Showing posts with label Guru. Show all posts
Showing posts with label Guru. Show all posts

Tuesday, November 25, 2014

#HariGuru: Guru itu (Juga) Menginspirasi

Salah satu alasan kenapa saya jadi guru adalah karena saya terinspirasi guru-guru saya.

Inspirasi itu artinya ilham, seperti yang tertulis dalam KBBI. Sementara ilham sendiri bisa diartikan 'sesuatu yg menggerakkan hati untuk mencipta.' Kamus Merriam-Webster mencatat bahwa to inspire berarti 'to make (someone) want to do something' atau 'to give (someone) an idea about what to do or create.'

Kemarin hari guru, tapi tidak hanya di hari guru saja, saya mencoba memutar memori tentang guru-guru saya dari TK sampai kuliah yang sering memberikan inspirasi kepada saya. Saya sering teringat nama-nama guru yang pernah mengajar saya di kelas, baik yang keren maupun yang membosankan. Memang yang paling gampang diingat itu kejadian yang entah bikin sangat bangga atau sebaliknya kelewat jengkel, seperti ketika di SD saya dilempar penghapus karet atau rambut di dekat telinga saya ditarik (Bahasa Jawa, dijenggit) guru olah raga waktu itu.


Di TK, saya ingat seorang guru perempuan yang mendampingi saya ketika saya disiapkan untuk ikut lomba menggambar (dan mewarnai). Saya berlatih menggambar beberapa orang-versi-batang-korek-api-berperut-gembul sedang terjun payung, dan beliau memuji gambar itu. Saya ditemani beliau ketika hari perlombaan. Saya tidak menang gara-gara gambar bertema makan bersama saya tidak bagus, selain pewarnaannya tidak rapi, Bu Guru berkata dengan jujur bahwa gambar saya yang sebelumnya memang lebih baik. Terakhir saya bertemu dengan beliau, nama saya sudah tidak ada dalam ingatan saya; resiko seorang guru dengan banyak anak murid (atau sebaliknya resiko seorang murid yang tidak terlalu terkenal).

Saya pertama melihat sosok guru pria ketika saya duduk di bangku SD, yang berarti saya juga nantinya boleh bermimpi untuk jadi guru (mengingat di TK hanya ada guru wanita). Mereka sayangnya tidak banyak memberi saya inspirasi atau kenangan, selain satu wali kelas muda berkumis eksotis yang memberi teladan bagaimana menulis rapi. Saya ingat seorang guru wanita senior yang mengajar Bahasa Indonesia dan memaksa kami untuk benar-benar berpikir, mengeluarkan semua ide ketika ia meminta kami menulis essay sederhana tentang transportasi. Seorang guru wanita lainnya yang jadi wali kelas saya di kelas enam pernah memuji saya secara tidak langsung ketika saya membawa contoh dedaunan waktu mendapat tugas bercerita di depan kelas.


Kemudian ketika saya mulai memakai celana biru pendek, saya punya seorang guru matematika senior. Meskipun beliau mengajar dengan cara konvensional tapi kesabaran dan ketelatenannya dalam menjelaskan jadi sangat berkesan buat saya. Guru Bahasa Inggris SMP juga memberikan contoh mula-mula yang saya pahami sebagai creative teaching. Serta bagaimana menerjemahkan konsep yang susah menjadi sederhana, seperti menjelaskan beda to be dan do-does-did sebagai auxiliary verbs.

Seorang guru di SMA menolong saya bernalar dan menemukan sendiri rumus-rumus matematika ketika saya kesulitan (atau malas) menghapalnya. Itu strategi yang kemudian saya pakai ketika ujian: tidak menghapal seluruh rumus, cukup yang dasar (tapi entah kenapa saya tidak pernah sukses dalam pelajaran Fisika). In fact, saya menikmati setiap aha-momen ketika saya sukses membuktikan jawaban dengan rumus saya sendiri. Guru Bahasa Inggris saya juga lagi-lagi memberikan contoh creative teaching. Guru ini bernyanyi, menggunakan proyektor, menggunakan games, dan lainnya. Dan beliau membuka kesempatan buat anak-anak yang dirasa lebih cepat dalam belajar dengan memberikan latihan tambahan, tanpa saya merasa terbeban.


Ketika kuliah? Inspirasi itu tumpah ruah. Banyak dosen yang mengajak kami untuk terus berpikir kreatif. Meski tidak sedikit yang menggunakan metode ceramah yang konvensional, para dosen bikin mahasiswa mereka betah dan menikmati kuliah yang diikuti. Seorang almarhum dosen pernah berpesan supaya kami tidak malu memakai aksen Inggris kami sendiri, selama itu masih bisa dipahami, dan tidak perlu sok berbicara British English. Dosen yang lain menyampaikan di kelas, 'there's nothing wrong with your accent, Dan,' sementara saya merasa ragu karena sering mendapat komentar tentang aksen Javanese-English saya. Saya tidak bakal lupa ketika seorang dosen wanita senior menuliskan 'I really appreciate your hard work' di lembar jawab tes waktu itu, padahal nilai saya hanya 60-an yang katanya tertinggi kedua (atau ketiga) dari dua kelas paralel. Seorang dosen gaul terus mengingatkan bahwa guru tidak boleh ketinggalan jaman dan tinggal di dunia yang berbeda dari murid-muridnya. Banyak dosen lain membuktikan bahwa membangun relasi yang akrab dengan mahasiswa itu penting dalam menolong mahasiswa berjuang buat menikmati kuliah.

Jadi, inspirasi apa yang saya dapatkan dari mereka? Banyak! Kepedulian, ketelatenan, kesabaran, apresiasi terhadap siswa, meneladankan kreatifitas, mengajar dengan kreatif, tidak boleh ketinggalan jaman, dan terlebih, menginspirasi siswa. Mereka sukses untuk terus mendorong saya buat ikut memeriahkan dunia pendidikan di Indonesia, meski saya sekarang secara resmi tidak lagi punya jam mengajar di kelas.

Inspirasi apa yang kamu dapat dari guru-guru kamu? :)


Tuesday, September 23, 2014

6 x 4 dan 4 x 6

Jadi, sepertinya berita tentang soal PR matematika anak SD sedang ribut dibicarakan (silakan check berita ini, ini, atau yang ini), dan tidak sedikit yang ikutan berkomentar maupun membahasnya. Saya yang notabene seorang pendidik pun pengin berkomentar. :P

Baru awal bulan September ini saya membahas konsep perkalian dengan anak les saya yang duduk di kelas 7 SMP (well, yes, saya juga ngajar les matematika buat anak SMP). Di buku paket yang disusun pemerintah (untuk Kurikulum 2013) jelas ditulis konsep dan contoh dari operasi perkalian itu.

Tapi ketika kemudian membandingkan dengan artikel dari internet dan buku pegangan siswa dari luar, ternyata konsepnya bisa saja berbeda-beda. Jadi mana yang benar? Saya tidak akan membahasnya disini, karena memang bukan ahli, tapi karena berangkat dari buku paket yang semula saya baca, saya setuju dengan konsep itu. Memang ketika membaca 4 x 6, kita akan mengucapkan empat kali enam, jadi ada enam sebanyak empat kali.





Lepas dari benar dan salah (lah wong beda profesor saja juga beda pendapat, kok) kasus ini tetap menarik untuk dikomentari. Hihihi.

Para komentator berdebat dan mostly berbicara membandingkan antara mana yang lebih penting: konsep (dan proses) atau hasil. Banyak yang berpendapat bahwa hasil itu yang lebih utama, dan tidak perlu dibikin repot yang penting akhir dan hasilnya sama. Siswa boleh diajarkan cara yang paling efisien dan mudah dipahami. Well, ya, memang benar. Tapi tidak sedikit juga yang berpegang pada pendapat mereka bahwa konsep juga penting. Tidak salah juga ketika dibilang konsep dan proses menemukan hasil itu perlu diajarkan, supaya siswa tahu bagaimana proses berpikir dan menemukan hasil itu.

Selama ini, ketika mengajar di kelas ataupun ngelesin, saya lebih mengingatkan murid-murid saya untuk memikirkan tujuan belajar dan konteks belajar itu sendiri. Kalau mengenal dan memahami konsep atau proses itu sedang jadi tujuan belajar, ya, perlu dong mereka tahu hal itu. Kalau bicara tentang penerapan dan hasil sehingga tidak perlu terlalu dalam membingungkan masalah konsep dan teori, ya, ajarkan hal itu di kelas. Dan saya juga tidak pernah lupa bertanya dan mengingatkan murid les saya bagaimana gurunya di kelas mengenalkan konsep ataupun mekanisme dan cara lain yang sering dipakai atau diajarkan guru di kelas, karena buat saya memahami dan menyesuaikan dengan pola atau cara guru juga penting.

Saya tidak kemudian mengajarkan anak-anak untuk jadi conformist, atau punya mental asal bapak/ibu senang. Tapi kenyataannya banyak guru yang cukup kolot, dan memaksa siswa hanya mengikuti cara dan pemahaman yang dipakainya, padahal ada cara dan pemahaman lain yang sebenarnya tidak salah untuk digunakan. Dan saya juga tidak sedang meminta siswa semata-mata tunduk dan tidak punya hak bicara. 'Kalau sempat, coba tanyakan baik-baik apa boleh dengan cara begini atau dibuat seperti ini,' usul saya. 

Sedih memang ketika guru sendiri yang malah membatasi pemikiran kritis dan kreatif siswa, lepas dari tujuan belajar yang saya sebutkan di atas. Para guru tidak mau tahu dan mendengar, dan lebih ngotot dengan cara (kuno) mereka. Misal cara menulis yang harus sampai detail dan lengkap titik-koma, atau bahkan sampai hal mendasar seperti angka delapan itu ditulis dari atas, tengah, atau bawah. Hayo, kalian nulis angka delapan bagaimana? (Saya sih dari atas).

Saya tidak tahu persis, apakah memang konsep jadi penekanan sang guru yang memberi nilai 20 untuk PR si siswa. Tapi kalau pun itu tentang konsep, sang guru perlu (atau mungkin sudah) mengecheck apakah memang konsep itu tertanam dengan baik. Dan apakah memang porsi pemahaman konsep itu besar dan mempengaruhi komposisi nilai akhir dibandingkan dengan nilai kompetensi/materi lainnya yang diajarkan.

Bicara hasil dari perkalian, memang hasilnya sama. 4 x 6 = 6 x 4 = 24 (bukan enam belas seperti yang katanya salah ditulis oleh Pak Tiffie); ini sifat komutatif perkalian. Tetapi sekali lagi, apakah memang fokus pembelajaran sedang pada konsep dan proses memahami perkalian itu sendiri, ataukah sekedar pada hasil. Kalau semua pembelajaran kemudian hanya dimaknai hasilnya saja, buat saya pendidikan itu sendiri gagal, karena saya meyakini belajar itu sebuah proses. Kalau cuma hasil dan produk (juga nilai tes) yang jadi tujuan belajar, ya, kita sedang menyuburkan banyak bimbel (atau perlu dikoreksi namanya menjadi bimtes [bimbingan tes] atau bimuji [bimbingan ujian]).

Kesempatan dimana para siswa bisa tersenyum dan mendapatkan momen 'aha' mereka, ketika mereka sendiri paham dan mengerti mengapa mereka bisa mendapatkan atau menghasilkan sesuatu, itu yang penting buat saya dalam belajar. Itu yang juga bisa mendorong mereka, kita, untuk lebih banyak belajar dan menggali. Mereka sendiri yang kemudian akan menggemari kegiatan belajar dan menemukan.

Sisi lain yang saya amati adalah cara memberi dan mengkomunikasikan koreksi ataupun feedback dari sang guru kepada siswa, dan juga orang tua (atau dalam kasus ini sang kakak [so sweet banget kakaknya peduli dengan adiknya]). Mungking sang guru lelah, dan berbekal senjata ampuhnya (baca: bolpoin merah), dia mantap memberikan coretan-coretan merah itu, dan angka 20 besar. Tanpa ada komentar apa-apa, tanpa ada masukan yang setidaknya menenangkan atau menghibur, dan lain sebagainya. Buat saya ini cukup mematikan semangat siswa, sih. 

Misal sang guru, atau si kakak, kemudian membangun komunikasi yang baik, mungkin kasusnya tidak akan seramai ini. Dan ternyata memang mereka berkomunikasi dan si kakak sudah minta maaf. Wow. Tapi dunia medsos sudah keburu heboh, dan ramai, dan kita--saya--ikut-ikutan komen. Entah itu komen yang membangun, komen yang mengutuk dan membodoh-bodohkan pihak mana pun, atau komen yang malah memancing keingintahuan untuk belajar perkalian lebih lagi. 

Again, ini bukan kasus pertama, setelah kasus Mbak Florence dan nota makan seafoodketika hal yang dianggap simpel diunggah ke medsos kemudian menjadi ramai, berkembang dan menyebar dengan cepat. Media surat kabar pun membahas dan menayangkan kasus ini. Kita diingatkan betapa kuat pengaruh dan peran medsos untuk menyebarkan informasi. Jadi, belajar lebih bijak, bukan sembrono, menggunakan medsos perlu diajarkan juga. Atau malah mungkin ada yang tertarik untuk jadi terkenal secara sensasional melalui medsos? 

Anyway, sekian pembahasan Pak Guru tentang 4 x 6. Kalau tidak ada pertanyaan, minggu depan kita ulangan.  

Ciao.


Wednesday, February 24, 2010

Daniel ngajar Sains?

[Hai. Fesbuk-ers... mari, klik disini ajah... :)]

So, ada dua kejadian lucu beberapa minggu akhir ini, share dulu mumpung belum lupa:
  1. Beberapa hari lalu, di rumah sempet heboh gara2 kasus hilangnya stock CD a.k.a segitiga pengaman a.k.a c***t, ga nanggung juga ilangnya setengah lebih persediaan dalem lemari. Sontak saya langsung panik. Mo pake punya papa takut ntar saya selalu put my hands on my hip alias metenteng dengan tidak gagahnya gara2 kedodoran CD papa. Mo pake punya adik, tar saya tebar senyum simpul tak beraturan gara2 tersiksa dengan CD ukuran M yang mencekat. Nah, akhirnya bingung. Setengah hari sudah kalut bingung sore mau pake CD siapa, ga lucu juga kan kalo pake CD punya mama, wedew... [stop, jangan bayangin tubuh seksi saya lebih jauh lagi] .... [SAYA BILANG STOP!] Ehem. So. Saya masih panik juga. Sebagai seorang guru (sekaligus translator yang kadang nyambi desainer en part time petugas bersih2 kampung) yang bernaluri detektif, dibantu oleh mama saya yang urun ide, mencoba berspekulasi en mulai curigation... Dugaan semula adalah ada maling profesional khusus pengutil celana dalam berlubang. Tapi bingung juga kok yang diambil cuma punya saya. Padahal punya tetangga juga sering berkibar menghias indahnya biru langit. Dugaan selanjutnya adalah tikus jail yang kurang kerjaan en agak kelainan yang akhirnya menggondol dengan kuatnya stok CD saya.

    Sehari setelah jadi detektif (ga usah tanya saya pake CD siapa malemnya), ternyata saya dapet wahyu untuk ngoprek2 kamar. En menemukan sesuatu yg dudul en konyol. Tumpukan CD saya ada di kursi lipat (kursi kuliah) di deket lemari. So ternyata mama saya yg hobi ngomel melihat lemari saya yang amburadul ternyata beberapa hari sebelumnya memberesi tu lemari. En waktu memberesi, dia numpuk CD saya sementara di luar, en ditaruh di kursi lipet itu. Nah saya, plus adik saya, yang kreatif, selama ini memanfaatkan kursi lipat itu untuk tempat menumpuk baju-jaket-sweater yg mau dipake lagi, plus tambahan tumpukan buku en komik yg seabrek kere. Waktu lapor ke mama, kita sama2 ngekek. Mama sendiri juga heran kok bisa raib dengan tidak lapor2, karena saya paling hobi nuntut beliin CD en stock CD saya yang paling banyak dirumah. Hikmahnya: saya harus nambah stock CD kalo2 hilang lagi saya bisa pake CD baru. Wkwkwkwk.

  2. Tadi waktu mau ke perpus, thanks to Pak Bambang yg lagi2 kosong kuliahnya, saya jalan bareng temen kuliah saya. Nah si dia ngajak diskusi tugas presentasinya (yg saya sendiri ga mudheng sebenernya), en tiba2 waktu kita di lift, masuk deh satu dosen yg asing buat saya. Temen saya langsung bilang, 'Nah mumpung ada Pak Tri...' En si pak dosen ini langsung diajak ngobrol, diskusi panjang lebar, sampe2 kita harus berhenti di depan gedung buat nerusin kuliah informal pak dosen. Akhirnya kita pisah. Waktu saya tanya itu si dosen siapa, temen saya cuma jawab dengan simpel dan lugunya, 'Aku yo ra ngerti.' Ya oloh...

    Belum berakhir. Waktu kita naek tangga perpus, en sampe di pintu gedhe perpus, saya sempet sekilas membaca tulisan instruksi di pintu kaca itu PUSH. Nah, mungkin karena temen saya juga lagi ga konsen karena kita juga lagi diskusi (katanya saya mirip sama kontestan salah satu acara lomba di tipi, yg disebut 'Skinny' wedew...), temen saya dengan semangat en antusias membuka pintu perpus itu. Dia TARIK, bukan DORONG. Mungkin push dengan pull emang cuma beda dua huruf saja. Nda begitu banyak. Nda seperti Daniel en Orlando yg emang beda 180 derajat. Dia baru nyadar setelah baca tu instruksi yg saya tunjuk. En saya entah kenapa juga spontan pengin ngakak sambil tereak, 'PUSH!' waktu tu pintu dibuka en tereakan saya yg emang tidak manusiawi membuat penduduk lobi perpus langsung balik badan en melihat sumber keributan itu. Kita berdua cuma ngekek.
Eniwe. Kembali ke laptop. Entah kenapa kok saya memikirkan lagi salah satu cita-cita saya jaman saya kecil (sampe SMA juga sih sebener'e). Cita-cita itu nda jauh beda en menyimpang dari pekerjaan sekarang saya sebagai seorang guru. Kalo saya sekarang ngajar Bahasa Inggris, yang makin bikin saya jatuh cinta pada profesi saya, saya sebenernya juga pengin ngajar Sains, especially BIOLOGY (not Physics or Chemistry, never! no way!). Saya dari dulu selalu terpukau dengan binatang2. Suka ne liat buku2 tentang eksperimen, nature, animals, sains... En saya rasa saya bisa develop much kalo saya ngajar Sains.

Meski sekarang saya ngajar Inggris, tapi teks bacaan yg saya jumpai banyak banget yg hubungannya dengan nature, en saya ngiler setiap kali saya baca teks itu. Saya bisa aja ngajar about animals pake LCD, pake flashcards, bikin AVA yg menarik, tapi tar jadi bias en menyimpang. Bukannya ngajar inggris saya malah ngajar sains. Jadi saya cuma bisa diem en merenung memikirkan mimpi masa kecil saya yang nda tercapai.

Saya sebenernya memasukkan Biologi jadi salah satu mata pelajaran favorit saya di SMP en SMA, walo dulu waktu SMA ujian nasional Biologi saya cuma dapet enem. La ya gimana lagi, saya paling males menghapal, en saya tidak diajari bagaimana understanding instead of merely memorizing... Waktu inget pelajaran sains (dulu IPA) di SD pun saya sedih. Jaman saya bener2 jaman membosankan. Anak-anak dijejali ratusan materi. Nama, teori, konsep yang kudu dihapalin, bukannya dimengerti. So conventional. Old fashioned. Saya sering baca artikel di internet, en gabung forum teaching sana sini, apalagi kalo tentang elementary teachers. Waduh. Saya tambah ngiler liat gimana mereka teach children and let their children express and show their understanding. Gimana anak2 dikasi kesempatan untuk bereksperimen en mengamati langsung. Anak2 juga dikasi tugas untuk 'presentasi' sederhana apa yang mereka tahu, sekali lagi bukan sekedar menghapal dan tahu... Haduh.

Saya masih berharap besar buat bisa sekolah lagi, belajar lagi tentang SAINS. No problem kalo saya dapetnya Sains PGSD, elementary Science study gitu. Or S2 lagi ambil elementary teaching, tapi duit dari mana. Wkwkwkwkw. Semoga ada sponsor yang baca tulisan saya ini, en tergerak hatinya tanpa saya harus berlutut, merengek, dan membanjiri ujung celana panjangnya dengan tangis buaya saya, yg kemudian kasih saya scholarship untuk studi semacam itu.... Wkwkwkwkw.

OK. Thanks sudah membaca posting absurd saya yang satu ini. Ide untuk posting terus mengalir, tapi waktu berlomba dengan kesibukan saya, dan saya terjepit ditengah kemalasan dan kerajinan saya.

GB.

Wednesday, January 6, 2010

Dan's writing a 'drama script'... :)

[For FB user, please click here...]

Happy X'mas and Happy New Year to you!

So, kemaren Desember (yang melelahkan, no comment, no protest, pls) sudah berlalu, en tahun baru langsung disambut Camp Guru (Camp deh, bukan Retreat seperti nama yg diberikan) langsung ada dalam jadwal saya. Dari retret tiga hari dua malam itu, ada banyak hal, en entah kenapa malah memberikan saya ide untuk menulis post ini... Enjoy it!


Teachers' Camp: Teachers Unleashed...

Disclaimer: Tulisan ini hanya untuk guyon, kalo ada yang sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi, ya emang begitulah yang terjadi... Kalo ada yang tersinggung mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi tulisan ini sudah melewati proses editting dan sensor yang telah melenyapkan segala bagian yang a-nonoh dan tidak pantas dikonsumsi oleh batita maupun sepuh di atas 80 tahun. Thanks.

SETTING:
Kaliurang, Wisma Kana, wisma yang cukup besar, dua tingkat, dan sekitarnya. Udara sejuk, kadang berawan mendung dan gerimis mengundang. Aula Wisma persegi panjang. Kamar peserta di Wisma, kecil, empat-kali-tiga (?) yang dipaksa diisi dobel bed (yang sebenernya satu bed itu diturunin dari spring bed yg laen, sehingga spring bed yg asli jadi atos) dan saking memaksanya pintu ga bisa dibuka selebar-lebarnya karena nabrak kasur.

KARAKTER:
1. Daniel (DK), cowok 24 tahun, paling muda dalem camp yang in fact bikin shock banyak orang karena ber-mutu (ber-muka tua), pendiem dan lebih banyak waktu sendirian buat ngupil tidur...


ACT 1, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, plus selasar depan kamar lantai 2. Pagi menjelang siang setelah perjalanan, dan unpacking barang-barang bawaan.

DK: (Agak ngantuk. Sudah ganti celana pendek. Memutuskan untuk turun ke aula, en ngecek keadaan Wisma Kana. Buka pintu kamar, dan sontak menangkap en membau sesuatu yang menyengat yang bikin dirinya males keluar kamar...)

Para Pak Guru: (Duduk dengan santai, mengobrol di selasar kamar. Ketawa. Ngobrol. NGEROKOK dengan santainya. Asap rokok jadi penghias pemandangan selasar.)

DK: (Tahan napas dengan tersiksa, berjalan menerobos asap, en berpikir bahwa inilah kesuksesan para GURU memberikan sesuatu yang layak di GUgu dan di tiRU dari mereka.)


ACT 2, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, habis mandi pagi.

DK: (Habis mandir, bersihin en rapiin kasur deket pintu.)

Pak Guru: Oi, selamat pagi... (dengan santainya berjalan mantap dari luar, menerobos masuk lewat [baca: menginjak-injak] kasur yang tadinya sudah rapi en bersih, ke kasurnya yang lebih tinggi, dan dengan indahnya meninggalkan cap kakinya yang masih basah dengan beberapa ornamen pasir.)

DK: (Melongo heran)


ACT 2, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Para peserta sedang Outbound mengelilingi kawasan di sekitar Wisma Kana. Kelompok Dankuur en Kelompok Hebat sedang bersantai-santai menunggu giliran di satu pos.

Bu Guru 1: Eh, ada uler. Ada uler. (Menunjuk ke bawah.)

Bu Guru 2: Ow, lempar ke Pak Guru itu. Yang ijo bajunya. Dia takut.

DK: (Senyum licik mau iseng. Pura-pura ngambil ulet pake tongkat, en ngelempar.) Ini ya, pak? Awas pak, uler! (Pak Guru berbaju ijo lari menjauh padahal posisi dirinya sendiri juga udah jauh dari kelompok saking merindingnya denger kata uler.

Pak Guru Laennya: Opo to? Oh, ming uler koyo ngene. (Menunduk, ambil uler pake tangan langsung.)

Guru-guru termasuk DK: (Lari ngacir liat si bapak ambil uler pake jari tangannya dan sekarang ketawa nakut-nakutin semuanya.)


ACT 2, SCENE 3
SEETING: Sore hari, Kamar 11.

DK: (Mau mandi, sudah siap dengan segala senjata perang untuk mandi. Melangkah masuk dengan mantapnya ke kamar mandi, dan sesaat terinfeksi HIV [Hasrat Ingin Vivis]. Membuka tutup toilet duduk, dan shock ada beberapa benda a-nonoh yang melayang dengan indahnya disana. Buru-buru pengin keluar en muntah...)


ACT 2, SCENE 4
SETTING: Siang hari, waktu session, peserta mengisi aula yang agak sempit en panas.

DK: (Mendengar Pak RC dengan seksama, en sesaat perhatian teralih ke satu guru yang duduk di depannya, en tiba-tiba berdiri en berjalan keluar. Tidak begitu acuh selanjutnya. Perhatian tertuju lagi ke guru yang tadi keluar sekarang masuk dengan sesuatu di tangannya. Mencoba kembali mendengarkan Pak RC.)

Bu Guru: (KREEEK... Membuka sesuatu, bungkusan.)

DK: (Mengamati guru yang sekarang sedang membuka bungkusan, yang ternyata bungkusan berlabel ceriping)

Bu Guru: (Melihat DK yang sekarang sedang mengamatinya. Tersenyum.) Mau? Biar nda ngantuk.

DK: (Geleng plus senyum. Berpikir bahwa boleh bawa sangu, en sesaat berpikir boleh mencoba sangu pop-mie dalem Sessi).


ACT 2, SCENE 5

SETTING: Aula, another session, guru-guru sudah mulai exhausted.

Pak RC: (Menyampaikan materi dengan semangat, dan seperti biasa bersenjatakan senyum en gurauan plus segala banyolan yang bisa bikin peserta ngguyu.) ... itu karena saya sadar siapa saya di depan Yesus ... (Terus nyampein materi. Mbanyol.) ... ya itu rahasia saya dengan Yesus...

Bu-Guru-yang-duduk-sebelah-DK: (Ngomong setengah bisik dengan kenceng ke DK.) Gayamu. Memang'e pernah ketemu Yesus po?

DK: (Shocked. Diem. Tampang luar senyum, tapi dalem otak ketawa ngakak dan sekaligus di waktu yang sama mikir keras banget...)


ACT 2, SCENE 6

SETTING: Malem hari, waktu Dedication Service.

DK: (Mengamati keadaan sekitar. Lampu temaram bikin mata DK tidak bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba kaget denger sesuatu yang unik.)

Seorang Bapak Tua yang Karena Kedudukannya Sepatutnya Dihormati dan Dihargai: (Dengan volume yang tidak begitu keras.) NGGROOOOOOKKKK...

DK: (Mengamati dengan keras, melihat si Bapak kepalanya terkulai ke belakang, kemudian tangannya bergerak-gerak kecil, mulutnya sesekali mbuka tutup kaya ikan mas koki. Berpikir bahwa Dedication Service juga efektif untuk waktu istirahat.)


ACT 2, SCENE 7
SETTING: Malem hari, habis Dedication Service.

Para Peserta: (Masih haru. Beberapa dengan mata basah karena air mata. Beberapa peserta kembali ke tempat duduk dari posisi duduk di lantainya.)

MC: Yah, bapak ibu, ada hari ini ada yang spesial untuk seorang rekan kita...

DK: (Sudah bisa menangkap apa yang akan terjadi, dan heran dengan yang terjadi 10-15 menit selanjutnya ketika semua haru biru en temaram suasana emosional en sentimentil dedication service itu berubah 180 derajat menjadi sorak-sorak dan guyonan karena perayaan ulang tahun seorang rekan guru. Berpikir dalam hati: Oh, begini toh habis Dedication Service... Hm... Beda budaya kali, ya...?)


ACT 3, SCENE 1
SETTING: Sessi di pagi hari. Para peserta dapet tugas untuk sharing personal Action Plan.

DK: (Barusan keluar ambil obat suplemen di kamar, balek lagi ke Aula. Ketemu Pak RC di depan pintu aula.)

Pak RC: Ayo, Dankuur! Kamu Bisa!

DK: (Senyum agak cengok.) Bisa apanya, Pak?

Pak RC: Ah, kamu itu potensial sekali tapi baru 30% potensi yang kamu kembangin.

DK: (Tambah cengok dan menyadari dengan sangat bahwa perkataan Pak RC bakal menghantui pikirannya bahkan sampe setelah camp sudah selesai.)


ACT 3, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Kebaktian Penutup.

Pak Eka: Jadi Bapak dan Ibu. Mahkota yang sudah Anda susun dari kertas lipat jadi lambang seperti mahkota yang dipercayakan untuk kita. Ada yang bilang ini seperti mahkota duri. Ada harga yang harus dibayar. Ini mahkota yang mengingatkan kita akan mahkota yang akan kita terima nanti kalau kita setia dengan panggilan tugas pelayanan kita. Dan untuk itu kita akan memakainya bersama setelah rekan-rekan perwakilan akan dipakaikan mahkotanya.

DK: (Merasa bahwa ada yang ga enak di dalem hati.)

Pak Eka: Dan sebagai perwakilan, kami undang dua guru masing-masing dari Magelang maupun Klaten. Yang paling tua dan yang paling muda.

DK: (Perasaan ga enaknya nyata. Celingak-celinguk sambil tetap diam.)

Pak Eka: Dari Magelang?

Pak Guru SMP: Tertua Bu Giarti, dan termuda ini, Pak Kris.

Pak Guru SMA: Bukan, Pak Dankuur.

Pak Guru SMP: Pak Kris tahun berapa?

Pak Kris: Delapan Empat.

Bu Guru SMA: Pak Dankuur delapan lima.

Pak Eka: Ya, Bu Giarti dan Pak Dankuur silakan maju.

DK: (Maju dengan senyum garing, menyadari banyak guru Klaten yang pastinya kaget dan meragukan mana yang termuda dan mana yang tertua dan mungkin terbalik.)


ACT 3, SCENE 3
SETTING: Siang hari. Habis kebaktian penutup. Aula sontak jadi sentimentil en emosional. Para guru saling jabat, peluk, dan menangis, apalagi lintas: Magelang-Klaten.

DK: (Jadi pengamat yang baik setelah memberi banyak salam, terutama ke guru-guru dari Klaten. Sekarang berpikir bahwa Dedication Service kalah jauh sentimentil dan emosional-nya daripada Farewell ini. Sementara banyak guru cewek yang masih sesenggukan nangis sambil peluk rekan-rekannya.)


ACT 3, SCENE 4

SETTING: (Di depan kamar lantai 1, para guru menikmati makan duren sambil menunggu waktu pulang ke Magelang.)

DK: Enyak-enyak-enyak (Sambil menikmati duren.)

Pak Guru Berkumis: (Habis menikmati satu buah, dan masih membawa satu bagian kulit durian di tangannya dengan dua buah lain di dalam cekungan kulit itu, berdiri dekat dengan tempat sampah. Dengan santainya membuang jauh biji durian ke tanah.)

DK: Pak, ini sampah! Pie to malah dibuang sembarangan ke sana!

Pak Guru Berkumis: (Tampang sok cengok.) Oh! Sapa, ya, yang buang sampah sembarangan? Hayo sapa?

DK: (Senyum sinis. Berpikir heran dan menemukan satu lagi alasan mengapa guru layak diguGU dan ditiRU.)

Monday, June 15, 2009

Daniel berefleksi tentang dirinya sebagai guru...

[As usual, FB-users, please, please, click here...]

Hai.

Hari2 ini makin kerasa bahwa diriku makin boros, en tidak ada penambahan income yg signifikan buat menunjang hobi yg mulia: nongkrong en makan2 or minum2 bareng temen (baca: ngopi, nyoklat) sambil menghilangkan kepenatan hidup. Dalem dompet ada ratusan ribu en lima-puluhan ribu, tapi itu uang punya perpus gereja en uang laennya. Dompet tetep tebel karena nota2, bukannya uang. Keliatannya diriku harus mengontrol diri dengan mengurangi dolan2 yang memboroskan, dan kadang tidak menyehatkan (kemaren jumat sempet mengeluarkan zat ekskresi yg tidak semestinya secair itu gara2 minum jahe-susu malem2 sambil duduk di bumi yg adem en udara sekitar adem, meski juga itu dibayarin... huhuhu...).

Oke, so the end of the days (halah) is getting nearer and nearer... Huhuhu. Anehnya waktu kemaren menyebut2 tentang guru2 yg mau cao dari tempat kerja sekarang, diriku tidak disebut, cuman dua guru yg laen, padahal diriku udah lapor sama pak kepsek. Sudah hampir setahun lebih, en diriku merasakan ada banyak perubahan, entah yg baek entah yg buruk...

Inget waktu dulu pertama masuk, idealisnya tinggi banget: kalo ada murid yg ga ngumpulin tugas ontime, diriku langsung ngamuk, marah2. Masih inget jelas gimana dulu waktu hari kedua masuk kelas XI IPS, diriku langsung curiga ama anak yg ga ngumpulin padahal butuh nyalin tugasnya itu. Beberapa kali juga jadi so fiery, en bentak2 anak di dalem kelas, karena entah mereka rame waktu diriku berbicara or bagaimana... Huhuhu. Those dark times.

Bicara tentang idealis, diriku juga masih inget banget bagaimana rancangan pembelajaran di awal tahun dulu. Masih dibakar api semangat critical pedagogy-nya Mr. Josh, diriku mencoba menganalisa kebutuhan en minat anak... Kan katanya kalo emang yg disampekan itu sesuai dg minat anak, itu bakal memotivasi mereka lebih lagi. But, kenyataannya beda, karena tidak semua anak juga peduli dengan model macem itu. Satu-dua anak pilih mode 'passive' di kelas. Mbahas tentang animal ga mudheng, dikasi topik politik jadi muntah darah, diskusi teknologi kuper, sharing tentang budaya juga ga tertarik, mbahas tentang sex malah jadi patung hidup. Dikasi film tidur, listening to song juga tidur, suruh nulis essay tidur, diskusi kelompok tidur, eh, test malah mbolos... Tobat, nak...

Seiring waktu berjalan, diriku banyak berubah. Kalo dulu masih nuntut anak2 pada pinter, intelligent en brilliant, sekarang liat anak sudah kerja keras, ngumpulin essay juga sudah bersyukur banget. Seneng liat beberapa anak, yg sepertinya diriku honor en respect them so much, yg emang mau kerja keras, en berusaha memperbaiki hidup mereka. Ada beberapa yg bikin sedih juga sih, honestly, karena tidak menunjukkan perubahan. Yah, diriku selalu berusaha memotivasi, menghilangkan jurus 'sengak' en 'sadis' plus 'sarkasme', tapi coba membujuk mereka untuk berubah rajin. But, it didn't always work like that. Beberapa emang melihat bahwa kerajinan itu tidak penting. Ya sudah, let me lift them up to God.

Dengan merebaknya fesbuk mulai semester kedua, kayanya rutinitas kerja di sma ini agak berubah. Meski pernah kecanduan puoooool, sekarang sudah berhasil mengontrol, walo kadang kalo ada hari kosong yg emang ga ngajar tetep aja memanfaatkannya dengan ngeNet seharian, instead of preparing for the next day's lesson...

Akhir2 ini (or sebener'e dari dulu), diriku melihat anak2 yg kadang ga bisa terima dengan kelakuan guru yg semena-mena, dan dirasa kurang bertanggung jawab. Kadang diriku juga iri, ketika melihat ada guru yg 'tidak bertanggung jawab'. Ketika diriku mencoba mendisiplinkan diri, dan being a dilligent teacher, eh, melihat kenyataan ada satu-dua guru yang malah tetep males2an, diriku juga agak kendor en 'iri'... Kadang ga adil: dibayar sama, tapi kerjanya diriku 'lebih' keras 'sedikit'. Ketika diriku, en beberapa guru yg laen, emang mencoba 'mencerdaskan kehidupan bangsa [yg berusaha dibangun sendiri oleh para guru]', eh ada guru yg sekenanya ngajar, en menyampaikan apa yg nda relevan, or apa yg nda penting, or malah tidak menyampaikan apa-apa.

Ketika diriku hari ini nge-shout-out di fesbuk: jadi guru supaya keliatan pinter, or mau membuat murid mudheng, diriku juga mencoba merefleksi diri sendiri. Mana yg lebih membanggakan en menyenangkan: dibilang 'Wah Pak Dankuur hebat!' or 'Thanks pak, saya sudah jelas dengan penjelasannya bapak tadi...' I prefer the second. Ketika liat anak2 mudheng, en bisa lompat dari level-nya yg sebelumnya, diriku bisa senyum, en ngasih nilai plus.

Diriku pernah jadi murid, dan sering mengamati dengan baik bagaimana guru yg baik itu ngajar, bagaimana guru yg nda baek itu 'cuma ngajar'. Beberapa guru jadi rekan kerja sekarang, en kadang diriku jadi 'tidak sehormat' dulu, karena sekarang sudah jadi co-worker (beberapa temen bilang, 'Dankuur ga sopan, masa sama eks-guru berani nyuruh2... Hohoho). Selama proses tiga tahun di SMP, diriku cuman bisa mempertahankan kerajinan en kemandirian. Tiga tahun proses di SMA, aku berjuang cari jati diri, en mengasah lagi kekritisan. Tiga setengah tahun di Universitas, diriku bener2 bersyukur, karena bisa share ilmu dgn yang laen... Inti pendidikan sih sebenarnya bukan pada output nilai yg kita dapet nantinya (meski ada kebanggaan tersendiri ketika diriku nilai matematik lebih tinggi daripada temen2 yg skul di negri, or diriku yg dapet IP segitu...), tapi lebih pada gimana kita bisa menemukan 'enjoyment en fun' during the whole process of learning. Bagaimana diriku bisa begitu bangga en bahagianya ketika bisa bilang... 'Ooohhh... ternyata gini toh maksudnya; aku mudheng sekarang...'. Enjoyment en fun ini yg sebenernya pengin ta' share-kan ke anak2...

Oh, ya, diriku pengin nyebarin lembar evaluasi buat anak2, tapi kok belom kesampean. Moga2 entah besok, or lusa, bisa diriku siapin... Kalo ada murid yg mbaca, evaluasi di notes ini ajah.

Well, till then, GB, en met berjuang buat anak2ku...