Showing posts with label reflection. Show all posts
Showing posts with label reflection. Show all posts

Tuesday, October 14, 2014

Bagi-Bagi Durian

Durian itu nikmat.  Tapi buat yang doyan, tidak pantang dan dilarang makan.  Saya salah satunya.

Jadi kalau sudah ada durian yang baunya menyebar ke seluruh rumah (PS. Indra penciuman saya cukup kuat, terbukti dengan hidung yang ukurannya lumayan gedhe, entah memang nyambung atau tidak), saya bakal langsung liar mencari-cari dimana letak buah berduri itu.



Sayangnya tidak semua orang suka buah yang asalnya dari Asia Tenggara ini.  Jadi meski saya bisa begitu menikmati makan duren, sampe jilat-jilat jari, orang lain mungkin responnya biasa saja. Atau malah mereka jijik dan tereak-tereak kalau mencium bau duren, dan sebelum akhirnya mereka mual dan pengin mutah. (Ada yang sudah jijik lihat gambar durian di atas?  Saya sengaja kalau begitu.)  Apalagi kalau dikasi ke penderita hipertensi, kita malah bisa dianggap sedang minta warisan dari mereka.

Terus kalau pengin berbagi buah durian (anggap kalau orangnya suka durian), gak mungkin, kan, ngasih durian dengan cara dilempar, lengkap dengan kulitnya?  Yang ada ini ngasih kesempatan buat di-opname or langsung dikirim ke kuburan.

Bisa juga waktu buat ngasih buahnya gak tepat.  Katanya, katanya loh (padahal ternyata mitos), pas hamil, wanita tidak boleh makan durian.  Kalau pria sih ga masalah, ya? *siap-siap dilempar durian* Sukur-sukur kalau duriannya disimpan, atau dioper ke orang lain.  Kalau dibuang, kan mubazir.  Bisa juga, duriannya dikasi abis minum bir, bisa tambah toying itu.


Berbagi niat baik itu mungkin juga sama seperti berbagi buah durian.

Niatnya memang baik.  Entah itu yang universally baik, atau menurut kita baik, karena kita pernah ngincipin (baca: mengalami) hal yang serupa.  Tapi, ya, bisa saja niat baik itu jadi masalah buat orang lain.

Entah karena target orangnya salah.  Atau karena cara menyampaikan atau memberikan niat baik itu kurang tepat.  Atau mungkin karena bukan/belum momennya yang pas buat menyampaikan niat baik itu.

Ya, yang paling menyebalkan, kalau memang semuanya sudah pas, eh, ternyata orang yang mau jadi target niat baik ini notabene sudah benci tingkat setan ke kita.  Dengan atau tanpa alasan yang masuk akal manusia.  Niat baik level dewa manapun dan sesuci apapun bisa dianggap tokai kucing.

Jadi, saya belajar kalau good will itu tidak sesimpel itu.  Tapi, bersyukur kalau kita bisa memikirkan dan ingin punya niat baik buat orang lain, di tengah trend pola hidup yang makin individualis dan apatis.

Pak Kent Keith mengingatkan, meski dunianya bobrok, kita kudu tetap berusaha mengasihi, tetap melakukan yang baik, tetap menolong, dan tetap memberi yang terbaik.  Tinggal menambahkan strategi yang tepat buat melakukan semua itu.

Ciao.



PS.
Habis makan durian, kalau cuci tangan katanya disuruh merem matanya, biar baunya ilang.
Saya pernah coba. Dan tidak ngefek. -_-

PS lagi.
Tulisan ini, awalnya diposting sebagai note di FB saya, 23 Januari 2014. 

Tuesday, June 17, 2014

Bukan Kebetulan

Saya itu kurang setuju dengan yang biasa disebut kebetulan. Entah itu untuk kejadian yang dirasa baik maupun buruk, saya melihatnya bukan sebuah kebetulan atau kejadian acak.  

Tapi wajar lah kalau kebetulan itu dipahami sebagai kejadian acak, apalagi kalau dirasa terjadi di luar rencana atau kendali kita. Dan entah juga apakah kita memakai istilah 'kebetulan' itu karena latah, salah kaprah, atau memang kebetulan yang acak itu tadi. Tapi saya yakin, ada momen ketika nantinya kita bisa tahu maksud di balik semuanya yang sudah terjadi.  


Bukan kebetulan juga ketika saya bertemu dengan orang-orang dalam hidup saya. Beberapa adalah orang-orang yang hebat, beberapa yang lain jadi teman yang dekat, dan beberapa simply punya bagian tersendiri dalam mewarnai hidup saya. 

Di luar rencana saya, saya bertemu dengan orang-orang yang pasti awalnya tidak saya kenal, di situasi dan momen yang tidak terjadwal. Saya mengakui kalau feeling saya tidak bekerja dengan baik, tapi entah kenapa untuk masalah mengenal orang, saya berani meyakinkan diri bahwa orang-orang baru tertentu yang saya temui itu berbeda. Otak saya berani memastikan bahwa mereka bisa jadi rekan yang baik, dan dekat, dan it will work well. Dan keyakinan saya sering benar untuk hal ini. Saya bertemu dengan beberapa teman dekat dalam peristiwa-peristiwa di luar rencana saya, danyesit worked well. Saya--kami--nyambung. Saya betah berbagi kisah hidup dengan mereka, sembari mengharapkan bahwa saya mendapatkan hal yang sama dari mereka.

Bukan kebetulan kalau sekarang saya punya inner circle saya. Saya tidak pernah menyangka kalau mereka dulunya terpisah-pisah, maksudnya saya kenal sendiri-sendiri. Eh, tapi, sekarang malah bisa ngumpul jadi satu. Kami sering makan dan ngobrol bareng, entah untuk topik casual maupun yang serius. Dan kami makin terbuka satu sama lain, sambil membangun klik itu.

Bukan kebetulan juga ketika saya mengenal satu sahabat yang dulunya malah rival. Masih saya ingat bagaimana dulu kami saingan, dan sempat atau bahkan sering kami bertentangan ide dan tidak saling respek. Eh, tapi, sekarang ini kami saling berbagi kisah ketika bertemu (di dunia nyata maupun maya). Dan itu rasanya melegakan.

Bukan kebetulah juga ketika orang yang tadinya saya bela, sampai saya berupaya mempengaruhi orang lain supaya percaya bahwa dia orang baik dan bisa dipercaya, malah berbalik menusuk saya dari belakang. Ouch. Cukup jelas untuk inti cerita yang satu ini.

Well, yes, orang-orang tersebut kasih saya satu dari antara dua hal ini: berkat atau pelajaran.  Toh pelajaran pun juga berkat buat hidup saya. 


Hobi saya merenung. Bukan hobi yang baik kalau over dosis. Tapi ketika merenung melihat proses hidup saya sampai saat ini, saya mendapatkan banyak momen dimana saya diingatkan untuk bersyukur, dan bersyukur lagi. Saya bersyukur setiap kali saya sadar, dan semacam melongo kagum ketika akhirnya saya paham maksud di balik semua kejadian yang saya alami, termasuk ketika saya bisa ketemu orang-orang hebat di sekeliling saya, ketika saya makin mengenal mereka, dan terutama ketika saya bisa jadi dekat dengan mereka (baca: diijinkan untuk berbagi hidup). 

Bukan kebetulan kalau mereka dan saya kenal, jadi dekat, dan mendukung satu sama lain.  

Dan saya bersyukur untuk itu. ;)



PS: This writing was originally posted on my DK's facebook note.