Sunday, March 20, 2016

Mom, Me, and Worm

Saya lagi siap-siap mandi, ketika saya melihat sesuatu yang bergeral-gerak pelan di salah satu dinding bak mandi.

It was a thin worm.

Entah apa jenis dan namanya. Seperti pita. Kurus. Dan sepanjang jari kelingking saya, I guess.

Saya belom mengunci pintu kamar mandi, dan saya tahu mama sedang di luar.

"Ada cacing!"

"Apa toh?" mama saya tidak spontan percaya.

"Itu. Cacing." Mama saya ikutan masuk kamar mandi dan mengecek.

"Diambil. Dibuang ke lubang WC."

Saya ambil sebatang lidi, kemudian berusaha cukup susah meyakinkan itu cacing untuk pindah lokasi ke lidi yang saya pegang. Tampaknya dia tahu kalau mau diusir. Tapi akhirnya saya berhasil juga mengambilnya dan membuang ke lubang beol.

"Itu cacing apa, ya?" tanya saya iseng ke mama saya.

"Cacing kamar mandi," dijawabnya iseng juga.

"Ya, elah." Aye juga tahu, kaga usah diberi tahu gitu, Mah. And She giggled.

Sunday, February 21, 2016

Durian, Adik Saya, dan Seorang Cewek

Saya suka durian, sementara adik saya (katanya) anti durian. Karena tahu bahwa adik saya tidak suka durian, saya tidak berani pamer dan sengaja isengin dia.


Okay, let's say bahwa adik saya phobia durian. Lihat durian sudah mual-mual, kemudian instantly gatal-gatal dan bentol-bentol. Kalau sudah tidak tahan, bisa tambah akut dan fatal. Lihat saja sudah begitu, apalagi disuruh makan.

Kemudian, misal ada teman cewek yang naksir dia, jatuh cinta, ke adik saya. Cinta yang tulus, pengin bikin seneng adik saya. Dan strategi dia adalah kenalan dengan kokoh-nya. Supaya bisa gali informasi, termasuk kebiasaan, dll, dll, dari adik saya. Dia sendiri terang-terangan ngomong ke saya pengin kenalan dan serius menjalin relasi dengan adik saya. Strategi yang cukup jitu, kan, supaya lebih mulus PDKT-nya?

Sayangnya (atau bagusnya bagi saya), cewek ini suka durian! Dan dia semacam sedikit kecanduan gitu (bayangkan bahwa durian tidak musiman, tapi bisa berbuah sepanjang masa).

Saya terang-terangan wanti-wanti dia dari awal. Tidak menyalahkan dia untuk kegemarannya dengan durian; simply supaya dia aware dan mau menerima kenyataan. Bukan untuk bikin dia putus asa dan mundur gegara satu perkara urusan buah berduri yang nyam-nyam ini.

Akhir kata mereka jadian. Saling sayang. Saling cinta. Komitmen untuk bangun relasi. Adik saya tahu faktanya bahwa si cewek gemar durian. Dan, fyi, si cewek tetap gemar durian, dan sering sakaw durian.

Adik saya benci dia? Tidak. Tinggalkan dia? Tidak. Dia lihat ketulusan si cewek mencintai dia. Dia lihat komitmen dia untuk bersama-sama membangun relasi.

Si cewek sering curhat ke saya, tentang sakaw-nya dia ketika vakum dari mengonsumsi durian. Dan kami sama-sama berdoa supaya bisa menahan diri untuk tidak menyimpan, pamer, dan makan durian dekat-dekat adik saya. (Lebay dikit biarin, yah?).

Jadi ada pergumulan hebat. Di satu sisi, dia sayang adik saya, tapi dia juga gemar makan durian.

Tapi emang cinta mengalahkan segalanya; kasih sayangnya si cewek ke adik saya ini hebat. Dia mau berusaha keras untuk terus mengurangi, dan mengurangi kebiasaan makan duriannya. Susah? Iya. Bisa dilakukan? Bisa. Kenapa mau demikian? Karena dia sayang adik saya.


Ngomong opo to ini DK sebenernya?


Let's replace the idea of durians with sins. Dan adik saya dengan Tuhan.

Saya tahu Tuhan alergi-dan-benci dengan dosa. Saya tahu teman sayang dan ingin dekat dengan Tuhan. Saya tahu dia (atau kami) sama-sama ingin bertumbuh makin dekat dengan Tuhan. Saya mengingatkan/menegur dia tentang dosa dia, bukan untuk menghakimi ataupun menjatuhkan. Saya sadar bahwa diri saya pun masih banyak dosanya, dan tidak jauh lebih baik dari dia. Saya ingin mengingatkan dia bahwa ada yang harus dirubah dari kebiasaannya ketika dia ingin membangun relasi yang lebih baik dengan Tuhan. Tuhan terima dia bahkan ketika dia masih berdosa. Perjuangan dia melawan dosa? Itu yang kita perjuangkan bersama.

Terkadang kita takut menegur dan mengingatkan, karena dianggap menghakimi dan sok suci. Tapi, kita tahu bahwa kita tidak sedang ingin menempatkan diri lebih baik dari siapa pun yang sama-sama berdosa dan ingin dekat dan intim dengan Tuhan. Ketika mengingatkan teman pun, kita semacam menampar diri: sering mengingatkan diri untuk juga berjuang meninggalkan kebiasaan lama yang menghalangi indahnya relasi kita dengan Tuhan.

'Instruct and direct one another using good common sense. And sing, sing your hearts out to God!'

Saya tahu, konsepnya tidak sesederhana dan semudah ini dipahami, atau malahan tulisan ini mungkin bikin tambah bingung. Dan masih banyak hal lagi yang berkembang dari diskusi ini. Tapi biarlah saya berangkat menulis dari kesukaan saya dengan durian.

Dan, btw, semuanya akan berubah, lain ceritanya, kalau saya tidak sayang dan kenal adik saya, ataupun si cewek tidak ngejar plus sayang adik saya.



Oh, ya, adik saya masih jomlo. (Sepertinya). (Dan, terkadang update galau sok romantis di medsos atau gadget).

Wednesday, February 25, 2015

Happiness List

Be happy with what you have and are, be generous with both, and you won't have to hunt for happiness.

William E. Gladstone

Here's a list of twenty five things that make me happy. Kenapa 25? Random aja sih. Cuma memaksa (read: melatih) otak ini buat mengingat hal yang bikin saya senyum, atau ketawa.

#1 Kumpul dan cerita-cerita dengan temen-temen.

#2 Koneksi internet (yang cepat)!

#3 Virtual chats with my loved ones.

#4 Having a good, relaxing massage.

#5 Punya kesempatan buat pergi ke toko buku...

#6 ... dan ngehabisin waktu di toko buku tanpa sadar karena keasikan baca-baca buku (bagus) yang sudah kebuka dari bungkus plastiknya, ...

#7 ... plus akhirnya melanggar janji buat ngirit dengan beli satu buku yang turns out to be a good book.

#8 Nyobain resep baru, dan enak hasil masaknya.

#9 Nemuin orang yang sependapat dengan saya, setelah sekian lama merenung dengan pemikiran itu.

#10 Nyampulin buku bacaan yang barusan dibeli.

#11 Kentut di tempat rame, tanpa suara. Dan tanpa bau. Yay!

#12 Dikasih waktu buat share ilmu ke orang lain. #13 Bisa tidur siang (lama).

#14 Eksperimen desain grafis, dan puas dengan hasilnya.

#15 Lihat pemandangan alam yang bikin kagum, speechlessly awestruck.

#16 Ketiduran di dalem bus umum, dan kebangun tanpa kelewatan tujuan utama.

#17 Mantan murid bilang terima kasih karena sudah pernah diajar saya.

#18 Mata berair (terharu) waktu nonton film (yang bagus).

#19 Minum kopi! (di kafe yang nyaman) (ditemani satu buku bagus) (sambil dengerin lagu jazz)

#20 Sepatu baru.

#21 Hugs from friends.

#22 Cubit-cubitin pipi anak orang yang unyu dan imut. :3

#23 Ikut seminar, or forum, terus ketemu en kenalan sama orang-orang hebat, gitu. :P

#24 Disapa para murid, apalagi yang kemudian niat deketin buat kasih salam.

#25 Akhirnya keinget dimana naruh barang, dan nemuin barang yang dicari-cari itu.

Iyes, ini bakal nambah, sih.  Tapi at least, 25 hal ini sudah bikin senyum-senyum sendiri waktu ngetik en ngebayangin kejadiannya. What's on your list? ;)



PS: This writing was originally posted on FB, as a note, you can check it here

Tuesday, January 27, 2015

G*blok, dan Pintar

Akun medsos sebagian besar orang Indonesia plus update di aplikasi chat, minggu lalu, dibanjiri foto, meme, maupun kutipan dari Alm. Om Bob Sudino. Tren jaman sekarang: rame-rame pasang foto dan sejenisnya di medsos atau aplikasi chat untuk mengabarkan simpati. 

Anyway, salah satu kutipan yang mendadak populer dari almarhum adalah, 'Orang g*blok sulit dapat kerja akhirnya buka usaha sendiri. Saat bisnisnya berkembang, orang g*blok mempekerjakan orang pintar.' 


Saya terdiam; otak saya mencampur perasaan tersinggung, tersentil, mikir, dan pengin ketawa. Saya termasuk orang yang g*blok atau pintar? Kalau saya tersinggung, berarti saya sok pintar. Saya sadar diri bahwa saya masih g*blok; kenyataannya masih banyak jutaan orang pintar di luar sana. Kalau saya bangga, berarti saya sok g*blok. 

Yang jelas, tidak sedikit teman-teman saya yang memasang foto Alm. Om Bob berhias kutipan itu. 

Sampai satu siang, saya buka BBM saya dan mengecek updates, dan menemukan seorang teman menulis, 'G*blokmu sama g*bloknya Bob Sadino itu beda, lho. Catet!' Otak saya berteriak kegirangan. Saya otomatis nge-chat dia. Saya bilang kalau ternyata saya bukan satu-satunya yang berpikiran seperti itu. Saya punya teman! Kemudian, dia menambahkan, 'Banyak orang g*blok yang gak tau diri soalnya.'

Saya bukannya mau merusak suasana berkabung, atau tidak mau bersimpati. Saya cuman berpikir (well, yes, itu hobi saya). 

Kutipan dengan pesan semacam itu bukan lah yang pertama. Almarhum sendiri memang sering bahas hal serupa. Selain itu, Gubernur DKI yang sipitnya sama seperti saya, Om Ahok, pernah menyampaikan pesan yang mirip, meski dia menambahkan kategori orang yang 'terlalu pintar', 'terlalu bodoh', dan 'sekedar lulus (kuliah)' 


Kuliah itu jangan terlalu pintar, cukup sekedar lulus saja. Jangan terlalu bodoh, nanti susah lulusnya. Kalau terlalu pintar biasanya balik lagi ke kampus jadi dosen. Nah, yang hanya sekedar lulus, biasanya balik ke kampus sudah menjadi donatur. Itu kata-kata Ahok.

Saya berpikir, apa sebenarnya yang bikin saya bisa dapat label bodoh dan pintar. Saya merenungkan indikator buat masuk kategori g*blok itu apa saja (tidak penting banget!). Kalau teman saya, atau yang lain, sampai ada yang bisa bilang g*bloknya (atau pintarnya) seseorang dengan yang lain itu beda, dan saya juga setuju hal ini, apa yang bikin beda? Apa g*blok dan pintar ada tingkatannya, supaya mirip kripik singkong yang punya level pedas yang beda-beda. 

Kalau orang selevel Alm. Om Bob yang notabene pemimpin dan memiliki beberapa bisnis menyebut diri g*blok (semoga kesimpulan saya tidak terlalu kebablasan), sampai-sampai beliau bisa ada di posisi itu, lah, yang jauh di bawah dia berarti g*blok level berapa? 

Sepertinya g*blok yang dimaksud Om Bob itu mereka yang tidak mendapat nilai bagus di sekolah. Atau para murid yang hobi jadi target empuk para guru yang kehabisan kesabaran buat membimbing mereka (lebih ekstra). Atau mereka yang tega ditinggalkan dan dipinggirkan para guru atau dosen. Atau mereka yang bikin guru-guru malas buat masuk kelas (tidak cuman murid yang malas masuk kelas, loh!). 

Tapi, ya, itu kenyataannya.

Banyak mahasiswa yang terlalu pintar dengan transkrip nilai yang membosankan karena isinya cuma A, tidak bisa move-on dari kampusnya karena memutuskan tinggal dan jadi dosen. Sampe dia botak ngejar gelar doktornya pun, gajinya kadang-kadang miris. 

Dan golongan yang satu bak menerima mujizat surgawi. Tidak sedikit yang dulunya dianggap super class-clown dan nyaris kena drop-out, atau yang bangga menyandang gelar NASAKOM (nasib satu koma), kadang lulus dengan begitu epic-nya. Malahan mereka buka usaha, terkenal, dan dapet duit banyak. Ketika orang-orang macam ini lulus, lalu meraih sukses (versi mereka), mereka begitu berhasratnya melampiaskan dendam karena merasa di-bully guru (dan teman-teman) mereka di bangku sekolah atau kuliah karena nilai mereka. Mereka balik mem-bully ‘golongan pintar’ dengan mempekerjakan mereka. Jadi bos mereka.

#sejenakmenghelanapas

Balik lagi: g*blok vs pintar. Apa yang bikin kita layak dan kepedean untuk masuk satu dari dua kelompok ini? 

Bukanya bisa menghasilkan banyak duit itu juga pintar? Pintar berwirausaha. Bukannya artis yang menghibur banyak orang di televisi (meskipun tidak jarang banyolannya lebih slapstick dan komentarnya sering kelewatan dari kadar kesopanan) juga berarti pintar berinteraksi dan menarik minat orang? Saya punya temen gitaris yang aji gile canggihnya memetik dawai gitar itu, padahal dulu dia nyaris DO karena sempat hampir berkomitmen jadi mahasiswa abadi. Dia g*blok? Ah, tidak. Dia pandai dalam bermusik. Orang-orang ini pintar!

Jadi apa itu g*blok? Saya mau skip bagian ini ah, karena saya meyakini kalau g*blok itu tidak eksis. Yang ada hanya malas (istilah yang dipakai seorang mantan guru yang sok bijak). Tapi kalau dipaksa suruh mendefinisikan kata g*blok, saya mau pakai frasa ‘tidak mau belajar dari pengalaman’ sebagai arti kata itu. Maaf. 

Jadi, jangan kecil hati, dan jangan hilang arah dan tujuan. Kita lebih besar dari butiran debu. Dan kalau ada yang ngecap kita g*blok, mungkin kita belum menemukan faktor X-nya kita aja. Begitu ketemu, tidak ada salahnya mencoba audisi kompetisi nyanyi itu. Endingnya mungkin antara terkenal karena bakat nyanyi kita, atau bisa saja terkenal karena jadi bahan lelucon. Itu juga pintar: pintar menghibur. Dan, ya, saya tahu paragraf satu ini agak gaje.

Yang perlu diingat, seperti yang diingatkan teman saya, jangan terlalu pede kalau kita pintar, atau g*blok. Plus, tahu diri dengan keg*blokan maupun kepintaran kita. Stay humble. Bukannya itu pesan yang sebenarnya diingatkan dan terpancar dari pribadi dan gaya hidup Alm. Om Bob?



(Semula, saya nekat mengajukan tulisan saya ini ke salah satu situs kumpulan berita dan artikel, tapi berita baik tidak kunjung datang. Jadi, ya, saya share ini disini.)

Tuesday, December 23, 2014

Natal Siapa?

Tuhan, kan, katanya,
Kok di kandang lahirnya?
Coba persalinan di istana,
bakal lebih banyak pesta pora,
kami rogoh lebih banyak dana
sekedar buat hura-hura
atau gampangnya,
biar dinilai ikut ajaran agama.

Dibilang Dia Raja,
tapi yang datang para gembala,
bukan dari golongan kaya.
Tersisih, dipandang siapa?
Kenapa mereka yang pertama,
rumornya, dengar dari bala surga;
terima kabar, sebarkan cerita.
Emang yang lain bakal percaya?

Jadi Pemimpin nantinya,
eh, malah lari dari raja,
karena Herodes kena paranoia
nyawa ditebas 'tuk amankan tahta.
Ahli Bintang bikin perkara
berikan hadiah bukan untuk dia,
tapi sembahkan yang mulia
malah buat Anak yang belia.

Kurang kerjaan apa, ya?
Katanya datang dari Surga,
ke dunia kok mau-maunya.
Dan sekarang mana?
Bayi sering lenyap dari mata.
Kado bertumpuk, pohon bercahaya.
Lebih terkenal mana:
Sang Putra, atau Si Santa?

Wednesday, December 10, 2014

Manusia atau Singa?

Meski kita berlaku adil,
belum tentu dunia ini
otomatis memperlakukan kita dengan keadilan.

Karena kita setuju dengan satu hal,
juga bukan berarti kita bisa memaksa orang lain
untuk ikut pemikiran kita.

Kamu tidak mengganggu orang lain.
Bisa saja mereka tetap ingin
mengganggu hidupmu.

Ketulusan mungkin jadi modal awalmu
tapi balasan yang didapatkan
entah kecurangan, entah penipuan, siapa tahu?

Kamu tidak pernah menjelekan orang lain,
tapi itu tidak menjamin
dia tidak akan menjelekanmu.

Untuk orang lain kamu melakukan kebaikan,
belum tentu mereka akan membalas
dengan kebaikan.

Itu seperti berharap singa
tidak memakanmu,
karena kamu tidak mengganggu singa itu.

Tapi setidaknya kita tahu,
atau mampu memilih,
siapa singa, siapa manusia itu.

Kita juga punya kesempatan, tidak jarang,
untuk meminta bantuan dari sesama manusia
ketika singa hendak menyerang.

Dan bahkan perlu sekali,
kalau terpaksa, kita perlu pertolongan
membunuh singa itu.

Pertanyaannya kemudian,
kita ini sebenarnya
manusia atau singa?



Monday, December 8, 2014

25 Desember, Sesat?

Dia (anak remaja): Kalau yang gak tertulis di Alkitab itu sesat. *dengan mantap*
Me: Oh, ya?
Dia: Iya. Sesat. Nda bener.
Me: Oh, gitu ya... *nyantai aja* kalau Natal, ada di Alkitab?
Dia: Ada dong, peristiwa Natal-nya.
Temennya: Iya, Koh. Cerita kelahiran itu.
Me: Ditulis lahir tanggal 25 Desember juga, ya?
Dia: . . .
Me: Jadi (ngerayain) Natal (di tanggal 25) sesat dong!
Dia: . . .

Sorry, kiddo, saya tidak rela kamu tumbuh jadi remaja yang punya fanatisme sempit, terus membabi buta menjelekan pandangan lain. I know we surely have different views from other religions or beliefs, but I won't let you develop that kind of narrow-minded, blind faith.