, mencoba cari tahu alasannya.

‘Dia tadi bertanya padaku,’ jelas Roni yang mengusap hidungnya, ‘kenapa kemarin aku tidak datang KTB, dan kenapa aku malah kumpul dengan teman-teman bandku. Mungkin dia marah karena itu.’

‘Ah, ga mungkin cuman karena itu.’ Aku mencoba membela Abe. Aku juga tahu seperti apa itu Abe.

‘Well, kenapa ya?’ Kulihat Roni mencoba berpikir. ‘Tadi aku coba menjawab, supaya dia tidak terus-terusan menyalahkanku. Aku menyuruhnya supaya tidak marah padaku. Biar Tuhan saja yang marah. Dan dia tiba-tiba memukul hidungku ini.’

‘Oh,’ kataku dengan paham. Aku mengangguk dan tersenyum. ‘Bodoh. Kamu yang bodoh.’ Kulihat Roni kaget dan bingung. ‘Seharusnya itu kamu jangan pernah ngomong itu. Kamu sahabat dekatnya Abe, kan? Apa Abe belum pernah cerita? Oh, kamu tidak datang waktu KTB, waktu dia share cerita itu.’

‘Cerita apa?’ Roni bertanya makin bingung. Aku menjelaskannya, mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dulu disharingkan Abe.

Roni

Oh. Jadi begitu. Abe memberi tahu cerita panjang itu. Aku tahu kenapa dia jadi marah, yang tidak biasa buat orang semacam Abe, dan kenapa dia menonjokku.

Abe dulu berteman dengan Johan, di kelas satu SMA, sebelum dia berteman denganku. Johan tidak jauh beda denganku, atau malah lebih parah. Lebih nakal. Lebih badung. Suka ngebut-ngebutan. Dari SMP memang sudah dicap anak nakal dan terkenal diantara guru. Kok mau ya, Abe berteman dengan Johan. Aku berpikir. Eh, kok mau juga ya, Abe berteman denganku?

Sampai akhirnya suatu hari Abe juga agak jengkel ketika Johan agak ‘nyeleneh’ lagi. Dan Johan mengucapkan kata-kata itu juga. “Biar Tuhan yang marah, jangan kamu yang marah. Kamu nda’ boleh marah.” Tapi Abe tidak memukulnya. Curang (pikirku dengan iri). Dan Johan masih sama, tidak berubah kelakuannya, malas ke gereja, malas persekutuan, walau Abe tidak pernah berhenti mengingatkannya dan mengajaknya.

Dua hari setelah kejadian itu. Johan kecelakaan motor. Akibat kebut-kebutan di jalan. Abe shock dan merasa bersalah. Dia merasa belum bisa membawa Johan pada Tuhan. Itu jadi satu trauma yang besar, satu klimaks tragedi di masa lalu Abe. Aku cuma bisa termenung setelah Victor menceritakan kisah ini.

“Kamu harusnya bersyukur punya sahabat Abe. He cares for you. Jesus too.” pesan Victor ketika aku turun dari mobilnya. Aku terus mengingat pesan ini. Sepanjang sore. Sepertinya memang aku pantas mendapat pukulan itu. Sudah jam delapan malam. Dan tidak biasanya aku bisa hanya tiduran di dalam kamar, memikirkan sesuatu. Aku mengambil HP-ku. Sebaiknya aku ‘menyapa’ Abe. Dan aku mulai mengetik pesan di HP-ku, sambil bersyukur punya sahabat seperti Abe.

Abe

Aku habis latihan paduan suara di gereja. Tapi lagu yang harusnya ceria dan menghibur itu tidak bisa mengusir pikiran yang dari tadi siang memenuhi kepalaku. Sepertinya aku salah sudah memukul Roni. Aku harusnya bisa lebih bersabar dan bijaksana.

“Mau pulang sekarang, kak?” Yoga datang padaku. Aku harus mengantarnya pulang ke panti. Sudah jam delapan malam; aku melihat jam tanganku.

“Oke. Ayo.” Aku berjalan turun ke basement, motorku diparkir disana. Yoga berjalan.

“Kok sepertinya dari tadi Kak Abe bingung? Ada masalah?” Yoga bertanya padaku. Aku memandangnya, dan hanya tersenyum, mencoba mencari alasan. Tapi tiba-tiba HP-ku berbunyi; ada SMS. Aku membukanya, sementara Yoga masih menunggu jawabanku. Dari Roni. Aku membaca pelan dalam kepalaku. Cermat, dan aku mulai tersenyum.
Kita harus mengakui bahwa malaikat itu
memang benar ada, nyata.
Tapi ketika mereka tidak bersayap,
kita menyebut mereka SAHABAT.
Thanks, buddy.

PS:Thanks buat tonjokkan tadi. He4… :)
Aku menutup SMS itu. Tersenyum senang, bersyukur.

“Memang ada masalah, tadi,” aku menjawab Yoga, yang sepertinya sudah menyerah menunggu jawabanku. Tapi dia kemudian tertarik mendengar jawabanku lagi. “Tapi sekarang sudah selesai.” Aku tersenyum pada Yoga, sambil menyerahkan helmnya. “Oke, sekarang kita beli martabak manis dulu, oleh-oleh buat anak panti. Setuju?”

“Beneran, kak?” tanya Yoga senang. Hatiku juga sedang senang, jadi kenapa tidak membagi keceriaan ini buat yang lainnya? “Siap, bos… ayo kita beli martabak datang bulan.”

“Martabak Terang Bulan, kali,” Kataku pada Yoga.

Tuesday, February 24, 2009

Narcissitic Nico, en some thoughts bout my family

Halo.

Betewe pertama, kedua, ketiga, keempat, kelima: diriku dapet panggilan interview kerja lainnya; ternyata diet golongan darahku (A) menganjurkan diriku minum kopi sebanyak-banyaknya dan pantang makan mangga (hiks...); diriku lagi (semakin) memikirkan dan membingungkan diri dengan plan hidup ke depan; aku menyadari kalo beberapa anak (ga' semua juga) didikku ternyata care 'en really enjoy my teaching (and do hope that I stay here next year); adekku nico masuk final kompetisi story-telling di satya wacana (yg diadakan oleh ED [viva ED!]) en notabene tuh skrip story yg dia pake adalah skrip drama yg dulu berhasil bikin penonton di kelas drama-ku ketawa ngakak sampe berbusa gara2 melihat diriku jadi makhluk imbisil berkulit ijo: buto ijo.

Well, heran juga buat poin terakhir. Jadi aku tau kalo adekku bakal ikut tuh lomba, en dia emang udah maksa, merengek sampe berguling2 en ngancem bakal bunuh diri setelah membakar semua harta bendaku (lebay banget...) kalo aku ga bantuin dia bikin skrip buat story-telling. Nah, diriku cuman ngasih skrip drama lamaku. Sampe H-1 pun kaya' nya dia blom siap. En baru (seperti biasa) merepotkan seluruh penghuni rumah dengan cari2 properti buat perform dia: blangkon, gigi palsu, syal, dll. Aku juga tau bahwa dia bakal disuruh nyiapin lagu OST buat di paraphrase and tell jadi story. En, ternyata di malem hari sebelom berangkat pun dia belom nge-print.... dueng!

Tapi hari-H aku heran karena dia lolos sampe final. Katanya dia lucu, en berhasil menghibur (ini karena dia-nya or karena skrip drama yg emang idenya brilian ya? Hohohoho...). Tapi yg bikin diriku lebih heran adalah: kenarsisan en keberaniannya.

Kalo aku liat keluargaku: aku, nico, mama, papa, en beberapa kecoa di atas atap, kayanya emang secara genetis saling menurunkan sifat (ya iya- lah!). Aku en nico sedikit banyak suka hobi yang sama: ngibul, nyiksa, en menghabiskan waktu berjam-jam di depan cermin... halah... ga... Kita ternyata common interest-nya sama: game yg fantasi, komik en bacaan yg scientific en fantasi juga, en banyak filem or laennya yg sejalan. Bahkan pelajaran pun kita sama2 suka sains, matematik, en English. Well, tapi yg bikin beda adalah faktor: confidence.

Meski aku mengakui bahwa Dankuur itu mengidap narsis lepel 5, tapi tidak senarsis en se-pede adekku kalo disandingin en disuruh perform di depan orang banyak. Kalo diriku bakal shake my legs, en malah jadi dansa tap, tapi kalo nico bakal langsung menggila en ngonyol... Aku setipe dengan mamaku (yg pemalu, susah ngomong, en lebih banyak diem [ah, masa?]), sementara Nico diturunin papa yg lebih open en fun. Muka pun kaya'nya emang diriku dapet muka mama, en niko dapet muka papa, yg in fact banyak orang ngira diriku nurunin papa gara2 cuman kacamata-nya doang...

Well, emang banyak yg lebih muji nico, apalagi kalo bicara tentang tampang... *banting kursi, banting meja, pukul dinding, lempar laptop... oops, ga jadi yg terakhir* Tentang ke-PeDe-an pun diriku mengaku kalah. Kalo masalah inteligensia: aku kalah setelah Nico menembus olimpiade matematik kemaren. Tapi diriku enjoy kalo lagi share tentang soal2 matematik or yg laen. Weleh... Kakak-Adek yg nerd... Hohoho... Kalo masalah kreatipitas tetep diriku yg lebih canggih, apalagi kalo sudah disuruh lomba desain. Yg ada cuman diriku ketawa sadis kalo liat hasil karyanya... Hehehe...

Betewe, diriku paling jengkel kalo liat en investigasi kamera-ku. Jijik banget liat foto2 narsisnya dia di rumah. Puluhan foto diem2 dia ambil kalo lagi sendirian, or bahkan lagi ada mama, dia tetep narisi, entah pake jumper, pake topi, bawa bunga... najong! Liat aja FS-nya dia yg super narsis, apalagi komentar dirinya sendiri, ngga' banget.

Well, eniwe, diriku bersyukur punya adek yg kaya gitu. En diriku jg bersyukur tiap malem bisa gangguin, nggelitikin, nendang, mbanting Nico yg lagi tidur... Hohoho... Memang kadang kita juga sering musuhan, mutungan, diem2an mpe berhari2 betahun2 en berabad2 (emang fosil?). Tapi kayanya kita sama2 saling care en respect each other. Diriku masih inget waktu dia nulis siapa yg dia kagumi en jadi inspirasi: guru-guruku en my brother... *sob*

GBU

Sunday, January 4, 2009

Ular Mengiang

Langit mendung,
hujan menyusul cepat.
Bumi basah, dan air terbendung,
di tiap selokan kotor yang lubangnya tertutup rapat.

Ah, aku malas, 
berguling layaknya para Cricetinae menggeliat
tebal, hangat, di bawah selimut aku lelas;
di luar jendela deru hujan makin hebat.

Semenit, bukan, dua menit, oops, lebih, kan?
Tiga menit, sejam, setengah jam lagi.
Selesai! Waktunya makan?
Belum! Menembus kaca jendela, memicing, gelap sudah pergi.

Ah, itu dia, di kejauhan, melengkung indah.
Warna-warna tertoreh, spektrum warna yang megah.
700 nano meter gelombang warna memulai lekuk itu,
berakhir pada 400. Sebuah iktibar: banyak namun satu.

Lukisan Sang Pencipta
yang menenangkan hati, menyejukkan jiwa, pembangkit cita.
Sebuah reminder bagi yang dahaga
akan asa yang tersedia dan memberi lega.

Kapan warna-warni itu bisa ada,
dalam hidup yang mega beragam?
Kesatuan, kata kuncinya, hidup walau beda,
tak harus selalu seragam.

Kapan kita bisa saling menghargai ke-puspawarna itu,
dan walau aku-dan-kamu tak sama, nyata
tiada selisih diskriminasi, segregasi yang tak bermutu,
namun kita melihat indah, meski kadang tak seiya-sekata.

Ular mengiang,
benang raja, 
akan tiba kah saatnya, aku bisa berpendar, 'ku melayang
bergabung dengan eloknya engkau, teja.

Thursday, January 1, 2009

Welcome 2009

Happy New Year!

So, a year has passed; awaiting ahead us is another year.

Rasanya baru kemaren 2008 dimulai dengan suara2 berisik terompet di tengah2 rintik hujan deras (halah, sok puitis, en klise kuno banget... lagian rintik kok deras...). So, berarti tinggal 3 tahun lagi sebelum semua es di kutub mencair... wkkk...

Kok bisa ya secepet ini, padahal diriku barusan lulus di bulan Februari, trus ngajar di LTC di awal Maret (en kluar di bulan Mei), terus masih inget awal2 piket en mulai ngajar di bulan Juli di SMAKI yg pas itu Kungfu Panda juga lagi maen, pergi ke pante disela2 liburan besides visiting Jogja 3x a month yang berakhir buang2 uang hampir sejuta buat jajan2 doang, trus akhirnya ultah di bulan November en dapet dompet (plus finally could afford to buy Laptop!). En kemaren juga barusan Natalan (kalo ini mah memang barusan aja...).

Kemaren detik2 terakhir tahun baru diriku cuman sendiri, di samping tiga cewek2 kebo yang molor semua karena kecapekan (padahal aku kira mo rame2 tahun baru, payah *sigh*). Aku bisa denger dar-der-dor fireworks jauh di luar sana. Hujan masih juga bikin Magelang basah malem itu. Diriku cuman merenung bentar, have I made myself that blessing and inspiring for others so far?

Diriku masih banyak cacat en manjanya, meski sudah tumbuh dewasa, en sudah banyak belajar, nambah makan garem en ngendus bau tanah... Proses pendewasaan juga terus berjalan. I have learnt many lessons from my experiences. Plus I have met many new interesting, diverse people. 

Tahun 2009 ke depan? Any plans? I do have:

  1. Pengin (pindah) kerja di luar kota; dunno where it is but wishing to work in (at least) Jogja, Semarang, or Jakarta. 
  2. Upgrade laptop: RAM 2G (free-credit-nya masih bisa dipake ga ya?), tas laptop, cooler laptop.
  3. Install and subscribe to IM2 pre-paid net... yg unlimited 100rb tu.
  4. Rebuild my reading skill and enthusiasm. Sudah lama getting fades away more and more... Duh, kaco. Sekarang cuma interested in comics and light readings... Hayah... Dah jarang banget beli novel (Twilight, Tales of Desperaux, Spiderwick, opo meneh akeh belom beli kabeh... haya...), yg ada juga malah ngikutin (en enjoy sambil ngakak2) baca novel blo'on-nya Dika (tapi refreshing and enlightening kok, salut).
  5. Nulis paper, kapan? Sudah lama terkonsep kok nda' mulai2 nulis... payah... padahal ada topik Text-Messaging Language, Teaching using Video Clips, Internet Use for Language Teaching in Magelang, Comic Translation... duh... lama2 otak bisa tambah gedhe ni kalo cuma jadi idea-storing chamber...
  6. Cari pacar baru.
  7. Shopping, shopping, en shopping....

Kapan ya bisa terlaksana? At least 50% lah... Duh, jangan cuman jadi pemimpi ah... :)

Wish me HIS blessings ya, always!

Saturday, October 4, 2008

Paradoks hidupku...

Hidup ini cuma satu, badan ini cuma tunggal,
otak ini tidak membelah, tapi banyak paradoks yang muncul.

Aku menutup diri sebagai seorang introvert yang tidak mudah percaya orang lain,
tapi mudah percaya dan membuka kisah hidupku pada setiap orang baru.

Aku seorang realis yang tidak percaya tahayul dan mitos,
namun berimajinasi liar dan gila dan mengkhayal banyak hal yang mustahil.

Aku menyudutkan diriku di tengah perkumpulan,
sementara hatiku memanggil-manggil orang-orang di sekitarku.

Aku tenggelam dalam keminderan dan ketidakpercayaan diriku,
namun mengekspos diriku dan bangga dengan kenarsisanku.

Aku seorang perasa yang super sensitif,
meski logikaku berperang melawan hati.

Aku rindu ketenangan dan perenungan,
di tengah hausnya karamaian hidupku yang sunyi.