Showing posts with label Curhat. Show all posts
Showing posts with label Curhat. Show all posts

Thursday, July 7, 2011

#urnotalone

Ugly Asian

Self-unforgiving

Fake

#urnotalone


Hai!

Sudah lama saya tidak mencoba menuliskan ide yang berputar-putar di kepala saya dalam bentuk notes, walau ide itu masih terus berputar, dan akhirnya sekarang saya duduk di satu spot yang nyaman, samping jendela perpustakaan universitas, sambil menunggu jatah mengajar sore di Salatiga ini.

So, kalau teman-teman mengamati update status pendek saya selama tiga hari berturut-turut, dari tanggal 26-28 Juni 2011 kemarin (biasanya malem hari), saya nulis kata-kata dalam Bahasa Inggris yang geje, vague, dan selalu diakhiri dengan hash-tag #urnotalone. Ya, saya sadar bahwa hash-tag (or lambang #) seharusnya muncul di twitter, dan emang sebenernya saya juga update tripel status itu di twitter saya (follow me kalo masih belum, @dankuur).

Jadi apa artinya semua update status itu?

Mungkin, dan pastinya, banyak, atau semua, pada bingung, kalau temen-temen tidak tahu apa itu #urnotalone. Sebagai seorang fans cukup-berat serial tipi Glee, saya sedikit mengikuti update proyek baru mereka: The Glee Project, ajang bakat buat mencari pemenang yang akan jadi karakter tambahan di Season 3 serialnya. Dan salah satu tugas di kontes itu adalah bikin video clip. #urnotalone jadi salah satu kampanye mereka, lewat video klip lagu Mad World (check di youtube, aselinya dinyanyiin Tears for Fears), dimana mereka nyanyi dengan tiap orang bawa papan yang sebenarnya buat iklan pizza tapi malah ditulisin kata atau frasa yang nunjukin karakter/kepribadian/hal yang selama ini jadi self-insecurity, atau ketidaknyamanan atau ketidakpedean, mereka. Dan FYI, fans Glee Project yang ikutan update post #urnotalone juga lumayan banyak, coba search hash-tag itu di twitter. Saya salah satunya. Bukan sekedar ikut-ikutan fans yang lain, tapi memang selama ini saya bergumul dengan tiga hal yang bikin saya terus merasa insecure--tidak pede dan tidak nyaman dengan diri saya.

Pastinya, semua orang juga, bahkan yang paling pede pun, kalau mereka tidak bisa mengungkapkannya, pasti bergumul dengan bagian dari diri mereka yang bikin mereka merasa insecure (tolong koreksi saya, kalau memang ini generalisasi yang salah). Entah itu karena physical defects ('cacat' atau 'kelemahan' fisik) atau ada personality atau traits (kepribadian atau sifat) yang dianggap merugikan atau tidak bisa diterima, dan terus membuat mereka, kita, tidak merasa sepenuhnya menjadi diri kita.

Thanks to people yang secara sadar maupun nda sadar sering bikin joke kecil-kecilan, maupun besar-besaran, dan sering main-mainin karakter maupun 'kekurangan' kita untuk guyonan. Saya sendiri ada kalanya benar-benar bisa tertawa dan mencoba (dengan cukup keras, honestly) untuk bisa menikmati dan 'bangga' dengan kekurangan saya. Oke lah, kalau memang itu teman-teman dekat saya (ini yg selama ini jadi prinsip saya) yang 'ngejek', saya masih bisa menikmati guyonan mereka. Entah itu green goblin, jerawat, kepala besar, kerempeng, gigi kelinci, dan lainnya yang kadang lewat dan saya lupakan. Tapi, eh tapi, tidak jarang ketika teringat lagi (lah, aneh to, lupa kok diingat lagi) bisa bikir saya merenung. Ttidak jarang juga, sambil merenung di malem hari, saya ngayal dan berharap bahwa ada fairy godmother yang bakal datang mengayunkan magic wand berujung bintangnya, mengubah saya sedikit lebih charming, atau setidaknya dia jatuhin sekarung berlian buat saya operasi plastik. Oh, dan btw, curhat saya ini tidak berarti saya sedang mengemis siapa pun untuk kemudian super hati-hati atau jaga-jaga or jadi so serious kalo ngomong dan guyon dengan saya, apalagi teman-teman dekat saya.

But, self insecurity bukan sekedar masalah physical look--penampilan fisik. Masih ada beberapa, atau banyak hal lain yang bisa bikin saya, kita merasa tidak nyaman. Masa lalu. Pengalaman. Karakter. Kepribadian. Kebiasaan. Status. Latar belakang. Pendidikan. Pekerjaan. Orientasi. Hobi. Penilaian orang. Stereotip. Dan semua yang intinya tidak membuat kita pede dan nyaman menjadi diri kita. Masalahnya tidak semua orang bisa menyadari hal ini, yang entah sadar atau tidak mempengaruhi bagaimana kita menilai diri dan akibatnya juga mempengaruhi bagaimana kita bersosialisasi, dan terlebih menilai dan berkomentar tentang orang lain.

OK, pastinya, dan saya yakini, saya bukan sebuah cacat atau kecelakaan dalam proses penciptaan yang dilakukan Tuhan (lepas dari banyolan sodara-sodara tua yang sering godain saya waktu kecil dengan bilang saya ini dilahirin di toilet, or waktu mama saya boker sekalian saya meluncur keluar). Amin. Dan sejauh keyakinan saya berbicara dan mengamini, saya bisa berkata bahwa saya spesial dan unik di mata Tuhan. Bahkan kalau memang ada doppelganger saya di dunia ini, entah dia seorang gelandangan atau malah milyader di satu tempat lain, pastinya tidak identik dengan saya. Doppelganger itu kembaran, yang katanya identik, ada satu entah dimana, dan kalo ketemu bisa bikin kita mati seketika. Tapi, dan tapi lagi, kita hidup di dunia yang seringnya orang-orang yang kita jumpai setiap hari tidak bisa dengan jernih memandang seperti Tuhan memandang. Beberapa orang jadi super minder, sementara yang lain jadi over pede (atau yang sekarang disamarkan dengan istilah narsis), yang sejauh pengamatan dan dugaan saya, mereka jadi seperti itu (entah keminderan or kepedean or kenarsisan) untuk menutupi self-insecurity mereka.

Penerimaan diri.

Buat saya itu kuncinya. Saya merenung, dari dulu ataupun sampe titik saya update status #urnotalone itu (beneran deh, hobi saya merenung, parah), apa yang selama ini memang jadi hal-hal yang bikin saya feel insecure a.k.a not confident. Saya mencoba mengerucutkan, dan akhirnya memfilter tiga hal utama yang saya anggap ketidakpedean saya. Menyadari dan menerima 'kelemahan' itu rasanya jadi salah satu langkah awal buat kita bisa mengutuhkan pribadi kita. Mungkin ada bagian yang nantinya bisa dirubah, tapi banyak bagian lain yang, sayangnya, tidak bisa dirubah. Tapi itulah kita. Dan itu yang membuat kita unik. Sejauh kita menerimanya, dan tidak lagi menjadikannya sesuatu yang memaksa kita untuk terus tidak menerima diri kita sepenuhnya, atau lebih parahnya protes pada Pencipta kita (atau dengan lugu marah dan menyalahkan orang tua kita yang melahirkan dan membentuk kita selama ini).

#urnotalone. Kamu tidak sendirian. Banyak teman. Mereka juga berjuang, sama seperti saya, dan kamu. Entah untuk hal-hal yang sama, atau yang berbeda. Menerima diri, dan mencoba memandang hal-hal yang menjadi self-insecurity kita dengan lebih 'bijak dan dewasa'. Membiarkan hal yang nampak seperti lubang di tengah donat hidup saya menjadikan saya sepenuhnya dan sejatinya adalah donat yang berlubang yang tidak 'dilecehkan' karena saya berlubang, both literally and figuratively. LOL.

Kedengaran too utopian kah? Terlalu idealis dan mulukkah? Biarlah kalau memang demikian, setidaknya for me, saya masih menikmati pikiran utopia saya. :D

GBU!


PS: This was actually posted on my Facebook note. Visit my account, and add me if you don't mind :)

Monday, July 19, 2010

Before the laptop...

Hi.


Saya sedang duduk, di depan laptop saya. Agak aneh juga situasinya, tapi saya menikmatinya.


Jarang saya online, di depan laptop, tanpa melakukan hal-hal lainnya, hanya merenung, sambil menunggu balasan chatting atau selesainya loading site yg sedang lemot karena kuota internet yg belum terisi. Dan bukan banyak loading tab situs, saya memakai Mozilla Firefox; cuma satu: facebook.


Tapi, sekali lagi, saya menikmatinya.


Seorang melankolis, yang lebih senang merenung.
Dan berpikir. Bagaimana? Apa? Lalu?
Sembari menunggu: bukan pekerjaan yang saya suka.


Kadang menghela napas.
Mencoba berimajinasi.
Bertanya mengapa begini.
Membayangkan seandainya.
Dan mentap satu jendela di layar laptop saya.
Menaikkan harapan.


Saya sedang menikmati ini.


GB

Thursday, July 8, 2010

Daniel Kurniawan is neither Daniel Radcliffe nor Harry Potter! Doh!

[Hi. If you're reading this from my FB-note, please click HERE! Thanks!]

So, whaddup guys?

Beberapa hari lalu adalah hari-hari yang saya nikmati dan sangat refreshing untuk memori saya. Tanya kenapa? Ada pelem2 Harry Potter diputar di tipi nasional! Ya, si penyihir itu. Bukan, bukan yang dahinya lebar kaya wajan penggorengan en matanya dilingkeri arang dapur en hobi pake item-item yg kemaren diprotes massa gara2 katanya ngaco en nipu hasil ramalan World Cupnya. Dan fyi, ketika pelem2 itu diputar, apalagi waktu seri kelima ditayangin di tipi, trending topic di twitter ditempati 'Dolores Umbridge' en 'Luna Lovegood' yang bikin semua orang luar negri jadi bingung kok bisa itu dua topik yang sedang trending.

Kalo sering maen sama saya sejak jaman SMP, pasti tahu bahwa Daniel Kurniawan adalah seorang Harry Potter mania. Yes. Saya adalah maniak serial-nya Potter yg ditulis Nyah Rowling. Hmmm... Sebentar, mungkin bukan maniak sebegitu maniaknya, dan saya kaga' mau dapet konotasi yg jelek dari kata ini. Fans. Mungkin itu kata yang lebih tepat.

Seorang maniak Harry Potter bakal:
  1. bikin tato geledek di dahinya, ato nekat nyetrum dahinya or membakar dahinya biar dapet tanda geledek itu.
  2. tebang pohon dan ukir sendiri wand-nya, entah pohon cabe or pohon semangka... :p Kemudian biar tambah sakti, tambahin ekstrak sisik kuda, rambut buaya, hati semut, or e*k kucing.
  3. latihan rutin Quidditch dengan keras, entah itu jadi bludger yg dengan sembrono pukul2 bola basket or jadi seeker yang cari2 telor walo bukan masa Paskah.
  4. mencoba merapalkan mantra-mantra sakti dengan kelinci percobaan, dan ketika mantra Avada Kedavra tidak berhasil, cara manual dengan mem-potek leher kelinci tampak sangat glorious.
  5. pura-pura pake robe, alias jubah, seragam Hogwarts di sekolahnya padahal cuma jas hujan sekali pake warna item, dan berakhir dengan dirinya dikira tukang becak.
  6. ngabisin berjam-jam berdiri dengan sapu terselip di selangkangan, berharap itu sapu bisa melaju setidaknya sedikit lebih cepat dari siput.
Well, saya tidak se-maniak itu. Saya ngefans dengan saga HP, dan saya punya lengkap ketujuh bukunya, plus tiga buku tambahan lainnya, dan beberapa majalah yang emang khusus untuk edisi HP. Tapi saya kaga pernah mencoba dengan bodohnya menjedot-jedotkan dahi saya yang seluas landasan pacu pesawat ke dinding supaya saya dapet tanda geledek di dahi saya (dan jerawat di dahi saya lebih menyakitkan daripada aksi jedot menjedot dahi ke dinding.) Saya punya dua wand alias pentung sakti punya Harry en Dumbledore, bonus dari majalah. Tapi saya kaga mencoba memasukkan ekstrak bulu hidung kecoa, maupun memaksa tongkat itu menyala kalo saya bilang Lumos waktu lampu mati. Terus, saya pasang beberapa poster HP di kamar tapi najis tralala kalo saya selalu mandang dengan penuh pesona dan seksama saking kagumnya tuh tiap poster tiap malam. Dan akhirnya saya punya celdam gambar mukannya Harry Potter lagi pose nyengir sambil pake pita kupu2 merah di rambut sebelah kiri. No, just kidding.

Jadi seorang fans dari sesuatu or seseorang lainnya itu menyenangkan. Kita bisa merasakan sensasi kagum itu, en yang positif adalah kita jadi semangat karena yang kita fans-i itu. Kita bisa saja terinspirasi; si dia atau sesuatu itu jadi panutan kita. Saya nge-fans. Dan pernah di-fans-i, keren toh, tapi menyakitkan juga. Bayangkan seseorang yg kamu pikir bakal suka denganmu ternyata cuman nge-fans, dan kemudian memutuskan utk tidak melanjutkan hubungan cintanya denganmu, karena itu bukan CINTA! Itu FANS. ADMIRASI sodaranya asmirandah... *phew* Loh jadi curhat colongan. Wkwkwkwk. Kembali ke masalah fans, sekali lagi, di awal saya berstatement: fans, bukan dan beda dengan maniak.

Hmmm... mungkin kalo ngomongin fans, sampe juga kita ke istilah idola. Buat saya hampir mirip sih. Kaya dondong dan duren: sama2 inisialnya D, jadi saya, duren dan dondong pun sama. :p Idola tu yang kita puja-puja, jadi sudah lebih tinggi dari fans. Kalo kita ngefans sekedar seneng, idola itu berarti kita sudah suuuuuueeeeeeneng, en bakal memujanya, ga peduli dia baek or jelek. Nah ini dia masalahnya, karena salah persepsi en kaga tau gimana cara kerja otak en hatinya (saya bilang hati, karena semua berasal dari hati), kadang orang mengidolakan sesuatu, or, tepatnya, seseorang, yg salah. Banyak kan, contohnya? En ini bisa dimanfaatkan buat cari pengikut tuh... dan semua sekte or cult yang sesaat berawal dari keahlian pemimpinnya memposisikan diri sebagai idola :p

Nah, kata idol sendiri memang berasal dari idol yg artinya ilah, sesembahan, allah. Wew. Memang. Mungkin perlu hati-hati juga kalo kemudian kita pake kata Idol, seperti merek tayangan di tipi yang terkenal itu Magelang Idol.... XD Jangan2 memang kemudian pemenang utamanya jadi idol, sesembahan, walopun kaga banyak orang yang bakal sampe ke ekstrim itu, tapi tetep saja ada yang kemudian sangat begitu amat demikian memujanya. Kalo sudah sampe sini, prihatin dah.

Hm. Lepas dari pemakaian kata itu, dan mungkin terlalu naif dan lugu kalo kemudian dengan saklek (baca: kolot dan kaku) melarang pemakaian kata idol ataupun idola (sama kolotnya dengan melarang seseorang hanya memakai kolor ketika nge-MC, dimanakah itu? :p), bagaimana kalo kita mulai lihat siapa, ato apa, yang selama ini kita 'idolakan' atau kita 'fans'-kan. Saya tidak pake kata maniak, karena itu konotasinya negatif. Loh, fans kan dari kata fanatik juga. Hmmm. Iya, tapi ameliorasi berlaku untuk kata ini (buat yg belom tau ameliorasi, itu bukan nama teman saya, coba deh cek dengan guru biologi kamu, pasti dia kaga bisa jawab). Dan pastinya, ketika berbicara tentang Siapa (dan bukan apa) yang kita sembah.

Eniwei, kalo pernah baca notes sohib saya yang ini maupun ini (kamu kudu jadi temen FB-nya dulu baru bisa baca), mungkin bakal bilang, 'Ah, Dankur ikut2an tuh notes.' Kaga. Tidak, kami tidak bacok2an maupun teol2an untuk berlomba menulis ini. Dia bilang, 'Kan pasti isinya beda.' Yes; betul.

Oke deh, after all, saya memang ngefans dengan Daniel Radcliffe, dan dengan rendah hati menyadari bahwa saya mirip dengan bulu keteknya dia. Tapi kesadaran semacam itu muncul kalo kondisi saya sedang koma dan merasa semua orang lain gila sementara cuma saya yang waras.

GBU!

NB: Saya mungkin tetap akan bersikukuh bahwa saya mirip Harry Potter... XD

Thursday, July 1, 2010

Manis, Asem, Asin, dan Rasa apa ini?

[ If you are reading this via FB, please click here. Enjoy the new layout of my blog :) ]

So. Whazzup? Sudah lebih dari sebulan saya tidak ngeblog, dan itu parah. Well, my life? It's so far been messy, busy, happy, lazy, dizzy, and all the -y words... :p Sementara saya merindukan apa yg saya impikan dan sebut sebagai liburan, saya berpura-pura liburan dan dengan tidak bertanggung jawab mengabaikan tugas-tugas saya. My apology.

Ok, cut the crap. Hari ini adalah salah satu contoh busy days for me. Pagi bangun dengan shocked, karena sudah jam 8, padahal janji bangun jam 7. Hmpf. Dari jam 8 lebih sampe jam 12 di skul, lokasi baru sekolah tempat bekerja saya, rapat. Selese langsung alih kerja jadi racer yang ngebut ke Salatiga. Dan so nice berangkat dihantar hujan, pulang disambut hujan. Jam 6.30 langsung melaju ke lokasi sekolah baru, untuk briefing lebih lanjut, setelah mandi di rumah, dan tetap saja hujan selalu kangen dan pengin lengket dengan saya.

Eniwe, yang bikin saya aneh adalah beberapa perasaan yang entah buat orang lain biasa-biasa saja, padahal ini ngefek cukup banyak ke saya. Ke otak, dan hati saya, I mean. Seperti biasa, saya bisa terlalu banyak dan serius berpikir, atau merasa, padahal itu so trivial for others.

Siang tadi saya mengikuti satu setengah kuliah, karena saya ijin pulang awal. Kuliah pertama benar-benar meledakan otak saya. Saya memforsir otak untuk memahami penjelasan dosen maupun diskusi dengan teman-teman. Tidak ada pemahaman. Saya cuman bilang ke rekan, waktu break, "Sumpah, saya merasa goblok banget di kelas tadi. Sekarang saya tahu perasaan murid saya yang waktu saya kasi tes sering ninggalin lembar jawab tes kosong. Tadi saya merasa jadi murid itu." Perasaan saya takut, bingung, bodoh, kecewa. Such a feeling.

Sebelum berangkat briefing, mama cuman tanya, "Dan, mau pergi lagi?" Saya cuman jawab singkat dengan kata Ho'oh dan frasa mau rapat. Mama sedikit mengeluh, "Yah, padahal sudah ta' beliin tahu campur." Saya merasa sedikit kasihan, senang, dan haru. Such a feeling.

Di sela-sela briefing, saya keluar, agak suntuk campur ngantuk campur lapeeer. Jadi saya dengan pede keluar sambil membawa kotak makan berisi gudheg itu. Saya berakhir duduk di serambi, menemani Pak Min, pesuruh tercinta di sekolah, sambil makan dan mengobrol. Dia bercerita tentang kerjaan, tentang sebulan tanpa rokok, tentang liburan kemarin di Pati, tentang pantai di Pati, tentang peyek jengking (don't ask me what it is). Hati saya bersyukur, haru, sedih, kagum, semangat. Such a feeling.

Selesei briefing, sementara rekan-rekan buru-buru pada pulang, saya melakukan beberapa hal: konfirmasi calon siswa yg dapet beasiswa ke ketua yayasan, rapiin barang-barang saya, beres-beres properti sekolah yang ditinggal di ruang itu, Semuanya berlalu dengan cepat, keburu-buru, dan sendiri kalau tidak akhirnya ditemani satu guru yang belum pulang. Saya cuma bingung, pengin duduk, merenung, atau ngelamun, heran, dan kecewa. Such a feeling.

Setelah sepuluh menit menembus angin malam yang bikin mata saya pedes gara-gara lensa yang sudah tidak bisa diajak kerja sama, saya sampe di rumah. Saya duduk, sambil sekilas nonton Take Celebrity Out yang ga mutu, dan cuma merasakan sesuatu, dan berpikir. Sambil bikin susu, plus ngehabisin bungkusan kecil susu jatah adik yang ga diminum, saya merasa dan berpikir. Sambil cuci muka, gosok gigi, cuci kaki, saya merasa dan berpikir. Dan sekarang, sambil ngetik lagi-lagi saya berpikir, sambil merasa, menyelidiki hati, dan menuangkan ini semua di postingan ini. Baru kali ini saya merasakan perasaan yang terakhir ini. Saya masih tidak tahu, perasaan apa ini sebenarnya. Aneh. Ya, aneh. Pertama kali. Such a feeling.

Perasaan saya hari ini = nano-nano. Manis asem asin. Tapi ada satu perasaan, yang terakhir, yang sampai sekarang masih belum bisa saya rasakan jelas. Indera perasa saya ini, not literally, masih belum bisa mengecap dengan benar. Perlu mengecap lagi. Entah karena saya tidak peka, atau ini rasa yang baru buat saya. Tapi for such a feeling, I really thank my Lord.

Terima kasih sudah membaca update blog ini yang saya sadari sangat absurd.

GBU

Wednesday, April 28, 2010

Dan's Family Traits

Loha.

First of all, sebelum berangkat kuliah (sekarang saya lagi menikmati presentasi TAS BK; saya multitasking, jadi bisa mendengar sambil jemari ini menari di atas tuts keyboard), saya menikmati sekitar 10 menit berdiri di depan temuan teknologi paling berpengaruh sepanjang masa: CERMIN. Selama waktu itu saya menemukan lebih banyak uban *phew* dan ingat ikrar saya dulu: 'Kalo uban memang sudah masanya keluar, biarlah saya besok highlight ini rambut dengan putih saja, biar rambut hitam yang lain tidak iri menjadi putih.'

Oke, kalo pernah baca posting yang ini, pastinya tau kalo hari Minggu adalah (harusnya jadi) hari kesayangan keluarga. Dan yg saya paling suka adalah kesunyian di Minggu siang kalo saya lagi terkapar dengan indah di kamar papa, en Nico di kasurnya, Papa di sofa dalem depan TV, en mama membujur di sofa luar. Hm. Benar-benar keluarga yg kompak. Ini turunan ato tularan ya?

Saya pernah mikir saya ini beneran anak papa-mama saya or ga ya? Karena beberapa sifat kok diluar yang seharusnya diturunkan dari mereka. Ato karena ada mutasi gen yg bikin saya jadi 'aneh' dengan beberapa sifat di luar sifat ortu saya ya? Jangan2 dulu saya ditinggal sama Superman gara2 dia terlalu sibuk memberantas kejahatan, jadi takut saya ga keurus lalu ditinggal di luar rumah saya. Hmmm... Bisa jadi.

Hm. Kalo yg kenal papa saya, pasti bakal komen, 'Dan, Papamu "gaul", ya?' or 'Papamu lucu ya,' ato lagi, 'Papamu ramah ya.' Satu rekan saya pernah bilang, yg bikin saya mikir kemudian, 'Kamu kok beda sama papamu ya, dia bisa lucu konyol begitu, kok kamu kaku.' Itu sekitar tiga-empat tahun lalu. Sekarang? Masih sih.

Waktu dulu saya pertama pake kacamata, jaman2 SMP, banyak yang kemudian bilang, 'Wah, Daniel sekarang mirip sama Papa. Pake kacamata.' Cuma mirip gara2 kacamata, padahal saya ini lebih mirip mama saya. Pernah shock waktu buka2 foto lama, loh kok saya ada disana, en ternyata itu adalah mama saya. Dan sekarang, kalo liat adik saya, bakal makin keliatan si Nico mirip papa waktu jaman masi bujang en kurus dulu. Lucu liat foto papa waktu masi kerja di jakarta. Hihihi.

Eniwe, lepas dari masalah fisik, saya ini mirip mama-papa saya or campuran keduanya. Sifat keras saya dituruni dari papa. Sifat rajin saya, puji Tuhan, dapet dari kombinasi keduanya: papa itu telaten en bertanggung jawab, mama itu niat (kalo malesnya lagi ga kumat). Masalah ngeyel (plus pemberontak) saya di dapet dari mama, tapi dikasi sifat sabar mendengar dari papa; kombinasi yang keren. Smart-nya saya, ehem, nular dari papa; ngakak waktu liat rapor mama waktu kecil, peace, Ma. Hehehe.

Nah yang kadang bikin bingung adalah faktor-faktor berikut ini: artistik en musikal (papa-mama ga ada bakat sama sekali, en saya sudah wanti-wanti dengan keras papa dilarang nyanyi kalo lagi tugas di belakang mimbar majelis; sementara mama cuma hobby humming). Gila belajar en maniak buku: dari mana ya? Saya cuma liat papa-mama suka ngisi TTS, tapi ga sering baca. NARSIS, nah ini yg parah, karena papa-mama sama2 pemalu. Hmmm...

Nah. Melihat analisa saya, saya jadi bingung untuk bagian2 terakhir itu. Jangan2 hipotesa bahwa saya anak Superman, ataupun Suparman emang benar. Ato emang ada mutasi pewarisan sifat? Ato karena pengaruh pergaulan dan lingkungan sekitar saya? Saya rasa alasan terakhir lebih masuk akal dan bisa diterima.

Eniwe, bicara tentang pewarisan sifat dari orang tua ke anak, memang ini sangat menarik, dan melebihi masalah pewarisan genetis warna mata lalat buah. Ini pun seharusnya berlaku untuk kita yang sudah Lahir Baru, en jadi bagian dari Keluarga yang baru. Kita punya Bapa dengan Karakter-Nya yang pastinya diwariskan juga ke anak-anak-Nya. Tapi selama ini kalo memang bener2 kita ini anak-Nya, kenapa kita tidak menunjukkan sifat-sifat itu ya? Apakah gara2 kita lupa siapa Bapa kita, ato gara2 alasan saya punya sifat yang berbeda tadi: lingkungan, tempat tinggal temporary sekarang ini, ataukah jangan-jangan ini kita pura-pura (atau malahan bukan) anak Bapa?

Walo saya bukan ato belom jadi seorang ayah/bapak (dan ngarep untuk jadi bapak yg bisa gendong anak bayinya), tapi saya tau bahwa maunya orang tua (yg bener dan yg 'waras') cuma satu dan nda neko2: bawa nama baik keluarga. Selama ini kan selalu kalo ada kasus jelek dari seorang anak, pasti langsung muncul komentar, 'Oh, si X to? Anaknya si Anu ta?' Saya terus pengin menekankan hal ini dalam hidup: bawa nama baik keluarga (baca: orang tua). Kayaknya ini juga berlaku buat nama Bapa deh. Kita ini kan anak-anak-Nya? So, apa orang lain juga kenal siapa Bapa kita? Ini PR (benar-benar pekerjaan 'rumah' kalo kita tinggal di 'rumah' kita sementara ini) buat saya juga.

GB

PS: Sebenarnya ini topik sudah lama saya pengin tulis, en saya inget gara2 liat note di HP saya, topik2 yg belom terwujud dan tertulis, dan hari ini sebenernya saya pengin nulis topik yg laen yg masi hot buat saya. Tapi entah kenapa jadi blur ide-nya.... Hmpf.

Tuesday, April 6, 2010

Dan's best friend's thought: Up-and-Down

When I am down and oh, my soul so weary...
You raise me up so I can stand on mountain.
So, this is another quick post, before I continue working on my unfinished paper.

Saya mengingat perkataan sahabat saya, entah kapan, berbulan-bulan yang lalu waktu saya masi bisa menikmati masa-masa bebas saya setiap malem. Dia ngomong, kira-kira begini...
"(Dan)Kur, ne kamu pas down, aku pas up. Ne aku pas up, kamu pas down. Hehe, lucu ya..."
Oke, jangan mikir macem2. Up-Down disitu adalah mood kami. Persis di lagu 'You Raise Me Up'.

Entah kenapa, kata2 itu terus teringat, or kadang teringat lagi, apalagi kalo memang pas down, en teringat juga pas lagi seneng. How much have I shared my joy, embracing and encouraging others, apalagi kalo mereka lagi down? Dan sebaliknya, walo ga ngarep, how far have I told my best friends honestly when I'm down...?

Perkataan simpel itu sebenarnya memang jadi hal yg begitu mendalam saya pikirkan, dan seperti yang biasanya hal-hal kecil bisa jadi perkara yg sangat besar buat otak saya... Such a serious person like me. Bukannya itu tujuan hidup kita; after all, we don't live alone. We live so that we can help each other.

Kadang masi sadar, bahwa sebagai sahabat masi belom berani untuk berkata jujur, or belom bisa memberikan waktu banyak, or belom mau mendengarkan dengan seksama (sementara di dalem pikiran saya, judgement dan prejudice ambil peran dan berkeliaran). Tapi saya bersyukur kalo saya ditempatkan di antara banyak teman, or sahabat, yang boleh saya mengerti dan mengerti saya.

Kalo ada alasan penting lain kenapa saya bersyukur menjadi diri saya, ya, karena saya punya sahabat-sahabat itu. Yang baik Up maupun Down, saya pengin bisa menghabiskan waktu bersama mereka, kalo saja tugas-tugas ini tidak terlalu banyak menyita waktu saya.... Hahahaha.

GB!

Saturday, April 3, 2010

Dan witnesses the awesome creation

Halo. As usual, FB user, please click here.

This is just a quick post, mencoba mengubah kebiasaan menulis panjang dengan postingan pendek tapi lebih sering aja. Kenapa? Karena otak ini selalu berisi banyak hal, dan saya rasa mubazir kalo tidak di-share-kan dengan teman-teman. Sapa tau saya bisa meracuni pikiran Anda... :D

Eniwe, saya akhir2 ini semakin menikmati perjalanan commuting saya, bolak-balik salatiga-magelang, apalagi kalo naek motor, lewat kopeng. Plus kalo nda ujan :D or ujan siang hari, boleh lah, asal jangan pas malem, hehehe. Tapi malem juga keren kok, btw.

Saya selalu takjub dengan yg namanya Nature. Alam. Semesta. Mungkin cuma bagian kecil alam yg saya liat. Jajaran gunung, hutan hijau, biru langit, kadang semburat kuning di sore hari. Dan itu cuman di kompleks besar Magelang-Kopeng-Salatiga. Mungkin saya bakal lebih takjub en nda berhenti melongo kalo saya pergi ke New Zealand, or ke Fuji @ Japan, or Ayer Rocks @ Aussie, Niagara @ USetc. Tapi saya bersyukur dengan hal-hal semacam itu saya bisa makin meyakini bahwa ada Pribadi yang Mencipta. Ada Someone behind all those things, or behind the life itself.

Jujur, sudah tiga bulanan hidup rohani saya ampang. Nda ada yg 'ngisi' sama sekali. Saya memulai hari dengan doa. Tapi saya kosong sama sekali buat SaTe. Tapi dua hal, yg saya syukuri, tetap mengingatkan bahwa Dia memelihara hidup saya: Nature dan Musik. Saya masih merinding, dan selalu spontan berkata 'Puji Tuhan' (setelah saya takjub en nyeletuk.. 'What the...') Buat yg kedua, honestly saya selalu merinding en, ehm, agak basah ini mata setiap kali saya denger lagu 'When I Survey the Wondrous Cross'.

Tiap orang punya pengalaman sendiri2 buat ngerasain en ngeyakini bahwa ada si Dia. Ada yg bisa menyaksikan kehadirannya lewat kegiatan sehari2, kaya Brother Lawrence. Ada yg lewat pengalaman spektakuler en bombastis baru percaya. Ada yg dibantu musik. Ada yg memang menghayati hidup spiritual. Ada yg dikuatkan dengan kesaksian orang lain. Ada yg menyaksikan kebesarannya lewat alam, and that's me.

Saya tahu, bahwa saya salah en kudu 'balik'; dan saya sendiri masih merindukan saat saya ngobrol pribadi dengan Dia (baca: SaTe) walo saya sering, atau selalu juga, continuously speak and wonder what would He do, if I were Him, terutama di perjalanan dan di balik kaca jendela bis yang suram itu.

GB

Friday, March 19, 2010

Daniel belajar Ber-Toleransi

[Kalo Anda buka dari FB, apalagi kalo lagi buka pake kompie, please dengan sangat, klik disini untuk masuk ke blog saya...]

Aloha!

Saya mulai menikmati kembali journey saya sebagai seorang commuter Magelang-Salatiga, apalagi dengan adanya hape+headset yg membuat saya menikmati masa2 ngelamun sambil humming di dalem bis, di balik lapisan kaca jendela itu yg kemudian bikin saya pura-pura ga denger genjrengan fales dari para pengamen bis... :) Kadang, kalo pulang agak sore (ngebisnya cuman dua kali seminggu, PP, Rabu-Kamis, normalnya pulang jm 8 or 9 sampe magelang), resikonya kudu olah raga: berdiri satu jam dari Bawen ke Salatiga...

Perjalanan commuting ini selalu saja menyenangkan dan 'berwarna-warni' or istilah kerennya: kolorpul.... Berwarna-warni karena: saya bikin populasi dalam bis itu belang, putih sendiri, kemudian warna-warni bau yang semerbak mewangi bak bidadari dari langit tinggi turun ke bumi belum mandi tujuh puluh satu hari... Bayangin: pulang jm7 malem, di dalem bis desak2an dengan puluhan orang yg nasibnya sama: belom mandi dari terakhir mandi pagi, dua kali makan, plus makan snack yg nda jelas. Kadang barang bawaan para penumpang (seperti karung besar, ayam yang berkotek ga jelas, atau kadang potongan mayat :D ) yg ga jelas makin menghias kebinekaan aroma dalem bis. Mantap. (Nikmat, kan, apalagi kalo Anda lagi makan sambil baca blog ini...). Itulah sebabnya saya selalu sedia Fish****n, permen yg bikin plong, en at least aromanya muter2 di mulut en tenggorokan... :P

Muka saya kadang diamati dan jadi objek penelitian singkat di dalem bis. Pria kulit putih cerah, muka ga jelas, pake headset, dengan backpack melembung agak besar yg bikin dirinya kaya kura-kura kebakar matahari. Beberapa kernet bis sudah mulai hapal wajah saya. Terakhir kemaren saya disapa, 'Eh, mas, ayo, kok pulang gasik.' Padahal saya sendiri lupa ini bis yang mana. Kadang saya bersyukur en seneng ketemu beberapa penumpang yang dengan ramahnya menyapa saya dan mengajak ngobrol, walo sekedar, 'Mau kemana, Mas?' Yang parah kalo udah ketemu pengamen. Waduh. Saya heran kok sekarang pengamen mayoritas suka nodong ya, apalagi yg di daerah ambarawa-bawen. 'Om, minta duitnya....' OM DARI HONGKONG!

Eniwe, kemaren rabu saya pulang awal, thanks to Pak Bambang yg ternyata Kamis juga meliburkan kelasnya lagi (padahal saya suka dengan kuliah Teknologi Pembelajaran-nya) dan akhirnya saya kudu pulang jm5 dari salatiga. Seperti yg sudah saya prediksi, jam segitu adalah jam pulang karyawan pabrik, so nasib saya berakhir dengan berdiri dengan pose yang tidak pantas di pandang di bagian depan bis tepat di belakang kaca depan, desak-desakkan dengan beberapa penumpang laen.

Nah, coba bayangkan. Tangan kiri pegang pole, tiang besi, di deket pintu depan bis, tangan kanan memegang erat plang besi yang melintang horisontal di depan kaca. Karena saya lagi bawa laptop, so saya menolak waktu pak Kernet nawarin mindah backpack saya ke depan, dashboard. Backpack saya taruh di depan dada saya, karena kalo ditaruh di belakang tar bisa bikin kepala penumpang di belakang saya penyok kehilangan hidung. Nah ini jadi masalah. Saya sadar kalo penumpang di belakang saya agak risih saya kasi pantat, tapi kenyataannya sudah tidak ada lagi space buat saya gerak en pindah.

Sementara itu, orang di depan saya ga mau ngalah buat agak maju sedikit, padahal saya sudah nda bisa mundur. Dia mendesak mundur, en bersandar dengan enaknya di tiang besi sebelah kiri saya. Pernah sekali, dia bersin dengan keras, en tangannya megang plang besi di depan, kontan saya langsung jijik, dan saya ga sadar kalo saya menyuarakan, 'Iiiih....' pelan sambil memindahkan tangan saya dari plang itu. Kontan dia langsung balik kepala, en saya pura2 bloon ga ngeliat dia.

Waktu beberapa orang di lorong bis itu sudah mulai turun, dengan perjuangan hebat saya harus maju mundur sedikit, menyesuakan posisi berdiri dan kaki yang makin susah menginjak lantai bis, dan kadang diinjak-injak penumpang yg mau turun, saya dipaksa mundur. Anehnya, saya tidak dikasi tempat buat lewat, jalan mundur. Orang di belakang saya, seorang ibu yang mukanya ga begitu jelas, dan saya malah meragukan apakah dia ini manusia or ngga, tidak bergeming sedikit pun ketika orang-orang lewat. Saya waktu mau lewat ternyata ga dikasi celah, so saya agak kesusahan buat ngangkat backpack, en ga jadi deh mundur. Di tambah lagi seorang ibu dengan ukuran plus memalangkan kakinya yang saya lihat ga begitu jelas jelas pahanya lebih gedhe dari pipa pralon talang air di belakang rumah. Dan posisi kaki itu sukses menolak kehadiran saya.

Hal ini belom lagi ditambah dengan penumpang yang suka ngerokok dengan serampangan dan bergaya sok hebat dan cool dengan menyemburkan asap bedebah-nya... Haduh, yang ini saya nda tanggung-tanggung buat sengaja pura-pura batuk. Beberapa sadar, banyak yg tetep dengan bodoh mengurangi life-span-nya.... :P

Saya selalu berpikir ketika agak jengkel kenapa mereka nda mau ngalah. Kenapa mereka nda mikirin orang lain. Kenapa mereka cuman pengin enak sendiri. Mungkin mereka kesal, tapi saya juga lagi capek. Kita sama-sama capek, jadi kenapa tidak saling memahami dan mengerti? Kadang ketika berpikir gitu, selalu sisi Dankur yang lain bilang, 'Jangan-jangan dirimu yang tidak mencoba memahami mereka? Jangan-jangan memang kamu yang pengin enaknya doang?' Kadang yang namanya toleransi terus dilupakan, apalagi ketika sudah mulai memikirkan enaknya diri sendiri. Saya nda peduli dengan dia, itu urusan dia, itu masalahnya dia. Saya juga punya masalah sendiri, jadi urus saja masalahmu sendiri. Makan tu penderitaanmu.

Menjadi seorang guru pun, saya ditantang untuk bertoleransi. Akhir-akhir ini, saya diajak berpikir ketika saya marah dengan tidak bertanggung jawab gara-gara kebawa emosi, walau frekuensi dan intensi marah saya sudah berbeda. Saya ingin menegakkan disiplin, tapi kadang mungkin saya jadi lupa membuka pikiran saya lebih luas. Jangan-jangan memang murid ini ga bawa pe-er karena kemaren dia terlalu sibuk mengurusi pemakaman anjingnya. Jangan-jangan dia terlambat karena memang tadi pagi dia bantu ngurusin adiknya sementara ibunya terbaring sakit di kamar reyotnya. Jangan-jangan dia hari ini ga' pake seragam karena seragam lamanya sudah sesak dan dia belum bisa beli yang baru sementara membayar uang ujian saya harus hutang sana-sini. Jangan-jangan...

Tapi saya juga harus adil dan cerdik. Toleransi, dan kalo saya linient, bukan berarti kemudian orang lain bisa seenaknya sendiri dan memanfaatkan 'kelemahlembutan' dan 'simpati' saya itu. Bukan berarti orang lain juga seenaknya sendiri menuntut perhatian dan perlakuan dari kita atas nama toleransi yang ngawur. Toleransi akarnya pada penghargaan dan perhatian. Menghargai bagaimana orang lain melihat, merasa, berpikir. Kita perlu mengerti dan menggali lebih dalam lebih dulu apa, mengapa dan bagaimana mereka bisa sedemikian itu. Ada batasnya juga ketika keadilan dan kepatuhan hukum kemudian tidak mengijinkan toleransi ataupun permisi semacamnya.

Hm. Saya selalu belajar banyak dan mendapat banyak dari pengalaman melaju saya. Empat jam dalam dua hari setiap minggunya saya lewatkan dengan duduk tidak nyaman di bangku yang kadang sudah jebol dan busanya menongol sana-sini dengan tidak layaknya. Saya memandang keluar menembus kaca jendela bis yang buram dengan debu yang jarang sekali dibersihkan kecuali diguyur hujan. Saya merenung, saya mendengar, saya mengamati, dan saya melihat. Itu juga kalau saya tidak terlelap dengan tidak sopannya karena kadang mulut eksotis saya terbuka sambil kepala terkulai ke belakang ditelan rasa capek. [^_^]

Aloha!
GB

Sunday, March 14, 2010

Dan's Sorrowful Tragedy

[Buat para pembaca dari FB, apalagi kalo baca di PC, please click here ke blog saya...]

Hai.

Do I love Monday? Well. It depends.

Anyway, Minggu kemaren ini adalah hari terkonyol dan hari paling menyedihkan di sepanjang sejarah kehidupan saya selama ini (setelah hari jatuhnya mama+adik ke selokan, hari hilangnya HP, dan dua hari lainnya dimana saya menolak keputusan dan tawaran yang luar biasa menggiurkan).

So, kronologis singkatnya: saya beli modem im2 di hari Rabu - modem sering error gara2 Generic Host Win32 - saya pengin instal ulang XP - saya dibujuk2i pindah se7en - saya nda mudheng instal se7en - eventually, ada kebodohan super sehingga data saya yang sangat mulia berharga dan tidak tertandingi (oke, lebay. I admit it) hilang karena format drive yang tidak jelas.

Jadi saya waktu rencana mau mempartisi drive C dan D, yg isinya sistem en program, karena C-nya terlalu sedikit untuk Windows Se7en. En, ga tau kenapa karena saya ingat bener saya itu cuma format en delete C and D. Kok waktu ganti CD XP (karena se7en-nya waktu itu error gara2 drive D udah ke delete en mau dipartisi ulang ga mau), tiba-tiba udah hilang itu drive yang laennya.

Amblas deh 20GB hasil download-an saya yg isinya teaching resources. Semua buku2, pdf, gambar, dll hasil kerja keras nyomot sana-sini (tanpa digunakan untuk keperluan komersil) hilang. Semua koleksi desain en contoh grafis lenyap. Semua dokumen kerja en portofolio juga hilang, including dokumen administrasi ngajar, notula rapat gereja en sekolah, semua materi hasil karya saya buat ngajar, semua tulisan-tulisan saya, en semua hasil kerja desain saya juga lenyap... Ada beberapa yg in fact masih 50% kudu segera diselesaiin.

Siang itu, seperti biasa kalo saya lagi stress, agak down. Nda tau kenapa biasane nangis tapi kemaren cuma bisa diem. Ada waktu kira-kira 30 menit diriku cuman duduk, di depan laptop yg mati. Nda mikir apa-apa. Bingung. Itu jam setengah 11, jam11 saya kudu ke gereja. Dan saya lagi error.

Thanks to Mr. Willi, yg dengan usul GetBack bisa retrieve beberapa file, dan anehnya kok file My Document sama sekali tidak terdeteksi. Yg bisa diselametin malah yg master software... Sekarang, diriku masih menyesali begitu banyaknya dokumen yg ilang. Waktu tadi malem diriku sms sohibku nun jauh disana, en I know she could understand my feeling, karena yg saya tonjolin itu ilangnya plus-minus 20GB teaching materials hasil donlod. Buat saya itu yg paling berharga... Well, thanks ya, pal for your sympathy.

Sekarang saya agak bingung juga. Saya sudah susun rencana besar untuk memulai petualangan baru dengan my laptop, berburu di belantara Internet yang begitu maha luas dan selalu menyesatkan. Saya sudah menyiapkan persenjataan buat berburu file donlod-an. Yang jelas akan ada banyak yg perlu saya donlod, dan nda tau makan waktu berapa lama...

Eniwe, kalo saya terus meratapi yg kemaren2, saya nda bakal maju, cuman sedih aja. Saya nda bisa kemudian kerja, en saya jadi BUDAK TEKNOLOGI. No! Saya masih bisa kerja dengan yang lainnya. Saya kemaren juga waktu tau ada latian jm11, saya sempet mikir, 'Ah, batalin aja. Sini lagi sedih en bingung. Mereka juga pasti tau.' Tapi saya sadar itu bakal jadi hal yang soooo selfish. Saya sorenya kudu ikut latian fragmen, en saya menyadari bahwa saya belom selesein itu naskah fragmen. Saya bisa saya jadi males en egois en nda bertanggung jawab en pake2 alesan ini itu, termasuk alesan tragedi laptop ini, buat ngesampingin tugas saya... Hm. Saya milih tidak seperti itu, meskipun pada akhirnya saya juga belom 100% nyelesein naskah.

Meratapi masa lalu bukan hal yang baik. Ketika masa lalu terus menerus nyeret kita en jadi trauma or masa kelam yg meneror masa sekarang en masa depan, itu bahaya. Banyak orang yg terlalu paranoid karena pengalaman pahit masa lalunya. Saya punya trauma di masa lalu, dan sampe sekarang kadang kalo inget juga bikin males en takut. Tapi saya tidak diperbudak oleh masa lalu saya. Banyak orang yang mencoba mengubur dalam-dalam masa lalu, tapi saya bilang itu bukan solusi yang bener. Ada yg kemudian bilang bahwa kalo inget masa lalu, berarti tidak mensyukuri yang sekarang, karena mereka hidup dengan 'kejayaan masa lalu.' Hm. Ada benar, ada salahnya. Masa sekarang yang jelas harus disyukuri dan diperjuangkan. Masa depan direncanakan, sebagai manusia kita boleh dong berencana en punya cita-cita. Walo nantinya Tuhan juga yang netapin, tapi kenapa kita ga boleh berjuang untuk itu? Kalau ada yang salah mengartikan dengan mensyukuri hari ini kemudian hari depan tidak untuk dipandang, saya bilang itu agak naif.

Eniwe, saya bersyukur malem kemaren bisa bercanda tawa waktu latian fragmen, thanks pals. Bener-bener menghibur. Bener-bener bikin saya lupa dengan kesedihan en kesetresan saya seharian. :) Saya bersyukur punya temen-temen yang hebat: hebat talentanya dan hebat nularin sukacitanya.

GBU guys!

Wednesday, February 24, 2010

Daniel ngajar Sains?

[Hai. Fesbuk-ers... mari, klik disini ajah... :)]

So, ada dua kejadian lucu beberapa minggu akhir ini, share dulu mumpung belum lupa:
  1. Beberapa hari lalu, di rumah sempet heboh gara2 kasus hilangnya stock CD a.k.a segitiga pengaman a.k.a c***t, ga nanggung juga ilangnya setengah lebih persediaan dalem lemari. Sontak saya langsung panik. Mo pake punya papa takut ntar saya selalu put my hands on my hip alias metenteng dengan tidak gagahnya gara2 kedodoran CD papa. Mo pake punya adik, tar saya tebar senyum simpul tak beraturan gara2 tersiksa dengan CD ukuran M yang mencekat. Nah, akhirnya bingung. Setengah hari sudah kalut bingung sore mau pake CD siapa, ga lucu juga kan kalo pake CD punya mama, wedew... [stop, jangan bayangin tubuh seksi saya lebih jauh lagi] .... [SAYA BILANG STOP!] Ehem. So. Saya masih panik juga. Sebagai seorang guru (sekaligus translator yang kadang nyambi desainer en part time petugas bersih2 kampung) yang bernaluri detektif, dibantu oleh mama saya yang urun ide, mencoba berspekulasi en mulai curigation... Dugaan semula adalah ada maling profesional khusus pengutil celana dalam berlubang. Tapi bingung juga kok yang diambil cuma punya saya. Padahal punya tetangga juga sering berkibar menghias indahnya biru langit. Dugaan selanjutnya adalah tikus jail yang kurang kerjaan en agak kelainan yang akhirnya menggondol dengan kuatnya stok CD saya.

    Sehari setelah jadi detektif (ga usah tanya saya pake CD siapa malemnya), ternyata saya dapet wahyu untuk ngoprek2 kamar. En menemukan sesuatu yg dudul en konyol. Tumpukan CD saya ada di kursi lipat (kursi kuliah) di deket lemari. So ternyata mama saya yg hobi ngomel melihat lemari saya yang amburadul ternyata beberapa hari sebelumnya memberesi tu lemari. En waktu memberesi, dia numpuk CD saya sementara di luar, en ditaruh di kursi lipet itu. Nah saya, plus adik saya, yang kreatif, selama ini memanfaatkan kursi lipat itu untuk tempat menumpuk baju-jaket-sweater yg mau dipake lagi, plus tambahan tumpukan buku en komik yg seabrek kere. Waktu lapor ke mama, kita sama2 ngekek. Mama sendiri juga heran kok bisa raib dengan tidak lapor2, karena saya paling hobi nuntut beliin CD en stock CD saya yang paling banyak dirumah. Hikmahnya: saya harus nambah stock CD kalo2 hilang lagi saya bisa pake CD baru. Wkwkwkwk.

  2. Tadi waktu mau ke perpus, thanks to Pak Bambang yg lagi2 kosong kuliahnya, saya jalan bareng temen kuliah saya. Nah si dia ngajak diskusi tugas presentasinya (yg saya sendiri ga mudheng sebenernya), en tiba2 waktu kita di lift, masuk deh satu dosen yg asing buat saya. Temen saya langsung bilang, 'Nah mumpung ada Pak Tri...' En si pak dosen ini langsung diajak ngobrol, diskusi panjang lebar, sampe2 kita harus berhenti di depan gedung buat nerusin kuliah informal pak dosen. Akhirnya kita pisah. Waktu saya tanya itu si dosen siapa, temen saya cuma jawab dengan simpel dan lugunya, 'Aku yo ra ngerti.' Ya oloh...

    Belum berakhir. Waktu kita naek tangga perpus, en sampe di pintu gedhe perpus, saya sempet sekilas membaca tulisan instruksi di pintu kaca itu PUSH. Nah, mungkin karena temen saya juga lagi ga konsen karena kita juga lagi diskusi (katanya saya mirip sama kontestan salah satu acara lomba di tipi, yg disebut 'Skinny' wedew...), temen saya dengan semangat en antusias membuka pintu perpus itu. Dia TARIK, bukan DORONG. Mungkin push dengan pull emang cuma beda dua huruf saja. Nda begitu banyak. Nda seperti Daniel en Orlando yg emang beda 180 derajat. Dia baru nyadar setelah baca tu instruksi yg saya tunjuk. En saya entah kenapa juga spontan pengin ngakak sambil tereak, 'PUSH!' waktu tu pintu dibuka en tereakan saya yg emang tidak manusiawi membuat penduduk lobi perpus langsung balik badan en melihat sumber keributan itu. Kita berdua cuma ngekek.
Eniwe. Kembali ke laptop. Entah kenapa kok saya memikirkan lagi salah satu cita-cita saya jaman saya kecil (sampe SMA juga sih sebener'e). Cita-cita itu nda jauh beda en menyimpang dari pekerjaan sekarang saya sebagai seorang guru. Kalo saya sekarang ngajar Bahasa Inggris, yang makin bikin saya jatuh cinta pada profesi saya, saya sebenernya juga pengin ngajar Sains, especially BIOLOGY (not Physics or Chemistry, never! no way!). Saya dari dulu selalu terpukau dengan binatang2. Suka ne liat buku2 tentang eksperimen, nature, animals, sains... En saya rasa saya bisa develop much kalo saya ngajar Sains.

Meski sekarang saya ngajar Inggris, tapi teks bacaan yg saya jumpai banyak banget yg hubungannya dengan nature, en saya ngiler setiap kali saya baca teks itu. Saya bisa aja ngajar about animals pake LCD, pake flashcards, bikin AVA yg menarik, tapi tar jadi bias en menyimpang. Bukannya ngajar inggris saya malah ngajar sains. Jadi saya cuma bisa diem en merenung memikirkan mimpi masa kecil saya yang nda tercapai.

Saya sebenernya memasukkan Biologi jadi salah satu mata pelajaran favorit saya di SMP en SMA, walo dulu waktu SMA ujian nasional Biologi saya cuma dapet enem. La ya gimana lagi, saya paling males menghapal, en saya tidak diajari bagaimana understanding instead of merely memorizing... Waktu inget pelajaran sains (dulu IPA) di SD pun saya sedih. Jaman saya bener2 jaman membosankan. Anak-anak dijejali ratusan materi. Nama, teori, konsep yang kudu dihapalin, bukannya dimengerti. So conventional. Old fashioned. Saya sering baca artikel di internet, en gabung forum teaching sana sini, apalagi kalo tentang elementary teachers. Waduh. Saya tambah ngiler liat gimana mereka teach children and let their children express and show their understanding. Gimana anak2 dikasi kesempatan untuk bereksperimen en mengamati langsung. Anak2 juga dikasi tugas untuk 'presentasi' sederhana apa yang mereka tahu, sekali lagi bukan sekedar menghapal dan tahu... Haduh.

Saya masih berharap besar buat bisa sekolah lagi, belajar lagi tentang SAINS. No problem kalo saya dapetnya Sains PGSD, elementary Science study gitu. Or S2 lagi ambil elementary teaching, tapi duit dari mana. Wkwkwkwkw. Semoga ada sponsor yang baca tulisan saya ini, en tergerak hatinya tanpa saya harus berlutut, merengek, dan membanjiri ujung celana panjangnya dengan tangis buaya saya, yg kemudian kasih saya scholarship untuk studi semacam itu.... Wkwkwkwkw.

OK. Thanks sudah membaca posting absurd saya yang satu ini. Ide untuk posting terus mengalir, tapi waktu berlomba dengan kesibukan saya, dan saya terjepit ditengah kemalasan dan kerajinan saya.

GB.

Wednesday, February 3, 2010

Daniel dan kebiasaannya

[FB User, please, I beg, click here...]

Manusia terbiasa untuk membangun dan menikmati sebuah kebiasaan. Quote siapakah itu? Itu quote saya. Well, yes, saya ngarang sendiri. :p

Betewe, saya menikmati waktu luang di kelas ICT, sementara teman2 yg laen sedang belajar membuat email dan blog... :)

So, sudah kurang lebih tiga bulan saya memakai softlens saya yang berwarna biru ini, dan mulai terbiasa, walopun kadang juga masih sering jadi capek. Dulu pertama kali pake softlens, mata bakal pegel en protes pengin melepaskan diri kalo sudah mulai sore-malem. Sekarang sampe jam 9 kadang masih ga pegel, tapi sudah pedes, hehe. Dulu pertama kali pake softlens juga kadang masi awkward buat pasang-copot ni softlens, tapi sekarang kalo sudah mo nyopot malah keliatannya si softlens ga mau lepas dari mata ini. Saya masih belom terbiasa aja kalo lagi kuliah di ruang AC, mata langsung sering kering, pedes, en pengin dikucek.

Kebiasaan laen adalah minum susu di malem hari sebelum bobok. Sudah hampir sebulan, en akhir-akhir ini malah agak terganggu ini kebiasaan gara-gara saya kecapekan. Dulunya minum susu di pagi hari, tapi karena mengingat kesibukan pagi (yg notabene gara-gara saya selalu bangun terlambat dan kesiangan, hehehe). Kata orang minum susu di malem hari bikin badan melar. No problem. Saya malah pengin badan saya tambah ndut (btw, sudah turun jadi 49 kg lagi :( )

Saya nda tahun berapa lama waktu yang saya butuhkan buat bikin kebiasaan nyimpen wrappings, or bungkusan, entah permen, or plastik, or kertas, or tissue ke dalem saku or tas kalo saya tidak berhasil menemukan tong sampah di sekitar saya. Dan kadang mama yang sering ngomel kalo lagi seterika celana tiba-tiba ada yg menonjol dan itu adalah bekas tissue or bekas plastik... :) Saya pikir saya bisa mengurangi jumlah sampah yang bertebaran di jalan dengan kebiasaan kecil saya yang mungkin dianggep konyol ini.

Kira-kira bulan desember akhir, satu kebiasaan yang saya anggep sangat baik dan membangun sudah tidak demikian ketat-nya saya lakukan: Saat Teduh malem (a.k.a Devotional Time, a.k.a Quiet Time). Saya masih menyimpan buku jurnal SaTe saya, tebel, ijo, batik. Tapi sudah jarang saya tulis. Saya terlalu capek (alasan klasik dan klise). Saya agak kangen juga minggu-minggu ini, apalagi ketika saya mulai menikmati kembali rutinitas saya. Kadang saya kangen curhat dengan Tuhan. Kadang saya kangen dengan saat-saat diam, waktu saya mikir dalem doa saya, maupun ketika saya mencoba menuliskan apa yang saya pelajari malem itu, hari itu.

Mungkin kebiasaan saya di atas kedengaran baek. Memang. They are good habits. Bagaimana dengan yang jelek? Wooo... jangan tanya, bung, banyak, maksudnya saya memang punya beberapa kebiasaan jelek... Pulang ke rumah sandal dan sepatu seenaknya bertebaran, en berakhir dengan mama yang sering marah2. Buku-buku kalo abis baca, apalagi kalo saya sudah terkapar, juga bakal langsung berserakan disana-sini. Saya sering lupa matiin lampu, padahal ironinya saya ini pendukung energy-saving project... :)

Memang kebiasaan jelek itu susah dihilangkan, sama halnya dengan susahnya membangun kebiasaan baik. Aneh kan? Kebiasaan baek mudah sekali untuk dihancurkan, diganti dengan yang jelek. Kebiasaan jelek susah sekali untuk dikembangkan en dibiasakan... Bagaimana seandainya kalau kita sudah terbiasa dengan dosa? Waduh.

Ada orang yang bahkan berbuat dosa saja sudah jadi kebiasaan. Tidak merasa berdosa. Saya tidak mau munafik. Dan kadang saya cuek. Meski kadang ada yang berbisik pelan, mencoba membuat saya merasa tidak tenang untuk berbuat dosa, tapi akhirnya saya juga kerap jatuh dalam dosa. Tapi saya tetap tidak mau mengatakan bahwa saya membiasakan diri untuk berdosa; saya berjuang melawan dosa, sama seperti rekan-rekan lainnya.

Kadang heran. Kadang habis akal. Ada orang yang dengan santainya melakukan, or karena sudah terbiasa, hal yang jelek, yang merugikan, yang membunuh orang lain. Entah apa yang mereka pikirkan ketika mereka memang sudah menikmati hal itu. Atau mungkin tidak ada perasaan nikmat itu, tapi orang itu melakukannya dengan tidak berpikir, yang artinya memang sudah jadi kebiasaan. Bahkan ketika ditanya kenapa bisa melakukan hal itu, si pelaku sendiri juga kebingungan... Hmmm...

Kata temen saya kebiasaan bisa dibangun dalam 30 hari. Bener ato salah, kenapa tidak dicoba?

GB

Sunday, December 13, 2009

Dan's view at the evaluation of TL...

[FB user please click here as always!]

Hi.

Desember itu bulan yg gembira (it should always be like this) sekaligus sebagai 'The Darkest Month of the year' for teachers...

Gembira karena liburan panjang (harusnya) yg artinya: lebih banyak waktu istirahat, en waktu tidur siang, en waktu begadang yg banyak... Nda gembira berarti karena bulan gelap ini nda ada income buat para guru les... wakakaka, sekaligus kalo mau dilihat kesibukan buat persiapan Natal, ini tetep jadi bulan tersibuk (padahal tiap bulan memang si sok-sibuk menyibukkan diri)... tapi eniwe, nda ada alasan buat berhenti bersyukur ditengah kesibukan ini, en terus berdoa, biar saya will never feel that solitude and loneliness among the multitude and all the busyness.. (For my cousin, jangan protes bilang saya nda bersyukur... Hihihi).

Eniwe, entah kenapa sebener'e sudah ada beberapa topik buat posting, tapi sindrom males ini bikin saya lupa posting. Dan entah kenapa justru topik yg mo saya bahas ini bikin saya semangit, eh, semangat buat nulis disini.

Minggu ini jadi minggu sibuk di sekolah, setelah minggu sibuk gara2 pelaksanaan Ulangan Akhir Semester Ganjil. Nah, seperti biasa, sudah pada antisipasi (baik guru maupun murid) adanya Ulangan Remidi!!!

I WOULD ALWAYS DISAGREE WITH SUCH SYSTEM OF REMEDIAL THINGS.....

Saya nda suka mental pendidik en pelajar jaman sekarang yg banyak berharap en pasrah dengan yg namanya remedial testing, remedial teaching, remedial etc etc... Buat saya kesalahan itu tidak untuk diperbaiki. We learn from our mistake. Yg udah, ya udah. Belajar en improve diri setelah melihat itu. Tapi kenyataannya, sistem remidi semacam ini sudah bikin mental siap diri en improve turun.

Anak-anak sudah selalu terkonsep, "Kalo tes-nya jelek, ah gapapa, tar kan ada remidi, en alhasil selalu naek en tuntas entar..." NO WAY! Saya paling nda mau kalo disuruh remidi terus nilai jelek, asal naikin nilai biar tuntas, biar saya sendiri nda repot...

Guru-guru juga kadang kalo sudah nilainya jelek2, asal kasi tugas remidi, yang kadang njeglek banget level-nya dengan kompetensi yg sedang diuji... Asal aja, biar keliatan ada perbaikan, terus tiba-tiba nilai naek semua... Saya dengar dari sana-sini, banyak yg seperti itu. Anak2 les, anak2 di gereja juga sering pada cerita begitu. Apalagi yg ironi adalah, ada satu anak les tiba2 dikasi tau oleh gurunya (yg katanya killer), "Besok remidi semua satu kelas." Waktu saya tanya, nilainya berapa, eh si anak boro-boro dikasi tahu nilainya. Jarak seminggu, ternyata nilai aselinya jauh di atas KKM, en malah bagus... Gubrak!

Saya masih inget kelas enam SD dulu, ini bakal sangat membekas, karena itu pertama kalinya saya dapet nilai 0 (NOL! ZERO! NOUGHT!), en buat Pendidikan Agama Katolik (remember: saya SD di Tarakanita). Waktu itu sistem pengajarannya masih konvensional (baca: Kolot en monoton). Dua jam seminggu, tiap ketemu kita mulai dengan ulangan sejam, en pelajaran sejam. Buku ulangan dibagi harus ditanda tangan ortu, minggu depan harus dibawa. Nah, apesnya waktu itu saya tidak bawa tu buku ulangan. Sudah keringat dingin, ga bisa mikir ulangan, en alhasil memang ga' boleh ikut ulangan en berbuah dengan satu nilai telor itu... (en akhirnya rata2 di raport jadi enam!) Saya bakal ingat kejadian itu. No remedial teaching. No remedial test. No excuse. No opportunity to redeem my mistake at all...

Saya iri dengan anak2 jaman sekarang. Mereka bisa yang namanya remidi. Saya termasuk salah satu guru yang idealis, en ngasi nilai apa adanya. Sempat tadi pagi pusing, en stuck, memandang dua nilai Nol seorang anak. Tidak ikut ulangan, tidak nyusul, tidak nemui saya. Mau dibagaimanakan?

Kadang saya mikir, apa saya yang kurang jelas dengan konsep remidial things... Atau memang saya yang ternyata masih idealis. Saya paling anti dengan namanya katrol mengatrol en manipulasi nilai. Mau lima milyar, mau sepuluh milyar, never will I do such stupid thing!

Saya tetep bersikukuh, berdiri tegak pada pendirian saya: Learn from your mistakes.

GBU all!

Monday, September 14, 2009

Daniel berkaca dari orang lain

Halo.

Ngaca jadi salah satu hobi saya, entah sekedar buat menikmati indahnya diri saya (iya, silakan mutah), or praktek berpose en senyum (latihan dulu), plus ngoreksi apa yg masih perlu dirapiin en dibersihin dari si 'saya' yang terjebak di dalam dunia kaca (kaya Alice aja). Eniwei, pokok'e dari berkaca, kita bisa melihat seperti apa diri kita, walo kata temen saya, berkaca tu bukan sebener'e kita, considering that our left becomes their right... :)

Btw, beberapa hari lalu diriku seperti biasa memulai hari2 kerja (baca: mengajar) di SMP dengan briefing pagi, yg diawali dg renungan plus sharing trus briefing. Kadang ada sharing yg menarik. Kadang ada yg menggugah minat. Kadang klise. Tapi diriku mencoba terus menyimak dengan baek, en memahami kenapa mereka berbicara seperti itu. Pernah sekali diriku agak shock en annoyed dengerin satu rekan yg nge-share pandangan dia dengan ST banget (Sok Tahu). View-nya dia salah. Ngawur. Diriku juga paling ga sreg kalo dengerin orang sok tahu.

Waktu bisa nge-judge kaya gitu, pagi itu, diriku langsung kaya ada yg nampar. 'Bukannya selama ini dirimu ya ST, ta, Dan?' one side of my brain whispered. Well, yes. Ternyata diriku nyadar gara2 kejadian pagi itu. Diriku ga suka liat or denger orang ST, tp kenyataan diriku masih sering ST. Kenapa ga diem aja kalo memang ga tahu. Kenapa ga denger aja kalo mm pendapat kita juga sama aja. Berkaca. Diriku diem, en belajar.

Diriku kadang sering bothered, terganggu liat rekan kerja yg males2an. Jatahnya bikin, en nyelesaiin kerjaan, tau kalo ada banyak pekerjaan numpuk, eh malah ngobrol2. Ini yg sering bikin jengkel. Tapi kadang melihat mereka bermalas2an kaya gitu, diriku jadi berefleksi. Kadang diriku juga suka menunda, en walo beres di akhir detik2 deadline, tapi kadang juga masih 'males'2an versinya saya: ngeNet, baca-baca hal yg nda berhubungan, nyantai2... Oke, pekerjaan emang selalu selesai, tapi menumpuk. Yg terakhir paling nda penak. Berkaca. Diriku merenung, en belajar.

Sering kali diriku melihat anak2 or bahkan orang dewasa yg merasa minder. Ga pede-an (en ini bukan berarti lawan katanya narsis). Mereka ngomong ga berani lihat lawan bicara. Ga berani pandang lawan bicara, nunduk. Ngomong sama si A, tapi bahasa tubuhnya keliatan banget nda nyaman en ga pengin ngomong sama si A, takut en anxious. Waduh. Diriku juga sering nemuin kalo lagi ada yg ngomong, tapi ga dilihat, saya agak males ngobrol jadinya. Loh, kayanya ini diriku yg dulu, or kadang masih yg sekarang. Walo saya sudah belajar banyak untuk tidak usah malu en grogi, tapi apa saya sudah 'memperhatikan' lawan bicara saya, ya? Berkaca. Diriku belajar dari mereka.

Talk behind someone's back. Nggrundeli orang. Ngomongin orang. Paling males kalo diajak begituan; paling menghindari. Kadang kalo ada rekan kerja yg barusan ada masalah, terus beraninya bisik2 cerita ke orang laen diriku agak males juga. Kemaren ada kasus yg cukup besar, en ada satu rekan yg cuma bisa ngomong sana-ngomong sini, begini dan begitu, tapi ga berani konfront langsung. Memang keliatannya dia coba cari solusi, or malah coba cari dukungan. Hm. Diriku menghindar, or kalo diajak ngomong ya cuman dengerin, simpen dulu, dan tanggepi dengan, 'Oh...', 'Iya?', or 'Hmm... Gimana ya?'. Tapi saya terdiam. Kadang walo sudah sering mencoba menghindar gosip, or grundelan, diriku juga satu, dua, tiga, dan sekian kali mencoba cari celah bocor buat nggosip. Duh! Berkaca. Diriku ga mau seperti mereka. Saya belajar.

Satu hal yg paling bikin diriku, plus adekku, ga begitu nge-respect Papa kami (tolong jgn disalahartikan) adalah kebiasan smoking-nya dia yg buruk. It doesn't mean that I hate smokers. No. Saya menghormati smokers yg mencoba cari smoking-area, ga ganggu yg laen yg non-smokers. Tapi papa saya ngeyel. Meski kami sudah 'mengucilkan' dia, so kalo dia ngerokok ga boleh deket2 en biasanya di ruang tamu, tapi akhir2 ini baunya makin strong en nyebar kesana-sini. Kebiasaan yg dianggep memuaskan dirinya, bikin orang laen jengkel. Ini ga baek. Tapi, bukannya saya kadang begitu juga? Hm. Saya masih juga ada kebiasan buruk yg mungkin bikin orang laen jengkel. Ego saya sendiri. Repot dirasain orang laen. Hm. Berkaca. Diriku mikir dan belajar.

Berkaca dari orang laen bukan cuma melihat dari yg jelek2 so kita nda mau ngikutin mereka. Melihat juga yg baek2 yg kemudian kita bisa tiru. Melihat apa yg bisa dipelajari dan dicontoh dari model yg mereka pantulkan. Hm. Ini yg menantang. Juga memandang Sosok yg selalu kasih model, plus inspirasi, yg nda pernah habis en selalu layak buat ditiru. Sebagai guru pun diriku sering mencoba melihat, apa saya sudah jadi kaca yg mantulin karakter2 yg pantas dilihat, or hal2 yg layak dipandang sama anak2, or rekan2 yg laen ya? Apa saya sudah jadi teladan yg baek ya? Hm. Belajar.

Woke, tenkyu sudah membaca sejauh ini. Semoga kita bisa belajar bersama dan terus berkaca dalam hidup ini. Diriku mau ngaca dulu. Hehe.

GBU!

NB: (1) Diriku lagi pengin banget ngikutin komik Naruto, tapi ga sebegitu ketagihannya, (2) Ada yg bisa ngajarin maen2 bikin 3D? en (3) I am fed up with downloading so many documents and files from the Net, but why I can't stop hunting for any downloadable materials? Duh!

Tuesday, September 1, 2009

Daniel found several inspirations... (dan ga mau kaya Marshanda)

Hi!

Diriku kasian juga liat Marshanda. Sudah sempet donlod dua tube dari youtube tentang si Cha2 yg nyanyi sambil nangis. Frowning. Aneh. Ngopo kuwi, nda mudheng. Sudah lama juga nda nyimak inpotainment... :p Tapi kalo ada orang yg bisa sampe sebegitu unwell-nya (kalo dia ga mau dikatakan mad), berarti something wrong within, plus many pressuring wrongs from outside... :)

Eniwei, ada tiga hal (or bidang) yg kalo sudah bermasalah, juga bisa bikin diriku down, depresi, en ujung2nya males ngapa2in (baca: lemes, lesu, nda bersemangat). Dan mereka adalah: hubungan dengan Tuhan, temen (or more often close friends), en gereja. Yang terakhir, sudah beberapa hari bikin down en males. Semalem pun rasane loyo banget buat dateng ke gereja (walo awalnya ga loyo buat kumpul bareng anak2 KTB, yg seneng ngaco... :p). Stres.

Tapi, praise the Lord, kalo diriku tetep kuat (which is for me a big change in my life, bandingin dengan jaman dulu yg full mutungan en males2an kalo udah ada masalah...). Diriku ga kepengin kaya Marshanda, yg kalo udah down, terus blow up... Meledak. Rekam youtube, sebarin, en 'cari sensasi' (or lebih tepatnya hunting pity from others... sory). Jangan bayangin juga diriku terus rekam video narsis, sambil nangis bombay, telenji dada, terus nyanyi2 Lupa-Lupa-Ingat sambil meratapi kesedihan dan kedudulan hidupku plus mengacak2 rambutku yg tadi barusan dibilang ga terawat oleh anak2ku... Mutah, silakan mutah...

Diriku bisa bertahan selaen karena yakin sama Tuhan, juga karena banyak hal stupositip lainnya yang bisa saya lihat, en instead of stupidly sitting and thinking of my problems without doing nothing, kenapa juga ga mencoba me'metani' yang baek2 en keep on running on my track, masih banyak yg bisa dilakukan... Dan masih banyak yang bisa dilihat. Masih banyak yang terus memberi inspirasi dan membuat saya salut. Masih banyak yang memberkati dan menguatkan...


Saya salut dengan satu sahabat yang sudah berubah. Dulu pernah melewati masa-masa gelap yg emang sudah down-se-down-downnya yang keliatannya sudah nda ada harapan; saya kagum dengan perjuangan en pemikiran dewasanya. Sekarang lebih mau terjun en peduli en mau kembangin diri lebih lagi... Salut buat kasih en kepedulian yang sudah ditunjukkin juga...

Saya salut dengan sepasang kekasih yg both are willing to (and perhaps called) to teach... Mereka yg sudah berdedikasi buat mengajar, en melayani. Salut buat kepedulian dan kerinduan mereka. Salut buat perjuangan mereka melewati masalah bersama... Salut buat pemikiran 'matang' mereka (yg walo sering kita beda pendapat).

Saya salut dengan sahabat saya yang nun jauh disana, about 550 km apart. Saya melihat perubahan, ada kedewasaan dan kepercayaan serta keterbukaan. Saya masih ingat sifat dia yg nyebelin, tetapi sekarang sudah mau peduli en berkorban. Cuman gara2 ada Drum Band di kampus, dulu dia mo batalin kerja kelompok. Tapi sekarang sudah jauh berbeda, en berpikir dewasa. Saya bersyukur mengenal dia. Lagi2 juga salut buat dedikasi dia di dunia pendidikan.

Saya salut dengan beberapa mantan mahasiswa praktek yang pernah singgah en meninggalkan bekas di GKI Pajajaran (entah bekas yg baek or buruk :p Entah meracuni or justru malah diracuni). Mereka yang sudah mengamati dengan baek. Mereka yg diakhir2 masa pelayanan, sempet mendengar sharing saya. Mereka yang sudah kasi konsultasi gratis. Mereka yg sudah bikin pelayanan lebih semangat. Mereka yg sampe sekarang masih keep in touch and pray for each other...

Saya salut dengan mantan guru saya. Meski bagaimana dulu saya memandang beliau, sudah berbeda setelah sekarang saya jadi kolega dia. Saya salut dengan nilai2 dan pemikiran filosofis yg diajarkannya (yg ternyata dia juga dipengaruhi oleh dosennya), dan sekarang saya juga jadi suka men-sharingkan nilai2 itu juga di kelas... Saya salut untuk pengabdian en kerja kerasnya, meski sekarang her hair turns grey...

Saya salut buat beberapa seniors di gereja, yang beda dari seniors laen yg, sorry, uncaring and ignorant (or do not want to struggle that hard). Tapi salut buat mereka yg sudah tetep peduli en berkarya. Yang walo pemikirannya ditentang banyak orang, dan dibilang terlalu idealis, tapi tetep melayani dengan hati. Mereka yang tetep bertahan, dan tidak mundur, bukan karena hanya kasihan en terpaksa, tapi karena keteguhan hati en kepercayaan mereka yg bener. Mereka yg sudah punya sense of belonging...

And finally, saya salut buat satu murid saya, yang setiap kali melihat dia, seperti melihat potret saya di masa lalu. Satu kerja keras, en pioneer untuk sekolah. Saya ingat bagaimana saya menantang dia, "Kalo sudah siap, ntar bantu saya di sekolah ini. Almamatermu." "OK, saya juga kepikiran begitu, kok, Koh..." I long, long time ago, once said such statement, for myself (sayangnya ga ada yg pernah personally chat with me). Entah itu masih pemikiran terlalu dini, atau apa, tapi saya punya pe-er untuk memupuknya.


Saya bukan Marshanda. Saya juga nda mau jadi seperti dia. Saya bersyukur masih bisa salut, mendapat inspirasi, dan sebagainya. Saya menulis juga bukan pengin di-pity-in oleh mereka. Saya menulis mau berterima kasih untuk tetap menginspirasi saya, dan semoga orang laen.

Ada yg bilang, en saya would 100% agree, kalo jaman sekarang, people, especially the youth, are lack of inspiration, not motivation. Motivasi banyak en mudah ditumbuhkan, tapi inspirasi sedikit, or jarang, dan makin langka. Motivasi bisa meleret. Inspirasi bakal terus dikenang en nda terlupakan kalo memang real ones... :)

So, keep inspiring people, guys!!!

GB.



NB: Mungkin saya sudah keracunan kopi...

Wednesday, August 19, 2009

Daniel berpikir bahwa dirinya lagi kejepit...

Halo.

Saya terjepit. Bukan diantara teman2 yg gembrot. Bukan diantara reruntuhan bangunan. Bukan juga diantara dua kasur di rumah (meski dulu hobi saya juga menjepitkan diri diantara dua kasur, dan ga jelas tujuannya apa tapi enak aja ada di dalem sana...).

Saya terjepit di dua situasi. Antara memilih untuk membela atau memasang tembok tanpa-kompromi. Antara percaya atau anggap-saja-sebagai-angin-lalu. Antara kepedulian atau cuek sama sekali tidak acuh. Antara idealis dengan praktis. Diriku tetep pegang kata hati, en bekerja sesuai aturan, walo ga berarti untuk tidak peduli dan menjadi kaku. Diriku bingung. Sementara di dalem hati masih perlu dikorek dan dibersihkan lebih dalam lagi (dan diisi lebih penuh lagi), di luar tantangan dan tuntutan semakin banyak. Kadang kepala ini seperti ricuh, ribut, dan rame ada perang: ada beberapa sisi dari Daniel yang bertarung. Sejauh ini, satu yang menang (walo selalu berdarah-darah sampe lelah) adalah: kerendahan hati. Selalu satu makhluk ini berteriak, 'DIAM! DENGAR! DAN JANGAN JADI SI SOK TAHU!'

Eniwei, diriku barusan membaca dua paragraph pembuka tadi (plus satu kata menyapa), dan merinding sendiri en heran, kenapa en apa yang sebener'nya sudah terjadi. Mungkin temen2 juga pada heran, ini sebener'nya si Dankuur lagi kumat ayan, kumat gila, or kumat sok-filosofis-nya... Well, diriku sengaja tidak menghapus dua paragraf di atas, biar jadi bukti satu tulisan yg keluar dari otak yg mungkin kelewat besar ini.

Oke, so, diriku sudah lama tidak nge-post, dan menyadari makin males; kenapa? Banyak gawean (yg menumpuk, tapi belom sampe deadline kok, bahkan beberapa tanpa deadline, nikmatnya...). Dan ditengah semua gawean itu, diriku selalu menyempatkan diri buat dolan bareng temen2, dan hobi kami akhir2 ini adalah Angkringan a.k.a Kucingan. Iya, kami nyewa pussy cat... GA! Kami sering nongkrong malem2 menikmati wedang teh jahe or susu jahe, sambil menikmati dinginnya udara magelang di alun2 kota. So stylish en keren banget (mutahlah, dan heranlah... yg masih belom jelas angkringan itu apa, bayangkan satu kafe yang keren en diisi banyak artis, mhwahwahwahwa).

Eniwei selanjutnya, diriku kemaren barusan digitally edit satu foto narsisku. Gila, en bayangin (lucu plus narsis banget kenyataan ini). Pagi hari minggu, diriku berangkat ke gereja, buat menjalankan tugas jaga perpus shift pagi, so tidak ada kerjaan karena jemaat juga masih pada ibadah, en karena diriku ada inspirasi (baca: contekan ide) dari foto orang laen, so, diriku dengan narsisnya memotret pake kamera hape di dalem perpus gereja, en straight away ngedit tu foto, alhasil jadilah satu foto ini di jam 10 siang. Langsung deh, diriku upload tuh foto jadi propil poto di pesbuk. Wakakakaka. Bangga banget, walo menyadari ternyata dah lama ga ngedit foto efeknya gedhe juga, en tetep ae kudhu banyak belajar lagi. Thanks buat yg sudah kasih compliment, hehehe...

Oke, diriku pengin bersyukur buat beberapa (or banyak hal yg sudah terjadi selama ini), Tuhan, tolong denger, ya...
  • Buat anak2 SMAKI yg seperti biasa selalu buat sensasi di awal tahun ajaran baru, en tahun ini diriku dapet satu anak yg jadi korban 'Ihiiii, dicari Pak Dankuur,' berinisial C. Hahaha. Bangga.
  • Buat anak2 KTB yg malah jadi pemacu kerajinan kam-bing-mu yang satu ini. Sudah tiga minggu bolong, en kalo ketemu mereka sering ditanya, 'Ayo, Koh, KTB lagi... Kapan mulai?' Semangat KTB IMMANUEL!
  • Buat kerajinan bikin en revisi materi tahun lalu, plus kerajinan untuk mendisiplinkan kerohanian saya.
  • Buat keluarga yg makin lucu (en aneh) plus terbuka en ramah en akrab... Walo kadang papa masih sering marah, nico masih sering mutungan, dan mama masih sering bawel.
  • Buat SMAKI sendiri yang masih jadi wadah pembentukan karakter dan pemerkaya pengalaman.
  • Buat kesehatan. Gila yang satu ini saya sendiri juga heran. Di tengah batuk, pilek, dan flu yg menyerang kebanyakan temen, sampe sekarang, Praise the Lord, saya baik2 saja en ga kena apa2, cuman kemaren pusying gara2 digebyur (baca: dikerjain) anak2 waktu lomba di skul... Padahal sudah jadi rahasia umum kalo Dankur itu lemah fisik en ga pernah olah raga... Hahahaha...
  • Yang penting, buat sahabat-sahabat yg mengerti en mendukung dalam setiap keadaan. Meski kadang diriku sendiri masih belom bisa cerita semuanya, en menyadari belom bisa kasih banyak buat sahabat, tapi seneng kalo inget mereka, inget ada teman untuk berjuang bersama di dunia ini...
  • And above all, buat Tuhan yg makin membentuk dan terus menyertai saya...
Lagi2, diriku sudah bisa menebak pertanyaan Anda sekalian, 'Sebener'e ini dankur lagi ngomongin apa to.' Inilah resiko orang yg punya otak besar, en males buat brainstorming dulu, terus outlining ideas, organizing, proof-reading, en editing his writing (padahal notabene diriku adalah ex-asdos writing yang sudah ngublek-uthek masalah seperti ini both in Writing 1 and Writing 2)... Wakakakakakak...

GBU all, guys!

PS: Tambah satu diriku kejepit: antara sadar dengan ngayal dan ngaco. Hahahahaha...

Wednesday, July 29, 2009

Daniel (kembali) merenung, (en mungkin ngelantur...)

Halo!

Dankuur akhir2 ini bisa dibilang berkepribadian ganda. Eits!!! Jangan mikir yg nda2 dulu: Kalo pagi jadi Pak Dankur (guru yg cool en baek hati [mutah ya?], en kalo malem akika jadi Daniela yang belenggang molek dan asoy. AMIT2! Ga! Maksudnya ada dua sisi yg terus berperang di dalem ati ini.

Satu Dankuur pengin rajin kerja, rajin belajar, dan mendisiplinkan diri. Satu Dankuur yg laen mencoba menggeret Dankuur ke kemalesan yg lama. Yang menang, so far kerajinan masih bertahan. Satu Dankuur pengin terus mbisiki gosip, en ngajak nggosip yg ga membangun tapi malah men-smack-down orang. Satu Dankuur bilang apa untungnya nggosip? Yg menang: Dankuur yg ga suka nggosip sudah bisa menaklukan si Dankuur seneng gosip. Satu Dankuur pengin mengasihi keluarga-nya lebih lagi, en nunjukin itu semua ke keluarganya. Satu Dankuur yg laen mencoba menutupi semuanya itu. Yang menang: seri. Satu Dankuur pengin cuek, ga mau peduli, en pasang headset tebel2 buat nutup telinga tentang masalah gereja. Satu Dankuur tetep membakar api peduli. Yang menang: yang terakhir apinya makin gedhe.

Eniwei. Sudah sekian lama, diriku menyadari tidak nge-blog. Agak aras2en (baca: lazily abandonding reluctant) buat update blog. Mengingat juga bahwa ada twitter (yg sekarang juga sudah daku neglect-kan) dan ada plurk (yang lagi gencar, en diriku mengakui kecanduan, tapi wajar [???]). Dan plurk berhasil menaklukan kerajinanku sedikit banyak (Baca: rajin nge-plurk).

Eniwei (lagi), sebulan ini ada dua farewell, which I do HATE so much. Entah dari dulu diriku paling benci farewell party. Rasan'e emoh banget buat pisah sama seseorang. Kemaren (dulu) ama Maria. Sekarang ama Sabian. Oh, God. Rasane berat banget buat 'kehilangan' temen2 yg bisa diajak share bareng. Bisa kasih masukan. Bisa diajak konseling. Bisa diajak seneng2 bareng, en susah2 bareng. Bisa 'mudheng' 'hal-hal macam itu'. Bisa dihina en dikerjain (peace, Sab, Mar!) Arrrgh....

Diriku mencoba buat terbiasa berpisah, karena percaya besok bakal ketemu lagi (di Sorga sana, Amien). Karena percaya bahwa God has a greater plan. Karena percaya dimanapun mereka semua juga tetep bisa berkarya en melayani. Karena percaya masih ada keluarga yang jadi temen. Karena percaya masih ada sahabat2 di Magelang yg juga bisa dipercaya en diajak bekerja keras bersama. Karena percaya masih ada kasih yang sejati itu...

Untuk yg terakhir barusan, semalem ngobrol bareng Sabian (thanks Sab buat malem terakhir, wokokoko... Kapan ya malem pertama kita?). Ga banyak orang yg tahu keadaan seseorang. Ga banyak orang yg emang pernah kuceritain kenapa begini-kenapa begitu. Ga bisa juga kemudian asal cerita, kaya artis aja yg pengin cari sensasi, tar dikira orang gila. At least semalem mencoba mencari tau en menggali lebih dalem, kenapa. En sampe pada jawaban ultimate itu.

Oke, mencoba ganti topik: kerjaan (baca: ngajar). Beberapa masih tanya: Dankuur, jadi ke Jakarta? Kapan berangkat? Yang di Jogja gimana? Diriku cengok. Bingung. Heh. The fact: Saya stay di Magelang, sodara2. Ga jadi kemana2. Tetep bertahan di tempat kerja sekarang. Masih mengajar SMAKI, plus SMPKI. Kelas XI dan Kelas VII (variasi yg aneh...).

Diriku masih terus rajin, mengamati, dan mencoba tetep bekerja keras, melakukan apa yg kubisa. Belom bisa drastis juga berubah dan mengubah. Tahu bahwa ada proses, tapi tidak sebegitu lambatnya kami berubah, dan tidak bisa sebegitu cepatnya dirubah. Tapi kami mau berubah. Diriku lagi belajar mendoakan, bahkan sampe tengsin, malu, en jaim banget doa buat 'musuh' (baca: mereka yg nda sepaham) (gile bener..., dulu mikir, ngapain ndoain mereka... sekarang lagi bener2 dibanting2 ni sama Tuhan). Sudah agak lama diriku mendisiplinkan rohani juga, belajar SaTe lebih intensif, denger apa maunya Tuhan (en pagi ini ada yg bilang bahwa kehendak Tuhan tu ga bakal bisa kita ketahui... mmm... I won't fully agree to that...). Mungkin bener apa kata Pak Andreas kemaren: mengembangkan kepekaan.

2 minggu sudah lewat sedari hari2 awal mengajar. Diriku merasakan banyak perubahan kecil namun ngefek besar: ga sering marah2 di keras (walo si Deddy + Nana kemaren shock denger power/volume suara ngajarku menurut mereka 'menyentak2', padahal anak2 sudah terbiasa), en lebih banyak ketawa, becanda (tapi tetep bisa ada porsi serius). Ada satu anak yg tadinya cuek en males banget, sekarang sudah bisa saya 'siasati' en dia jadi penyemangat juga ngajar di kelas XI. Di SMP, diriku mencoba 'merendahkan diri' dateng ke anak2 yg 'bermasalah' belajarnya, tanya, kok nda mudheng kenapa, sampe mereka juga heran, 'Ini Bapak jangan2 pengin pedekate sama saia, idieh, ganjen, genit...' (padahal dua cowok). Wokokoko. Diriku lebih banyak beri motivasi en masukan, en sudah ga sebegitu kolotnya mengajar en mengharap perfeksi... Thanks God.

OK, diriku menyadari sejauh mana sudah ngelantur, karena emang hobi. Banyak yg sudah disampein, en sebagai mantan Eks AsDos Writing, diriku juga kalo suruh baca ulang bakal tereak2 ndiri karena organization teks ini kaco balo, ga tahu juntrungan mo kemana. So, moga2 kasih berkat buat semuanya...

GBU, guys (and thanks for reading)


NB: PeEr diriku tetep banyak: desain profile YPKI, bikin laporan, bikin program tahunan ngajar, nyiapin administrasi laen, dll... tapi tetep wae, sebagai procrastinator sejati, diriku masih ga bisa sepenuhnya nyelesein mereka. Tapi bakal beres kok, at least di menit2 terakhir... Hahaha!

Monday, July 6, 2009

Daniel pulang dari Camp, terus maen game (or maen game terus?)

Halo!

It's been quite a long time since I last blogged. Liburan tinggal seminggu, en masih aja ada 'Pe-eR'. Banyak yg tanya Dankuur mau kemana tahun ini (baca tahun ajaran baru ini). Let me make it clear: stay in Magelang. Ada satu rencana besar, yg sampe sekarang emang belom 100% jadi, so, I couldn't tell more for sure saat ini. But, please pray for me, semoga semuanya lancar di bulan Agustus nanti.

Ok, so last week, sudah lewat Camp Jemaat: 3 hari yang dingin di Bandungan, Green Valley (what a picturesque place! Patut dicoba nginep disana! Pelayanan'e juga mantap!). En, I learnt many things. Banyak yg terjadi waktu Camp. Yg awalnya agak pesimis karena peserta yg dikit, eh, ternyata Tuhan percayakan 90 peserta yg luar biasa rame! Nge-game bener2 nunjukin sifat2 asli tiap orang. Kita yg pemuda2 yg udah biasa outbound, (en perhaps because our minds have been a bit transformed) or nge-game, ga begitu se-kompetitif-nya dengan yg 'tua2'. Kita maen dengan semangat emang, en rame, coba aja kalo si Titi direkam waktu tereak2 'nyebrang sungai'. Tapi yg bikin heran, en sempet kita diskusi'in, adalah semangat 'kompetisi'-nya kaum dewasa en tua, yg ternyata menghalalkan segala cara buat menang (padahal ya ga ada hadiahnya!). Ada yg sampe ga mau ngalah!

Eniwei, ada kejadian dalem camp jemaat sempet bikin 'jengkel' juga. Lah, gimana ngga' jengkel, sementara kita (baca: kaum muda) mencoba mengejawantahkan (haiyah!) tema yg diangkat (baca: Bangga menjadi Keluarga Allah), yg notabene bertujuan menyatukan Keluarga Allah (baca: Gereja), eh, tetep aja masih nyalah-menyalahkan TANPA TAHU APA YG TERJADI. Sedih. Ternyata sudah gitu, tetep aja ada yg nyengak dengan seenaknya. Diriku cuman bisa menghela napas sambil ngelempar roti bakar balek ke tempatnya (yang tadinya pengin aku makan, tapi ga jadi) (oh, ya kenapa ga lempar roti bakar ke orang yg nyengak ya? Wakakak...).

Ok, masih tentang Camp, kayanya ini bakal jadi yg terakhir yg meninggalkan kenanganku bersama sweater ijo lumut yg kucinta. Sudah hampir setaun lebih deh sejak kubeli tuh sweater dari 69 jogja (nda bener?). Masih inget saat2 pertama nemuin tuh sweater disana, dengan tulisan diskon 50%, en langsung ta samber gara2 warna ijo-nya... Cocok! Lah, sekarang udah ilang. Huhuhu... Good bye my sweater! Gonna miss u so much. En sekarang berarti: SAATNYA SHOPPING CARI SWEATER BARU (padahal dirumah masih ada beberapa sweater en long-sleeve semacam itu... Hehehe. Tapi tetep aja ga ada yg bisa gantiin tuh sweater kaporit, eh paporit).

Oh, ya, diriku ada dua kesibukan baru (menambah segala hal 'yg membuat diriku nampak sok sibuk'): ngupil en boker... ga. Just Kiddin'! Yg bener: latihan dotA en nyelesein Pokemon Platinum. Wakakaka. Bener. Diriku lagi belajar maen dotA. Ternyata enak juga. Tapi tidak disarankan buat semua pembaca untuk mencoba dotA, apalagi murid2ku. Ya, kalo murid2 pada bisa ngontrol sih gapapa. Kalo ga bisa, parah! Mending ga usah maen! Diriku cuman maen bentar. Ga tiap hari juga. Kalo yg bareng2 juga ga rutin. Cuman ngusir kebosanan en kejenuhan. Kalo lagi latian di rumah (maen bareng nico, meski ga di LAN karen Nico pake PC aku pake Laptop) diriku merasa inferior, karena Nico jauh lebih canggih daripada aku!!!! Asem!!!! Kudhu belajar banyak sama Guru Nico, en Kakek Guru Benny... Wakakakakakak.

Nah, kalo yg kedua (baca: Pokemon Platinum), ini yg lebih addicting. Entah kenapa, masih aja suka maen Pokemon. Nostalgia jaman SMP-SMA. Dulu dari yg Pokemon Green, terus Crystal, Diamond, sekarang Platinum. Buat yg ini, diriku milih Piplup. Pengin-nya tetep Piplup, ga di-level-up, tapi tar defense-nya parah... Wakakakak. Banyak pokemon baru yg diriku ga kenal. En males juga nangkep2. So far, udah sampe Gym ke-2. Diriku udah nangkep Starly en Luxio juga (gantinya Pikachu, bosen!). Lagi cari yg fire, grass, en ice... Huhuhu. Belom juga dapet yg cocok.

Well, ganti topik, ah! Kemaren diriku ikut seminar RenStra (Rencana Strategis), yg diadain BPPK GKI SinWil JaTeng. Seneng juga, en ternyata bener2 nyadarin kalo diriku masih 'kosong'. Banyak hal baru yg aku dapet, en bikin semangat juga (seperti biasa, termotivasi, ga tau sampe kapan ini motivasi bakal membara). Tapi rasane seneng denger seminar yg notabene dibawain oleh sumber yg ga begitu 'tua', terus so idealistic, tapi tetep membumi. Konteks emang beda yg dialami di tempatku en di tempat tuh narasumber, but at least, ini bisa jadi contoh, en menyemangati diriku untuk 'membawa perubahan'.

Betewe, recently, saya belajar (duh, mulai serius, siap2 buat mutah en mimisan) satu hal: trust in the Lord with all my heart, and put all my hope in Him (kok kaya lagu ya? Hehehe...). Lah gimana lagi. Kalo orang laen bilang, diriku bodoh karena ini itu. Tapi diriku bilang, en orang yg laen juga bilang: percaya sama Tuhan, kalo hidup bakal dipelihara ama Tuhan. Percaya He walks with me... Percaya he ll never leave me... Percaya he ll provide all I need... Percaya he has a great, beautiful plan for my future... Percaya, percaya, percaya... En diriku menikmati-nya. Bukannya sok rohani or apa. Tapi kenyataan emang begitu. Ah, sudahlah, susah juga kalo nda ngerasain sendiri...

Ok, hari ini rencana mau pimpin KTB (kita mo nonton film Fireproof) en tar malem mo latian buat jatah nge-MC besok Sabtu. Semoga lancar. Tar malem, moga2 jadi ngopi... Hahaha. But, btw, kenapa akhir2 ini ngopi nda sebegitu enjoy ya... Tanya kenapa? Kenapa tanya?

GBU!

Thursday, June 25, 2009

Daniel ga jelas sudah nulis apa...

Hai.

Pertama, mari kita mengheningkan cipta karena Si Raja Disco en Pop, Michael Jackson kemaren meninggal... Hening cipta, MULAI!

Btw, kayanya perpisahan di bulan ini ga cuman buat si MJ dah, tapi juga ada perpisahan buat beberapa rekan yg laen, well... Cherio Bu Niken en Bu Nia! Jangan lupa kalo ketemu diriku, aku dikasi duit ya... :)

Ok, so satu kesibukan untuk liburan ini (heran kan, libur kok ya sibuk) sudah terlewatkan. Konser JCYC kemaren di Magelang sudah berjalan cukup sukses (walo ada mati lampu sebentar, tamu undangan ga semua dateng, GR yang ga lancar, en yg laennya [including angin yg beberapa kali bikin layar slide jatuh sampe jebol]). Proyek ke depan yg masih menyita waktu sibuk adalah: Camp Jemaat. Emang ga sesuai dengan target peserta awal, tapi well, my friends and I are preparing and doing the best for this event. Pray for us ya, biar tetep bisa kasih berkat buat peserta yg ikut...

Btw, intermezzo, diriku mpe lupa mo nulis apa gara2 ni sambil nge-blog sambil chatting sama beberapa orang yg bikin puyeng...

OK, so bener2 ini mumet, ga jelas mo nulis apa, jadi blank semua... *phew* Maap2...

Oh, eniwei, fesbuk tetap jadi ajang yg kontroversial, makin banyak orang yg pro-en-kontra dengan adanya fesbuk, termasuk juga akibatnya buat keterbukaan, maki2an, en kepercayaan. Seperti yg udah kutulis, diriku ga bakal 100% percaya apa yg ditulis di fesbuk, unless I know really damn well the person whose writing I'm writing. Terus juga, makin banyak orang yg muak dg update status yg not so important, please read this article (in English), en ada juga orang2 yg mulai nutup akun fb-nya karena such things that for them are definitely annoying... (kaya Indra Herlambang, if I'm not mistaken...). Ok, buat yg baca ini, diriku cuman ngelaporin, jangan protes lagi. Ini cuman buat info, bukan berarti diriku juga kontra facebook. Well, no! I love facebook and do admit that it brings enormous benefits if we can control it, and we can control ourselves jadi ga sampe addicted... (well, nias, if you read this, please thank me... :p)

Oh, ya, kemaren diriku di cap sok sibuk gara2 kebanyaken kegiatan, en seseorang meng-klaim bahwa diriku tidak menyediakan waktu yg cukup buat orang itu. Padahal dia juga bukan pacar, juga belom begitu deket. For sure, diriku ga sok sibuk, tapi emang sibuk!!! Banyak acara!!! En capek!!! Sampe ga ada waktu buat beli kopi!!! Udah lima hari sampe kemaren ga sempet minum kopi!!! Praise God kalo kemaren siang sempet beli, en tadi pagi udah bisa menikmati kopi lagi... Hehehe... (Curhat seorang yg kecanduan kopi, en kehilangan efek soothing dari minum kopi).

OK, sampe disini dulu, karena honestly, diriku blank buat nulis apa yg mo kusampein, padahal tadi di rumah sudah penuh dengan ide buat nulis, salah diriku juga kenapa ga memanfaatkan teknologi manual (nulis di note book, beneran notes, bukan notebook laptop, yg sudah lama kutinggalkan dan kuanak tirikan setelah laptop ini menarik hatiku...). Eniwei, diriku juga menikmati baca satu buku, sukses mencoba mendisiplinkan hobi lama: membaca; meskipun kemaren baru baca lima lembar langsung tepar tidur siang... Hehehe...

Maap sekali lagi kalo tulisan ini amburadul (padahal biasanya lebih amburadul, ga karuan, en ga jelas...).

GBU All!

NB: Diriku seneng ternyata tulisanku selama ini ada juga yg baca, en ada yg mikirin bener2, hehehe... GBU all, my readers!

Thursday, June 11, 2009

Daniel yang Mencoba Mentertibkan Hidupnya lagi...

Hai.

Sudah tiga hari ga buka internet secara 'resmi' (baca: ngublek2 FB, blog, donlod, dll), jadi cuma sempet sekilas buka gmail, en check FB; gara2 tiga hari ini ada banyak kegiatan: pergi ke Jogja, pergi ke Wonosobo, nyelesein administrasi UN en akreditasi skul. *phew*

So, first of all, diriku kemaren rabu ke Jogja. Rencana awal mo nyervis'in nih lappie yg sudah membisu sekian bulan dan minggu plus hunting buku. Diriku mbonceng andre, en kita ga banyak pergi2 selain ke toko aksesoris HaPe, ke toko Merah (toko stationary), ke toko lappie-ku, ke Gramedia pusat. Btw, entah kenapa diriku tidak terbiasa berada di Gramed pusat, karena biasanya pergi ke Gramed Amplaz... En di Gramed pusat kaya orang ilang: bingung nyari buku, sambil jalan muter2 dengan tas laptop tetep dibawa, jaket diiket di pinggang (kaya turis etiopia kesasar) (tas lappie ga diterima di penitipan tas karena ada lappie-nya, en si satpam [seperti yg sudah ta bayangin] langsung nyetop diriku en nanyain tas ituh...).

Yang bikin males adalah perjalanan balek ke Magelang. Bayangin: tas dibelakang berat karena laptop plus beberapa isi tambahan, kanan digantungin helm baru yg dibeli andre, kiri diriku memegang kresek isi 20 buku... Plus dua kali ampir nabrak motor (bukan salah Andre juga sih...). Hasilnya pulang langsung ngglebak di tempat tidur. Tapi diriku puas beli banyak buku (sampe mbak2 kasirnya bingung en ketawa karena notanya ga abis2 waktu di prin), en walo tu buku bukan punyaku semua.

Oh, ya, betewe, adekku kemaren berangkat lagi ke Semarang buat OSN a.k.a Olimpiade of Stupid Nerd a.k.a Olimpiade Orang Aneh yg Bodoh... Wakakaka... Ga! Olimpiade Sains Nasional. Pancen aneh tenan kok. Moso manusia seaneh dia sudah dua tahun ini maju ke Semarang terus... Pulang juga dapet tas lappie baru terus (tapi lappie-nya ga dapet... Wkwkwkwk). Kok bisa yo? Aneh juga. Padahal ga ada bakat turunan dari Pa-Ma-ku. Kok dia bisa sebegitu aneh (baca: jago) Matematik. Waktu pulang pun dia bawa 'oleh-oleh' contoh soal waktu latian olim. En diriku dengan bangga dan narsis berhasil menyelesaikan satu soal geometri-nya... Wakakakakakakakakak! Ternyata aku juga bisa membuktikan kepandaianku di bidang hitung-menghitung...

Eniwei, akhir2 ini makin keliatan kalo diriku lagi stress, pelariannya adalah: ngopi en tidur... Hohoho. Sebener'e stress juga karena konsekuensi bodoh dan menyebalkan: I'm a 75% procrastinator... Opo kuwi? Procrastinator tu penunda2 pekerjaan. The Last Minute Person. (Tapi kalo diriku biasanya the last day person)... Oops en Eits... Diriku tidak menyebut bahwa aku malas, en procrastinator for me bukan berarti pemalas. Kalau dikasi kerjaan, or mengada-ada pekerjaan, diriku selalu tanya 'Deadline-nya kapan...?' Nah, setelah dijawab deadline-nya, diriku langsung set target en jadwal ini-mo-kapan en besok-mo-ngapain. Setelah itu ya udah... tinggalkan tugasnya sampe hari2 terakhir yg mendesak baru dikerjain... Hahaha.

Alhasil ya seperti minggu2 ini: numpuk semua kerjaanya. Belom juga dua desain selese, ni pekerjaan rekap nilai di skul semakin mendekat, en rekap-plus-merapikan admin Ujian juga belom kelar (meski deadline-nya juga belom tiba)... Selalu diriku disela2 kesibukan, cari sekian menit (biasanya sampe sekian jam :p) buat istirahat. En diriku sukses menambah pekerjaan yg ditunda gara2 istirahat kelamaen (baca: tidur)...

Oh, ya, diriku dapet gawean baru: ngelesin TOEFL. Yup! Nostalgia jaman dulu ngajar di LTC, kursusan... Wah, jadi kangen, en inget jaman2 waktu ngajar TOEFL yg emang notabene membosankan karena kudu ngejar materi ajah... Huhuhu. Tapi yg ini ngajar sambil cekikikan, makan, en ngobrol. Kalo biasanya diriku ngelesin maks 2 jam, yg ini kemaren malem aja dari jam setengah enem sampe jam setengah sembilan!!! Isinya: 1.5 jam belajar, 30 mnt tunggu anaknya dateng sambil maen piano di rumah anak itu, 1 jam ngobrol sambil dikasih makan (tadi malem burger en jagung bakar... uwooooooooohhhh!!!! Nikmat!!!!).

Kembali ke laptop. Selain mencoba membenahi sekian banyak pekerjaan yg mulai tertinggal, diriku juga pengin membenahi hobi lama yg terabaikan en semakin pudar: BACA! Sudah lama buaaaaaaaaanget ga mendisiplinkan diri dengan membaca. Apalagi sekarang juga udah ga lengganan Jakarta Post. Waduh, ni otak bisa kinclong ga pernah diasah en dudul, plus rambut jadi rontok karena otak terlalu longgar (emang bener ya...). So, diriku dipinjemin satu buku, dapet satu jurnal (yg udah 50% aku baca), plus mencoba membaca berita dari interNet secara rutin en merajinkan diri untuk membaca sebelum tidur... Semoga ni otak kembali bekerja (ga cuman mikirin FB-FB-en-FB...).

Oke, diriku mo menyelesaikan tugas-tugas yg tertunda... Duh pengin ngopi lagi je... Huhuhu...

GB

NB: Diriku baru nyempetin nonton pelem Kambing Jantan, en bengong, nunggu kapan bisa ketawa, cuman ndapetin scene konyol di menit2 pertama, setelah itu (sedikit ngantuk) mencoba memahami konsep ceritanya yg ternyata agak serius... Kok beda sama komiknya ya?

Friday, May 29, 2009

Sembilan poin di weekend ini...

Hai.

Aku bingung mau nulis apa, tapi kok rasane pengin nulis sesuatu ya. Oh! Got it!

Pertama, my wrist masih sakit, gara2 minggu kemaren maen bom2 car di salatiga, tabrakan (sama dua temen dari depan, jadi triple crash), en ini tangan langsung ketekuk... huhuhu. Padahal minggu senen cuman sakit dikit, eh sekarang jadi linu lagi. Semalem udah dipijet dikit sama papa.

Kedua, hari ini diriku bakal pergi ke temanggung, ngehadiri pernikahan temenku, Dan BS, yg surprisingly en suddenly dateng kemaren sabtu, kemudian ngomando diriku jadi koordinator buat ngumpulin anak2 dateng ke nikahannya dia yg notabene di temanggung, sementara kita di magelang. But, berhasil akhirnya saya mengumpulkan tujuh orang buat pergi tar sore.

Ketiga, beberapa jam lalu, diriku di-sms temen angkatan kampus: ada yg meninggal lagi, Devi. Kecelakaan. Well, semoga keluarganya dikasih kekuatan sama Tuhan. Diriku langsung mem-forward ke temen2 'kelompok'-ku, en seperti yg sudah saya harapkan, mereka kompak bales dengan pertanyaan yg mirip2: 'Devi yg mana.' Oke, dengan sabar diriku menjelaskan: tomboy, black, short-hair, thin... (setelah diriku sendiri mendapatkan sms balesan dari pertanyaan yang sama yg ta tanyain ke temen yg sms aku sebelumnya, hahaha.) Well, waktu inget Devi yg mana, kita cuman kerja kelompok bareng sekali, di kelas prose... Duh, jadi inget kelas prose taught by Victor. Miss that class so much...

Keempat, fenomena FB makin menggila en parah. Message FB dimanfaatin buat chatting, en satu thread inbox sudah mencapai 180, mungkin sekarang sudah tambah lagi... Hahaha. Belom lagi satu photoku yg malah komentarnya dibuat chatting... Haia! Tanggung jawab koh Tanto, mentang2 dirimu memakai BB!!! (Jadi pengin beli BB [Bedak Badan] Haha.)

Kelima, diriku sudah menyelesaikan sekian tugas yg makin dikejar deadline... Haha. Procrastinator sejati. Tapi yg penting beres, en ga bikin orang laen susah (kecuali mungkin satu si Roy dudut... :p Ampun Roy). Soal UUK Mandarin (aku jadi pengetik, en pengedit, soal'e program'e sing tau aku tok... Huhuhu...) sudah beres. Soal Inggris masih kurang. Beberapa gawean desain udah ta selesain. Yg masih: desain logo en desain poster.... Yah, sayang voluntarily.

Keenam, kemaren diriku ngeLesi terakhir (yg sah), so minggu2 ke depan bakal jadi minggu2 sengsara, menyedihkan, melarat, dan memprihatinkan. No more additional income. Kantong menipis sementara hasrat ngopi-en-hang-out tetep kudhu tersalurkan. But, praise God. Kemaren malem tiba2 ditawarin buat ngajar TOEFL anak yg mw masuk UGM. Moga2 jadi... Hooray! Plus, Evan-ndut, si anak SD yg nakal itu (peace Van...) tetep masih pengin di-les-in. Persiapan buat SMP. Bagus2 Evan. Salut. Sebagai hadiahnya, let me post your picture here... Hahaha. Peace Van!
Ketujuh, kemaren lagi, diriku menemukan seseorang yg dengan tidak sopan memasang fotoku (yg imut, cakep, manis, dan menggoda wanita-serta-pria-plus-anjing-tetangga) setelah dia crop dari aselinya. Kemudian dikomentari dengan tidak senonoh oleh dia. Woi! Sadar!!! Bayar tuh royalti buat aku! Nda sopan banget masang dengan semena-mena. Betewe, diriku baru nyadar kalo Evan pastinya bakal memprotes tindakanku pasang fotonya dia dengan tidak minta ijin... Haha Van, mesti dirimu bahagia melihat photo ini disini... Hahaha.

Kedelapan, diriku heran kenapa diriku pake ordinal number buat ngurutin poin2, en sekarang sudah sampe kedelapan... Haha. Kenapa ya? Writing style-ku ya?

Kesembilan, semalem ada lagi yg ngomong bahwa diriku en adekku look so kompak. What? Kok bisa? Beda gini kok. Kokohnya cakep, adeknya, well... lebih kurang cakep. Kokoh'e pinter, adekke malah bisa masuk tim olympiade matematik. Ya oloh. Kokoh'e narsis, adek'e puol narsis'e. Kokoh'e kreatip, adek'e, well, kreatip sekarep'e dewe... Kok bisa ya? Emang kompak toh kita? Padahal ne dirumah kita saling tendang, saling diam, tapi ne malam tiba, intim'e minta ampyun, tidur sekamar (ya iya lah, wong satu kamar tok...)... dan saling... ummm... (hiiiihhh... no!).

Kesembilan, idenya habis, so let me stop here... Diriku masih menunggu hari liburan, biar bisa maen ke jogja (baca: hunting buku buat perpustakaan plus nonton plus hang-out [dimana????]).

GB