Monday, January 11, 2010

Dan misses the real Sunday afternoon...

[FB user, please, please, please, I beg... click HERE!!!!! :) ]

[Disela-sela kesibukan en segala tuntutan, curi kesempatan buat istirahat en ngepost... :) ]


Sunday Afternoon


Daniel suka Sunday afternoon,
the real one...

Sunday afternoon,
setelah segala hal yang membuat penat
dan segala pekerjaan yang bejibun,
dan yang terasa berat...

Sunday afternoon,
harusnya kosong,
memang sudah diplan bolong,
tanpa kerjaan tentunya, dong.

Sunday afternoon,
saya selalu yang memulai,
lemas terkulai,
tidur dengan malas dan lunglai.

Sunday afternoon,
adik saya ikut tertular
setelah bermain game yang kasar
akhirnya menyusul terkapar.

Sunday afternoon,
papa pun ikutan nimbrung
tidur daripada bingung
menghadapi kerjaan setumpuk gunung.

Sunday afternoon,
terakhir mama yang berbaring
dengan santai, gerah, tanpa guling
di sofa depan dia tertidur sering...

Sunday afternoon,
tanpa gangguan seharusnya,
selalu saya tunggu setiap minggunya,
tidur tenang, tentram, tanpa pikiran semuanya...



Kesimpulannya:
Sunday afternoon jadi masa malas-malasan keluarga saya... :)

Thursday, January 7, 2010

Dan's Story: Angels without wings

[For FB user please click here, please, please, please...]
[Cerita ini salah satu cerpen saia yang ditulis sebenernya buat naskah soliDEO bulan September 2009. Tapi karena satu dan lain hal jadi batal diterbitkan... Enjoy it, n plis feel free to leave your comments.]



ANGELS WITHOUT WINGS

Abe

Oke. Siang ini cukup dingin. Dan aku menunggu teman-temanku disini, di depan kantin sekolah. Dan aku agak capek. Dan Victor sedang membeli pop juice. Dan Roni, masih Roni masih belum nampak. Dan aku cukup kesal dengan Roni.

Kemarin dia tidak datang pertemuan KTB. Alasannya simple: dia pergi main dengan teman-temannya yang lain. Dan aku sempat melihat dia merokok di satu warteg waktu aku pulang dari gereja. Yah, memang agak susah, dan aku sudah lama bersabar. Waktu ku-SMS pun balesannya cuma: He4… Sudah beberapa kali dia makin malas, dan dia (yang aku takutkan) makin tertarik untuk kembali ke kehidupan tidak jelasnya yang lama.

Itu dia. Roni, berjalan tersenyum padaku. Aku mencoba memasang senyum juga, tapi susah. Tapi okelah, kupaksa mulut ini tersenyum. Oke, biar aku interogasi dia. ‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ dia memulai menyapa.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ Aku bisa melihat Roni kaget, dan senyumnya melemah.

‘Eits…’ Roni mengacungkan jarinya ke atas, di depan wajahku, seolah menyuruhku diam. ‘Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Dia tersenyum lagi, meringis lebar. Ada yang mengalir deras di dalam diriku, ke kepalaku, dan semakin memanas.

‘Hei, itu Victor!’ Roni mengalihkan pandangan ke samping. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku tidak tahu apa yang membuat tanganku secara refleks mengepal, kemudian melayangkan tinju itu ke muka Roni. Dan aku tidak peduli ketika Roni mengaduh keras. Aku tidak peduli ketika dia terjungkal, jatuh terduduk. Aku tidak peduli ketika Victor berlari kaget melihat kejadian itu. Dan aku tidak peduli beberapa anak yang terkaget. Aku tidak peduli dengan ketidakpedulianku. Dan aku berjalan, masih dengan kepala panas.

Roni
Hari ini kami—aku, Abe, dan Victor—mau pergi bareng ke distro baju, buat pesen kostum klub basket kami. Mereka pastinya sudah menunggu di depan kantin. ‘Hei! Sampai ketemu nanti malam. Di warteg Ndeso Gubug itu lagi, kan? Oke, man?!’ aku berteriak pada teman-temanku, dan melambai, sambil berlari kecil meninggalkan mereka yang masih di depan kelas.

Itu dia, Abe berdiri disana. Tapi mana Victor? Kami mau naik mobil Victor. Yah, semoga kostum itu cepat jadi. Sudah lama kami merencanakan ini. Dan desain buatan Abe keren. Aku tersenyum pada Abe. Dia melihatku dan membalas senyum yang aneh.

‘Hai, Be! Sudah siap? Mana Victor?’ aku bertanya. Tapi Abe bukan memberi jawaban yang semestinya. Dia malah memasang tampang galak itu. Dan mulai memberondong aku dengan ucapannya.

‘Jadi, kenapa tadi malem kamu malah pergi maen dengan teman-teman kamu yang lama, yang malah ngajak kamu ngerokok lagi. Dan jangan bilang kalo kamu coba-coba minum lagi. Dan kenapa itu kamu anggap lebih penting daripada kelompok sel?’ aku kaget. Dan mulai bingung. Tidak bisakah Abe santai sedikit. Lagipula bukan urusannya kalo aku ngerokok dan kumpul bareng-bareng temen band lamaku. Oke. Mari cairkan suasana ini. Aku mengacungkan jariku, mencoba menyuruhnya diam, stop, dan mendengarkan aku.

‘Eits… Jangan marah. Dan kamu nda’ boleh marah begitu. Biar yang di atas yang marah padaku saja…’ Aku tersenyum, dan menoleh, mencoba mengalihkan pandanganku. Itu dia Victor. ‘Hei, itu Victor!’ aku berkata. Dia membawa satu cup pop juice di tangannya. Semoga dia membelikanku satu. ‘Oh, dia membawakanku juice!’ Aku kembali berbalik pada Abe, mencoba bertanya, tapi tiba-tiba saja, semua terasa sakit, hidungku panas. ‘Ouch! Aduh!’ Aku terjengkang ke belakang, duduk di lantai. Mencoba memandang ke depan, pada Abe yang sudah berjalan cepat pergi, sambil mengusap-usap hidungku. Tidak ada darah. Tapi sakit sekali. Kulihat Victor berlari, dan mendekat, membantuku berdiri.

‘Apa yang terjadi? Kenapa Abe?’ dia bertanya padaku kebingungan. Tapi aku juga sama bingungnya.

Victor

Tiga pop juice. ‘Trims, mbak.’ Kataku pada mbak penjaga kantin. Aku, Abe, dan Roni siang ini mau pergi ke distro tempat kami akan memesan baju basket untuk klub basket gereja. Aku berjalan pelan, sambil menyeruput juice apokat yang kupesan. Itu mereka, Abe dan Roni di depan sana. Rupanya Roni sudah datang. Kulihat Roni berbicara pada Abe, dia menoleh ke aku. Aku tersenyum. Mengangkat dua cup yang aku pesan untuk mereka. Hei. Kenapa itu?

Aku melihat jelas Abe yang memukul Roni, tampaknya cukup serius, dan keras. Ouch. Sepertinya sakit. Oh. Roni terjatuh. Aku harus menolongnya. Aku berlari cepat. Kenapa Abe? Tidak biasanya dia bisa memukul orang seperti itu. Apalagi Roni. Mereka kan sahabat dekat.

‘Apa yang terjadi?’ Aku bertanya, sambil mencoba membantu Roni berdiri sementara dia mengusap-usap hidungnya yang memerah. ‘Kenapa Abe?’ Aku kebingungan.

Roni

Well. Rencana batal. Victor mengantarkanku pulang. Aku masih bingung kenapa Abe memukulku. Memang apa salahku? Aku mencoba memikirkannya. Apa gara-gara aku sudah lama tidak datang kelompok KTB. Tapi apa sebegitu pentingnya sampai dia marah begitu? Aku duduk terdiam, di samping Victor yang menyetir mobilnya.

Ringtone sms HP-ku berbunyi. Aku membukanya. Dari Abe rupanya. Menyebalkan.
Ron. Sori. Ga maksud ky gt. Ok. Sori y. Hidungmu gpp?
Menyebalkan. Aku cuma bisa membalas pendek: ‘Y, gpp’. ‘Dari Abe. Minta maaf.’ Aku memberi tahu Victor walau dia tidak bertanya.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ dia bertanya. Aku menghela napas sebentar. Mengusap pelan hidungku yang walau sudah tidak sesakit tadi tapi masih nyeri.

‘Dia tadi…’ aku mulai menceritakan kejadiannya.


Victor

‘Dari Abe. Minta maaf.’ Itu yang diucapkan Roni tiba-tiba ketika HP-nya berbunyi. Aku mengantar Roni pulang. Tidak jadi pergi ke distro. Mending biar dia istirahat dulu. Aku masih shock juga tadi Abe bisa memukul si Roni. Jarang-jarang.

‘Oh. Jadi, memangnya apa yang terjadi tadi?’ aku bertanya, mencoba cari tahu alasannya.

‘Dia tadi bertanya padaku,’ jelas Roni yang mengusap hidungnya, ‘kenapa kemarin aku tidak datang KTB, dan kenapa aku malah kumpul dengan teman-teman bandku. Mungkin dia marah karena itu.’

‘Ah, ga mungkin cuman karena itu.’ Aku mencoba membela Abe. Aku juga tahu seperti apa itu Abe.

‘Well, kenapa ya?’ Kulihat Roni mencoba berpikir. ‘Tadi aku coba menjawab, supaya dia tidak terus-terusan menyalahkanku. Aku menyuruhnya supaya tidak marah padaku. Biar Tuhan saja yang marah. Dan dia tiba-tiba memukul hidungku ini.’

‘Oh,’ kataku dengan paham. Aku mengangguk dan tersenyum. ‘Bodoh. Kamu yang bodoh.’ Kulihat Roni kaget dan bingung. ‘Seharusnya itu kamu jangan pernah ngomong itu. Kamu sahabat dekatnya Abe, kan? Apa Abe belum pernah cerita? Oh, kamu tidak datang waktu KTB, waktu dia share cerita itu.’

‘Cerita apa?’ Roni bertanya makin bingung. Aku menjelaskannya, mencoba mengingat-ingat lagi apa yang dulu disharingkan Abe.

Roni

Oh. Jadi begitu. Abe memberi tahu cerita panjang itu. Aku tahu kenapa dia jadi marah, yang tidak biasa buat orang semacam Abe, dan kenapa dia menonjokku.

Abe dulu berteman dengan Johan, di kelas satu SMA, sebelum dia berteman denganku. Johan tidak jauh beda denganku, atau malah lebih parah. Lebih nakal. Lebih badung. Suka ngebut-ngebutan. Dari SMP memang sudah dicap anak nakal dan terkenal diantara guru. Kok mau ya, Abe berteman dengan Johan. Aku berpikir. Eh, kok mau juga ya, Abe berteman denganku?

Sampai akhirnya suatu hari Abe juga agak jengkel ketika Johan agak ‘nyeleneh’ lagi. Dan Johan mengucapkan kata-kata itu juga. “Biar Tuhan yang marah, jangan kamu yang marah. Kamu nda’ boleh marah.” Tapi Abe tidak memukulnya. Curang (pikirku dengan iri). Dan Johan masih sama, tidak berubah kelakuannya, malas ke gereja, malas persekutuan, walau Abe tidak pernah berhenti mengingatkannya dan mengajaknya.

Dua hari setelah kejadian itu. Johan kecelakaan motor. Akibat kebut-kebutan di jalan. Abe shock dan merasa bersalah. Dia merasa belum bisa membawa Johan pada Tuhan. Itu jadi satu trauma yang besar, satu klimaks tragedi di masa lalu Abe. Aku cuma bisa termenung setelah Victor menceritakan kisah ini.

“Kamu harusnya bersyukur punya sahabat Abe. He cares for you. Jesus too.” pesan Victor ketika aku turun dari mobilnya. Aku terus mengingat pesan ini. Sepanjang sore. Sepertinya memang aku pantas mendapat pukulan itu. Sudah jam delapan malam. Dan tidak biasanya aku bisa hanya tiduran di dalam kamar, memikirkan sesuatu. Aku mengambil HP-ku. Sebaiknya aku ‘menyapa’ Abe. Dan aku mulai mengetik pesan di HP-ku, sambil bersyukur punya sahabat seperti Abe.

Abe

Aku habis latihan paduan suara di gereja. Tapi lagu yang harusnya ceria dan menghibur itu tidak bisa mengusir pikiran yang dari tadi siang memenuhi kepalaku. Sepertinya aku salah sudah memukul Roni. Aku harusnya bisa lebih bersabar dan bijaksana.

“Mau pulang sekarang, kak?” Yoga datang padaku. Aku harus mengantarnya pulang ke panti. Sudah jam delapan malam; aku melihat jam tanganku.

“Oke. Ayo.” Aku berjalan turun ke basement, motorku diparkir disana. Yoga berjalan.

“Kok sepertinya dari tadi Kak Abe bingung? Ada masalah?” Yoga bertanya padaku. Aku memandangnya, dan hanya tersenyum, mencoba mencari alasan. Tapi tiba-tiba HP-ku berbunyi; ada SMS. Aku membukanya, sementara Yoga masih menunggu jawabanku. Dari Roni. Aku membaca pelan dalam kepalaku. Cermat, dan aku mulai tersenyum.
Kita harus mengakui bahwa malaikat itu
memang benar ada, nyata.
Tapi ketika mereka tidak bersayap,
kita menyebut mereka SAHABAT.
Thanks, buddy.

PS:Thanks buat tonjokkan tadi. He4… :)
Aku menutup SMS itu. Tersenyum senang, bersyukur.

“Memang ada masalah, tadi,” aku menjawab Yoga, yang sepertinya sudah menyerah menunggu jawabanku. Tapi dia kemudian tertarik mendengar jawabanku lagi. “Tapi sekarang sudah selesai.” Aku tersenyum pada Yoga, sambil menyerahkan helmnya. “Oke, sekarang kita beli martabak manis dulu, oleh-oleh buat anak panti. Setuju?”

“Beneran, kak?” tanya Yoga senang. Hatiku juga sedang senang, jadi kenapa tidak membagi keceriaan ini buat yang lainnya? “Siap, bos… ayo kita beli martabak datang bulan.”

“Martabak Terang Bulan, kali,” Kataku pada Yoga.

Wednesday, January 6, 2010

Dan's writing a 'drama script'... :)

[For FB user, please click here...]

Happy X'mas and Happy New Year to you!

So, kemaren Desember (yang melelahkan, no comment, no protest, pls) sudah berlalu, en tahun baru langsung disambut Camp Guru (Camp deh, bukan Retreat seperti nama yg diberikan) langsung ada dalam jadwal saya. Dari retret tiga hari dua malam itu, ada banyak hal, en entah kenapa malah memberikan saya ide untuk menulis post ini... Enjoy it!


Teachers' Camp: Teachers Unleashed...

Disclaimer: Tulisan ini hanya untuk guyon, kalo ada yang sesuai dengan kenyataan dan fakta yang terjadi, ya emang begitulah yang terjadi... Kalo ada yang tersinggung mohon maaf yang sebesar-besarnya, tapi tulisan ini sudah melewati proses editting dan sensor yang telah melenyapkan segala bagian yang a-nonoh dan tidak pantas dikonsumsi oleh batita maupun sepuh di atas 80 tahun. Thanks.

SETTING:
Kaliurang, Wisma Kana, wisma yang cukup besar, dua tingkat, dan sekitarnya. Udara sejuk, kadang berawan mendung dan gerimis mengundang. Aula Wisma persegi panjang. Kamar peserta di Wisma, kecil, empat-kali-tiga (?) yang dipaksa diisi dobel bed (yang sebenernya satu bed itu diturunin dari spring bed yg laen, sehingga spring bed yg asli jadi atos) dan saking memaksanya pintu ga bisa dibuka selebar-lebarnya karena nabrak kasur.

KARAKTER:
1. Daniel (DK), cowok 24 tahun, paling muda dalem camp yang in fact bikin shock banyak orang karena ber-mutu (ber-muka tua), pendiem dan lebih banyak waktu sendirian buat ngupil tidur...


ACT 1, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, plus selasar depan kamar lantai 2. Pagi menjelang siang setelah perjalanan, dan unpacking barang-barang bawaan.

DK: (Agak ngantuk. Sudah ganti celana pendek. Memutuskan untuk turun ke aula, en ngecek keadaan Wisma Kana. Buka pintu kamar, dan sontak menangkap en membau sesuatu yang menyengat yang bikin dirinya males keluar kamar...)

Para Pak Guru: (Duduk dengan santai, mengobrol di selasar kamar. Ketawa. Ngobrol. NGEROKOK dengan santainya. Asap rokok jadi penghias pemandangan selasar.)

DK: (Tahan napas dengan tersiksa, berjalan menerobos asap, en berpikir bahwa inilah kesuksesan para GURU memberikan sesuatu yang layak di GUgu dan di tiRU dari mereka.)


ACT 2, SCENE 1
SETTING: Kamar 11, habis mandi pagi.

DK: (Habis mandir, bersihin en rapiin kasur deket pintu.)

Pak Guru: Oi, selamat pagi... (dengan santainya berjalan mantap dari luar, menerobos masuk lewat [baca: menginjak-injak] kasur yang tadinya sudah rapi en bersih, ke kasurnya yang lebih tinggi, dan dengan indahnya meninggalkan cap kakinya yang masih basah dengan beberapa ornamen pasir.)

DK: (Melongo heran)


ACT 2, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Para peserta sedang Outbound mengelilingi kawasan di sekitar Wisma Kana. Kelompok Dankuur en Kelompok Hebat sedang bersantai-santai menunggu giliran di satu pos.

Bu Guru 1: Eh, ada uler. Ada uler. (Menunjuk ke bawah.)

Bu Guru 2: Ow, lempar ke Pak Guru itu. Yang ijo bajunya. Dia takut.

DK: (Senyum licik mau iseng. Pura-pura ngambil ulet pake tongkat, en ngelempar.) Ini ya, pak? Awas pak, uler! (Pak Guru berbaju ijo lari menjauh padahal posisi dirinya sendiri juga udah jauh dari kelompok saking merindingnya denger kata uler.

Pak Guru Laennya: Opo to? Oh, ming uler koyo ngene. (Menunduk, ambil uler pake tangan langsung.)

Guru-guru termasuk DK: (Lari ngacir liat si bapak ambil uler pake jari tangannya dan sekarang ketawa nakut-nakutin semuanya.)


ACT 2, SCENE 3
SEETING: Sore hari, Kamar 11.

DK: (Mau mandi, sudah siap dengan segala senjata perang untuk mandi. Melangkah masuk dengan mantapnya ke kamar mandi, dan sesaat terinfeksi HIV [Hasrat Ingin Vivis]. Membuka tutup toilet duduk, dan shock ada beberapa benda a-nonoh yang melayang dengan indahnya disana. Buru-buru pengin keluar en muntah...)


ACT 2, SCENE 4
SETTING: Siang hari, waktu session, peserta mengisi aula yang agak sempit en panas.

DK: (Mendengar Pak RC dengan seksama, en sesaat perhatian teralih ke satu guru yang duduk di depannya, en tiba-tiba berdiri en berjalan keluar. Tidak begitu acuh selanjutnya. Perhatian tertuju lagi ke guru yang tadi keluar sekarang masuk dengan sesuatu di tangannya. Mencoba kembali mendengarkan Pak RC.)

Bu Guru: (KREEEK... Membuka sesuatu, bungkusan.)

DK: (Mengamati guru yang sekarang sedang membuka bungkusan, yang ternyata bungkusan berlabel ceriping)

Bu Guru: (Melihat DK yang sekarang sedang mengamatinya. Tersenyum.) Mau? Biar nda ngantuk.

DK: (Geleng plus senyum. Berpikir bahwa boleh bawa sangu, en sesaat berpikir boleh mencoba sangu pop-mie dalem Sessi).


ACT 2, SCENE 5

SETTING: Aula, another session, guru-guru sudah mulai exhausted.

Pak RC: (Menyampaikan materi dengan semangat, dan seperti biasa bersenjatakan senyum en gurauan plus segala banyolan yang bisa bikin peserta ngguyu.) ... itu karena saya sadar siapa saya di depan Yesus ... (Terus nyampein materi. Mbanyol.) ... ya itu rahasia saya dengan Yesus...

Bu-Guru-yang-duduk-sebelah-DK: (Ngomong setengah bisik dengan kenceng ke DK.) Gayamu. Memang'e pernah ketemu Yesus po?

DK: (Shocked. Diem. Tampang luar senyum, tapi dalem otak ketawa ngakak dan sekaligus di waktu yang sama mikir keras banget...)


ACT 2, SCENE 6

SETTING: Malem hari, waktu Dedication Service.

DK: (Mengamati keadaan sekitar. Lampu temaram bikin mata DK tidak bisa melihat dengan jelas. Tiba-tiba kaget denger sesuatu yang unik.)

Seorang Bapak Tua yang Karena Kedudukannya Sepatutnya Dihormati dan Dihargai: (Dengan volume yang tidak begitu keras.) NGGROOOOOOKKKK...

DK: (Mengamati dengan keras, melihat si Bapak kepalanya terkulai ke belakang, kemudian tangannya bergerak-gerak kecil, mulutnya sesekali mbuka tutup kaya ikan mas koki. Berpikir bahwa Dedication Service juga efektif untuk waktu istirahat.)


ACT 2, SCENE 7
SETTING: Malem hari, habis Dedication Service.

Para Peserta: (Masih haru. Beberapa dengan mata basah karena air mata. Beberapa peserta kembali ke tempat duduk dari posisi duduk di lantainya.)

MC: Yah, bapak ibu, ada hari ini ada yang spesial untuk seorang rekan kita...

DK: (Sudah bisa menangkap apa yang akan terjadi, dan heran dengan yang terjadi 10-15 menit selanjutnya ketika semua haru biru en temaram suasana emosional en sentimentil dedication service itu berubah 180 derajat menjadi sorak-sorak dan guyonan karena perayaan ulang tahun seorang rekan guru. Berpikir dalam hati: Oh, begini toh habis Dedication Service... Hm... Beda budaya kali, ya...?)


ACT 3, SCENE 1
SETTING: Sessi di pagi hari. Para peserta dapet tugas untuk sharing personal Action Plan.

DK: (Barusan keluar ambil obat suplemen di kamar, balek lagi ke Aula. Ketemu Pak RC di depan pintu aula.)

Pak RC: Ayo, Dankuur! Kamu Bisa!

DK: (Senyum agak cengok.) Bisa apanya, Pak?

Pak RC: Ah, kamu itu potensial sekali tapi baru 30% potensi yang kamu kembangin.

DK: (Tambah cengok dan menyadari dengan sangat bahwa perkataan Pak RC bakal menghantui pikirannya bahkan sampe setelah camp sudah selesai.)


ACT 3, SCENE 2
SETTING: Siang hari. Kebaktian Penutup.

Pak Eka: Jadi Bapak dan Ibu. Mahkota yang sudah Anda susun dari kertas lipat jadi lambang seperti mahkota yang dipercayakan untuk kita. Ada yang bilang ini seperti mahkota duri. Ada harga yang harus dibayar. Ini mahkota yang mengingatkan kita akan mahkota yang akan kita terima nanti kalau kita setia dengan panggilan tugas pelayanan kita. Dan untuk itu kita akan memakainya bersama setelah rekan-rekan perwakilan akan dipakaikan mahkotanya.

DK: (Merasa bahwa ada yang ga enak di dalem hati.)

Pak Eka: Dan sebagai perwakilan, kami undang dua guru masing-masing dari Magelang maupun Klaten. Yang paling tua dan yang paling muda.

DK: (Perasaan ga enaknya nyata. Celingak-celinguk sambil tetap diam.)

Pak Eka: Dari Magelang?

Pak Guru SMP: Tertua Bu Giarti, dan termuda ini, Pak Kris.

Pak Guru SMA: Bukan, Pak Dankuur.

Pak Guru SMP: Pak Kris tahun berapa?

Pak Kris: Delapan Empat.

Bu Guru SMA: Pak Dankuur delapan lima.

Pak Eka: Ya, Bu Giarti dan Pak Dankuur silakan maju.

DK: (Maju dengan senyum garing, menyadari banyak guru Klaten yang pastinya kaget dan meragukan mana yang termuda dan mana yang tertua dan mungkin terbalik.)


ACT 3, SCENE 3
SETTING: Siang hari. Habis kebaktian penutup. Aula sontak jadi sentimentil en emosional. Para guru saling jabat, peluk, dan menangis, apalagi lintas: Magelang-Klaten.

DK: (Jadi pengamat yang baik setelah memberi banyak salam, terutama ke guru-guru dari Klaten. Sekarang berpikir bahwa Dedication Service kalah jauh sentimentil dan emosional-nya daripada Farewell ini. Sementara banyak guru cewek yang masih sesenggukan nangis sambil peluk rekan-rekannya.)


ACT 3, SCENE 4

SETTING: (Di depan kamar lantai 1, para guru menikmati makan duren sambil menunggu waktu pulang ke Magelang.)

DK: Enyak-enyak-enyak (Sambil menikmati duren.)

Pak Guru Berkumis: (Habis menikmati satu buah, dan masih membawa satu bagian kulit durian di tangannya dengan dua buah lain di dalam cekungan kulit itu, berdiri dekat dengan tempat sampah. Dengan santainya membuang jauh biji durian ke tanah.)

DK: Pak, ini sampah! Pie to malah dibuang sembarangan ke sana!

Pak Guru Berkumis: (Tampang sok cengok.) Oh! Sapa, ya, yang buang sampah sembarangan? Hayo sapa?

DK: (Senyum sinis. Berpikir heran dan menemukan satu lagi alasan mengapa guru layak diguGU dan ditiRU.)

Sunday, December 13, 2009

Dan's view at the evaluation of TL...

[FB user please click here as always!]

Hi.

Desember itu bulan yg gembira (it should always be like this) sekaligus sebagai 'The Darkest Month of the year' for teachers...

Gembira karena liburan panjang (harusnya) yg artinya: lebih banyak waktu istirahat, en waktu tidur siang, en waktu begadang yg banyak... Nda gembira berarti karena bulan gelap ini nda ada income buat para guru les... wakakaka, sekaligus kalo mau dilihat kesibukan buat persiapan Natal, ini tetep jadi bulan tersibuk (padahal tiap bulan memang si sok-sibuk menyibukkan diri)... tapi eniwe, nda ada alasan buat berhenti bersyukur ditengah kesibukan ini, en terus berdoa, biar saya will never feel that solitude and loneliness among the multitude and all the busyness.. (For my cousin, jangan protes bilang saya nda bersyukur... Hihihi).

Eniwe, entah kenapa sebener'e sudah ada beberapa topik buat posting, tapi sindrom males ini bikin saya lupa posting. Dan entah kenapa justru topik yg mo saya bahas ini bikin saya semangit, eh, semangat buat nulis disini.

Minggu ini jadi minggu sibuk di sekolah, setelah minggu sibuk gara2 pelaksanaan Ulangan Akhir Semester Ganjil. Nah, seperti biasa, sudah pada antisipasi (baik guru maupun murid) adanya Ulangan Remidi!!!

I WOULD ALWAYS DISAGREE WITH SUCH SYSTEM OF REMEDIAL THINGS.....

Saya nda suka mental pendidik en pelajar jaman sekarang yg banyak berharap en pasrah dengan yg namanya remedial testing, remedial teaching, remedial etc etc... Buat saya kesalahan itu tidak untuk diperbaiki. We learn from our mistake. Yg udah, ya udah. Belajar en improve diri setelah melihat itu. Tapi kenyataannya, sistem remidi semacam ini sudah bikin mental siap diri en improve turun.

Anak-anak sudah selalu terkonsep, "Kalo tes-nya jelek, ah gapapa, tar kan ada remidi, en alhasil selalu naek en tuntas entar..." NO WAY! Saya paling nda mau kalo disuruh remidi terus nilai jelek, asal naikin nilai biar tuntas, biar saya sendiri nda repot...

Guru-guru juga kadang kalo sudah nilainya jelek2, asal kasi tugas remidi, yang kadang njeglek banget level-nya dengan kompetensi yg sedang diuji... Asal aja, biar keliatan ada perbaikan, terus tiba-tiba nilai naek semua... Saya dengar dari sana-sini, banyak yg seperti itu. Anak2 les, anak2 di gereja juga sering pada cerita begitu. Apalagi yg ironi adalah, ada satu anak les tiba2 dikasi tau oleh gurunya (yg katanya killer), "Besok remidi semua satu kelas." Waktu saya tanya, nilainya berapa, eh si anak boro-boro dikasi tahu nilainya. Jarak seminggu, ternyata nilai aselinya jauh di atas KKM, en malah bagus... Gubrak!

Saya masih inget kelas enam SD dulu, ini bakal sangat membekas, karena itu pertama kalinya saya dapet nilai 0 (NOL! ZERO! NOUGHT!), en buat Pendidikan Agama Katolik (remember: saya SD di Tarakanita). Waktu itu sistem pengajarannya masih konvensional (baca: Kolot en monoton). Dua jam seminggu, tiap ketemu kita mulai dengan ulangan sejam, en pelajaran sejam. Buku ulangan dibagi harus ditanda tangan ortu, minggu depan harus dibawa. Nah, apesnya waktu itu saya tidak bawa tu buku ulangan. Sudah keringat dingin, ga bisa mikir ulangan, en alhasil memang ga' boleh ikut ulangan en berbuah dengan satu nilai telor itu... (en akhirnya rata2 di raport jadi enam!) Saya bakal ingat kejadian itu. No remedial teaching. No remedial test. No excuse. No opportunity to redeem my mistake at all...

Saya iri dengan anak2 jaman sekarang. Mereka bisa yang namanya remidi. Saya termasuk salah satu guru yang idealis, en ngasi nilai apa adanya. Sempat tadi pagi pusing, en stuck, memandang dua nilai Nol seorang anak. Tidak ikut ulangan, tidak nyusul, tidak nemui saya. Mau dibagaimanakan?

Kadang saya mikir, apa saya yang kurang jelas dengan konsep remidial things... Atau memang saya yang ternyata masih idealis. Saya paling anti dengan namanya katrol mengatrol en manipulasi nilai. Mau lima milyar, mau sepuluh milyar, never will I do such stupid thing!

Saya tetep bersikukuh, berdiri tegak pada pendirian saya: Learn from your mistakes.

GBU all!

Tuesday, November 3, 2009

Daniel meneropong sampe melirik ke belakang

[For FB user, please, please, please click here...]

50 hari. Selang yang cukup lama buat seorang blogger hibernasi. Yang saya lakukan macam2: mulai dari menghabiskan waktu untuk fesbuk yg tidak begitu penting dan sekarang sudah jadi part of my chores, sampe dengan mengejar deadline laporan bacaan untuk kuliah. Ya, saya sudah mulai kuliah sekarang.

Kegiatan kuliah dan ini itu segalanya membuat saya sibuk kepalang, jangan lupa tambahkan segala kegiatan pelayanan di gereja yg sebenarnya menyingkirkan hal-hal yg kurang penting untuk aktivitas yg lebih membangun (I wish I could really understand this statement). Saya makin disisakan sedikit waktu untuk bermain dengan teman, dan melakukan hobi saya yg laen, termasuk tidur yg makin parah sekarang ini.

Disela2 kesibukan saya, selalu ada waktu, or kesempatan yg saya curi, atau meresap begitu saja ke dalam pikiran, dan sepersekian menit, atau bahkan detik, menutup pikiran saya dari keadaan di sekitar... Memori yg sudah lalu, yg belum saya kubur atau masukkan lemari penyimpanan paling dalam di otak saya, yg memang saya pajang di galeri pikiran saya, muncul dan teringat lagi.

Saya teringat kira-kira sembilan belas tahun yg lalu, ketika saya pertama kali masuk TK. Saya teringat memori saya lari-lari mencoba melarikan diri dari kejaran mama karena berontak tidak mau masuk sekolah. Saya teringat beberapa hari kemudian saya yang mengejar mama yg mencoba mengancam dan melarikan diri karena sudah tidak kuat memaksa saya sekolah... Saya teringat masa-masa itu, bagaimana saya mencoba menolak dididik dan sekarang menyadari bagaimana didikan (formal maupun informal) begitu menyenangkannya dan mengisi hidup saya.

Saya teringat masa-masa saya SMP yg sebenarnya lucu dan aneh. Cinta monyet dan lain sebagainya. Perselisihan dan permusuhan. Klik-klik yang terbentuk dan saling berkompetisi dan bahkan menentang satu sama lain. Permintaan aneh dan sensasi konyol ketika 'geng' saya keliatan paling keren. Mutung-mutungan dan mood-moodan... Saya teringat waktu-waktu ketika memang pengakuan terus jadi kebutuhan yang terbesar.

Saya teringat kembali kejadian saya jatuh dari motor waktu saya pertama kuliah. Bagaimana saya membohongi orang tua saya, berdalih bahwa teman yang akan menaiki motor itu, dan berakhir dengan saya terseret motor yang miring dan jatuh. Parahnya sepupu saya juga saya ajak jadi korban. Sampe sekarang kejadian ini terus terngiang, meski saya sudah memecahkan trauma itu dengan bolak-balik PP Salatiga-Magelang yg mulai jadi rutinitas baru. Saya belajar untuk, alih-alih berbohong pada orang tua saya, lebih terbuka dan jujur, karena ternyata itu yang membuat keluarga makin erat.

Saya teringat beberapa waktu ini, ketika saya sedang sibuk-sibuknya dan sedemikian banyak tugas serta aktivitas mencoba menumbangkan saya. Saya bisa bertahan, namun yang jadi korban ketidaksemangatan saya adalah teman-teman saya. Saya masih mengingat, dengan jelas apa yg saya sebut kelemahan saya, perkataan, 'Dankuur kok mukanya lusuh...' atau 'Dankuur mukanya kucel banget...' Sebenarnya saya bisa dengan cuek dan pasang tampang badak mengatakan, 'Memang bawaan orok.' Tapi saya masih mengingat dan bersyukur untuk teman-teman yg sudah kasi saya input. Bahwa ini muka capek juga ngefek bikin orang capek.

Saya teringat satu kejadian kecil ketika saya akan pulang dari kuliah beberapa tahun lalu. Saya sedang menunggu bis, dan bertemu seseorang yg mengaku kehilangan dompet. Tampangnya kasihan dan capek. Tapi saya sendiri bingung bagaimana saya harus menolong. Uang di dompet juga cuma cukup untuk saya pulang sendiri. Dan kejadian ini, seperti yang saya ingat, berakhir dengan saya minta maaf dan meninggalkannya masuk bis yang sudah mencoba melaju meninggalkan saya... Saya menyesal saat itu tidak bisa membantu. Bagaimana nasib orang itu saya juga tidak tahu. Saya mengingat kejadian yang membekas itu, dan sekarang jadi pelajaran untuk melakukan kebaikan dengan spontan dan rahasia...

Saya teringat beberapa hari lalu yg sudah saya lewatkan dengan sia-sia. Banyak tugas menumpuk, tapi saya terlalu bodoh untuk menghabiskan waktu menatap layar fesbuk di laptop saya. Mendownload seabrek banyak dokumen tapi belum bisa 100% memanfaatkan semua resource yang sudah saya unduh itu. Saya kadang menyesal, dan mengaku di malam hari, belum sepenuhnya bijak mengelola waktu... Saya mengingat waktu-waktu itu, dan mencoba belajar untuk lebih maksimal lagi, mengalahkan deadline supaya tidak berakhir dengan diteror deadline.

Saya teringat bahwa diri saya ini adalah seorang pelupa yg sudah bergabung dalam Akademi Pikun, dan sebenarnya mencoba men-drop-out-kan diri, tapi sedemikian susahnya keluar dari Akademi ini. Tapi saya sendiri kadang heran bagaimana semua memori ini bisa muncul dengan sendirinya, dan menjadi ide untuk menulis, tapi kalau boleh jujur, ide awal post ini pun tidak seperti ini, karena lagi-lagi Pikun 101 sudah mendasar di dalam otak saya...

Akhirnya, saya teringat permintaan dan pertanyaan beberapa teman-teman yang selalu mendorong saya untuk kembali menulis, 'Dankuur mana notes-nya...' atau 'Dankuur sudah sebulan nda nulis notes, loh...' Saya berterima kasih buat teman-teman yg sudah berkomentar demikian.

GBU guys...

5 hari lagi...



NB: The days are hot. Fisik di luar panas, di tambah hati di dalam yang tidak berhenti 'dipanas-panas'i. Saya mencoba untuk tidak mengungkapkan masalah-masalah dan keluhan saya lewat fesbuk maupun notes, kenapa? Saya percaya status yang positif jauh lebih membangun dan ngefek baek. Do (read: SAY) something beautiful. Dan saya terus menyiram 'emosi' yang mencoba meledak, meskipun beberapa sukses mengalir keluar dan beberapa kali menambah imej saya yang keras dan galak... :D

Monday, September 14, 2009

Daniel berkaca dari orang lain

Halo.

Ngaca jadi salah satu hobi saya, entah sekedar buat menikmati indahnya diri saya (iya, silakan mutah), or praktek berpose en senyum (latihan dulu), plus ngoreksi apa yg masih perlu dirapiin en dibersihin dari si 'saya' yang terjebak di dalam dunia kaca (kaya Alice aja). Eniwei, pokok'e dari berkaca, kita bisa melihat seperti apa diri kita, walo kata temen saya, berkaca tu bukan sebener'e kita, considering that our left becomes their right... :)

Btw, beberapa hari lalu diriku seperti biasa memulai hari2 kerja (baca: mengajar) di SMP dengan briefing pagi, yg diawali dg renungan plus sharing trus briefing. Kadang ada sharing yg menarik. Kadang ada yg menggugah minat. Kadang klise. Tapi diriku mencoba terus menyimak dengan baek, en memahami kenapa mereka berbicara seperti itu. Pernah sekali diriku agak shock en annoyed dengerin satu rekan yg nge-share pandangan dia dengan ST banget (Sok Tahu). View-nya dia salah. Ngawur. Diriku juga paling ga sreg kalo dengerin orang sok tahu.

Waktu bisa nge-judge kaya gitu, pagi itu, diriku langsung kaya ada yg nampar. 'Bukannya selama ini dirimu ya ST, ta, Dan?' one side of my brain whispered. Well, yes. Ternyata diriku nyadar gara2 kejadian pagi itu. Diriku ga suka liat or denger orang ST, tp kenyataan diriku masih sering ST. Kenapa ga diem aja kalo memang ga tahu. Kenapa ga denger aja kalo mm pendapat kita juga sama aja. Berkaca. Diriku diem, en belajar.

Diriku kadang sering bothered, terganggu liat rekan kerja yg males2an. Jatahnya bikin, en nyelesaiin kerjaan, tau kalo ada banyak pekerjaan numpuk, eh malah ngobrol2. Ini yg sering bikin jengkel. Tapi kadang melihat mereka bermalas2an kaya gitu, diriku jadi berefleksi. Kadang diriku juga suka menunda, en walo beres di akhir detik2 deadline, tapi kadang juga masih 'males'2an versinya saya: ngeNet, baca-baca hal yg nda berhubungan, nyantai2... Oke, pekerjaan emang selalu selesai, tapi menumpuk. Yg terakhir paling nda penak. Berkaca. Diriku merenung, en belajar.

Sering kali diriku melihat anak2 or bahkan orang dewasa yg merasa minder. Ga pede-an (en ini bukan berarti lawan katanya narsis). Mereka ngomong ga berani lihat lawan bicara. Ga berani pandang lawan bicara, nunduk. Ngomong sama si A, tapi bahasa tubuhnya keliatan banget nda nyaman en ga pengin ngomong sama si A, takut en anxious. Waduh. Diriku juga sering nemuin kalo lagi ada yg ngomong, tapi ga dilihat, saya agak males ngobrol jadinya. Loh, kayanya ini diriku yg dulu, or kadang masih yg sekarang. Walo saya sudah belajar banyak untuk tidak usah malu en grogi, tapi apa saya sudah 'memperhatikan' lawan bicara saya, ya? Berkaca. Diriku belajar dari mereka.

Talk behind someone's back. Nggrundeli orang. Ngomongin orang. Paling males kalo diajak begituan; paling menghindari. Kadang kalo ada rekan kerja yg barusan ada masalah, terus beraninya bisik2 cerita ke orang laen diriku agak males juga. Kemaren ada kasus yg cukup besar, en ada satu rekan yg cuma bisa ngomong sana-ngomong sini, begini dan begitu, tapi ga berani konfront langsung. Memang keliatannya dia coba cari solusi, or malah coba cari dukungan. Hm. Diriku menghindar, or kalo diajak ngomong ya cuman dengerin, simpen dulu, dan tanggepi dengan, 'Oh...', 'Iya?', or 'Hmm... Gimana ya?'. Tapi saya terdiam. Kadang walo sudah sering mencoba menghindar gosip, or grundelan, diriku juga satu, dua, tiga, dan sekian kali mencoba cari celah bocor buat nggosip. Duh! Berkaca. Diriku ga mau seperti mereka. Saya belajar.

Satu hal yg paling bikin diriku, plus adekku, ga begitu nge-respect Papa kami (tolong jgn disalahartikan) adalah kebiasan smoking-nya dia yg buruk. It doesn't mean that I hate smokers. No. Saya menghormati smokers yg mencoba cari smoking-area, ga ganggu yg laen yg non-smokers. Tapi papa saya ngeyel. Meski kami sudah 'mengucilkan' dia, so kalo dia ngerokok ga boleh deket2 en biasanya di ruang tamu, tapi akhir2 ini baunya makin strong en nyebar kesana-sini. Kebiasaan yg dianggep memuaskan dirinya, bikin orang laen jengkel. Ini ga baek. Tapi, bukannya saya kadang begitu juga? Hm. Saya masih juga ada kebiasan buruk yg mungkin bikin orang laen jengkel. Ego saya sendiri. Repot dirasain orang laen. Hm. Berkaca. Diriku mikir dan belajar.

Berkaca dari orang laen bukan cuma melihat dari yg jelek2 so kita nda mau ngikutin mereka. Melihat juga yg baek2 yg kemudian kita bisa tiru. Melihat apa yg bisa dipelajari dan dicontoh dari model yg mereka pantulkan. Hm. Ini yg menantang. Juga memandang Sosok yg selalu kasih model, plus inspirasi, yg nda pernah habis en selalu layak buat ditiru. Sebagai guru pun diriku sering mencoba melihat, apa saya sudah jadi kaca yg mantulin karakter2 yg pantas dilihat, or hal2 yg layak dipandang sama anak2, or rekan2 yg laen ya? Apa saya sudah jadi teladan yg baek ya? Hm. Belajar.

Woke, tenkyu sudah membaca sejauh ini. Semoga kita bisa belajar bersama dan terus berkaca dalam hidup ini. Diriku mau ngaca dulu. Hehe.

GBU!

NB: (1) Diriku lagi pengin banget ngikutin komik Naruto, tapi ga sebegitu ketagihannya, (2) Ada yg bisa ngajarin maen2 bikin 3D? en (3) I am fed up with downloading so many documents and files from the Net, but why I can't stop hunting for any downloadable materials? Duh!

Tuesday, September 1, 2009

Daniel found several inspirations... (dan ga mau kaya Marshanda)

Hi!

Diriku kasian juga liat Marshanda. Sudah sempet donlod dua tube dari youtube tentang si Cha2 yg nyanyi sambil nangis. Frowning. Aneh. Ngopo kuwi, nda mudheng. Sudah lama juga nda nyimak inpotainment... :p Tapi kalo ada orang yg bisa sampe sebegitu unwell-nya (kalo dia ga mau dikatakan mad), berarti something wrong within, plus many pressuring wrongs from outside... :)

Eniwei, ada tiga hal (or bidang) yg kalo sudah bermasalah, juga bisa bikin diriku down, depresi, en ujung2nya males ngapa2in (baca: lemes, lesu, nda bersemangat). Dan mereka adalah: hubungan dengan Tuhan, temen (or more often close friends), en gereja. Yang terakhir, sudah beberapa hari bikin down en males. Semalem pun rasane loyo banget buat dateng ke gereja (walo awalnya ga loyo buat kumpul bareng anak2 KTB, yg seneng ngaco... :p). Stres.

Tapi, praise the Lord, kalo diriku tetep kuat (which is for me a big change in my life, bandingin dengan jaman dulu yg full mutungan en males2an kalo udah ada masalah...). Diriku ga kepengin kaya Marshanda, yg kalo udah down, terus blow up... Meledak. Rekam youtube, sebarin, en 'cari sensasi' (or lebih tepatnya hunting pity from others... sory). Jangan bayangin juga diriku terus rekam video narsis, sambil nangis bombay, telenji dada, terus nyanyi2 Lupa-Lupa-Ingat sambil meratapi kesedihan dan kedudulan hidupku plus mengacak2 rambutku yg tadi barusan dibilang ga terawat oleh anak2ku... Mutah, silakan mutah...

Diriku bisa bertahan selaen karena yakin sama Tuhan, juga karena banyak hal stupositip lainnya yang bisa saya lihat, en instead of stupidly sitting and thinking of my problems without doing nothing, kenapa juga ga mencoba me'metani' yang baek2 en keep on running on my track, masih banyak yg bisa dilakukan... Dan masih banyak yang bisa dilihat. Masih banyak yang terus memberi inspirasi dan membuat saya salut. Masih banyak yang memberkati dan menguatkan...


Saya salut dengan satu sahabat yang sudah berubah. Dulu pernah melewati masa-masa gelap yg emang sudah down-se-down-downnya yang keliatannya sudah nda ada harapan; saya kagum dengan perjuangan en pemikiran dewasanya. Sekarang lebih mau terjun en peduli en mau kembangin diri lebih lagi... Salut buat kasih en kepedulian yang sudah ditunjukkin juga...

Saya salut dengan sepasang kekasih yg both are willing to (and perhaps called) to teach... Mereka yg sudah berdedikasi buat mengajar, en melayani. Salut buat kepedulian dan kerinduan mereka. Salut buat perjuangan mereka melewati masalah bersama... Salut buat pemikiran 'matang' mereka (yg walo sering kita beda pendapat).

Saya salut dengan sahabat saya yang nun jauh disana, about 550 km apart. Saya melihat perubahan, ada kedewasaan dan kepercayaan serta keterbukaan. Saya masih ingat sifat dia yg nyebelin, tetapi sekarang sudah mau peduli en berkorban. Cuman gara2 ada Drum Band di kampus, dulu dia mo batalin kerja kelompok. Tapi sekarang sudah jauh berbeda, en berpikir dewasa. Saya bersyukur mengenal dia. Lagi2 juga salut buat dedikasi dia di dunia pendidikan.

Saya salut dengan beberapa mantan mahasiswa praktek yang pernah singgah en meninggalkan bekas di GKI Pajajaran (entah bekas yg baek or buruk :p Entah meracuni or justru malah diracuni). Mereka yang sudah mengamati dengan baek. Mereka yg diakhir2 masa pelayanan, sempet mendengar sharing saya. Mereka yang sudah kasi konsultasi gratis. Mereka yg sudah bikin pelayanan lebih semangat. Mereka yg sampe sekarang masih keep in touch and pray for each other...

Saya salut dengan mantan guru saya. Meski bagaimana dulu saya memandang beliau, sudah berbeda setelah sekarang saya jadi kolega dia. Saya salut dengan nilai2 dan pemikiran filosofis yg diajarkannya (yg ternyata dia juga dipengaruhi oleh dosennya), dan sekarang saya juga jadi suka men-sharingkan nilai2 itu juga di kelas... Saya salut untuk pengabdian en kerja kerasnya, meski sekarang her hair turns grey...

Saya salut buat beberapa seniors di gereja, yang beda dari seniors laen yg, sorry, uncaring and ignorant (or do not want to struggle that hard). Tapi salut buat mereka yg sudah tetep peduli en berkarya. Yang walo pemikirannya ditentang banyak orang, dan dibilang terlalu idealis, tapi tetep melayani dengan hati. Mereka yang tetep bertahan, dan tidak mundur, bukan karena hanya kasihan en terpaksa, tapi karena keteguhan hati en kepercayaan mereka yg bener. Mereka yg sudah punya sense of belonging...

And finally, saya salut buat satu murid saya, yang setiap kali melihat dia, seperti melihat potret saya di masa lalu. Satu kerja keras, en pioneer untuk sekolah. Saya ingat bagaimana saya menantang dia, "Kalo sudah siap, ntar bantu saya di sekolah ini. Almamatermu." "OK, saya juga kepikiran begitu, kok, Koh..." I long, long time ago, once said such statement, for myself (sayangnya ga ada yg pernah personally chat with me). Entah itu masih pemikiran terlalu dini, atau apa, tapi saya punya pe-er untuk memupuknya.


Saya bukan Marshanda. Saya juga nda mau jadi seperti dia. Saya bersyukur masih bisa salut, mendapat inspirasi, dan sebagainya. Saya menulis juga bukan pengin di-pity-in oleh mereka. Saya menulis mau berterima kasih untuk tetap menginspirasi saya, dan semoga orang laen.

Ada yg bilang, en saya would 100% agree, kalo jaman sekarang, people, especially the youth, are lack of inspiration, not motivation. Motivasi banyak en mudah ditumbuhkan, tapi inspirasi sedikit, or jarang, dan makin langka. Motivasi bisa meleret. Inspirasi bakal terus dikenang en nda terlupakan kalo memang real ones... :)

So, keep inspiring people, guys!!!

GB.



NB: Mungkin saya sudah keracunan kopi...