Kapan masuk sekolah?
Kapan kuliah?
Kapan lulus?
Kapan mulai kerja?
Kapan tunangan?
Kapan nikah?
Kapan punya momongan?
Kapan kasih adik buat dedeknya?
Kapan mantu?
Kapan...
Karena untuk beberapa
itu basa-basi,
itu sindiran,
itu tuntutan,
itu lelucon,
itu pilihan,
itu teror,
itu doa.
Friday, October 31, 2014
Thursday, October 30, 2014
Ketika Papa Belajar Pakai Smartphone
Kemarin, saya sedang menikmati makan malam saya ketika Papa pulang dari kerjanya, kemudian tiba-tiba bercerita, "Di Tribun, lagi rame pada bahas kabinet baru, ya. Tadi ada tentang Susi yang...."
Saya diam sejenak, antara kaget dan kagum, bukan karena diskusi Kabinet Kerja yang baru dilantik, ataupun tentang menteri selengean yang bertato dan merokok. Saya kaget karena papa sudah menikmati browsing berita dengan gadget barunya.
Awalnya Papa sempat ragu dan malas, plus saya sendiri juga ragu ketika menawari smartphone baru untuk Papa saya. Dulu saya mengajak Papa belajar menggunakan komputer, karena dia bendahara gereja yang kudu—dan emang rajin—bikin laporan keuangan, dan ternyata Papa tidak begitu antusiasnya. Sakitnya tuh disini *nunjuk kepala*. Tapi untuk kasus smartphone ini, ternyata ada bedanya, meskipun saya tahu sebenarnya ada perasaan enggan dan malas yang dialami seorang imigran di dunia digital untuk belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru.
Papa memang menunjukan semangat belajar, dan saya juga ikutan antusias untuk mengajar. Well, ya, di hari-hari pertama memang saya lumayan kehilangan kesabaran gegara melihat cara Papa menge-poke layar sentuh, alih-alih touch and swipe layar dengan lembut. Tapi saya melewati periode kekurangsabaran itu dan semacam membiarkan Papa saya bereksperimen dan berpengalaman dengan gadget barunya.
Otak saya juga secara otomatis memikirkan 'kurikulum dan silabus' kursus-singkat-pemakaian-smartphone-untuk-generasi-senior-yang-awam-teknologi-canggih-itu. Materinya? Well, seperti ini:
Yang jelas saya ikut semangat ketika Papa saya semangat belajar dan bisa merasakan manfaat dari smartphone barunya.
Saya diam sejenak, antara kaget dan kagum, bukan karena diskusi Kabinet Kerja yang baru dilantik, ataupun tentang menteri selengean yang bertato dan merokok. Saya kaget karena papa sudah menikmati browsing berita dengan gadget barunya.
Awalnya Papa sempat ragu dan malas, plus saya sendiri juga ragu ketika menawari smartphone baru untuk Papa saya. Dulu saya mengajak Papa belajar menggunakan komputer, karena dia bendahara gereja yang kudu—dan emang rajin—bikin laporan keuangan, dan ternyata Papa tidak begitu antusiasnya. Sakitnya tuh disini *nunjuk kepala*. Tapi untuk kasus smartphone ini, ternyata ada bedanya, meskipun saya tahu sebenarnya ada perasaan enggan dan malas yang dialami seorang imigran di dunia digital untuk belajar dan beradaptasi dengan teknologi baru.
Papa memang menunjukan semangat belajar, dan saya juga ikutan antusias untuk mengajar. Well, ya, di hari-hari pertama memang saya lumayan kehilangan kesabaran gegara melihat cara Papa menge-poke layar sentuh, alih-alih touch and swipe layar dengan lembut. Tapi saya melewati periode kekurangsabaran itu dan semacam membiarkan Papa saya bereksperimen dan berpengalaman dengan gadget barunya.
Otak saya juga secara otomatis memikirkan 'kurikulum dan silabus' kursus-singkat-pemakaian-smartphone-untuk-generasi-senior-yang-awam-teknologi-canggih-itu. Materinya? Well, seperti ini:
- pengenalan tampilan dan bagaimana touch dan swipe layar, berakhir dengan aksi poking, dan in fact, untuk kualitas kekasaran permukaan jari papa, lapisan pelindung layar itu sekarang sudah cukup kusam di beberapa spot
- bagaimana mengaktifkan mode getar dan silent, buat siap-siap kalau Papa sedang rapat atau tidak mau berisik
- menerima dan melakukan panggilan telepon, dengan sekali kasus kebingungan bagaimana cara mematikan panggilan padahal salah kontak orang; ini bikin geregetan juga
- menerima dan mengirim SMS, so far tidak ada kendala
- BBM, yang ternyata tidak sebegitu antusiasnya, malahan Papa bingung kalau melihat teman-teman BBM-er rajin update foto dan personal message
- Whatsapp, ini yang bikin Papa cukup tertarik, penasaran bagaimana mengirim dan menyimpan gambar kiriman teman, dan beberapa kali meneruskan gambar humor ke saya juga
- memanfaatkan aplikasi Alkitab, yang tidak begitu sering digunakan Papa saya, bahkan di gereja,
- Browsing via Chrome, cukup untuk searching informasi dan membaca berita, dan sekarang memang rajin update berita, mostly tentang politik dan olah raga
- nonton Youtube, yang berakhir dengan kami sama-sama cukup kecewa karena slogan 'I hate slow' dari Semarpret sukses mem-PHP-kan kami
Sekarang, Papa sering bangun pagi, langsung ngechek smartphone-nya. Sembari menunggu giliran mandi, kadang-kadang *uhuk* ngerokok pagi sambil baca berita. Pulang kerja, gak jarang sharing kendala pemakaian smartphone-nya maupun apa yang ditemukan di Internet.
Respon Mama? Cuek-cuek saja. Memang awalnya saya ngiming-imingi Papa maupun Mama, tapi ketika Mama lihat bagaimana papa sering bingung, sepertinya dia jadi enggan untuk ikut menggunakan smartphone. Komentar terakhir mama pun, "Udah, cariin HP yang biasa (bukan touch screen). Yang penting ada kameranya. Itu sama punya kamu aja (nunjuk blackberry saya)."
Adik saya? Begitu dapat undangan berteman BBM dari Papa, spontan update status seperti ini,
Yang jelas saya ikut semangat ketika Papa saya semangat belajar dan bisa merasakan manfaat dari smartphone barunya.
Ada yang kelewatan di kurikulum saya? Facebook? Ummm, sepertinya tidak perlu mengajarkan yang satu ini dulu ya. *grinning*
Ada pengalaman unik ngajarin ortu atau sesepuh lainnya belajar pakai smartphone dan sejenisnya? :)
Ada pengalaman unik ngajarin ortu atau sesepuh lainnya belajar pakai smartphone dan sejenisnya? :)
Tuesday, October 14, 2014
Bagi-Bagi Durian
Durian itu nikmat. Tapi buat yang doyan, tidak pantang dan dilarang makan. Saya salah satunya.
Jadi kalau sudah ada durian yang baunya menyebar ke seluruh rumah (PS. Indra penciuman saya cukup kuat, terbukti dengan hidung yang ukurannya lumayan gedhe, entah memang nyambung atau tidak), saya bakal langsung liar mencari-cari dimana letak buah berduri itu.
Sayangnya tidak semua orang suka buah yang asalnya dari Asia Tenggara ini. Jadi meski saya bisa begitu menikmati makan duren, sampe jilat-jilat jari, orang lain mungkin responnya biasa saja. Atau malah mereka jijik dan tereak-tereak kalau mencium bau duren, dan sebelum akhirnya mereka mual dan pengin mutah. (Ada yang sudah jijik lihat gambar durian di atas? Saya sengaja kalau begitu.) Apalagi kalau dikasi ke penderita hipertensi, kita malah bisa dianggap sedang minta warisan dari mereka.
Terus kalau pengin berbagi buah durian (anggap kalau orangnya suka durian), gak mungkin, kan, ngasih durian dengan cara dilempar, lengkap dengan kulitnya? Yang ada ini ngasih kesempatan buat di-opname or langsung dikirim ke kuburan.
Bisa juga waktu buat ngasih buahnya gak tepat. Katanya, katanya loh (padahal ternyata mitos), pas hamil, wanita tidak boleh makan durian. Kalau pria sih ga masalah, ya? *siap-siap dilempar durian* Sukur-sukur kalau duriannya disimpan, atau dioper ke orang lain. Kalau dibuang, kan mubazir. Bisa juga, duriannya dikasi abis minum bir, bisa tambah toying itu.
Berbagi niat baik itu mungkin juga sama seperti berbagi buah durian.
Niatnya memang baik. Entah itu yang universally baik, atau menurut kita baik, karena kita pernah ngincipin (baca: mengalami) hal yang serupa. Tapi, ya, bisa saja niat baik itu jadi masalah buat orang lain.
Entah karena target orangnya salah. Atau karena cara menyampaikan atau memberikan niat baik itu kurang tepat. Atau mungkin karena bukan/belum momennya yang pas buat menyampaikan niat baik itu.
Ya, yang paling menyebalkan, kalau memang semuanya sudah pas, eh, ternyata orang yang mau jadi target niat baik ini notabene sudah benci tingkat setan ke kita. Dengan atau tanpa alasan yang masuk akal manusia. Niat baik level dewa manapun dan sesuci apapun bisa dianggap tokai kucing.
Jadi, saya belajar kalau good will itu tidak sesimpel itu. Tapi, bersyukur kalau kita bisa memikirkan dan ingin punya niat baik buat orang lain, di tengah trend pola hidup yang makin individualis dan apatis.
Pak Kent Keith mengingatkan, meski dunianya bobrok, kita kudu tetap berusaha mengasihi, tetap melakukan yang baik, tetap menolong, dan tetap memberi yang terbaik. Tinggal menambahkan strategi yang tepat buat melakukan semua itu.
Ciao.
PS.
Habis makan durian, kalau cuci tangan katanya disuruh merem matanya, biar baunya ilang.
Saya pernah coba. Dan tidak ngefek. -_-
Jadi kalau sudah ada durian yang baunya menyebar ke seluruh rumah (PS. Indra penciuman saya cukup kuat, terbukti dengan hidung yang ukurannya lumayan gedhe, entah memang nyambung atau tidak), saya bakal langsung liar mencari-cari dimana letak buah berduri itu.
Sayangnya tidak semua orang suka buah yang asalnya dari Asia Tenggara ini. Jadi meski saya bisa begitu menikmati makan duren, sampe jilat-jilat jari, orang lain mungkin responnya biasa saja. Atau malah mereka jijik dan tereak-tereak kalau mencium bau duren, dan sebelum akhirnya mereka mual dan pengin mutah. (Ada yang sudah jijik lihat gambar durian di atas? Saya sengaja kalau begitu.) Apalagi kalau dikasi ke penderita hipertensi, kita malah bisa dianggap sedang minta warisan dari mereka.
Terus kalau pengin berbagi buah durian (anggap kalau orangnya suka durian), gak mungkin, kan, ngasih durian dengan cara dilempar, lengkap dengan kulitnya? Yang ada ini ngasih kesempatan buat di-opname or langsung dikirim ke kuburan.
Bisa juga waktu buat ngasih buahnya gak tepat. Katanya, katanya loh (padahal ternyata mitos), pas hamil, wanita tidak boleh makan durian. Kalau pria sih ga masalah, ya? *siap-siap dilempar durian* Sukur-sukur kalau duriannya disimpan, atau dioper ke orang lain. Kalau dibuang, kan mubazir. Bisa juga, duriannya dikasi abis minum bir, bisa tambah toying itu.
Berbagi niat baik itu mungkin juga sama seperti berbagi buah durian.
Niatnya memang baik. Entah itu yang universally baik, atau menurut kita baik, karena kita pernah ngincipin (baca: mengalami) hal yang serupa. Tapi, ya, bisa saja niat baik itu jadi masalah buat orang lain.
Entah karena target orangnya salah. Atau karena cara menyampaikan atau memberikan niat baik itu kurang tepat. Atau mungkin karena bukan/belum momennya yang pas buat menyampaikan niat baik itu.
Ya, yang paling menyebalkan, kalau memang semuanya sudah pas, eh, ternyata orang yang mau jadi target niat baik ini notabene sudah benci tingkat setan ke kita. Dengan atau tanpa alasan yang masuk akal manusia. Niat baik level dewa manapun dan sesuci apapun bisa dianggap tokai kucing.
Jadi, saya belajar kalau good will itu tidak sesimpel itu. Tapi, bersyukur kalau kita bisa memikirkan dan ingin punya niat baik buat orang lain, di tengah trend pola hidup yang makin individualis dan apatis.
Pak Kent Keith mengingatkan, meski dunianya bobrok, kita kudu tetap berusaha mengasihi, tetap melakukan yang baik, tetap menolong, dan tetap memberi yang terbaik. Tinggal menambahkan strategi yang tepat buat melakukan semua itu.
Ciao.
PS.
Habis makan durian, kalau cuci tangan katanya disuruh merem matanya, biar baunya ilang.
Saya pernah coba. Dan tidak ngefek. -_-
Friday, October 10, 2014
Kok, Bertengkar dengan Kakak-Adik (dan Papa-Mama)?
You don't choose your family. They are God's gift to you, as you are to them. ~ Desmond Tutu
"Karena sering dijahilin sama Kokoh"
"Kalau pulang sore karena ngerjain tugas (sekolah) terus dimarahin."
Itu beberapa alasan yang dituliskan teman-teman remaja ketika saya memimpin sesi diskusi dan sharing Sabtu lalu di Persekutuan Remaja, GKI Pajajaran Magelang. Tema yang diberikan ke saya, 'Sayang adik-kakak,' dan awalnya langsung bikin saya bingung. Saya punya satu adik, dan bukannya saya tidak sayang adik saya, tapi mungkin teman-teman dekat saya tahu kalau saya tidak sering menunjukan keakraban adik-kakak sebagaimana yang ditunjukan siblings yang lainnya.
Saya memperluas sedikit tema itu, dan menambahkan topik 'sayang orang tua' ke dalam diskusi kami (yang ternyata sudah dibahas minggu sebelumnya). Saya jadi tergelitik ketika membaca sms yang menyebutkan tujuan dari diskusi tema ini: supaya kakak adik tidak terus-terusan bertengkar, dan tidak melawan mama-papa. Kenyataannya, tidak jarang saya sering diskusi dan bahkan mengkritisi (kalau mau dibaca: melawan) pendapat orang tua saya.
Dari beberapa referensi yang saya baca, kita bertengkar—beda pendapat, salah paham, berselisih ide—dengan orang tua maupun saudara karena beberapa hal. Well, saya memulai diskusi malam itu dengan meminta mereka menuliskan contoh alasan-alasan sehari-hari yang sering memicu pertengkaran di rumah.
Menarik ketika membaca pengalaman yang dituliskan teman-teman: rebutan channel televisi, ortu yang galak, sok tahu, kakak yang sok berkuasa, ngotot-ngototan, bahkan sampai faktor kegantengan sang kakak yang di bawah standar harapan sang adik.
Saya minta mereka menempelkan post-it tulisan mereka dalam dua kategori: orang tua dan saudara, membahasnya secara singkat, kemudian menanyakan beda secara umum alasan dari kedua kategori itu. Seorang remaja langsung menjawab, 'Kalau dengan kakak-adik, bisa dua-duanya sama-sama salah. Tapi kalau dengan orang tua, biasanya orang tua benar, kita yang salah.' I would agree with that.
Kita dan ortu atau saudara bisa saja bertengkar karena kita punya cara yang berbeda dalam mengungkapkan dan menerima kasih, atau cinta. Alasan pertama perselisihan dalam keluarga adalah perbedaan bahasa kasih. Saya meminjam istilah bahasa kasih yang diperkenalkan Gary Chapman, dan dalam bukunya, yang notabene sudah diterjemahkan ke bahasa Indonesia, dia menyebutkan ada lima jenis bahasa kasih: kata-kata penguatan (words of affirmation), pelayanan (acts of service), sentuhan fisik (physical touch), pemberian hadiah (gifts), dan waktu bersama (quality time). Betewe, kita bisa cari tahu jenis bahasa kasih kita disini. Bahasa kasih saya? Saya rasa sudah ada perubahan: antara sentuhan fisik, kata-kata penguatan, dan hadiah.
Keluarga jadi tempat pertama kita menerima, menyatakan, dan melatih mengekspresikan sayang kita, dan memakai ide Chapman, kita punya bahasa yang berbeda untuk melakukan itu. Seorang ibu mungkin ingin melayani anak, 'memanjakan' mereka, tapi sayangnya si anak merasa risih. Budi memikirkan dan menyiapkan hadiah khusus untuk papanya, yang malahan tidak kelihatan begitu semangat menganggap hadiah spesial itu. Atau, Nora pengin menghabiskan waktu lebih dengan adiknya, kemudian 'caper' dengan iseng dan jahil, tapi adiknya menganggap itu kenakalan yang mengganggu. Well, at least, that what I did to my younger brother. Beda bahasa kasih ini juga nampak ketika mendengar jawaban dari seorang teman, "Mama pengin jemput saya, tapi saya tidak pengin merepotkan. Nah, kami kemudian bisa bertengkar, deh."
Alasan kedua adalah karena tiap anggota keluarga pada dasarnya ingin merasakan atau memiliki kebebasan dan privasi. Sang anak ingin bebas bepergian, entah untuk menyelesaikan tugas belajar ataupun untuk tujuan bermain, tapi ortu di sisi lain khawatir. Orang tua juga sering menetapkan aturan, yang dianggap mengekang dan membuat anak gerah. Belum lagi aturan tidak resmi dari kakak untuk adik, seperti ketika saya melarang adik saya buat rebahan di ranjang seenaknya ketika ia pulang dan masih berpakaian kotor dengan debu atau keringat dari luar rumah.
Kita sering merasa tidak nyaman dengan aturan yang dibuat dalam keluarga, atau beberapa menyebutnya 'kontrak keluarga'. Tapi kenyataannya, aturan itu, ketika dibuat dengan dasar dan tujuan yang baik, tidak pernah dimaksudkan untuk mengurangi kebebasan kita. Disiplin yang ingin diterapkan bertujuan meningkatkan kualitas pribadi kita. Menaati orang tua bukan berarti melenyapkan atau membatasi kebebasan, justru malah kita sedang menyiapkan diri untuk nantinya terbiasa hidup disiplin dengan sendirinya. Akan tiba masanya ketika anak berpisah (rumah) dengan orang tua, dan dianggap ada kebebasan lebih. Tapi sampai saat itu tiba, biar kita menikmati hidup dengan aturan yang ada.
Dan terakhir, kita sama-sama punya kepentingan, pandangan, dan prioritas yang berbeda. Belajar bisa saja dianggap tugas nomor satu oleh orang tua, atau untuk orang tua yang lain, membantu ortu juga tidak kalah pentingnya. Sementara anak bisa saja melihat bahwa mereka butuh hiburan, perlu menyalurkan bakat, dan ingin menghabiskan waktu bersama teman. Ortu dan anak bisa saja ribut besar gegara pemilihan jurusan kuliah, karena ortu lebih memikirkan apa yang dianggap menghasilkan banyak uang, sementara anak pengin mengembangkan bakat mereka. Atau ketika saya dan ortu rebutan channel televisi, karena beda melihat apa yang dianggap hiburan.
Jadi bagaimana supaya tidak bertengkar? Ya, for me, kembali melihat tiga alasan itu; apakah memang ada perbedaan dalam memandang dan memahami bahasa kasih, kebebasan dan privasi, serta kepentingan dan prioritas hidup. Next, kita perlu memikirkan bagaimana berkomunikasi supaya perbedaan itu bisa sama-sama dipahami dan diterima. Dan belajar berkomunikasi itu hal yang lain lagi. Tapi at least kita sudah mencoba lebih peka melihat hal-hal yang bisa memicu perselisihan dalam keluarga itu. Dan ketika semuanya didasarkan dan dimulai dengan kasih atau cinta, saya rasa kita bisa lebih menghindari atau mengurangi pertengkaran di rumah. Atau menganggap perselisihan itu bukan hal yang destruktif.
Monday, September 29, 2014
Gathering Akbar 2014 Bukan Indonesian Idol
Sabtu terakhir di ujung September 2014 ini, saya ke Tangerang, datang ke acara Gathering Akbar Komunitas Facebook Bukan Indonesian Idol (BII), yang isinya orang-orang yang hobi menyanyi dan ngerekam cover or original songs.
Beberapa teman di luar BII yang tahu rencana saya ikut gathering ini selalu bertanya, 'Ngapain sih (dibela-belain) ke Jakarta (padahal bukan urusan kerjaan)?' Dan saya lanjut dengan menjelaskan singkat apa itu BII dan isinya. Ini kali pertama saya ikut acara komunitas yang bermula dari pertemuan online. Gak sekali kemudian dilanjutkan pertanyaan, 'Emang kamu bisa nyanyi?' *nyesek* Well, kenyataannya, mungkin, saya satu-satunya (admin dan member) yang gak pernah upload suara saya.
'Trus gathering-nya ngapain?' Ya, namanya group penyanyi, kami menikmati beberapa teman-teman BII lainnya perform, selain kami menyantap makan malam dan diselingi games. Saya sendiri, sebagai admin pasif (yes, saya nyadar diri) terhibur, menikmati, dan terpukau ketika para performer manggung, sembari saya melaksanakan tugas saya membantu publikasi acara itu.
Buat saya, yang gak kalah keren dari setiap performer yang membuktikan talenta mereka, sebenernya adalah pertemuannya itu sendiri. So far, gak sedikit dari kami yang ketemu-kemudian-kenalan-dan-jadi-teman di dunia maya, sambil hobi mendengarkan rekaman suara mereka yang diupload di souncloud. Beberapa malah jadi cukup dekat. Tapi di gathering ini, akhirnya kami bertemu muka-dengan-muka dengan lebih banyak member, meski beberapa mungkin sudah pernah ketemuan entah lewat kopi darat maupun mini-gathering.
Gak sedikit member yang ngebelain datang dari tempat asal mereka yang notabene jauh dari Tangerang, dan banyak yang kemudian menunjukan muka bingung-campur-menebak-nebak-dan-kegirangan ketika akhirnya bisa lihat wujud aslinya (atau mungkin saya yang paling demen menebak-nebak ini-itu siapa). Dan kegiatan selfie ataupun groupfie bertebaran dari awal sampai akhir acara buat mengawetkan momen kebersamaan yang langka ini. Well, yes, tidak sedikit yang merasa kalau mereka puas bisa hadir gathering ini karena kekeluargaan mereka dan perkenalan mereka bisa makin dipererat. And that's what makes this event awesome.
'Jadi, acara tadi sukses?' tanya Ko Fandy, salah satu dari admin senior BII, kepada saya selesai acara, sembari menunggu anak-anak beneran bubar karena durasi hampir lima jam masih dirasa kurang. Saya lupa respon pasti saya waktu itu, cuman pertanyaan ini beberapa kali kepikir terus sampai kembali teringat tadi selama perjalanan pulang saya dalam Bus Damri Jogja-Magelang.
Buat saya, gathering-nya sukses, lepas dari beberapa 'but' dan catatan yang memang kudu diperhatikan kalau pengin mengadakan acara sejenis di lain waktu, supaya makin baik en makin baik. Dilihat dari pesertanya, dibandingkan dengan total 2.000 sekian member, memang prosentase yang datang tidak ada 5%-nya, tapi niat dan excitement-nya buat menunggu, hadir, dan ikut meramaikan acara itu yang bikin saya takjub.
Minggu siang sebelum saya terbang balik ke Jogja, seorang teman penasaran dan bertanya apa saja kegiatan BII sebagai sebuah komunitas online. Saya mendadak bingung, karena selain posting karya rekaman para member, jarang ada kegiatan lain, selain kopdar ataupun gathering. But, saya pengin mengamini bahwa setelah gathering ini, member-member terus dan makin tambah aktif en produktif (Amen!), terus makin berkembang kegiatan dan ide-ide kreatif yang lain (Amen!), dan sesama member makin kenal plus ekrab (Amen!).
Akhirnya, saya salut kepada beberapa orang-orang hebat yang terlibat dalam event ini. Ko Fandy, senior admin dan co-founder BII yang super kreatif (makanya saya tanya ke istrinya, 'Itu suami dikasih makan apa?') dan sukses jadi kapten tim yang memotori gathering ini. Ko Wiyanto, founder BII, sudah niat bela-belain dateng dari pulau seberang, meninggalkan kesibukan kerjanya. Also, Mami Nita yang bener-bener jadi maminya BII, dan sudah bela-belain dateng meskipun sedang sakit (get well really soon, Mam!). Saya kudu minta maaf ke Kevin yang jadi korban kekerasan dalam gathering (baca: kepala kejatuhan palang layar proyektor). Senang bisa bertemu teman-teman sekitar Magelang: Kanya, Ecky, dan Ibnu. Dan akhirnya saya ketemu 'adek' saya--Ria--yang heboh orangnya dan ajib suaranya, Dejul yang logatnya bikin kepincut telinga ini, en Pak Guru Enos! Dan orang-orang di depan maupun belakang panggung lainnya, yang meski bukan panitia aktif, tapi mau rame-rame bantuin en bertugas: Rudi, Etep, Livia, Shafiq, en MC yang super kocak en sukses abis mengguncang acara gathering ini, Willi! Dan pastinya semua performer yang benar-benar kelihatan buktinya kalau mereka berbakat, bahkan mereka juga rela bayar padahal mereka ngisi acara (alih-alih dibayar!).
Saya tidak dapat mandat untuk mewakili para admin, tapi saya rasa mereka juga bakal sepaham kalau panitia merasa berterima kasih buat semua teman-teman yang sudah terlibat dari awal sampai akhir event ini, baik yang datang, tampil, dan yang mendukung di balik panggung. Even though I don't know them personally, still, they rawk, and the party--our party--was killer!
Viva BII!
PS:
If you are interested in listening to some songs of BII-United, kindly check their official soundcloud account. Also, BII-United are selling their new album consisting of 17 original songs written and sung by several BII members for only IDR 35,000. For more information, please leave your comment or post in the group.
Beberapa teman di luar BII yang tahu rencana saya ikut gathering ini selalu bertanya, 'Ngapain sih (dibela-belain) ke Jakarta (padahal bukan urusan kerjaan)?' Dan saya lanjut dengan menjelaskan singkat apa itu BII dan isinya. Ini kali pertama saya ikut acara komunitas yang bermula dari pertemuan online. Gak sekali kemudian dilanjutkan pertanyaan, 'Emang kamu bisa nyanyi?' *nyesek* Well, kenyataannya, mungkin, saya satu-satunya (admin dan member) yang gak pernah upload suara saya.
'Trus gathering-nya ngapain?' Ya, namanya group penyanyi, kami menikmati beberapa teman-teman BII lainnya perform, selain kami menyantap makan malam dan diselingi games. Saya sendiri, sebagai admin pasif (yes, saya nyadar diri) terhibur, menikmati, dan terpukau ketika para performer manggung, sembari saya melaksanakan tugas saya membantu publikasi acara itu.
Buat saya, yang gak kalah keren dari setiap performer yang membuktikan talenta mereka, sebenernya adalah pertemuannya itu sendiri. So far, gak sedikit dari kami yang ketemu-kemudian-kenalan-dan-jadi-teman di dunia maya, sambil hobi mendengarkan rekaman suara mereka yang diupload di souncloud. Beberapa malah jadi cukup dekat. Tapi di gathering ini, akhirnya kami bertemu muka-dengan-muka dengan lebih banyak member, meski beberapa mungkin sudah pernah ketemuan entah lewat kopi darat maupun mini-gathering.
Gak sedikit member yang ngebelain datang dari tempat asal mereka yang notabene jauh dari Tangerang, dan banyak yang kemudian menunjukan muka bingung-campur-menebak-nebak-dan-kegirangan ketika akhirnya bisa lihat wujud aslinya (atau mungkin saya yang paling demen menebak-nebak ini-itu siapa). Dan kegiatan selfie ataupun groupfie bertebaran dari awal sampai akhir acara buat mengawetkan momen kebersamaan yang langka ini. Well, yes, tidak sedikit yang merasa kalau mereka puas bisa hadir gathering ini karena kekeluargaan mereka dan perkenalan mereka bisa makin dipererat. And that's what makes this event awesome.
'Jadi, acara tadi sukses?' tanya Ko Fandy, salah satu dari admin senior BII, kepada saya selesai acara, sembari menunggu anak-anak beneran bubar karena durasi hampir lima jam masih dirasa kurang. Saya lupa respon pasti saya waktu itu, cuman pertanyaan ini beberapa kali kepikir terus sampai kembali teringat tadi selama perjalanan pulang saya dalam Bus Damri Jogja-Magelang.
Buat saya, gathering-nya sukses, lepas dari beberapa 'but' dan catatan yang memang kudu diperhatikan kalau pengin mengadakan acara sejenis di lain waktu, supaya makin baik en makin baik. Dilihat dari pesertanya, dibandingkan dengan total 2.000 sekian member, memang prosentase yang datang tidak ada 5%-nya, tapi niat dan excitement-nya buat menunggu, hadir, dan ikut meramaikan acara itu yang bikin saya takjub.
Minggu siang sebelum saya terbang balik ke Jogja, seorang teman penasaran dan bertanya apa saja kegiatan BII sebagai sebuah komunitas online. Saya mendadak bingung, karena selain posting karya rekaman para member, jarang ada kegiatan lain, selain kopdar ataupun gathering. But, saya pengin mengamini bahwa setelah gathering ini, member-member terus dan makin tambah aktif en produktif (Amen!), terus makin berkembang kegiatan dan ide-ide kreatif yang lain (Amen!), dan sesama member makin kenal plus ekrab (Amen!).
Akhirnya, saya salut kepada beberapa orang-orang hebat yang terlibat dalam event ini. Ko Fandy, senior admin dan co-founder BII yang super kreatif (makanya saya tanya ke istrinya, 'Itu suami dikasih makan apa?') dan sukses jadi kapten tim yang memotori gathering ini. Ko Wiyanto, founder BII, sudah niat bela-belain dateng dari pulau seberang, meninggalkan kesibukan kerjanya. Also, Mami Nita yang bener-bener jadi maminya BII, dan sudah bela-belain dateng meskipun sedang sakit (get well really soon, Mam!). Saya kudu minta maaf ke Kevin yang jadi korban kekerasan dalam gathering (baca: kepala kejatuhan palang layar proyektor). Senang bisa bertemu teman-teman sekitar Magelang: Kanya, Ecky, dan Ibnu. Dan akhirnya saya ketemu 'adek' saya--Ria--yang heboh orangnya dan ajib suaranya, Dejul yang logatnya bikin kepincut telinga ini, en Pak Guru Enos! Dan orang-orang di depan maupun belakang panggung lainnya, yang meski bukan panitia aktif, tapi mau rame-rame bantuin en bertugas: Rudi, Etep, Livia, Shafiq, en MC yang super kocak en sukses abis mengguncang acara gathering ini, Willi! Dan pastinya semua performer yang benar-benar kelihatan buktinya kalau mereka berbakat, bahkan mereka juga rela bayar padahal mereka ngisi acara (alih-alih dibayar!).
Viva BII!
PS:
If you are interested in listening to some songs of BII-United, kindly check their official soundcloud account. Also, BII-United are selling their new album consisting of 17 original songs written and sung by several BII members for only IDR 35,000. For more information, please leave your comment or post in the group.
Tuesday, September 23, 2014
6 x 4 dan 4 x 6
Jadi, sepertinya berita tentang soal PR
matematika anak SD sedang ribut dibicarakan (silakan check berita ini, ini, atau yang ini), dan tidak sedikit yang ikutan
berkomentar maupun membahasnya. Saya yang notabene seorang pendidik pun pengin berkomentar.
:P
Baru awal bulan September ini saya membahas
konsep perkalian dengan anak les saya yang duduk di kelas 7 SMP (well, yes,
saya juga ngajar les matematika buat anak SMP). Di buku paket yang disusun
pemerintah (untuk Kurikulum 2013) jelas ditulis konsep dan contoh dari operasi
perkalian itu.
Tapi ketika kemudian membandingkan dengan artikel
dari internet dan buku pegangan siswa dari luar, ternyata konsepnya bisa saja berbeda-beda.
Jadi mana yang benar? Saya tidak akan membahasnya disini, karena memang bukan
ahli, tapi karena berangkat dari buku paket yang semula saya baca, saya setuju
dengan konsep itu. Memang ketika membaca 4 x 6, kita akan mengucapkan empat kali enam, jadi ada enam sebanyak empat kali.
Lepas dari benar dan salah (lah wong beda profesor saja juga beda pendapat, kok) kasus ini tetap
menarik untuk dikomentari. Hihihi.
Para komentator berdebat dan mostly
berbicara membandingkan antara mana yang lebih penting: konsep (dan proses)
atau hasil. Banyak yang berpendapat bahwa hasil itu yang lebih utama, dan tidak
perlu dibikin repot yang penting akhir dan hasilnya sama. Siswa boleh diajarkan cara yang paling efisien dan mudah
dipahami. Well, ya, memang benar. Tapi
tidak sedikit juga yang berpegang pada pendapat mereka bahwa konsep juga penting. Tidak salah juga ketika dibilang
konsep dan proses menemukan hasil itu perlu diajarkan, supaya siswa tahu
bagaimana proses berpikir dan menemukan hasil itu.
Selama ini, ketika mengajar di kelas
ataupun ngelesin, saya lebih mengingatkan murid-murid saya untuk memikirkan
tujuan belajar dan konteks belajar itu sendiri. Kalau mengenal dan memahami konsep atau proses itu sedang jadi tujuan belajar, ya, perlu dong
mereka tahu hal itu. Kalau bicara tentang penerapan dan hasil sehingga tidak
perlu terlalu dalam membingungkan masalah konsep dan teori, ya, ajarkan hal itu di
kelas. Dan saya juga tidak pernah lupa bertanya dan
mengingatkan murid les saya bagaimana gurunya di kelas mengenalkan konsep
ataupun mekanisme dan cara lain yang sering dipakai atau diajarkan guru di
kelas, karena buat saya memahami dan menyesuaikan dengan pola atau cara guru juga penting.
Saya tidak kemudian mengajarkan anak-anak
untuk jadi conformist, atau punya mental asal bapak/ibu senang. Tapi
kenyataannya banyak guru yang cukup kolot, dan memaksa siswa hanya mengikuti
cara dan pemahaman yang dipakainya, padahal ada cara dan pemahaman lain yang
sebenarnya tidak salah untuk digunakan. Dan saya juga tidak sedang meminta siswa semata-mata tunduk dan tidak punya hak bicara. 'Kalau sempat, coba tanyakan baik-baik apa boleh dengan cara begini atau dibuat seperti ini,' usul saya.
Sedih memang ketika guru sendiri yang malah
membatasi pemikiran kritis dan kreatif siswa, lepas dari tujuan belajar yang
saya sebutkan di atas. Para guru tidak mau tahu dan mendengar, dan lebih ngotot
dengan cara (kuno) mereka. Misal cara menulis yang harus sampai detail dan lengkap
titik-koma, atau bahkan sampai hal mendasar seperti angka delapan itu ditulis
dari atas, tengah, atau bawah. Hayo, kalian nulis angka delapan bagaimana?
(Saya sih dari atas).
Saya tidak tahu persis, apakah memang
konsep jadi penekanan sang guru yang memberi nilai 20 untuk PR si siswa. Tapi
kalau pun itu tentang konsep, sang guru perlu (atau mungkin sudah) mengecheck
apakah memang konsep itu tertanam dengan baik. Dan apakah memang porsi
pemahaman konsep itu besar dan mempengaruhi komposisi nilai akhir dibandingkan dengan nilai kompetensi/materi lainnya yang diajarkan.
Bicara hasil dari perkalian, memang hasilnya sama. 4 x 6 =
6 x 4 = 24 (bukan enam belas seperti yang katanya salah ditulis oleh Pak Tiffie); ini sifat komutatif perkalian. Tetapi sekali lagi, apakah memang fokus
pembelajaran sedang pada konsep dan proses memahami perkalian itu sendiri, ataukah sekedar pada hasil. Kalau
semua pembelajaran kemudian hanya dimaknai hasilnya saja, buat saya pendidikan itu sendiri gagal, karena saya meyakini belajar itu sebuah proses.
Kalau cuma hasil dan produk (juga nilai tes) yang jadi tujuan belajar,
ya, kita sedang menyuburkan banyak bimbel (atau perlu dikoreksi namanya menjadi
bimtes [bimbingan tes] atau bimuji [bimbingan ujian]).
Kesempatan dimana para siswa bisa tersenyum dan mendapatkan momen 'aha' mereka, ketika mereka sendiri paham dan mengerti mengapa mereka bisa
mendapatkan atau menghasilkan sesuatu, itu yang penting buat saya dalam belajar. Itu yang juga bisa mendorong mereka, kita, untuk lebih banyak belajar dan menggali. Mereka sendiri yang kemudian akan menggemari kegiatan belajar dan menemukan.
Sisi lain yang saya amati adalah cara memberi dan mengkomunikasikan koreksi ataupun feedback dari sang guru kepada siswa, dan juga orang tua (atau dalam kasus ini sang kakak [so sweet banget kakaknya peduli dengan adiknya]). Mungking sang guru lelah, dan berbekal senjata ampuhnya (baca: bolpoin merah), dia mantap memberikan coretan-coretan merah itu, dan angka 20 besar. Tanpa ada komentar apa-apa, tanpa ada masukan yang setidaknya menenangkan atau menghibur, dan lain sebagainya. Buat saya ini cukup mematikan semangat siswa, sih.
Misal sang guru, atau si kakak, kemudian membangun komunikasi yang baik, mungkin kasusnya tidak akan seramai ini. Dan ternyata memang mereka berkomunikasi dan si kakak sudah minta maaf. Wow. Tapi dunia medsos sudah keburu heboh, dan ramai, dan kita--saya--ikut-ikutan komen. Entah itu komen yang membangun, komen yang mengutuk dan membodoh-bodohkan pihak mana pun, atau komen yang malah memancing keingintahuan untuk belajar perkalian lebih lagi.
Again, ini bukan kasus pertama, setelah kasus Mbak Florence dan nota makan seafood, ketika hal yang dianggap simpel diunggah ke medsos kemudian menjadi ramai, berkembang dan menyebar dengan cepat. Media surat kabar pun membahas dan menayangkan kasus ini. Kita diingatkan betapa kuat pengaruh dan peran medsos untuk menyebarkan informasi. Jadi, belajar lebih bijak, bukan sembrono, menggunakan medsos perlu diajarkan juga. Atau malah mungkin ada yang tertarik untuk jadi terkenal secara sensasional melalui medsos?
Anyway, sekian pembahasan Pak Guru tentang 4 x 6. Kalau tidak ada pertanyaan, minggu depan kita ulangan.
Ciao.
Anyway, sekian pembahasan Pak Guru tentang 4 x 6. Kalau tidak ada pertanyaan, minggu depan kita ulangan.
Ciao.
Wednesday, August 13, 2014
Happy birthday, Sabian!
Salah satu teman dekat saya itu Sabian. Dan berteman--bersahabat--dengan Sabian itu menyenangkan, meski sesekali juga bikin geregetan.
Sabian itu pribadi yang kritis, dan dia tahu kapan untuk berucap dan bertindak. Dia cerdas, dan yang bikin kami banyak nyambung adalah karena dia pemikirannya sistematis. Kecuali ketika kami bercanda, Sabian menyampaikan ide dengan tertata saat kami serius berdiskusi. Dia sering membantu saya mengurai ide dan masalah yang saya share-kan. Sabian senang membaca dan belajar. *tos pantat sesama kutu buku*
Well, ya, Sabian suka bercanda, dan sering kelihatan kekanak-kanakan. Tapi buat saya, itu jadi modal yang bikin dia populer dan bisa membaur diantara para remaja. Dia orangnya ceria, dan rame. Dan dia juga orang yangrajin menjamah, eh, ramah. Ada keceriaan dan optimisme, dan itu yang dia tularkan ke orang disekitarnya. Tapi kembali, Sabian tahu kapan, dimana, dan bagaimana dia harus bertindak dan memposisikan diri ketika dia ada di situasi yang berbeda.
Sabian itu pribadi yang kritis, dan dia tahu kapan untuk berucap dan bertindak. Dia cerdas, dan yang bikin kami banyak nyambung adalah karena dia pemikirannya sistematis. Kecuali ketika kami bercanda, Sabian menyampaikan ide dengan tertata saat kami serius berdiskusi. Dia sering membantu saya mengurai ide dan masalah yang saya share-kan. Sabian senang membaca dan belajar. *tos pantat sesama kutu buku*
Well, ya, Sabian suka bercanda, dan sering kelihatan kekanak-kanakan. Tapi buat saya, itu jadi modal yang bikin dia populer dan bisa membaur diantara para remaja. Dia orangnya ceria, dan rame. Dan dia juga orang yang
Awalnya saya risih ketika Sabian sering bercanda tentang saya. Gampang banget dia nyeletuk, making fun of me, dan ketawa (dan kadang meledak ketawanya), baik itu di kelompok kecil, atau di depan umum, seperti ketika dia menyampaikan materi! Dulunya saya pikir itu kurang ajar. Tapi saya kemudian mencoba melihat bahwa Sabian nyaman untuk melakukan hal itu, karena mungkin dia yakin bahwa saya tidak bakal tersinggung. Karena kami dekat, dan kami saling kenal, (cukup) banyak (semoga saya tidak ke-GR-an).
Sabian enak diajak curhat. Entah saya yang bercerita, atau dia yang menyampaikan curhatnya, saya menikmati setiap kesempatan bisa saling bertukar-dan-mendengarkan pengalaman dan pergumulan kami. Dan tidak tanggung-tanggung kami saling membuka diri dan percaya. Sabian tahu sisi gelap dan bobroknya saya, tapi tidak kemudian dia menjauhi atau membenci saya. Saya bersyukur karena Sabian orang yang terbuka, tetap mengasihi saya, dan mau jadi teman dekat saya. Tidak berhenti disitu, dia juga selalu mendukung saya untuk mau memperbaiki diri.
Banyak orang yang mencoba diam dan menerima kalau sahabatnya berbeda pendapat, tapi satu hal yang membuat saya salut dengan Sabian itu karena dia orang yang jujur dan terbuka. Tidak jarang dia menegur saya, jika saya salah, dan sebaliknya dia juga mau ditegur. Dalam beberapa hal, kami berbeda pendapat, dan tidak sejalan. Tidak sekali dua kali saja kami beradu argumen dan berakhir dengan keputusan yang berbeda. Tapi itu bukan alasan untuk kami tidak saling mendukung.
Lepas dari persahabatan kami, Sabian punya hati untuk pelayanan misi; dia memikirkan mereka yang masih belum kenal Tuhan. Pemikirannya dan ide-idenya banyak yang kemudian terarah ke hal ini. Kerasa banget bahwa dia punya komitmen di bidang ini, dan memang dia suka menularkan passion-nya ke orang-orang lain. Dia suka mengajak kami berdoa untuk para misionaris ataupun menceritakan cerita perjuangan mereka.
Hari ini Sabian merayakan ultahnya. Today is his big day. Happy birthday, Buddy! Tetap bertumbuh dan mengembangkan diri, plus semakin rendah hati untuk dipakai meninggikan nama Tuhan. Amen.
I remember once he thanked me for being there, knowing and listening to his up-and-down stories, and giving him support. I should have thanked him earlier for being one of my great friends. He indeed has the qualities of a true friend, and I thank God every time I remember him.
And by the way, Sabian sedang mempergumulkan satu keputusan untuk hari depannya: sekolah lanjut. Well, let's lift him up in our prayers. ;)
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kohbro Sabian!
I remember once he thanked me for being there, knowing and listening to his up-and-down stories, and giving him support. I should have thanked him earlier for being one of my great friends. He indeed has the qualities of a true friend, and I thank God every time I remember him.
And by the way, Sabian sedang mempergumulkan satu keputusan untuk hari depannya: sekolah lanjut. Well, let's lift him up in our prayers. ;)
Sekali lagi, selamat ulang tahun, Kohbro Sabian!
Subscribe to:
Posts (Atom)






















